Disclaimer: Inuyasha adalah hak milik Rumiko Takahashi

A/N: Halo semua, apa kabar? ^_^ Maaf kalau cerita ini update an nya ngadar-ngidur, dan makasih buat yg udah baca dan review! Oh ya, jalan cerita ini bakalan kaya usulnya reviewer tharaaw (trims saramu! Dan maaf baru bisa update skrg!) so, stay tuned!

Chapter 9.

Dengan langkah berat, Kagome berjalan menuju kelasnya. Ucapan Inuyasha barusan membuatnya benar-benar merasa bodoh. Dia sudah tau lelaki itu sudah memiliki kekasih yang tidak bisa dia tinggalkan, tapi kenapa dia harus keras kepala dan malah mengutarakan perasaannya?

'Aku memang bodoh. Inuyasha hanya baik sedikit saja kepadaku dan aku malah…' Belum sempat selesai pikirannya itu, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Karena aku tidak bisa menyakiti Kikyo."

Jadi Inuyasha bisa menyakitinya, tetapi tidak Kikyo?

Kagome menghentikan langkahnya. "Dia bilang dia peduli padaku," ucapnya pelan dengan nada lirih, "tapi pada akhirnya, tetap saja, di hatinya cuma ada Kikyo."

Tetes air mata mulai membasahi wajah gadis berambut hitam itu. Perasaan sesal, bingung dan bercampur tak karu-karuan di hatinya.

'Kalau saja… kalau saja Kikyo itu tidak ada…' Begitu pemikiran itu muncul di benaknya, Kagome tersentak kaget. 'Astaga… kenapa aku bisa sampai berpikiran seperti itu?'

Jatuh cinta kadang memang membuat orang tidak rasional…

"Lebih baik aku pulang saja. Tidak mungkin aku kembali ke kelas dengan muka sembab dan pikiran kacau begini. Nanti aku telepon Sango saja minta tolong bawa tasku." Gumam Kagome pelan.

Gadis berambut hitam itupun lantas berbalik arah untuk menuju rumahnya. Sepajang perjalanan, kata-kata Inuyasha terus terngiang-ngiang di kepalanya.

"Tiap kali aku berada didekatmu, aku merasa aman dan tentram."

Kalau benar begitu mengapa Inuyasha tidak bisa….mencintainya?

"Tanpa kusadari, sosokmu, keberadaanmu, mulai jadi sesuatu yang penting untukku."

Tidak, dia hanya mengatakan itu untuk menyenangkan hatimu….

"Aku…aku juga peduli padamu, Kagome. Mungkin lebih dari yang kau tahu."

"Hentikan, hentikan!" Kagome menutup telinganya dan mulai berlari. Kenapa suara Inuyasha terus muncul di benaknya?

Gadis itu berlari semakin cepat, dan tanpa disadarinya, lampu penyebrangan jalan sudah berganti warna menjadi merah. Betapa kagetnya dia saat melihat sebuah mobil putih berlambang Mercedes yang melaju cepat ke arahnya.

CKIIITTTT

Kagome menutup matanya pasrah.

.

.

.

Jantung Sesshomaru terasa hampir lepas ketika dilihatnya seorang gadis berpakaian seragam sekolah berlari tepat di depan mobilnya yang sedang melaju cepat. Spontan, di injaknya rem di kakinya dengan keras sehingga mobilnya tersentak berhenti.

"Astaga." Ucapnya pelan ketika mobilnya berhenti. Untung saja di belakangnya tidak ada mobil, kalau tidak bisa-bisa ia ditabrak dari belakang karena rem mendadak. Dengan cepat Sesshomaru keluar dari mobilnya untuk mengecek gadis yang hampir dia tabrak itu.

"Nona, nona tidak apa-apa?" tanyanya cemas sambil menyentuh punggung gadis yang terduduk kaget itu.

Karena rambutnya menutupi wajahnya, Sesshomaru tidak bisa melihat jelas wajah gadis itu, namun betapa kagetnya dia saat gadis itu mengangkat kepalanya.

"Kagome?" Ucap Sesshomaru dengan nada terkejut.

Kagome pun menatap mata kecoklatan milik pemuda berambut panjang itu. "Sessho-maru?"

"Kau tidak apa-apa? Tanya Sesshomaru lagi.

Kagome mengangguk. "Maaf, aku tidak melihat lampu nya sudah berganti warna, aku hanya…." Belum sempat kalimatnya itu diselesaikannya, dirasakannya tetes air matanya mulai menitik dari matanya lagi.

"Ka-kagome?" Ucap Sesshomaru panik, "Aku tidak menabrakmu kan? Ada apa? Ada yang sakit?"

"Uhh.." Kagome berusaha menghentikan isak tangisnya. "Sesshomaru!" Dipeluknya pemuda berambut panjang di depannya itu.

Rasa panik Sesshomaru sekejab berubah menjadi kejut saat Kagome memeluknya sambil menangis terisak-isak. Namun pandangan matanya mulai melembut saat dia mengerti kalah sesuatu mungkin telah terjadi pada gadis itu sehingga membuatnya begitu histeris. Dipeluknya kembali gadis itu sambil mengusap-usap rambutnya.

"Sssshh... Tenanglah. Apa kau mau menceritakannya padaku?" Ucapnya pelan.

Kagome mengangguk. Di saat seperti ini, dia sangat membutuhkan seseorang untuk berbagi, dan Sesshomaru di matanya adalah sosok yang bisa dipercaya.

.

.

"Aku tahu aku egois.., tapi aku tidak bisa menghilangkan perasaan ini, Sesshomaru. Kalau saja aku tahu ini akan terjadi, lebih baik aku tidak pernah bertemu dengan Inuyasha." Tutur Kagome lirih.

Dengan sabar dan tenang, Sesshomaru mendengarkan curahan hati gadis berambut hitam itu. Jadi adiknya itu telah membuat gadis itu patah hati.

"Kau tidak bisa menyalahkan takdir, Kagome." Ucapnya pelan sambil meletakkan lemon tea nya kembali di meja.

Kagome menggigit bibirnya. "Aku tahu, Sesshomaru. Aku… Aku tidak seharusnya menyesalkan pertemuanku dengan Inuyasha. Aku hanya berharap… aku tidak sebodoh itu dan jatuh cinta padanya."

Sesshomaru menghela nafas panjang. "Jatuh cinta bukanlah hal yang bodoh, Kagome. Jatuh cinta hanya membuatmu…. Berpikir sedikit tidak jernih."

"Haha.. apa bedanya kedua hal itu, Sesshomaru?" Kagome tertawa.

Sesshomaru menatap wajah Kagome. Dia memang tidak bermaksud untuk melucu, tapi melihat senyum yang kembali menghiasi wajah gadis berambut hitam didepannya itu, tanpa sadar seutas senyum juga terulas di wajahnya.

"Nah… begitu Akhirnya kau tersenyum juga, Kagome. Dari tadi wajahmu masam, kau jauh lebih cantik kalau tersenyum seperti itu."

Pipi Kagome merona merah dan Sesshomaru sadar apa yang telah dikatakannya.

"Maksudku… kau lebih cocok tersenyum, Kagome." Ucap Sesshomaru cepat.

"Itu berkatmu, Sesshomaru, terima kasih yah kau sudah mau repot- repot menemaniku… aku jadi tidak enak." Jawab Kagome.

Sesshomaru menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu berterima kasih kepadaku. Sudah sepantasnya kan sebagai teman aku menemanimu ngobrol?"

Kagome kembali tersenyum. Sekilas pemuda berambut panjang itu memang terlihat dingin dan kaku, tetapi setelah berbicara dengannya beberapa kali, Sesshomaru ternyata adalah orang yang lembut dan pengertian.

Sekilas, Sesshomaru merasakan jantungnya berdetak. Ada sesuatu di senyum gadis itu yang membuat jantungnya melewati satu detakan. Senyum yang cantik, namun misterius dan penuh arti.

'Mungkin hanya imajinasiku.' Pikir Sesshomaru sambil menenangkan hatinya.

"Aduh, sudah jam segini… Sepertinya aku sudah harus pulang!" Ujar Kagome.

Sesshomaru melihat jam di tangan kanannya. "Oh iya, sudah mau malam. Ayo, kuantar kau pulang."

.

.

.

.


"Huh, perempuan itu ada-ada saja deh." Gerutu Inuyasha seraya berjalan sambil mendribble bola basket di tangan kanannya.

FLASHBACK

"Inuyasha, boleh tidak aku minta tolong?"

Inuyasha yang sedang memasukkan buku ke lokernya itupun lalu menatap gadis berambut brunet disebelahnya. "Eh? Ada apa, Sango?"

Sango tersenyum kecil. "Tadi Kagome meneleponku, katanya dia tidak enak badan jadi ijin pulang. Lalu dia memintaku membawakan tasnya pulang… Tapi hari ini aku sudah janji akan main kerumah bibiku sepulang sekolah, jadi bisa kan kau antar tasnya pada Kagome?"

Inuyasha menelan ludah. Kagome sepertinya tidak bercerita kepada Sango tentang apa yang baru saja terjadi.

"Eh… tapi hari ini aku harus latihan basket…" elak Inuyasha.

"Tidak apa-apa, kau bisa antarkan sehabis latihan basketmu usai.. lagi pula besok tidak ada test ataupun PR, jadi Kagome tidak butuh belajar. Ya, ya? Pleaseee…" Mohon Sango dengan mata berbinar-binar.

Inuyasha kembali menelan ludah.

"Baiklah…."

END FLASHBACK

'Dengan bodohnya aku menyerah dengan semudah itu…' Pikir Inuyasha sambil terus berjalan menuju rumah Kagome.

Perjalannnya menuju rumah Kagome terasa begitu cepat. "Tinggal satu tikungan lagi…" gumamnya.

Hatinya gugup. Bagaimana jika Kagome tidak mau bertemu dengannya? Akhirnya dilewatinya tikungan itu. Dilihatnya sebuah mobil putih di depan rumah Kagome.

"Eh? Apa sedang ada tamu ya di rumah Kagome?"

Namun betapa terkejutnya dia saat dilihatnya plat mobil putih berlambang Mercedez itu.

'Sessho..maru? Apa yang dia lakukan disini?' Pikirnya heran.

Inuyasha pun teringat beberapa hari yang lalu Sesshomaru pernah bilang kalau dia bertemu dengan Kagome, dan Kagome ingin menjadi temannya.

'Tak kusangka, ternyata mereka sudah dekat.' Pikir Inuyasha sambil menunduk. Dilihatnya Sesshomaru dan Kagome keluar dari mobil, dan dengan cepat dia bersembunyi di balik tembok di tikungan itu.

"Terima kasih ya untuk hari ini, Sesshomaru!" ucap Kagome sambil tersenyum.

Inuyasha memperhatikan wajah gadis yang telah menarik hatinya itu. Senyum itu seharusnya hanya untuknya!

'Mikir apa kau ini, Inuyasha.' Batinnya, 'Jelas-jelas kau baru saja menolaknya hari ini. Ingat, kau itu punya Kikyo!'

Namun tetap saja, rasa kesal di hatinya itu tidak bisa dihilangkannya.

"Sama-sama, Kagome. Ingat, kalau kau butuh sesuatu, atau ingin kutemani ngobrol, jangan sungkan-sungkan hubungi aku." Balas Sesshomaru sambil tersenyum.

Inuyasha tercengang. Baru kali ini dia melihat kakak nya tersenyum seperti itu.

"Oke… aku masuk dulu ya. Sampai jumpa, Sesshomaru!"

"Sampai jumpa, Kagome."

Saat didengarnya suara mobil Sesshomaru menjauh, Inuyasha pun berjalan ke rumah Kagome.

"Kagome!" panggilnya saat gadis itu hendak menutup gerbang rumahnnya.

Kagome terlihat sangat terkejut. Dia tidak mengira Inuyasha akan datang ke rumahnya sore itu.

"Inu-yasha..?"

Inuyasha tiba-tiba kehilangan kata-kata. "Aku…. Er, ini, tasmu. Tadi Sango memintaku untuk membawakannya untukmu, karena dia harus kerumah bibinya sepulang sekolah."

Kagome mengangguk. "Terima kasih Inuyasha, uh.. apa kau mau masuk dulu? Biar kubuatkan teh atau sesuatu…."

Inuyasha menggelengkan kepalanya. "Tidak usah, Kagome, aku, uh… ada urusan. Aku harus buru-buru pergi."

"Oh ya? Memangnya kau mau kemana Inuyasha?" Tanya Kagome lagi, berusaha bersikap casual untuk memecahkan kecanggungan di percakapan mereka.

Inuyasha tidak tahu mau menjawab apa, dan akhirnya..

"Uhh.. Aku mau menemui Kikyo."

'Shooot… Bodoh sekali aku kenapa tiba-tiba jadi Kikyo?' Pikir Inuyasha.

Kekecewaan terulas di raut wajah Kagome. 'Jadi dia buru-buru karena ingin menemui Kikyo ya…' Pikirnya sedih.

"Uh…ngomong-ngomong, tadi kau habis pergi dengan Sesshomaru?" ujar Inuyasha lagi, berusaha mengalihkan topik.

"Iya… tadi kami habis dari café Sakura, lalu dia mengantarku pulang." Jawab Kagome.

"Kau, uh… lebih baik tidak usah sering bertemu dengannya, Kagome." Ucap Inuyasha.

Kagome mengernyitkan dahinya. "Memangnya kenapa, Inuyasha?"

"Yah, pokoknya begitu! Aku ini adiknya, aku tahu sifat Sesshomaru dan lagak-lagaknya. Kusarankan kau jangan terlalu dekat dengannya." Jawab Inuyasha ngotot.

"Memangnya kau siapaku, Inuyasha? Kenapa mengatur-atur begitu? Ya terserahku dong mau dekat dengan siapa." Balas Kagome kesal. Hatinya yang sedang kacau membuatnya naik darah dengan omongan Inuyasha yang menjelek-jelekkan kakaknya itu.

"Aku ini temanmu!" jawab Inuyasha tidak mau kalah.

"Oh? Aku juga temanmu Inuyasha. Tapi aku tidak memaksamu untuk mampir kerumahku dan menyuruhmu untuk tidak menemui Kikyo kan? Balas Kagome sinis.

Inuyasha menggeram kesal. "Itu berbeda. Kikyo itu PACARKU. Kamu ngerti gak sih?"

Kagome tersentak kaget mendengar nada bicara Inuyasha, dan Inuyasha sadar kalau dia sepertinya sudah berlebihan.

"Maaf, aku tidak bermaksud untuk membentakmu, aku-"

"Cukup, Inuyasha," ucap Kagome pelan, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, "Kau… tidak perlu menjelaskannya kepadaku. Aku mengerti, aku tidak akan bicara apa-apa lagi, maaf."

"Kagome- Aku-"

Kagome tersenyum paksa. "Tidak apa-apa, aku mengerti kok. Lebih baik kau cepat menemui Kikyo. Dia pasti sudah menunggumu."

Inuyasha tidak bisa berkata apa-apa, seolah-olah suaranya hilang.

"Selamat malam, Inuyasha." Ucap Kagome sambil menutup pintu gerbang rumahnya.

Beriringan dengan gerbang itu ditutup, Inuyasha sadar dia mungkin telah melakukan sesuatu yang akan dia sesali selamanya…

...

End Chapter 9