Masashi's Chara was borrowed by Cecil hime
Sasuke Uchiha Love Hinata Hyuuga
.
.
Semua mata tertuju pada pasangan yang baru saja melangkahkan kakinya ke aula besar itu. Para wanita yang sedang bersenda gurau langsung menghentikan tawanya dan para pemain instrumen musik di pesta itu juga ikut menyumbangkan suasana sunyi dengan menghentikan permainan instrumennya. Semuanya digantikan dengan kesiap yang menunjukkan kekaguman ke arah pasangan itu.
Para wanita pasti sangat berharap menggantikan posisi seorang Hy—Uchiha Hinata disamping sang raja paling disegani abad ini. Dan para pria juga ingin rasanya menggantikna posisi Uchiha Sasuke menggandeng mesra –tambah, posessif—tangan seorang putri tercantik abad itu. Tidak sedikit pemuda yang berumur di bawah tujuh belas menyesali keterlambatan kelahirannya sehingga tidak cukup dewasa untuk menggantikan Uchiha Sasuke, atau pria berumur di atas tiga puluh yang mengutuki tahun kelahirannya yang terlalu cepat sehingga hanya dapat terlihat seperti paman untuk seorang Hinata Hyuuga dan tentunya tidak cocok menggantikan posisi Uchiha Sasuke.
Sepertinya mereka terlalu menyalahkan usia, padahal bukan salah Kami-sama menentukan itu semua karena toh, yang berumur sepadan untuk seorang Hinata Hyuuga saja tidak dapat menggantikan posisis Uchiha Sasuke sekarang.
Karena mereka tidak seberani Uchiha Sasuke dalam mengambil kesempatan yang ada.
Karena mereka tidak secerdas Uchha Sasuke dalam membaca situasi.
Atau karena mereka tidak seberuntung Uchiha Sasuke.
Simpelnya, karena mereka bukan Uchiha Sasuke.
Kalau mereka Uchiha Sasuke, mereka bukan hanya menjadi penakluk negara paling populer tapi juga menjadi penakluk hati wanita paling cantik.
Karena kalau mereka adalah Uchiha Sasuke, mereka dapat menggandeng tangan Hinata Hyuuga dengan possesif.
Kalau mereka adalah Uchiha Sasuke mereka akan sama bangganya ketika mengulukan tangnnya mengajak seorang Hinata Hyuuga berdansa.
Atau kalau mereka Uchiha Sasuke mereka lah yang membuat seorang Hinata Hyuuga merona seperti sekarang.
.
.
Tap. Tap. Tap.
Sakit rasanya melihat pasangan itu begitu serasi. Ia tidak dapat menyangkalnya walaupun ia mengetahui kenyataan itu bukan hal yang ia inginkan. Yang dapat dilakukannya untuk menenangkan perasaannya sekarang hanyalah pergi sejauh-jauhnya dari aula itu agar matanya tidak ikut seperti pasangan lain yang menatap Sasuke-kunnya tampak begitu serasi dengan gadis Hyuuga itu. Ah, bahkan sampai sekarang ia tidak pernah memanggil Hinata dengan Uchiha Hinata. Cukup Hyuuga Hinata. Ia tidak ingin mengakui kenyataan itu.
Tes. Tes. Tes.
Ia memang sudah sangat lama menahan air matanya. Rasanya panas di matanya meningkat jika ia terus-terusan menahannya. Tubuhnya ia sandarkan pada dinding itu dan lama-kelamaan mengalah pada kuasa gravitasi. Ia terduduk lemas. Samar-samar ia dapat mendengar percakapan di balik dinding itu.
"Apa tuan yakin?"
"Tentu saja."
"Tapi itu terlalu beresiko Tuan."
"Apa kau pikir aku sudi hanya menjadi nomor dua di mata dunia? Cih, aku tidak sudi."
"Tapi, apa tidak ada cara lain?"
"Aku sudah berjalan sejauh ini. Kesempatan inilah satu-satunya yang dapat kugunakan."
"Bagaimana jika Hiashi-sama murka? Kau tahu perang besar tak akan dapat dihindarkan jika itu terjadi."
"Justru itulah yang kita butuhkan. Kemurkaan seorang Hyuuga Hiashi."
"Apa?! Apa kau gila? Tidak ada satupun yang menandingi kekuatan perang kerajaan itu. Apa kau ingin kerajaan ini hanya tinggal nama?"
"Khe, kau sangat bodoh kali ini. Siapa yang menginginkan perang Hyuuga-Akatsuki?"
"Maksud Pein-sama? Jangan-jangan..."
"Ya, kita akan mengobarkan perang Hyuuga-Uchiha. Dan membuat Uchiha tinggal nama sehingga Akatsukilah satu-satunya kerajaan terbesar sepanjang sejarah."
"Dan untuk memancing kemarahan Hyuuga Hiashi kau akan melakukan itu?"
"Ya. Hyuuga tua itu sangat menyayangi putrinya itu."
"Jadi, kita akan melakukannya?"
"Ya. Membuat Uchiha Sasuke sebagai tersangka pembunuh Hinata Hyuuga."
.
.
"Ya. Membuat Uchiha Sasuke sebagai tersangka pembunuh Hinata Hyuuga."
DEG
'A-apa?'
Mendadak, wanita berambut pink itu mendapatkan kembali tenaganya. Segera saja ia berdiri.
Ia mengenal suara itu. Itu suara Pein dan kaki tangannya yang sama liciknya dengannya, Kabuto. Benarkah yang ia dengar? Bagaimana ini?
Tiba-tiba ia merasakan ketakutan yang sangat.
Ia memang membenci Hyuuga Hinata karena telah merebut Sasuke darinya.
Ia memang menginginkan Sasuke-kunnya hanya bahagia bersamanya, bukan dengan wanita lain.
Dan ya. Ia menang menginginkan mereka berpisah.
Tapi,
Tapi ia sama sekali tidak menginginkan akan terjadi hal yang baru saja di dengarnya. Pembunuhan? Sasuke sebagai tersangka? Tidak, sejahat-jahatnya ia, ia tidak menginginkan kehancuran Uchiha Kingdom. Ia masih ingat begitu berbaik hatinya Fugaku-sama dan Mikoto-sama yang telah merawatnya dan menjadikannya seperti anak sendiri.
Ia masih ingat bagaimana perjuangan mereka bertiga –Sasuke, Sakura dan Naruto—demi membuat Uchiha Kingdom menjadi nomor satu di dunia.
Dan dia atas itu semua, ia masih ingat betapa ia mencintai Uchiha Sasuke. Ia tidak mungkin bisa melihat orang yang sudah ia sukai dari kecil itu akan mengalami hal itu.
Betapa ia merasa dirinya jahat.
Seharusnya ia tahu, dengan meminta bantuan seorang Pein, bukan hal yang baiklah yang akan ia dapat. Seharusnya ia tahu itu.
Apa sekarang sudah terlambat?
Prang!
Lari! Jangan pedulikan guci pecah itu.
'Yang ku butuhkan hanyalah memberi tahu Sasuke-kun'
.
.
"Hn?"
"Cih, kau bereskan dia. Sepertinya tikus itu akan menyusahkan. Lagipula, kita sudah tidak membutuhkannya."
"Baik, Pein-sama."
.
.
'Yang ku butuhkan hanyalah memberi tahu Sasuke-kun'
"Untuk apa buru-buru sekali, Sakura?"
DEG
.
.
Uchiha terakhir itu masih betah menenggerkan tangannya pada pinggang istrinya itu. Tangannya yang lain juga betah menggenggam tangan wanita yang ia cintai pada pandangan pertama itu. Bahkan matanya tidak lepas –sedari tadi—dari memandangi wajah memerah istrinya.
"Hei, belakangan ini kau selalu memerah Hime." Bisiknya.
"Karena belakangan ini kau sangat mesum, 'Uchiha-san'." Entah keberanian dari mana Hinata mengatakannya. Tapi, lama kelamaan ia mulai terbiasa dengan suaminya itu. Apakah ia mulai menyukainya? Entahlah. Ia tidak begitu pintar dalam hal perasaan.
CUP
"Maksudmu seperti itu, Hime?"
"I-ini di depan u-umum, Uchiha-san."
CUP
"Sepertinya kau sangat senang ku ingatkan agar memanggilku 'Sasuke'." Seringainya.
Merasa mereka menjadi tontonan umum, Hinata tidak dapat menahan rasa malunya dicium di depan umum seperti itu. Satu-satunya cara adalah dengan menenggelamkan wajahnya di dada sang suami.
Sedangkan Sasuke? Puas rasanya menunjukkan bahwa Hinata itu 'miliknya' di depan semua orang. Dan hatinya terasa hangat mengetahui fakta bahwa Hinata mulai berani berbicara terus-terang padanya. Apalagi Hinata sudah berani menyandarkan wajahnya di dadanya. Ya, walaupun karena malu, tetap saja ia senang. Ini adalah kemajuan besar.
Ia sangat nyaman saat Hinata menyandarkan wajahnya di dada bidangnya sehingga ketika Hinata hendak mengangkat kembali kepalanya, ia berbisik lagi.
"Orang-orang masih memperhatikanmu, Hime."
Bohong.
Mendengarnya, Hinata kembali menundukkan kepalanya dan melabuhkannya –lagi—di dada Sasuke. Kemudian, pelukan Sasuke pada tubuhnya makin erat ia rasakan.
.
.
Hosh. Hos. Hosh.
"Hanya begitukah kemampuanmu?"
Dapat di lihat perbedaan suasana di pesta dan di belakang pesta, bukan?
"Selamat tinggal tikus kecil. Hyyyatt!"
Prang!
"Eh?"
"Tidak akan semudah itu, Kabuto."
"Cih, pengganggu."
Sakura yang sudah cukup lelah perlahan meredupkan matanya walaupun ia sudah sempat melihat wajah penolongnya. Ya, memang dari dulu penolongnya hanya satu. Dan tetap seperti itu.
"N-Naruto-k-kun." Lirihnya sebelum kesadaran benar-benar direnggut darinya.
.
.
Sasuke masih menatap kepergian Hinata hingga menghilang tepat di belokan aula. Mukanya lalu kembali datar seperti semula lalu memberikan aba-aba pada seseorang di balik tiang sana untuk mendekat.
"Bagaimana?"
"Dugaaamu benar, Sasuke. Sakura yang melakukannya."
"Hn. Lanjutkan."
"Sampai sekarang aku belum tahu motif di balik ini semua. Yang pasti kau harus berhati-hati karena apapun itu, pasti bukanlah hal yang baik. Kau tentunya lebih mengenal Pein."
"Bagaimana dengan misi kedua yang kuberikan?"
"Mengenai memata-matai Kabuto, aku tidak menemukan satupun gelagat aneh. Ia juga cukup terkejut mengetahui perjanjian itu belum dibatalkan. Sepertinya, ia tidak tahu tentang rencana Pein."
"Hn. Sekarang tugasmu akan ku ganti."
"Apa?"
"Lindungi Sakura."
"Kau tahu kan bahwa dia ikut membantu Pein?"
"Hn."
"Lantas?"
"Dia... dia hanya bingung saat ini. Dia hanya kehilangan jati dirinya sesaat."
"..."
"Satu lagi. Beritahu Naruto. Ia kan membantumu melindungi Sakura. Sedangkan aku akan melindungi diriku sendiri dan istriku."
Kekehan itu walaupun tertutupi masket masih dapat Sasuke dengar.
"Apa maksudmu menertawaiku?" tanyanya tidak suka.
"Kau belakangan ini sangat lucu. Istriku? Kau tidak perlu menekankan 'istriku'. Kau cukup menyebutkan 'Hinata' aku pasti sudah tahu. Kau seperti seorang pemuda yang takut kehilangan istrinya,"
"Kau berisik Kakashi. Pergilah. Kau lama-lama menjengkelkan."
"Baiklah. Aku akan melaksanakan tugasku melindungi Sakura. Kau juga laksanakanlah tugasmu melindungi 'istrimu'."
Pemuda bermasker berusia tiga puluhan itu langsung pergi setelah mendapatkan death glare dari Sasuke.
Sasuke berpikir sejenak mengingat kata-kata Kakashi barusan. Berarti dugaannya selama ini benar. Dan ia hanya perlu tahu apa rencana Pein padanya. Ia yakin, pemuda itu masih tidak menerima posisi nomor duanya. Tapi apa? Ia tahu betul, perang Uchiha-Akatsuki bukanlah jalan yang akan Pein pilih. Peluangnya sangat kecil, karena pengaruh Uchiha kini diatas Akatsuki.
'Apa yang kau rencanakan, Pein?'
.
.
TBC
.
.
B-bagaimana? A-apa mengecewakan? Gomen, karena tidak menemukan ide lain.
Maaf jika penulisan chap ini atau pun chap2 sebelumnya kurang bagus. Apa lagi penggunaan kata-katanya. Saya bukan jurusan sastra sih #ngeles
Misalnya mengapa saya terus memakai 'Tuan putri' untuk Hinata? Bukankah Permaisuri? Ya. Seharusnya begitu. Tapi saia lebih suka Tuan Putri karena permaisuri terdengar tua. Hahaha. Tapi, saya sangat menghargai kritikan dan pertanyaan readers.
Dan yang lebih penting lagi terima kasih telah mengingatkan saia tentang disclaimer. Saia benar2 lupa.
Arigatou for reading.
.
I need to be better. My I ask your review?
