Sequel of I am a bad girl
Ooc, Gs, Typo(s), tidak sesuai EYD dll.
Ranted : T
Chapter : 4/?
It's HunHan Story.
.
Luhan tengah duduk disebuah kursi bundar yang terbuat dari kayu jati yang kokoh di taman belakang rumahnya, didepannya terdapat sebuah meja yang terbuat dari batang pohon yang sudah tumbang dengan sedikit ukiran yang membuatnya terlihat cantik, diatasnya ada sebuah ponsel berwarna putih yang kadang menyala menandakan sebuah pesan masuk. Dia mengirup udara sore yang terasa sangat lebih dingin dari sebelumnya, karena tak lama lagi musim dingin akan datang. Walau sebuah sweeter rajut tebal yang dipadukan dengan syal menutupi tubuhnya rasa tetap saja ada yang kurang, dia masih bisa merasakan dinginnya cuaca sore ini.
Seseorang menyentuh pundaknya, Luhan menengok dan menemukan ibunya tengah berdiri dibelakang dengan tangan yang memegang sebuah mangkuk berisi buah segar.
"Makanlah." Ucap Yixing sambil menyodorkan mangkuk itu pada Luhan yang langsung diterimanya.
"Gomawo eomma." Ucap Luhan. Yixing tersenyum dan mengangguk, dia duduk disamping Luhan dan mengusap pundak wanita itu.
"Jangan terlalu memikirkannya sayang, eomma akan selalu ada disampingmu." Ucap Yixing.
Luhan menatapnya sesaat sebelum dia memeluk wanita itu dengan erat. Luhan sebisa mungkin menahan tangisannya walau dia yakin, ibunya tak keberatan jika dia menangis. Tangan lembut Yixing mengelus rambutnya yang sengaja digerai. Tak lama kemudian Luhan melepaskan pelukannya.
"Jangan terlalu dipikirkan, percayalah kau akan baik – baik saja." Bisik Yixing sebelum mengecup anak kesayangnya itu sebelum dia bangkit.
"Setelah kau menghabiskan ini, pastikan eomma melihatmu didalam kamar dan istirahat, kau mengerti?" Luhan tersenyum dan mengangguk. Dan Yixingpun kembali masuk kedalam rumah.
Saat buah yang ada didalam mangkuk itu habis, ponselnya mengeluarkan bunyi yang cukup nyaring membuat Luhan mendongak.
Sehun
Nama itu tertera jelas di ponselnya, Luhan mendesah sebelum meraih ponsel itu dan menerima telphone dari Sehun.
"kau tau sudah berapa kali aku mengirimu pesan?" Ucap seseorang ujung telphone sana. Luhan tersenyum tipis walau dia tau Sehun tak akan melihatnya.
"dan apakah kau tau, beberapa menit lalu kau baru saja menelphoneku?" Sehun terdengar menghembuskan nafas berat.
"Aku sangat khawatir padamu, honey."
"Tenanglah tuah Oh yang cerewet, aku disini bersama eomma, kau tau perlu khawatir." Luhan mendengar Luhan terkekeh pelan.
"Apa yang sedang kau lakukan disana?"
"Menikmati udara sore."
"Jangan katakan, kau sedang berada di taman belakang…"
"Jangan membuat aku menutup telphonemu Oh Sehun." Sela Luhan.
"Tapi itu tak baik untukmu Lu, kau sedang mengandung."
"Demi Tuhan Sehun, aku baik – baik saja, berada diluar rumah untuk beberapa lama tidak akan membuatku mati tiba – tiba." Ucap Luhan dengan nada frustasi.
"I'm sorry if I annoy you honey, But I really worried about you."
"I'm fine. If you wanna protect me with your own hand, come to me quickly." Ucap Luhan dengan suara yang perlahan menghilang. Dia mencoba untuk tidak menangis didepan Sehun-secara tidak langsung- karena dia tak mau pria itu semakin khawatir.
"I'll come there as fast as I can honey, I promise."
~Pregnancy~
Sehun menghembuskan nafasnya. Dia tengah duduk dimeja makan sendiri dengan makanan yang baru saja dipesannya. Entah kenapa belakangan ini nafsu makannya berkurang tepatnya dari seminggu yang lalu saat Luhan kembali ke korea, sedangkan dirinya masih harus tinggal di London karena tuntutan pekerjaanya sebagai model. Ponselnya berbunyi tatkala dia hendak bangkit dan memutuskan untuk tidur.
"Hallo honey..." Ucapnya dengan semangat.
"Don't tell me that you haven't eaten." Sela Luhan.
"Aku sama sekali tidak nafsu makan, kau tau aku merindukan masakanmu."
"Jadi kau hanya merindukan masakanku?" Sehun terkekeh dan menggeleng.
"Tentu saja, aku lebih merindukanmu…" Sehun mengela nafas panjang sebelum kembali berbicara. "Maafkan aku karena belum bisa kembali."
"Jangan khawatir, seperti yang aku bilang, aku sudah lebih baik disini. Oh… tunggu jangan mengalihkan pembicaraan Oh Sehun. Aku tau kau belum makan." Sehun mendesah dan menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Sebenarnya aku baru saja selesai makan."
"Aku tau kau berbohong. Seberapa banyak kau mengkonsumsi makanan hari ini?"
"Entahlah, aku…"
"Kau berbodong, kau tau seorang ibu hamil memiliki perasaan yang lebih sensitif mengenai suaminya." Sehun tersenyum saat Luhan mengatakan 'ibu hamil' dan 'suaminya' kata – kata seakan menguatkan kalau Luhan memang tengah mengandung anaknya.
"Baiklah… baiklah… aku menyerah, aku akan menuruti apa yang dikatakan 'ibu hamil' ini." Ucap Sehun membuat mereka berdua tertawa bersamaan.
"Cepatlah makan. Eomma sudah menyuruhku untuk kembali beristirahat. Jaga kesehatanmu. Dan… cepatlah kembali."
~Pregnancy~
Sudah hampir 2 bulan mereka tak bertemu, Sehun masih sibuk di London sedangkan istrinya berada di Korea. Mereka hanya berhubungan melalui pesan singkat, email, telphone atau skype jika Sehun sedang tidak sibuk, ditambah lagi perbedaan waktu mereka yang cukup jauh membuat intensitas waktu yang mereka miliki sangat terbatas.
Tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan selain bersabar dan menunggu, menunggu waktu dimana mereka benar – benar kembali bersama seperti dulu. Mengingat hal itu membuat Sehun merasa bersalah pada Luhan, dia merasa dia bukan suami yang baik.
"Mana ada suami yang baik, meninggalkan istrinya yang sedang hamil muda begitu saja dan menitipkannya pada orang tua." Gumam Sehun.
Pria itu memang sudah mencoba untuk bekerja lebih cepat agar dia bisa kembali para Luhan tapi saat dia sadar ternyata pekerjaan yang harus diselesaikannya terlalu banyak dan hal itu semakin membuatnya harus tetap tinggal lebih lama di London.
Suatu hari, Sehun pernah pulang ke apartemennya dalam keadaan yang sangat lelah, sama seperti saat dia akan pergi bulan madu bersama Luhan. Dan sayangnya kali ini sudah tidak ada Luhan yang bisa menggantikan pakaiannya atau sekedar memijat punggungnya yang terasa sangat berat.
~Pregnancy~
Luhan tengah berbaring ditempat tidur, entah kenapa saat dia tau ada janin didalam perutnya, Luhan selalu malas melakukan sesuatu, untung saja Yixing yang mengerti dan membiarkan Luhan melakukan apapun yang dia suka, wanita itu tidak memaksa Luhan untuk melakukan pekerjaan berat, dia malah menyuruh Luhan untuk banyak beristirahat atau sekedar jalan – jalan sekeliling rumah.
Tapi kali ini Luhan memutuskan untuk berbaring ditempat tidur, dia meraih ponselnya yang ada dinakas. Luhan berdecak lidah saat Sehun tak kunjung memberikan pesan singkat atau menelphonenya. Dia kembali menaruh ponsel itu dengan kasar sampai membuat suara. Dan entah kenapa Luhan tiba – tiba saja menjadi marah dan kesal pada Sehun tatkala dia melihat tak ada pria disampingnya. Akhirnya Luhan menutup mata dan mencoba mengenyahkan pikirkan itu.
"Baby~~"
Sebuah suara memanggilnya dan satu hal lagi itu terdengar seperti suara Sehun. Dia tersenyum miris. Pria –bodoh- itu membuat dirinya benar – benar merasakan apa itu yang dikatakan rindu dan –sialnya- pria itu sampai masuk kedalam mimpi membuat Luhan semakin merasakan rindu yang amat sangat.
"Kau tidak tidurkan?" Bisik suara itu lagi, tapi kali ini ditambah dengan sentuhan ringan disekitar pipinya dan hal itu yang membuat Luhan langsung membuka matanya.
Sehun.
Akhirnya pria itu ada dihadapannya, memamerkan senyuman khas yang selalu membuat jantung Luhan berdebar. Ini alasannya kenapa sedari tadi Sehun tak kunjung menghubunginya. Luhan menahan diri untuk tidak bangkit, memeluk Sehun dan mengujam pria itu dengan ciuman.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Luhan tanpa menatap Sehun dan berbaring terlentang. Pria itu terkekeh dan tanpa diduga Sehun menindihnya. Dia memamerkan seringaian lebar, tapi Luhan sebisa mungkin tidak bereaksi apapun.
"Kau tidak merindukanku?" Bisik Sehun. Luhan mendengus pelan dan menepuk kedua tangan Sehun yang memenjaranya.
"Aku sudah biasa tanpamu. Sekarang lepaskan aku. Kau lupa aku sedang hamil?" Gerutu Luhan yang terdengar sangat lucu ditelinga Sehun.
"Aku tau, bahkan sangat tau, tapi tidakah kau liat? Aku bahkan tubuh kita tidah bersentuhan, kau tau itu artinya aku tidak akan menyakitimu dan si kecil yang ada disini." Jawab Sehun enteng sambil mengusap perut Luhan.
Luhan mendengus dan menutup wajahnya dengan selimut, Sehun yang melihatnya hanya terkekeh pelan dan menarik selimut itu membuat wajah Luhan yang memerah kembali terlihat.
"Aku merindukanmu rusa manis." bisik Sehun. Luhan membeku dibawahnya, wanita mencoba tidak memberikan reaksi apapun tapi tentu saja dia gagal, karena hatinya menjerit kalau dia benar – benar merindukan pria yang ada dihadapannya itu.
"Kau bodoh! Kau menyebalkan aku membencimu kau tau!" Ucap Luhan dengan suara serak karena menahan tangisan yang entah kenapa tiba – tiba saja keluar.
"Maafkan aku, maafkan aku." Bisik Sehun kemudian memeluk Luhan dan membiarkan wanita itu memukul punggungnya pelan. Sehun merasakan bajunya basah karena air mata, dan saat itu dia merasakan rasa bersalah yang sengat besar.
"Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi." Bisik Sehun membuat Luhan menjadi tenang, isakannya mulai tak terdengar dan tangisannya sudah mulai surut. Sehun menghela nafas panjang dan menyerka air mata Luhan dengan lembut dan penuh kasih sayang, kemudian dia mengecup kening Luhan.
"Aku mencintaimu, sekarang tidurlah." Bisik Sehun kemudian bangkit turun dari kasur, tapi sebuah tangan mungil menangkapnya.
"Stay here." Ujar Luhan dengan suara pelan serupa bisikan. Sehun menatapnya dan berbaring disamping Luhan. Pria itu menarik selimut sampai menutupi tubuh Luhan kemudian memeluk tubuh wanita itu yang sekarang sedikit berisi. Luhan memiringkan badannya dan mengusap wajah Sehun, sudah lama sekali dia tidak memandang Sehun sedekat ini.
"Maafkan aku." Ujar Luhan. Sehun menggeleng dan mengusap pipinya.
"Kau tidak bersalah honey, ini semua salahku. Seharusnya aku bisa menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat dan kembali ke Korea." Ujarnya.
Entah kenapa air mata tiba – tiba saja meleleh menuruni pipinya, isakan tak terduga keluar dari bibirnya membuat Sehun langsung merengkuh wanita itu kedalam pelukannya dan mencoba menenangkan. Sehun menjadi salah satu tempat saat Luhan menangis dan pria itu benar – benar bisa menjadi tempat yang sempurna untuknya menenangkan diri.
"Stt… jangan menangis. Ingat kau sedang mengandung, honey… jika kau menangis kau juga akan membuatnya sedih." Luhan mengangguk dia menyerka air mata dan mengigit bibirnya. Sehun tersenyum dan mengecup bibirnya lembut dengan sentuhan kasih sayang.
"Jangan mengigit bibirmu, cantik. Tidurlah."
"Berjanji kau akan disini saat aku bangun." Bisik Luhan sebelum memejamkan mata dan menenggelamkan tubuhnya dipelukan Sehun.
~Pregnancy~
Pagi hari datang, matahari mulai menyongsong dari timur dan menembus tirai tipis membuat seorang wanita bergerak gelisah dari tidurnya. Perlahan matanya terbuka, dia mengerjapkan mata beberapa kali menyesuaikan cahaya yang masuk ke retinanya. Pintunya tiba - tiba saja terbuka dan menampakan Sehun yang sudah segar bugar dengan nampan berisi sebuah gelas tinggi yang penuh dengan susu dan sebuah mangkuk yang Luhan yakin sekali itu adalah bubur yang setiap hari menjadi menu sarapannya.
"Oh... Kau sudah bangun? Maaf meninggalkanmu, aku baru saja..."
"Aku tau, kau datang disaat yang tepat." Sela Luhan yang disambut dengan senyuman lebar dari Sehun. Pria itu duduk ditepi kasur dan meletakan makanan itu dihadapannya.
"Sekarang sebaiknya kau makan." Sehun mulai mengarahkan sendok yang penuh dengan bubur tapi Luhan tak kunjung membuka mulutnya.
"Kau tak menyuruhku untuk sikat gigi?" Sehun terkekeh pelan.
"Kau tau, dokter gigi bahkan menyarankan untuk mengosok gigi setelah sarapan, alasannya tentu jelas agar kotoran itu tidak kembali." Luhan terkekeh mendengar penjelasan itu, diapun membuka mulut dan membiarkan Sehun menyuapinya
~Pregnancy~
Mereka sedang bersantai diruang tengah, televisi dihadapannya menyala menampilkan sebuah film klasik romantis namun berakhir dengan tragis, salah satu film favorite Luhan yang tak lain adalah Tinanic. Film yang dibintangi oleh Leonaldo Di Caprio dan Kate Winslet tidak pernah membuatnya bosan walau dia sudah menontonnya berulang kali.
Rumah itu terasa sangat sepi, dikarenakan Joonmyeon yang pergi bekerja sedangkan Yixing sedang pergi belanja. Hanya ada Luhan dan Sehun yang tengah menikmati film dan kadang mereka berdua saling mencuri ciuman satu sama lain atau kadang Luhan merengek untuk diambilkan sesuatu dan Sehun benar - benar merasakan bagaimana sifat Luhan yang tiba - tiba saja berubah menjadi lebih sensitif dan manja.
Senja datang membawa semburat jingga dibatas horizon, rombongan burung gereja kembali kesarang mereka dan matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Luhan tengah memainkan sebuah piano disudut ruang tamu. Sebuah piano antik dengan warna kayu asli dan ukiran di beberapa tempat membuat kesan klasik semakin terasa. Sedangkan Sehun disampingnya, melihat jari lentik itu yang kadang bergerak terlalu cepat atau bahkan terlalu lambat. Sehun tersenyum, memutuskan untuk duduk disamping Luhan dan mulai ikut memainkan jemarinya.
Untuk sesaat Luhan terdiam, menatap Sehun yang mulai memainkan sebuah lagu dari seorang composer Korea yang sudah cukup terkenal yang tak lain adalah Yiruma. Tapi Luhan masih menerka - nerka lagu apa yang dimainkan suaminya itu.
Kiss The Rain
Ya, itu yang sedang dimainkan Sehun. Pria itu menatap Luhan tanpa menghentikan jarinya di atas tuts - tuts piano itu. Gubahan Yiruma memang indah tak salah jika Luhan mengetahui lagu satu ini.
"Kau tak akan ikut main bersamaku?" Tanya Sehun membuyarkan lamunannya. Luhan menatapnya ragu, karena dia tak yakin dia bisa mengimbangi permainan Sehun. "Aku yang akan mengikutimu." ujar Sehun seakan - akan bisa membaca pikiran Luhan.
"Kau yang memaksa Sehun, jangan salahkan aku jika nanti kau kesal karena jariku lambat, mungkin sebenarnya otakku yang lambat." Gerutunya.
"Kau tidak lambat hanya kurang cepat, honey." Luhan mendengus dan bergumam sesuatu yang terdengar lalu apa bedanya?
Tapi kemudian tangannya kembali berada diatas tuts - tuts dan memainkamnya. Mula - mula Luhan ragu tapi tatapan yakin Sehun membuat Luhan akhrinya ikut memainkan jarinya diatas tuts – tuts itu. Pertama – tama Sehun hanya mengamati jari mungil Luhan yang bergerak pelan, tak lama kemudian dia mengikutinya, mengimbangi setiap pergerakan tangan Luhan, walau diawal – awal memang sulit karena dia sudah biasa menggerakan tangannya dengan cepat sedangkan Luhan masih sangat kaku. Tapi lama kelamaan Sehun bisa mengikutinya, membuat sebuah suara dengan irama yang indah.
"Sudah kukatakan kau memang bisa." Bisik Sehun kemudian mengecup pipi Luhan, tapi tanpa mereka sadar dibelakang mereka tengah berdiri Joonmyeon dan Yixing, dan sekarang dua orang itu terkekeh melihat tingkah laku anak mereka.
"Eyyy… kalian ini romantis sekali." Instrupsi Joonmyeon membuat Luhan dan Sehun sontak mendongak kebelakang. Saat itu mereka langsung menemukan Joonmyeon yang tengah merangkul Yixing dengan mesra. Luhan menggaruk tengkuknya sedangkan Sehun hanya tersenyum lebar.
"Eomma dan Appa juga tak kalah romantis, lihat saja bagaimana tangan appa yang melingkar dipinggang eomma." Jawab Sehun. Memang setelah menjadi menantu, Sehun memanggil dua orang itu Eomma dan Appa.
"Sebenarnya kami selalu romantis iyakan yeobo?" Yixing yang ditanya seperti itu hanya terkekeh pelan dan melepaskan tangan Joonmyeon yang ada dipinggangnya.
"Kau terdengar seperti anak muda Joon." Ujar Yixing "Eomma menunggu dimeja makan." Lanjut Yixing pada Luhan dan Sehun, kemudian melenggang pergi membuat Joonmyeon mengejarnya sambil menggerutu tak jelas.
"Kau memiliki orang tua yang menyenangkan kau tau?" Ucap Sehun sambil bangkit dan merangkul Luhan, membawa wanita itu menuju dapur, mengikuti kedua orang tua mereka.
"Benarkah? Kalau begitu jika kau mau, kau bisa mengambilnya." Canda Luhan sambil terkekeh. Tangannya berada di perut yang sekarang mulai terlihat berisi, walau tak begitu kentara. Luhan mengusapnya pelan dan tersenyum.
"Bagaimana keadaannya?" Ujar Sehun sambil menarik kursi untuk Luhdan duduk.
"Kau tau benar dia masih segumpal darah bukan?" Sehun mengangguk dan duduk disampingnya. "Yeah… seperti apa yang dikatakan dokter, aku benar – benar harus menjaga kesehatanku." Lanjutnya sambil menaikan bahunya. Luhan mengambil piring Sehun dan menuangkan beberapa makanan keatas piringnya. Setelah Luhan kembali duduk dengan makanan dipiringnya Sehun berbisik pelan.
"Kau istri yang sempurna." Dan hal itu sontak membuat pipi Luhan bersemu merah. Dia tau itu hanya sebuah kalimat kecil yang pernah Sehun ucapkan padanya, tapi entah kenapa hal kecil seperti ini yang disukainya. Sehun tersenyum dan meraih sumpit, mulai menyantap makanan yang sudah tersedia dihadapannya. Luhan bersumpah jika tidak hanya ada mereka di ruangan ini, dia akan menerjang Sehun dan menghujaninya dengan ciuman dan merengek untuk disuapi tapi nyata Luhan hanya membeku ditempat.
"Luhan." Wanita itu mengerjap dan menatap kearah sang eomma yang baru saja memanggilnya.
"N-ne eomma?"
"Kau tidak suka makanannya? Kau ingin eomma membuatkanmu yang lain?" Luhan menatap piringnya yang masih penuh dan menggeleng cepat.
"Tidak usah, aku baik – baik saja." Luhan segera meraih sumpit dan mulai menyuapkan makanannya tanpa melihat Sehun yang dia yakini tengah menatapnya.
~Pregnancy~
Luhan dan Sehun kini tengah berbaring, Luhan memegang sebuah buku ditangannya sedangkan Sehun sibuk dengan gadgetnya, menyelesaikan beberapa urusan. Luhan mendesah saat punggungnya sudah pegal, dia menutup buku itu dan melirik kearah Sehun. Pria itu masih belum melepaskan matanya dari benda datang yang sekarang tengah menampilkan beberapa jadwalnya sebulan kedepan. Kadang – kadang pria itu menggerutu tak jelas atau mengetuk – ngetuk layar gadget itu dengan ibu jarinya.
Luhan menghembuskan nafas panjang dan menaruh buku itu di nakas yang ada tepat disamping tempat tidurnya dan mematikan lampu. Sehun menatap Luhan yang sekarang sudah berbaring di kasur dengan selimut yang sudah menutupi tubuhnya. Sehun menghembuskan nafas pendek dan kembali berkutat dengan gadgetnya.
Sebuah tangan kecil menghentikan pergerakannya. Ternyata Luhan masih belum terlelap, wanita itu menatapnya dengan mata membulat lucu.
"can you bring a glass of milk for me? please?" Sehun mengangguk kemudian menaruh gadgetnya dikasur.
"With my pleasure sweetheart, wait here." Luhan mengangguk dengan mata yang mengedip beberapa kali membuatnya semakin terlihat sangat lucu.
Tak lama kemudian Sehun kembali dengan gelas tinggi yang terisi penuh dengan susu. Pria itu duduk disamping Luhan dan menyodorkan gelas itu.
"Hati – hati, sepertinya masih panas." Luhan mengangguk dan meraihnya. Wanita itu menangkup kedua tangannya di antara gelas yang terasa hangat membuatnya mendesah saat kehangatan itu membuat tubuhnya terasa nyaman. Luhan mulai mengesapnya, Sehun benar susunya masih panas tapi tidak terlalu panas untuk Luhan bisa menyeruputnya.
Sang suami hanya menatap istirnya yang entah kenapa terlihat sangat lucu malam ini, Luhan mengenakan piama berwarna pink dengan bahan dasar kain sutra lembut yang ditambah renda dengan warna senada dibeberapa tempat.
"Ini." Ujar Luhan sambil menyodorokan gelas yang sekarang kosong itu pada Sehun.
"Kau sudah selesai?" Luhan mengangguk masih dengan gaya yang manis dan membuat Sehun gemas setelah mati. Pria itu menaruh gelasnya di nakas dan menyelimuti Luhan sebelum bangkit dan kembali meraih gelas yang tadi ditaruhnya di nakas.
"Tidurlah, aku akan menaruh gelas ini ke dapur." Luhan mengangguk, wanita itu menguap sebelum akhirnya memejamkan mata.
Sehun kembali dengan derap langkah ringan tak mau mengganggu Luhan. Pria itu mulai naik keatas kasur, dia kembali bersandar pada punggung kasur tapi detik berikutnya ada sesuatu yang terasa sangat ganjil. Dia baru sadar kalau gadgetnya sudah menghilang. Dia menatap Luhan yang sekarang tidur dengan wajah damai.
Sebuah tangan melingkar dipinggangnya, dia tau Sehun pasti sudah sadar kalau dia kehilangan gadgetnya, tapi Luhan tetap memejamkan mata dan berpura – pura kalau dia sudah tertidur.
"Honey, kau tak berniat mengembalikan barangku?" bisik Sehun ditelinga Luhan, tapi wanita masih tetap bergeming dan matanya terpejam dengan damai. Akhirnya Sehun tidak memilik cara lain, pria itupun mengecup telinga Luhan beberapa kali, dia tau cara ini pasti akan membuat Luhan membuka mata dan mulutnya.
"Hentikan Sehun." Ujar Luhan tanpa membuka matanya. Wanita itu bergeser pelan sedikit membuat jarak antara dirinya dan Sehun.
"Dimana gadgetku honey? Aku membutuhkannya." Ucap Sehun.
"Aku tak tau, aku tidak menyentuh gadget kesayangan mu itu." Ucap Luhan dengan menekankan kata 'kesayangan' pada kalimatnya.
"Ada apa dengamu sweetheart, biasanya kau tidak seperti ini."
"Ada apa denganku?" Tanya Luhan sambil membuka matanya, dia menatap mata Sehun dengan tajam, tidak ada lagi tatapan manis dan lucu yang tadi perlihatkannya. "Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu tuan Oh."
"Memangnya apa yang sudah aku lakukan? Aku membuat kesalahan?"
Luhan mendengus, entah kenapa matanya mulai panas dan berkaca – kaca, tapi wanita itu menahannya, berusaha untuk tidak menumpahkan tangisannya.
"Aku berhadap dengan kembalinya dirimu dari London sana, tadinya… aku berharap kau bisa memperhatikanku, tadinya aku berhadap kau bisa kembali memanjakanku, tapi… hanya karena benda ini kau bahkan lupa bagaimana cara memperlakukanku setiap aku akan tidur." Setetes air mata mulai menuruni pipinya, Luhan melemparkan benda yang ada ditanganya ke tubuh Sehun. "Oh… mungkin karena sudah lama tak bertemu kau berpikir kalau mengecup kening dan memelukku saat tidur bukan hal yang harus kau lakukan lagi?" Luhan menyerka air matanya dengan kasar.
"Lu…" Ujar Sehun menangkap tangannya yang bergerak kasar, tapi dengan cepat Luhan menariknya.
"Maafkan aku… " Ujar Luhan dengan nafas yang tersenggal karena isakannya beberapa menit setelahnya. "Aku tau ini kekanan – kanakan, seharusnya aku tau kau pasti sibuk dan seharusnya aku tak egois. Maafkan aku." Ujar Luhan tanpa menatap Sehun dan kembali membaringkan tubuhnya tak ingin menatap Sehun.
Tangan Sehun menariknya pelan, membuat tubuh mereka berhadapan. Luhan masih meneteskan air mata, dengan lembut Sehun menyerka air mata itu dan mengusap pipi Luhan.
"Maafkan aku." Bisik Sehun sambil memeluk wanita itu. Tubuh Sehun ikut bergetar karena isakan Luhan yang cukup keras. Pria itu mengusap punggung Luhan mencoba menenangkannya. "Seharusnya aku lebih peka akan keadaanmu, tapi mungkin karena kebodohanku, aku tidak bisa merasakan apa yang kau rasakan, maafkan aku Lu." Luhan sebisa mungkin menahan isakannya, dia juga tak mau kalau kedua orang tuanya mendegar dia menangis seperti ini.
"Maaf." Sehun terus mengulang kata itu sampai akhirnya Luhan tenang. Sehun mulai meregangkan pelukannya dan menatap wajah Luhan yang kini memerah dengan jejak air mata dipipinya. Dengan perlahan dan lembut Sehun menyerka air mata itu kemudian mengecup kedua pipi Luhan.
"Aku berjanji tidak akan menyentuh benda…"
"Aku tau kau harus tetap berhubungan dengan manager, aku juga mengerti masih ada pekerjaan yang harus kau kerjakan. Tapi satu hal yang aku minta, kumohon… aku hanya ingin kau lebih peka dan memperhatikanku sebelum kau sibuk dengan pekerjananmu." Bisik Luhan dengan suara tercekat karena isakan – isakan kecil. Sehun mengangguk.
"Terima kasih karena kau sudah mengerti bagaimana pekerjaanku." Bisik Sehun sambil mengusap pipi Luhan. "Let's sleep dear." Bisik Sehun. Luhan menatapnya sesaat sebelum mengangguk dan merapatkan tubuhnya pada Sehun.
~Pregnancy~
#Flashback
Luhan tengah duduk dengan gugup dikursi tunggu sebuah rumah sakit terkenal di kota London. Tangannya di genggam oleh Sehun yang sedari tadi mencoba menenangkannya. Luhan semakin gugup saat namanya di panggil oleh seorang suster yang mengenakan seragam berwarna putih dengan polet berwarna pink. Dia menatap Sehun mencoba untuk minta kekuatan.
"You'll be fine honey, trust me." Ucap Sehun sebelum membawa masuk Luhan ke ruangan dokter.
~Pregnancy~
Sehun dan Luhan tengah duduk di taman favorite mereka, Sehun membelikan bubble tea favorite Luhan sebelum mereka sampai. Sudah hampir satu jam yang lalu mereka keluar dari rumah sakit namun Luhan masih saja diam. Kadang dia menatap jauh kedepan, seperti memikirkan sesuatu dengan kening yang berkerut tapi kadang Luhan menghembuskan nafas panjang dan mengusap perutnya yang datar.
"Don't be like this honey, you'll be fine." Ujar Sehun sambil merangkul Luhan. Wanita itu hanya tersenyum tipis dan mengangguk, tapi tetap saja Luhan melamun dan tak mengucapkan sepatah katapun.
Semua ini dikarena ucapan dokter mengenai kondisi tubuhnya. Jujur saja ini bukan hal yang baik untuk diungkapkan dan Luhan sendiri tak ingin mengungkitnya, tapi sialnya pirikiran itu selalu saja hinggap dan membuat Luhan tidak bisa berhenti memikirkannya.
'Seorang wanita yang sudah ketagihan dengan minuman alkohol cenderung memiliki janin yang tidak sehat, banyak wanita yang sudah menjadi korbannya, bayi yang mereka lahirkan kadang memiliki IQ yang rendah, atau banyak juga yang prematur atau mereka suka bisa mengalami Syndrome Alkohol atau dengan kata lain Fetal Alcohol Syndrome (FAS) dan yang lebih parah mereka akan mengalami keguguran saat usia kandungan mereka masih sangat muda.'
"Tapi dokter mengatakan kalau kau masih hanya memiliki kemungkinan kecil untuk mengalami hal – hal seperti itu." Ujar Sehun seakan – akan bisa membaca apa yang Luhan pikirkan. Wanita itu menghembuskan nafas pendek dan melepaskan rangkulan Sehun. Dia menatap langit yang terlihat sangat biru dan menangkan, awan – awan putih bergulung membuat sebuah bentuk indah menghiasi langit, namun hal itu tak cukup untuk membuat Luhan tenang dan mendengarkan apa yang baru saja Sehun katakan. Dalam benaknya dia masih khawatir dengan kondisi janinnya.
"Tapi aku sangat khawatir Hun, seharusnya aku benar – benar berhenti menegak minuman sialan itu, andai saja…"
"You'll be fine Lu… trust me." Sela Sehun. Tapi Luhan menunduk menatap perut datar itu dan mengusapnya pelan.
"Aku khawatir pada dia." Bisiknya pelan, tanpa disadari setetes air mata jatuh. Luhan langsung menyerkanya dan tersenyum pada Sehun, dan pria yang ada dihadapannya yakin sekali itu hanya sebuah senyuman palsu dengan setengah hati.
"Sekarang apa yang bisa aku lakukan untuk membuatmu merasa lebih baik?" Sehun sambil menyeruput bubble teanya. Luhan kembali menempatkan dirinya disamping Sehun membuat pria itu dengan mudah merangkulnya.
"Bagaimana jika…" Luhan menatap kesekitar. "…bernyanyi untukku?" Sehun menatapnya dengan alis yang dinaikan keatas.
"Yang benar saja Lu, kau tau bagaimana jika aku menanyi." Luhan terkekeh dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Sehun.
"Menangnya kenapa? Kau terdengar lucu saat bernyanyi." Sehun tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memutarkan bola mata. Dulu dia masih sangat ingat –sekali- kalau Luhan sering sekali mengejeknya karena suaranya memang sedikit aneh saat menyanyikan lagu tertentu.
"Tapi aku ingin kau menyanyikan sebuah lagu."
"Baiklah tapi berjanjilah kau tak akan menertawaiku okay?" Luhan mengangguk dan menatap Sehun yang berdeham memberiskan terngorokannya.
"You and I must make a pact
We must bring salvation back
Where there is love
I'll be there…"
Sehun menghentikan lagunya karena Luhan yang tak kunjung memberikan ekspresi. "-Luhan sudah kukatan…"
"I'll reach out my hand to you
I'll have faith in all you do
Just call my name
And I'll be there"
Luhan menyela pembicaraan Sehun dengan melanjutkan lirik lagu yang baru saja dialantunkan oleh Sehun. Wanita itersenyum saat Sehun menatapnya dengan wajah yang kentara sekali dengan rasa terkejutnya.
"Let's sing with me Hun."
"I'll be there to comfort you
Build my world of dreams around you
I'm so glad I found you yeah
I'll be there with a love so strong
I'll be your strength
You know I'll keep holding on"
Luhan menautkan tangannya dengan tangan besar milik Sehun, membuatnya terasa lebih hangat dari sebelumnya.
"Let me fill your heart with joy and laughter
Togetherness, well it's all I'm after
Just call my name and
I'll be there
I'll be there to protect you
With an unselfish love that respects you
Just call my name
And I'll be there"
Sehun mengecup tangan mungil Luhan dengan segenap cinta, menyatakan kalau dia benar – benar mencintai istrinya itu, dan menyatakan bahwa dia akan selalu menjaga Luhan disaat wanita itu tertimpa masalah.
"I'll be there to comfort you
Build my world of dreams around you
You know I'm so glad that I found you
I'll be there with a love so strong
I'll be your strength
You know I'll keep holding on"
"See, if you should ever find someone new
I know she better be good to you
'Cause if she doesn't then
I'll be there"
"Don't you know baby yeah yeah
I'll be there
I'll be there
Just call my name and
I'll be there"
"I'll be there, baby
You know I'll be there
Just call my name and
I'll be there
Just look over your shoulder
Just call my name and
I'll be there"
"Kau sudah lebih baik?" tanya Sehun yang langsung disambut anggukan oleh Luhan. Pria itu juga yakin kalau Luhan memang sudah lebih baik, terlihat dari ekspresi wajahnya yang sekarang sudah lebih banyak tersenyum. Tapi kemudian Luhan memasang ekspresi wajah yang berbeda, dia terlihat manja dengan mata yang beberapa kali dikedipaknya dan jangan lupakan tangan Luhan yang sudah berada didalam gandengan Sehun, yang pria itu tau sekali jika Luhan melakukan hal ini, berarti dia menginginkan sesuatu.
"Apa yang kau inginkan ?" Tanya Sehun sebelum Luhan berucap apapun, wanita itu tersenyum lebar.
"Kau mau melakukannya untukku?"
"Apapun itu jika masuk akal tentu saja." Jawab Sehun sambil menaikan sebelah alisnya. Luhan menatapnya dengan sorot mata yang serius.
"Aku ingin kembali ke korea."
Sehun terlihat berpikir dan menatap Luhan dengan cemas, dia tidak bisa membiarkan wanita itu pulang ke korea begitu saja. Karena dia pernah mendengar jika seorang ibu yang tengah hamil tidak dianjurkan untuk melakukan penerbangan, karena akan membahayakan bagi si janin juga ibunya.
"Aku juga tidak bisa terus disini Sehun…" Ucap Luhan sambil meraih tangan pria itu mencoba menyakinkannya.
"Apa yang kau pikirkan sekarang? Jangan katakan kalau kau menyulitkanku." Luhan mengigit bibirnya, memang hal itu yang sedari tadi menganggu pikirkannya, dia yakin sekali, setiap hari Sehun akan menjaganya bahkan –Luhan yakin sekali- Sehun akan menelphonya setiap satu menit. Tentu saja Luhan tak menginginkan hal itu terjadi.
"Well… tadinya aku memang memikirkan itu tapi setidaknya di Korea ada eomma yang bisa menjagaku dan lagi… aku benar – benar tidak mau menyulitkanmu."
"Lu… kau sama sekali tidak-"
"Sehun, bukan seperti itu…." Sela Luhan. "Apa kau tau apa yang harus aku lakukan saat ini? Bukankan lebih baik eomma yang menjagaku? Dia pasti sudah tau apa yang harus dan tidak harus aku lakukan, dan tidakkah itu baik untuk aku dan dia?" tanya Luhan sambil mengelus perutnya yang masih rata.
Sehun tengah berpikir, memang banyak hal yang harus dipertimbangkannya, jika dia tidak mengijinkan Luhan kembali ke Korea, dia sendiri tak yakin apa yang harus dilakukannya, karena jujur Sehun belum mengetahui apapun soal Ibu dan kehamilan. Jika dia biarkan Luhan kembali ke Korea, wanita itu pasti akan dijaga oleh sang ibu dan Sehun tidak perlu khawatir mengenai janin yang tengah dikandung oleh Luhan lagi, namun… dia sendiri tak yakin kalau mereka bisa berjauhan, karena dia tak yakin kapan dia akan bisa kembali ke Korea dan menetap disana.
Sehun menatap Luhan sesaat, masih memikirkan semua dan menimbang – nimbang nama yang lebih baik untuk istrinya ini. Sehunpun menghembuskan nafas panjang dan mengangguk.
"Kau akan kembali lusa."
.
.
.
~To Be Continued~
