Cecil Hime was borrowed Masashi's Chara

#SasuHina#

.

.

"Gomen, Hime."

"U-untuk a-apa?"

"Karena tidak bisa melindungimu."

Akhirnya pemuda tampan yang sudah bergelar 'raja' itu mendapatkan pelukan yang ia tunggu-tunggu. Merasakan tangan mulus dan mungil yang semakin erat memeluknya, ia pun tak kalah antusias untuk mengeratkan pelukannya. Ia dapat merasakan gadis muda cantik yang sudah menjadi istrinya itu meneteskan air matanya dan membasahi dada bidangnya yang tidak dibalut oleh pakaian.

"Hiks, s-seharusnya aku yang m-meminta maaf, S-sasuke-kun. Hiks, Karena m-melindungiku Sasuke-kun terluka p-parah k-karena p-pedang itu."

"Hei, jangan menangis. Itu memang tanggung jawabku untuk melindungimu Hinata."

"T-tidak. Uchiha Kingdom adalah t-tanggung jawab terbesar Sasuke-kun."

Memang benar, sebagai raja itulah tanggung jawab terbesarnya dalam hidunya. Jika ia tidak bertahan, mungkin Uchiha Kingdom akan diserang atau dihancurkan oleh kerajaa-kerajaan lain karena mengetahui sang raja sudah mati. Siapa yang tidak menunggu hal itu terjadi? Dengan menaklukkan kerajaan terbesar, maka otomatis kerajaan itulah yang menggantikan posisi Uchiha Kingdom sebagai kerajaan yang paling besar dan dihormati.

Tapi, tanggung jawab itu sejenak ia lupakan ketika melihat pedang itu tiba-tiba menyerang gadis yang paling ia cintai. Ia tidak mungkin hidup dengan benar tanpa gadis itu sekarang. Tidak, setelah ia merasakan perasaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Dan ia sangat yakin, bahwa perasaan itu tak kan hilang atau tergantikan dengan gadis lain sampai kapan pun.

Mau bagaimana lagi, pemuda itu tidak menginginkan kehidupan tanpa gadis itu.

"Mau bagaimana lagi, aku terlalu mencintaimu."

Terlalu mencintaimu hingga melupakan tanggungjawab utamaku sekalipun.

Kalimat itu sukses membuat air mata sang gadis semakin banyak.

Hinata tiba-tiba melepaskan pelukannya dengan mata yang masih mengalir di pipinya.

"Kenapa dilepas? Aku masih ingin memelukmu."

"P-pebannya, hiks, perbannya bisa basah."

"Kalau begitu jangan menangis lagi dan peluk aku."

Hinata pun segera menghapus air matanya dan mencoba untuk menahannya agar tidak keluar lagi lalu kembali memeluk Sasuke.

Sasuke pun tersenyum tipis sambil mengelus-elus rambut panjang gadis di pelukannya. Sesekali ia mencium puncak kepala sang gadis untuk menenangkannya. Beberapa saat kemudian ia merasakan pelukan di pinggangnya mengendur dan helaan nafas yang teratus di dadanya yang menandakan gadis di pelukannya telah tertidur. Menyadari hal itu, ia lalu membawa istrinya berbaring bersamanya dengan posisi masih berpelukan.

Awalnya ia merasa sedikit kesakitan ketika mengganti posisi jadi berbaring, tapi lama kelamaan rasa sakit itu perlahan menghilang.

Ia perlahan memperbaiki posisi tidur sang istri agar lebih nyaman, jadi dengan berat hati ia juga berniat melepaskan pelukannya. Ketika ia akan melakukannya, sang gadis di sampingnya bergumam pelan.

"Sasuke-kun."

Hinata memanggil namanya dalam tidurnya. Ia sangat senang mendengarnya. Tidak dapat menahan kegembiraan itu, ia pun tak jadi melepaskan pelukannya. sebaliknya, ia mengambil sebelah tangan Hinata dan melingkarkannya kembali di pinggangnya.

Begini lebih nyaman.

.

.

.

Bukannya ia tidak menyesali atas apa yang telah terjadi beberapa hari lalu yang menimpa Uchiha Kingdom, tapi kejadian setelahnya membuat ia tidak dapat berhenti tersenyum dalam hati. Senyum yang diakibatkan oleh perasaan hangat yang tiba-tiba mengalir dalam hatinya.

Hinata berubah.

Dalam makna yang positif, tentunya.

Bukannya Hinata tidak pernah tersenyum padanya sebelumnya, tapi hampir tiap melayaninya Hinata tersenyum hangat padanya sekarang.

Bukannya Hinata tidak pernah memasak untuknya sebelumnya, tapi hampir tiap hari Hinata memasakkan makanan untuknya sekarang.

Dan bukannya Hinata tidak pernah menyiapkan pakaiannya sebelumnya, tapi Hinata bahkan membantunya mengenakan pakaiannya sekarang.

"Kau berubah."

"Tidak."

"Ya."

"Angkat tangan kirimu, Sasuke-kun."

Sasuke mengangkat tangannya yang sebelah kiri untuk mempermudah Hinata memasukkan tangannya ke dalam lengan baju dengan bantuan Hinata.

"Kau tidak pernah membantuku berpakaian sebelumnya."

"Punggungmu tidak boleh terlalu banyak gerakan."

"Kau hanya memasak ketika acara penyambutanmu seminggu yang lalu. Dan sekarang hampir tiap hari kau melakukannya."

"Aku hanya memasak untuk Sasuke-kun saja. Tsunade-san menyarankan agar makanan dan pola makan Sasuke-kun diperhatikan."

"Hn. Tapi bagaimana dengan kau sering tersenyum padaku sekarang?"

Hinata memalingkan wajahnya ke samping agar pemuda di depannya tidak melihat pipinya yang terasa memanas. Bukannya ia sebal karena terus-menerus ditanyai seperti itu, Hinata hanya malu karena perubahan kecil –menurutnya—yang dilakukannya itu ternyata diperhatikan oleh 'sang suami'.

"Aku akan memasakkan sesuatu untuk Sasuke-kun."

.

.

Tabib yang sudah cukup berumur tapi tetap cantik itu memasuki sebuah ruangan besar dan mendekati ranjang yang ditempati seorang pria yang masih tidak dapat menggerakkan kakinya sampai sekarang.

Memerlukan beberapa menit untuk tabib itu memutuskan apa yang akan terjadi pada pria di ranjang itu.

"Saya rasa anda tahu apa yang akan terjadi pada kaki anda, Hatake-san."

"Kurang lebih aku sudah tahu. Tenang saja, aku tidak menyesal."

Beberapa saat setelah sadar, ia memang sudah tidak dapat lagi merasakan sebelah kakinya, jadi, tentu saja dia tahu. Dari awal kesadarannya ia memang telah memprediksikan apa yang akan terjadi pada kakinya.

"Baiklah, cukup untuk hari ini."

"Tsunade-san, bagaimana kondisi Hinata-sama?"

"Kau menanyakannya tiap hari dan setiap satu jam. Dan seperti jawabanku sebelum-sebelumnya dan akan selalu begitu, ia baik-baik saja."

"Anda yakin? Maaf, maksudku apa tidak terdapat luka pedang di dadanya atau leher?"

"Tidak ada, Hatake-san."

"Begitu..."

Bagaimana bisa?

Ia sangat yakin bahwa waktu itu pedang Pein juga mengenai Hinata-sama.

Bagaimana bisa Hinata-sama baik-baik saja? Pein saja langsung mati, dari yang ia dengar.

Apa Hinata-sama menyembunyikan lukanya?

Atau Hinata-sama memiliki tabib lain yang melayaninya?

Entahlah. Ingin sekali rasanya ia menanyakan langsung pada putri cantik itu tapi ia belum memiliki kesempatan yang tepat. Terakhir kali sang putri itu menemuinya adalah ketika pertama kali ia sadar dan ia sama sekali tidak dapat bertanya karena setelah keterkejutannya berakhir, putri cantik itu segera menyuruhnya untuk tidak banyak bergerak lalu menghilang di balik pintu untuk memanggil Tsunade, sang tabib kepercayaan Hyuuga Kingdom yang ditugaskan oleh Hiashi-sama.

Dia merasa Kami-sama sangat baik padanya.

Jika saja waktu itu ia tidak tersadar, mungkin ia akan mati dalam keadaan terburuk yaitu mati dalam penyesalan terdalam. Kenyataannya ia tersadar dan melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Hinata-sama baik-baik saja sehingga penyesalannya dapat berkurang. Ia tak apa-apa dengan hal yang menimpanya, walaupun sekarang kemungkinan besar ia tidak akan dapat menggunakan salah satu kakinya lagi.

.

.

Pemuda bermata gelap itu tampak tersenyum tipis yang menandakan bahwa ia tidak sedang tertidur walaupun kedua matanya sedang terpejam. Ia masih tidak mempercayai perkembangan hubungannya dengan Hinata, semuanya seperti mimpi. Rasanya mereka benar-benar –untuk pertama kalinya—seperti suami-istri.

Tapi, masih ada yang kurang.

Sesuatu yang penting dalam ikatan suami-istri.

Sial.

Pasti luka di punggungnya ini membutuhkan waktu setidaknya seminggu untuk dapat bergerak bebas seperti semula. Mengingat itu, pemuda tampan itu tidak lagi tersenyum tipis tapi menghela nafas seakan-akan itu adalah masalah paling besar untuknya.

Tok. Tok. Tok.

Ketukan di pintu membuatnya membuka matanya yang terpejam sedari tadi dan berakhir dengan memandang langit-langit kamar itu.

Ia lalu mengalihkan pandangannya ke arah pintu karena ketukan itu dan menyadarkannya bahwa bukan Hinata –seperti yang ia inginkan- yang memasuki ruangannya. Di tengah tengah pintu yang kini terbuka lebar berdiri Kakashi yang dipapah oleh Chouji dan Shikamaru. Melihat kondisi salah satu orang kepercayaannya itu membuat Sasuke turut menyesal. Ia sudah mendengar perkembangan kesehatan Kakashi dari tabib wanita itu, Tsunade-san dan kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada sebelah kakinya.

Karena dia tahu jika Kakashi bahkan baru bisa duduk semalam dan sekarang ia memaksakan dirinya ke ruangannya hanya untuk menjenguknya yang bahkan tidak terluka separah dirinya.

Walaupun mereka berdua sama-sama terluka parah, tapi Sasuke berbeda. Ia akan baik-baik saja setelah melewati masa kritisnya, dan dia sudah melakukannya. Sedangkan Kakashi? Ia memang lebih cepat sadar, tapi ia tidak akan baik-baik saja karena ia akan kehilangan salah satu kakinya pada akhirnya.

"Saya minta maaf karena baru bisa menjenguk sekarang, Sasuke-sama."

"Hn."

"Maaf jika kami mengganggu Sasuke-sama. Tapi, beberapa urusan penting memerlukan persetujuan Sasuke-sama."

"Hn. Tidak apa-apa. Lagipula beberapa hari ini aku telah merepaotkan kalian."

"Sudah menjadi kewajiban kami, Sasuke-sama."

"Hn. Kau tidak perlu ikut serta Kakashi. Kau butuh istirahat."

"Ada yang ingin Saya sampaikan, Sasuke-sama."

.

.

"Kenapa kau hanya diam saja?"

Sudah sejak setengah jam yang lalu kedua perempuan cantik itu larut dalam pikiran masing-masing. Atau mungkin juga tidak, karena yang sibuk berpikir sepertinya hanya sang gadis berambut pink yang sejak keluar dari kamarnya langsung 'menonton' kegiatan si gadis berambut gelap.

"Apa yang ingin Sakura-san dengar?"

"Banyak. Banyak yang ingin ku dengar darimu."

"Ah, ya. Tsunade-san mengatakan bahwa tidak ada luka yang serius. Mungkin Sakura-san dapat merasakannya juga. Bahkan mungkin besok Sakura-san sudah dapat ber—"

"Kau tahu bukan itu maksudku!"

"Apa ada yang lain?" tanya Hinata dengan tenang sambil memilih-milih bahan-bahan untuk dijadikan obat untuk Sasuke.

"Kheh, kau memang berniat melakukannya kan? Berniat menyingkirkan dan menggantikan kedudukanku di depan Sasuke-kun. Tidak, bukan hanya di depan Sasuke-kun tapi didepan semua orang. Semua orang menatap kasihan padaku sekarang, padahal sebelumnya mereka selalu menatapku hormat, iri dan kagum. Tapi kau menghancurkannya. Sejak kau datang ke Uchiha Kingdom aku tidak dapat bernafas dengan tenang. Beberapa hari ini aku terus berpikir bagaimana kau dapat melakukannya dengan sebaik ini?"

Sepertinya masalah yang dikiranya sudah akan selesai masih jauh dari kata 'selesai'.

"Saya tidak melakukan apa-apa Sakura-san."

"..."

"Apa Sakura-san ingin dibuatkan obat?"

"Persetan dengan obat."

"..."

"Apa kau tahu? Saat aku berumur lima tahun kedua orangtuaku meninggal karena menyelamatkan nyawaku. Dan untuk pertama kalinya aku benar-benar menangis. Aku menangis karena kehilangan mereka, menangis karena berfikir akulah yang menyebabkan mereka meninggal dan terharu akan rasa kasih sayang mereka yang rela mengorbankan nyawanya untukku. Tapi, aku langsung melupakan rasa sedih itu karena aku tahu bahwa mereka melakukannya karena mengharapkankku untuk menjadi gadis yang kuat dan berani. Apalagi saat itu ada Mikoto-sama yang selalu menyayangiku dan Naruto dan Sasuke-kun yang selalu ada di sampingku dan mengatakan bahwa mereka akan menjadi keluargaku. Aku begitu senang waktu itu."

"..."

"Aku tidak menangis ketika Sasuke-kun menolakku saat aku menyatakan bahwa aku mencintainya. Sasuke-kun mengatakan bahwa aku terlalu dangkal menafsirkan makna cinta dan mengatakan bahwa aku masih kecil. Aku memang hanya lima belas waktu itu, tapi aku benar-benar mencintainya. Sejak dulu."

"..."

"Aku terus berusaha. Aku sudah cukup dewasa waktu itu. Lalu Sasuke-kun mengatakan bahwa perasaan ini hanyalah rasa suka sementara dan akan hilang seiring dengan berjalannya waktu. Saat itu aku juga tidak menangis. Aku hanya merasakan sedikit sakit hati karena lagi-lagi ditolak oleh Sasuke-kun. Tapi, aku percaya suatu saat ia akan menyadari perasaanku dan membalas perasaanku karenanya aku terus menunjukkan padanya betapa aku mencintainya. Aku selalu melakukan apapun yang ia perintahkan. Aku selalu berusaha menjadi wanita terbaik yang pernah ia kenal, dan berusaha menjadi satu-satunya wanita yang dapat ia andalkan."

"..."

"Dan ketika terakhir kali aku mengatakan bahwa perasaanku masih sama dan tidak akan hilang seiring berjalannya waktu, dengan santai Sasuke-kun mengatakan 'Kau bukan jodohku'. "

"..."

"Terdengar lucu, bukan? Memangnya siapa Sasuke-kun dengan yakin mengatakan hal itu? Dia bukan Tuhan. Dia tidak berhak mengatakan hal seperti itu karena itu sangat melukaiku karena Sasuke-kun sama saja mengatakan bahwa aku tidak akan pernah memilikinya. Walaupun sekarang ternyata apa yang dikatakannya memang benar. Bukan aku, tapi kau."

"..."

"Aku lebih dulu mengenalnya dan mencintainya. Bukan kau. Apa kau tahu makanan kesukaannya, warna kesukaannya? Apa yang biasa ia lakukan jika sedang marah atau kesal? Apa kau tau apa saja yang tidak disukaki Sasuke-kun? Aku. Aku yang tahu semua itu."

"..."

"Kau tidak akan dapat membayangkan bagaimana perasaanku saat Sasuke-kun mengatakan akan melamarmu. Aku sudah mengenalnya sejak kecil, jika Sasuke-kun mengatakan akan melamarmu, maka ia akan melakukannya. Dan itulah saat dimana air mataku menetes untuk kedua kalinya."

"..."

"Aku bukan wanita yang mudah menyerah, kau tahu? Jadi, walaupun aku tahu bahwa Sasuke-kun telah menjadi milikmu aku tidak akan mudah melepasnya begitu saja. Aku yang lebih dulu mengenalnya. Lebih dulu menjadi temannya dan menjadi satu-satunya wanita yang bisa ia andalkan. Aku bukan wanita yang jahat. Aku hanya ingin perhatian Sasuke-kun tertuju padaku walaupun hanya sedikit. Aku tidak bermaksud menerima tawaran Pein-sama waktu itu, tapi cintaku pada Sasuke-kun membuatku hampir gila. Dan membuatku tidak berpikir panjang tentang apa yang akan Pein-sama lakukan pada Uchiha Kingdom. Yang ku pikirkan saat itu hanya bagaimana caranya agar aku memiliki kesempatan sekali lagi untuk merebut hati Sasuke-kun."

"..."

"Aku terbangun dengan air mata pagi itu. Aku tidak peduli jika aku bangun dengan luka di sekujur tubuhku. Luka-luka itu tidak sebanding dengan luka dan sakit di hatiku. Sakit hati yang lebih menyakitkan dibandingkan ketika aku kehilangan kedua orang tuaku atau ketika aku berulang kali ditolak oleh Sasuke-kun. Rasanya sangat menyakitkan ketika mengingat bahwa aku sudah menjadi orang jahat. Sejak kecil aku adalah gadis yang baik dan seharusnya tetap seperti itu. Aku bahkan sempat berpikir bahwa aku seharusnya mati bersama kedua orang tuaku. Aku menyesal telah selamat waktu itu. Aku tidak ingin merasakan perasaan menjadi orang jahat untuk orang yang kucintai. Aku tidak ingin merasakan perasaan menyesal seperti sekarang ini. Aku membenci diriku sendiri. Dan, dan semua ini terjadi sejak kau datang. Hiks, hiks."

"Aku minta maaf."

"Aku sangat membencimu!"

"Tenangkan dirimu Sakura-san. Banyak yang memperhatikan kita."

"Aku tidak peduli. Biarkan mereka mendengar dan mengetahui bahwa aku membencimu!"

"Kau telah mengatakannya. Maafkan aku."

"Ya. Kau memang seharusnya meminta maaf karena telah membuatku membenci diriku sendiri."

"Maaf, Sakura-san."

"Jangan meminta maaf berulang-ulang. Hiks, hiks, k-kau akan membuatku terlihat semakin menyedihkan. Sebenarnya hatimu terbuat dari apa? S-seharusnya kita berdua saling membenci. Itu akan lebih mudah untukku. Aku berhak membencimu karena membuatku kehilangan Sasuke-kun. Dan kau, kau seharusnya juga membenciku karena hampir membuatmu mati. Aku hampir menghancurkan dua kerajaan besar, hiks. A-aku hampir membuat kerajaan ayahmu dan kerajaan suamimu hancur. Aku, aku hampir menghancurkan kehidupanmu. Dan seharusnya kau membenciku untuk itu. Hiks, hiks."

"Sakura-san."

"Semuanya tidak akan sesakit ini jika kau juga membenciku."

"Berhenti bicara, Sakura-san."

"Aku tidak mau. Aku tidak akan berhenti. Aku ingin semua orang mengetahui bahwa bukan aku yang jahat disini. Hiks, a-aku bukan wanita yang jahat. Hiks,hiks, a-aku wanita ya—"

"Tenangkan dirimu Sakura-san."

"Jangan pura-pura baik! Hiks, j-jangan pura-pura baik karena banyak yang melihat kita, hiks."

"Kita bicarakan baik-baik, Sakura-san."

"Hiks, hiks. K-kau pasti sedang berpura-pura. Hahaha, kau sangat pandai. Aku kira putri pingitan sepertimu tidak bisa apa-apa. Hahaha. Bukan aku. Bukan aku yang jahat, tapi kau. Putri Hiashi-sama yang ja-jahat, bukan putri Haruno. Aku wanita yang ba—"

Bruk

Kenapa jadi kacau begini?

"Shizune-san."

"I-iya Hinata-sama."

"Bawa dan rawat Sakura-san. Berikan ia obat penenang, ia membutuhkannya."

"Ha'i."

.

.

"Jadi, bukan kau yang membunuh Pein?"

"Apakah Hinata-sama tidak menceritakannya?

"Hn."

"Saya hanya ingin memastikan apakah Hinata-sama benar-benar tidak terluka karena seperti yang saya ceritakan tadi, itulah hal terakhir yang bisa saya ingat. Jika Pein benar-benar mati, maka Hinata-sama pasti—Ah! Maafkan saya, Sasuke-sama. Bukan itu maksud saya, tapi, ah, bagaimana mengatakannya."

"Hn. Pein pasti mati jika Hinata melukai dada sebelah kirinya."

"Kiri?"

"Hn. Organ dan anggota gerak Pein sebelah kiri adalah kelemahannya, ia akan melambat jika diserang sebelah kiri dan jurus-jurusnya yang mengandalkan kekuatan organ sebelah kiri tidak akan dapat maksimal."

'Jadi, itu sebabnya Hinata-sama selalu menyerang sebelah kiri. Dan pergerakannya tanpa perlawanan di awal hanya untuk membaca kelemahan Pein. Aku tidak menyangka seorang putri bisa sekuat itu. Aku terlalu menilai penampilan Hinata-sama yang terlalu anggun dan lemah lembut.'

"Apa yang terjadi dengan organ anggota gerak Pein sebelah kiri, Sasuke-sama?" kali ini Shikamaru yang angkat bicara dengan pertanyaan yang juga ingin diajukan Chouji dan Kakashi.

"Jika kau ingat pertarungan kami dulu, aku pernah memukul keras bagian dadanya. Saat itu aku sedang melumpuhkan beberapa saraf organ penting dalam pertahanan tubuhnya. Tou-san pernah mengatakan jika Akatsuki Kingdom memiliki jurus-jurus terlarang yang mematikan. Walaupun telah dilarang agar tidak terjadinya pertumpahan darah dan perang, Akatsuki Kingdom terus menurunkan jurus-jurus itu pada keturunan asli mereka."

"Darimana Sasuke-sama mengetahuinya?"

"Dari Tou-san, sebelum ia meninggal. Tou-san menyadarinya ketika prajurit Akatsuki menyerang diam-diam ke dalam Uchiha Kingdom dan menyerang Tou-san dengan jurus itu. Seperti yang kau ketahui, baik Tou-san maupun prajurit yang ternyata raja Akatsuki sebelumnya mati setelah pertarungan itu. Pesan terakhir Tou-san adalah agar jurus terlarang itu dihapuskan untuk selamanya, dan satu-satunya cara adalah dengan membuatnya tidak dapat diwariskan pada keturunan selanjutnya, dalam hal ini Pein. Ketika Pein mengajak duel waktu itu, aku merasa itulah waktu yang paling tepat untuk melaksanakan pesan Tou-san."

"Gomen, tapi mengapa harus sebelah kiri?"

"Kanan dan kiri. Sebenarnya sama saja. Jika salah satu diantara keduanya tidak dapat berfungsi dengan baik maka sehebat apapaun dia, jurus itu tidak akan sempurna."

"Saya mengerti, Sasuke-sama."

"Hn."

"Tapi, bagaimana dengan Hinata-sama? Saya sudah menanyakan pada Tsunade-san tapi Tsunade-san selalu mengatakan bahwa Hinata-sama baik-baik saja padahal aku melihat sendiri bagaimana mereka berdua saling menusukkan pedang ke badan lawan masing-masing."

Hal itu jugalah yang sekarang sedang dipikirkan Sasuke. Jika memang benar apa yang dikatakan Kakashi—walaupun ia tidak akan meragukan Kakashi—maka kemungkinan besar Hinata memiliki luka yang cukup dalam.

Apa benar perkiraan Kakashi bahwa Hinata menyembunyikan lukanya?

'Semoga dia tidak menutupi apapun dariku.'

'Semoga dia benar-benar baik-baik saja.'

.

.

"Saya mendengarnya."

"Apa?"

"Saya mendengarnya. Saya tidak bermaksud menguping, tapi pelayan-pelayan itu menarik perhatian saya."

"Bagaimana keadaan Sakura-san?"

"Apa Hinata-sama akan bertahan disini? Wanita ini terus mengganggu Hinata-sama dan mengatakan seolah-olah Hinata-sama lah yang salah. Saya turut prihatin dengan kehilangan orang tuanya dan Sasuke-sama, tapi selain itu dia tidak berhak menyalahkan Hinata-sama. Ia menuduh Hinata-sama merebut Sasuke-sama, tapi apakah sebelum kedatangan Hinata-sama mereka adalah sepasang kekasih? Atau apakah sebelum kedatangan Hinata-sama Sasuke-sama pernah menerima cintanya? Sama sekali tidak. Mereka hanya bersahabat dan tidak ada yang merebut milik orang lain disini. Sasuke-sama berhak menentukan pilihannya sendiri."

"Bersikaplah sedikit sopan, Tsunade-san. Sakura-san adalah salah satu orang yang dianggap keluarga oleh Sasuke-kun, yang berarti keluarga saya juga."

"Memangnya saya bukan? Saya berbicara bukan hanya sebagai tabib keluarga Hyuuga, tapi sebagai bibimu. Hiashi-sama memang mengirim saya kesini untuk membantu proses penyembuhan keluarga kerajaan, tapi selain itu saya diminta Hiashi-sama untuk memantau kehidupan Hinata-sama. Sejak Hinata-sama menikah, Hiashi-sama selalu khawatir walaupun jarang ia tunjukkan. Apalagi setelah kejadian besar ini. Bukan tanpa alasan Hiashi-sama memerintahkan saya kesini. Saya tidak bermaksud menjadi mata-mata. Tapi, jangan salahkan saya jika saya menyampaikan hal yang tidak Hinata-sama inginkan, tapi itulah yang saya lihat."

"Apa yang Tsunade-san lihat memang benar-benar terjadi. Tapi, tidak seburuk yang Tsunade-san pikirkan. Sakura-san hanya sedamg dalam masa yang sulit sehingga ia tidak tidak tahu apa yang dilakukannya. Dia tidak bermaksud jahat."

"Jadi menurut Hinata-sama dia tidak jahat walaupun Hinata-sama melihat sendiri wanita ini hampir menghancurkan dua kerajaan besar? Apa yang ada dalam kepalanya saat itu? Dia sama sekali tidak berpik—"

"Tsunede-san."

"..."

"Semua orang pernah melakukan kesalahan. Tsunade-san yang mengajarkan itu padaku. Saya tidak mengatakan jika Sakura-san tidak bersalah sama sekali. Sakura-san memang turut memperlancar rencana Pein, tapi dia tidak berniat sedikitpun ingin menghancurkan dua kerajaan. Dengan atau tanpa bantuan Sakura-san, saya yakin bahwa rencana Pein tetap akan terjadi dan itu hanyalah masalah waktu. Lagipula, semuanya sudah baik-baik sekarang. Itu sudah cukup."

"Kenapa Hinata-sama hanya mengambil sifat-sifat ratu? Walaupun sedikit, ambillah sifat Hiashi-sama. Terkadang kita perlu menjadi keras agar tidak diremehkan oleh orang lain. Apa kau tidak ingat pesan Hiashi-sama sebelum Hinata-sama menikah? Hinata-sama harus menjadi kuat dan menghancurkan siapapun yang berusaha menyakiti Hinata-sama."

"Tidak ada yang ingin menyakiti saya, Tsunade-san."

"Baiklah. Mungkin saya memang tidak pantas menasehati Hinata-sama karena saya bukan siapa-siapa. Saya hanya seorang tabib keluarga Hyuuga yang kebetulan sebagai bibimu. Saya mengerti."

"Tsunade-san salah."

"Hm?"

"Sejak dulu saya sudah menganggap Tsunade-san sebagai pengganti Kaa-san. Sudah banyak yang Tsunade-san lakukan untuk saya. Saya tahu, Tsunade-san hanya ingin melihat saya bahagia. Tsunade-san hanya ingin melihat bahwa saya berada di lingkungan orang-orang yang menyayangi saya. Saya berharap Tsunade-san percaya pada saya ketika saya mengatakan bahwa saya akan baik-baik saja disini."

"Hinata-sama."

"Katakan pada saya, Tsunade-san. Apakah saya tidak boleh mendapatkan masalah? Jika saya menghadapi masalah, apakah saya harus lari dari masalah itu atau saya harus mencoba bertahan dan menyelesaikannya?"

"Hinata-sama, gomennasai."

"Saya menyayangi Tsunade-san, percayalah."

Kedua wanita yang saling berpelukan sambil menangis itu tidak menyadari bahwa wanita berambut pink di atas ranjang itu mengeluarkan air mata yang sudah ia coba tahan sejak tadi.

Ia mendengar semuanya.

Ia mendengarnya dengan jelas.

Sebelum ada yang menyadari, segera ia menghapus air matanya dengan sebelah tangannya. Banyak yang ia pikirkan sampai-sampai ia hampir frustasi. Pikirannya berkelana dan tersadar kembali ketika mendengar suara pintu yang ditutup dari luar.

Kedua wanita yang tadi ada di ruangannya telah pergi.

Ia sudah sendiri.

Ia sudah bisa membuka matanya.

Emeraldnya penuh dengan air mata yang langsung tumpah pada kedipan pertama.

Mereka sudah pergi.

Ia sudah sendiri.

Jadi, ia bisa menangis.

Ia sudah bebas menangis.

"Hiks, hiks, a-aku hiks, aku memang me-menyedihkan."

.

.

"Saya juga tidak menyangka."

Ingin sekali pemuda yang penuh dengan bekas memar itu memarahi dan mengancam para pelayan itu agar berhenti mengatakan hal yang buruk tentang gadia yang paling ia cintai.

"Padahal saya mengira Sakura-sama wanita paling berjasa untuk Uchiha Kingdom, tenyata kejadian tragis yang hampir menewaskan Sasuke-sama dan Hinata-sama adalah karena ulah Sakura-sama."

"Sakura-sama bahkan mengatakan bahwa ia wanita yang baik dan menyalahkan Hinata-sama."

"Benar. Padahal jelas sekali Hinata-sama tidak salah apapun, bahkan kabarnya yang menyelamatkan Uchiha Kingdom dan mengalahkan Pein-sama adalah Hinata-sama."

"B-benarkah? Bagaimana ceritanya? Aku belum mendengarnya."

Kedua tangannya mengepal erat disisi tubuhnya.

Ia ingin menghentikan 'gosip' tidak penting pelayan-pelayan itu.

Tapi, apa yang akan ia katakan?

Sakura tidak bersalah?

Walaupun hatinya ingin membohongi dirinya, tapi kenyataan itu terpampang jelas dihadapannya. Gadis yang dicintainya memang salah.

"Apa kalian juga melihatnya tadi? Sakura-sama sangat tidak terkontrol. Saya kira Sakura-sama orang yang bijak dan tenang, tapi ternya—Ah! Hinata-sama!"

"Para prajurit sudah waktunya menerima obat, kalian bisa memintanya pada Tsunade-san."

"Hai, Hinata-sama."

"Dan... Saya harap pembicaraan seperti tadi tidak akan terulang lagi. Juga saya tidak ingin kejadian tadi tersebar luas."

"Ha-Hai. Gomen, Hinata-sama."

.

.

'Apa Sakura-san sudah bisa memaapkanku?'

'Apa sebaiknya obat ini diberikan pelayan saja?'

"Hinata-sama."

Dia masih seperti biasa. Tersenyum seakan ia idak memiliki beban apapun dalam hidupnya. Setidaknya senyum sepeti itulah yang selalu ia berikan sejak aku berada di Uchiha Kingdom. Tapi, baru kali ini ai memangggilku dengan 'Hinata-sama'.

"Naruto-san."

"Hinata-sama terlalu banyak bekerja sejak kejadian beberapa hari yang lalu. Saya khawatir kesehatan anda menurun. Izinkan Saya yang mengantarkan obat untuk Sakura-chan. Lagipula Saya ingin melihat keadaannya. Hihi."

Mungkin lebih baik seperti itu. Lagipula Sakura-san butuh ketenangan yang mungkin tidak ia dapatkan dariku.

"Arigatou, Naruto-san."

.

.

Aku mendengar pintu terbuka. Tidak, aku tidak sanggup bertemu lagi dengannya untuk sekarang. tidak adalam keadaanku yang terlihat menyedihkan ini.

Apa sebaiknya aku berpura-pura tidur?

"Sakura-chan, ini aku."

Syukurlah. Hanya Naruto.

Apa ia menyadari bahwa aku tidak ingin bertemu dengannya? Jadi dia menyuruh Naruto? Tapi tetap saja. Aku sedang tidak ingin diganggu.

"Aku sedang tidak ingin diganggu Naruto."

"Aku hanya ingin memberikanmu obat. Hinata-sama yang membuatnya."

Apa aku tidak salah dengar?

"Hinata-sama?"

"Ya. Jadi kau tidak perlu kwawatir aku akan meracunimu. Hihi."

Aku tidak butuh candaanmu sekarang, Baka!

"Sejak kapan kau memanggilnya begitu?"

"Apa maksudmu, Sakura-chan?"

"Untuk apa kau memanggilnya 'Hinata-sama'? panggilan itu hanya pantas kau berikan untuk orang yang kau hormati dan kau segani. Dan dia tidak pantas mendapatlkannya."

Aku meragukan kata-kata yang baru kuucapkan.

"Sakura-chan, jangan lupa kalau Hinata-sama adalah istri Sasuke, ratu kerajaan."

Aku tahu, tapi...

"Sebelumnya kau tidak memanggilnya begitu. Lebih baik kau memanggilnya 'Hinata-chan' seperti pertama kali, daripada 'Hinata-sama'. Kau harus ingat Naruto, walaupun dia ratu sekalipun, tapi kita tetap orang yang paling dekat dan paling mengerti Sasuke-kun. Dia orang baru, tidak mengerti apa-apa, apalagi Sasuke-kun. 'Hinata-sama' akan membuat dia besar kepala, merasa sangat dihormati dan merasa bahwa kedudukannya lebih tinggi dari kita. Seharu—"

"Kapan kau akan menyadarinya, Sakura-chan?"

Apa lagi ini?

"Apa? Kau jangan bertele-tele Naruto!"

"'Hinata-chan' atau 'Hinata-sama' sama saja bagiku. Sejak awal aku memanggilnya 'Hinata-chan' karena aku sudah menganggap Sasuke sebagai saudaraku sendiri. Sasuke menikahi Hinata-sama, artinya Hinata-sama adalah adik perempuanku. Aku tidak pernah merasa ingin memiliki adik perempuan selama ini, tapi sejak aku melihat Hinata-sama aku merasa ingin melindunginya karena aku merasa ia tidak setegar seperti yang terlihat selama ini. Aku sering memperhatikannya, bukan karena alasan apa-apa, Aku hanya ingin Sasuke benar-benar mendapatkan gadis yang baik. Aku melihat ketulusan dalam matanya walaupun ia lebih sering diam dan hanya tersenyum tipis sesekali. Aku langsung menganggapnya adikku sendiri dan memanggilnya 'Hinata-chan'. Dan aku menyukainya."

"..."

"Kau mengatakan bahwa aku seperti sangat menghormatinya jika aku memanggilnya 'Hinata-sama', kan? Kau memang benar. Itulah yang sekarang kurasakan. Aku merasa tidak pantas menganggapnya sebagai adik perempuanku lagi. Dia, dia terlalu mewah untukku. Aku merasa tidak pantas, bahkan untuk menjadi seorang 'Nii-san' untuknya. Rasa hormatku padanyalah yang mengalahkan rasa sayangku untuknya. Jika ada kata yang lebih tinggi untuk diberikan pada seseorang, aku tidak akan berpikir dua kali untuk memanggilnya dengan kata itu."

"Kheh, jadi kau menyukai 'gadis kecil' itu? Kau juga mencintainya? Kau tidak tahu apa yang ada di belakang muka innocentnya. Apa semua pria tertipu olehnya?"

"Tertipu? Tidak ada yang tertipu dan menipu Sakura-chan. Aku ingin kau menyadari itu juga. Apa kau pernah melihat Sasuke tertawa setelah kematian keluarganya? Jangankan tertawa, tersenyum saja ia hampir tidak pernah. Tapi, setelah kedatangan Hinata-sama Sasuke menjadi lebih terasa benar-benar hidup. Bahkan belum genap seminggu Hinata-sama menginjakkan kaki di Uchiha Kingdom tapi sudah langsung dapat membuat Sasuke tersenyum dan lebih mau mendengarkan pendapat orang lain. Kau mengatakan bahwa kau sangat mengenal Sasuke. Jadi apakah kau mengenalnya sebagai orang yang mudah tertipu, apalagi oleh seorang wanita yang bahkan kau sebut 'gadis kecil'?"

Tidak

Sasuke-kun tidak pernah tertipu, bahkan oleh gadis-gadis cantik sekalipun.

Apa aku yang menipu diriku sendiri?

"Dan Kau tahu apa yang membuatku memanggilnya 'Hinata-sama' dan merasa tidak pantas menjadi Nii-sannya?"

Tidak.

"Para pelayan membicarakan tingkahmu tadi siang."

Dasar tukang gosip. Seharusnya mereka di pecat saja.

"Aku rasanya ingin memarahi mereka dan memaki-maki mereka. tapi aku tidak dapat melakukannya karena apa yang mereka katakan adalah benar."

"Benar apa?"

"Benar bahwa kau sangat tidak terkontrol tadi siang. Benar bahwa kau hampir menghancurkan dua kerajaan besar dan benar bahwa kau telah menyakiti hati Hinata-sama."

Naruto membenarknannya. Apa aku sudah sehina itu? Selama ini Naruto selalu memebelaku dalam keadaan apapun. Apa bedanya dengan sekarang? apa ia mencintai Hinata-sama? Eh? Apa yang kupikirkan? Untuk apa aku memanggilnya 'Hinata-sama'?

Apa artinya tidak akan ada orang yang akan membelaku? Apa semua orang berpikiran bahwa aku wanita yang jahat? Siapa yang akan tetap mempercayaiku?

"Hinata-sama. Aku tidak tahu mengapa. Tapi, Hinata-sama lah yang membela Sakura-chan. Ia mengatakan bahwa ia tidak ingin kejadian tadi siang tersebar luas dan tidak ingin mendengar percakapan seperti yang dibicarakan para pelayan itu lagi."

Apa dia benar-benar melakukannya? Tapi kenapa?

"Aku juga tidak tahu mengapa Hinata-sama melakukannya. Jika ku berada di posisis Hinata-sama aku akan sangat senang mendengar bahwa orang-orang membelaku. Tapi, Hinata-sama berbeda. Dia tidak memerlukan pujian. Bahkan Hinata-sama sangat ingin menjaga nama baikmu, Sakura-chan. Itulah alasan yang membuatku merasa ia terlalu terhormat. Karena dia menjaga kehormatanmu, Sakura-chan. Seharusnya itu jugalah yang Sakura-chan lihat."

"Jadi, kau membelanya, Naruto?"

Apa yang kukatakan?

Walaupun aku tidak ingin memperpanjang pembicaraan ini lagi, tapi mulutku tidak dapat berhenti menanyakan pertanyaan tak penting ini.

Ada apa denganku?

"Kau tahu bukan itu maksudku, Sakura-chan. Aku tidak membela siapa-siapa. Aku hanya ingin kau membuka matamu. Tolong, untuk kali ini saja coba melihat Hinata-sama tanpa mengaitkannya dengan Sasuke. Karena jika kau tetap melihatnya sebaga istri Sasuke, kau tetap dan selalu akan tetap buta."

"..."

"Dan untuk pertanyaanmu tentang apakah aku menyukai Hinata-sama, ya, aku menyukainya. Sangat menyukainya. Tapi, jika kau tanya apakah aku mencintainya maka kau lebih tahu jawabannya Sakura-chan."

Aku idak tahu, Baka!

"Kau tahu bahwa sejak dulu sampai sekarang yang kucintai adalah Kau, Sakura-chan."

Baka!

Hingga akhirnya pemuda tampan berambut mencolok itu menyadari bahwa ia sudah begitu banyak bicara.

"Hah, apa yang kukatakan? Aku rasa aku mulai terkontaminasi dengan rayuan-rayuan puitis Sasori. Hehe. Kau masih mengenalnya kan, Sakura-chan? Playboy berambut merah itu. Sebaiknya aku segera pergi. Semoga cepat sembuh Sakura-chan. Jaa."

Baka! Baka! Baka!

Naruto baka!

Arigatou.

.

.

Cklek.

"E-eh? Hinata-sama?"

"Selamat sore Kakashi-san, Chouji-san, Shikamaru-san."

"Sejak kapan Hinata-sama berdiri di luar?"

Bukan. Bukan karena mereka takut sang ratu mendengar percakapan mereka karena ruangan Sasuke-sama adalah ruangan yang kedap suara. Tapi mereka khawatir telah memuat sang ratu menunggu lama.

Walaupun Hinata-sama tetap tersenyum seperti biasa, tetap saja mereka tidak enak hati. Apalagi melihat apa yang sedang dibawa oleh 'sang ratu'. Obat untuk Sasuke-sama.

"Saya hanya tidak ingin mengganggu."

"Maafkan kami, Hinata-sama."

"Tidak apa-apa."

Selanjutnya Hinata membalas permisi undur diri mereka dengan senyuman.

"Kau jangan terlalu sering tersenyum seperti itu, Hinata."

"Hm?"

"Bagaimana jika mereka menyukaimu? Aku tidak mungkin memecat tiga orang kepercayaanku itu, kan?"

Hinata tahu jika sebenarnya Sasuke hanya bercanda.

"Sasuke-kun terlalu berlebihan."

"Aku tidak berlebihan, aku mengatakannya karena aku juga laki-laki. Senyumanmu itu membahayakan."

"Kakashi-san berumur dua kali lipat umurku. Chouji-san dan Shikamaru-san sudah kuanggap sebagai pengganti Neji-nii."

"Neji? Siapa?

"Sudahlah. Kita bisa membicarakannya lain kali. Sasuke-kun harus minum obat sekarang karena ini sudah sangat terlambat."

"Baiklah, aku akan meminum obatnya. Tapi, siapa Neji?"

Kenapa lelaki ini sangat keras kepala? Dan untuk apa harus memandang tajam seperti itu? Neji-nii kan hanya saudara sepupu jauh saja.

"Neji-nii hanya seorang sepupu."

Hinata lalu duduk di samping Sasuke dan memberikan obatnya. Obat yang sama dengan yang diberikannya tadi pagi, cukup pahit.

"Kenapa tidak ada buah?"

Mungkin Sasuke belajar dari 'pengalamannya' meminum obat itu tadi pagi. Ia seperti anak kecil yang meminta manisan untuk menghilangkan rasa pahit yang terasa pekat di mulut dan tenggorokannya.

"Obat ini tidak boleh diminum bersamaan dengan buah, Sasuke-kun. Reaksi obatnya akan lambat jika diminum dengan buah. Aku sudah menyiapkan madu untuk Sasuke-kun."

"Hn."

Sasuke pun meminum obatnya.

Hinata sangat senang dengan perkembangan kesehatan Sasuke. Dia tidak menyangka pemulihan Sasuke bisa secepat ini, apalagi ia sudah dikejutkan dengan kecepatan kesadaran Sasuke kemarin.

Memikirkannya membuat gadis cantik itu tersenyum manis.

CUP

E-eh?

"Pengganti buah. Obatnya sangat pahit, Hime."

"Sasuke-kun kan bisa minum madu itu."

Entah mata Hinata yang salah lihat atau memang Sasuke sedikit mengerling nakal padanya. Ia tidak menyangka suaminya yang tampak cool memiliki ekspresi seperti itu.

"Kalau ada yang lebih manis, kenapa tidak?"

Sepertinya memang bukan Hinata yang salah lihat.

"G-gombal!"

"Hahaha."

Ini dia salah satu yang paling Sasue sukai dari Hinata. jika digoda ia akan langsung memerah pipinya. Dan merahnya bukan memerah tipis yang hampir tak terlihat tapi memerah hampir menyerupai tomat. Benar-benar menggemaskan dan membuatnya lebih muda dan segar dibandingkan dengan umurnya. Bagaimana bisa dia tampak begitu muda dan dewasa di waktu bersamaan? Entahlah, yang pasti Hinata selalu mempesona baik ketika dia tampak muda ataupun tampak dewasa.

Tampan.

Hinata tidak menyangka lelaki yang menikahinya ternyata sangat tampan. Bahkan lelaki tertampan yang pernah ia lihat.

Apalagi saat tertawa seperti sekarang.

'Tidak heran jika Sakura-san sangat menyukai Sasuke-kun.'

Memikirkannya membuat Hinata sedikit murung. Ia sangat menyesal atas kejadian tadi.

Apa memang aku telah merebut Sasuke-kun dari Sakura-san?

"Apa yang kau pikirkan, Hinata?"

"Tidak ada. Sebaiknya Sasuke-kun istirahat."

"Tapi kau harus menemaniku, berbaring sendiri disini sangat membosankan."

"Tap—"

"Ayolah, Hinata. Kau meninggalkanku selama empat jam, sekarang kau pun tidak mau menemaniku istirahat?"

Hinata tampak berpikir sebentar sebelum menyunggingkan senyumnya dan mencoba duduk kembali di samping Sasuke. Tapi, sebelum Hinata benar-benar duduk Sasuke langsung menarik tangannya hingga Hinata kini berbaring disampingnya. Di pelukannya.

Hinata tahu ia tidak bisa berbuat apa-apa jika Sasuke sudah menginginkan sesuatu.

"... Aku sudah mengenalnya sejak kecil, jika Sasuke-kun mengatakan akan melamarmu, maka ia akan melakukannya... "

Seperti yang dikatakan Sakura.

Mengingat Sakura mau tidak mau mengingatkannya juga pada kejadian siang itu dan perkataan-perkataan Sakura padanya.

"Aku lebih dulu mengenalnya dan mencintainya. Bukan kau. Apa kau tahu makanan kesukaannya, warna kesukaannya? Apa yang biasa ia lakukan jika sedang marah atau kesal? Apa kau tau apa saja yang tidak disukaki Sasuke-kun? Aku. Aku yang tahu semua itu."

Hinata sebenarnya sangat kasihan melihat Sakura.

Dia tahu bahwa Sakura sebenarnya adalah wanita yang baik.

Mungkin persekongkolan dengan Pein itulah satu-satunya kesalahan yang benar-benar dilakukannya.

Hinata tahu bahwa Sakura benar-benar mencintai suaminya, Sasuke.

Tapi, ia juga tidak tahu harus bagaimana mengahadapi Sakura.

Ia tidak mungkin mengatakan bahwa gadis cantik berambut pink itu harus melupakan Sasuke karena Sasuke sudah menjadi suaminya sekarang, miliknya.

Ia tidak mungkin mengatakannya karena seperti yang dikatakan Sakura, ialah yang lebih dulu mengenal dan mencintai Sasuke. Dan pasti ada di saat-saat Sasuke mengalami masalah.

Sedangkan dia?

Hanya seorang yang kebetulan dipilih oleh Sasuke untuk menjadi pendamping hidunya. Jika bukan karena ia adalah putri Hyuuga Hiashi hampir dapat dipastikan bahwa bukan Hinatalah yang akan dipilih Sasuke menjadi istri.

Ia hanya 'istri kebetulan'.

Jadi, ia tidak mungkin mengatakan dengan mudahnya 'Lupakan Sasuke-kun'.

Disatu sisi, ia juga tidak mungkin mengatakan 'Aku akan mengembalikan Sasuke-kun padamu'.

Selain karena Sasuke memang bukan sebuah barang yang dapat seenaknya dipindahtangankan, entah kenapa Hinata merasa tidak sanggup mengatakannya. Sebahagian dari hatinya merasa tidak rela jika sampai lidahnya mengucapkan kata-kata itu.

Bagaimana mungkin ia dapat melepaskan seseorang yang baru pertama kalinya dapat membuat hatinya khawatir berlebihan ketika melihatnya terbaring tak berdaya, seseorang yang dengan rela mengorbankan nyawanya karena melindunginya, seseorang yang mempercayakan hatinya padanya?

Ia tidak mungkin melakukannya setelah ia mengetahui perasaan macam apa yang sedang ia rasakan.

Cinta.

Ya, cinta.

Ia –Hinata—mencintai Sasuke, suaminya.

Ketika untuk pertama kalinya ia mengenal perasaan yang hanya pernah ia baca lewat buku-buku dan novel-novel cinta, rasanya tidak mungkin ia melepaskan perasaan itu begitu saja, kan?

Sasuke mencintainya

Dan dia –Hinata—mencintai Sasuke.

Seharusnya tidak ada yang salah dengan hal itu, kan?

Sakura-san...

Ia sangat menyesal dengan apa yang dialami Sakura. Pasti beban yang dihadapinya sangatlah besar hingga membuat gadis setegar itu sampai menangis dan hampir kehilangan jati dirinya.

Hinata menyadari bahwa Sakura juga pantas berbahagia dengan orang yang dicintainya.

Tapi, apa yang harus dilakukannya? Atau apa yang harus dikatakannya?

Ketika mendengar Sakura terus-menerus mengatakan bahwa ia sangat mencintai Sasuke sejak kecil saja -tidak dapat dipungkiri- membuatnya merasa sedikit terganggu dan tidak senang mendengarnya. Ia merasa, entahlah.

Cemburu, kah?

Hinata sering mengalami perasaan seperti ini. Mirip.

Ketika ia melihat dari 'sangkar emas' para gadis yang bermain-main dengan teman-teman seusia mereka, ketika para gadis berdandan yang terbaik untuk pergi ke festival yang diadakan di lapangan besar di tengah-tengah Hyuuga Kingdom setahun sekali atau ketika ia melihat seorang gadis kecil yang menangis di pelukan Kaa-sannya karena mainannya diambil oleh temannya.

Perasaan tersebut mirip dengan perasaan yang dirasakannya sekarang.

Merasa tidak suka.

Merasa ingin sama bahagianya dengan mereka, bahkan lebih.

Merasa ingin sama dengan Sakura, bahkan lebih.

Bahkan lebih dalam mengenal Sasuke.

Sasuke, suaminya.

"Sasuke-kun?"

"Hn?"

"Apa warna kesukaan Sasuke-kun?"

.

.

Aku memintanya untuk menemaniku tidur.

Rasanya tidur itu membosankan jika Hinata tidak ada dipelukanku.

Apa aku sudah mengatakannya bahwa sejak kejadian kemarin Hinata selalu tidur dipelukanku?

Hal itu membuatku selalu terasa hampa jika tidak ada Hinata di sampingku.

Sebenarnya pikiranku masih terganggu dengan percakapanku dengan Kiba, Shikamaru dan Kakashi tadi. Tapi sebisa mungkin aku mencoba untuk menutupi kecemasanku.

Sejak aku terbangun aku tidak melihat sedikitpun pergerakan yang aneh dari Hinata yang menandakan ia terluka.

Apa Hinata tidak terluka sama sekali?

Tapi, bagaimana bisa?

Jika Pein benar-benar mengacungkan pedang pada Hinata seperti yang diceritakan Kakashi pasti akan terjadi sesuatu pada Hinata.

Atau jangan-jangan Hinata benar-benar terluka dan menyembunyikan lukanya?

Argh!

Aku jadi merasa sangat bersalah karena menghadapkan Hinata pada masalah seperti ini.

Apa yang akan dikatakan Hiashi-sama jika melihat putrinya terluka?

Aku ragu antara menanyakan keadaannya atau tidak. Tapi, mengingat sifat Hinata yang tertutup dan tidak mau merepotkan orang lain pasti ia mengatakan bahwa ia tidak apa-apa. Hal itu membuatku merasa menanyakannya adalah hal yang sia-sia dan membuat Hinata lebih berhati-hati dalam menyembunyikan lukanya.

Tapi, aku sama sekali tidak mempunyai pilihan lain selain menanyakannya langsung.

Ya, sepertinya langsung kutanyakan saja.

"Sasuke-kun."

Suara lembutnya sama sekali tidak mengagetkanku, tapi cukup membuatku tersadar dari lamunanku dan tepat ketika aku akan menanyakan keadaannya.

"Hn?"

"Apa warna kesukaan Sasuke-kun?"

.

.

Tbc

.

.

Maaf, kesibukan kuliah dan kondisi kesehatan yang kurang bagus membuat saia menelantarkan fic ini selama hampir 3 bulan, sebagai permintaan maaf ini adalah chap terpanjang.

Terima kasih untuk yang masih mau menunggu kelanjutan fic ini, apalagi sampai PM for update.

Khawatir membuat beberapa reader menunggu lagi untuk next chap tadinya ini mau ditamatin, tapi setelah baca ulang kesannya alurnya sangat maksa T_T

Jadinya tulis ulang deh dan beginilah hasilnya, monoton bin panjang plus membosankan #tunjuk atas.

Sudah dicoba membersihkan typo dan belajar memperbaiki tulisan, tapi jika masih banyak yang nyempil mohon maaf.

BIG THANKS FOR ALL READERS AND REVIEWERS. You're my BIG SPIRIT.