.
.
Cecil Hime was borrowed Masashi's characters
.
.
Sejak kecil ia selalu bertanya bagaimana rasanya memiliki orang tua.
Orang tua lengkap. Otou-san dan okaa-san.
Memiliki saudara. Laki-laki dan perempuan.
Ia memang memiliki Neji, tapi itu tidaklah cukup karena kebersamaannya dengan sepupunya itu hanya dua tahun. Selebihnya ia menjalani kehidupannya nyaris sendiri.
Sendiri karena seorang Hyuuga Hiashi hanya akan memanggilnya untuk melihat perkembangan latihannya. Atau untuk menegaskan 'peraturannya' tentang dilarang melangkahkan kaki keluar istana.
Tidak jarang ia sengaja 'tertangkap basah' keluar dari istana beberapa langkah sebelum dihentikan dayang penjaganya dengan harapan malamnya akan dipanggil 'sang ayah' untuk 'diperingatkan'. Bukan tanpa alasan pula ia sengaja melakukan gerakan salah saat latihan pedang dengan harapan Hyuuga Hiashi akan mendekatinya, menyentuh tangannya, dan menunjukkan bagaimana cara memegang pedang yang benar dan melakukan gerakan yang benar. Dia hanya ingin merasakan belaian kasih orang nomor satu di Hyuuga Kingdom itu.
Merupakan hal yang mewah untuknya bertatap muka dengan raja besar itu. Dia tidak ada bedanya dengan seorang rakyat biasa di luar sana yang akan sangat menanti momen dimana ia bertatap muka dengan penguasa Hyuuga Kingdom.
Sejak kecil Hinata sudah mengetahui kartu As-nya.
Kesalahan. Kelemahan. Ketidaksempurnaan. Pembangkangan.
Itulah kartu As-nya.
Yang dapat menarik perhatian seorang Hyuuga Hiashi.
Karena disaat ia melakukan pembangkanganlah Hyuuga Hiashi akan memanggilnya.
Karena disaat ia membuat kesalahanlah Hyuuga Hiashi akan mengajarinya.
Karena disaat ia menunjukkan kelemahanlah Hyuuga Hiashi akan berbicara padanya.
Dan di saat-saat seperti itulah ia akan dapat melihat dengan jelas wajah Hyuuga Hiashi mulai keriput saat umur 40 tahun dan semakin tampak setelah ia berumur 45. Juga dapat melihat tangan seorang Hyuuga Hiashi diperban beberapa kali, yang tidak pernah bisa Hinata tanyakan kenapa bisa terjadi luka di tangan seorang raja.
.
.
Dua minggu sudah Sasuke menjalani perawatan rutin dari Hinata, yang berarti sudah dua minggu pula sejak kejadian perlawanan Pein.
Selama iu pula Hinata tidak pernah lagi berbicara dengan Sakura kecuali saat 'pertengkaran kecil' yang sempat menjadi tontonan para dayang istana. Kebisuan yang mereka buat selama hampir dua minggu itu tidak tampak menyelesaikan apa-apa.
Hinata bukannya tidak mau menyapa Sakura terlebih dahulu, dia hanya tidak ingin memicu pertengkaran kedua jika ternyata wanita cantik yang sudah mengabdi untuk Uchiha Kingdom—sejak kecil—itu masih dalam keadaan yang labil.
Ya. Hinata tidak ingin dibenci oleh siapapun.
Ia –sebenarnya—ingin memiliki teman.
.
.
Sudah tidak tampak lagi Tsunade yang biasanya berkeliaran di Uchiha Kingdom karena memang kondisi sang raja sudah cukup baik, bahkan hari ini akan kembali memimpin rapat seperti biasa di ruang pertemuan. Bukan di atas tempat tidur seperti minggu lalu.
Ruang pertemuan terletak di sayap kiri dari istana kerajaan, ruangan dengan ukuran terluas setelah aula.
Sebenarnya pertemuan seperti ini hanya diadakan satu bulan sekali karena biasanya keadaan Uchiha Kingdom selalu aman terkendali di bawah pimpinan Uchiha terakhir.
Tapi itu biasanya.
Kajadian dua minggu lalu memaksa semua petinggi kerajaan diwajibkan menghadiri pertemuan itu, menghadirkan dua perwakilan dari masing-masing divisi.
Masing-masing perwakilan memiliki hak yang sama mengemukakan pendapat yang didapatkan dari rapat internal divisi masing-masing.
Pro dan kontra banyak terdengar.
"Beliau sudah mengabdi pada Uchiha Kingdom sejak kecil, banyak jasa yang telah ia lakukan untuk kemajuan kerajaan. Ia juga belum pernah melakukan kesalahan sebelumnya. Apakah dengan kesalahan kecil itu saja beliau harus menerima hukuman itu?"
"Maaf, Lee-san. Semua orang tahu bahwa keasalahan yang –walaupun hanya satu-satunya—diperbuat oleh Beliau bukan masalah kecil. Perbuatannya dapat menghancurkan Uchiha Kingdom. Saya rasa anda dapat membayangkan sendiri jika terjadi perang antara Uchiha Kingdom dan Hyuuga Kingdom."
"Baiklah, saya mengerti. Tapi tolong dipertimbangkan juga bahwa Beliau sudah menjadi bagian dari kita dalam waktu yang cukup lama. Mengapa kita tak mencoba mengerti posisisnya sekali ini saja? Apakah dengan kesalahan sekali kita dapat langsung menjatuhkan hukuman sebesar itu untuknya?"
"Kami juga mengerti, Lee-san. Tapi, yang butuh pengertian disini adalah rakyat bukan kita. Saya juga tidak dapat membohongi diri saya sendiri bahwa saya juga ingin meringankan bahkan menghapuskan hukuman beliau mengingat jasa-jasanya. Semua keputusan ini adalah untuk rakyat. Saya tidak tahu bagaimana rakyat mengetahui kronologi peristiwa malam itu, tapi yang paling penting adalah mereka meminta keadilan ditegakkan juga untuk petinggi kerajaan."
"Saya setuju dengan Chouji-san. Maaf Lee-san, sepertinya kali ini pandangan kita sedikit berbeda. Mungkin berat melakukan ini, tapi jika tidak dilakukan maka pertahanan kerajaan akan menurun drastis. Banyak hal buruk yang akan terjadi jika keputusan yang paling tepat tidak diputuskan secepatnya, bahkan dapat berujung pada pemberontakan dalam Kerajaan."
Sasuke sudah mencoba bersabar dari tadi. Jika tetap seperti ini sampai dua jam lagi pun tak akan terlihat keputusan yang akan diambil.
Sejak awal pertemuan ini, sesekali ia lemparkan pandangannya pada Naruto. Panglima besar yang tidak pernah absen menyampaikan pendapatnya di tiap pertemuan itu bungkam untuk saat ini. Tak ada sepatah katapun yang ia ucapkan.
Dan Sasuke mengerti penyebabnya.
Masalah ini sangat sensitif untuk sahabatnya itu.
Sama sepertinya, Naruto sangat ingin melindungi wanita itu.
Bahkan melebihi Sasuke.
"Cukup."
Satu kata darinya mampu membungkam pro-kontra yang tanpa ujung itu. Sasuke tidak dapat menyalahkan mereka karena ia sendiri pun cukup bingung menentukan pilihan. Biasanya tidak akan sesulit ini melakukannya.
Ia ingin melindungi satu-satunya teman perempuan yang ia miliki sejak kecil, tapi ia sadar posisinya sekarang bukan sebagai teman.
Posisinya ketika ia menduduki kursi emas ini adalah sebagai raja.
Sasuke mencoba mengesampingkan egonya.
Ia tahu Kami-sama sedang mengujinya sebagai raja.
Raja yang adil.
"Apakah ada hal yang kurang jelas dalam peraturan Uchiha Kingdom?"
Semua menteri langsung menundukkan wajahnya seakan takut bahwa selama perdebatan tadi mereka mengeluarkan kata-kata yang salah.
"Kalian meragukan peraturan yang telah dibuat oleh leluhur Uchiha?"
"Tidak, Sasuke-sama."
"Jika memang begitu, laksanakan sesuai peraturan!"
Dalam hati ia meminta maaf pada dua sahabatnya, Naruto dan Sakura.
.
.
Mereka mengadakan pertemuan tanpa aku.
Aku bukan orang bodoh yang tidak mengerti alasannya mengapa aku tidak diikutsertakan dalam pertemuan kali ini.
Aku juga hafal dengan benar hukuman untuk 'pengkhianat' kerajaan. Petinggi kerajaan beserta prajurit kerajaan dan dayang kerajaan wajib mengetahui hukum-hukum yang berlaku di Uchiha Kingdom.
Ada dua hukuman untuk si pengkhianat kerajaan.
Mati atau diasingkan.
Keduanya tergantung jasa, pangkat, besar kesalahan dan pengaruh sang pengkhianat pada Kerajaan.
'Apa mereka akan benar-benar melakukan ini padaku?'
Rasa penasaran yang tak dapat dibendung lagi membuat gadis cantik itu perlahan melangkah menuju ruang pertemuan.
.
.
Ruang pertemuan itu tidak lagi terdengan heboh karena para menteri kerajaan telah meninggalkan ruangan setelah pertemuan selesai. Yang tersisa hanya berpasang-pasang kursi megah kosong dan dua orang yang belum meninggalkan ruangan sejak tadi.
Sasuke dan Naruto.
Keduanya belum ada yang beranjak dari tempatnya, bahkan tidak bergerak sedikitpun. Keduanya seperti patung dengan pikiran yang tampak lelah.
"Bisakah kau melanggar prinsipmu sekali ini saja, Yang Mulia?"
Naruto memanggil Sasuke 'Yang Mulia', yang menandakan Naruto sedang sangat serius sekarang.
"Tidak bisa, Naruto."
Dan Naruto juga tahu jika setiap keputusan yang telah diambil oleh Sasuke tidak akan pernah ia tarik kembali, sama halnya ketika akan melamar putri tunggal Hiashi-sama waktu itu.
Tapi, demi wanita yang ia cintai, Naruto akan mencoba semampunya untuk mengubah keputusan Sasuke itu.
"Sudah berapa lama kita berteman Yang Mulia?"
Sasuke tidak menjawab karena ia yakin bukan itu inti dari pertanyaan Naruto.
"Bodoh! Apa yang saya tanyakan. Haha. Belum tentu kau menganggap kita berteman selama ini, Yang Mulia. Maksudku sudah berapa lama saya mengabdi pada Yang Mulia?"
Sasuke masih bungkam.
"Saya juga kurang bisa menghitung, tapi sejak saya lahir ke dunia ini saya sudah mengabdi pada Yang Mulia karena Namikaze memang salah satu menteri Uchiha Kingdom secara turun-temurun. Berarti sudah dua puluh lima tahun, kalau tidak salah. Selama saya mengabdi, apakah saya pernah membuat kesalahan dan mengecewakan Yang Mulia?"
"Hah... sepertinya kesalahan saya memang bany—"
"Kau tidak pernah melakukan kesalahan Naruto."
"Benarkah?"
"Hn."
"Kalau begitu, bolehkah saya sebagai pengabdi yang sudah mengabdi tanpa membuat kesalahan selama dua puluh lima tahun meminta, ah tidak, saya memohon agar Yang Mulia memikirkan kembali keputusan Yang Mulia pada Sakura. Mungkin memang hanya satu tahun, tapi tolong Yang Mulia memikirkan perasaan Sakura jika ia diasingkan. Ia pasti merasa sangat malu."
"Naru—"
"Jika pengabdianku belum cukup untuk memohon, bagaimana jika Yang Mulia mempertimbangkan agar hukuman Sakura ditanggung oleh saya? Saya bersedia diasingkan Yang Mulia, bahkan Yang Mulia bisa menambahkan lama pengasingannya. Bisa dua tahun, tiga tahun atau lima—"
"Naru—"
"Tolong dipertimbangkan Yang Mulia. Untuk kali ini saja, tolong egois untuk keputusan Yang Mulia."
"Kau memintaku untuk tidak adil?"
"Saya tahu saya bukan siapa-siapa. Saya tidak meminta pada Yang Mulia untuk tidak adil tetapi meminta Yang Mulia untuk egois. Saya tahu bahwa Yang Mulia juga sangat ingin membantu Sakura. Saya tahu bahwa Yang Mulia juga menyayangi Sakura walaupun hanya sebagai teman. Dia juga sudah mengabdi pada Yang Mulia selama ini. Saya rasa, Yang Mulia bisa bersikap egois dengan membelanya. Kali ini saja."
"Aku tidak bisa melakukannya."
Keputusan yang telah ia buat sudah dipertimbangkan dengan baik dan memang itulah yang terbaik untuk semuanya saat ini.
"Jika memang pengabdian saya selama ini kurang untuk bisa memohon, Yang Mulia bisa menurunkan posisi saya sebagai menteri Uchiha King—"
"Hentikan Naruto. Jangan memancing emosiku dengan terus memohon dan merendahkan dirimu. Kau tahu bahwa aku menganggapmu bukan hanya sebagai menteri atau pengabdi seperti yang kau sebutkan. Kau tahu kau lebih dari itu. Aku sudah menganggapmu sebagai sahabat, bahkan seperti saudaraku sendiri."
Pemuda itu mematung seketika di tempatnya.
Matanya melebar mendengar perkataan orang yang paling disegani di Uchiha Kingdom itu. Ia sebenarnya tahu bahwa Sasuke juga menganggapnya sebagai sahabat, ia dapat merasakannya. Tapi, mendengar langsung dari mulut sang raja memberikan rasa bangga tersendiri baginya.
Bukan hanya rasa bangga, tapi juga haru dan damai. Merasa bahwa ia tidak sendiri di dunia ini karena ia tidak pernah mendapatkan kasih sayang orang tua sejak kecil.
"Aku juga menyayangi Sakura, seperti yang kau katakan. Ia satu-satunya gadis yang dapat aku terima sebagai sahabatku sejak aku kecil dan sampai sekarang aku masih menganggapnya sebagai sahabat. Bahkan setelah apa yang yang dilakukannya dengan Pein sama sekali tidak membuatku membencinya."
Jadi, bolehkah Naruto berharap permohonannya dipertimbangkan lagi?
"Tapi maaf, aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu Naruto. Bukan karena kau tidak bisa meminta apa-apa dariku. Kau bisa melakukannya. Apapun. Tapi tidak untuk masalah ini."
"T-tapi—"
"Aku mengerti. Kau sangat menyayangi Sakura. Tapi, aku bukan hanya sebagai sahabat disini. Posisiku untuk keputusan ini adalah seorang pemimpin. Aku tidak bisa melanggar peraturan yang sangat jelas hukumnya di peraturan Uchiha Kingdom, apalagi dengan kondisi berita ini telah menyebar pada semua kalangan masyarakat. Sebagai seorang raja, aku hanya bisa melaksanakan tuntutan mereka akan keadilan yang merata."
"Yang Mul—"
"Hentikan memanggilku seperti itu! Aku akan beristirahat."
Setelah itu Naruto hanya bisa melihat punggung Sasuke dari belakang. Ia akan kembali menundukkan wajahnya ketika Sasuke kembali berbicara.
"Kau meminta agar aku egois sekali ini saja, kan? Sebagai apapun posisiku, baik sebagai raja maupun sebagai 'seorang Sasuke' aku tidak akan mengubah keputusanku. Sebagai raja, tanggungjawab terbesarku adalah rakyat. Dan sebagai 'seorang Sasuke', tanggungjawab terbesarku adalah Hinata. Aku memang menyayangi kalian berdua karena kalian adalah keluarga untukku. Aku memang tidak membenci Sakura atas kejadian itu, tapi aku belum dapat memaafkannya. Aku tahu kau menyayangi Sakura. Tapi aku juga menyayangi Hinata melebihi apapun. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu yang buruk padanya. Dan malam kejadian penyerangan Pein itu dapat menyebabkan Hinata celaka."
"Jadi, jikapun kau memintaku egois maka keputusanku akan tetap sama."
Karena jikapun ia memilih egois, ia akan egois untuk Hinata, bukan Sakura.
.
.
.
Perpustakaan Uchiha Kingdom adalah perpustakaan paling besar yang pernah ia jumpai. Jadi, ia cukup terkejut mengetahui jika tiba-tiba saja kursi di depannya –dari sekian banyak kursi—digeser kemudiaan diduduki seseorang yang tidak ia duga.
"Gomen, Hinata-sama. Bisakah saya berbicara dengan anda?"
"Tidak."
Raut wajah Naruto yang awalnya sendu tiba-tiba terkejut dengan jawaban yang ia terima. Ia bahkan sangat yakin—awalnya—jika Hinata akan mengatakan 'ya', 'tentu saja', atau 'bisa'.
Mendapat kata 'tidak' membuat lidahnya kelu. Tidak tahu harus mengatakan apa selanjutnya. Apalagi yang dapat ia lakukan jika yang ingin diajak bicara mengatakan 'tidak'? ia tidak mungkin memaksa seorang ratu.
"Tidak jika Naruto-san masih belum bisa menanggalkan formalitas itu."
"Eh?"
"Saya terdengar asing dengan panggilan itu. Bagaimana?"
Eh?
"Baiklah, Hinata-san."
"Begitu lebih baik. Apa yang ingin Naruto-san katakan?"
Tawa hambar Naruto dihargai oleh Hinata dengan senyuman. Ia tahu pemuda itu sedikit ragu dan gugup.
"Saya tahu bahwa saya tidak pantas meminta ini, tapi saya tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa lagi. Bi-bisakah Hinata-san meminta pada Sasuke agar memikirkan kembali keputusannya? M-maksudku, tentang pengasingan itu."
Menyadari kalimatnya membuat Naruto merutuki kata-katanya barusan. Tanpa memberikan penjelasan terlebih dahulu tentang letak permasalahannya dia langsung seenaknya meminta.
"Saya sudah mendengar kabar itu."
Naruto cukup lega mendengarnya. Paling tidak ia tidak harus menjelaskan sesuatu yang sudah sangat membebani pikrannya.
"Jadi, bisakah?"
"Maaf, saya tidak bisa melakukannya."
"Maafkan saya. Harusnya saya tahu bahwa kemungkinan Hinata-san masih terluka akibat perbuatan Sakura."
"Bukan, Naruto-san."
"..."
"Saya tidak membenci Sakura-san. Bukan karena itu saya tidak dapat membantu. Sakura-san juga tidak melukai saya karena saya tahu dia tidak bermaksud melakukannya. Tapi, saya tidak memiliki hak mencabut hukuman siapapun, bahkan jika hukuman itu untuk diri saya sendiri."
"Tapi—"
"Maaf."
Tidak.
Seharusnya gadis di depannya tidak perlu meminta maaf, karena dia memang sudah melakukan hal yang benar.
Seharusnya juga Naruto menyadari bahkan walaupun Hinata memiliki hak untuk mencabut hukuman sesorang, Hinata masih harus membatasi kekuasaannya karena masih terbilang 'anak baru' dalam Uchiha Kingdom.
Sekarang Naruto benar-benar sudah tidak tahu bagaimana cara membantu Sakura.
Hinata menghilang di balik pintu perpustakaan setelah sebelumnya berpamitan pada Naruto. Meninggalkannya sendiri dalam kebingungan yang semakin memuncak.
Sekarang ia terdiam dengan hanya ditemani buku yang masih tertinggal di atas meja.
Buku yang baru saja dibaca oleh Hinata.
'Mengapa tidak dikembalikan ke tempatnya?'
Sedikit penasaran dengan jenis buku apa kira-kira yang digemari putri seorang Hyuuga besar menuntun tangannya mengambil buku itu.
Sampulnya berwarna merah dan tidak terlalu tebal jika dibandingkan dengan buku-buku klasik pada umumnya.
Masih terbuka pada lembaran terakhir kali dibuka oleh Hinata.
Ada satu quote yang menarik perhatiannya karena hanya kalimat itu yang dicetak dengan menggunakan huruf yang berbeda dari kalimat-kalimat lainnya.
"For the two of us, home isn't a place. It is a person. And we are finally home."*
Ah!
Aku mengerti sekarang.
Arigatou, Hinata-sama.
.
.
Yang terhormat,
Raja Uchiha Kingdom
Saya telah menerima pesan dari Uchiha Kingdom yang mengatakan bahwa kesehatan Yang Mulia telah membaik dan akan mengadakan pesta syukuran.
Seiring dengan hal tersebut, agar sudi kiranya menghadiri acara makan malam di Hyuuga Kingdom pada Juni hari ke-13.
Tertanda,
Raja Hyuuga Kingdom
"Sampai kapan kau membacanya?"
"Aku sedang mencari dimana letak kesalahannya."
"Hn?"
"Sejak surat ini tiba Sasuke-kun menjadi gelisah dan kurang fokus."
Entah mengapa hal sederhana dimana Hinata memperhatikannya membuat perasaannya menjadi lebih tenang.
"Hn, bagaimana menurutmu?"
"Aku tidak menemukan apa-apa kecuali undangan hangat untuk makan malam. Tapi memang sedikit aneh karena tou-san sangat jarang mengundang orang lain untuk makan malam di Hyuuga Kingdom."
Tampaknya memang sepetri itu.
Undangan hangat.
Tapi akan menjadi panas jika sudah dihadiri.
Sasuke yakin makan malam ini bukan sekedar makan malam biasa.
Seorang Hyuuga Hiashi meluangkan waktunya hanya untuk makan malam bukan hal yang umum terjadi, kecuali ia akan mengatakan hal yang penting.
Dan Sasuke sangat yakin bahwa ini ada hubungannya dengan penyerangan Pain malam itu.
Dan tentu saja putrinya, Hinata.
Kekhawatirannya selama ini terjadi juga. Hyuuga Hiashi hanya menunggu ia memulihkan keadaannya sebelum 'mengadilinya'.
Apapun itu, Sasuke merasa ini bukanlah hal yang menguntungkan untuknya.
Sasuke melihat Hinata di sampingnya yang baru saja selesai mandi dan sepertinya bersiap-siap akan tidur. Hinata kemudian melipat gulungan surat itu dan meletakkannya di atas meja di dekat ranjang.
Sasuke berpikir untuk menanyakan hal yang selama ini ingin diketahuinya karena ia belum menanyakannya. Walaupun waktunya dirasakan kurang tepat, tapi Sasuke tidak tahu kapan lagi memiliki kesempatan. Urusan kerajaan yang menumpuk membuat ia hnaya memiliki sedikit waktu dengan Hinata, apalagi ditambah dengan masalah Sakura.
Ya, dia harus menanyakannya.
Sasuke tidak ingin ketidaktahuannya tentang Hinata menjadi senjata Hyuuga Hiashi untuk melakukan hal yang tidak ia inginkan.
"Hinata."
"Ada apa Sasuke-kun?"
"Bagaimana lukamu?"
"N-nani?"
Sasuke tahu Hinata sedikit bingung dengan pertanyaannya yang mendadak.
Hinata langsung memberikan perhatiannya pada Sasuke karena yakin Sasuke masih akan mengatakan sesuatu.
"Kau harus berterus terang Hinata, selama ini aku menahan pertanyaan itu dengan harapan agar kau sendiri yang akan berbagi cerita denganku. Tapi, sekarang aku sudah tidak bisa menunggu lagi. Aku harus mengetahui keadaaanmu. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri jika kau benar-benar terluka, Hinata. Apalagi dengan adanya undangan dari Hiashi-sama. Dia—"
Dia pasti membunuhku jika putrinya tergores sedikit saja.
"Ada apa dengan tou-san?"
"Lupakan. Jadi?"
"A-aku tidak terluka."
Apa Hinata menyembunyikannya seperti dugaan Kakashi?
"Dengarkan aku Hinata, kau tidak perlu menyembunyikan apa-apa dariku Hinata. Kakashi sudah menceritakan semuanya tentang malam itu. Jadi katakan padaku, bagaimana keadaan lukamu."
"Tapi aku tidak terluka, Sasuke-kun."
"Apa maksudmu? Bagaimana dengan pedang itu? Kakashi—"
"Sasuke-kun. Sasuke-kun mungkin tidak menyadari jika sebenarnya Sasuke-kun yang menyelamatkanku. Bahkan menyelamatkanku dua kali. Sasuke-kun menyelamatkanku ketika berada dalam kereta. Jika saja Sasuke-kun tidak mengorbankan diri untuk menyelamatkanku dari pedang itu, mungkin aku tidak akan bertahan sampai sekarang."
"Tadi kau mengatakan dua kali?"
"Ya. Sama seperti Sasuke-kun, aku juga tidak menyadarinya. Malam itu Pein juga menyerangku dengan pedangnya saat aku juga menyerangnya. Aku memang sedikit merasakan sakit saat itu karena merasa sesuatu mendesak ke tulang dadaku. Tapi beberapa saat setelah Pein mati, aku menyadari bahwa aku masih bertahan tanpa terluka sedikitpun karena kalung itu."
"Hn?"
"Kalung pemberian Sasuke-kun sebelum menghadiri pesta di Akatsuki Kingdom. Pedang Pein mengenai kalung itu. Sampai sekarang aku masih sulit mempercayai kebetulan itu karena jka sedikit saja pedangnya meleset tidak mengenai kalung itu aku mungkin sudah bernasib sama dengan Pein. Itu sebabnya aku mengatakan bahwa Sasuke-kun melindungiku dua kali malam itu."
"Benarkah?"
"Ya."
"Tapi— aku sulit mempercayainya."
"Sasuke-kun tidak percaya padaku?"
"Bukan begitu Hinata. Aku, aku hanya takut kau menutupi keadaanmu dariku. Mengertilah. Masalah kalung itu terdengar aneh, suatu kebetulan yang bahkan tidak memiliki kemungkinan lebih dari satu persen bisa menyelamatkanmu. Kecuali—"
"Kecuali apa?"
"K-kecuali aku me-memastikannya sendiri."
"Baiklah."
"Bo-boleh?"
"Tentu saja. Sasuke-kun sangat aneh malam ini."
Sasuke terdiam sejenak. Sebenarnya Hinata yang terlalu tenang atau memang dirinya yang terlalu berlebihan?
Kenapa jadi dirinya yang gugup?
Ugh!
"Ekhm, berbaliklah."
Meskipun sedikit bingung Hinata akhirnya berbalik.
Tapi, ketika meraka kancing gaun tidurnya sedang dibuka segera saja ia berbalik lagi.
"A-ap-apa yang Sa-sasuke-kun lakukan?"
"Hn? Tentu saja membuka gaunmu." ucap Sasuke berusaha biasa saja karena sejak awal Hinata juga bersikap biasa saja.
"U-untuk apa?"
Sebenarnya Hinata sudah dapat mencerna maksud Sasuke, hanya saja ia ingin memastikannya. Hinata mengira 'memastikan' yang dimaksud adalah dengan cara lain, yang pasti bukan melihat secara langsung seperi ini.
"Tentu saja memastikan kau tidak terluka dengan mata kepalaku sendiri." ucap Sasuke sedikit heran sebelum ia menyadari sesuatu ketika melihat wajah Hinata memerah.
Kheh.
Ternyata bukan dirinya yang berlebihan ketika gugup ingin memastikan sendiri luka Hinata. Tapi, Hinata yang terlalu tenang karena tidak mengerti bahwa Sasuke ingin melihat sendiri lukanya ketika ia mengatakan ingin memastikannya dengan mata kepalanya sendiri.
Mengetahui hal tersebut, muncul keinginannya untuk menggoda istrinya yang menggiurkan itu.
"Hime~" bisiknya dengan nada yang menggoda berharap wajah yang menunduk itu melihatnya.
"N-nani?"
"Berbaliklah lagi, aku belum memastikan apa-apa."
"Ti-tidak m-mau!"
"Kau tidak bisa menarik kembali kata-katamu. Kau bilang aku boleh memastikannya sendiri."
Sasuke ingin tertawa ketika melihat wajah Hinata yang semakin merah, sekarang telinganya juga ikut memerah.
"A-ak-aku m-malu."
"Aku kan suamimu, jadi kau tidak perlu malu."
Sasuke tahu sifat Hinata yang sebenarnya sangat pemalu. Bahkan untuk memakai baju ketika selesai mandi saja Hinata melakukannya di kamar mandi karena malu padanya.
Suaminya.
Itu sebabnya Sasuke tidak pernah melihat dada Hinata untuk memastikan adanya luka atau tidak selama ini. Tentu saja kejadian Hinata terjatuh di kamar mandi setelah acara pernikahan mereka dulu adalah pengecualian.
Tapi hal yang baru saja Sasuke ketahui adalah Hinata akan memilin—atau paling tidak meremas—sesuatu ketika ia sedang sangat malu.
Seperti sekarang.
Hinata meremas baju depan Sasuke.
Entah Hinata menyadarinya atau tidak.
Posisi yang dirasakan Sasuke cukup menguntungkannya.
Mereka berdua duduk di ranjang dengan posisi duduk berhadapan.
Dengan Hinata yang sibuk menunduk dengan tangan yang masih meremas-remas baju Sasuke.
"Baiklah, kau tidak perlu berbalik."
Bukannya lega mendengarnya, Hinata justru semakin gugup karena detik berikutnya dia malah dapat merasakan nafas hangat Sasuke di lehernya.
Ia merasakan tangan Sasuke kembali bekerja untuk membuka kancing bajunya yang baru terbuka satu kancing.
Ukh!
Mengapa sekarang Hinata merasa mereka seperti malam pertama?
Sedangkan Sasuke tiba-tiba menyeringai meresakan remasan jari-jari mungil Hinata di dadanya semakin kencang ketika ia dengan sengaja menggoda leher jenjang Hinata dengan nafasnya.
"S-sasuke-k-kun"
"Hmm~"
"Bi-bisakah Sasuke-kun sedikit le-lebih ce-cepat?"
"Hn, tidak bisa. Kancingnya ternyata sulit dibuka."
"Bi-biar aku saja y-yang membukanya."
"Hn. Tidak perlu."
Setelah sekian lama—menurut Hinata—akhirnya kancing-kancing itu terbuka.
Tidak ingin merasakan malu lebih lama lagi, Hinata memuluskan langkah Sasuke ketika Sasuke membantu Hinata melepaskan tangannya dari lengan baju itu.
.
.
Sial!
Niat Sasuke ingin menggoda Hinata malah ia sendiri yang tergoda melihat bidadari di depannya.
Entah sejak kapan Hinata melepaskan remasannya dari baju Sasuke dan berbalik meremas gaunnya sendiri untuk mencegah gaun itu merosot lebih rendah karena kancing-kancingya yang telah terbuka.
Gaun malam Hinata itu berwarna cream, sangat cocok dengan warna kulit Hinata yang seputih susu.
Membuatnya terlihat seperti bidadari.
Sasuke memang belum pernah melihat bidadari, tapi ia dapat membayangkan kecantikan para bidadari dengan memandang Hinata, istrinya.
Sasuke merasakan kembali perasaan bangga ketika Kami-sama menghadiahinya seorang bidadari yang sangat cantik, anggun dan baik.
Sekarang bidadarinya sedang memalingkan wajahnya, menolak melihat wajahnya.
Sedangkan Sasuke, bukannya melaksanakan niatnya sejak awal—melihat adanya luka atau tidak—malah berlama-lama menatap wajah hingga dada Hinata.
Wajahnya yang merona.
Hidungnya yang mancung.
Gigi-gigi putihnya yang berbaris rapi.
Bibirnya yang semakin memerah dan terlihat mengkilap karena sesekali Hinata menggigitnya.
Rambutnya yang halus membingkai wajahnya yang segar.
Lehernya yang jenjang dengan nadi yang berontak.
Serta kulitnya yang halus dan lembut.
Sangat sulit mengalihkan mata dari objek sempurna didepannya.
Sebisa mungkin ia ingin menyimpan potret sang istri seperti sekarang ini.
"B-bagaimana?"
Putih.
Mulus.
Halus.
"Sa-sasuke-kun, bagaimana?"
Sempurna.
Bagaimana apanya?
"S-Sasuke-kun sudah mempercayaiku, kan?"
Percaya apa?
Mengapa Hinata berbicara tidak jelas?
Sasuke sudah tidak dapat berpikir dengan jernih.
Tidak mendapatkan jawaban yang ingin ia dengar, Hinata mengalihkan matanya dari bantal di sampingnya dan menyesal karena menemukan Sasuke memandangnya tanpa berkedip dengan mata yang menggelap.
Selanjutnya Hinata merasa khawatir karena jantungnya berdetak terlalu cepat karena tiba-tiba Sasuke meletakkan tangannya di kedua sisi bahunya.
Dan selanjutnya ia tenggelam dalam onyx Sasuke yang memandang lurus ke dalam lavendernya.
Dan selanjutnya Hinata mencoba menentramkan detak jantungnya yang semakin menggila ketika Sasuke—kembali—mengatakan cinta padanya.
Dan selanjutnya Hinata merasa jika wajah Sasuke lebih dekat sedikit saja lagi, dia akan pingsan karena takikardia.**
Dan selanjutnya Hinata menyadari bahwa ia tidak akan dapat berdamai dengan detak jantunganya sendiri ketika merasakan sesuatu yang lembut membelai bibirnya dengan lembut.
Dan selanjutnya dan selanjutnya lagi Hinata sudah tidak memikirkan lagi bagaimana jantungnya bekerja memukul dadanya dengan irama yang baru ia kenal karena yang terakhir ia ketahui adalah dirinya yang ikut larut dalam irama yang diciptakan oleh Sasuke.
Irama asing yang baru ia kenal.
Irama asing yang memang pada akhirnya harus ia kenal.
Mengenal Sasuke Uchiha.
Warna kesukaannya.
Makanan favoritnya.
Dan tempat favoritnya.
Walaupun sedikit ragu, tapi kata cinta yang diucapkan Sasuke membuatnya memberanikan diri.
Belaian lembut Sasuke juga meyakinkannya bahwa Sasuke tidak akan menyakitinya.
Dan di atas semua itu, status Sasuke sebagai suaminya membuat ia menghilangkan keraguannya karena ia berada di tangan yang tepat.
Karena Sasuke adalah suaminya.
Pemiliknya.
Bukan hanya untuk malam ini.
Tapi, selamanya.
.
.
TBC
.
.
*Stephanie Perkins, et al.
**Takikardia= irama jantung yang—tidak teratur—terlalu cepat.
.
.
Maaf karena lagi2 saia lelet update #bow
Dan kemungkinan next chapter juga bakalan sama leletnya T_T
Buad bbrpa yg nanya, fic ini gag ada rencana di-discontinue kog.
Thanks for reading
.
.
Special for:
Hanachanchan, guest, fumiko, altadinata, rohma, kiyomizu aiko, himenaina, chacu, AI SASUHINA, jdamego, gowes, indria mandala, VE uchiha, eriinnn, Clara Merisa, Renita Nee-chan, Jun30, guest, mey lovenolaven, guest, hinahime7, s4mrina, SMAN1RHLOVMHPxUztad, hana37, kensuchan, Uchiha Itaara, Guest, Syarifah acya, Malfoy1409, Guest, charlote, Dewi Natalia, kirigaya chika, Ay shi Sora-chan, bluerose, Hinataholic, Dhidi-chan, hyuchi, Aysanoyuri, nainachan, QRen, Katsumi, Guest, ika chan, ariefafelov, hinatauchiha69, ryuu matsuda, Arum Junnie, Fitria Toushiro, SH niita4, Amu B, Yukori Kazaqi, , HanHyunHyo, Moku-Chan, Sasazaki mami, Hyou Hyouichiffer, kirei-neko
THANKS A MILLION TIMES, you guys are soooo amazing ^_^
