Sequel of I am a bad girl

Ooc, Gs, Typo(s), tidak sesuai EYD dll.

Ranted : T

Chapter : 5/?

It's HunHan Story.

.

Luhan menggerutu pelan dan memutuskan untuk duduk disofa sambil mengelus perutnya yang mulai membesar, kini usia kandungannya sudah memasuki bulan ke 7. Luhan kesal pada Sehun yang terus melarangnya untuk pergi dan duduk ditaman belakang dengan alasan 'Kau tau tak lama lagi akan musim dingin, sebaiknya kau diam didepan perapian bukan bersantai ditaman belakang.' Dan sungguh kalau saja pria itu bukan ayah dari janin yang dikandungnya maka Luhan bersumpah akan menendang bokongnya.

"Lu, jangan marah seperti itu." Ujar Sehun yang tiba – tiba mucul dari dapur. Luhan mendengus dan meraih majalah untuk ibu hamil dan memfokuskan dirinya pada buku itu. Sehun duduk disampingnya memandang Luhan yang sama sekali tak membalas tatapannya. Akhirnya Sehun menarik makajalah itu membuat Luhan menatapnya.

"and now what?"

"Don't be mad like that honey, I love you…"

"I know, I love you too then." Jawab Luhan dengan nada malas dan beranjak untuk menjauhi Sehun. Wanita itu berjalan dengan pelan sambil memegangi perutnya yang membuncit dan duduk didepan piano. Semenjak tau dia hamil Luhan belajar memainkan piano, karena dia menemukan dari beberapa artikel yang dia baca, saat seorang ibu tengah mengandung dianjurkan untuk belajar meminkan piano atau bernyanyi karena menurut penelitian hal tersebut akan mempengaruhi suasana hati sang bayi.

Sehunpun mengikutinya dari belakang dan duduk disamping Luhan, namun wanita itu tetap mainkan jari – jarinya yang sudah mulai handal mengusai nada. Luhan tengah memainkan Menuet In G Major dari salah seorang komposer terkenal bernama Bethoven. Sehun hanya memandangnya, menikmati wajah Luhan yang entah kenapa semakin cantik ditambah alunan musik sebagai pengatar suaranya.

"Kau tau Lu, kau seperti bidadari." Ujar Sehun saat tangan Luhan berhenti. "Dan dia adalah malaikat kecil yang membuatmu semakin terlihat sempurna." Lanjutnya sambil menyentuh perut buncit Luhan. Tapi kemudian wanita itu terperangah dan langsung meletakan tangannya di perut. Sehun yang melihatnya ikut terkejut.

"Kau baik – baik saja?" Luhan masih membelalakan matanya dan memegang perut, tak berkutik sama seklai.

"Lu?" Tanya Sehun membuat akhirnya wanita itu menatapnya. "ada apa? Kau baik – baik saja bukan?" Luhan mengangguk dan kembali menatap perutnya.

"Dia menendang." Gumam Luhan dengan suara pelan namun masih bisa terdengar oleh Sehun. Pria itu ikut terperangah. "Dia menendang." Ucap Luhan kini sambil menatap Sehun.

"Kau bercanda?" Luhan menggeleng dan menarik sebelah tangan Sehun, menaruh tangan itu ke perutnya. Detik berikutnya Sehun merasakan gerakan pelan dari dalam perut Luhan.

Mereka berdua saling menatap satu sama lain dengan wajah yang tak lepas dari senyum kebahagiann. Sehun kembali mengusapnya dan kembali terjadi pergerakan. Luhan tertawa pelan dan tanpa sadar wanita itu menitihkan air mata.

"Oh honey, don't cry." Ujar Sehun yang langsung menyerka air matanya. Luhan menggeleng.

"Aku terlalu bahagia Hun. Ini semua terlalu nyata kau tau…" Luhan menghela nafas sesaat. "…aku kira, aku tidak bisa menjaganya, kau tau dokter mengatakan…"

"Stt… bukan saatnya kita membahas hal seperti itu." Sela Sehun. Pria itu menundukan wajahnya dan mengecup perut Luhan membuat hati wanita itu mencelos seketika.

"Sayang, jarang repotkan eommamu oke? Dia telah menjagamu dengan baik. Saranghae."

Mata mereka bertemu, Sehun mengusap pipi Luhan, menghapus jejak air mata yang menganak sungai di pipinya.

"I love you, my dear." Kemudian mengecup kening Luhan dengan lembut. Luhanpun tak bisa lagi menahan air matanya, dia memeluk Sehun dan menumpahkan segalanya di pundak sang pria. Sedangkan Sehun hanya tersenyum dan mengusap rambut Luhan membiarkan wanita itu menangis di pundaknya.

~Problem~

Belakangan ini ponsel Sehun tak bisa berhenti untuk mengeluarkan suara bunyi nyaring yang benar – benar menjengkelkan Luhan. Namun pria itu tak pernah memperdulikannya, dia menaruh ponsel itu di laci dan membiarkannya terus berdering. Luhan mengigit bibir saat Sehun tak kunjung menjawab telphone itu, karena dia tau telphone masuk itu berasal dari sang manager.

Luhan meraih ponsel itu dan memberikannya pada Sehun. Dia berharap apa yang dilakukannya benar.

"Aku tau kau masih memiliki urusan di London." Ujar Luhan sambil duduk disamping Sehun yang serius membaca koran. Sehun mendongak kearahnya dan menaruh koran itu dimeja.

"My dear, do you know what will happen if…"

"Aku tau, tapi mungkin sudah cukup bagiku menjadi istri yang egois dan tak mementingkan suaminya. Sekarang saatnya untuk menjadi istri yang baik." Potong Luhan cepat.

"Tapi bagaimana jika manager menyuruhku kembali ke London?" Luhan mengangkat bahunya.

"Jika memang dia menyuruh hal itu maka pergilah. Aku tidak akan melarangmu atau merengek memintamu tetap disini."

Sehun meraih ponsel ditangannya dengan ragu. Tapi kemudian Sehun mengecup pipinya sebelum pergi untuk menelphone sang manager. Luhan menghembuskan nafas panjang dan menutup matanya. Dalam hati dia tak bisa berhenti mengatakan 'kau melakukan hal yang benar Lu, percayalah.' Walau sebenarnya di lubuk hatinya paling dalam, dia tak bisa merelakan jika Sehun harus pergi.

Sang ibu memanggilnya, membuat Luhan membuka mata dan menengok kebelakang. Aroma masakan membuat perutnya lapar. Luhan bangkit dengan perlahan sambil memegang perutnya. Dia berjalan dengan pelan karena sekarang dia bahkan tak bisa melihat kedua kakinya. Sang ibu yang melihat Luhan berjalan tanpa Sehun, langsung membantunya. Luhan tersenyum dan duduk di kursi meja makan.

"Kemana Sehun?" tanya Yixing sambil menuangkan sup kemangkuk Luhan.

"Dia sedang menelphone managernya." Jawab Luhan singkat membuat tangan sang ibu berhenti bergerak dan menatapnya.

"Apakah dia akan kembali ke London?" Luhan termengung dan menatap jauh kedepan terlihat memikirkan sesuatu.

"Lalu? Bukankah dia juga harus kerja? Tidakah eomma berpikir apa yang aku pikirkan?" Yixing berjalan kearahnya dan memeluk Luhan dari samping.

"Aku bangga padamu. Tenang saja, eomma selalu ada untukku sayang." Luhan tersenyum dan mengecup pipi sang ibu sebelum wanita itu melepaskan pelukannya.

"Apa yang sedang ibu – ibu ini biacarakan?" Tanya Sehun yang tiba – tiba saja datang. "Menggosipkanku?" Dan kedua orang wanita itu langsung tertawa.

"Tentu saja tidak. Lebih baik membicarakan kita membicarakan Daniel Craig daripada membahasmu nak." Sela Yixing yang kembali berjalan ke dapur untuk membawa nasi.

"Oh tapi tentunya aku yang lebih tampan bukan?" Jawab Sehun enteng dan duduk disamping Luhan.

"Kau tau, aku sangat tidak setuju dengan hal itu." Ucap Luhan saat pria itu melirik kearahnya dengan alis yang dinaikan. Sehun tertawa dan mengusak rambut Luhan.

"Jika eomma kita tidak setuju bagaimana denganmu sayang? Kau pasti setuju kalau appa-mu lebih tampan dari pada pria bernama Daniel Craig itu bukan?" Tanya Sehun pada sang janin dan mengelusnya pelan. Tiba – tiba nafas Luhan tersentak tajam dan terdengar meringis, wanita itu memeluk perutnya dengan tangan lemas.

"Lu?" Tanya Sehun.

Luhan menggeleng namun dia terlihat sedang menahan rasa sakit. Nafasnya memburu dan titik – titik keringat mulai bermunculan. Tapi dengan cepat Luhan mengembuskan nafas dan mencoba menenangkan dirinya sendiri.

"Dia hanya menggeliat, Kau kesempitan didalam sana sayang?" Tanya Luhan sambil mengelus perutnya pelan dan mencoba kembali menormalkan deru nafasnya.

"Tapi kau baik – baik saja bukan?" Luhan mengangguk dan menggeser posisi duduknya mencari tempat yang lebih nyaman.

"Menjadi seorang ibu hamil ternyata tidak mudah." Ujarnya pelan seraya mengusap perut buncitnya. Yixing menimpal dan mengatakan bahwa dirinya dulu sama seperti Luhan, banyak sekali perjuangan yang harus dikerahkan untuk menjaga Luhan saat berada dikandunga. Dan Luhan yang mendengarkan penuturan dari ibunya tersenyum dan mengucapkan 'I love you' berulang – ulang. Mereka sarapan pagi tanpa Joonmyeon karena pria satu itu tengah berada di luar kota untuk urusan pekerjaan.

Terlihat sekali Sehun yang memanjakan Luhan, dia bahkan memilih menyuapi Luhan sebelum dia menyentuh makanannya.

"Tapi nanti makanmu akan dingin Sehun." Protes Luhan mencoba meraih sendok dari tangan Sehun, tapi tentu saja dengan cepat Sehun menariknya dan menggeleng.

"No my dear, aku ingin menyuapimu." Luhan menberengut dan menghembusan nafas panjang.

"Baiklah tapi setelah ini aku ingin keluar dan membeli bubble tea. Bagaimana?" Sehun melirik Yixing meminta persetujuan, tentu saja ibu satu langsung mengangguk.

"Baiklah, aku akan mengantarmu. Lagi pula sudah lama sekali kita tidak keluar."

"Hey, jangan lupakan kalau hari ini Luhan harus check up." Sela Yixing mengingatkan Sehun, pria itu langsung mengangguk.

"Tenang saja eomma, aku tidak mungkin melupakan hal itu."

~Problem~

Luhan tengah berada dalam gandengan Sehun, wanita itu berjalan dengan perlahan menuju tempat pemeriksaannya seperti biasa dengan seorang suster yang berjalan didepannya. Namun, setiap kali dia harus menjalani pemeriksaan, Luhan tak bisa menahan jantungnya untuk tidak berderup dengan kencang, pikirkan – pikiran negatif selalu saja terbesit dibenaknya tatkala ingatannya hinggap pada kejadian awal musim gugur saat dia pertama kali mengunjungi seorang dokter di London. Tapi tentu saja dia tak bisa mengatakan semua ini pada Sehun. Andai saja pria itu tau dia pasti akan selalu mencemaskannya.

Luhan menghembuskan nafas panjang saat aroma menyengat obat – obatan dan pemutih menyapa indra penciumannya. Seorang dokter wanita dengan senyuman seindah belendu menyambutnya.

"Selamat datang kembali nyonya Oh, bagaimana keadaanmu?" Sapa dokter dengan pakaian serba putih itu dengan ramah. Sebuah nametag berwarna hitam terpasang di sisi kanan dadanya bertuliskan Byun Baek Hyun. Luhan membalas senyumannya dan duduk dihadapan wanita itu.

"Seperti biasa, aku baik – baik saja." Dokter itu tersenyum kemudian mengangguk, dia mempersilahkan Luhan untuk berbaring di sebuah kasur dengan sprai putih yang mengeluarkan aroma pemutih yang sangat menyengat indra penciumannya. Luhan mengernyit sebelum dia berbaring.

"Ada sesuatu yang ingin anda katakan?" Tanya sang dokter yang sedang berdiri disampingnya. Luhan menggeleng dan mencoba menghembuskan nafas panjang namun hal itu malah membuatnya semakin mual. Sehun berjalan mendekatinya dan mengusap tangan Luhan yang mulai berkeringat.

"Entahlah dok, biasanya hal ini tidak terjadi tapi kali ini aku benar – benar tidak suka dengan aroma sprai ini." ujar Luhan dengan suara pelan.

Baekhyun tertawa pelan dan menggangguk, wanita itu menyuruh Luhan untuk bangkit dan turun dari kasur sementara dia menyuruh sang suster untuk menggantinya.

"Maaf dokter Baek, tapi…"

"Tidak apa – apa, beberapa ibu hamil memang selalu mengatakan hal itu saat mereka masuk kesini, itu hal yang wajar." Sela Baekhyun kemudian kembali duduk dikursinya. "Apa Luhan-ssi ingin melakukan USG untuk melihat jenis kelaminnya?" Luhan mengigit bibir, dia masih berdiri disamping kasur sementara seorang suster menggantikan sprainya. Dia menatap kearah Sehun meminta pendapat.

"Aku menyerahkannya padamu, jika kau ingin mengetahuinya boleh saja." Luhanpun mengangguk dan kembali berbaring dikasur setelah suster menggantikannya dengan sprai yang baru, kali ini lebih baik, setidaknya sprai ini tidak mengeluarkan bau menyengat lagi.

Luhanpun mulai pemeriksaannya. Baekhyun membalurkan sebuah cairan yang terasa sangat dingin hampir keseluruh permukaan perutnya, kemudian wanita itu mengambil sebuah alat dan mengarahkan pada perutnya. Dan demi tuhan, dia benar – benar tidak menyukai benda itu diatas perutnya ditambah lagi dengan baluran cairan dingin itu. Tapi saat dia menatap sebuah layar di hadapannya, seketika rasa itu hilang, digantikan dengan rasa kebahagiaan yang membuncah dalam hatinya.

Sedangkan Baekhyun menatap layar yang lebih kecil disamping tempat tidur dan tangganya tak berhenti bergerak diatas perut buncit Luhan dan sedikit menekannya. Luhan menatap Sehun sambil menahan tangisannya, jujur saja ini pertama kalinya dia melakukan USG.

"Dia wanita." Ujar Baekhyun sambil menatap Luhan. "Lihatlah dia tumbuh dengan sehat disana. Kau menjaganya dengan baik Luhan-sii." Luhan tersenyum mendengar penuturan itu. Ternyata pengorbanannya selama ini menghasilkan sesuatu yang menakjubkan.

Sehun membantu Luhan membersihkan cairan itu dari perutnya, sedaritadi pria itu tidak pernah melepaskan senyumannya. Dia terlihat sangat bahagia. Bagaimana tidak? karena tak lama lagi dia benar – benar akan menjadi seorang ayah dengan anak perempuan yang pasti sangat lucu.

Baekhyun tengah duduk, dan menulis beberapa resep yang Luhan yakin sekali itu adalah vitamin untuk janinnya. Dia juga menyuruh suster membawa sebuah foto dimeja sebelah kanan disudut ruangan. Dia tersenyum dan sedikit membenarkan kacamatanya saat Luhan dan Sehun sudah kembali duduk dihadapannya.

"Ini resepnya dan ini…" Baekhyun menyerahkan sebuah amplop berukuran sedang pada Luhan. "Itu foto USG yang baru saja kita lakukan." Lanjutnya sambil tersenyum. Luhan tak bisa untuk membalas senyumannya.

"Terima kasih dok." Ucap Sehun yang disambut dengan anggukan oleh Baekhyun.

~Problem~

Luhan terlihat sangat senang, dia tengah menyeruput bubble tea dengan Sehun yang menggandengnya. Sedangkan Sehun hanya tersenyum melihat istrinya bahagia. Mereka memutuskan untuk mengunjungi sungai Han dan menikmati udara sore. Sehun terpaksa mengikuti kemauan Luhan untuk mengunjungi tempat ini karena wanita itu terus saja memaksa dan mengatakan bahwa rumah mereka tak jauh dari sana. Sehun pun menyerah dan membiarkan Luhan untuk jalan – jalan walau sebenarnya udara terlalu dingin untuk dinikmati.

"Kapan salju pertama akan turun?" tanya Luhan sambil menatap pria disampingnya. Detik itu juga Sehun menatap kelangit dan menaikan bahunya.

"Entahlah, sepertinya beberapa hari kedepan." Jawab Sehun, Luhan mengangguk dan menghembuskan nafas panjang membuat sebuah gumpalan asap putih dari mulutnya.

"Aku ingin melihat salju pertama bersamamu." Ujar Luhan semakin merapatkan tubuhnya pada Sehun yang dengan refleks langsung membuka lengan dan melingkarkannya pada tubuh Luhan.

"Tenang saja kita pasti akan melihatnya." Ucap Sehun membuat senyuman dibibir Luhan semakin mengembang. "Tapi sekarang kau harus mendengarkanku saat aku mengatakan kalau kita harus pulang."

Luhan mendesah kecewa dan Sehun melihat hal itu sangat menggemaskan, dia tak habis pikir bagaimana Luhan yang tengah mengandung masih saja bisa melakukan hal lucu seperti itu.

"Aku berjanji besok akan mengajakmu kesuatu tempat." Lanjut Sehun membuat Luhan mendongak kearahnya.

"Kau berjanji?"

"of course, it's for you my dear." Luhanpun mengangguk dan kembali kesisi Sehun agar pria itu bisa mendekapnya dan menyalurkan kehangatan yang selalu sukses membuat Luhan nyaman.

~Problem~

Haripun berganti dan Luhan sama sekali tak mau bangkit dari kasur ditambah lagi cuaca diluar yang sangat dingin semakin membuatnya merapatkan selimut. Tapi kemudian sebuah tangan mengusap pelan keningnya dan mendaratkan kecupan manis disana.

"Kau tak akan beranjak dari kasur sayangku?" Tanya Sehun sambil membelai rambut Luhan. Wanita bergumam tak jelas tanpa membuka matanya. "Baiklah kalau begitu, aku keluar sebentar ada urusan yang harus aku selesaikan. Saranghae." Bisik Sehun ditelinganya kemudian mencium pipinya sekilas dan beranjak dari kasur meninggalkan Luhan yang perlahan membuka matanya menatap kepergian Sehun.

Aku tau tak lama lagi kau pasti harus kembali ke London.

Menit berlalu, Luhan menggeliat tapi tak beranjak dari kasurnya, dia merasa hari ini begitu malas bahkan untuk sekedar bangkit dan membereskan kasur. Tapi detik berikutnya Sehun kembali dengan segelas susu ditangannya.

"Aku baru saja akan membangunkanmu." Ucap Sehun sambil berjalan kearahnya. "Eomma dan Appa baru saja pergi, mereka kembali untuk beberapa hari lagi." Ujar Sehun sambil menaruh gelas itu di meja yang terletak tepat disamping kasur. Luhan mengangguk dan menguap sambil kembali meregangkan badannya secara perlahan, kemudian meletakan tangannya di perut yang semakin membuncit.

"Good morning baby." Bisik Sehun pada bayinya yang masih berada didalam sana. Luhan terkekeh pelan dan ikut mengusap perutnya.

"Kita akan pergi hari ini?" tanya Luhan berusaha bangkit secara pelahan.

"Tentu, jika kau mau." Luhan mengangguk wanita itu kembali menguap, sepertinya calon ibu satu ini masih sangat mengantuk. "Honey, jika kau masih mengantuk sebaiknya kau tidur kembali." Usul Sehun sambil mengusap punggung istrinya tapi wanita itu menggeleng.

"Aku baik – baik saja Hun, bisa kau tolong aku berjalan ke kamar mandi?"

"Tentu saja, apa kau mau sekalian aku mandikan?" Luhan mengerlingkan matanya dan memukul bahu Sehun pelan.

"Berhentilah berkata yang tidak – tidak didepan anakmu Oh Sehun."

"Toh dia tidak akan mengerti." Luhan hanya bisa memutar bola matanya dan berjalan menuju kamar mandi.

"Baiklah, aku tidak akan mengulanginya lagi. But for now…" Sehun membuka pintu kamar mandi dan memutar tubuh Luhan agar menghadapnya.

"I miss my morning kiss, can you give me one today?" Luhan mendengus tapi dia tersenyum, tangannya perlahan mengusap rambut Sehun yang masih terasa basah dan perlahan berjalan menuju tengkuk dan menariknya pelan.

"Thank you my sweetheart, and now go talking a bath and becareful."

~Problem~

Ternyata Sehun membawa Luhan ke tempat perlengkapan bayi. Memang selama ini Luhan belum mempersiapkan perlengkapan untuk bayinya karena pertama dia tidak mau merepotkan Yixing yang kedua saat itu Sehun masih tinggal di London.

"Mari kita berbelanja untuk keperluan si cantik ini." Ujar Sehun sambil membawa Luhan masuk kedalam. Luhan terlihat sangat menikmati acara berbelanja mereka. Pasangan itu memilih dari mulai perlengkapan untuk persalinan, pakaian bayi, tas bayi, kereta bayi, ranjang bayi dan semua perlengkapan untuk calon bayi mereka.

Tadinya Luhan ingin warna pink mendominasi perlengkapan bayi mereka tapi saat dia melirik sebuah ranjang bayi dengan warna ungu tenang yang sangat lucu membuat Luhan akhirnya berubah pikirkan dan mengganti semua perlengkapan bayi itu dengan warna ungu.

Sehun?

Pria itu hanya tersenyum dan dengan sabar menuruti apa yang diinginkan sang istri. Luhan benar – benar terlihat sangat gembira, dia melangkah kesana kemari dengan perut buncitnya yang Sehun yakin sekali tidak ringan. Beberapa kali Sehun harus mengingatkan Luhan agar wanita itu tidak berjalan terlalu cepat karena pria itu merasa sangat takut jika terjadi sesuatu pada Luhan.

3 jam waktu yang dibutuhkan mereka untuk membeli semua perlengkapan yang mereka butuhkan. Sehun meminta agar semua barangnya di kirim ke rumah. Namun saat mendengar hal itu Luhan terdiam dan menatap Sehun yang tengah sibuk berbincang dengan sang pemilik toko.

Sehun mengajak Luhan untuk makan siang, pria itu bertanya pada Luhan apa yang dia inginkan untuk makan siangnya tapi Luhan menyerahkannya pada Sehun, membiarkan pria itu memilih tempat untuk makan siang mereka kali ini. Sehun tau ada sesuatu yang ganjal pada Luhan saat mereka meninggalkan toko itu.

Sehun memilih salah satu restoran dengan menu utaman adalah masakan Italia. Sehun memilih tempat disamping ruangan yang mengarah langsung pada pemandangan taman buatan yang dipenuhi oleh tumbuhan yang di stek dengan rapi membentuk beberapa karakter binatang. Mereka tengah menunggu pesanan sambil menikmati pemandangan indah yang tersaji dihadapannya.

"my dear. Ada apa denganmu?" Tanya Sehun yang melihat Luhan hanya melamun sambil memandang keluar jendela.

Wanita itu menatap Sehun sambil mengerjapkan matanya. "Tidak, aku baik – baik saja." Tapi sayang Luhan mengatakan itu dengan cepat bahkan terlalu cepat, membuat Sehun yakin sekali ada sesuatu yang mengganjal dipikirkannya.

"Katakan padaku honey, ada apa?" Luhan menggigit bibirnya, dia terkesan ragu – ragu untuk menyampaikan pikirkannya.

"Apakah kita akan tetap tinggal di Korea? Maksudku… di rumah eomma dan appa?" Tanyanya dengan ragu. Sehun tersentak, dia tau kemana arah pembicarakan ini akan berlanjut.

"Luhan, dengar. Maaf aku harus kembali mengungkit masalah ini…" Luhan mengangguk menandakan dia mengerti. "… kau tau setelah dia lahir, manager akan memaksaku kembali ke London. Kau tau aku tidak bisa begitu saja memutuskan kontrak dengan mereka, andai saja aku bisa…"

"Tidak, jangan pernah melakukan hal itu." Sela Luhan. "Aku tidak mau kau kehilangan pekerjaanmu yang selama ini telah kau perjuangkan hanya karena aku."

"Tapi kau dan dia segalanya untukku saat ini." Luhan mengangguk dan menggenggam tangan Sehun. "Aku mengerti dan terima kasih. Tapi aku tidak mau kau kehilangan pekerjaan, mungkin kau bisa saja mencari pekerjaan baru tapi aku tidak yakin kau akan mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Tidak ada yang harus dilepaskan Hun… aku bisa ikut denganmu kembali ke London setelah melahirkan nanti." Sehun menggeleng dan meremas tangan Luhan.

"Tidak Lu, kau harus tinggal bersama eomma dan appa. Aku berjanji akan pulang sesering yang aku bisa. Kau tau, mereka lebih bisa menjagamu saat aku tidak ada…"

"Tapi aku membutuhkanmu." Sela Luhan membuat Sehun akhirnya bungkam. Luhan menunduk dan menarik tangannya lepas dari genggaman Sehun. Sedangkan pria itu membuang pandangannya dan menatap ke seluruh penjuru ruangan. Tak lama pesanan mereka datang. Luhan sedikit mengankat wajahnya untuk mengucapkan terima kasih.

Tangan Sehun yang hangat menyentuh pipinya dan mengangkat wajah Luhan agar menatapnya. "Maafkan aku, seharunya kita tidak membahasnya disini. Sekarang makanlah."

~Problem~

Tepat saat mereka sampai dirumah, sebuah mobil box berukuran sedang datang membawa barang – barang mereka. Luhan mencoba untuk tidak memikirkan masalah itu dan dengan semangat Luhan menata barang – barang itu disebuah kamar kosong yang berada tepat disamping kamarnya. Joonmyeon dan Yixing memang sudah menyediakan sebuah kamar kosong untuk cucu mereka.

Luhan menatap keseluruh penjuru ruangan dan merasa ada suatu hal yang kurang. Namun dia tidak bisa mengetahui apa itu.

Walau ruangan ini memang belum ditata dengan benar, semua barang masih bertumpukan ditengah – tengah ruangan tapi bukan itu yang mengganjal di pikirkannya, karena dia merasa ada hal lain.

"Kita belum mengecat temboknya." Bisik Sehun sambil berlalu untuk menaruh setumpuk pakaian bayi ke sebuah lemari yang tak begitu besar disamping ruangan.

Tentu saja! Cat!

Luhanpun berbalik menatap Sehun dengan mata yang bersinar. Sehun mendesah nafas pendek tapi dia tersenyum. "Jadi kapan kita akan menghias ruangan ini? Seharusnya sebelum masukan semua peralatan ini kita sudah mengecatnya." Gerutu Luhan.

"Tidak ada ada kata kita sayangku, yang hanya ada kata aku. Jangan berpikir yang aneh – aneh untuk membantu mengecat ruangan ini."

"Tapi sepertinya ini akan menyenangkan, please… let me help you… please… hun… please." Rayu Luhan sambil memegang tangan Sehun dan mengoyangkannya dengan manja. Tapi pria itu menggeleng dan melepaskan tangan Luhan.

"No honey, you better just sit and watch. And no but"

"Baiklah aku menyerah tapi biarkan aku melihatmu disini jadi jika ada sesuatu maka aku akan membantu." Sehun mengangguk dan menatap seisi ruangan.

"Jadi apa tema kamar anak kita?"

~Problem~

Sehun baru saja melapisi ruangan dengan warna soft purple yang sangat tenang. Luhan kedua menangkup tangannya dan memekik girang, entah kenapa belakangan ini dia benar – benar menyukai warna ungu.

"Aku ingin menggambar karakter princess disana. Bolehkan?" Tanya Luhan. "Itu tidak akan membahayakan atau membuatku lelah, jadi please… aku hanya ingin menggambar Aurora?"

Oh Tuhan! Kenapa kau membuat Luhan manja seperti ini?

"Baiklah, tapi jangan terlalu bersemangat dan hati – hati oke?" Luhan langsung mengangguk, dia berjalan menuju kamar untuk mengganti bajunya. Saat dia kembali Sehun sudah menyiapkan beberapa cat untuknya dengan beberapa koas berukuran sedang. Luhan kembali memekik kegirangan dan meraih koas itu membuatnya terlihat sangat menggemaskan walaupun dia tengah hamil. Sehun terkekeh, dia memabawa dua buah cat lagi dan menaruhnya di meja yang ada disamping Luhan.

"Kau bisa menggambarnya?" tanya Sehun saat Luhan mencelupkan koasnya pada salah satu cat.

"Tentu saja, kau harus liat nanti." Ucap Luhan dengan bangga.

Satu jam kemudian Luhan baru saja menyelesaikan gambar dari tokoh princess disney yang dikenal dengan Aurora. Dia cukup puas dengan hasil karyanya yah… walau tidak bergitu sempurna setidaknya itu membuat Luhan sangat puas. Tapi saat dia menengok kesampingnya dia menemukan Sehun telah selesai menggambar Snow white dan dia tengah mengerjakan gambar Cinderela yang sudah hampir setengah jadi, bukan hanya itu Sehun menggambarnya dengan sangat detail dan terlihat seperti asli.

"Kau memang berbakat." Ujar Luhan membuat Sehun menengok kesampingnya.

"Berbakat?" Luhan mengangguk.

"Berbakat untuk selalu membuatku iri dan kagum." Lanjutnya membuat Sehun tertawa. Pria itu menangkap tangan Luhan dan memabawanya mendekat.

"Kemari, kita selesaikan ini bersama – sama." Ucap Sehun dan menempatkan Luhan dihadapannya sedangkan dia berdiri dibelakang. Sehun memeluknya dari belakang sebelum memberikan koas itu pada Luhan, tangannya terulur menyentuh tangan Luhan –masih dari posisi belakang- dan menggerakan koas di tangannya itu melanjutkan gambar yang belum selesai semua itu. Luhan terkekeh, tapi tangannya terus mengikuti gerakan Sehun.

"Kau tau, kita terlihat seperti anak remaja yang baru saja jantuh cinta." Ujar Luhan. Sehun menghentikan pergerakan tangannya tapi kemudian dia kembali melanjutkan, Sehun menaruh kepalanya dipundak Luhan dan berbisik dengan suara yang lirih.

"Aku tau, semua ini karena kau yang selalu membuatku jatuh cinta setiap harinya." Kemudian mengecup pipi Luhan yang semakin bulat.

~Problem~

Seberkas sinar sang surya masuk menembus sebuah tirai tipis yang membuat Luhan bangun dari tidurnya. Saat semua kesadarannya terkumpul, hal yang pertama kali dia ingat adalah Sehun namun pria itu tak ada disampingnya. Dia mengerjap beberapa kali dan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar tapi dia tetap tidak menemukannya. Akhirnya Luhan bangkit dengan perlahan sambil memegang perutnya yang semakin hari semakin membesar dan bertambah berat.

Wanita itu keluar dari kamar dan mencoba mencari Sehun, tapi pada akhirnya dia tidak menemukan siapapun dirumah, kedua orang tuanya tengah berada di keluar kota dan hari ini -pagi ini tepatnya- dia tidak bisa menemukan suaminya dimanapun. Luhan memutuskan untuk pergi kedapur dan membuat segelas susu yang biasa dia minum setiap harinya. Tepat saat dia berjinjit hendak mengambil gelas, suara derap langkah terdengar mendekat.

"Oh Tuhan! Apa yang kau lakukan Lu?" Tanya Sehun yang langsung berlari kearahnya dan mendahuli Luhan mengambil gelas itu. Sang wanita hanya terdiam sambil menatap Sehun dengan bingung. "Sudah aku katakan, jangan melakukan sesuatu yang berbahaya, kau tau bisa saja barusan kau terjatuh atau apa." Ucap Sehun sedikit membentak.

"Itu salahmu, aku sudah mencari – carimu tapi pada akhirnya aku tidak menemukan siapapun dirum…"

"Tidak bisakah kau menunggu?" Kali ini Sehun benar – benar membentaknya. Nafas Sehun memburu Luhan menatapnya dengan mata terbelalak dan kening yang berkerut

"Ada apa denganmu Hun?" Tanya Luhan dengan mata yang mulai berkaca – kaca. Sehun terkejut, dia sama sekali tidak sandar kalau baru saja membentak istrinya. Dengan segera dia menangkup pipi Luhan dan menyerka air mata yang sudah menetes di pipinya.

"Maafkan aku, maafkan aku. Aku benar – benar tidak bermaksud membentakmu." Bisik Sehun sambil merengkuh tubuh Luhan kedalam pelukannya. Tubuh Luhan bergetar mencoba menahan tangisannya. Entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang membuat Sehun seperti ini, dan dia yakin sekali itu alasan kenapa dia tidak menemukan Sehun saat dia bangun.

Sehun terus membisikan kata maaf pada Luhan karena dia benar – benar merasa bersalah, dia tidak bermaksud untuk membentak Luhan atau apapun. "Kemana kau pergi?" tanya Luhan dalam sebuah bisikan.

"Aku hanya pergi keluar untuk mencari udara segar." Luhan merasakan jantung Sehun berderup dengan kencang, wanita itu tau kalau dia tengah berbohong tapi… kenapa?

"Kau berbohong." Ujar Luhan melepaskan pelukannya dan menyerka bekas air mata yang masih tertinggal. Sehun tidak menjawab dia mengalihkan pandangannya tidak mau menatap Luhan. "Katakan padaku Hun." Lanjut Luhan membuat manik mereka betemu.

"Aku harus pergi."

.

.

.

~To Be Continued~