Sequel of I am a bad girl

Ooc, Gs, Typo(s), tidak sesuai EYD dll.

Ranted : T

Chapter : 2/?

It's HunHan Story.

.

Mereka sudah berada di London tepatnya di apartemen Sehun. Luhan tengah membereskan barang – barangnya. Empat buah koper besar berjajar dihadapannya. Luhan tengah membereskan baju – baju dilemari.

"Apa yang kau lakukan? Aku masih harus membereskan bajumu." Ujar Luhan sambil kembali membereskan baju itu dilemari menyusunnya dengan rapi. Sehun menggeleng pelan dan mengeratkan pelukannya.

"Kau tidak lelah? Perjalanan tadi sangat jauh." Ucap Sehun serasa melepaskan pelukannya dan berdiri disamping Luhan yang masih asik menyusun baju.

"Sepanjang jalan aku tidur, kau ingat? Seharusnya kau yang istirahat bukan aku." Ujar Luhan menatap Sehun sebentar kemudian berjalan menuju koper dan mengambil sisa baju yang masih tersisa disana dan menatanya di lemari.

"Sini biar aku bantu." Ucap Sehun sambil meraih beberapa tumpuk baju dan menyusunnya di lemari. "Dengan begini pekerjaanmu cepat selesai dan kau bisa menemaniku istirahat." Lanjutnya. Luhan yang ada disampingnya hanya terkekeh.

"Sejak kapan kau seperti ini? sudahlah, biar aku yang membereskannya. Kau harus ingat besok ada pekerjaan yang menantimu jadi sebaiknya kau berbaring dikasur." Ucap Luhan kembali meraih pakaian itu dari tangan Sehun tapi sayang pria itu terlalu gesit.

"Maka dari itu, biarkan aku membantumu dan menyelesaikan pekerjaan ini dengan cepat dengan begitu aku bisa memelukmu lebih lama, kau tau sendiri beberapa hari kedepan aku akan kembali sibuk." Ucap Sehun kembali menaruh pakaian terakhirnya di lemari. Dia hendak mengambil baju yang ada di koper kedua tapi sayang tangan Luhan menahannya.

"Tidurlah. Aku akan menemanimu, ini bisa aku lakukan nanti." Ujarnya kemudian menarik Sehun menuju tempat tidurnya.

Luhan membaringkan dirinya disamping Sehun dan membiarkan pria itu membawa kedalam pelukannya. Luhan melingkarkan sebelah tangannya dileher Sehun dan yang satunya lagi berada didada bidang pria itu. Luhan merasakan bibir Sehun mengecup keningnya dan detik berikutnya tangan yang memeluknya semakin erat.

"Aku benar – benar berharap ini cepat berakhir. Aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu." Bisik Sehun tanpa membuka matanya. Luhan mengangguk menyetujui.

"Akupun, tapi untuk sekarang, berhentilah bicara dan cepat tidur atau aku tidak akan menemanimu." Ancamnya yang membuat Sehun malah tertawa. Luhanpun ikut terkekeh dan menyandarkan kepalanya di dada Sehun mencari posisi yang lebih membuatnya nyaman.

~Honeymoon~

Luhan bangun dengan sebuah alarm yang berdering disampingnya, dia mengerjapkan mata dan meregangkan sedikit badannya. Tapi saat menatap kasur disampingnya ternyata Sehun sudah tidak berada disana. Dengan mata yang masih sedikit terpejam Luhan mengambil sebuah jepit rambut dimeja dan mengikat rambutnya asal. Luhan menyingkapkan selimut dan berjalan keluar kamar.

Dia tidak menemukan siapapun di sana, Luhan mencari kesetiap sudut ruangan tapi sayang dia sama sekali tidak menemukan Sehun. Wanita itu menghembuskan nafas panjang dan kembali ke kamarnya berniat untuk membereskan tempat tidur dan mandi.

Saat tangannya terngah menarik selimut, ponselnya menyala, Luhanpun beranjak untuk meraihnya.

Maaf, manager menyuruhku datang pagi sekali. Aku tidak tega membangunkanmu jadi aku pergi diam – diam. Aku tidak akan pulang larut hari ini… mungkin. Aku akan kembali sebelum kau sempat merindukanku. Love you- Sehun.

Luhan mendengus pelan tapi kemudian dia terkekeh dan meletakan ponsel itu di meja, dengan cepat dia membereskan tempat tidur dan segera mandi. Tidak membutuhkan waktu lama untuknya kembali berpakaian rapi.

Luhan berjalan menuju ruang tengah, dia menyalakan televisi mencoba membunuh kebosananya sambil menunggu Sehun pulang. Tapi tak lama kemudian ponselnya berdering, Luhan segera menyambar ponsel yang tergeletak dihadapannya itu.

Mereka mengatakan aku akan pulang sore hari, aku tau kau bosan berada di rumah jadi jika kau mau kau boleh keluar dan berjalan – jalan. Mungkin kau merindukan London.

Luhan mengigit bibirnya dia menatap keluar lewat jendela yang ada disamping kirinya. Dia menghembuskan nafas panjang, satu hal yang paling dia rindukan dari London tak lain adalah bar.

~Honeymoon~

Luhan masih duduk menatap televisi yang sedang menanyangkan sebuah iklan produk makanan dengan seorang wanita yang terlihat begitu senang saat menyuapkan makanan itu kedalam mulutnya dan hal itu membuat Luhan mendelik dan mematikan televisi. Cara ini memang tidak ampuh membunuh kebosanannya, saat dia berada di Seoul setidaknya dia bisa datang ke rumah orang tuanya dan mengobrol dengan ibunya tapi ini berbeda, sekarang dia berada di London.

Luhan tengah melempar remote ke sofa yang ada di sampingnya saat ponselnya kembali berdering keras. Sebuah panggilan masuk dari Sehun.

"Hallo." Jawab Luhan.

"Kau terdengar sangat kebosanan kau tau? Mungkin tak lama lagi kau akan meledak karena terlalu lama diam."

"Yeah… mungkin saja, ngomong – ngomong kenapa kau menelphone? Kau sudah berada dijalan untuk pulang?"

"Tidak, hari ini sepertinya semua orang tengah dalam keadaan hati yang buruk, kau tau? Proses syuting pembuatan iklan berjalan sangat lama karena semua kru sepertinya baru saja kehilangan janggutnya."

Luhan terkekeh kemudian menghela nafas panjang. "kalau bergitu kembali bekerja atau kau akan ikut kehilangan janggutmu." Dia mendengar Sehun tertawa di ujung telphone sana.

"Tapi aku tau tidak bisa membiarkan dirimu kebosanan di apartemen sana. Aku tau belakangan ini kau selalu tak betah berada di rumah, jadi sebaiknya kau keluar atau jika kau mau… kau boleh mengunjungi bar."

Tidak ada jawaban dari Luhan membuat Sehun harus memastikan kalau wanita itu masih berada diujung telphone dan mengengarkan ucapannya.

"Aku tidak tau Sehun… aku tidak mau kembali terjebak disana, walau sebenarnya aku…"

"Kau merindukannya. Aku tau, bagaimana jika sekarang, kau pergi kesana, dan 3 jam lagi aku akan menjemputmu disana. Bukankan dulu kau pernah mengatakan kalau saat siang hari tidak ada terlalu banyak pengunjung yang datang?"

Luhan berpikir sesaat. "Baiklah. Aku akan pergi. Jemput aku disana 3 jam lagi, atau kau tidak akan menemukanku sama sekali." Ucap Luhan sambil terkekeh dan menutup sambungan telphone. Dia langsung bangkit dan bersiap untuk pergi ke bar.

Luhan mengendarai sebuah taksi untuk mencapai tempat itu, sepanjang jalan dia habiskan untuk melepas rasa rindu pada suasana London yag sudah lama sekali tak dirasakannya. Lama waktu berselang akhirnya dia sampai bar. Luhan menyerahkan beberapa uang dolar kemudian masuk kedalam bar.

Seperti apa yang dikatakan Sehun saat siang hari seperti ini memang tidak terlalu banyak pengunjung, mungkin hanya beberapa anak muda yang sedang menikmati cocktail sambil mengobrol dengan pasangannnya, atau mungkin hanya beberapa orang yang membeli minuman.

Luhan menatap ke seluruh penjuru ruangan mencari seseorang yang sudah lama tak ditemuinya. Tak lama kemudian dia menangkap sesosok pria bertubuh tambun dengan sebuah jas hitam yang dipadukan dengan kemeja putih dan sebuah dasi yang menempel di lehernya. Dia berjalan sambil terkekeh menghampir pria itu.

"Boss." Ujar Luhan pada pria yang sekarang membelakanginya itu. Pria yang tak lain adalah bosnya itu berbalik dan untuk beberapa saat dia yakin sekali sang bos tersentak kaget.

"Don't tell me you're Luhan." Ujarnya tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

"Well… but the problem here is I'm Luhan."

"Oh god…" kemudian sang bos memeluknya dengan erat membuatnya sedikit kesulitan bernafas, tapi setidaknya Luhan sangat senang karena dia tau pria dihadapannya ini sangat merindukannya.

"Don't you know? I miss you sooooo muchhhh." Ucap sang bos berlebihan.

"Really? I think you lie, because I saw you were talking to someone." Ucap Luhan sambil menunjukan seorang wanita yang tadi dilihatnya berbicara dengan sang bos tapi sekarang dia tengah berjalan masuk kedalam sebuah ruangan yang Luhan tau sekali itu tempat mengganti baju.

"Ah… She's Emily. She's new dancer here." Jelas sang bos kemudian kembali mengalihkan tatapannya pada Luhan. "You know, you seems different. You look… like… a little bit…"

"Girly?" Lanjut Luhan membuat sang bos tertawa sambil mengangguk.

"Yeah… seems like that, but actually you look more beautiful. Oh… I forget, let's take seat." Ucap sang bosa sambil membawa Luhan ke salah satu tempat duduk di samping ruangan. Wanita itu hanya mengikutinya.

"So… why are you here? You said that you'll comeback to Korea?"

"Actually, I'm here because Sehun have another job here so I come with him." Sang bos menatapnya dengan mata yang disipitkan.

"There's another reason right? You know like… honeymoon?" Kemudian kedua orang itu tertawa seseorang membawakan mereka dua gelas cocktail yang tadi dipesan oleh sang bos. Dan ini adalah salah satu cocktail yang paling Luhan suka.

"Well… you already know it." Ujar Luhan.

"So why you come here? You miss me or you miss another thing here?" Luhan tertawa sarkastik dan menatap panggung yang sedikit berubah itu karena sekarang ada satu tiang tambahan.

"You mean.. dancing there?" Tanya Luhan sambil menunjuk panggung itu. Sang bos mengangkat bahunya dan menyeruput cocktail dihadapannya.

"Well… I'm just asking, but I'm very very curious about something. May I ask it?" Luhan mengangguk tanpa menjawab sepatak katapun. "Are you still dance? You know... in korea? I'm just asking." Ucap sang bos sambil mengibaskan tangannya.

Luhan menghembuskan nafas panjang, dia belum menjawab, matanya menatap panggung yang dulu menjadi tempat dimana dia selalu mendengar namanya diteriakan, dimana dia selalu mendengar banyak sekali tepukan untuknya dan disana juga tempat dimana dia mulai terjebak dalam lubang yang salah.

"Yeah… I still dancing." Jawab Luhan akhirnya tanpa mengalihkan tatapannya dari panggung itu. "You know, I like dancing…." Lanjutnya sambil menganggukan kepala dan masih menatap panggung itu. Sang bos sudah sangat senang mendengar ucapan itu, karena terdengar ada sebuah harapan untuknya kembali membawa Luhan tampil dipanggung itu.

"Tonight there will be special guest come to bar, so would you…"

"I just dancing in front of my husband. Sehun. not anyone else and I had told you before I made a promise with Sehun that I will never dance like that anymore in front of anyone else." Sela Luhan sambil mengalihkan padangannya pada sang bos dan menatapnya dengan serius. Sang bos menghembuskan nafas panjang. sepertinya harapannya sekarang sudah benar – benar tidak akan bisa terpenuhi.

"Fine. Fine. I know… I know… I'm just trying, I hope you change your mind."

Luhan menggeleng, dia tau dan dia juga tidak mau kembali menari seperti itu didepan semua orang, dia rela tidak akan pernah mendengar tepukan yang meriah lagi untuknya dan dia juga rela tidak mendengar namanya di teriakan dengan begitu keras dan dia rela menggantinya hanya dengan sebuah senyuman tulus Sehun yang diberikan untuknya, jujur saja itu lebih berharga.

Mereka saling mengobrol satu sama lain mencerikatan banyak hal termasuk masalahnya bersama pers dan beberapa fans Sehun yang tidak menyetujui hubungan mereka, Luhan memang tidak bercerita banyak tentang itu karena sepertinya ada hal menarik lainya yang lebih baik diceritakan dari pada hal – hal seperti itu.

Berjam – jam Luhan berada dibar dan mengobrol banyak hal dengan sang bos sampai akhirnya dia sadar kalau Sehun sudah berdiri disampingnya.

"Ah… kau sudah berada disini." Ucap Luhan sambil bangkit diikuti dengan bosnya yang menatap Sehun dan ikut berdiri.

"Kalian terlihat asik mengobrol apa aku menganggu?" tanya Sehun. Mereka berdua menggeleng.

"Sebenarnya tidak ada lagi yang harus aku ucapkan pada boss, kau tau aku sudah banyak bercerita dengannya."

"Yeah… dia benar, bahkan mungkin ada puluhan topik yang kami bicarakan." Timpal sang bos.

"Jadi sekarang kita pulang atau kau masih ingin berada disini?" Tanya Sehun sedikit menunduk menatap Luhan. Wanita itu melempar pandangannya pada dan menghembuskan nafas panjang.

"Sepertinya aku ingin pulang." Ujar Luhan.

"wait a munute." Ucap sang bos membuat kedua orang itu kebingungan karena pria bertubuh tambun itu tiba – tiba meninggalkan mereka dan tak lama dia kembali membawa dua buah botol yang berukuan cukup besar yang sudah tak asing di mata Luhan.

"Sepertinya aku harus memberikan ini sebagai hadiah karena kau datang menunjungiku disini."

Luhan terlihat ragu untuk menerimanya, karena sudah hampir 1 bulan lamanya dia tidak menyentuh minuman itu, tapi tiba – tiba sebuah tangan meraih botol minuman itu membuat Luhan mendongak.

"Terima kasih, kau tau sepertinya Luhan sangat merindukan minuman ini." Ucap Sehun pada sang bos. Luhan masih termengung bahkan saat sang bos memanggil namanya. Wanita itu mengerjap sekali kemudian menatap bosnya.

"Kau akan mengunjungiku lain kali bukan?" tanyanya. Luhan mengangguk dan memeluk pria itu sambil mengelus punggungnya.

"Tentu saja, lain kali aku akan datang kemari dan mengunjungimu." Ujar Luha sebelum melepaskan pelukannya.

Sehun dan Luhanpun meninggalkan bar dengan tangan Sehun yang merangkul Luhan dengan sebelah tangannya yang bebas. Dan membawa wanita itu masuk kedalam mobil

~Honeymoon~

Mereka sudah sampai di apartemen dan sekarang Luhan tengah berada di sofa sambil memakan snacks yang baru saja di belinya dengan Sehun, dan pria itu sepertinya tengah mengganti baju. Tiba – tiba sebuah botol berada dihadapannya. Membuat Luhan terkejut. Dia tau sekarang Sehun tengah duduk di hadapannya dan menaruh botol itu di meja.

"Kau mau mencicipinya?" Tanya Sehun sambil menyodorkan sebuah gelas kecil pada Luhan. Wanita itu menatapnya ragu. Dia tau Sehun memang tidak melarangnya mengkonsumsi minuman ini, dia bahkan tidak keberatan jika Luhan menghabiskannya dalam satu hari. Tapi dia tau dan dia juga melihatnya dengan jelas, Sehun ingin dia berhenti.

"A-aku…"

"Tidak apa – apa. Aku tau kau merindukannya, jangan memaksakan dirimu." Ucap Sehun menuangkan minuman itu dan memberikannya pada Luhan. Wanita itu menatapnya dengan ragu.

"Sehun kau tau aku mencoba untuk berhenti…"

"Semua membutuhkan proses aku tidak akan berharap kau berhenti tanpa melewati proses, aku ingin kau melakukannya untuk dirimu sendiri bukan untukku." Jelasnya sambil mengusap pipi Luhan. "kau mau aku disini atau membiarkanmu sendiri?" Tanyanya.

"Akuu…."

"Baiklah, aku akan meninggalkanmu." Ujar Sehun dia hendak bangkit tapi kemudian membalikan, kemudian berujar. "Besok kita pergi."

Luhan yang terkejut langsung menarik dirinya. "Kemana? Bukankah kau katakan kita…"

"Kau akan tau nanti." Ujarnya kemudian meninggalkan Luhan dan masuk kedalam kamar.

~Honeymoon~

Sehun menyuruh Luhan membawa beberapa pasang pakaian dan beberapa peralatan yang dibutuhkannya, walau bingung wanita itu tetap melakukan apa yang di perintahkan Sehun.

Saat siang hari Sehun langsung memasukan semua barang itu ke bagasi mobilnya dan Luhan hanya mengikutinya dari belakang.

"Sebenarnya kemana kita akan pergi?" tanya Luhan sambil memasangkan seatbelt-nya.

"Kau akan tau nanti dan sepertinya kau akan menyukainya." Jawabnya sambil menatap Luhan yang kebingungan.

Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah dermaga kapal, Luhan semaikin kebingungan saat dia menatap deretan kapal besar yant berjajar dihadapannya. Apakah mereka akan menaiki salah satu dari kapal mewah dihasapannya?

"Sepertinya kita tidak bisa menaiki kapal itu." Ujar Sehun membuat Luhan menatapnya.

"Lalu? Kita akan tinggal disini?" Tanya Luhan semakin kebingungan. Dia menatap kesekeliling mencoba mencari penginapan tapi sayangnya sejauh mata memandang dia hanya menemukan kapal - kapal yang berjajar, siap untuk berangkat.

"maksudku kita akan naik yang satu itu." Ujar Sehun sambil menunjuk sebuah kapal yang berukuran lebih kecil, terlihat kapal itu dibuat untuk menempuh perjalanan lebih cepat.

Sehun dengan cepat menaruh barang - barangnya dan naik kedalam kapal, pria itu mengulurkan tangannya bermaksud untuk membantu Luhan masuk. Tapi Luhan tak kunjung meraihnya.

"Kau tau aku ragu kau bisa menggunakannya." Ujar Luhan membuat Sehun menghembuskan nafas panjang dan menjatuhkan tangannya. Pria itu menyalakan mesin dan mulai melesat kemudian memutar kapalnya membuat Luhan tercengang.

"Sekarang kau percaya?" tanya Sehun kembali mengulurkan tangannya. Luhan mengerjap sebelum meraih tangan Sehun dan masuk kedalam kapal.

"Aku tak pernah tau kau bisa menggunakan benda ini dengan baik." Ujarnya sambil meraih tangan Sehun.

"Lain kali aku akan menunjukan keahlianku yang lain." Timap Sehun kemudian mulai menjalankan mesin dan melesat membelah lautan.

Hari sudah menjelang malam, langit mulai terlihat gelap hanya sinar bulan yang menemaninya di tengah lautan ini dan jujur saja Luhan tidak terlalu suka menatap lautan saat gelap seperti ini. Pikirkannya akan selalu membanyangkan sesuatu yang tidak – tidak tapi dia mencoba menghilangkannya. 15 menit berlalu dan mereka masih melintasi lautan, Luhan mulai bosan dan masalahnya dia semakin tidak bisa melihat ke sekelilingnya. Membuat akhirnya dia hanya menatap Sehun. Pria itu semakin terlihat menakjubkan saat berada dibelakang kemudi kapal seperti ini.

"Berhentilah menatapku dan lihatlah kedepan sana." Ujarnya membuat Luhan mengerjap dan langsung mengalihkan pandangannya. Baru saja dia akan berkomentar matanya menangkap suatu yang menakjubkan. Disana terdapat sebuah pulau tapi yang membuat matanya tak bisa beralih adalah adanya rumah yang cantik dengan lampu – lampu putih yang menerangi sekelilingnya membuat Luhan benar – benar terpana.

"Kita akan tinggal disana?" Ujar Luhan tanpa mengalihkan pandangannya.

"Begitulah, ini salah satu pulau yang aku sewa untuk bulan madu kita." Luhan mengerjap – ngerjapkan matanya dan menatap kearah Sehun yang kini tengah menepikan kapalnya.

"Kau menyewa pulau ini sendiri hanya untuk kita berbulan madu?" Tanya Luhan tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

"Sebenarnya aku tidak bisa menyewa tempat ini sendiri, kau tau aku tidak mungkin menghabisakan uang setinggi itu jadi sebenarnya ada beberapa 2 pasangan yang sudah berada disini, tapi jarak mereka mungkin 100 kilo dari tempat kita berada sekarang. Sebenarnya aku berhadapan hanya ada kita…"

Tiba – tiba saja Luhan mencium pipinya membuat Sehun menghentikan ucapannya. Luhan melingkarkan tangannya di leher Sehun.

"Berada disini bersamamu sudah membuatku senang, jangan memikarkan hal lain, toh mereka tidak mungkin datang ketempat kita berada bukan? Lagi pula ini bukan cerita Bella dan Edward bukan? Ini ceritaku bersamamu." Ujar Luhan sambil tersenyum. Dia membantu Luhan keluar dan membawa barang – barang keluar dari kapal.

Kakinya yang terbalut sebuah sepatu dengan hak rendah langsung menyapa pasir putih yang membuatnya sedikit terkejut. Luhan dengan ujung sepatu sambil menunggu Sehun. Sebuah pertanyaan menyapa pikirkannya. Kapan terakhir dia menghabiskan waktu di pantai? Luhan tersenyum sarkastik, sebelum dia pergi ke London dan bekerja di bar, itulah Jawabannya.

"Kau mau terus berada disini atau ikut masuk kerumah bersamaku?" Tanya Sehun membuyarkan lamunannya.

Akhirnya mereka berdua masuk kedalam rumah, Luhan membuka pintu yang ternyata tak dikunci itu dan melepas sepatunya. Cahaya lampu begitu terang membuat dia harus membiasakan retina matanya. Luhan hendak berkeliling untuk melihat – lihat tapi sebuah tangan merangkulnya.

"Tidak Sehun, kau tidak berniat menggendongku masuk kekamar bukan?" tanya Luhan menyingkirkan tangannya.

"Kenapa bukankah itu yang biasa dilakukan?" Tanya Sehun. Wanita itu menggeleng dan melingkarkan tangannya di leher Sehun dan berbisik.

"Aku lelah." Ujarnya. Luhan merasakan Sehun menghembuskan nafas berat tapi pria itu mengangguk tanpa berkomentar. Luhanpun melepaskan pelukannya dan berjalan untuk melihat – lihat keadaan rumah, sementara itu Sehun membawa barang – barang mereka ke dalam kamar.

Ternyata rumah ini cukup luas dengan warna peach yang sangat terasa, Luhan suka sekali keadaan rumah seperti ini. Suara dehaman membuat wanita itu mendongak.

"Sudah puas melihat – lihat?" tanya Sehun. Luhan mengangguk dan berjalan menghampirinya. Dia memeluk Sehun dan mengecup pipinya sekilas.

"Kau benar – benar pintar, menurutku ini akan menjadi bulan madu yang tidak akan pernah aku lupakan." Ujarnya tanpa melepaskan pelukan. Sehun terkekeh dan membawa Luhan masuk kedalam. Luhan harus melepaskan pelukannya saat menatap keadaan kamarnya. Ini jauh dari bayangannya.

Kamar ini memiliki ukuran yang cukup besar dengan sebuah kasur king size berada di tengah – tengah ruangan, disampingnya terdapat sebuah lemari yang menjulang tinggi senada dengan warna cat temboknya, peach. Tapi bukan itu yang Luhan perhatikan, melainkan sebuah jalan keluar menuju pantai lepas yang hanya berjarak tidak lebih dari 10 meter. Cahaya rembulan terlihat memantul di setiap ombak yang menerpa pesisir. Sebuah lengan akhirnya membawa Luhan kembali ke dunia nyata.

"Bukankah tadi kau mengatakan lelah, sekarang sekarang sebaiknya kau tidur." Ujar Sehun di telinga Luhan.

Luhan sudah mengganti bajunya dengan sebuah piama, dia langsung menjatuhkan diri ke kasur dan menarik selimut. Hari ini benar – benar sangat melelahkan, membuatnya bahkan tidak mengingat Sehun belum ada disampingnya tapi tak lama kemudian sebuah tangan melingkar dipinggangnya membuat Luhan yang setengah sadar berbalik dan membiarkan Sehun menyeretnya kedalam pelukan. Bibir Sehun terasa menempel di keningnya, dia tau Sehun tengah menciumnya kemudian pria itu membisikan sebuah kata yang membuat Luhan tersenyum dalam tidurnya.

Selamat malam nyonya Oh.

.

.

.

~To Be Continued~