Disclaimer: Inuyasha hak milik Rumiko Takahashi
Chapter 6.
...
Setelah mengantarkan Kikyo pulang, Inuyasha pun segera menuju rumahnya sendiri. Di perjalanannya pulang, dia teringat tentang kejadian tadi dengan Kagome…. Kagome, apa itu hanya perasaannya atau gadis itu tadi terlihat seperti ingin menjauhi dirinya? Memangnya apa yang dia lakukan?
Inuyasha menggelengkan kepalanya. 'Aku terlalu banyak berpikir… Mungkin saja Kagome memang sedang ada keperluan penting.'
Sesampainya ia di rumahnya, dilihatnya Sesshomaru yang sedang duduk di ruangan tamu.
Sesshomaru yang mendengar bunyi pintu dibuka segera menatap adiknya itu.
Seperti biasa, tanpa basa basi selayaknya bagaimana sesama saudara biasanya, ia segera menuju kamarnya di lantai atas. Namun kali ini, suara Sesshomaru menghentikan langkahnya.
"Inuyasha."
Mendengar namanya dipanggil, pemuda berambut panjang itu menoleh ke kakaknya.
"Apa yang kau mau, Sesshomaru?" tanyanya.
"Aku bertemu dengan gadis yang datang kerumah ini beberapa hari lalu. Kagome, teman sekolahmu." Ucap Sesshomaru.
Inuyasha terlihat kaget. Namun dia segera berbalik bicara. "Keh. Lalu?"
"….."
"Kalau ada sesuatu yang ingin kau bicarakan denganku, cepatlah. Aku lelah. Aku mau ke kamarku." Jawab Inuyasha tanpa minat sebelum ia membalikkan badannya.
"Tunggu. Inuyasha, aku hanya ingin kau tahu. Kagome… dia memintaku, mengajakku menjadi temannya…"
Inuyasha memutar badannya kembali dan menatap Sesshomaru sambil tersenyum kecut.
"Begitu. Jadi sekarang kau punya teman? Baguslah. Agar kau bisa melepaskan otakmu yang terobsesi dengan cara-cara untuk menguasai harta ayah. Selamat untukmu." Inuyasha lalu kembali menuju ke kamarnya.
"Inuyasha!" panggil Sesshomaru.
"Apa lagi sekarang, hah?" tanya Inuyasha kesal.
"Aku…. Aku masih menganggapmu adikku."
Inuyasha terdiam. Masih dalam posisi membelakangi Sesshomaru, dia pun berkata dengan perlahan. "Bukan berarti aku menganggapmu kakakku, Sesshomaru."
Dengan kata-kata itu, diapun berlari ke kamarnya tanpa memandang Sesshomaru lagi.
Sesshomaru hanya memandang adiknya dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan.
.
.
.
RINNGGGG
"Akhirnya! Aku sudah hampir mati kebosanan dari tadi! Ahh~ Akhirnya berasa hidup kembali…. Kagome? Apa yang akan kau lakukan pulang sekolah?"
"Aku? Ah… Aku tidak tahu, Sango.." jawab gadis berambut hitam legam itu.
Sango menatap sahabatnya itu. "Hm…. Kalau kau senggang, bagaimana kalau kau ikut aku ke perpustakaan?"
"Eh, untuk apa, Sango?"
"Sekarang aku kerja paruh waktu di perpustakaan… Ini hari pertamaku kerja… jadi aku agak kurang percaya diri…. Yah, kalau kau bersedia menemaniku saja sih, Kagome."
Kagome tersenyum kecil. "Baiklah, aku akan menemanimu."
RINGGGG
"Yes! Akhirnya!" seru Inuyasha sambil berdiri dari kursinya.
"Inuyasha, sabar sedikit…." Ucap Miroku sambil menahan tawa melihat tingkah kanak-kanak temannya.
"Sabar bagaimana? Aku benar-benar tidak suka Kimia, Miroku. Kepalaku ini rasanya sudah mau pecah mendengar Myouga. Bel pulang sekolah benar-benar penyelamat jiwaku…" Jawab Inuyasha berapi-api.
'Aku tidak pernah menyangka ternyata Inuyasha itu lumayan lebay…' pikir Miroku dalam hati.
"Ayo, Miroku!"
"Tunggu, Takahashi!" itu adalah suara Myouga, guru Kimia mereka.
"Ah, apa lagi ini?" gerutu Inuyasha kesal. Myouga segera berjalan menuju ke mejanya.
"Inuyasha Takahashi, hasil ulanganmu kali ini jelek sekali. Bagaimana kau ini, menjadi anggota tim basket bukan alasan kau bisa menelantarkan pelajaranmu." Tegur Myouga.
"Keh. Aku tahu. Lain kali aku akan belajar lebih giat, jadi tidak usah menceramahiku." Jawab Inuyasha santai.
"Kau ini. Contohlah Miroku!" balas Myouga kesal sambil menunjuk kearah laki-laki berambut gelap di sebelah Inuyasha.
"Eh? Kenapa aku?" tanya Miroku dengan linglung.
"Sama sepertimu, Miroku juga anggota tim basket, tapi nilainya selalu paling tinggi di kelas! Dan dia juga anak yang sopan dan rajin. Inuyasha. Hari ini kau harus belajar dengannya di perpustakaan. Miroku, kau bersedia membantu Inuyasha kali ini kan?" tanyanya kepada Miroku sambil memasang tatapan mematikan.
"Eh… Tentu saja, Pak Myouga!" ucap Miroku yang agak ketakutan.
"Bagus. Dengar ini Inuyasha, jangan sampai nilai tes mu besok jelek lagi. Aku tidak mau ayahmu datang dan memarahiku lagi. Padahal kaulah yang pemalas. Ah, mengapa kau ini tidak bisa mencontoh kakakmu? Lihat dia, pulang sekolah dari luar negeri, semakin penuh pengetahuan, semakin sopan, siap untuk memimpin-"
BRAK.
"Jangan sekali-kali kau banding-bandingkan aku dengan orang itu." Desis Inuyasha dingin, sebelum ia berdiri dari kursinya. "Ayo Miroku."
Miroku hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Maaf Pak, Inuyasha memang selalu begitu… Yah kau tahu kan hubungannya dengan Sesshomaru?" Lalu, Miroku pun pergi menyusul Inuyasha.
Myouga hanya mendesah. "Dasar anak itu…"
.
"Nah. Aku akan menunggu disini. Kagome, kalau kau bosan, kau bisa duduk-duduk disana sambil membaca buku…" ucap Sango.
"Ah, tidak apa-apa kau disini sendiri?" tanya Kagome.
"Tidak apa-apa kok, kau mau menemaniku disini saja aku sudah senang kok!" jawab Sango sambil tersenyum.
Kagome tersenyum balik ke temannya itu. "Ya sudah, aku ke bagian kiri perpustakaan ya. Kalau kau mau kutemani disini, panggil saja aku."
"Baiklah, Kagome!"
Sementara itu, dengan Inuyasha dan Miroku…
"Nah, jadi, untuk mencari konsentrasi dalam potassium ini, kau harus menulis persamaannya dulu. Jadi caranya adalah, Kc = [PCl3][Cl2] / [PCl5]. Hei Inuyasha, kau dengar aku tidak?" tanya Miroku kesal melihat Inuyasha yang sepertinya tidak memperhatikannya.
"Eh? Maaf Miroku, tadi apa katamu?" jawab Inuyasha tanpa perasaan bersalah.
Miroku menghela nafas sambil memegang keningnya. "Kau ini, ya sudahlah. Aku mau pergi meminjam buku kimia dulu untukmu. Tunggulah disini."
"Ya sudah. Jangan lama-lama ya." Ucap Inuyasha santai.
Sepeninggalnya Miroku, Inuyasha membuka-buka kertas latihannya sendiri. "Huh, inilah mengapa aku benci kimia. Terlalu banyak rumus! Heran Miroku bisa menguasai pelajaran sesusah ini."
Tanpa disadarinya, sesosok gadis berambut hitam legam sedang berjalan menuju ke tempatnya duduk.
"Inuyasha?" ucap gadis itu pelan.
Inuyasha mengalihkan pandangannya ke asal suara itu. "Kagome? Apa yang kau lakukan disini?"
"Aku menemani Sango… Dia bekerja di perpustakaan mulai hari ini. Kau sendiri?" Kagome pun lalu duduk disebelah Inuyasha.
"Aku disuruh guru kimiaku untuk belajar bersama dengan Miroku karena nilaiku jelek. Dia sedang mengambil buku kimia nya… Yah, tapi sekarang aku yakin dia tidak akan kembali kesini secepat itu sih. Cowok kegenitan itu pasti lagi menggoda Sango."
Kagome tertawa kecil. "Cowok kegenitan? Kau ini Inuyasha, masa bicara begitu tentang temanmu sendiri?"
"Aku serius, Kagome, kau mau kuceritakan hal-hal gila yang pernah dia lakukan?"
.
Miroku memandang gadis didepannya itu. Rasanya dia pernah melihatnya, ah, dia teman Kagome! Kebetulan sekali dia yang bekerja disini.
Sambil tersenyum penuh arti, Miroku pun memutuskan untuk memulai 'misi'nya.
"Halo, nona. Ah, kau yang waktu itu di lapangan basket! Sango kan? Bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Miroku dengan mata berbinar-binar melihat gadis berambut brunet di depannya itu.
"Apa kita pernah bertemu? Oh, kau yang waktu itu! Apa kabar, ada yang bisa kubantu? Kalau buku yang kau butuhkan… biar aku carikan untukmu." jawab Sango sopan.
"Ah…Kau benar-benar gadis yang baik hati, nona Sango. Terima kasih."
Sango tersipu malu. "Kau ini bisa saja. Ini kan memang tugasku."
"Aku serius …. Jarang sekali ada perempuan yang berbaik hati padaku ini tanpa ada maunya… " jawab Miroku dengan sedih yang dipura-purakannya.
Sango pun merasa iba. "Mungkin itu hanya perasaanmu, ah...maaf... Aku belum tahu namamu..."
Miroku tersenyum. "Kita belum pernah berkenalan secara formal sebelumnya, kan? Perkenalkan, namaku Miroku Takeshi."
Sango membalas senyumannya. "Sango Kimura."
.
"Waktu itu, dia dengan sengaja berteriak-teriak ada kebakaran di depan ruang ganti wanita! Para perempuan yang panik lari-lari keluar… Beberapa masih hanya mengenakan pakaian dalam mereka… Dan selanjutnya, kau bisa tebak kan? Miroku diamuk habis-habisan oleh mereka! Salah satu dari perempuan itu sampai mengutuki Miroku agar dia tidak bisa punya anak." cerita Inuyasha sambil menahan tawanya.
Kagome tertawa kecil. "Dasar, genit sekali orang itu!"
"Ngomong-ngomong tentang tidak bisa punya anak, Miroku juga sering sekali bertanya begini ke perempuan; 'Maukah kau melahirkan anakku?' Dan biasa jawaban yang dia dapat adalah cap lima jari di pipinya itu! Hahaha." Inuyasha cekikikan.
Kali ini, Kagome ikut tertawa bersamanya, tanpa disadari kedua orang itu, wajah mereka semakin mendekat…
Inuyasha yang mendadak sadar segera memundurkan dirinya. Kagome jadi sedikit salah tingkah dan menyelipkan rambutnya dibelakang kupingnya.
"Kagome, tentang Kikyo…."
Mendengar nama tersebut, Kagome tersentak. Entah perasaan apa yang dirasakannya pada pemuda berambut panjang itu sebenarnya…. Hanya teman? Tapi mengapa sakit rasanya saat ia mendengar nama Kikyo keluar dari bibirnya?
"Kikyo… Dia adalah temanku dari kecil." Ucap Inuyasha lagi.
Kagome tidak ingin mendengar Inuyasha bercerita tentang Kikyo. Dia takut akan kenyataan yang akan harus didengarnya. Tetapi, rasa penasarannya mengalahkan rasa takutnya itu, jadi diputuskanya untuk tetap mendengarkan Inuyasha.
"Sejak kecil aku tidak mudah bergaul dengan orang lain. Apalagi sejak meninggalnya ibuku, orang-orang sering mencemoohku tak tahu kenapa. Mereka bilang ibuku wanita jahat. Padahal, dia adalah wanita berhati terbaik yang kukenal sepanjang hidupku… Dan Kikyo… Dia adalah orang pertama yang menerimaku apa adanya… Saat Sesshomaru pergi sekolah diluar negeri, Kikyo lah yang selalu menemaniku."
Kagome terdiam. Masa kecil Inuyasha ternyata begitu berat… Dia tidak diterima di keluarganya sendiri dan juga di luar keluarganya…
"Namun ternyata ada orang yang tidak menyukai kedekatan kami, Kagome. Baru beberapa tahun belakangan ini, Kikyo sering bilang kalau ia merasa seperti dikuntit oleh seseorang…. Awalnya, aku tidak percaya, namun hari itu…." Inuyasha menutup matanya, mengingat tragedi dua tahun lalu yang menimpa Kikyo, yang membuatnya lumpuh untuk seumur hidupnya.
"Inuyasha, aku mohon…. Kau tahu kan orang tuaku sedang keluar kota. Aku takut sendirian malam ini… Orang aneh itu Biarkan aku menginap dirumahmu yah?" ujar Kikyo dengan tatapan memelas.
Inuyasha mendesah. "Itu hanya perasaanmu, Kikyo. Dan lagi ayahku pasti tidak akan mengijinkan, lagipula, kau mau tidur dimana?"
"Aku bisa tidur di sofa mu!" balas Kikyo tidak mau kalah.
"Kikyo, bukannya aku tidak mau, tapi-"
"Inuyasha, kalau kau memang tidak mau menemani aku ya sudah. Biar aku pulang sendiri saja sekarang!" seru Kikyo kesal sambil berlari menjauh dari Inuyasha.
"Kikyo! Tunggu!" Inuyasha pun berlari mengejar Kikyo.
Melihat Inuyasha yang sedang mengejarnya, Kikyo mempercepat langkahnya. Namun tanpa disengaja, kakinya terkilir dan ia pun jatuh tersungkur di jalanan. Di tengah perempatan jalan itu, sebuah mobil melaju dengan kencang dari arah yang berlawanan. Inuyasha sudah melihat lampu mobil itu dari jauh. Namun dia heran, kenapa mobil itu tidak berhenti? Apa dia tidak melihat Kikyo? Mobil itu semakin mendekat kearah Kikyo…
Inuyasha tahu dia tidak mungkin bisa sampai ke Kikyo tepat waktu…
"KIKYOOOO!"
Inuyasha berjalan maju dan mundur di ruangan tunggu dengan hati yang gundah. 'Ini semua salahku… Seandainya kudengarkan kata-kata Kikyo… Ini semua tidak mungkin terjadi!' pikirnya dengan penuh penyesalan.
"Inuyasha, tenanglah, Kikyo pasti akan baik-baik saja dia putri kami yang kuat." Ujar Ayah Kikyo menenangkan Inuyasha.
"Paman…" ucap Inuyasha lirih.
Tak berapa lama kemudian, dokter pun keluar dari ruangan tempat Kikyo berada."
"Dokter, bagaimana putri kami?" tanya Ibu Kikyo khawatir.
"Tuan dan nyonya… Putri kalian baik-baik saja… Hanya saja…." Dokter itu terlihat sedikit ragu-ragu.
"Hanya saja kenapa, dokter?" tanya Inuyasha.
"Nona Hidaka…. Mungkin…. Dia tidak akan bisa berjalan lagi…"
"Pergi! Tinggalkan aku! Jangan dekati aku!" jerit Kikyo histeris, menolak makanan yang dibawakan ibunya.
"Kikyo, kau harus makan! Kau ini baru saja keluar rumah sakit!" jawab Ibunya, khawatir melihat kondisi anaknya itu.
"Untuk makan saja aku harus mengandalkan orang lain membawakannya untukku. Untuk apa hidupku ini kalau aku hanya bisa menyusahkan orang lain? Lebih baik aku mati saja!"
"Kikyo!"
"Aku mohon, ibu. Tinggalkan aku untuk sekarang." Pinta Kikyo dengan lemah.
Ibu Kikyo menarik nafas panjang dan menuruti permintaan putri satu-satunya itu.
Saat hendak ditutupnya pintu kamarnya, dilihatnya Inuyasha dibalik pintu.
"Bibi, coba biar aku bicara pada Kikyo…" ujar Inuyasha.
Ibu Kikyo tersenyum lirih. "Baiklah, nak Inuyasha, kalau kau yang bicara, mungkin Kikyo mau mendengarkan…"
"Aku sudah bilang, aku ingin sendiri ibu." Ucap Kikyo dingin.
"Ini aku, Kikyo."
"Inuyasha?"
Inuyasha berjalan mendekati Kikyo.
"Jangan lihat aku, Inuyasha. Pergi!"
"Kikyo…."
"Aku bilang pergi!" Kikyo mulai menangis histeris
"Kikyo!" Dengan erat, Inuyasha memeluk gadis berambut panjang didepannya itu.
"Lepas, Inuyasha, lepas kan aku! Aku tidak butuh kasihan mu! Biar saja aku sendiri!" jerit Kikyo sambil berusaha melepaskan pelukan Inuyasha.
"Kikyo. Kali ini aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan melindungimu! Aku bersumpah.. Aku akan selalu ada di sisimu!"
Kagome terdiam mendengar cerita Inuyasha. Jadi… Begitu… Kagome tersenyum sedih. 'Ternyata ikatan mereka sekuat itu...' Kagome menundukkan kepalanya.
"Kagome."
Kagome lalu mengangkat kepalanya kembali untuk menatap Inuyasha.
"Setiap aku ada dekat denganmu begini, aku tidak tahu kenapa… tapi aku merasa, aku bisa menceritakan semuanya kepadamu… Sama seperti saat kau dirumahku waktu itu. Aku merasa…. Lega bercerita padamu, Kagome." Inuyasha lalu tersenyum.
Kagome membalas senyumannya dengan tulus. "Aku juga senang kau mau berbagi denganku, Inuyasha."
Melihat senyum Kagome, hati Inuyasha berdebar sedikit lebih kencang. 'Ada apa denganku ini?' pikirnya dalam hati. 'Ah, lupakanlah…'
"Oh iya, Kagome." Ucap Inuyasha lagi, berusaha mengalihkan konsentrasinya dari hatinya yang mulai berdebar tak karuan itu.
"Ya, Inuyasha?"
"Kau bertemu dengan kakakku kemarin?"
Kagome menatap Inuyasha. "Eh-heh… Kenapa, Inuyasha?"
"Tidak apa-apa… Menurutmu Sesshomaru itu orangnya bagaimana?"
Gadis berambut hitam legam itu terdiam. Mengapa Inuyasha tiba-tiba menanyakan hal seperti itu kepadanya?
"Eh… Menurutku… dia orang yang ramah dan baik.." jawab Kagome hati-hati.
"Begitu ya?" Inuyasha mengalihkan pandangannya, "Kagome. Dia itu tidak peduli kepada apapun selain dirinya sendiri. Jadi… Kusarankan… Mungkin kau tidak usah terlalu dekat dengannya."
"Eh? Kenapa, Inuyasha?" Meskipun ia sudah tahu tentang hubungan Sesshomaru dan Inuyasha, juga tentang masa lalu mereka, dia merasa tidak adil kalau kedua kakak adik yang seharusnya akrab ini jadi 'membenci' satu sama lain hanya karena kesalah pahaman.
"Aku hanya memperingatimu saja. Terserah kau kalau kau mau berteman dengannya sih…" jawab Inuyasha acuh tak acuh.
"Tunggu dulu Inuyasha, kau ini kenapa? Dia kan kakakmu? Kalau kau ada masalah dengannya… Mengapa tidak coba selesaikan? Kalian ini kan saudara!" balas Kagome.
"Saudara atau bukan, aku tidak peduli. Dia bukan orang yang pantas kuanggap kakak." sahut Inuyasha.
Mendengar kata-kata Inuyasha itu, hati Kagome menjadi semakin tidak enak. Mengapa Inuyasha tidak bisa memaafkan Sesshomaru? Mengapa tidak memberikannya kesempatan? Saudara tidak seharusnya saling membenci, bukan?
"Inuyasha, kau ini kenapa sih! Kalau memang ada masalah dengannya, bukannya lebih baik kalau kau dengarkan dulu dia? Kau jangan egois begitu dong!"
Inuyasha hanya terdiam. Lalu dia beranjak dari tempatnya duduk.
"Inuyasha..?" panggil Kagome perlahan.
"Haha. Ternyata kau pun juga lebih membela kakakku yah, Kagome? Memang sepertinya dia selalu dianak emaskan semua orang yah. Aku kira kau berbeda, Kagome. Ternyata kau sama saja dengan yang lain. Ya sudah. Aku pergi dulu." Ucap Inuyasha sinis sambil pergi meninggalkan Kagome yang kehilangan kata-katanya.
"Inuyasha….!" Panggilnya sambil beranjak berdiri juga. Terlambat, laki-laki itu sudah lenyap dari pandangannya. Kagome tersungkur di kursinya lagi.
'Bagaimana ini…. Aku tidak bermaksud membuatnya marah…. Inuyasha… maaf… '
.
"Sango, mungkin ini terlalu cepat. Namun ada hal yang ingin kutanyakan padamu." Ucap Miroku sambil menggenggam kedua tangan gadis berambut brunet itu.
"Hai… Miroku?" jawab Sango dengan hati-hati.
"Sango Kimura…. Maukah kau melahirkan anakku?"
Hening…. Dan tiba-tiba…
PLAK
"Kau ini… dasar laki-laki mesum! Pertanyaan macam apa itu?" marah Sango.
"Hehehe…setidaknya aku sudah mencoba…" ucap Miroku sambil memegangi pipinya yang mulai memerah.
"Oi, Miroku!" panggil Inuyasha dari kejauhan.
Mendengar namanya disebut, Miroku mengalihkan pandangannya ke asal suara tersebut. "Oi, Inuyasha!"
"Kalau kau sudah selesai menggoda perempuan, kau bisa pulang. Aku sudah mau pulang sekarang!" ujar Inuyasha sebelum ia keluar dari perpustakaan tersebut.
"Inuyasha, tunggu!" Miroku melirik Sango untuk terakhir kalinya dan mengedipkan sebelah matanya sebelum berlari mengejar Inuyasha.
"Orang itu…." Desis Sango kesal sambil mengepalkan tangannya.
"Sango!"
Sango menoleh kearah Kagome yang tiba-tiba sudah ada disampingnya. "Kagome?"
"Sango… Bagaimana ini, dia marah kepadaku…" ucap Kagome perlahan sambil menutup mulutnya untuk menahan tangisnya.
"Tenang dulu, Kagome! Dia siapa?" tanya Sango khawatir melihat sahabatnya yang tiba-tiba menangis.
"Inuyasha… Aku tidak bermaksud menyinggung perasaannya, Sango!"
Di perjalanan pulang, Kagome pun menceritakan tentang kejadian di perpustakaan itu kepada Sango, dan juga tentang hubungan Inuyasha dan Sesshomaru.
"Jadi begitu… Kagome. Menurutku kau sebaiknya tidak terlalu mencampuri hubungan mereka berdua…" ujar Sango perlahan.
"Eh? Tapi… Sango..?"
"Masalah ini harus mereka selesaikan dengan sendirinya, Kagome. Inuyasha masih menyimpan kepahitan kepada Sesshomaru. Kau tidak bisa mencoba menasehatinya…Yang ada nanti dia akan kesal padamu…."
Kagome terdiam. "Mungkin benar juga ya…."
Sango tersenyum. "Ah, ternyata sudah sampai rumahku. Aku masuk dulu yah Kagome! Bye! Hati-hati, oh, dan semoga berhasil dengan hubunganmu dan Inuyasha!"
Pipi Kagome tersipu merah. "Eh, apa maksudmu, Sango?"
"Kau tidak perlu menyembunyikannya dariku, Kagome, kau suka pada Inuyasha kan?" Sango mengedipkan sebelah matanya, lalu membuka pintu rumahnya dan masuk. "Sampai besok, Kagome!"
"Eh, Sango!"
Terlambat, gadis itu sudah menutup pintu rumahnya.
Kagome hanya bengong.
'Aku… suka pada Inuyasha…?'
End Chapter
