Sequel of I am a bad girl

Ooc, Gs, Typo(s), tidak sesuai EYD dll.

Ranted : T

Chapter : 3/?

It's HunHan Story.

.

Sehun bangun karena sinar matahari yang menyorot tepat pada matanya. Saat dia bangun, sudah tak ada Luhan disampingnya. Sehun menghembuskan nafas panjang dan masuk kedalam kamar mandi untuk menyikat gigi dan merapihkan rambutnya.

"Lu dimana dirimu?" Seru Sehun sata keluar dari kamar.

"Aku ada didapur." Sahut Luhan dari bagian dapur. Pria itu langsung berjalan kearah dapur. Luhan berbalik menatap kearah Sehun sekilas dan tersenyum.

"Bagaiman tidurmu?" tanya Luhan kembali sibuk dengan masakannya.

"Begitulah." Ucap Sehun sambil duduk dimeja makan menunggu Luhan menyelesaikan masakannya. Tak lama kemudian wanita itu kembali dengan sebuahh telur di piringnya. Luhan meletakan telur dadar itu depan Sehun dan kembali melesat mengambil roti dan tak lupa juga dengan selai menghabiskan sarapan mereka dengan tenang, Luhan membantu Sehun mengoleskan selai di rotinya.

"Jadi apa yang akan kita lakukan?" tanya Luhan sambil meraih piring Sehun yang sudah kosong dan menaruhnya ke bak cuci. Pria itu terdengar menghela nafas panjang dan menatap kesekitar.

Rumah mereka sangat terbuka dengan jendela – jendela besar yang menggantikan tembok membuat dia bisa melihat keluar. Pemandangan di luar memang sangat indah, dengan pantai dan beberapa pohon kelapa yang berada disekitarnya, hal itu membuat sebuah ide tiba – tiba saja terbesit dibenaknya.

"Kemari." Ucap Sehun sambil bangkit dan menjejalkan kedua tangannya ke saku. Walau dengan kening berkerut Luhanpun menghampiri Sehun. Pria itu segera menyelipkan tangan Luhan di gandengannya.

"Kita akan berkeliling. Untuk apa aku menyewa pulau ini jika tidak dinikmati?" Ujarnya kemudian menggandeng Luhan keluar. Wanita itu hanya terkekeh pelan dan mengikuti ajakan Sehun. Pasir putih langsung menyapa telapak kaki Luhan yang telanjang tanpa menggunakan alas kaki.

"Sebaiknya kita tidak menggunakan alas kaki." Ujar Sehun saat Luhan menatap kakinya yang mulai penuh dengan pasir. Luhan mengangguk dan kembali menyelipkan tangannya di gandengan Sehun.

Hembusan angin siang hari meniup beberapa daun membuat mereka terlihat seperti melakukan sebuah gerakan tarian berirama dengan suara gemuruh ombak yang seakan – akan turut mengiringi mereka. Luhan semakin larut dalam melodi alam yang indah ini membuatnya tak sadar kalau sekarang dia sudah berada di tepi pantai. Buih – buih ombang perlahan mulai terasa membasahi kakinya menghapus sisa – sisa pasir yang menempel.

Sehun melepaskan tangannya dan duduk di atas pasir membiarkan beberapa air laut membasahi kakinya sampai lutut. Luhan ikut duduk dan menyandarkan kepalanya didada Sehun, secara otomatis sebelah tangan Sehun melingkar dipundaknya membawanya semakin mendekat.

"Lihatlah keatas sana." Ujar Sehun membuat Luhan langsung mendongak.

Wanita itu menemukan langit hari ini terlihat begitu cerah, hanya ada beberapa awan putih yang terlihat seperti gumpalan kapas empuk.

"Hari ini sempurna." Gumam Luhan tanpa melepaskan tatapannya. Sehun menatap wanita itu dan tersenyum sebelum dia mendekatkan wajahnya pada Luhan untuk berbisik.

"Kau yang membuatnya sempurna." Manik mata merekapun bertemu dan sebuah tatapan penuh arti. Sehun semakin mendekatkan wajahnya sampai akhrinya bibir mereka bertemu. Hanya sebuah ciuman manis, bukan seperti ciuman mereka tadi pagi yang penuh dengan gairah dan nafsu, tapi ciuman kali ini tak kalah berkesan. Sehun menjauhkan wajahnya dan menatap mata Luhan yang perlahan terbuka. Mereka berdua saling tersenyum satu sama lain sebelum akhirnya kembali mempertemukan bibir mereka dalam sebuah kecupan singkat.

Sehun mengeratkan pelukannya sedangkan Luhan melingkarkan tangannya di pinggang Sehun, menyandarkan kepalanya di dada bidang sang pria. Untuk sesaat suasana terasa sangat hening tapi bukan hening dengan suasana mencengkram tapi hening dengan penuh kehangatan. Bukan kata – kata atau ungkapan cinta yang Luhan inginkan, tapi seperi ini, sebuah tindakan kecil yang membuat jantungnya terus berderup dengan kencang.

~Beginning~

Hari terus berjalan sampai tak terasa hari ini adalah terakhir mereka tinggal disana. Luhan melipat kakinya di teras depan rumah dan matanya memandang jauh kedepan. Tiba – tiba saja sebuah tangan melingkar di pinggang dan rasa hangat langsung menjalari sekujur tubuhnya. Luhan tersenyum kemudian mengusap tangan itu dan menumpu sebagian tubuhnya pada Sehun.

"Besok kita pulang?" Tanya Luhan. Sehun mengangguk dan menaruh kepalanya di pundak Luhan.

"Kau masih ingin tinggal disini?" tanyanya. Luhan menghembuskan nafas panjang dan menggeleng. Tempat ini memang indah, sepi dan terasa sangat damai, tapi kali ini entah kenapa Luhan ingin kembali ke London setelah puas melampiaskan rasa rindunya barulah dia kembali lagi ke korea.

"Aku ingin pulang." Ujar Luhan sambil mendongak menatap Sehun yang berada dibelakangnya. Pria itu mengangguk dan kembali mendekap Luhan dengan erat.

"Apapun yang kau inginkan." Bisiknya.

~Beginning~

"Jam berapa kita akan sampai di London?" Tanya Luhan saat mereka sudah berada di mobil Sehun yang berada di parkirkan di dermaga tempo hari.

"Mungkin perjalanan ini akan memakan waktu sedikitnya 2 jam." Jawab Sehun kemudian mulai menyalakan mesin mobilnya. "Memangnya ada sesuatu yang ingin kau lakukan?" Lanjut Sehun.

Luhan mengangguk. "Apa hari ini kau ada jadwal?" Tanya Luhan hati – hati. Sehun mengerutkan kening terlihat berpikir tapi kemudian sebelah tangannya meronggoh saku dan mengeluarkan ponsel.

"Coba lihat apakah ada pesan dari manager kalau aku ada pekerjaan hari ini atau tidak." Ucap Sehun kemudian menyerahkan ponselnya pada Luhan. Wanita itu langsung sibuk dengan ponsel ditangannya sampai akhirnya dia menghela nafas.

"Kau mempunyai jadwal hari ini. Kau harus melakukan pemotretan nanti malam." Ucap Luhan kemudian menyerahkan ponsel itu pada Sehun.

Luhan menekuk kakinya, memeluk lutut dan membenamkan wajahnya disana. Entah kenapa tiba – tiba saja suasana hatinya memburuk.

"Hey… aku bisa saja menolaknya, kau tau aku jarang sekali menyetujui pekerjaan yang dilakukan malam hari." Ucap Sehun. Wanita itu memiringkan kepalanya menatap Sehun. Untuk sesaat tidak ada sepatah katapun yang terlontar dari bibir Luhan wanita itu hanya menatap Sehun dalam diam.

"Kenapa aku bisa mau menikah denganmu?" tanya Luhan entah pada Sehun atau dirinya sendiri. "Kau menyebalkan, sibuk, pengatur, dan kau memiliki banyak fans yang bisa saja sewaktu – waktu membunuhku karena dengan seenak jidat mengambil milik mereka." Lanjutnya. Sehun yang mendengar hanya terkekeh pelan.

"Kau tau apa alasannya?" Tanya Sehun sedikit memalingkan wajahnya pada Luhan. Wanita itu hanya menggeleng tanpa melepaskan tatapannya.

"Karena kau mencintaiku lebih dari yang kau sadari."

Tiba – tiba saja darah mengalir deras ke pipinya membuat Luhan memerah. Wanita itu kembali menyembunyikan wajahnya.

"Kau menjijikan." Ucap Luhan ketus. Sedangkan Sehun hanya tertawa melihat tingkah lucu istrinya.

~Beginning~

Mereka sudah sampai di London tepatnya dia apartemen, Sehun membawa barang – barang berat sedangkan Luhan hanya menenteng sebuah tas kecil. Saat sampai Luhan langsung menghempaskan tubuhnya keatas sofa dan memejamkan matanya.

Langit memang sudah berubah menjadi jingga saat mereka sampai jadi tak salah kalau Luhan merasa sangat lelah. Dan belakangan ini dirinya memang selalu merasa cepat lelah. Sehun duduk disampingnya dan mengusap rambut Luhan pelan. Bagaikan sebuah magnet Luhan langsung menempel pada Sehun dan menyandarkan kepalanya di pundah pria itu.

"Jam berapa kau pergi?" Tanya Luhan tanpa membuka matanya. Sehun mengela nafas panjang sebelum menjawab.

"Mungkin 2 jam lagi." Luhan mengangguk. "Apa kau tidak apa – apa jika sendiri?" tanya Sehun.

Luhan membuka mata dan terkekeh pelan. "Aku bukan anak kecil yang perlu di jaga tuan Oh. Tapi itu tidak berarti kau bisa pulang seenak jidatmu, kau mengerti?" Tanya Luhan mendongak menatap Sehun.

"Aku mengerti nyonya muda. Tenang saja." Ucap Sehun

~Beginning~

Luhan menatap Sehun yang masih tertidur dengan damai. Wanita itu melepaskan tangan Sehun dan berbisik pelan.

"Aku akan mandi dan membuat sarapan." Bisik Luhan kemudian mengecup pipi Sehun sekilas membuat pria itu tersenyum tanpa membuka mata.

Satu jam kemudian aroma harum masakan tercium oleh Sehun membuat pria itu membuka matanya. Pintu kamar yang terbuka membuat aroma itu semakin jelas tercium. Dengan mata yang masih sedikit terpejam, dia bangun dan berjalan menuju dapur. Disana Luhan tengah membuat sebuah spageti dengan saus tomat yang benar – benar menggiurkan.

"Kau sudah bangun?" Tanya Luhan saat menyadari Sehun ada disampingnya. Pria itu mengangguk dan menghampiri Luhan dan mengecup pipi sang wanita.

"Thanks. You're good wife. Love you." Ucap Sehun yang sudah benar – benar membuka matanya kemudian melepaskan Luhan dan pergi menuju wastafel yang ada disamping dapur. Luhan yang terkejut hanya membeku kaget dan menatap Sehun yang tengah membilas wajahnya.

"Kau melupakan masakanmu." Ucap Sehun tanpa mendongak.

"Oh God…" Pekik Luhan kembali sibuk dengan masakannya.

Sehun yang sudah mencuci muka dan berkumur langsung duduk di meja makan dan menunggu Luhan menyiapkan masakannya. Tak lama kemudian beberapa makanan sudah tersaji dihadapannya.

"Berangkat jam berapa hari ini?" Tanya Luhan sambil menuangkan spageti ke piring Sehun. "Kau mau ini?" Tanya Luhan sambil menunjuk sebuah ayam.

"Ya aku mau." Jawab Sehun sambil mengangguk. "Mungkin aku berangkat setelah kita sarapan." Luhan mengangguk dan duduk dikursinya. "Ada rencana hari ini?" Tanya Sehun sambil menyuapkan spagethi itu kedalam mulutnya. Rasa manis dan gurih saus tomat langsung terasa menyapa mulutnya.

"Sebenarnya ada beberapa hal yang harus aku beli." Ucap Luhan.

"Jadi kau akan berbelanja hari ini?" tanya Sehun. wanita itu mengangkat bahunya.

"Sepertinya begitu tapi jika nanti tiba – tiba aku malas mungkin aku akan menghabiskan waktuku seharian untuk membaca beberapa buku atau melakukan sesuatu apapun itu." Sehun mengangguk.

"Jika kau akan pergi pastikan pintu rumah terkunci dan hati – hati dijalan, telphone aku jika ada sesuatu terjadi. Kau mengerti?" Luhan menghembuskan nafas panjang.

"Aku mengerti, kau tau aku bukan anak kecil lagi Sehun." ucap Luhan.

"Aku hanya khawatir terjadi sesuatu denganmu kau tau, ini London. Mungkin bisa saja tiba – tiba ada seorang fans atau mungkin pria jahat yang tergoda oleh mu dan tiba – tiba saja membawamu lari."

"Oh Tuhan! Baiklah, baiklah aku mengerti. Aku berjanji. Kau puas?" Sehun tersenyum dan mengangguk sedangkan Luhan hanya mendengus pelan.

~Beginning~

Sudah berjam – jam yang lalu Sehun pergi. Sedangkan Luhan masih berdiam diri di sofa dan menonton sebuah acara tv. Beberapa kali matanya tertutup karena rasa kantuk tiba – tiba saja melanda. Sejujurnya, dari beberapa hari yang lalu Luhan selalu merasa gelisah, dan anehnya tadi malam dia beberapa kali harus masuk ke kamar mandi mengeluarkan isi lambungnya.

Jujur saja semenjak mereka pulang badan Luhan terasa sangat lemas, wanita itu sempat berpikir mungkin ini efek dari tubuhnya yang sudah lama tidak menegak vodka atau minuman sejenisnya. Dia ingin meminta pada Sehun hanya saja dia takut pria itu akan kecewa. Karna Luhan sangat tau, ada sebersit perasaan kecewa saat Sehun menatapnya ketika dia menegak minuman itu.

Tapi rasa bosan benar – benar tidak bisa diusirnya membuat wanita itu akhirnya bangkit dan bersiap untuk pergi. Dia memastikan semua jendela terkunci dan pintu tertutup dengan rapat. Dan saat itulah Luhan pergi keluar dari apartemen dan mencari taksi untuk mengantarnya ke mall terdekat.

~Beginning~

Luhan memasuki supermarket yang ada di mall tersebut dan memberli beberapa keperluan dapur. Tangannya mendorong sebuah troli. Beberapa kali dia harus berhenti melihat barang yang akan dibeli kemudian memasukannya kedalam troli. Kakinya terasa sangat pegal ditambah lagi kemarin dia 'bermain' dengan Sehun. Tapi walau begitu Luhan tetap melangkahkan kakinya mencari barang lain yang butuhkannya.

Luhan tengah menenteng sebuah kantung yang memuat beberapa keperluan yang sudah dibelinya. Wanita itu tengah berkeliling mencari sesuatu yang menarik sampai akhirnya ada sesuatu yang membuatnya berhenti. Untuk sesaat Luhan hanya menatap kedepan dan kemudian wanita itu terlihat memikirkan sesuatu. Setelah berdebat dengan dirinya sendiri akhirnya wanita itu melangkahkan kakinya.

~Beginning~

Saat sore datang saat Sehun sampai dirumah. Dia menemukan Luhan tengah berada di dapur memasak sesuatu, bunyi berdenting antara teflon dan spatula terdengar.

"Oh… kau sudah pulang?" tanya Luhan saat menyadari Sehun yang mendekatinya.

"Apa ada sesuatu yang terjadi hari ini? kau terlihat sangat senang." Ucap Sehun saat mendengar Luhan yang menyapanya dengan nada gembira. Wanita itu menggeleng dan terkekeh pelan. "Ada apa hem?" tanya Sehun sambil memeluk Luhan dari belakang.

"Lepaskan pelukanmu Tuan Oh. Sekarang sebaiknya kau mandi dan ganti bajumu." Ucap Luhan melepaskan tangan Sehun dari pinggangnya.

"Tapi…."

Luhan menyela ucapan Sehun dengan mengecup pipi sang pria. "Shut up your mouth and do what I say my lovely husband." Sehun semakin mengerutkan keningnya tatkala Luhan mengatakan 'my lovely husband' dia yakin sekali ada sesuatu yang terjadi dengan Luhan hari ini. Tapi pria itu menghembuskan nafas panjang dan membalikan badannya, masuk kedalam kamar.

Saat Sehun kembali dia menemukan banyak sekali makanan enak dihadapannya. Bahkan sampai bingung mana dulu yang harus disantapnya.

"Kemarilah, cepat." Ucap Luhan yang sudah duduk dikursinya.

"Seriously, there is something happen today right?" Tanya Sehun sambil duduk dikursinya. Luhan tak menjawab dia hanya menunduk dan mengigit bibirnya. "Tell me what's going on honey?" Luhan mendongak menatap Sehun.

"You're right. There is something happen today and… I really should tell you."

"What is that? tell me." Ucap Sehun dengan lembut. Tapi bukannya menjawab Luhan malah meronggoh saku piamanya dan mengeluarkan sesuatu yang langsung dia berikan pada Sehun.

Untuk sesaat pria itu terkejut saat menatap benda yang ada ditangannya, pria itu menatap kearah Luhan dan benda itu secara bergantian.

"Kau…?" Luhan mengangguk sambil tersenyum lebar. Ternyata benda yang ada ditangan Sehun adalah sebuah testpack yang membuat Sehun terkejut adalah benda itu menampilkan sebuah tanda positif.

"Ya. Aku hamil."

.

.

.

Sehun masih belum bereaksi apapun, dia hanya menatap benda yang ada ditangannya itu dalam diam, membuat Luhan bertanya – tanya apa yang dipikirkan oleh Sehun. Wanita itu menggigit bibir saat Sehun menatapnya dengan tajam.

"Sejak kapan kau hamil? Kau sudah memeriksanya?" Tanya Sehun dengan suara datar yang penuh dengan penekanan.

"A-aku baru saja mengetahuinya, Sehun apa kau tidak…."

"Ayo ikut aku." Sela Sehun sebelum Luhan dapat menyelesaikan perkataanya.

.

.

.

~To Be Continued~