Masashi's chara was borrowed by Cecil Hime

.

.

Hosh..hosh..hosh...

Sayatan yang tidak terbilang kecil nampak hampir di seluruh badan pria berkulit tan itu. Dan beberapa sisinya menampakkan darah segar yang kentara sekali menunjukkan bahwa pria itu sepertinya bukanlah lawan untuk orang di depannya.

"Menyerahlah, bocah ingusan."

"Kheh, kau pikir semudah itu?"

"Hyaaaaaaaatt."

PRANG. PRANG.

.

.

Sejak kecil ia sudah diajari oleh Tou-sama untuk mempertajam inderanya. Suara pedang itu memang dapat disamarkan oleh meriahnya pesta. Tapi, jika dari kamar mandi belakang, suara samar-samar itu dapat terdengar. Setelah melihat sekelilingnya dan merasa tidak ada yang melihatnya, gadis cantik itu melangkahkan kakinya mendekati asal suara.

Tidak lama sampai ia dapat melihat dari jauh seorang pria blonde yang berusaha menahan serangan bertubi-tubi dari seorang pria yang tidak ia kenal. Tapi ia pernah melihat pria itu berbicara dengan Pein. Sedangkan pria blonde yang sepertinya mulai kehabisan tenaga itu pastilah ia kenal. Naruto.

Dengan mudah ia dapat memprediksikan kemungkinan akhir pertarungan itu. Ketika ia hendak membantu panglima itu, ia dapat melihat bayangan hitam yang tiba-tiba datang membantu panglima itu. Ia juga mengenal bayangan hitam itu. Kakashi.

Dengan itu ia menjauh dari tempat itu.

.

.

"Kenapa kau lama sekali, Hinata?"

"Ada yang ingin ku beritahu pada Sasuke-kun."

"Hn?"

"Apa sebegitu serius?"

"Naruto-san dan Kakashi-san sed-."

"Selamat malam, Sasuke, Hinata-sama."

Siapapun yang melihatnya tahu bahwa Pein yang saat ini di depan mereka terpaksa memberikan senyumannya. Hinata jadi ragu menyampaikan hal yang baru saja ia lihat.

"Bagaimana jika kita minum Sasuke? Sudah sangat lama sejak terakhir kali kita melakukannya."

"Hn. kami sudah minum."

"Aa, sedikit lagi saja. Sebagai tuan rumah aku tidak ingin dianggap tidak menghargai tamu agung. Benarkan, Hinata-sama?"

Sasuke tahu senyum Hinata saat itu berbeda. Apalagi saat Hinata menatap gelas berisi cairan merah itu dengan intens. Sasuke yakin Hinata mengetahui sesuatu. Sesuatu yang hendak ia beritahu sebelum Pein datang menawarkan minuman.

"Aku tidak menaruh racun di dalamnya Sasuke. Percayalah. Bukankah kita teman?"

"Hn."

Sasuke lalu mengambil minuman itu dan meneguknya dedikit. Tentu saja ia tidak ingin dianggap pengecut atau penakut hanya untuk segelas minuman.

"Tidak beracun, bukan?"

Sasuke lalu meneguk minuman itu sampai habis.

"Baiklah, aku akan menyapa tamu lain. Permisi."

"Apa Sasuke-kun baik-baik saja?"

"Hn. Apa yang ingin kau sampaikan tadi Hinata?"

"Aku melihat Naruto-san dan Kakashi-san bertarung melawan seseorang. Pemuda tinggi yang sering berada di samping Pein-sama."

"Maksudmu Kabuto?"

"Mungkin. Apa Sasuke-kun akan membantu mereka?"

"Tidak. Aku tahu kekuatan Kakashi. Kita akan melihat apa rencana Pain."

.

.

Pein tidak habis pikir kenapa Kabuto tidak kembali juga. Ia yakin, bawahannya itu dapat dengan mudah mengalahkan wanita pencemburu itu.

'Apa rencana itu ku tunda saja?' pikirnya.

Tidak. ia sudah menyiapkan segalanya. Bahkan minuman itu sudah ia berikan pada Sasuke. Obatnya mungkin akan bereaksi setengah jam kemudian. Ia memang memasukkan obat ke dalamnya dengan reaksi lambat agar tidak ketahuan.

Ia sudah sejauh ini. Dan ia kan melakukannya tanpa Kabuto. Melalui gerakan tangannya, seseorang di tengah-tengah kerumunan sana mendekat padanya.

"Plan B. Lakukan tanpa Kaboto. Mungkin ia akan menyusul. Orang-orang pilihanmu sudah lebih dari cukup untuk keadaan Sasuke setengah jam ke depan. Lakukan penyerangan sebelum Kakashi atau panglimanya itu menyadarinya."

"Baik, Pein-sama."

.

.

Sasuke senang melihat kedatangan Kakashi walau dengan sedikit luka yang berusaha ia tutupi agar tidak ada yang menaruh curiga padanya. Beruntung, Pein sedang tidak ada di tengah-tengah pesta.

"Bagaimana keadaan Naruto?"

"Hn? Aku bahkan belum memberitahumu."

"Hn. Hinata melihat kalian." Jawabnya sambil mengalihkan pandangannya ke arah Hinata. Gadis cantik itu sedang berbincang-bincang dengan orang-orang di pesta. Walaupun ia hanya kebanyakan tersenyum dan sambil mendengarkan.

"Naruto mengalami luka berat, hampir sama dengan Sakura. Tapi mungkin tidak butuh waktu lama untuk menyembuhkannya. Aku sudah mengirim mereka kembali ke Uchiha Kingdom."

"Kabuto kah?"

"Benar. Ia sudah ku bereskan. Lalu bagaimana dengan Pein?"

"Hn. sejauh ini ia tampak biasa saja. Tapi, kita harus tetap hati-hati. Penyerangan diam-diam Kaboto pasti dialah dalangnya."

"Baik. Akan aku awasi."

"Hn."

.

.

Sepertinya baru sebentar ia mengalihkan pandangannya dari Hinata untuk berbicara dengan Kakashi, tapi begitu ia mencari sosok Hinata lagi, ia sudah mendapati istrinya itu digoda oleh seorang pria. Ia mengenal pria itu. Siapa yang tidak mengenal pria itu? Yang ia dengar, hampir semua gadis cantik tergila-gila pada pria itu setelah mengetahui 'the most wanted' telah menikah. Yang ia tahu, wanita-wanita yang dulu mengejar-ngejarnya berbalik mengejar-ngejar pemuda berambut merah yang masih lajang itu.

Sasuke semakin mempercepat langkahnya melihat pria itu menebar senyumnya berusaha menggoda Hinata. Dan yang lebih membuatnya geram adalah sikap Hinata yang tidak terlihat terganggu dengan pria itu.

'Cih, apa dia tidak tahu jika playboy itu bajingan?'

.

.

"Apa yang kau lakukan Hinata?"

"Sasuke-kun? Aa... dia adalah Sasori-san." Kata Hinata ringan tanpa menyadari perubahan mimik Sasuke.

"Selamat malam, 'Uchiha-sama'."

"Aku tidak mengetahui jika seorang Akasuna diundang ke pesta ini."

"Hahaha. Tentu saja aku tidak akan melewatkan pesta dengan wanita-wanita cantik." Kata Sasori sambil melirik Hinata.

Hinata hanya tersenyum karena ia merasa pria yang baru saja ia kenal tersebut hanya bercanda saja. Lagipula, sejak tadi pria itu banyak menceritakan hal-hal lucu padaya.

"Hn. Sepertinya wanita cantik yang kau maksud sudah tidak sabar untuk berdansa denganmu."

Sasori tentu saja sangat senang mendengarnya. Apa itu artinya Sasuke tidak keberatan jika ia berdansa dengan Hinata? Aa,, rasanya kabar burung yang baru saja beredar mengatakan bahwa Sasuke sangat possesif tidak benar sama sekali.

"Karin! Sasori mengajakmu berdansa."

Wanita cantik yang merasa namanya dipanggil langsung berjalan ke arah suara. Tidak lupa dengan senyum menggodanya.

"Sebenarnya yang kuinginkan adalah Sasuke-sama. Tapi, Sasori-kun juga tidak buruk." Kata wanita cantik itu sambil memainkan matanya pada Sasuke.

Sedangkan Sasori? Jangan ditanya lagi ekspresinya. Ia sudah banyak mendengar tentang wanita berambut merah yang seenaknya saja menarik tangannya ke tengah lantai dansa. Jangan harap bisa menyisakan tenaga lebih di esok harinya jika disampingmu ada Karin.

Hinata tersenyum geli melihat Sasori yang terpaksa mengikuti Karin berdansa.

"Apa yang kau tertawai?"

"Muka Sasori-san sangat lucu."

"Namanya Akasuna."

"Bukankah sama saja? Namanya Akasuna Sasori, bukan?"

"Hn. Tidak sopan jika langsung memanggil sesorang dengan nama kecilnya, apalagi orang yang baru dikenal Hinata."

"Benarkah?"

"Hn. Bukankah kau saja selalu memanggilku 'Uchiha-san' pertama kali?"

"..."

"Dan satu lagi. Jika ada wanita lain yang menggodaku, seperti Karin yang memainkan mata untukku, kau harusnya cemburu."

"Haruskah?"

"Tentu saja. Begitu juga aku. Aku akan cemb-, maksudku, aku akan marah jika kau digoda oleh pria lain."

"Hai. G-gomen, Sasuke-kun."

"Aku ini suamimu."

Kening Hinata yang dikerutkan menandakan ia idak mengerti dengan maksud Sasuke.

"Meminta maaf pada suami berbeda dengan meminta maaf pada orang lain, kau tahu?"

"Apanya yang berbeda?"

"Sepertinya selalu berada di dalam Hyuuga Palace membuatmu tidak mengetahui hal sepenting itu ya?" tanya Sasuke pura-pura mengeluh.

Tentu saja aktingnya itu mengundang rasa bersalah Hinata. Gadis itu merasa tidak becus menjadi istri karena tidak mengetahui hal yang dimaksud Sasuke.

"Gomen. Lalu apa yang harus dilakukan?"

"Benarkah kau ingin mengetahuinya?"

Tiga anggukan dari Hinata.

"Apa yang akan kau lakukan jika sudah mengetahuinya?"

"Tentu saja aku akan melakukannya."

"Apa kau yakin?"

"Sasuke-kun aneh. Tentu saja. Lagipula meminta maaf saja tidak ada sulitnya, bukan?"

"Hn. baiklah akan ku beritahu. Cara meminta maaf pada suami adalah dengan ..."

Sasuke lalu mendekatkan bibirnya pada telinga Hinata dan mengatakannya. Setelahnya, ia menyeringai karena sukses membuat wajah Hinata memerah.

"M-Mana bisa b-begitu?"

"Baiklah. Ternyata istriku meminta maaf saja tidak bisa. Bukankah kau yang mengatakan bahwa meminta maaf tidak ada sulitnya?" Keluhnya dan berpura-pura hendak meninggalkan Hinata.

Lalu ia merasakan Hinata membalik badannya, meletakkan kedua tangannya di bahunya, lalu menjinjitkan kakinya. Terakhir... tentu saja menempelkan bibirnya pada bibir sang suami.

Sasuke yang menyadari pergerakan Hinata untuk mengakhiri aksinya tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Sebelum wajah istrinya benar-benar terpisah dari wajahnya, ia lau memegang tengkuk Hinata untuk ciuman sesungguhnya.

Semua orang yang melihatnya hanya tersenyum maklum mengethaui bahwa mereka adalah pasangan baru. Semua orang, kecuali pemuda berambut merah yang memandang mereka dengan wajah kesal.

'Kabar burung itu memang benar-benar salah. Ia tidak hanya posesif, tapi juga pencemburu.'

Hinata yang tidak siap menerima serangan tiba-tiba tidak dapat berbuat banyak selain mencoba menghilangkan rasa malunya. Tentu saja tidak berhasil. Bagaimana mungkin dapat menghilangkan rasa malu ketika berciuman di tengah-tengah pesta dan di tengah-tengah orang seramai ini? Cara lain yang Hinata ketahui adalah menghentikan tingkah konyol mereka. tidak kuat memang, tapi dorongan itu cukup membuat mereka terpisah.

"Ada apa?" tanya Sasuke tidak terima karena ia belum puas.

"O-orang-orang melihat, Sasuke-kun."

"Masalahnya apa?"

"T-tidak s-sopan!"

"Hn. Berarti akan lebih sopan jika kita melakukannya di Uchiha Kingdom?"

"M-mesum!"

"Hei, cubitanmu lumayan sakit."

.

.

Sasuke merasakan pening di kepalanya. Ia tidak tahu mengapa tiba-tiba seperti ini. Perasaannya sungguh tidak enak. Sepertinya ia harus meninggalkan tempat ini secepatnya.

"Ada apa Sasuke-kun?"

"Bagaimana kalau kita pulang sekarang?"

"Tidak masalah."

"Katakan pada Kakashi untuk segera menyiapkan semuanya. Aku akan pamit pada Pein."

"Hai."

.

.

Seperti yang Pein inginkan, kereta kuda itu menghilang di depan matanya. Senang mengetahui bahwa obat itu mulai bereaksi. Ia dapat melihat Sasuke yang menahan sakit di kepalnya ketika berpamitan pulang tadi.

"Apa sekarang saatnya, Pein-sama?"

"Tentu saja. Cukup anak buah terbaikmu saja karena aku akan turun tangan juga. Segera laksankan. Jangan sampai penyerangan terlambat. Aku tidak ingin mereka sempat sampai di perbatasan karena akan ada keributan."

"Baik."

.

.

Hinata tentu saja mendengar keributan di belakangnya. Tapi, keadaan Sasuke yang tiba-tiba sangat pusing dan mengantuk membuatnya mengurungkan niat melakukannya.

"Aku yakin Pein memasukkan sesuatu ke dalam minuman itu."

"Sebaiknya Sasuke-kun beristirahat saja. Aku sudah memeriksa dan tidak ada racun membahayakan dalam tubuh Sasuke-kun."

"Apa kau yakin, Hinata?"

"Ya, ten—"

"Hinata awas!"

.

.

"Kau tidak perlu mengenakan topeng bodoh itu, Pein."

"Kau memang pintar Kakashi."

"Jadi kau ingin mengajak bertarung?"

"Tidak. Aku ingin kau menyerah saja."

"Apa kau bercanda?"

"Kheh. Terserah apa katamu. Yang pasti nyawa Sasuke dan Hinata ada di tanganku. Bawa mereka."

Beberapa saat kemudian tampak beberapa kaki tangan Pein yang membawa –menyeret—Hinata dan Sasuke dengan kasar. Memang tidak ada cara lain selain menyeret, kerena Sasuke sudah terbaring lemah.

"Apa yang kalian lakukan pada Sasuke-kun?" tanya Hinata.

"Jangan khawatir cantik, ia hanya ku buat tidak berdaya untuk satu hari ke depan."

"Apa yang kau inginkan?" kakashi akhirnya buka suara.

"Aku hanya ingin kejayaanku kembali. Kau pikir bagiku cukup menjadi nomor dua?"

"Membunuh kami semua tidak akan membuatmu menjadi yang pertama. Itu akan sia-sia saja. Uchiha Kingdom tidak akan hancur hanya karena itu." Jawab Kakashi.

"Memangnya siapa yang berniat membunuh kalian semua? Aku tidak tertarik."

"Apa maksudmu?"

"Aku cukup membuat kayu bakar saja. Sisanya, aku hanya akan menonton saja, karena yang akan menghancurkan Uchiha Kingdom adalah Hyuuga Kingdom."

Hinata terkejut mendengarnya. Apa maksudnya? Hyuuga Kingdom?

"..."

"Kau tidak sepintar yang ku kira. Coba kau bayangkan apa yang terjadi jika Hyuuga Hiashi mengetahui putri tercintanya dibunuh?"

"Ia akan membunuhmu."

"Kau salah. Ia akan menghabisi orang dan kerajaan yang tidak becus menjaga putrinya."

"Katakan apa yang akan kau lakukan?"

"Hmmm. Menurutmu cara mana yang lebih mengasikkan? Menggunakan pedang atau tangan kosong? Aa... sebaiknya pedang saja. Aku tidak ingin Hinata-sama merasakan sakit terlalu lama." Katanya tenang.

"Kau berengsek." Balas Kakashi. Ia sudah bersiap mengambil pedang dari belakang tubuhnya.

"Jangan coba-coba bergerak sedikitpun jika kau tidak ingin pedang ini melayang ke kepala cantiknya."

"Hanya itukah yang anda inginkan Pein-sama?"

Aura Hinata berubah seketika. Tidak ada sikap lembut yang biasanya. Suaranya memang masih sama. Suara Hinata. Tapi, aura yang dipancarkan berbeda. Ia lebih percaya diri dan mengeluarkan suaranya tanpa takut sedikitpun.

Dan semua orang yang berda disitu tentu menyadarinya. Kecuali Sasuke. Pria tampan itu sudah tidak sadarkan diri sejak badannya yang memang sudah dikuras tenaganya oleh obat itu tiba-tiba mendapat sayatan pedang tajam ketika hendak melindungi Hinata di dalam kereta tadi.

"Apa maksudmu, cantik? Berpura-pura berani di depanku tidak akan mengubah rencanaku."

"Memangnya siapa yang pura-pura? Sejak awal saya memang tidak takut pada anda ataupun anak buah anda."

"..."

"Saya hanya ingin melihat rencana apa sebenarnya yang ada dalam kepala anda."

"Hahahah. Kau banyak bicara. Sebentar lagi mulut cantikmu itu akan tertutup selamanya."

"Coba saja."

"Kau menantangku?"

"Mungkin 'YA'."

Harga diri yang tinggi membuat raja yang terkenal kuat itu tidak terima diremehkan oleh seorang perempuan. Dengan kalap, ia hendak memukul Hinata. Kakashi yang melihat pergerakan itu hendak membantu Hinata, tapi anak buah Pein yang memnag sedari tadi menghambat geraknya dengan pedang di kedua sisi menghentikan gerakannya. Awalnya, ia akan mengambil resiko akan tersayat pedang-pedang itu, tapi melihat yang terjadi di depan matanya, ia hanya dapat menganga tak percaya.

Dengan matanya sendiri, ia dapat melihat dengan mudahnya Hinata dapat menghindari pukulan Pein. Mungkin itu tampak biasa saja atau hanya keberuntungan semata. Tapi, mengingat Pein tidak pernah meleset sama sekali hal itu merupakan suatu yang langka. Apalagi dengan kondisi Hinata yang kedua tangannya terikat ke belakang.

"Hanya itukah kemampuanmu, 'Pein-sama'?"

.

.

Tbc

.

.

Gomenne, lelet update. Saia sedang menghadapi ujian.

Arigatou untuk semua readers dan special thanks untuk yang sempat meninggalkan jejak.

Kritik dan saran saia terima, karena memang chap ini sangat express dan tidak diedit lagi...:'(

.

.

Review please (?)