Chapter 10
.
.
Cecil hime was borrowing Masashi's characters
SasuHina
-Standard warning applied-
.
.
Bukan.
Bukan kicauan burung yang membangunkannya.
Bukan juga karena cahaya matahari yang merembes melalui celah-celah jendela kamar.
Dan pastinya bukan mimpi buruk yang membagunkannya, sungguh. Karena walaupun singkat, dia tidak pernah mengalami mimpi seindah malam itu.
Hinata.
Seingatnya, wanita itu tertidur di pelukannya sepanjang sisa malam. Bagaimana bisa dia terbangun tanpa ada Hinata di sisinya? Bagaimana bisa dia tidak menyadari Hinata terbangun dan lepas dari pelukannya tanpa ia sadari?
Hinata.
Kealpaan Hinata di sampingnya-lah yang membangunkannya.
Seecarik kertas berwarna coklat di atas meja menghentikan niat awalnya yang ingin mencari Hinata.
Otak jeniusnya segera dapat memproses maksud Hinata dalam surat tersebut.
Kekehan kecil pun lolos dari bibirnya.
"Menghindariku, huh?"
.
.
Angin pagi menyapa kulitnya yang tidak terlindungi kain tebal.
Cukup dingin memang, tapi ia menyukainya.
Memang inilah yang diharapkannya dengan keluar pagi hari. Mencoba merasakan hal baru yang tidak pernah dapat ia lakukan selama berada di Hyuuga Kingdom.
Ternyata pemandangan pantai pagi hari lebih indah dari yang pernah ia bayangkan.
Walaupun sangat disayangkan ia tidak dapat melihat matahari terbit. Sedikit terlambat, dan sepertinya kurang dapat dilihat dari arah pantai yang dipilihnya. Mungkin, lain kali ia dapat menanyakan tempat yang bagus untuk melihat matahari terbit pada Sasuke. Pada Sasuke?
Blush~
Seingatnya, wajahnya tidak pernah sepanas ini. Hal yang sering terjadi sejak ia mengenal Sasuke.
Rasanya, sedikit kurang tepat caranya menghindari Sasuke. Tapi ketika ia terbangun di pelukan pria itu, pergi sejauh mungkin adalah hal pertama yang ingin ia lakukan. Ia terlalu malu. Hanya satu tempat yang terpikir olehnya saat itu.
Dan disinilah ia sekarang.
Pantai timur Uchiha Kingdom.
Seperti sarannya waktu itu, tempat ini benar-benar akan dijadikan wilayah perikanan. Ia tidak menyangka pembangunannya akan secepat ini, walaupun sebagian sisi pantai yang lain masih tampak dalam proses pembangunan. Terlalu pagi, belum tampak seorang pun yang datang ke pantai. Dan memang itulah yang ia harapkan. Lagipula, ia tidak ingin tampak mencolok. Ia bahkan hanya memakai gaun sederhana dan memperbolehkan tiga pengawal dan satu dayang saja untuk mengawalnya.
"Onee-chan..."
.
.
"Kalian bisa pergi. Tinggalkan satu kuda."
"Hai, Uchiha-sama."
Dia sudah menduga bahwa Hinata hanya akan membawa sedikit pengawal. Untuk itulah ia menyusul walaupun ada alasan lainnya.
Dapat dilihatnya Hinata sedang membangun istana pasir dengan seorang anak kecil. Ia ingin menghampiri Hinata, tapi tidak melakukannya karena melihat wajah ceria Hinata. Apakah bermain dengan anak kecil bisa membuat sesorang sebahagia itu?
Sebuah pemikiran membuatnya tersenyum kecil menyadari bahwa memang hal-hal sederhana dapat membuat Hinata bahagia.
Lagipula dia mengerti perasaan Hinata yang pasti sangat ingin menangkap sebanyak mungkin potret indah dunia yang selama ini asing baginya. Salahnya, ia belum pernah mengajak Hinata sekedar untuk keliling Uchiha Kingdom atau melihat tempat-tempat indah dan bersejarah di Uchiha Kingdom.
Tak ingin mengganggu, ia pun duduk di atas batu besar yang sebelumnya telah diduduki oleh para pengawal.
Istana pasirnya sudah selesai ketika anak kecil itu mengatakan sesuatu yang membuat Hinata tertegun sebentar, kemudian tersenyum dan mengangguk.
Entah apa yang dikatakan Hinata, tapi wajah anak kecil itu berbinar dan langsung berdiri disamping Hinata yang masih duduk di atas pasir. Lalu, dengan wajah memerah dan tingkah malu-malu anak kecil itu mencium pipi Hinata dan langsung berlari meninggalkan Hinata yang tertawa kecil melihat kepergian anak kecil itu.
"Apa kau sangat menyukai anak kecil?"
.
.
"Apa kau sangat menyukai anak kecil?"
!
Ini tidak baik, Hinata sangat tahu siapa pemilik suara itu.
Hinata tidak sanggup menolehkan wajahnya atau melirikkan matanya ke arah pria itu. Ia terlalu malu untuk bertatap muka dengan Sasuke saat ini. Bukan tanpa alasan ia datang ke pantai sepagi ini. Langsung mandi melawan rasa lelah dan sakit di tubuhnya, kemudian bertahan dengan udara pagi yang dingin menusuk. Semua itu dilakukannya tentu saja untuk menghindar sejenak dari Sasuke.
Hinata masih ingat ketika ia terbangun dan menyadari keadaannya. Terlalu banyak. Kaget, takut, bingung, khawatir, malu, dan bahagia. Terlalu banyak yang ia rasakan saat itu. Dan dia memerlukan waktu. Waktu untuk memahami semuanya dan menyiapkan hatinya untuk awal perubahan besar dalam hidupnya.
"Kenapa ke pantai sepagi ini?"
Ingin rasanya Hinata meminta pria itu agar tidak bertanya apa-apa padanya saat ini karena ia sedang tidak ingin berbicara. Bagaimana jika ia tidak bisa berbicara dengan benar karena gugp? Tidak. Itu, memalukan.
"Kau tidak kedinginan?"
Tiba-tiba Sasuke bergabung dengan Hinata duduk di atas pasir.
Hening.
Tidak ada yang berniat menghentikan kebisuan mereka.
Hingga beberapa menit selanjutnya Hinata mulai penasaran kenapa Sasuke tiba-tiba diam. Sedikit keberanian ia kumpulkan dan mencoba melirik ke arah Sasuke dan menemukan pria itu menatap lurus ke arah pantai. Melamun, kah?
Entah keberanian darimana, ia semakin terang-terangan menatap Sasuke. Bahkan tanpa ia sadari posisi badannya telah menghadap Sasuke.
Jika dilihat dari samping, Sasuke sangat tampan. Ah, tidak. Dilihat darimana pun Sasuke selalu terlihat tampan. Dan Hinata sebenarnya tidak jarang mengagumi ketampanan Sasuke. Hanya saja ia tak pernah menunjukkannya, apalagi mengungkapkannya langsung pada Sasuke. Apa gunanya? Toh, mungkin Sasuke sudah bosan mendengar pujian itu dari gadis-gadis cantik di sekitar Sasuke. Memikirkannya membuat hati Hinata semakin gundah saja.
Tiba-tiba terlintas pikiran Hinata bahwa sebenarnya tidak ada yang perlu ia pahami lagi. Sejak awal Sasuke juga telah memberikan pemahaman padaya. Bahwa pria itu mencintainya. Jadi apalagi sebenarnya yang ia risaukan? Terkejut, takut, malu dan khawatir wajar ia rasakan setelah malam penuh cinta yang diberikan Sasuke, jadi ia tidak perlu mennghindari Sasuke seperti ini, kan?
Lari. Sangat kekanakan sekali. Dan ditambah surat yang ia letakkan di atas meja yang mengatakan ia tiba-tiba ingin melihat pantai. Sangat, sangat kekanakan.
Apa, Sasuke-kun juga berpikir aku sangat kekanakan? pikir Hinata.
"S-sa-sa-sasuke-k-kun."
Terbata. Benar kan? Seharusnya tidak perlu berbicara.
1 detik
2 detik
.
.
5 detik
Eh?
Tapi, kenapa Sasuke-kun tidak menoleh atau menjawab? Apa tidak terdengar?
Mengumpulkan keberanian lagi, Hinata memanggil Sasuke lagi. Hasilnya sama.
Diabaikan?
Mulai kesal karena diabaikan, Hinata hendak berdiri meinggalkan Sasuke sebelum dirasakannya tangan Sasuke menariknya hingga kembali pada posisi semula.
"S-sa-sakit."
Mendengar rintihan Hinata, Sasuke langsung menarik pelan tangan Hinata dan memeriksa pergelangan tangannya. Aneh, padahal tidak ada lecet atau kemerahan karena tarikannya di pergelangan Hinata tapi kenapa Hinata mengatakan sakit?
"Tidak ada lecet." Memerah saja tidak—jawab Sasuke cuek.
"Sa-sakitnya bu-bukan disitu."
"Jadi?"
Bukannya menjawab, Hinata malah menjadi salah tingkah dan tiba-tiba pipinya memerah. Sasuke terheran sendiri dan masih menunggu jawaban Hinata.
"K-kenapa Sa-sasuke-kun menarik t-tanganku tiba-tiba?"
Tanpa Sasuke sadari, Hinata hanya mencoba mengalihkan pembicaraan agar tak menjadi lebih malu lagi. Tidak mungkin kan, Hinata mengatakan yang sakit adalah di daerah 'itu'?
"Hn."
"S-sasuke-kun."
"Karena kau akan pergi lagi, kan?"
"A-aku pergi ka-karena Sasuke-kun me-mengabaikanku."
"Aku? Mengabaikanmu? Jangan bercanda. Sejak awal kau yang mengabaikanku. Aku bertanya tiga kali, dan kau sama sekali tidak menjawab. Jangan katakan kau tidak mendengar apa yang ku tanyakan tadi, karena aku mengatakannya dengan jelas. Kau begitu bahagia bermain dengan bocah tadi, tapi ketika aku datang kau langsung diam. Mendiamkanku. Apa yang salah? Aku—"
"S-sasuke-kun."
"Untuk itu aku juga mendiamkanmu, seperti yang kau lakukan padaku."
Hening beberapa saat hingga Hinata membuat kesimpulan sendiri yang membuat mereka berdua—Sasuke dan Hinata—tercengang, apalagi ditambah dengan Hinata yang menanyakannya dengan wajah polos.
"J-jadi, Sasuke-kun... merajuk?"
.
.
Emerald indahya berkaca-kaca memandangi lukisan di dinding kamarnya. Lukisan yang selalu memberikannya semangat untuk terus menjadi yang terbaik bagi kedua pria yang ada di lukisan tersebut. Dia sangat menyukai lukisan itu.
Sakura dapat melihat dirinya berada diantara Sasuke dan Naruto. Lima tahun yang lalu ia meminta pada Sai—yang menyenangi melukis—untuk membuat lukisan mereka bertiga. Naruto, seperti biasa selalu menampakkan gigi-giginya dengan cengiran yang membuat matanya menyipit dan tampak merangkul pundaknya. Sasuke, menyilangkan tangan di atas dada dan menampakkan wajah bosannya. Teringat, ia sampai memohon agar Sasuke bersedia dilukis waktu itu. Beralasan sibuk, Sasuke langsung menolak. Seminggu kemudian Sasuke baru menyatakan ketersediaannya dengan syarat 'Hanya kali ini'. Sakura tahu, selama seminggu itu Naruto gencar membujuk Sasuke agar tidak mengecewakannya.
Naruto.
Sakura sadar. Sangat menyadari bahwa pria itu selalu ada untuknya. Ada di saat-saat ia membutuhkan seseorang yang dapat membuatnya kembali semangat, membuatnya kembali tertawa dan tidak jarang pula membantunya secara diam-diam.
Hatinya miris memikirkan bahwa sebentar lagi ia akan meninggalkan dua pria yang paling dekat dengannya. Pria yang ia cintai sejak kecil dan pria yang selalu ada untuknya.
Dan semakin miris melihat dua tas besar yang sudah ia persiapkan sejak semalam.
Memang telah diputuskan bahwa ia 'diusir' minggu depan. Tapi, apa bedanya? Semakin lama berada di Uchiha Kingdom hanya menambah beban hatinya. Ia tidak sanggup melihat orang-orang berwajah dua itu disekitarnya. Pelayan-pelayan itu tersenyum padanya, masih melayaninya seperti biasa, tetap memanggilnya dengan 'Sakura-sama' dan masih membungkukkan sedikit badannya ketika berpapasan dengannya. Tapi, Sakura tahu, dia tidak bodoh. Dibelakangnya, mereka semua mencemoohnya, menyalahkannya dan memandang rendah dirinya.
Sakura juga tidak tahan dengan pernyataan 'menyesal' dari para menteri dan petinggi Uchiha Kingdom. Demi Kami-sama, ia tidak membutuhkan belas kasihan.
Jikapun ia—Sakura—mau mendengar kata-kata penyesalan, ia hanya ingin mendengarnya dari pria yang dicintainya, Sasuke. Tidak mengapa jika ia terlihat menyedihkan di depan pria itu. Ia tak peduli asalkan pria itu masih mau berbicara padanya.
Sasuke.
Pria itu seakan menganggapnya tidak ada. Dirinya, yang sudah lama berada di sisi pria itu 'dimusuhi' hanya karena Hinata yang baru memasuki kehidupan mereka. Hitungan minggu. Hanya hitungan minggu dan dengan mudahnya Hinata menjungkir-balikkan persahabatan yang telah mereka jalin sejak kecil.
Sakura tidak ingin mengingatnya karena hanya akan membuatnya bertambah gusar saja. Dia mungkin memerlukan waktu yang lama untuk memahami 'arti' kehadiran Hinata dalam persahabatan mereka.
Dengan lunglai, ditutupnya dua tas besar itu dengan rapat.
Sudah ia putuskan, ia tidak akan memperpanjang penderitaannya disini. Ia akan pergi malam ini.
Tapi, ia ingin melihat Sasuke untuk terakhir kalinya.
.
.
"Sudah puas menertawakanku?"
Bukannya terdiam, Hinata malah semakin menertawakan Sasuke.
Sedikit kesal memang dikatakan merajuk, tapi jika itu membuat Hinata tidak kaku lagi di sampingnya, Sasuke baik-baik saja dengan itu. Merajuk. Apa benar itu yang ia rasakan? Sasuke tidak tahu karena ia tidak pernah merasakan hal itu sebelumnya.
"Cu-cukup pu-puas."
Sasuke menyadari bahwa ada yang aneh dengan Hinata.
"Kenapa tiba-tiba kau banyak terbata?"
Tak disangka-sangka senyum dan tawa Hinata memudar dan digantikan dengan wajah gugup.
"E-eh? A-ano, a-aku..."
"Hn?"
"Mu-mungkin ka-karena um... k-kedinginan."
Alasan apa itu? tapi, hanya itulah yang terlintas di kepala Hinata. Tidak mungkin ia mengatakan bahwa ia sangat gugup sejak kejadian semalam. Itu kan sangat memalukan.
Hinata melihat Sasuke yang sepertinya cukup menerima alasannya. Kedinginan, alasan yang bagus.
"Kemarilah, aku akan menghangatkanmu."
Dengan santai, Sasuke merentangkan tangannya agar Hinata masuk ke dalam pelukannya.
"Ti-tidak perlu Sasuke-kun."
"Aku tidak mau kau semakin kedinginan dan jatuh sakit."
Sekarang Hinata merasa dirinya memang tidak cocok berbohong karena akan merugikan dirinya sendiri, dan inilah contohnya. Kedinginan, alasan yang buruk.
Kegugupan Hinata pun melonjak karena tiba-tiba Sasuke berada dibelakangnya dan memeluknya, dia bahkan dapat merasakan dagu Sasuke di atas kepalanya.
"S-sa-sasuke-kun."
"Hn. Kau sangat lambat."—dan aku tidak sabar menunggu untuk memelukmu lagi, tambah Sasuke dalam hati.
Pelukan hangat Sasuke menyadarkan Hinata bahwa memang ia cukup kedinginan tadi, dan berada di pelukan Sasuke membuatnya merasakan kenyamanan. Dan hangat.
Sasuke tersenyum tipis ketika Hinata menyandarkan kepalanya ke dadanya.
"Kenapa tidak mengajakku? Aku tahu sisi pantai yang lebih indah."
Sampai disini, Hinata tidak tahu harus menjawab apa. Lagipula ia yakin Sasuke tidak membutuhkan jawaban darinya karena Sasuke pasti tahu jawabannya. Menghindar.
"Mau menghindar, Hime?"
"..."
Ah, tiba-tiba Sasuke mengingat niat awalnya menyusul Hinata. Meminta penjelasan kenapa Hinata 'melarikan diri' darinya. Menyeringai, Sasuke merasa inilah wantu yang tepat untuk membalas Hinata yang mengabaikan dan menghindarinya.
"Katakan, apakah kedinginan juga bisa membuat detak jantung menggilla?"
'N-na-nani?"
"Disini... berisik sekali."
Hinata ingin melepaskan tangan Sasuke ketika Sasuke menyilangkan kedua tangannya di atas dadanya, dekat jantungnya. Tentu saja terdengar dengan jarak sedekat ini dengan Sasuke. Lagipula, ia tidak mungkin dapat mengontrol detak jantungnya, kan? Hinata tidak memiliki kuasa untuk mengontrol kapan jantungnya terdengar damai atau kapan terdengar berisik. Merasa Sasuke mulai menggodanya, Hinata mulai melakukan perlawanan.
"Jangan dilepas. Aku masih marah."
Marah atau merajuk?
"..."
"..."
"Ma-marah? P-pa—padaku?"
"Hn. Menemukanmu di sampingku saat terbangun adalah hal pertama yang aku inginkan, tapi ternyata kau tak ada di sampingku, dan kau pikir secarik kertas bisa menyelesaikan segalanya? Apa kau pikir aku tidak khawatir ketika aku tahu kau pergi dengan hanya tiga pengawal?"
"E-empat, Sa-sasuke-kun."
"Sama saja. Kau terlalu polos. Apa kau pikir tidak ada orang jahat di dunia ini? Apalagi sangat besar kemungkinan masih ada pemberontak bekas keruntuhan Akatsuki Kingdom. Bagaimana jika ada yang menyakiti atau menculikmu? Kau membuatku sangat khawatir. Lagipula, jika kau memang ingin keluar kau bisa mengajakku, tidak pergi diam-diam seperti ini. Aku tidak suka kau menghindar dariku."
"Ja-jadi aku ha-harus bagaimana?"
"Hn?"
"A-aku memang menghindari Sa-sasuke-kun. A-aku juga tahu secarik ke-kertas tidak bisa menyelesaikan apa-apa. Ta-tapi, aku ha-harus bagaimana? Aku tidak tahu ha-harus bagaimana. Yang aku tahu, a-aku hanya ingin pergi secepatnya dari Sa-sasuke-kun."
"Pergi secepatnya?"
Sasuke merasa ia tidak mengerti maksud Hinata. Pergi secepatnya? Maksudnya tidak ingin bersama dirinya lagi, begitu? Jadi, apa maksud pengalaman pertama penuh cinta mereka malam itu? Apa tidak berarti apa-apa bagi Hinata?
"A-aku terbangun dengan berbagai rasa baru yang tidak da-dapat kukendalikan. A-aku bingung, ta-takut dan khawatir. Bingung de-dengan yang ter-terjadi ma-malam itu. Ta-takut dan khawatir ji-jika aku melakukan ke-kesalahan yang m-membuat Sa-sasuke-kun kecewa. A-aku juga malu, sa-sangat malu dan gu-gugup. A-aku tidak p-pernah segugup ini."
"Hinata."
Sepertinya Sasuke mulai memahami perasaan Hinata. Dia merutuki ketidakpekaannya pada hal-hal sensitif seperti ini. Ia tidak pernah mempedulikan wanita manapun, jadi ia tidak pernah terlibat dengan hal-hal yang berbau 'sensitivitas wanita'.
"D-dan Sasuke-kun tiba-tiba ada disini dan me-menyalahkanku. Sa-sasuke-kun bahkan mengejek ca-cara bicaraku yang ter-terbata. Apa Sasuke-kun ti-tidak tahu? A-aku sa-ngat gugup. Sa-sangat gugup sampai terbata seperti i-ini. Sa-sangat gugup sa-sampai detak jantungku b-berisik. Ba-bahkan sa-sampai sekarang juga ma-masih sangat gu-gugup. D-dan... dan m-malu."
"Kau... malu padaku?"
Sasuke dapat merasakan Hinata menganggukkan kepalanya dengan ragu-ragu. Sasuke tersenyum tipis. Sangat lega rasanya mengetahui alasan Hinata menghindarinya karena alasan 'semanis' itu. Malu. Bukan karena menyesal dengan apa yang telah terjadi pada mereka malam itu.
"Seharusnya kau tidak perlu malu, aku suamimu Hinata. Lagipula apa yang kau takutkan dan khawatirkan tidak beralasan."
Sasuke melepaskan satu tangannya yang memeluk Hinata dan mulai mengelus rambut Hinata yang lembut dan sedikit menyingkapnya untuk memanjakan matanya dengan 'tanda kemerahan' yang masih sangat kentara. Menunjukkan alasan mengapa Hinata menggerai rambutnya hari itu.
"Ti-tidak b-beralasan?"
"Hn. Karena sejujurnya tadi malam kau sungguh indah, cantik dan..."
Elusan tangan Sasuke mulai turun dari rambut menuju pipi Hinata, dan merasakan betapa lembut pipi istrinya. Pipi yang Sasuke sendiri lupa berapa banyak kecupan yang ia berikan semalam.
"D-dan?"
Sasuke menyeringai lebar mendengar keingintahuan Hinata akan lanjutan kalimatnya. Dalam hati, ia menduga-duga reaksi apa yang akan Hinata tunjukkan ketika ia mengatakannya. Daripada menduga-duga, sebaiknya ia melihat sendiri reaksi Hinata.
"Dan... sek-si."
.
.
"Silahkan dimulai."
"Baik Sasuke-sama. Agenda hari ini adalah membahas tentang permohonan Akatsuki Kingdom yang ingin menyatukan diri dengan Uchiha Kingdom. Permohonan pertama datang dari Keluarga Sarutobi, salah satu petinggi Akatsuki Kingdom yang kemudian diikuti oleh bangsawan-bangsawan Akatsuki Kingdom. Surat resmi permohonan diterima sejak dua hari yang lalu. Mereka ingin Akatsuki Kingdom dipimpin oleh Uchiha Kingdom karena sudah tidak dapat mempercayai keluarga besar kerajaan. Permohonan ini sangat didukung oleh rakyat Akatsuki Kingdom, terutama rakyat yang pernah ditindas selama kepemimpinan Pain dan keluarganya."
"Hn. Apa keuntungan yang akan kita dapatkan?"
"Perluasan wilayah dan kekayaan alam, Sasuke-sama." Jawab Chouji.
"Tapi, jika permohonan diterima maka bukan menutup kemungkinan akan munculnya pihak-pihak pemberontak, Sasuke-sama." Kali ini Naruto yang berbicara.
Sasuke cukup senang melihat Naruto kembali seperti semula, bersemangat. Walaupun belum tampak seratus persen seperti 'Naruto', paling tidak keadaannya yang sekarang sudah jauh lebih baik daripada terakhir kali mereka berbicara.
"Jadi, diterima atau ditolak?"
"Sebaiknya dilakukan pemungutan suara seperti biasa, Sasuke-sama."
"Tidak. Harus diingat bahwa suara terbanyak tidak menjamin keputusan terbaik. Pemungutan suara dilakukan hanya jika benar-benar tidak didapatkan keputusan yang lebih baik setelah melakukan musyawarah. Pemungutan suara adalah langkah terakhir."
Para menteri mengangguk, cukup paham dengan raja mereka yang sangat mengedepankan musyawarah.
"Kami menyerahkan keputusan pada Sasuke-sama."
Pernyataan Kiba diiringi oleh anggukan semua menteri.
"Apakah sampai sekarang masih ada rakyat yang ditindas oleh keluarga kerajaan? Apakah rakyat dapat menerima haknya dengan adil? Apakah menteri-menteri Akatsuki Kingdom suka menghambur-hamburkan uang dan memakan harta rakyat? Berapa persen rakyat yang mendukung pengalihan kekuasaan?"
"..."
Kebisuan para menteri tertolong dengan terbukanya pintu ruangan yang memunculkan Shizune, kepala pelayan yang mengurus Tuan Putri, Hinata. Dirasa kurang sopan memasuki ruangan dengan keadaan musyawarah sedang berlangsung, para menteri geram dan hendak membentak Shizune yang kemudian didahului oleh sang raja.
"Biarkan. Ia hanya menjalankan perintah."
Beberapa detik kemudian, kepala pelayan itu sudah pergi setelah sebelumnya permisi pada Sasuke. Para menteri jadi heran. Menjalankan perintah apa? Kepala pelayan itu hanya datang, mengatakan maaf lalu permisi undur diri. Tidak menyampaikan apa-apa. Rasa penasaran mereka dialihkan dengan Sasuke yang kembali mengangkat agenda musyawarah.
"Baiklah. Sebelum pertanyaaan-pertanyaan tadi dijawab, keputusan belum dapat diambil."
"..."
"Shikamaru, tugasmu mencari jawabannya. Paling lambat tiga hari kedepan semua harus sudah terjawab."
"Baik, Sasuke-sama."
"Dan... Naruto, cepat selesaikan urusanmu. Bersih, jangan ada sisa."
"Baik, Sasuke-sama."
"Musyawarah selesai."
Dengan itu Sasuke meninggalkan ruang musyawarah dengan segera.
Suara tawa Naruto diikuti oleh tawa menteri lainnya, karena akhirnya mereka mengerti penyebab rapat kali ini selesai dengan cepat setelah kedatangan kepala pelayan itu. Mereka menertawakan sikap Sang raja yang selama ini mereka kenal sangat cuek dan dingin dapat bertingkah seperti pria pada umumnya karena seorang wanita.
"Aku tidak mengerti, memangnya urusan apa yang harus kau selesaikan Naruto?"
.
.
"Hinata! Bagaimana keadaanmu?"
Kedatangan Sasuke membuat Hinata gagal mengingat kejadian yang menyebabkan ia tiba-tiba terbangun di kamar mereka. Kepalanya bertambah sakit karena berusaha menggali ingatannya dengan paksa.
"A-apa yang terjadi, Sasuke-kun?"
"Kau tiba-tiba pingsan lalu aku membawamu pulang."
Pingsan?
Pulang?
Ah, Hinata ingat. Seharusnya ia berada di pantai untuk menenangkan diri dan menghindar sejenak dari Sasuke. Selanjutnya, anak kecil yang mengajak bermain istana pasir, Sasuke datang dan merajuk?
'Apa Sasuke-kun masih... merajuk?' pikir Hinata.
Tidak. Ia ingat, setelah itu mereka berbicara dan semuanya baik-baik saja sampai Sasuke menggodanya dan... dan semuanya gelap.
Hinata lalu memandang Sasuke dengan tatapan menyelidik.
Tidak merasa bersalah? Pikirnya.
"S-sasuke-kun j-jangan menggodaku lagi." protes Hinata sambil memijat-mijat keningnya yang terasa berat.
"Aku hanya berusaha menenangkanmu dengan berkata jujur agar kau tidak perlu merasa malu." bantah Sasuke lalu mengambil tempat di samping Hinata.
"M-menenangkan? Aku sampai pingsan, Sasuke-kun."
"Hn, lupakan saja. Bagaimana keadaanmu?"
"A-aku baik-baik saja."
"Makanlah. Kau belum makan dari pagi, kan?"
Sasuke membaringkan diri di samping Hinata yang sedang makan. Mereka tidak banyak berbicara selama Hinata makan. Sasuke tidak tidur walaupun ia memejamkan matanya. Ia sibuk berpikir bagaimana mungkin Hinata pingsan hanya karena ia menggodanya. Hanya satu kata, sek-si. Dan tiba-tiba saja Hinata sudah tidak bergerak di pelukannya dengan wajah yang sangat merah. Bukankah Hinata yang mengalahkan Pain beberapa minggu yang lalu? Bagaimana mungkin wanita sekuat Hinata langsung pingsan hanya karena ia menggodanya? Sasuke tersenyum sendiri memikirkan kesimpulan yang didapatkannya. Hinata pemalu akut.
"Sasuke-kun..."
Sasuke membuka matanya sebagai tanda ia mendengarkan.
"Bagaimana dengan... Sakura-san?"
"..."
"..."
"Minggu depan ia akan diasingkan."
"A-apa hukumannya tidak bisa diringankan lagi?"
Sasuke mengerutkan keningnya karena kurang mengerti dengan maksud Hinata yang kembali mengungkit masalah Sakura. Ia lalu menarik Hinata agar berbaring di sampingnya, menghadap padanya.
"Kau kasihan padanya?"
"A-aku tidak tahu. Aku hanya merasa keputusan itu k-kurang adil untuk Sakura-san."
Sebenarnya Hinata ragu mengangkat topik ini sebagai bahan pembicaraan, tapi ia tidak dapat menahan perasaannya yang—sedikit-banyaknya—prihatin pada Sakura. Selain itu, ia memang ingin mendengar bagaimana perasaan Sasuke terhadap masalah Sakura.
"Itu adalah yang terbaik untuk semuanya."
Hinata melihat kesedihan di mata Sasuke ketika mengatakannya. Dia ragu untuk melanjutkan pertanyaannya.
"Lalu.. bagaimana perasaan Sasuke-kun?"
Tapi rasa keingintahuannya lebih besar.
"Hn?"
"Sasuke-kun dan Sakura-san sudah dekat sejak kecil. K-kalian tumbuh besar bersama-sama dan Sakura-san menyukai Sasuke-kun. Selama itu, Sakura-san selalu ada untuk Sasuke-kun. J-jika Sakura-san akan meninggalkan Sasuke-kun bagaimana p-perasaan Sasuke-kun? Dan..."
"Dan?"
"A-apa Sasuke-kun membenciku karena memisahkan kalian?"
"..."
"..."
"Sakura memang salah satu orang penting dalam hidupku. Aku tidak bisa membayar semua yang telah ia lakukan untuk Uchiha Kingdom. Kami, juga Naruto memang tumbuh besar bersama. Mereka berdua adalah sahabat terbaikku. Aku memang cukup sedih dengan keputusan pengasingan itu, tapi kesalahan yang dibuat Sakura sangat besar. Aku tidak membencinya, tapi aku juga belum bisa memaapkannya."
"..."
"Aku tidak suka mendengar pertanyaan terakhirmu."
"..."
"Dengar, kau sama sekali tidak memisahkan kami. Ini terjadi karena kesalahan Sakura. Dia seharusnya tahu resiko yang akan dia hadapi dengan bekerja sama dengan Akatsuki. Dia mengambil resiko itu, maka dia pula yang menanggungnya. Lagipula..."
Belajar dari pengalaman, Hinata tahu jika Sasuke menggantungkan kalimatnya seperti itu pastilah mengandung makna aneh tersendiri.
"Lagipiula?"—tapi Hinata sangat ingin tahu kelanjutannya, walaupun kesal melihat seringai menggoda Sasuke yang tiba-tiba muncul.
"Lagipula.. membuatku jatuh cinta padamu bukanlah kejahatan. Mana mungkin aku membencimu?"
Benar, kan? Hinata heran, dengan pembicaraan mereka yang serius Sasuke masih sempat menggodanya.
"T-tapi, Sakura-san adalah wanita yang baik."
"Hn. Aku tahu. Kau tenang saja, pada waktu yang tepat semuanya akan kembali baik-baik saja. Lagipula, setelah tiga tahun pengasingan Sakura diperbolehkan berkunjung ke Uchiha Kingdom. Sakura adalah wanita yang pintar, dengan waktu sebanyak itu dia pasti sudah mengetahui kesalahannya dan belajar dengan baik. Selain itu, akan ada yang menjaganya."
"Menjaganya?"
"Hn."
"M-maksud Sasuke-kun?"
"Kau akan tahu sendiri nanti."
Sasuke tersenyum mendapati Hinata yang sibuk berpikir. Pasti ia sedang menduga-duga maksud kalimatnya.
"Sekarang giliranmu."
"Eh?"
"Aku juga ingin mendengar kisahmu."
Tangan jahil Sasuke mulai memilin-milin ujung rambut Hinata.
"K-kisah apa?"
"Banyak, sebenarnya. Aku bahkan belum tahu bagaimana kehidupanmu dulu, seperti apa keluargamu atau alasan mengapa Hiashi-sama tidak pernah menunjukkanmu pada dunia luar."
"Um, i-itu..." sampai disini Hinata bingung harus menjawab apa.
"Kau... cukup mempercayaiku untuk mengetahui kisahmu, kan?"
"Aku mempercayai Sasuke-kun. Aku hanya bingung karena aku sendiri t-tidak tahu jawabannya, alasan mengapa tou-san 'mengurungku'. T-tou-san bukan orang yang terbuka, kami jarang berbicara. Ia hanya akan menemuiku untuk mengatakan apa yang boleh dan tidak boleh kulakukan. Ia tidak pernah tersenyum untukku. Saat tanganku berdarah ketika pertama kali menggunakan pedang, ia hanya mengatakan 'Kau ceroboh' lalu pergi. Saat kakiku terluka karena jatuh, ia akan mengatakan 'Kau lemah'. Saat aku menangis memohon diberi izin melihat pesta tahunan Hyuuga Kingdom, ia akan mengatakan 'Cengeng' dan sejak saat itu aku tidak pernah meminta izin keluar lagi."
Sasuke dapat melihat Hinata yang berusaha manahan air matanya agar tidak keluar.
"Kau membencinya?"
"Aku sering memikirkannya, mencari. Tapi tidak menemukan rasa benci pada Tou-san. Walaupun keras dan terkesan tidak peduli, aku selalu merasa bahwa Tou-san tidak pernah benar-benar mengabaikanku."
"Jadi, sebelum ini kau selalu menghadapi semuanya sendiri?"
"Hampir."
"Hampir?"
"Apakah aku sudah mengatakan bahwa aku mempunyai sepupu?"
"Hn."
"Memang tidak sering, tapi beberapa kali Neji-nii akan berkunjung ke Hyuuga Kingdom. A-ku pernah sangat terpuruk merasakan kehidupan monoton dan kesepian. 'Kau bisa melaluinya karena kau kuat. Aku percaya padamu, Hinata', itu kalimat yang selalu Neji-nii katakan. Hanya mengetahui ada satu orang yang peduli dan percaya padaku, aku akan kembali kuat."
Neji.
Hinata mengatakan pria itu hanya beberapa kali mengunjungi Hyuuga Kingdom, berarti pria itu tidak terlalu sering berinteraksi dengan Hinata. Tapi dari perkataan Hinata, Sasuke menyimpulkan sepertinya mereka cukup dekat dan Hinata sangat menyayangi pria itu.
Sasuke merasa sedikit cemburu karena pria itu ada disaat Hinata benar-benar membutuhkan seseorang. Mungkin lain kali ia dapat berterima kasih atau menawarkan pertemanan juga terdengar bagus. Tapi Sasuke bingung bagaimana cara memulai pertemanan karena ia tidak pernah melakukannya. Biasanya orang lainlah yang menawarkan itu padanya, jika ia merasa cukup nyaman maka ia membiarkannya. Tapi jika memulai? Apalagi ia belum mengenal sepupu Hinata itu, belum tentu pria itu adalah pria yang mudah diajak 'berbicara' mengingat pria itu seorang Hyuuga. Seperti apa pria itu?
Seperti apa Hyuuga Neji?
.
.
Sang pria tampak biasa-biasa sedangkan sang gadis tampak tak nyaman. Bahkan keindahan taman tak dapat memperbaiki kondisi ketikaknyamanan sang gadis. Cukup lama mereka hanya duduk terdiam sampai akhirnya gadis itu mulai tak tahan.
"A-aku akan pergi malam ini, Sasuke-kun"
Pria yang diajak berbicara diam saja, tidak bergerak dari posisi duduknya. Sang gadis—Sakura—tidak mengharapkan ini, paling tidak ia ingin Sasuke terkejut—walaupun sedikit—dengan pernyataannya.
"Kau yakin?"
Tidak, Sakura tidak yakin.
"Y-ya."
Dalam hati Sakura ia berharap Sasuke akan menahannya agar tidak pergi dan mengatakan agar menunggu sampai hari yang ditentukan, minggu depan. Sungguh, jika Sasuke yang mengatakan agar ia bertahan selama itu Sakura akan langsung menyanggupinya. Ia dengan senang hati akan menutup mata dan telinganya terhadap para pelayan itu.
"Aku akan menyiapkan pengawal terbaik untuk mengantarmu."
Sakura mengepalkan tangannya kuat-kuat mendengar jawaban yang kembali menyakiti hatinya. Walaupun dia tahu bahwa jawaban Sasuke tidak pernah sesuai dengan keinginannya, ia masih berharap. Seperti yang sudah ia lakukan selama ini.
"H-hanya itu? kenapa Sasuke-kun tidak peduli sedikit pun pada perasaanku? Paling tidak berpura-puralah. Berpura-pura peduli. Apa karena Sasuke-kun membenciku, masih marah padaku? Mengenai Hinata-san, aku tahu aku salah dan a-aku minta maaf. Jadi, tolong jangan mengabaikanku."
Walaupun benci mengatakan 'aku tahu aku salah dan aku minta maaf' Sakura tetap mengatakannya. Tidak. Ia masih tidak terima jika dia disalahkan karena bukan ia yang mengusik Hinata, tapi Hinata yang masuk dan mengusik kehidupan mereka. Tapi demi Sasuke, Sakura akan mengatakan dan melakukan apa saja agar pria itu tidak mengabaikannya lagi.
Hening.
Sasuke tidak menyukai pembicaraan 'sejenis' ini. Seharusnya Sakura tahu bahwa ia tidak menyukai hal-hal mengenai masalah wanita, perasaan mereka atau tingkah-tingkah 'aneh' mereka. Berpura-pura katanya? Itu pun merupakan hal yang paling Sasuke benci, dan Sakura seharusnya—juga—tahu akan hal itu. Sasuke mengerti arah pembicaraan Sakura. Kenapa lagi-lagi seperti ini? Seharusnya semuanya sangat jelas karena Sasuke merasa tidak pernah memberikan harapan lebih pada gadis manapun selama ini, apalagi pada Sakura. Sakura adalah sahabatnya, tidak mungkin ia mempermainkannya. Jadi, mengapa selalu seperti ini?
Ia ingin menghindar ketika Sakura menghampirinya dan mengatakan ingin berbicara dengannya. Walaupun Sakura mengatakan hanya sebentar saja, tetap saja rasanya waktu berjalan lambat karena hal yang dibahas adalah masalah 'aneh' wanita.
Kemudian sesuatu membuatnya dengan enggan setuju.
A-ku pernah sangat terpuruk merasakan kehidupan monoton dan kesepian. 'Kau bisa melaluinya karena kau kuat. Aku percaya padamu, Hinata', itu kalimat yang selalu Neji-nii katakan. Hanya mengetahui ada satu orang yang peduli dan percaya padaku, aku akan kembali kuat.
Hanya mengetahui ada satu orang yang peduli dan percaya padaku, aku akan kembali kuat.
Satu orang.
Baiklah, mungkin ia akan mencoba menjadi 'sahabat yang baik'.
"Aku tidak mengabaikanmu, Sakura."
Sakura tidak berkomentar. Sasuke tahu, Sakura tidak mempercayai apa yang baru saja ia katakan.
"Aku tidak mengabaikanmu."
"Tapi Sasuke-kun mendiamkanku, dan jika aku tidak memohon mungkin sekarang Sasuke-kun tidak mau berbicara denganku. Dan Sasuke-kun seperti menginginkanku cepat pergi dari sini, bahkan Sasuke-kun tidak berpikir dua kali dan langsung menyetujui rencanaku yang ingin pergi malam ini. Kenapa, kenapa begitu mudahnya melepaskannku? Aku mulai berpikir bahwa mungkin ini yang Sasuke-kun inginkan."
"Karena aku percaya padamu."
"S-Sasuke-kun percaya padaku?"
Sakura mencoba mempercayai pendengarannya.
"Hn, karena kau sahabatku. Apapun keputusanmu, aku mendukungmu. Kau ingin pergi malam ini karena pasti telah memikirkannya dengan baik. Aku tidak marah, apalagi membencimu. Hanya saja aku membutuhkan waktu untuk memaapkanmu."
Tapi, Sasuke juga belum memaapkannya.
"S-sampai kapan Sasuke-kun memerlukan waktu agar bisa memaapkanku?"
"Tergantung."
"..."
"Tergantung sebanyak apa kau memerlukan waktu untuk kembali menjadi 'Sakura' yang dulu. Jadi dirimu sendiri."
"Dan saat itu... Sasuke-kun akan memaafkanku?"
"Hn, tentu saja. Dan aku juga percaya itu tidak akan lama karena kau wanita yang cerdas. Jadi, kau juga harus percaya pada dirimu sendiri."
Sakura tersenyum setelah sekian lama tidak menampakkannya. Sasuke mengatakan ia wanita yang cerdas. Pria itu memujinya, hal yang tak pernah ia lakukan selama ini. Rasa senang mulai mengaliri hatinya. Ini melebihi harapannya. Sasuke percaya padanya. Sakura berpikir tidak akan ada lagi yang mempercayainya, semua orang membencinya.
"Dan... aku tidak berpura-pura." tambah Sasuke, yang memunculkan kembali senyum Sakura.
"Aku percaya, Sasuke-kun."
Tentu saja, jika pria yang ia cintai mempercayainya, maka ia harus mempercayai dirinya sendiri.
"Hn."
Jika akan se-senang ini, seharusnya dari awal Sakura tidak perlu ragu-ragu mengajak Sasuke berbicara. Dia tidak menyangkan hari-hari yang paling menyedihkan untuknya akan menjadi hari dimana ia mengetahui bahwa pria pujaannya ternyata cukup peduli dengan dirinya.
"Sasuke-kun, terima kasih telah menjadi satu-satunya orang yang percaya padaku ketika semua orang menjauhiku."
"Tidak. Jika kau memikirkannya lagi banyak orang yang masih mempercayaimu. Naruto, bahkan Hinata juga mempercayaimu."
"H-Hinata-san?"
"Mungkin kau tidak percaya, tapi aku merasa Hinata benar-benar ingin berteman denganmu. Kuharap kau menyadarinya suatu saat nanti."
"Sasuke-kun berubah."
"Hn?"
Sakura tersenyum miris.
"Sasuke-kun tidak pernah berbicara sebanyak ini. Dan sejak kapan Sasuke-kun menjadi lebih peka?"
"Apa itu buruk?"
Sakura hanya menggeleng dan tersenyum.
Tidak buruk, bahkan sangat bagus. Sakura hanya sedikit kecewa bahwa bukan ia yang menyebabkan perubahan itu. Walaupun selama ini ia selalu tampil ceria di depan Sasuke, hal tersebut sama sekali tidak berpengaruh pada pria pujaannya. Dan walaupun sulit menerima, ia harus mengakui bahwa keberadaan Hinata-lah yang membuat perubahan itu.
.
.
.
.
"Bagaimana pelatihanmu?"
"Baik-baik saja, Ojii-sama."
"Apa yang Ojii-sama butuhkan hingga memanggilku kembali ke Hyuuga Kingdom?"
Selama perjalanan pulang, pemuda itu memang tanpa henti memikirkan alasan paling mungkin atas mengapa tiba-tiba Hyuuga Hiashi memanggilnya ke Hyuuga Kingdom. Dan ia tidak ingin menahan keingintahuan yang sudah ingin meledak di kepalanya lebih lama lagi.
Hyuuga Hiashi terdiam beberapa saat sebelum meberikan perhatiannya pada teh hijau di atas meja berwarna emas di depannya. Perlahan, ia menyesap aroma teh hijau kesukaannya sebelum meminumnya dengan santai.
"Apa kau merindukan putriku?"
Walaupun tidak melihat wajah pemuda di depannya, Hyuuga Hiashi mengetahui keterkejutan yang coba disembunyikan pemuda itu. Ia sudah memikirkan rencana yang ia buat dengan matang, dan ia memerlukan pemuda di hadapannya untuk mendukung rencana itu. Lagipula, rencana yang ia buat tidak merugikan pemuda itu sama sekali. Sebaliknya, sangat menguntungkan pemuda itu karena Hyuuga Hiashi tahu dibalik sikap tenangnya, pemuda itu menyimpan 'perasaan istimewa' pada putrinya.
Bingung.
Ia bingung harus menjawab apa atas pertanyaan raja tua itu. walaupun ia masih dapat menjaga sikap tenangnya, tapi jantungnya memompa dengan cepat. Pemuda itu tidak menyangka rahasia yang selama ini ia jaga dengan mudahnya diketahui oleh orang yang paling ia segani. Ia harus menjawab apa? Untuk mengangkat wajahnya saja ia sudah tidak sanggup sekarang.
"Apa kau merindukan putriku, Neji?"
.
.
.
.
Jika bahasa dan plotnya kurang nyambung, maap ya~, saia agag lupa jalan ceritanya -_-
Em, mungkin ada 2 atau 3 chapter lagi.
Next chapter mungkin 2 atau 3 minggu lagi (?)
Untuk yang PM, terimakasih. Tapi:
Saia tidak melayani M-rate fic, saia yakin banyak author yang lebih berkompeten di rate itu. Gomen ne~ *bow
Saia bukan Sakura hater. Saia cukup 'fine' dengan Sakura asalkan tidak dipairingkan dengan Sasuke –LOL—
Lelet? Saia merasa sudah mencantumkan HIATUS di profil page saia. Ah, tapi mungkin tidak ada yang melihat. So, maap lagi ^_^
Jangan panggil 'senpai' karena saia masih baru.
Teruntuk yang baca, review, fav, follow
Arigatou, minna-san... ^_^
