A/N: Sorryy kalo Seshomarunya lumayan OOC . Susah sih ngebayangin ekspresinya si pangeran es itu haha *disambit Jaken* BTW chapter ini basically isinya tentang flashback ke jaman Inu-Sess masih kecilll *author lagi sok dramatis*
Disclaimer: Inuyasha milik Rumiko Takahashi
Chapter 5.
...
Melihat Kagome yang mendadak terdiam, Inuyasha pun lantas bertanya, "Kagome? Ada apa?"
Kagome segera mengalihkan pandangannya dari Kikyo ke Inuyasha. "Eh, tidak apa-apa Inuyasha, aku hanya... aku lupa aku ada urusan penting hari ini! Ya, benar! Lebih baik aku pulang sekarang!" Jawabnya sebelum dengan cepat berlari keluar dari gym SMA Tama.
"Kagome!" panggil Inuyasha. Dilihatnya gadis berkusi roda disebelahnya yang melihatnya dengan tatapan bingung, dan dia menarik nafas panjang.
"Kikyo, kau ini bagaimana. Aku kan sudah pernah bilang kau jangan pernah memaksakan dirimu sendiri, berepot-repot untuk aku." Ujarnya pelan.
Gadis berambut hitam itu hanya tersenyum kecil. "Tidak apa-apa Inuyasha. Lagipula aku juga bosan dirumah. Aku memang ingin melihatmu bertanding…"
Inuyasha membalas senyumannya, lalu membungkukkan badannya untuk memberikannya sebuah kecupan kecil di jidatnya. "Terima kasih, Kikyo."
Di perjalanan pulang, kata-kata Inuyasha terus terngiang-ngiang di benak Kagome. 'Inuyasha punya pacar? Lalu kenapa? Aku ini bukan siapa-siapanya Inuyasha, kan?' pikirnya dalam hati. Namun tetap saja, hatinya terasa tidak enak. Dadanya sesak…
Dia terus berjalan sambil menundukkan kepalanya. Tanpa sengaja, disenggolnya seseorang yang sedang berjalan dengan arah berbalik darinya.
"Ah, maaf… aku sedang tidak melihat jalan…" ucapnya perlahan sambil membungkuk meminta maaf.
"Tidak apa-apa nona. Saya juga tidak berhati-hati." Sahut orang itu.
'Tunggu… suara itu, rasanya aku pernah dengar…'
Kagome lalu mengangkat kepalanya. "Kau… kau kakak Inuyasha, kan?" Dicobanya untuk mengingat-ingat namanya… Inuyasha telah menyebutkannya sekali waktu dirumahnya…
"Sesshomaru..?" tanyanya pelan.
Pemuda berambut panjang itu menatap gadis didepannya. "Oh, kau yang waktu itu kerumah kami? Tidak sangka kita berjumpa lagi secepat ini. Apa kabarmu?" ucapnya.
"Aku baik… Ngomong-ngomong, kau mau kemana?" tanya Kagome balik.
"Oh, aku hanya ingin pergi keluar mencari udara segar saja. Kau?"
"Aku… aku habis melihat Inuyasha bertanding… "
"Oh, begitu, apa kau mau pulang sekarang?"
"Eh? Ya... tidak juga sih... memang kenapa?" jawab Kagome.
"Ah… tidak apa-apa. Aku sedang ingin duduk-duduk di taman, apa kau ingin ikut denganku dulu sebentar? Tidak lama kok.." Ujar Sesshomaru.
Kagome tersenyum. "Tentu saja, mengapa tidak?"
Di taman itu, ada banyak sekali anak-anak kecil yang sedang bermain. Mereka terlihat gembira, tanpa rasa takut dan khawatir…
"Apa kau suka anak kecil, Kagome?" tanya Sesshomaru tiba-tiba, membuyarkan lamunan gadis berambut hitam legam yang sedang memperhatikan anak-anak yang sedang bermain ayunan.
"Eh aku? Yah…. Lumayan… aku senang melihat anak-anak bermain…" jawab Kagome sambil tersenyum.
"Begitu ya…." Ucap Sesshomaru.
"Memangnya kenapa, Sesshomaru?" tanya Kagome penasaran.
"Ah tidak… hanya saja aku jadi teringat waktu aku kecil dulu…."
Kagome memperhatikan wajah laki-laki berambut panjang itu. Apa itu hanya perasaannya… atau dia terlihat sedih..?
"Dulu aku dan Inuyasha juga seperti mereka. Waktu cepat sekali berlalu ya."
Kagome semakin penasaran. Dari cara Inuyasha dan Sesshomaru berbicara kepada satu sama lain yang dilihatnya ketika dia berada di rumah mereka, kedua saudara itu memang sepertinya tidak terlalu akrab. Apa memang ada sesuatu di antara mereka ini?
"Memang waktu tidak bisa diputar kembali. Keadaan sudah seperti ini, apapun yang kita lakukan tidak akan mengubah apa yang telah terjadi di masa lalu, bukan?" ucap Sesshomaru sambil menerawang jauh.
"Sesshomaru?" Melihat tatapan sedih laki-laki berambut panjang itu, Kagome pun mulai bersimpatik.
"Ah, maaf, Kagome. Padahal kita ini baru saja kenal. Sepertinya aku terlaluterbawa emosi." Tutur Sesshomaru tiba-tiba.
Kagome mengedipkan matanya beberapa kali. "Tidak apa-apa. Aku mau mendengarkan ceritamu kok."
"Aku yang tidak enak kalau harus memberatkan kau dengan persoalanku sendiri, Kagome." Jawab Sesshomaru sambil tersenyum kecil.
Gadis berambut hitam legam itu menggelengkan kepalanya. "Tidak usah tidak enak padaku, Sesshomaru. Inuyasha temanku, jadi kau juga adalah temanku. Kau juga sudah mempersilahkanku untuk masuk kerumahku waktu itu…Ayolah, bukannya akan lebih lega kalau kita bisa menceritakan masalah kita kepada orang lain?"
Sesshomaru menatap mata cokelat milik Kagome, lalu menghela nafas dan menutup kedua kelopak matanya. "Mungkin kau benar juga."
Inuyasha, kau ini lelet sekali!"
"Tunggu aku, kak Sesshomaru, jangan lari secepat itu! Aku tidak bisa mengejarmu!"
"Haha, Inuyasha! Kalau begitu, kau yang jadi 'jadi' terus! Ayo kejar aku!"
"Ibu! Jangan tinggalkan aku, ibu!"
"Inuyasha, Izayoi sudah pergi! Kau jangan begitu! Kau kan masih punya aku!"
"Tapi...ibu!"
"Kau tidak menganggapku sebagai kakakmu? Aku ini kakakmu, Inuyasha. Aku masih ada disini, untukmu!"
"Kak Sesshomaru…"
"Aku janji, aku akan selalu ada untukmu di kondisi seperti apapun juga.. Aku akan menjagamu."
Kagome mendengarkan cerita Sesshomaru dengan penuh seksama. Ternyata… mereka berdua ini adalah pasangan kakak adik yang memiliki ikatan yang kuat… Lantas apa yang mengubah hubungan mereka ini? Sesshomaru menghela nafas lagi. "Aku ingat jelas saat Kakek dan Nenek kerumahku….saat pertama kali ayah bilang Inuyasha harus dibawa ke panti asuhan."
"Taisho. Sekarang wanita itu sudah tidak ada. Untuk apa lagi kau harus mengurus anak itu? Ingat, kau hanya menikahi wanita sial itu karena dia mengandung anak tidak tahu diuntung itu! Kalau anak itu tidak ada, kau tidak perlu menikahi wanita pelacur itu!"
"Jangan mengatakan hal seperti itu tentang Izayoi dan Inuyasha, ayah!" bantah Inutaisho sambil mengangkat suaranya.
"Berani sekali kau mengangkat suaramu kepada orang yang telah membantumu sukses sampai detik ini, Inutaisho! Aku tidak mau tahu. Hanya Sesshomaru cucuku satu-satunya. Aku tidak mau mengakui anak itu, apalagi kalau sampai harus dia berbagi warisan dengan Sesshomaru. Kau harus menyingkirkan dia secepat mungkin. Bawa dia ke tempat panti asuhan atau apa saja,kalau kau tidak mau, aku akan melakukannya dengan caraku sendiri." Ucap ayah Inutaisho.
Sesshomaru diam-diam menguping pembicaraan ayahnya dan kakeknya itu dari bilik jendelanya. Hatinya berdebar kencang. Mereka mau membuang Inuyasha?
"Tak beberapa lama setelah hari itu… Inuyasha tiba-tiba demam tinggi, aku pun lalu ke kamarnya… Inuyasha terlihat sangat sengsara… aku benar-benar tidak tega melihat dia seperti itu." Lanjut Sesshomaru, sementara Kagome tetap menyimak dengan seksama.
"Inuyasha…." Ucap Sesshomaru khawatir.
"Kakak…? Kau jangan dekat-dekat denganku… nanti bisa-bisa kau jadi sakit juga." Ujar Inuyasha dengan nafas yang agak tersengal.
Sesshomaru tersenyum sedih. Masa setega itu ayahnya mau membiarkan Inuyasha masuk ke panti asuhan?
Didengarnya bunyi mobil yang tak asing lagi untuknya. Itu adalah mobil kakeknya! Gawat! Sepertinya mereka mau membawa Inuyasha hari ini!
Tanpa berpikir panjang, Sesshomaru menarik Inuyasha keluar dari ranjangnya.
"Kakak? Apa yang kau lakukan?" tanya Inuyasha bingung.
"Inuyasha. Kau harus percaya padaku. Kita harus pergi sekarang. Ayo, kita pergi!"
"Kak!"
Sesshomaru segera menggendong Inuyasha di punggungnya dan berlari keluar dari rumah melalui pintu belakang.
"Kakak, mau kemana kita ini?" tanya Inuyasha mulai ketakutan. Dia percaya kakaknya tidak akan melakukan apa-apa untuk mencelakakan dirinya, tetapi dia juga curiga dengan tingkah aneh kakaknya ini.
"Sudah, pokoknya kita harus pergi sejauh mungkin, Inuyasha!"
Namun bagaimanapun juga, Sesshomaru hanya seorang anak laki-laki biasa berusia 12 tahun, tak berapa lama, kakinya menyerah dan iapun terjatuh dengan Inuyasha masih di punggungnya.
"Kakak!"
"Maaf, Inuyasha, aku…"
"Disitu mereka! Cepat kejar!" itu adalah suara kakek mereka.
Semua terasa samar-samar bagi Sesshomaru, namun hal terakhir yang diingatnya adalah suara Inuyasha yang memanggil-manggil dirinya…
"Sesshomaru. Jawab ayahmu ini. Mengapa kau mau kabur dengan Inuyasha?"
Sesshomaru hanya terdiam.
Inutaisho menghela nafas. "Kau sudah tahu tentang kakekmu, dan rencananya dengan adikmu kan.."
Sesshomaru tetap diam…
"Sesshomaru. Ayah juga tidak mau…. Membiarkan… Inuyasha pergi dari rumah ini. Ayah sayang sekali pada kalian berdua… tidak ada yang lebih, tidak ada yang kurang…" tutur Inutaisho.
"Lalu mengapa ayah mau membuang Inuyasha ke panti asuhan?" ucap Sesshomaru akhirnya.
"Sesshomaru, ayah tidak punya pilihan lain! Kau tahu betapa keras kakekmu itu, kan? Selama ini… ayah sudah cukup banyak membantahnya… ayah sudah cukup menjadi anak yang kurang ajar…" jawab Inutaisho sedih.
Sesshomaru hanya melihat ayahnya tanpa pandangan bersalah.
"Tapi pasti masih ada cara agar Inuyasha tidak usah pergi, iya kan?"
Inutaisho menatap tajam putra pertamanya itu. Lalu ia terlihat seperti sedang berpikir keras.
"Ada, Sesshomaru, tapi berjanjilah padaku. Kaulah yang harus melakukan ini dengan baik dan benar."
"Kak Sesshomaru, banyak sekali barang yang kau bawa. Kita mau kemana?"tanya Inuyasha polos saat melihat ayahnya dan kakaknya memberes-beresi beberapa koper besar.
Tanpa menoleh kearah adiknya itu, Sesshomaru menjawab. "Bukan urusanmu, Inuyasha."
Inuyasha terkesiap mendengar jawaban dingin kakaknya. "Loh, kak Sesshomaru? Kenapa? Aku tidak boleh tau? Ayah, kalian mau kemana?"
Inutaisho memejamkan matanya. "Sesshomaru, beritahu adikmu itu."
Sesshomaru menatap Inuyasha dengan dingin. "Dengar ya Inuyasha. Aku sudah capek jadi temanmu bermain. Aku ini sudah dewasa. Sebagai putra tertua keluarga Taisho, akulah yang akan mewarisi perusahaan dan harta warisan dari ayah. Oleh karena itu, aku akan bersekolah diluar negeri, supaya aku layak meneruskan usaha ayah. Kau yang anak kedua ini sebaiknya diam saja."
Inuyasha terkesiap. Kenapa kakaknya ini?
"Kak Sesshomaru, tapi kau berjanji kau akan selalu menemaniku! Kau-"
"Cukup Inuyasha!" potong Sesshomaru. "Aku sudah lelah, lelah sekali mendengar rengekan-rengekanmu. Ini keputusanku, aku yang menjalani masa depanku! Kau jangan ikut-ikut campur lagi! Atau kau… tidak akan kuanggap adikku lagi…"
Bagaikan disambar petir, Inuyasha terdiam mendengar kata-kata menyakitkan yang keluar dari bibir kakak yang sangat disayanginya itu. Ditundukkannya kepalanya.
"Kak Sesshomaru… selama ini aku pikir kau sayang padaku. Apa… apa mewarisi harta ayah lebih penting dari hubungan saudara kita, kakak?"
Kali ini, Sesshomaru terdiam.
"Jawab aku, kakak!"
"Iya Inuyasha. Saat ini, bagiku hal yang terpenting adalah menjadi ahli waris yang handal untuk keluarga Taisho. Tidak ada hal lain yang terpenting dari itu. Bagiku kau hanyalah putra kedua ayah, anak yang terlahir belakangan setelah aku yang tidak perlu ikut campur dalam masalah ini."
Dan sejak saat itu, sosok seorang kakak dari Sesshomaru di dalam benak Inuyasha yang berusia 11 tahun saat itupun sudah mati.
Mendengar cerita tragis tersebut, mata Kagome mulai berkaca-kaca. Tanpa disadarinya, beberapa tetes air mata mulai membasahi pelupuk matanya.
"Yah, itu sudah berlalu, tidak bisa kuapa-apakan juga kan? Ah, maaf ya, Kagome. Kau jadi harus mendengarkan cerita seperti ini... Kagome..?" Dilihatnya gadis disebelahnya itu sudah banjir air mata.
"Maaf.. Aku tidak bermaksud-" Sesshomaru kehilangan kata-kata.
"Aduh, sepertinya aku terlalu terbawa suasana.." Ucap Kagome sambil menyeka matanya. "Pasti itu berat sekali untukmu.. Padahal kau juga melakukannya untuk dia.."
Sesshomaru kembali menatap ke kejauhan. "Dia juga pasti merasa tersakiti. Tidak heran kalau dia membenciku sampai sekarang. Mungkin inilah yang dinamakan takdir ya."
Dengan hati-hati, Kagome memperhatikan raut wajah sedih laki-laki berambut panjang itu.
"Sesshomaru.. Apa.. Apa kau kesepian?" Tanyanya pelan.
Sesshomaru menoleh ke arahnya. "Eh?"
"Ah, maaf, aku tidak bermaksud untuk menyinggungmu... Hanya saja.. Aku... Aku bersedia jadi temanmu, kalau kau mau." Jawab Kagome cepat.
Sesshomaru menatap gadis berambut hitam legam itu dengan seksama, lalu raut tegangnya pun mulai melembut.
"Terima kasih atas perhatianmu...tapi aku tidak apa apa kok."
"Mana mungkin tidak apa-apa! Tidak mungkin ada orang yang suka sendiri, Sesshomaru! Aku yakin, Inuyasha juga pasti masih sayang padamu " Jawab Kagome serius.
Sesshomaru tersenyum kecil, dalam hatinya, dia mengagumi kebaikan hati gadis polos ini.
"Terima kasih." Ucapnya lagi.
Kagome tersenyum lebar. "Teman?" Ucapnya sambil mengulurkan tangannya.
'Mungkin dia benar... mungkin memang ada baiknya, jika kita memiliki seseorang yang bisa mendengarkan kita... Mungkin, kalau dia... aku bisa...'
Tanpa kata-kata lagi, Sesshomaru membalas senyumannya dan menjabat tangannya. "Teman."
End Chapter
