Gomen, baru bisa update sekarang.
Dunia kampus membuat saia banyak tugas, jurnal menumpuk menjelang ujian, belum lagi prepare buad ujian semester. So, dengan tak rela saia melalaikan fic saia ini.
Baiklah, mungkin saia memang sudah libur dari satu minggu sejak ramadhan, tapi lepas ujian saia pulang kampung. Dan sinyal di kampung saia tercinta ternyata tidak bersahabat dengan modem saia. Jadi, saia harus menunggu 'someday' saia akan ke warnet. So, here we go.
Gomennasai
.
.
Cecil hime was borrowed Masashi's chara
.
.
"Serang dia!"
Bukannya menghindar, Hinata malah mendekati prajurit yang sedang mengayuhkan pedang ke arahnya dan dengan gerakan cepat ia mengubah posisinya lalu mengarahkan tangannya ke arah pedang mereka sehingga ikatan di tangannya terbuka oleh pedang yang sepertinya salah sasaran itu. Melihat temannya kelabakan, prajurit lain pun bergabung dalam menghadapi sang tuan putri.
Kakashi tidak bisa diam saja melihat sang tuan putri yang sudah menjadi ratu itu melawan semua prajurit Pein dengan tangan kosong. Dia tahu walaupun jumlah mereka tidak banyak, tapi prajurit itu adalah prajurit pilihan Pein yang berarti bukan prajurit sembarangan. Melihat kedua orang yang menahannya lengah, ia langsung memanfaatkan keadaan. Langsung saja ia mengayunkan pedangnya hingga salah satu dari mereka langsung mati, sedangkan yang satunya lagi sempat menghindar.
'Lumayan juga' pikir Kakashi.
.
.
"Hosh, hosh, hosh..."
Pein merasa ada yang aneh dari gadis muda di depannya.
Pertama, dari semua putri yang ia kenal, tak ada satupun yang dapat bertarung. Sang ayah atau rajanya hanya akan mengajarinya bagaimana menjadi seorang putri yang anggun, berdandan yang dapat memuaskan suami, melahirkan dan mendidik anak dengan baik dan menaati tata krama kerajaan. Mereka tidak akan mengajari putrinya bagaimana cara bertarung karena pengawal nantilah yang akan melindunginya. Toh, mereka hanya seorang perempuan. Artinya, lemah. Sangat lemah. Sangat percuma mengajarkan bela diri apalagi bertarung. Ternyata, dugaannya salah. Putri di depannya adalah buktinya.
Kedua, jurus yang dikuasai oleh tuan putri itu bukanlah jurus-jurus yang familiar. Dia bahkan belum dapat membaca gerakan perempuan itu karena selama sepuluh menit ini perempuan itu hanya menghindar dari serangan saja. Hal ini menyulitkan Pein membaca gerakannya.
"Hosh, hosh, hosh..."
Ketiga, berulang kali Pein mendengar lenguhan lelah dari prajurit pilihannya itu, padahal perempuan itu sama sekali belum melancarkan serangannya. Pein yang sudah sangat ahli dalam pertarungan menyadari bahwa putri cantik itu bermaksud menghabiskan tenaga prajuritnya hingga mereka tidak sanggup bertahan lagi. Dan sepertinya tujuannya itu sangat berhasil karena satu persatu prajurit itu mulai lengah dan tidak berkonsentrasi sehingga dengan serangan kecil saja mereka langsung ambruk.
'Sangat pintar' pikir Pein.
'Tapi tak cukup pintar karena berani melawanku' tambahnya dalam hati.
.
.
Melihat lawan yang mulai lemah, Hinata yang dari tadi hanya menghindar tiba-tiba bergerak dengan kecepatan tinggi ke belakang tiga orang prajurit itu.
Bruk!
Prajurit lain membelalakkan matanya melihat ketiga teman mereka langsung ambruk setelah 'entah diapakan' oleh putri itu padahal sama sekali tidak terlihat adanya darah yang keluar dari ketiga prajurit itu.
Hinata menyadari bahwa prajurit-prajurit di hadapannya bukanlah prajurit sembarangan, mereka memiliki tenaga yang luar biasa, karenanya ia membutuhkan waktu yang lebih banyak daripada biasanya untuk membuat mereka kehabisan tenaga. Biasanya ia akan langsung menggunakan jurus khas Hyuuga itu pada pertarungan pertama tanpa membuat lawannya lemah terlebih dahulu.
.
.
'Seharusnya aku tidak meremehkannya'
Mungkin prajurit- prajuritnya tidak menyadari apa yang dilakukan oleh Putri Hyuuga itu pada mereka. Tapi, dengan kemampuan yang dimilikinya dengan cepat Pein langsung tahu bahwa itu adalah salah satu jurus khas Hyuuga yang menyerang titik terlemah dari lawannya dan membuat mereka tidak dapat menggerakkan badan mereka karena saraf-saraf yang di serang adalah saraf inti keseimbangan. Ia pernah mendengar tentang jurus itu, yang dapat digunakan saat energi lawan mulai melemah. Sekarang ia mengerti kenapa dari tadi prajurinya dibuat lemah dengan hanya terus menghindari serangan-serangan mereka.
Melihat sepertinya gadis cantik itu bukan tandingan prajurit-prajuritnya, Pein langsung menarik pedangnya. Langkahnya terhenti ketika dirasakannya serangan dari arah belakang. Dan dengan cepat ia segera menghindar dan melihat Kakashi mengayunkan pedang padanya.
PRANG
"Cih, pengganggu."
"Jangan berani menyentuh Hinata-sama."
"Kau bukan lawanku, jadi minggirlah."
"Selama aku masih dapat menarik pedangku takkan ku biarkan kau melukai tuan putri. Mungkin kau memang bukan lawanku karena hanya Sasuke-sama lah satu-satunya orang yang pernah mengalahkanmu."
"Dan sekarang akulah yang akan mengalahkan Uchiha sombong itu."
"Apa kau bangga menang dengan cara licik? Kalian bahkan tidak bertarung sedikitpun."
Peduli apa dia? Bagi Pein apapun cara yang dipakainya tidaklah penting asalkan tujuannya tercapai. Dia sangat membenci ketika masih ada orang yang berani menyinggung tentang duel yang pernah ia dan Uchiha itu alami.
"Aa, aku juga tidak lupa tentang kau yang kalah dengan banyak luka di hampir seluruh tubuhmu sedangkan Sasuke-sama tak tergores atau memar sedikit pun."
"Diamlah, dan jemput ajalmu!"
HYAATT... prang, prang, prang
.
.
Kakashi pov
Aku tidak menyangka ia berkembang secepat ini. Banyak jurus baru yang ia kuasai dan dari mana ia dapatkan kecepatan ini? Aku tidak bisa mengimbanginya. Bukan karena aku lemah, tapi memang dari dulu kelemahanku terletak pada kecepatan karena luka di kaki yang ku dapat sejak kecil. Berarti Pein sudah mengetahui kelemahanku. Kalau begini terus aku tidak akan dapat bertahan dan melindungi Tuan putri Hinata.
Bugh!
"Akh. Kakiku...!"
"Hahaha. Dengan kemampuanmu yang masih saja lambat itu kau berharap apa dariku, heh? Kekalahan? Baiklah. Akan ku berikan. Hyaaa!"
'Apa hanya segini saja?' aku bahkan tidak dapat menggerakkan kakiku lagi.
'Sasuke-sama, gomen.'
Prang!
Dua pedang saling melawan di depan mataku dan sangat dekat dengan wajahku.
"Anda tidak apa-apa Hatake-san?"
'H-Hinata-sama'
"Ternyata yang akhirnya jadi pahlawan adalah 'Yang mulia Tuan putri Hinata'? Kheh, lucu sekali."
"..."
"Apa kau pikir gadis lemah sepertimu dapat melawanku 'Hinata-sama'?"
Pein berusaha memancing emosi Hnata-sama.
Sial! Sangat tidak berguna. Seharusnya aku yang melindungi Hinata-sama, bukan sebaliknya. Apa yang dapat kulakukan sekarang? Bagaimana jika Hinata-sama terluka? Aku memang sudah melihat kemampuan Hinata–sama saat melawan prajurit-prajurit tadi, tapi bagaimanapun juga Pein sudah bertambah kuat sekarang. Dan aku belum pernah melihatnya kalah dalam pertarungan kecuali dengan Sasuke-sama beberapa tahun yang lalu.
Pein masih berusaha memancing emosi Hinata-sama. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Hinata-sama karena ocehan-ocehan Pein hanya ditanggapi dengan diam dan wajah datar saja. Ah, tidak datar saja, karena ia tiba-tiba tersenyum.
"Kau hanya menghabiskan tenagamu, Pein-sama."
Hanya itu yang diucapkannya, tapi mampu membuat Pein menggertakkan gigi-giginya. Pein memang mudah terbakar emosi.
"Kheh, mulut cantikmu itu sebentar lagi akan mengoceh meminta ampun padaku! Hyaat!"
Sangat cepat. Aku sangat sulit membaca gerakan mereka.
Yang aku tahu Pein bergerak menyerang sedangkan Hinata-sama hanya menghindar. Aku tidak mengerti kenapa dari awal Hinata-sama hanya menghindar. Mungkin menghindar adalah jalan terbaik jika digunakan pada para prajurit-prajurit Pein tadi karena setelah menghabiskan energi mereka Hinata-sama dengan mudah melumpuhkan pergerakan mereka dengan cara yang entah apa namanya. Tapi ini dengan Pein, berbeda. Hinata-sama tidak dapat menggunakan cara yang sama karena energi Hinata sama sudah mulai terkuras karena sudah melawan prajurit yang tidak sedikit tadi, sedangkan Pein masih memiliki energi yang cukup. Lawannya hanya aku. Dan ia langsung menyerang kakiku sehingga aku tidak dapat memberikan perlawanan apapun.
"Hosh, hosh, hosh."
Sudah hampir sepuluh menit dan keringat sudah mulai bercucuran di pelipis Hinata-sama. Seiringan dengan itu semakin sering pula Pein menunjukkan seringai kejamnya.
"Hahaha. Bagaimana? Menyerah sekarang, cantik? Sebenarnya sangat disayangkan bahwa kau akan mati di tanganku karena kau lebih cocok jadi istriku daripada mati. Tapi, bagaimana? Ini demi kelancaran dramaku."
Aku tidak tahu apakah ini hanya perasaanku saja atau tidak. sejak tadi, Hinata–sama sesekali melirik pedangku yang telah tergeletak agak jauh di samping kiriku. Dan aku sadar ia selalu berusaha menghindar dari serangan Pein-sama sambil berusaha mendekati letak pedang itu, tapi selalu saja dihalangi Pein.
Setelah itu mengerti kenapa Hinata-sama sesekali melihat ke arahku.
Aku sepertinya harus memohon pada kakiku sendiri agar sudi ku gerakkan.
Satu langkah. Akh! Rasanya sangat menyakitkan. Aku merasa urat-urat kakiku sudah tidak pada tempatnya.
Demi keselamatan Hinata-sama.
Dua langkah. Tiga langkah.
Kulihat sesuatu di kakiku menonjol drastis ingin menyeruak keluar. Dan pada langkah terakhir aku tahu sesuatu yang menonjol itu apa karena sudah benar-benar menyeruak keluar. Merobek dan menembus kulitku. Tulang kering kakiku. Akkh!
Aku rasa aku tidak dapat melakukannya lagi ketika aku mengingat permintaan Sasuke.
.
.::.
.
Flashback
"Benarkah kita akan kembali ke Uchiha Kindom sekarang?"
"Hn. aku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi." Katanya sambil memejamkan matanya.
"Maksud Sasuke-sama?"
Sasuke-sama terdiam cukup lama, ia lalu menghela nafas dan membuka matanya dan memandangku dengan pandangan yang baru pertama kali kulihat.
"Jika aku tidak ada di samping Hinata, tolong lindungi dia."
End of Flashback
.::.
Setelah mengatakannya, Sasuke-sama langsung pergi meningggalkanku yang masih terpaku di tempatku. Aku tidak menyangka hari itu datang juga. Hari dimana Sasuke-sama meminta tolong padaku. Untuk pertama kalinya.
Jadi, bukan hanya demi Hinata-sama, tapi juga demi Sasuke-sama.
Dengan tenaga yang masih tersisa ku coba meraih pedang itu. Dapat!
"Hinata-sama!"
Aku tahu suaraku juga sudah tidak cukup kuat lagi, tapi kurasa Hinata-sama dapat mendengarnya. Langsung saja aku melempar pedang itu pada Hinata-sama seiring dengan badanku yang terjatuh menyentuh tanah dan benar-benar tidak dapat menggerakkan bukan hanya kakiku saja, tapi juga badanku. Hanya mataku saja yang masih setia diperintah otakku untuk bergerak dan hanya bisa menonton. Sial!
Pedang itu membuat pertahanan Hinata-sama bertambah kuat. Dan tidak hanya itu, Hinata-sama juga sudah mulai menyerang. Mereka sama-sama kuat. Aku bingung memprediksikan pemenangnya. Aku tidak menyangka seorang putri cantik, anggun dan lemah lembut seperti Hinata-sama memiliki kemampuan yang mengagumkan. Sejauh yang aku lihat ia dapat mengimbangi jurus-jurus baru Pein dengan jurus-jurus Hyuuga yang baru pertama kali ku lihat.
Pein masih saja menyerang dengan membabi buta, sedangkan Hinata-sama menyerang dari sebelah kiri dan berusaha mengecoh fokus Pein. Mengapa dari sebelah kiri? Aku tidak tahu kenapa. Awalnya aku mengira serangan Hinata-sama kurang fokus sehingga serangannya selalu tertuju pada anggota gerak Pein sebelah kiri, tapi semakin sering hal itu terjadi membuatku yakin Hinata-sama melakukannya dengan tujuan tertentu.
Yang pasti mereka sudah sama-sama kehilangan banyak tenaga. Begitu pun mataku. Terasa mulai tidak dapat bekerja sama.
Lalu ku lihat Pein dan Hinata sama-sama mengerahkan seluruh tenaga yang mereka miliki dan mengarahkan pedang kepada lawan masing-masing.
Aku tidak siap melihat kelanjutannya karena sepertinya aku tahu akhir dari pertarungan ini. Mereka berdua sama-sama ingin mengetahui 'siapa yang lebih kuat bertahan dengan pedang yang menancap di tubuhmu.'
'Tidak. jangan lakukan Hinata-sama.'
Kemungkinan satu-satunya yang dapat terjadi melihat kondisi mereka adalah sama-sama berakhir menyedihkan.
Aku tidak kuat melihat Sasuke-sama kembali seperti dulu ketika ia kehilangan keluarganya. Bahkan mungkin akan lebih terpuruk lagi.
'Ku mohon, jangan lakukan. Menghindarlah, Hinata-sama'
Tapi sepertinya itu hanya harapanku saja ketika ku lihat pedang Hinata-sama mengenai dada Pein sebelah kiri dan pedang Pein mengenai tepat di dada Hinata-sama.
Tidak. Aku tidak ingin melihatnya lebih jauh lagi seiringi dengan mataku yang memang juga tidak mau melihat kelanjutannya.
Hal terakhir yang kulihat sebelum mataku tertutup adalah darah segar yang mengalir dari dada dan mulut Pein. Tentu saja. Siapa yang akan bertahan dengan jantung yang terletak di dada sebelah kiri sudah hancur?
Sedangkan Hinata-sama, entahlah. Aku tidak tahu. Ia membelakangiku. Aku takut membayangkan bahwa seharusnya keadaannya sama dengan Pein. Aku takut membayangkannya. Mataku benar-benar tertutup sekarang, dan aku berharap aku mati saja.
'Hinata-sama, gomenasai.'
'Sasuke-sama, gomenasai.'
End of Kakashi pov
.
.
Uchiha Kingdom nampak sibuk keesokan harinya. Hampir semua wilayah diperkuat pertahanannya, bahkan beberapa prajurit dari Hyuuga Kingdom turut membantu menjaga kondisi keamanan kerajaan di saat-saat seperti itu. Bagaimana tidak, hampir semua petinggi kerajaan sedang dirawat oleh tabib-tabib kerajaan.
Rakyat Uchiha Kingdom sangat penasaran dengan keadaan raja yang sangat mereka puja dan hormati, bergitu juga dengan permaisuri atau sang tuan putri yang sudah menarik hati para rakyat saat pertama kali melihatnya.
Selain itu mereka juga sangat mengkhawatirkan keadaan Sakura-sama, Naruto-sama, dan Kakashi-sama. Walaupun kecintaan mereka pada para petinggi kkerajaan itu tidak sebesar kecintaan mereka pada raja dan permaisuri tetap saja kekhawatiran itu ada karena bagaimana pun juga tiga orang tersebut adalah orang-orang yang sudah banyak berjasa dalam mengembangkan sayap Uchiha Kingdom.
Kekhawatiran mereka bukanlah tidak beralasan karena memang sejak kejadian malam itu, kondisi para pemimpin kerajaan itu sangat dirahasiakan oleh pihak kerajaan, bahkan detail kejadian malam itu saja tidak ada yang mengetahui detailnya.
Rasa penasaran mereka diperparah dengan kedatangan Hyuuga Hiashi-sama beberapa jam yang lalu dengan membawa beberapa prajurit pilihan serta tabib terbaik Hyuuga Kingdom lalu meninggalkan Uchiha Kingdom dengan meninggalkan para tabib dan prajurit pilihan itu.
Dua hal yang dapat mereka lakukan hanya bersabar menunggu dan mendoakan yang terbaik untuk Uchiha Kingdom.
.
.
Kami-sama adalah Sang pengatur terbaik dalam skenario hidup manusia. Dialah Maha-Raja kerajaan alam semesta. Memberikan begitu banyak nikmat yang bahkan tidak pernah terpikirkan oleh manusa paling cerdas sekalipun. Ketika hambaNya meminta satu, dua ia berikan. Bahkan kesempatan, dua ia berikan.
Awalnya hanya pergerakan kecil dari kelopak matanya, lama kelamaan mata hitam kemerahannya akhirnya tampak juga memberikan tanda bahwa ia adalah salah satu orang beruntung yang diberikan kesempatan kedua oleh Kami-sama.
Beruntung? Entahlah. Sepertinya pria yang belum pernah tampak melepaskan masker di wajahnya itu tidak terlalu menyukai kennyataan itu. Ia berharap Kami-sama tidak perlu mengasihaninya dengan memberikannya kesempatan kedua. Baginya, dia pantas mati ketika ia tidak dapat melindungi orang yang seharusnya ia lindungi, ketika satu-satunya permohonan orang yang paling ia harapkan tidak dapat ia kabulkan. Sangat tidak berguna.
Perlahan, ia menggerakkan badannya, tapi hihil. Tidak tampak ekspresi yang berarti pada wajahnya, ia tidak merasa sedih sama sekali ketika yang dapat ia lakukan hanya menggerakkan bola matanya.
'Seharusnya mata ini pun tidak perlu dapat melihat lagi. Kematian adalah harga yang pantas untukku.'
Dorongan di pintu membuat pria itu berhenti mengutuk dirinya sendiri. Walau begitu, ia enggan melirik barang sejenak untuk mengetahui siapa yang memasuki ruangannya.
"Syukurlah, akhirnya Hatake-san sadar."
Tapi, keengganan itu terganti dengan keantusiasan mendengar suara lembut itu.
"H-Hi-Hinata s-sama!"
Mungkin ia memang tidak menyukai kesempatan kedua yang diberikan Kami-sama, tapi seharusnya ia tidak melupakan kenyataan bahwa Kami-sama lebih tahu yang terbaik untuknya. Kami-sama tahu, walaupun ia tidak menyukainya tapi ia membutuhkannya.
.
.
"Bagaimana keadaan Sasuke-kun, Tsunade-san?"
"Luka pedangnya cukup dalam. Apa yang bocah ini lakukan? Apa dia tidak bisa melindungi dirinya sendiri? Kenapa sampai tertusuk pedang seperti ini? Apalagi ia kehabisan tenaga. Akan butuh beberapa waktu untuk pulih. Jika dia kuat, kemungkinan ia akan sadar paling cepat adalah lusa. Aku akan memberikan ramuan penambah tenaga agar ia cepat sadar. Berikan secara teratur, aku yakin Hinata-sama sudah mengetahui aturan pakai ramuannya."
"..."
"Jika terjadi apa-apa, hubungi saya, Hinata-sama. Aku tidak ingin Hiashi-sama kecewa karena telah mempercayakanku untuk menangani Sasuke-sama."
"Arigatou, Tsunade-san."
Setelah kepergian tabib cantik itu, Hinata mendekati ranjang itu dengan perlahan. Berbagai ekspresi tampak di wajah cantiknya. Sedih, merasa bersalah dan jahat ia rasakan. Jika saja tidak menyelamatkannya ketika berada dalam kereta perjalanan pulang itu, Sasuke tidak mungkin terkena luka pedang itu. Apalagi lukanya cukup dalam, padahal sebelum terkena pedang saja Sasuke sudah hampir tak sadarkan diri karena minuman yang diberikan oleh Pein.
Sasuke adalah seorang raja sebuah kerajaan terbesar saat ini. Semua rakyat Uchiha Kingdom mempercayakan kedamaian hidup mereka dan keluarga mereka pada sanga raja. Tanggung jawabnya melindung Uchiha Kingdom pasti sangat besar. Dan hanya karena menyelamatkan gadis seperti dirinya, Sasuke mungkin saja kehilangan kepercayaan rakyat Uchiha Kingdom.
'Semua ini adalah kesalahanku.'
'Gomennasai, Sasuke-kun.'
.
.
Ketika ia terbangun, ia merasakan sakit yang sangat pada kepala dan punggungnya. Ketika ia berusaha menggabungkan potongan kejadian terakhir yang ia alami, segera ia mengingat Hinata. Ketika ia hendak menggerakkan tangannya untuk bangkit mencari tahu, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan menampakkan sosok yang ingin ia cari.
Saat itu mereka sama-sama menampakkan emosi terbanyak yang pernah mereka miliki. Lama mereka bertatapan dalam diam. Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut mereka. Hanya emosi yang sebagian tergambar di wajah mereka yang dapat berbicara.
Gadis cantik itu sadar bahwa ia terdiam cukup lama. Terdiam mencoba membaca apa yang dipikirkan oleh pria di depannya. Bingung harus mengatakan apa, ia lalu mendekati pria itu dan berdiri tepat di sampingnya.
"Aku akan mengganti perbannya."
.
.
Sasuke pov
Lama kami diam dan hanya saling menatap. Aku bingung harus mengatakan atau menanyakan apa. terlalu banyak yang ingin ku ketahui.
Seperti, apa semuanya baik-baik saja? Apa Pein melaukukan sesuatu pada Uchiha Kingdom? Kenapa mereka masih dapat bertahan? Apa yang terjadi dengan Pein, apa Pein tidak jadi menyerang? Kenapa dia ada di dalam kamarnya dan bukannya disekap atau dibunuh? Bagaimana dengan Kakashi dan yang lainnya?
Di atas semua itu yang paling ingin ia ketahui adalah apakan gadis di depannya baik-baik saja? Apa Pein melakukan sesuatu yang buruk padanya? Apa ia terluka? Apa –
"Aku akan mengganti perbannya."
Saking banyaknya yang ingin ku tanyakan aku tidak menyadari bahwa ia sudah tepat di sampingku. Dilihat dari dekat seperti ini membuatku lega karena sepertinya ia baik-baik saja. Aku mungkin sudah memeluknya jika aku tidak selemah ini. Aku merutuki badanku yang agak sulit digerakkan.
Hinata duduk di sampingku dan membuka ikatan perban yang diikat dari depan. Aku hanya terus memandanginya mencoba membaca apa yang dipikirkannya. Tapi nihil. Dia sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun seperti pertama kali aku sadar tadi.
Kenapa dia diam saja? Apa dia tidak senang melihatku sadar? Apa dia tidak merindukanku? Dia bahkan tidak memelukku atau menyambutku dengan senyuman. Padahal aku sangat membutuhkannya sekarang. Aku membutuhkan senyuman dan pelukannya. Senyuman agar aku tahu bahwa ia baik-baik saja. Dan pelukannya agar aku tahu bahwa bukan hanya aku saja yang merindukannya.
Atau jangan-jangan dia kecewa karena aku tidak dapat melindunginya? Apa dia merasa aku tidak bertanggung jawab? Ya. Mungkin itu penyebabnya.
Tapi, aku tetap ingin mendengarnya dari dia. Tapi, lidahku tidak sejalan dengan otakku. Ia sangat sulit digerakkan. Jadi, ku coba menggerakkan tanganku yang masih terasa lemah dan menggenggam tanganya yang mencoba mengganti perbanku.
"Tenang saja, aku memang bukan tabib tapi aku bisa mengganti perbanmu."
Memangnya siapa yang mengatakan aku tidak mempercayainya?
Ku eratkan genggaman tanganku dan menggeleng, ingin mengatakan bahwa bukan itu maksudku.
"Semuanya baik-baik saja. Hatake-san selamat, dan Uchiha Kingdom baik-baik saja. Tidak perlu khawatir."
Baiklah, walaupun bukan itu yang ingin ku katakan tapi aku juga ingin mengetahuinya dan lega mendengarnya.
Hinata sudah selesai mengikatkan perban baru itu di punggungku.
Dengan sedikit tenaga yang ku miliki aku mencoba untuk bangkit dan duduk. Melihatnya, Hinata membantuku dengan meletakkan bantal empuk di punggungku di tempat yang tepat agar tidak mengenai punggungku.
Setelah itu, aku hanya sibuk memandanginya untuk menebus rasa rinduku padanya ketika aku tidak sadarkan diri. Aku tidak tahu entah sudah berapa hari. Tapi aku merasa sudah sangat lama sekali.
"Aku akan mengambilkan obat."
Aku tidak butuh itu sekarang.
"Duduk." Hanya itu yang dapat kukatakan dengan suara lirih.
"Aku akan kembali sebentar lagi."
"Aku bilang duduk."
Aku tidak tahu darimana aku dapat kekuatan mengatakannya.
Ia pun duduk dan menundukkan kepalanya.
"Dari tadi kau banyak bicara."
GREB
Ini yang ingin ku lakukan sejak melihatnya ketika aku sadar, sejak aku membuka mata lagi dan sejak ia duduk di sampingku.
Memeluknya seperti ini membuatku merasa jauh lebih baik.
Jika memang ia tak mau memelukku, maka aku yang akan memeluknya.
Hinata-ku lah yang ku butuhkan sekarang, bukan obat.
"Aku merindukanmu."
Sangat. Bagaimana denganmu?
"..."
Kenapa diam saja? Kenapa tidak membalas pelukanku? Apa dia benar-benar sangat marah padaku?
"Gomen, Hime."
"U-untuk a-apa?"
Aku sangat senang mendengar suaranya dari dekat seperti ini.
"Karena tidak bisa melindungimu."
End of Sasuke-pov
.
.
.
Hinata pov
"Aku akan mengganti perbannya."
Aku duduk di sampingnya dan mulai membuka perbannya yang lama. Melihat luka tusukan pedangnya, aku makin merasa bersalah. Tapi, aku tidak akan menunjukkannya. Aku tidak mau terlihat lemah dan cengeng di depan Sasuke-kun. Hal itu akan semakin menyusahkannya.
Sebenarnya aku ingin menanyakan bagaimana perasaannya, bagaimana lukanya? Apa ia dapat bergerak? Kenapa ia tersadar begitu cepat?
Bukan. Bukannya aku tidak ingin dia sadar. Hanya saja, bukankah Tsunade-san bilang jika ia kuat maka ia akan sembuh paling cepat lusa? Bahkan belum sampai tiga jam Tsunade-san mengatakannya.
Apa ia sekuat itu?
Pertanyaan dalam kepalaku buyar ketika ia menggenggam tanganku.
Mengapa ia menggenggam tanganku? Apa ia ingin menghentikanku mengganti perbannya? Apa ia tidak percaya padaku, bahkan hanya untuk mengganti perbannya?
"Tenang saja, aku memang bukan tabib tapi aku bisa mengganti perbanmu."
Ya. Walaupun aku bukan tabib, tapi aku pernah mempelajari tentang pengobatan walaupun hanya sedikit. Bukannya melepaskan tanganku, ia semakin erat menggenggamnya. Aku menatap matanya dan ku sadari bahwa banyak yang ingin ia tanyakan disana. Sangat banyak hingga ia mungkin bingung harus menanyakan apa.
"Semuanya baik-baik saja. Hatake-san selamat, dan Uchiha Kingdom baik-baik saja. Tidak perlu khawatir."
Kurasa hal itulah yang paling ingin ia ketahui mengingat tanggung jawabnya sebagai raja untuk melindungi kerajaan sebesar ini. Dan Ketika aku menatapnya lagi, ia tampak merasakan kelegaan yang luar biasa ketika aku mengatakannya. Aku cukup senang melihatnya.
Setelah lukanya selesai diperban, tiba-tiba saja ia bergerak. Kurasa ia ingin duduk, mungkin bosan terus berbaring. Tidak ada yang dapat kulakukan selain membantunya. Kuletakkan bantal empuk di belakang punggunggnya dan mengusahakan agar tidak mengenai lukanya.
Aku sadar ia terus memandangiku dari tadi. Aku tidak berani membalas menatapnya. Aku terlalu takut dan malu. Takut ia akan membenciku karena ia terluka karena melindungiku dan malu karena tidak dapat menjadi pendamping yang baik untuknya. Jadi, aku hanya terus menundukkan kepalaku berharap ia akan bosan dan memalingkan wajahnya atau meyuruhku pergi.
Tapi, tetap saja ia tidak berhenti memandangiku. Aku tidak mengerti apa lagi yang ingin ia tanyakan atau ingin ia ketahui. Mungkin ia bertanya-tanya bagaimana detail ceritanya dan bagaimana dengan Pein-sama, tapi aku diam saja. Aku rasa bukan saatnya ia memikirkan hal itu dalam kondisinya yang masih lemah. Yang harus ia ketahui adalah bahwa Uchiha Kingdom sudah aman dan memikirkan kesehatannya.
Ah, aku hampir lupa.
"Aku akan mengambilkan obat."
Selain ingin ia cepat sembuh, aku juga memang ingin pergi secepatnya dari kamar ini. Canggung, kurasakan.
"Duduk."
Mendengarnya menyadarkanku bahwa ia belum mengucapkan apapun sejak tadi. Aku senang mendengar suaranya, rasanya sudah lama sekali tidak mendengarnya.
Mungkin, aku memang merindukannya.
Tapi kenapa? Ia menyuruhku duduk? Bukannya seharusnya ia benci melihatku disini?
"Aku akan kembali sebentar lagi."
"Aku bilang duduk."
Aku tidak percaya dalam keadaan seperti ini ia masih sanggup mempertahankan nada 'tak terbantahkannya'. Tidak ada yang dapat kulakukan selain menuruti perintahnya. Aku tidak mau semakin menyusahkan untuknya.
"Dari tadi kau banyak bicara."
Ya, dari tadi aku terus berbicara. Mungkin ia tidak ingin mendengar suaraku lagi. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku nerasakan sakit di dadaku memikirkan hal itu. Memikirkan bahwa ia membenci suaraku, membenciku dan, dan tidak menginginkanku lagi.
Apa aku memang terlalu banyak berbicara?
Kurasakan air mata sudah menumpuk di kelopak mataku. Aku tidak ingin ia melihatnya, jadi semakin aku menundukkan kepalaku. Tindakan yang salah, karena semakin aku menundukkan kepalaku air mataku semakin menggenang saja. Aku mulai berpikir untuk segera keluar saja ketika ia melakukannya.
GREB
D-dia memelukku.
Kenapa ia melakukannya? Bukankah ia seharusnya membenciku? Atau mungkin ia hanya ingin menjaga perasaanku agar tidak tersinggung. Ya, pasti begitu. Dan itu membuatku semakin sesak di dada. Dia tidak perlu mengasihaniku atau menjaga perasaanku. Dia membuatku tampak tidak pantas menjadi pendampingnya. Ia terlalu baik. Bahkan aku sudah menyusahkannya dan membuatnya dalam keadaan yang sangat kritis.
Seharusnya ia tak perlu sebaik ini. Tidak perlu memelukku. Walaupun aku sangat senang ia melakukannya karena, karena kurasa aku benar-benar merindukannya. Semenjak ia terbaring dengan mata tertutup aku selalu merindukannya yang terus menatapku dan memperhatikanku diam-diam. Dan aku juga merindukan saat-saat dimana ia memelukku seperti sekarang ini.
Belakangan ini aku sering menerka-nerka bahwa kemungkinan aku mulai mencintainya.
Aku ingin membalas pelukannya, tapi aku tidak melakukannya. Walaupun aku merindukannya, tapi ia tidak mungkin merindukanku juga. Ia hanya ingin menjaga perasaanku agar tidak merasa bersalah. Ya. Aku merindukannya, tapi ia tidak me—
"Aku merindukanmu."
A-apa? Apa aku tidak salah dengar? Benarkah ia juga merindukanku? Setelah apa yang sudah kulakukan padanya? Menyusahkan dan membuatnya terluka. Jika tidak melindungiku, dia tidak mungkin terluka dan dapat mengalahkan Pein-sama dengan mudah. Dan mungkin saja Hatake-san masih dapat berjalan dengan kakinya sendiri sampai sekarang.
"Gomen, Hime."
Untuk apa?
"U-untuk a-apa?"
Bukankah seharusnya aku yang meminta maaf?
"Karena tidak bisa melindungimu."
Aku sudah tidak dapat berpura-pura kuat. Seiring dengan jatuhnya air mataku, langsung saja aku membalas pelukannya. Erat sekali.
Bukan menerka-nerka lagi, aku rasa aku memang mencintainya sekarang.
End of Hinata pov
.
.
TBC
.
.
Maaf, jika adegan2nya kurang greget, saia masih amatir dalam adegan 'war and romance' sih, hehe.
And well, saia sudah memperpanjang ficnya seperti saran readers.
Many thanks saia ucapkan kepada semua readers, reviewers, fav'ers, and followers yang telah sudi me-read, rev, fav and follow fic ini. YOU're my SUPER SPIRIT to go on this fic.
Saia sangat menghargai pujian, kritik, saran, tebakan, komentar dan salam hangat yang anda berikan di kotak review. Dan maaf karena lagi2 belum sempat membalas review.
So, walaupun telat—sangat—mengupdate fic ini, bolehkan saia minta review lagi?
I neet to be better.
Thanks for reading this simple one... :)
.
.
