Diclaimer: Inuyasha hak milik Rumiko Takahashi

Chapter 7.

...

Telah seminggu lamanya, Inuyasha menghindari Kagome. Sudah beberapa kali Kagome mencoba untuk mencarinya dan mengajaknya untuk bicara di saat istirahat, dan juga sepulang sekolah. Namun Inuyasha tidak menggubrisnya. Dia hanya melemparkan tatapan dingin pada gadis berambut hitam legam itu tiap kali dia mencoba untuk meminta maaf kepadanya.

Sore itu, Kagome duduk di depan PR nya yang menumpuk.

'Ah... bagaimana bisa aku konsentrasi mengerjakan pr-pr in... Kalau aku tahu Inuyasha masih marah padaku!' pikirnya.

Terdengar suara ketukan di pintu kamarnya. "Kagome!"

"Masuk saja, bu!"

Ibu kagome masuk ke kamarnya. "Maaf ya, Kagme, apa kau sedang sibuk?"

Kagome menggelengkan kepalanya. "Tidak kok bu, ada apa?"

"Ah tidak... Ibu hanya membutuhkan beberapa keperluan rumah tangga dari supermarket... Apa kau bisa tolong menggantikan ibu membelikannya, Kagome?"


"Maaf ya, Kagome…Tapi ibu benar-benar sedang sibuk sekarang ini… Ibu harus mengantar Sota ke dokter gigi, makan malam pun belum masak, jadi tidak bisa pergi…"

"Tidak apa-apa, Ibu. Aku juga senang kok kalau bisa membantu… Selama ini kan ibu yang selalu sibuk mengatur rumah." ucap Kagome sambil mengikat tali sepatunya.

Baiklah, aku pergi dulu!"

"Hati, hati, Kagome!"

.


Sehabis membeli barang-barang yang diminta Ibunya itu, gadis berambut hitam legam itu itu lalu berjalan pulang ke rumahnya.

Hari itu masih sekitar jam setengah tujuh, tetapi cuaca yang mendung dan awan yang bertumpuk-tumpuk membuat langit terlihat begitu gelap, seperti larut malam.

'Aduh... Aku mohon jangan hujan!' pinta Kagome dalam hati.

Dilihatnya keadaan sekeliling. "Mengapa sepi sekali ya… Padahal ini belum semalam itu…."

Tiba-tiba teringatnya tentang kasus penculikan yang baru-baru ini sering muncul di Koran. Bulu kuduk gadis itu mulai merinding..

'Ah, mikir apa sih aku ini. Tidak akan ada apa-apa kok! Ini kan bukan daerah penculikkan itu!' Kagome berusaha menenangkan hatinya sendiri.

Tiba-tiba, didengarnya suara seperti langkah kaki seseorang di belakangnya. Dengan cepat, dibalikkan badannya, dan dengan suara yang lantang, dia berseru. "Siapa disana?"

Jantungnya berdegub kencang. Dia sebenarnya takut, sangat takut, tapi dipaksakannya sendiri dirinya untuk jadi berani.

Namun, tidak terlihat sesosok manusiapun di jalanan itu selain dirinya sendiri.

Kagome menggigit bibirnya dengan nervous, lalu kembali berjalan menuju rumahnyan sendiri dengan langkah yang dipercepat.

Tak lama, kembali didengarnya langkah kaki seseorang.

"Aku tidak main-main, siapa kau? Apa maumu!" serunya lagi. Lampu jalanan tiba-tiba redup. "Aduh, kenapa lampunya harus mati sekarang!" ucapnya kesal. Kalau seperti ini, dia tidak tahu apa yang ada didepannya!

Dengan kaki yang bergetar, Kagome mulai berjalan mundur. "Kalau ini lelucon, ini tidak- umph!"

Sebuah tangan membungkam mulutnya, sementara yang tangan lain dari pemiliknya itu mengekang tubuh gadis itu erat. Dari postur tubuhnya, Kagome menduga bahwa orang itu adalah seorang pria. 'Ya Tuhan, apa ini si penculik itu?' pikirnya dengan panik.

.

.


"Ahh… akhirnya… Lelah sekali aku. Kenapa sih si pelatih bodoh itu membuat kita harus berlatih sampai selama ini, Miroku?" gerutu Inuyasha di perjalanannya menuju pintu gerbang sekolah.

"Tak berapa lama lagi kita ini akan tanding keluar kota, Inuyasha. Kau lupa?" jawab Miroku sebelum meneguk air di botolnya.

Inuyasha menaikkan sebelah alisnya. "Itu kan masih beberapa bulan lagi!"

"Yah, mulai banyak berlatih dari sekarang kan juga tidak ada salahnya, Inuyasha." Balas Miroku santai.

Inuyasha hanya ngedumel. Tanpa sangka, mereka sudah sampai di pintu keluar sekolah.

"Ya sudah, aku pulang dulu, Inuyasha. Sampai jumpa besok!" ujar Miroku sambil melambaikan tangannya, lalu berjalan kearah berlawanan dengan Inuyasha.

Inuyasha melambaikan tangannya balik ke Miroku, lalu berjalan menuju rumahnya sendiri.

'Ah, sudah mulai gelap…' batinnya dalam hati melihat langit yang begitu kelam. Inuyasha terus berjalan kearah rumahnya…

.


"Hehehe, gadis manis… Tenanglah….Aku butuh uang… Kau mau kan membantuku?" ucap laki-laki itu, sambil melepaskan tangannya yang sedang membungkam bibir Kagome dan melingkarkannya di tubuhnya, mengekang gadis itu lebih erat.

Kagome menahan nafasnya. 'Astaga! Nafas orang ini benar-benar bau alkohol!'

"Aku tidak punya uang! Lepaskan aku, kumohon!" pintanya sambil berusaha berontak dari kekangan laki-laki tersebut.

"Jangan bohong…" desis laki-laki itu, "Aku tidak suka gadis yang suka berbohong… Apa kau mau kuhukum, nona?" ucapnya dengan nada mengejek.

"Aku tidak bohong! Aku mohon, tolong lepaskan aku!" pinta Kagome lagi. Hatinya berdegub tak taruan… Dia sangat takut akan apa yang bisa dilakukan pria ini terhadapnya.

Pria itu mendengus. "Baiklah kalau begitu…" Belum sempat Kagome menarik nafas lega, pria itu melanjutkan kata-katanya. "tapi kau harus ikut denganku….."

Kagome terkesiap, lalu kembali berusaha berontak. "Tidak, lepaskan aku!" jeritnya panik.

"Tidak ada yang akan mendengarmu disini, manis…. Kita hanya berdua… Hehehe…" pria itu tertawa tanpa humor.

"Seseorang! Tolong aku!" jerit Kagome.

Laki-laki itu mendengus kesal. "Kubilang diam!" teriaknya marah. Kagome bergidik ketakutan. Mata orang itu merah sakin marahnya dia. Orang itu mengeluarkan sesuatu yang berkilat dari kantongnya dan mendekatkannya ke leher gadis berambut hitam legam itu. Kagome terbeku. Itu adalah sebuah pisau!

.


"lepaskan aku!"

Inuyasha menghentikan langkahnya. Suara seorang perempuan… sepertinya tidak jauh dari sini. Ada apa ya kira-kira? Penasaran, dia mulai berjalan maju kembali.

"Seseorang! Tolong aku!" Kali ini suara itu semakin jelas… Tunggu… dia kenal suara itu…. Astaga, Kagome?

Dengan cepat, laki-laki berambut panjang itu berlari ke asal jeritan tersebut. "Kagome!"

Samar-samar, dilihatnya sesosok perempuan dan laki-laki yang sedang memeganginya. Tidak salah lagi, perempuan itu adalah Kagome!

"Kau…" geramnya kesal. "Lepaskan Kagome!"

Kagome terkesiap mendengar suara Inuyasha. 'Inuyashakah itu?' pikirnya dalam hati.

Pria yang sedang memegangi Kagome itu hanya tertawa dingin. "Oh, apa aku telah mengganggu wanitamu? Maaf ya, tapi aku tidak ada keinginan sama sekali," disentuhnya leher Kagome dengan pisau di tangannya. Kagome merintih kecil. Inuyasha membelalakkan matanya.

"untuk melepaskan mainan yang baru saja kudapatkan ini. Dan kau lebih baik pergi sekarang." Lanjut pria itu.

"Kau!" seru Inuyasha marah, berjalan semakin mendekat kearah Kagome dan pria itu.

"Inuyasha! Jangan, orang ini mabuk!" seru Kagome.

Inuyasha menggeram marah, tanpa menghiraukan ucapan Kagome, diterjangnya pria itu sehingga lepas kengkangannya atas Kagome. Kagome terjatuh ke jalanan, sementara Inuyasha masih sibuk berkutat dengan pria itu di dinding jalanan. "Kagome, cepat telepon polisi!" seru Inuyasha.

Kagome mengangguk. "Inuyasha, hati-hati, ada pisau tangannya!" teriak Kagome khawatir.

Terlambat, ditengah kepanikannya, pria itu menggoreskan pisau nya ke lengan Inuyasha.

"Argh!" erang Inuyasha kesakitan sambil memegangi lengan nya yang terluka. Dan disaat itulah, pria itu memanfaatkan kesempatannya untuk kabur.

"Hei, kau! Jangan lari!" panggil Inuyasha. Terlambat, orang itu sudah tidak terlihat lagi.

"Inuyasha!" Kagome segera berlari kearah Inuyasha.

"Kau tidak apa-apa? Astaga.. darahnya banyak sekali!" ucap Kagome khawatir.

"Keh. Hanya luka seperti ini saja sih, kecil." Jawab Inuyasha santai, lalu berdiri.

"Inuyasha!"

"Lebih baik sekarang kau kuantar pulang… Bagaimana?" ucap Inuyasha.

Air mata Kagome mulai menggenang. 'Padahal dia terluka… Masih sempat-sempatnya menawarkan diri untuk mengantarkanku…'

"Kagome?" panggil Inuyasha saat gadis itu tidak menjawabnya. Jalanan masih sangat gelap, namun dengan samar Inuyasha melihat tetesan-tetesan air mata yang mulai membasahi pipi Kagome.

"Hei-hei, Kagome! Kenapa menangis? Kau sudah tidak apa-apa, sudah aman sekarang, tenanglah!" serunya panik.

Tangis Kagome semakin menjadi-jadi. Inuyasha jadi salah tingkah. Tidak tahu harus berbuat apa, didekapnya tubuh gadis itu erat.

Kagome terkesiap. Apa Inuyasha sedang memeluknya?

"Kagome… tenanglah…" ucapnya lembut.

Kagome berusaha menghentikan tangisnya, lalu dibalasnya pelukkan tersebut.

.


Sesampainya di rumah Kagome, ibu Kagome sangat terkejut melihat putrinya datang dengan seorang anak laki-laki yang terluka. Kagome segera menjelaskan tentang apa yang baru saja terjadi Dengan segera, ibu Kagome menyuruh mereka untuk masuk ke ruang tamu dan bergegas mengambil peralatan P3K.

"Bilang ibumu tidak usah repot-repot, Kagome. Aku tidak apa-apa kok." Bantah Inuyasha untuk kesekian kalinya.

"Bagaimana tidak apa-apa! Lihat tanganmu berdarah-darah seperti itu… Dan ini semua karena aku…. Maaf, Inuyasha…" matanya mulai memerah kembali.

"Hei… Kagome, bisa tolong kau hentikan tangisanmu itu? Aku tidak tahan-" Inuyasha terdiam. Dia benar-benar tidak suka melihat wanita menangis. Samar-samar diingatnya semasa hidup ibunya, dimana ia sering menangis kala orang-orang mulai mencemooh dirinya. Ia juga teringat saat Kikyo menangis histeris begitu diketahuinya bahwa ia akan lumpuh seumur hidupnya….

Digelengkannya kepalanya. 'Itu adalah masa lalu….'

Tak lama kemudian, ibu Kagome datang membawa peralatan P3K.

"Kagome, kau bisa kan membersihkan lukanya? Ibu tidak bisa meninggalkan masakkan terlalu lama…" ucap ibu Kagome.

"Bisa kok, bu. Tenang saja." Balas Kagome.

Ibu Kagome tersenyum. "Baiklah kalau begitu, ibu tinggal dulu ya."

Kagome segera merawat luka Inuyasha. Dibersihkannya darah di lengan Inuyasha bekas geretan pisau itu dengan alkohol. Inuyasha meringis kesakitan.

"Maaf, sakit ya, Inuyasha..?" ucap Kagome prihatin.

"Tidak apa-apa… Lanjutkan saja…" balas Inuyasha dengan nada yang tertahan.

Kagome tersenyum kecil, lalu kembali membersihkan luka tersebut.

Inuyasha terus memperhatikan Kagome. Tiba-tiba, dia mulai berbicara.

"Kagome.."

"Ya, Inuyasha?" jawab Kagome sambil mengalihkan pandangannya kearah laki-laki berambut hitam itu.

"Maaf…. Aku tidak mau mendengarkanmu beberapa hari ini." Ucapnya lirih.

Kagome tersentak. Mengapa malah Inuyasha yang minta maaf padanya?

"Aku seenaknya saja menjauhimu tanpa peduli tentang apa yang kau katakan. Padahal kau hanya mau meminta maaf padaku… Dan tidak seharusnya juga aku memperlakukanmu seperti itu minggu lalu. Maaf ya, Kagome." Tutur Inuyasha pelan.

"Inuyasha…." Ucap Kagome perlahan.

"Tadi itu…." Lanjut Inuyasha. "Aku tidak tahu kenapa, tapi aku takut sekali… benar-benar takut kau kenapa-kenapa, sehingga aku tidak berpikir panjang dan langsung menerjang orang itu. Dan saat itu aku sadar, aku tidak ingin ada hal buruk apapun yang terjadi padamu, Kagome."

Memang benar, entah sejak kapan gadis itu menjadi sosok yang penting untuk Inuyasha. Mulanya dia hanya gadis bodoh yang terlalu semangat datang kesekolah, namun, ada sesuatu di dalam di diri gadis itu yang menarik dirinya ditiap pertemuan mereka…

Kagome hanya terdiam mendengar ucapan Inuyasha. Hatinya bergetar. 'Apa Inuyasha…. Juga merasakan hal yang sama dengan diriku?'

Namun segera dibuangnya pikirannya itu jauh-jauh. 'Dia punya Kikyo, ingat…'

Setelah selesai membersihkan luka tersebut, diperbannya lengan Inuyasha.

"Terima kasih, Kagome." Ujar Inuyasha sambil tersenyum.

Pipi Kagome bersemu merah. "Tidak usah berterima kasih, akulah yang harus berterima kasih… Karena lagi-lagi kau telah menolongku hari ini…."

Inuyasha tertawa kecil, lalu didekatkannya wajahnya ke wajah gadis itu. "Pipimu merah, Kagome."

Jikalau mungkin, pipi Kagome semakin memerah. "Inuyasha! Kau ini senang sekali sih menggodaku!" ucapnya kesal.

Tawa Inuyasha semakin menjadi. Kagome menggerutu kesal.

"Hahaha, baiklah, nona Kagome. Sepertinya tugas saya sudah selesai. Bolehkah saya pulang?" ujar Inuyasha.

Kagome mengedipkan matanya beberapa kali. "Tugas? Bicara apa sih kau ini, Inuyasha!"

"Yah, boleh kau bilang… aku ini adalah pengawalmu. Eh tunggu…. Itu terdengar tidak keren. Bagaimana kalau kesatria? Ya, aku adalah kesatria berbaju bajamu!" jawab Inuyasha lantang.

Kagome tertawa kecil. "Kesatria berbaja putih kok bisa-bisanya tergores pisau… Baju bajamu tidak kuat ya, Inuyasha? Atau jangan-jangan hari ini kau lupa memakainya dan malahan pakai kaus olahraga?"

Inuyasha memutar matanya. "Hei, hei. Kenapa jadi mengejekku."

Kagome kembali tertawa. "Maaf Inuyasha."

Inuyasha tersenyum. Akhirnya, gadis itu tertawa lagi…

"Ini sudah semakin malam, lebih baik aku pulang sekarang, Kagome, aku tidak mau mengganggu keluargamu." Ucap Inuyasha.

"Kau yakin tidak mau ikut kami makan malam, Inuyasha?" tanya Kagome.

Inuyasha tersenyum. "Ah, tidak Kagome, aku tidak enak pada keluargamu…"

Kagome lalu mengantar Inuyasha sampai ke pintu depan rumahnya.

"Ya sudah, aku pulang dulu sekarang… Sampai jumpa besok waktu istirahat ya, Kagome." Ucap Inuyasha.

"Eh, tunggu dulu, maksudmu kau ingin menemuiku waktu istirahat?" balas Kagome hampir tidak percaya.

Inuyasha tersenyum penuh arti. "Gadis bodoh. Siapa juga yang mau mencarimu? Kau yang harus menemuiku! Sebagai ucapan terima kasihmu, kau harus membuatkanku bekal makan siang untuk besok!"

Sebenarnya, itu hanya akal-akalan Inuyasha supaya ia bisa bertemu dengan Kagome lagi besok, namun, ia tidak rela mengatakannya jelas-jelas pada gadis itu kalau ia ingin bertemu dengan dirinya lagi besok….

Kagome mendengus. "Tadi katanya tidak usah berterima kasih! Huh! Kau ini."

"Oh, jadi tidak mau? Yah.. padahal lenganku ini masih sakit sekali…" ucap Inuyasha.

Kagome jadi merasa bersalah. "Ehh, aku tidak bilang tidak mau! Baiklah, akan kubawakan kau makan siang besok!"

Inuyasha tersenyum puas. "Deal. Baiklah, aku pulang sekarang. Bye-bye!"

"Bye-bye! Hati-hati ya Inuyasha!" jawab Kagome. Dilihatnya sosok pemuda itu berjalan semakin menjauh sehingga tak terlihat lagi.

'Haha, kesatria berbaju baja…. Lebih seperti kesatria berbaju olahraga bagiku.' Pikirnya geli.

Tiba-tiba pipinya kembali bersemu merah. 'Kesatria-KU? Mikir apa kau ini Kagome…'

Namun, perasaan itu tidak dapat dipungkirinya…. Ya, kali ini dia yakin, dia sudah jatuh untuk seorang Inuyasha Takahashi…


End Chapter