Disclaimer: Inuyasha adalah hak milik Rumiko Takahashi...

A/N: Halo, masih adakah disana yang membaca fic ini? Haha, untuk kalian yang menunggu, maaf aku baru bisa update sekarang. Soalnya, sepertinya fic ini kurang banyak peminatnya jadi aku sedikit malas untuk melanjutkannya… Kebetulan sekarang ini aku sedang punya banyak waktu luang, jadi kupikir, kenapa tidak coba lanjutkan fic ini? Haha. Oke. Cukup dengan celotehku, on to the story!

Chapter 8.

...

Bunyi alarm di pagi hari itu serentak membangunkan Inuyasha. Pemuda berambut panjang itu menggerutu dan mengumpat, kesal karena tidurnya terganggu.

"Alarm bodoh. Kenapa kau harus berbunyi eh?" geramnya kesal. Meski begitu, ia pun segera turun dari kasurnya dan bersiap-siap untuk kesekolah.

Saat dia turun ke dapur, dilihatnya Sesshomaru sedang duduk di sebuah kursi, tengah menikmati secangkir kopi hitam favoritnya.

Inuyasha menaikkan sebelah alis matanya. 'Tumben sekali orang ini belum pergi kerja.'

Tanpa basa basi, dia berjalan menuju pintu keluarnya. Dia sudah hampir telat.

"Tunggu, Inuyasha."

Inuyasha menoleh kearah kakaknya itu, sedikit kesal karena dia sedang buru-buru.

"Apa maumu, Sesshomaru?" jawabnya dingin.

Sesshomaru terdiam sebentar sebelum dibalasnya lagi jawaban dingin dari adiknya itu. "Inuyasha. Aku tahu kau membenciku. Tapi kau tidak bisa memungkiri kenyataan kalau kita ini adalah saudara. Bisakah kita hentikan permusuhan ini?"

"K-keh. Aku tahu itu. Tapi bukan berarti aku harus beramah tamah padamu setiap hari. Apa yang kulakukan, itu semua hak dan urusanku. Lagipula, aku tidak pernah memusuhimu. Aku hanya…." Inuyasha terdiam beberapa saat, tidak ingin melanjutkan perkataannya.

"Sudahlah. Aku lebih baik pergi sekarang, aku sudah telat." Ucapnya singkat sebelum dia lari meninggalkan Sesshomaru yang menatap kepergian adiknya dengan kekecewaan.

.

.

.


"Kagome. Bangun."

"…..huh?"

Gadis berambut hitam legam itu perlahan membuka matanya. "Eh? Ada apa, Sango?"

Sango tertawa kecil. "Kau tertidur sepanjang pelajaran. Yah, aku tidak bisa menyalahkanmu sih. Memang pelajaran sejarah itu membosankan… Buat apa coba kita belajar tentang siluman di jaman Sengoku Jidai?"

Kagome mengusap matanya. "Uh… tak kusangka aku bisa sampai ketiduran. Memang pelajaran sejarah sangat membosankan. Hei, sekarang pelajaran apa, Sango?"

"Um… Sekarang kita sedang istirahat, Kagome." Jawab gadis berambut brunet itu.

"HAH?!" Kagome langsung panik, mengingat janjinya kepada Inuyasha

"Sango jam berapa sekarang?" Tanyanya lagi. Dia sudah susah-susah bangun pagi khusus menyiapkan makan siang buat pemuda itu hari ini! Jangan bilang istirahat sudah mau selesai!

Sango melirik jam tangannya. "Hmm, baru jam 12.30. Bel istirahat sudah bunyi setengah jam lalu sih, cuma aku tidak tega membangunkanmu dari tadi.

'Berarti aku masih punya waktu 20 menit untuk menemui Inuyasha!' pikir Kagome. Diambilnya kotak bekal dari dalam tasnya dengan buru-buru.

"Sango, aku pergi dulu yah! Sampai nanti!" ujarnya seraya berlari meninggalkan kelas.

"Hey- Kagome!"

Tak digubrisnya panggilan dari temannya itu. Dia harus mencari Inuyasha… Dimanakah pemuda itu?

'Oh ya, dia menyuruhku menemuinya di kebun belakang sekolah kemarin.' Pikirnya. Dengan segera, dia berlari kearah belakang sekolah, dalam hati berdoa semoga Inuyasha masih disana.

Beberapa menit kemudian, iapun sampai di kebun belakang sekolah. Dilihatnya sekitar, mencoba mencari pemuda berambut panjang itu.

"Yah…" desahnya pelan. "Sepertinya dia sudah pergi."

Kagome benar-benar kecewa. Dia pun membalikkan badannya untuk meninggalkan tempat itu. Namun, tiba-tiba dirasakannya sebuah tangan yang menepuk bahunya. Dia berpaling dan seketika matanya cokelatnya beradu dengan mata violet milik laki-laki yang sedang dicari-carinya.

"Yo." Inuyasha tersenyum penuh arti kepada gadis didepannya itu.

Kagome mengedipkan matanya beberapa kali sebelum dia tersenyum lebar. "Inuyasha! Aku kira kau sudah pergi! Tadi aku tidak melihatmu disini!"

Inuyasha hanya tertawa kecil. "Aku ini ninja, Kagome. Aku bisa datang dan menghilang kapanpun aku mau."

Kagome menaikkan sebelah alis matanya. "Ninja? Kemarin kau bilang padaku kau adalah seorang kesatria berbaju baja. Sekarang ninja? Profesimu banyak juga ya, Inuyasha."

"Hey, keduanya kan mirip." Elak Inuyasha.

Kagome hanya tertawa. "Apa katamu deh, Inuyasha. Omong-omong, tanganmu bagaimana?"

Inuyasha menunjukkan tangannya yang terperban kepada Kagome. "Sudah tidak sakit sih. Luka seperti ini sudah sangat biasa buatku. Kau tidak tahu betapa barbar nya lawan tanding sepak bolaku."

Kagome menarik nafas lega. "Baguslah kalau begitu… Oh ya, ini makan siang yang kujanjikan!"

"Wah, kau benar-benar membawakannya untukku! Terima kasih ya!" jawab Inuyasha dengan mata berbinar-binar.

"Membuat bekal saja sih, masalah gampang untukku." Balas Kagome.

Inuyasha tersenyum, namun sebuah plester di jari telunjuk Kagome menarik perhatiannya.

"Hei, Kagome, mengapa ada plester di jarimu? Kau terluka?" tanyanya sambil memegang tangan gadis didepannya itu.

Pipi Kagome memerah karena kedekatan mereka berdua. "Oh, uh…. Ini… Ah, tidak apa-apa. Aku tidak sengaja menggores jariku dengan pisau tadi pagi…Soalnya aku- aku buru-buru."

Inuyasha mengeryitkan dahinya. "Jangan bilang, karena kau masak untukku tadi pagi?"

Kagome mengangguk pelan. "Hehe. Iya, aku bangun kesiangan sih, jadi buru-buru."

Inuyasha hanya diam menunduk. Ekspresi di wajahnya sulit dijelaskan.

"Inuyasha?" panggil Kagome dengan hati-hati.

"Maaf ya, Kagome. Sepertinya dari awal kita bertemu aku ini hanya merepotkanmu. Aku ini sepertinya memang hanya bisa merepotkan orang ya. Pantas saja ayah lebih memilih Sesshomaru dariku…" Jawab Inuyasha pelan.

Namun Kagome mendengar semua perkataan Inuyasha dengan jelas. Dia menggeram dengan kesal. Kenapa tiba-tiba dia harus membawa-bawa hal itu lagi?

"Hey Inuyasha, kau ini kenapa sih? Kenapa tiba-tiba seperti itu? Ini hanya luka kecil! Besok-besok juga sudah hilang! Kau ini apa-apaan sih? Siapa yang merepotkan, hah? Jelas-jelas tadi malam kau yang terluka karena menolongku!" ucap Kagome kesal.

Inuyasha hanya memandang gadis didepannya dengan wajah kaget. Kenapa dia jadi marah-marah sendiri begini?

"Jangan sekali-sekali… Kau berbicara seolah-olah dirimu itu tidak berguna, Inuyasha." Lanjut Kagome dengan nada pelan. "Karena menurutku, kau sama sekali tidak begitu…"

Inuyasha tersentak mendengar ucapan gadis itu. "Kagome..?"

"Inuyasha, aku tidak mau tahu apa anggapan orang lain padamu, atau pandanganmu sendiri terhadapmu. Kau bukan 'orang lain' di mataku. Meski kita ini baru beberapa minggu bertemu…. Tapi ntah kenapa sepertinya…. Aku sudah mengenalmu lama sekali.,,, Seolah-olah, denganmu seperti ini adalah hal wajar untukku. Aneh sekali ya? Padahal kita saling kesal dengan satu sama lain saat pertama kita bertemu." Tutur Kagome pelan.

Inuyasha membuka mulutnya untuk bicara. Dia ingin mengatakan pada gadis itu, bahwa dirinya sebenarnya juga merasakan hal yang sama… Ntah mengapa, hatinya terasa nyaman dan tentram saat dia bersama gadis itu. Seperti dia memang ada untuk dirinya. Namun ia segera mengurungkan niatnya untuk berbicara karena dilihatnya Kagome sepertinya masih ingin melanjutkan perkataannya.

"Aku… aku peduli padamu, Inuyasha. Aku senang bisa berada di dekatmu…. Karena aku suka padamu, Inuyasha."

Sesaat setelah kalimat itu meluncur dari bibirnya, Kagome tersentak kaget.

'Astaga, apa yang kukatakan barusan? Aku baru saja mengakui perasaanku pada Inuyasha!'

Dia tidak ingin melihat reaksi Inuyasha akan perkataannya, oleh karena itu, iapun memutuskan untuk mengambil jalan pintas: lari meninggalkannya.

Namun, baru selangkah ia maju, sepasang tangan kuat dan kekar telah mendekapnya dari belakang. Hati gadis itu berdegup kencang. Apa yang Inuyasha lakukan?

"Jangan pergi dulu." Bisik Inuyasha pelan.

"Tidak… lepaskan, biarkan aku pergi…" Kagome meronta lemah. Jantungnya berdebar tak karuan. Dirasakannya darah mengalir ke wajahnya, membuat mukanya merah padam.

Inuyasha sendiri pun sedang bersusah payah menenangkan dirinya sendiri. Dia baru saja menguasai kekagetannya dari apa yang dikatakan Kagome barusan.

"Keh. Kau baru saja bilang padaku kau suka kepadaku, dan sekarang kau mau meninggalkanku kebingungan sendiri disini? Katanya kau peduli padaku." Ucap Inuyasha dengan nada tenang.

Kagome membalikkan tubuhnya dan menatap pemuda berambut panjang didepannya itu. "Aku memang peduli padamu!"

"Dengarkan aku dulu, kalau begitu." Jawab Inuyasha serius.

"Aku tidak mau- Anggap saja kau tidak pernah mendengar apa yang kukatakan barusan. Kumohon, jangan buat aku serba salah begini, Inuyasha. Aku tahu- Kau sudah punya pacar, aku tahu, aku tidak seharusnya-"

"Bisa tidak sih, kau dengarkan aku dulu?!" ucap Inuyasha dengan nada sedikit kesal. Kenapa gadis ini mesti sebegini keras kepalanya, sih?

Kagome terdiam dan menggigit bibirnya. "Baiklah…"

Inuyasha menarik nafas panjang. "Aku… Aku jujur tidak menyangka kau akan mengatakan hal itu kepadaku, Kagome."

Mendengar ucapan Inuyasha itu, Kagome merasakan hatinya mulai bergetar. Dia menundukkan kepalanya, berdoa dan memohon-mohon dalam hati kalau semua ini bukan kenyataan.

"Dan sekarang, aku merasa aku juga harus mengatakan hal ini padamu. Tiap kali aku berada di dekatmu, aku merasa aman dan tentram. Seolah olah memang seperti ini seharusnya." Lanjut Inuyasha lagi.

Kagome tetap menundukkan kepalanya, tidak ingin melihat ekspresi pemuda berambut panjang didepannya itu.

"Tanpa kusadari, sosokmu, keberadaanmu, mulai jadi sesuatu yang penting untukku. Aku… aku juga peduli padamu, Kagome. Mungkin lebih dari yang kau dan aku tahu." Suara Inuyasha, biarpun pelan, terdengar semakin jelas di telinga Kagome.

Gadis berambut hitam itupun mulai merasa hatinya berdebar makin kencang dan tak karuan. Dia memang tidak menatap Inuyasha, tapi dia bisa merasakan betapa dekatnya wajah mereka berdua sekarang.

"Tapi…." Inuyasha berhenti untuk beberapa saat.

Sementara itu, Kagome mengumpulkan segenap keberaniannya untuk kembali menatap Inuyasha. Ditatapnya mata violet milik pemuda itu. Sorot matanya sayu, namun tulus dan hangat. Namun, ia juga menangkap sepercik emosi lain di mata pemuda itu. Apa…? Sesalkah? Perasaan bersalahkah?

"Aku…. Aku tidak mengerti perasaanku sendiri Kagome. Mungkin ini semua terlalu cepat bagiku… Namun…. Untuk sekarang ini, sepertinya aku tidak bisa menjawab perasaanmu itu, Kagome. Karena aku tidak bisa menyakiti Kikyo…."

Mendengar ucapan itu keluar dari bibir Inuyasha, hati Kagome seperti ditusuk jarum. Jadi dia mengatakan hal-hal sebelumnya itu untuk menyenangkan dirinya saja?

"A-Aku tahu kok, Inuyasha…" tutur Kagome pelan, air mata mulai membendung di kedua pelupuk matanya. "Kau tidak usah memberitahkukan kepadaku, aku sangat mengerti."

"Kagome…Maaf, aku…." Inuyasha mengangkat tangannya untuk menyentuh pipi Kagome.

Namun Kagome dengan segera menangkap tangan pemuda itu, dan mendekapnya pelan dengan kedua tangannya sendiri.

"Inuyasha, Aku tidak apa-apa kok. Kau tidak usah minta maaf- aku yang harus minta maaf karena sudah membuatmu bingung." Ucapnya pelan sambil berusaha tersenyum.

Inuyasha terlihat ragu-ragu. "Kagome, aku-"

"Sshh…" Kagome menyentuh bibir Inuyasha dengan jari telunjuknya. "Kau tidak usah bilang apa-apa lagi. Anggap saja tadi aku hanya bercanda! Nanti aku malah jadi merasa tidak enak padamu! Jangan khawatir, aku baik-baik saja kok!"

Inuyasha terus menatap Kagome. Gadis itu tersenyum, namun ia tahu itu bukanlah senyum yang tulus dari hatinya…

TENG TENG TENG

"Ah, bel selesai istirahat sudah berbunyi. Aku kembali ke kelas dulu ya, kau juga sebaiknya kembali ke kelas…" ujar Kagome.

Inuyasha mengangguk. Sebenarnya ia belum ingin melepas pergi gadis itu. Sepertinya masih banyak hal yang harus dia katakan kepadanya… Namun situasinya memang tidak memungkinkan.

"Sampai jumpa, Inuyasha." Ucap Kagome sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.

Inuyasha mencoba untuk tersenyum balik kepadanya. "Sampai nanti juga, Kagome."

Inuyasha hanya bisa memperhatikan punggung Kagome yang semakin menjauh.

"Aku juga sayang padamu, Kagome." Bisiknya lirih. "Tapi mungkin kau tidak akan pernah bisa mengetahui hal itu…"


End Chapter


A/N: Dan itu dia akhir dari chapter 8! Bagaimana? Terlalu singkat? Terlalu panjang? Terlalu romantis? (ihiiiy)

Oh iya, apa kalian setuju kalau cinta segitiganya (ato segiempat ya -_-) kubuat jadi Sess-Kag-Inu-Kik? Haha. Tapi pairing utama bakalan tetep Inu-Kag sih, soalnya authornya ini udah cinta mati sama itu pairing…. Hohoho.

Akhir kata, semoga kalian suka chapter ini dan jangan lupa tinggalkan pendapat kalian! Review akan sangat kuhargai *_*