Sequel of I am a bad girl
Occ, Gs, Typo(s), tidak sesuai EYD dll.
Ranted : T
Chapter : 6/?
It's HunHan Story.
.
Chapter 6 : Leave
"Aku harus pergi."
Tangan Luhan melemas seketika, membuat gelas yang di pegangnya hampir saja jatuh. Pikirkannya tidak bisa untuk tidak berkelana kemana – mana, memikirkan semua kemungkinan yang terjadi. Suaminya mengatakan bahwa dia harus kembali ke London, dan Luhan akan menjadi wanita terbodoh jika dia mengatakan ingin ikut bersama Sehun. Dengan keadaanya kandungannya yang tak lama lagi menginjak 8 bulan dia tidak mungkin pergi sejauh itu dengan menggunakan pesawat.
"Lu…" Ucap Sehun membuat Luhan menatapnya. Dia mengerjap mencoba memasang wajah biasa tapi sayang dia tidak bisa melakukannya. Luhan terlalu terkejut dengan semua ini.
"Kau akan pergi…" Ujar Luhan. "Ke London?" tambahnya. Sehun menghampiri wanita itu dan mengusap air mata yang Luhan sama sekali tidak sadari kalau ternyata sudah menetes dipipinya. Dengan cepat Luhan ikut menyerka air matanya, mencoba untuk kembali tegar.
"Aku bisa membatalkannya jika kau mau." Bisik Sehun sambil memeluk sang istri. Tubuh Luhan bergetar pelan, dia mencoba untuk menahan tangisannya.
"Tidak Sehun, pergilah." Bisik Luhan sambil melepaskan pelukan dan menatap Sehun, mencoba menarik sudut bibirnya untuk menampakan seulas senyum.
"Tapi Lu…" Luhan menggeleng. Dia mengusap tangan Sehun yang masih menempel di pinggangnya.
"Aku baik – baik saja, seperti apa yang kau katakan, disini masih ada eomma dan appa yang bisa menjagaku, walau jujur saja aku lebih suka tinggal di rumah kita."
Sehun terdiam mencoba untuk mencari dalam bola mata wanita dihadapannya, mencari semua keraguan yang akan menahannya, tapi entah kenapa Sehun tak bisa melihatnya.
"Kau yakin akan baik – baik saja?" Luhan mengangguk dan memeluk tubuh sang suami.
"Aku akan baik – baik saja, percayalah." Sehun mengangguk dan mengusap surai istrinya. Dan mencium keningnya dengan lembut.
~Leave~
Luhan tengah sibuk membaca sebuah majalan untuk ibu hamil di ruang tengah, perutnya yang sudah membesar membuatnya sedikit kesulitan apalagi saat dia hendak melakukan sesuatu, termasuk berdiri dari sofa.
"Sehun?" Panggilnya. Bola matanya mencari keberadaan pria itu, tapi sayang dia tak kunjung menemukannya. "Sehun?" Panggil Luhan sekali lagi. Wanita itu akhirnya menghembuskan nafas panjang dan berusaha untuk bangkit sendiri. Dia hendak mengambil air minum di dapur, tapi sudut matanya menangkap Sehun yang sedang duduk di taman belakang, ponselnya menempel ditelinga. Pria itu terlihat sangat kalut, wajahnya masam, bibirnya mengucapkan sesuatu dengan cepat.
Luhan menunggu didepan pintu yang terbuat dari sebuah kaca yang dibingkai oleh material kayu dengan warna coklat yang mengkilat. Tak lama Sehun menutup telphonenya dan mata mereka bertemu. Sehun segera bangkit dan menghampirinya.
"Ada apa?" Tanya Luhan sambil mengusap belakang rambut Sehun saat pria itu berdiri dihadapannya. Tapi sang pria menggelang dan mengecup kening wanita itu.
"Aku mencintaimu." Bisiknya kemudian memeluk sang istri. Luhan tersenyum walau hatinya menitihkan air mata. Dia membalas pelukan Sehun dan berbisik pelan. "Everything is gonna be alright." Luhan tidak perlu mendengar penjelasan dari Sehun. Karna dia tau, waktu mereka untuk bersama tinggalah menghitung hari. Luhan tau akan semua itu.
"Kau harus pergi?" bisik Luhan dengan suara sepelan mungkin. Sehun tak menjawab tubuhnya tiba – tiba saja menegang. Pria itu melepaskan pelukannya dan tersenyum.
"Kau mau pergi hari ini?" Tanya Sehun mencoba mengalihkan perhatian. "Biar aku menyiapkan mobil dulu." Tapi saat itu sebuah tangan menahan kepergiaannya.
"Katakan padaku." Ujar Luhan. "Kapan?" Tanyanya sekali lagi membuat Sehun menghembuskan nafas panjang dan menggenggam tangan Luhan.
"Tiga hari lagi." Ucap Sehun sambil menghembuskan nafas panjang. Luhan menarik kedua bibirnya tersenyum dan mengangkat kedua tangannya untuk menyentuh pipi Sehun.
"Hey, jangan seperti ini. Kita masih punya waktu 3 hari bukan?" Tanya Luhan sambil menatap Sehun, wanita itu dengan mencoba untuk merelakan, dia yakin dia akan baik – baik saja tanpa pria itu untuk beberapa lama. "Ayolah Sehun, bukankah kita akan pergi jalan – jalan?"
~Leave~
Sehun tengah mengantri untuk membeli sebuah tiket, dia berdiri disebuah mesin penjual tiket dan memilih tempat duduk untuk mereka berdua. Luhan memutuskan untuk menonton sebuah film dibioskop karena sudah lama sekali mereka tidak menonton film di bioskop. Sebuah film dengan judul The Fault in Our Stars menjadi pilihan mereka.
"Ayo." Ujar Sehun sambil menggandeng istrinya masuk kedalam bioskop. Luhan sudah membawa sebungkus besar popcorn saat mereka masuk dan duduk dikursi. Beberapa orang memperhatikan mereka berdua, mungkin salah satu alasannya karena Sehun adalah seorang model terkenal dan kisah cinta mereka yang pernah menjadi topik hangat pembicaraan di berbagai media.
"Mereka memperhatikanku." Bisik Luhan sambil menyamankan posisi duduknya.
"Kukira kau sudah terbiasa." Bisik Sehun sambil tersenyum. "Mereka iri." Luhan mendelik dan merebut popcorn yang ada ditangan Sehun. lima menit kemudian layar menyala, wanita itu langsung fokus pada layar yang ada dihadapannya.
Luhan menarik nafas panjang saat mereka keluar dari dalam bioskop sedangkan Sehun yang ada disapingnya tersenyum lebar.
"Bagaimana?" tanya Sehun.
"Itu salah satu film terbaik yang pernah aku tonton." Ujar Luhan sambil menyelipkan sebelah tangannya di gandengan Sehun. Pikirkannya terlintas pada film yang baru saja dia tonton membuat wanita itu tersenyum. "Kemana kita akan pergi sekarang?" tanya Luhan sambil mengelus perutnya yang membuncit.
"Hemmm… kita pergi makan? Ini sudah jamnya makan siang, kau ingin makan apa hari ini?" Luhan terlihat berpikir sambil mengerucutkan bibirnya lucu.
"Sushi? Atau mungkin makanan Italia? France?" Tanya Luhan, mereka tengah menaiki eskalator karna Luhan yang tentu saja tidak mau jika harus menaiki lift.
"Bagaimana jika italia? Sudah lama kita tidak mengunjungi restorant italia bukan?" Luhan mengangguk menyetujui dia semakin merapatka gandengannya dan menyandarkan pundaknya pada Sehun.
"Sepertinya Lasagna menggiurkan." Ucap Luhan sambil membayangkan lasagna dengan daging, sayuran kemudian lapisan keju dan jangan lupaksan saosnya yang selalu membuat Luhan ketagihan. Heol… Luhan benar – benar kelaparan sekarang. Sehun yang memperhatikan ekspresi Luhan terkekeh pelan dan melepaskan gandengannya agar pria itu bisa merangkul Luhan.
"Aku tau kau kelaparan." Bisik Sehun membuat Luhan mengerucutkan bibirnya lucu.
~Leave~
Luhan sangat kelelahan saat mereka sampai dirumah, dia bahkan sempat tertidur di mobil. Wanita itu segera menuju kamar saat mereka sampai dan langsung membaringkan badannya. Luhan menghembuskan nafas panjang karena perutnya yang semakin membuncit dia tidak bisa tidur seenaknya. Luhan harus dengan sabar duduk dikasur dan tidur meyamping dengan bantal sebagai ganjal untuk perutnya.
Sehun ikut tidur disampingnya dan menarik selimut untuk mereka berdua. Pria itu melingkarkan sebelah lengannya di bahu Luhan sebelum memberikan wanita itu sebuah kecupan.
"Kau lelah?" bisik Sehun yang ditanggapi sebuah anggukan oleh Luhan, wanita itu sudah memejamkan matanya saat Sehun bangkit dari kasur. Dia merain ponsel disaku kiri yang sebenarnya tidak berhenti berdering. Sehun merutuki bossnya yang benar – benar tidak bisa diajak berkerja sama. Sehun menghembuskan nafas panjang sebelum menempelkan ponselnya ke telinga.
~Leave~
Hari bergulir begitu cepat, Luhan bahkan tidak sadar kalau hari – hari pentingnya sudah berlalu. Besok Sehun akan pergi. Luhan berusaha untuk tidak terlihat sedih atau murung, karena dia sama sekali tidak ingin menjadi penghalang atau semacamnya.
"Kau akan kembali saat dia lahir bukan?" bisik Luhan saat malam menjelang. Luhan kembali kelelahan setelah berkeliling Seoul seharian, belum lagi Sehun yang memaksanya untuk berfoto bersama dengan dalih dia ingin memiliki kenangan saat Luhan tengah mengandung, Sehun juga berasalan dia juga ingin menunjukan foto ini saat anaknya besar nanti.
"Tentu saja." Bisik Sehun sambil membawa Luhan kedalam pelukannya. Dia tidak bisa benar – benar memeluk Luhan karena perut wanita itu, tentu saja. Sehun sedikit mencondongkan badannya dan mengecup kening Luhan. "Tidurlah, besok kita harus pergi ke bandara pagi hari." Bisik Sehun membuat Luhan mengangguk dan memejamkan matanya.
~Leave~
Luhan sedang duduk diruang tunggu bandara. Keberangkatan Sehun tidak akan lama lagi, sang ibu dan ayah ikut bersama mereka pagi ini untuk mengantar Sehun. Sebelum pergi Sehun sempat mengunjungi kedua orang tuanya untuk berpamitan.
"Aku akan baik – baik saja." Ucap Luhan saat melihat air muka Sehun yang selalu khawatir saat menatapnya. "Bekerjalah yang baik disana." Lanjut Luhan sambil bangkit dan mengelus punggung Sehun. Suara panggilan untuk pesawat yang akan ditumpangi Sehun sudah terdengar. Pria itu menghembuskan nafas panjang dan memeluk Luhan dari samping dan menghujani wajah Luhan dengan kecupan manis.
"Aku akan segera kembali." Bisik Sehun sambil menarik kopernya. Luhan menganguk dan melepaskan pelukan Sehun. "Jaga dirimu baik – baik, jangan melakukan hal bodoh saat aku pergi." Ucap Sehun kemudian mengecup kening Luhan sebelum benar – benar pergi.
"Kau juga. Jangan dirimu baik – baik. Telphone aku jika kau sudah sampai." Ucap Luhan sebelum Sehun benar – benar pergi.
Joonmyeon dan Yixing memeluk Sehun bergantian dan membiarkan pria itu pergi. Luhan melambaikan tangannya sambil mencoba untuk tetap tersenyum. Sebelum Sehun benar – benar hilang dari pandangan pria itu mengucap sebuah kata. "Aku mencintaimu." Dan Luhan tidak bisa untuk menahan air matanya.
~Leave~
Sudah tiga hari berlalu semenjak Sehun pergi dan semuanya terlihat baik – baik saja, setidaknya itu yang terlihat tapi berbeda dengan apa yang dirasakan Luhan. Wanita itu kadang hanya duduk di sofa seharian sambil menggenggam ponselnya menunggu pesan ataupun telphone yang masuk dari Sehun. Ini kedengaran berlebihan tapi Luhan tidak bisa menghentikan perasaan rindunya pada pria itu. Entah mungkin ini hanya perasaannya tau mungkin terbawa oleh bayi yang tengah dikandungnya.
"Kau rindu ayahmu?" Tanya Luhan sambil mengelus perutnya. "Yeah, eomma mu juga merindukannya. Tapi setidaknya kita harus bertahan sampai kau lahir sayang, ayahmu mengatakan dia akan kembali saat kau lahir." Lanjut Luhan sambil terus mengelus perutnya. Suara derit pintu terdengar membuat Luhan mendongakan kepalanya. Ternyata sang ibu baru saja kembali dari swalayan untuk membeli perlengkapan dapur.
"Kau sedang apa?" Tanya sang ibu saat melewati Luhan yang memperhatikannya dari sofa.
"Berbicara padanya." Ucap Luhan sambil menatap perut besarnya. Yixing mengangguk – anggukan kepalanya dan berjalan kedapur. Luhan mendengar suara ribut gelas yang beradu.
"Eomma, apakah kau perlu bantuan?" Tanya Luhan hendak bangkit tapi sang ibu dengan nyaringnya langsung berteriak.
"Tidak. Oh Tuhan! Tetap duduklah disana Lu." Pekik ibunya dari dapur. "Eomma baik – baik saja disini." Luhan menghembuskan nafas panjang, kadang orang tuanya terlalu mengkawatirnyanya padahal dia tidak harus diperlakukan seolah – olah dia gadis rapuh yang akan tiba – tiba hancur hanya karna tertiup angin. Tak lama kemudian suara derap langkah ringan terdengar. Sang ibu membawa dua buah gelas tinggi berisikan jus jeruk.
"Ini minumlah." Ucap Yixing sambil menyodorokan satu gelas untuk Luhan. Wanita itu langsung meraihnya dengan sebuah senyuman.
"Eomma memang tau apa yang aku inginkan." Ujar Luhan saat ibunya duduk di sofa yang ada disampingnya.
"Sehun sibuk?" Tanya sang ibu sambil menatap ponsel yang ada dihadapan Luhan.
"Eomma tau perbedaan waktu antara London dan Korea cukup jauh, 8 jam." Erang Luhan. Sang ibu melirik jam yang menggantung di dinding. 11.30 "Sehun mengatakan kalau kemarin dia melakukan pemotretan di beberapa tempat, dia pasti sangat kelelahan." Ujar Luhan sambil menghembuskan nafas panjang. Yixing tersenyum dan mengelus rambut Luhan yang tergerai.
"Dia baik – baik saja Lu." Ucap Yixing saat tau kalau anaknya terlihat sangat khawatir. Tapi Luhan masih saja terlihat sangat khawatir, bukan tanpa alasan dia seperti ini karena kadang Sehun selalu terlalu bersemangat kerja sampai – sampai dia lupa waktunya sendiri. Luhan tau Sehun butuh seseorang untuk mengingatkannya makan, tidak hanya mengingatkan tapi membawakannya makanan. Luhan hanya bisa berharap ada seseorang yang selalu membawakan makanan untuk pria itu.
~Leave~
"Ya aku sudah menghabiskan susunya, sekarang aku tengah berbaring di kasur." Ucap Luhan sambil menarik selimut, dia meletakan ponselnya disamping dan mengeraskan suara.
"Baguslah. Kau mau aku menemanimu sampai terlelap?" tanya Sehun diujung telphone sana. Luhan tersenyum tipis.
"Kau tidak sibuk? Aku tidak mau mengganggu pekerjaanmu." Ucap Luhan sambil menyamankan posisi tidurnya.
"Tidak. Sama sekali tidak. Aku baru saja menyelesaikan pemotretan dan sekarang tengah kelaparan." Jawabnya
"Kau belum makan?" Tanya Luhan kembali membuka matanya lebar – lebar walau sesunggunya kantuk sudah melanda. "Sejak kapan? Katakan." Lanjutnya dengan suara yang meninggi.
"Tenang saja. Tadi pagi aku sempat sarapan dan sekarang aku sedang mencari sebuah restorant untuk makan siang."
"Lihat saja sampai aku mendengar berita kau masuk rumah sakit karena kelaparan maka aku sendiri yang akan mencekokimu makanan." Ucap Luhan sambil terkekeh membuat pria disebrang sana ikut terkekeh.
"Aku merindukanmu." Bisik Sehun dengan suara letih. Luhan tersenyum tipis.
"Kita disini merindukanmu?" Ujar Luhan sambil mengelus perutnya.
"Apa dia mendengarkan?" Tanya Sehun dan saat itu terdengar suara pintu mobil yang tertutup.
"Tentu saja, sedari tadi dia mendenarkan." Jawab Luhan. Sehun terdengar berdeham pelan.
"Aegyi kau mendengarkan appa disana bukan? Jangan membuat eomma mu kesulitan, baik – baik didalam sana. Jaga eomma mu karna apa saat ini tidak bisa menjaga kalian berdua. Appa merindukanmu." Ujar Sehun membuat Luhan menitihkan air mata tapi sebuah senyuman terulas di bibirnya.
"Kau harus pergi makan bukan?" Tanya Luhan dengan suara sedikit serak. "Kalau begitu pergilah makan yang banyak dan biarkan aku tidur." Lanjut Luhan sambil pura – pura menguap. Sehun terkekeh pelan.
"Baiklah, selamat tidur sayangku." Dan Luhan membalasnya dengan sebuah gumaman pelan dan kemudian memutus sambunganya. Saat Luhan akan meletakan ponselnya di meja, benda itu kembali bergetar.
Kau bukan pembohong yang baik Lu tapi tak apa, tidurlah dan semoga mimpi indah. Love you.
Luhan tersenyum melihat pesan singkat dari Sehun.
~Leave~
Sudah hampir satu bulan Sehun pergi dan semuanya terasa baik – baik saja, Luhan sudah terbiasa dengan ketidakberadaan Sehun di sisinya. Namun tetap hati kecilnya tidak bisa berbohong, dia selalu merindukan kecupan manis di keningnya dari pria itu setiap malam.
Namun belakangan ini ayah dan ibunya bersikap sedikit aneh, mereka seperti terlalu memperhatikan Luhan dan menjauhkan wanita itu dari barang – barang elektronik bahkan ponselnya. Luhan hanya bisa menggunakan ponselnya ketika mendapat telphone ataupun pesan singkat dari Sehun. Sang ibu berkata bahwa alat elektronik tidak baik untuk seorang ibu hamil. Ya, Luhan tau kadang alat elektronik memang berbahaya jika digunakan terlalu lama, bukan hanya untuk ibu hamil tapi juga untuk semua orang. Luhan hanya bisa menurut semua perkataan orang tuanya, tapi Luhan benar – benar tidak mengerti saat dia bersantai diruang tengah dan menontol televisi. Sang ibu pasti akan mengambil alih televisi setiap Luhan baru saja akan menyalakannya.
"Eomma bisakah pindahkan saluran tv nya? Aku ingin menonton berita, sepertinya aku benar – benar terasingkan dirini, mungkin saja di luar sana perang dunia ke tiga sudah terjadi." Ucap Luhan saat sang ibu malah menonton sebuah film lama favoritenya.
"Itu konyol Luhan. Jika perang dunia terjadi maka semua orang akan berbondong – bondong menyelamatkan diri bukan duduk dan menontol televisi." Timpal Yixing sambil kembali menatap layar televisi. "Lagi pula ini film classic cocok untuk janin. Katanya dapat meningkatkan kecerdasan." Lanjut Yixing sambil menatap Luhan.
"Eomma yang benar saja, itu lagu classic bukan film classic. Eomma tau, seperti lagu dari Mozart dan Bethoven." Yixing menganguk – anggukan kepalanya pelan.
"Eomma kira sesuatu yang berbau classic bisa mencerdaskan otak janin." Ujar Yixing membuat Luhan terkekeh. Tapi kemudian dua orang itu larut dalam alur cerita dengan beberapa obrolan ringan diantara mereka. Tepat saat film selesai Joonmyeon datang dan saat itu adalah waktunya makan malam.
Makan malam terasa sangat hangat dengan sang ayah yang bercerita tentang pengalamannya bersama pegawai baru yang terlihat sangat akward saat bertemu dengannya. Luhan memaksa untuk membantu membereskan meja walau Yixing sudah melarangnya berkali – kali.
"Oh Tuhan… eomma, aku tidak akan tiba – tiba pingsan hanya karna membereskan meja makan." Ucap Luhan pada eommanya yang sangat belebihan.
Setelah semua beres Luhan masuk kembali kekamarnya, dia mulai berbaring di ranjang seperti biasa dengan posisi menyamping menghadap kearah meja dengan sebuah lampu tidur. Luhan meraih ponselnya dan menatap layar datar itu, Sehun belum menelphonenya dan tidak ada satu pesan masukpun yang ditinggalkannya. Luhan menghembuskan nafas panjang dan menaruh ponsel itu di bantalnya.
"Apakah ayahmu sibuk bekerja disana?" Bisik Luhan mencoba berkomunikasi dengan sang janin. "Apa dia bekerja terlalu keras lagi?" Luhan menghembuskan nafas panjang dan menatap ponselnya sekali lagi. "Apa eomma harus menunggu telphonennya?" Tapi tak lama kemudian ponsel itu berdering menampakan nama Sehun disana.
"Hallo." Ucap Luhan. Sehun terdengar menghirup nafas dalam – dalam sebelum berbicara.
"Hallo sayang, maaf aku sibuk hari ini." Ucap Sehun, suaranya terdengar sangat serak dan lemah.
"Kau baik – baik saja bukan?" Tanya Luhan sambil meraih ponselnya dan menempelkannya ke telinga. Sehun tertawa lemah.
"Jangan khawatir, aku baik – baik saja." Ucap Sehun sambil berdeham memberisihkan tenggorokannya.
"Benarkah?" Tanya Luhan menaikan sebelah alisnya tak percaya pada Sehun.
"Well… aku baru tidur beberpa jam sejak kemarin, kau tau berjalan seharian di atas catwalk dan beberapa pemotretan. Membuatku benar – benar kelelahan." Jawab Sehun sambil menghela nafas pendek.
"Kau harus meluangkan waktu untuk dirimu sendiri Hun, kau tau tubuhmu tidak bisa terus di paksa untuk bekerja. Apa aku harus menelphone managermu dan mengajukan protes?" Sehun terkekeh pelan terdengar sekali kalau pria itu benar – benar kelelahan.
"Terima kasih tapi tidak usah sebenarnya aku yang memintanya. Kau tau dengan bekerja aku bisa menghilangkan rasa rinduku padamu. Oh Tuhan…" Sehun mengerang pelan. "Andai saja kau tau setiap detik aku memikirkanmu dan anak kita." Luhan tersenyum sedang menedengarnya.
"Bukankan sudah aku katakan beruang kali aku dan anak kita juga merindukanmu." Ucap Luhan sambil bergerak sedikit menari posisi yang nyaman. "Tadi pagi aku kembali check up."
"Tunggu sebentar sayang…" kemudian terdengar Sehun berbicara dengan cepat membuat Luhan tidak bisa menangkap apa yang diucapkannya setelah itu terdengar suara berisik kendaraan bermotor. "Tunggu sebentar." Ucap Sehun membuat Luhan mengangguk. Sepertinya pria itu baru saja keluar dari sebuah tempat dan kemudian suara pintu mobil ditutup terdengar tapi samar – samar Luhan bisa mendengar beberapa orang memanggil nama Sehun.
"Hallo sayang kau masih ada disana?" Tanya Sehun.
"Oh ya tentu, kalau boleh aku tau kau sedang berada dimana? Kenapa berisik sekali disana?" Tanya Luhan bingung.
"Aku baru saja menyelesaikan pemotretan dan beberapa fans tengah berada didepan gedung, kau tau… jadi mereka sedikit berisik tapi sekarang aku sudah berada dijalan."
"Kau menyetir sendiri?" Tanya Luhan dengan nada khawatir, dia takut jika karna terlalu kelelahan Sehun tidak bisa konsentrasi pada jalan raya.
"Tidak, tenang saja. Belakangan ini manager selalu menemaniku. Kau benar aku butuh dia untuk berada disekitarku saat kau tidak ada." Ucap Sehun sambil terkekeh pelan. Luhan menghela nafas panjang.
"Kau terdengar kelelahan kau tau. Apa ada kegiatan setelah ini?" Sehun terdengar berbicara dengan manager.
"Tidak, aku bisa istirahat sekarang. Oh Tuhan aku benar – benar ingin melemparkan tubuhku sendiri ke atas kasur, tadi kau mengatakan pergi check up? Lalu pada kata dokter Baek?" Luhan tersenyum lebar.
"Kelahiranku mungkin sekitar 2 minggu kedepan." Tapi tidak terdengar suara dari Sehun membuat Luhan mengerutkan keningnya. "Sehun kau masih ada disana?" Tanya Luhan.
"Oh ya tentu saja. Maaf barusan manager menyampaikan sesuatu. Apa katamu barusan?" Luhan menghembuskan nafas panjang.
"Kelahiranku mungkin sekitar 2 minggu kedepan." Dia mengulanginya.
"Wah… berarti tidak lama lagi." Ucap Sehun terdengar bahagia membuat Luhan tersenyum.
"Kau akan berada disini saat hari itu datang bukan?" Tanya Luhan ragu.
"Tentu saja aku pasti akan berada disana. Jika manager memaksaku untuk tetap tinggal maka aku akan pergi kabur dan menemuimu disana." Luhan terkekeh kali ini menguap lebar. "Kau sudah mengantuk?" Tanya Sehun.
"Yeah sepertinya." Dan wanita itu kembali menguap dia ingin sekali meregangkan tubuhnya tapi sayang karena dia tengah berbadan dua, semua pergerakannya menjadi terbatas.
"Baiklah aku akan menemanimu sampai benar – benar tertidur. Kau mau mendengar ceritaku hari ini?"
"Boleh, apa yang kau akan ceritakan hari ini?"
Dan Sehun mulai bercerita kegiatannya hari ini, dia harus bangun sekitar pukul 5 pagi padahal dia baru saja pulang saat jam 3 pagi, Luhan kadang menimpalnya tapi lama kelamaan matanya mulai berat dan perlahan tertutup.
"Kau sudah tidur?" Tanya Sehun pelan di ujung telphone tidak ada jawaban. "Semoga kau bermimpi indah. Aku selalu mencintaimu." Kemudian sambungan terputus.
~Leave~
Pagi ini Luhan benar – benar dilanda kebosanan, tidak ada buku atau majalah untuk dibaca, tidak ada pesan singkat dari Sehun untuk dibalas, tidak ada telphone untuk diangkat dan memikirkan hal itu semakin membuat Luhan kebosanan. Dia beranjak dari kasur dan berjalan pelan keluar kamar. Ibunya memang tidak ada, beliau mengatakan bahwa hari ini akan mengunjungi swayalan untuk membeli beberapa sayuran dan rempah – rempah.
"Berhenti memaikan ponselmu, jangan lakukan apapun, telphone eomma jika terjadi sesuatu, arraseo?"
Itu kalimat terakhir yang dia dengar dari ibunya sebelum beliau keluar meninggalkan rumah. Luhan memutusan untuk menyalakan televisi, kali ini sang ibu tidak ada jadi tidak ada yang bisa memaksanya menonton film – film classic itu, walau sebenarnya dia menyukainya.
Luhan meraih remote televisi yang tergeletak di meja dan mulai menyalahan televisi. Luhan memindah – mindakan saluran televisi karena tidak ada yang menarik, Luhan memutuskan untuk mematikannya tapi sesuatu tiba – tiba saja melintas di layar datar itu membuat matanya tidak bisa lepas.
Mata Luhan terbelalak kaget melihat apa yang terpampang ditelevisi, dia terlalu fokus pada layar itu sampai dia tidak sadar kalau derap langkah mendekat, sang ibu langsung meraih remote televisi dari Luhan dan mematikan benda itu.
Luhan menatap eommanya dengan mata terbelalak, matanya berkaca – kaca, bibir dan sekujur tubuhnya bergetar. Dia mengerjap beberapa kali membiarkan air mata itu menetes dipipinya.
"Eomma…"
.
.
.
To be Continued
Hallo guys! Miss me? of course no. Maybe you guys hate me ? atau mungkin udah lupa sama cerita ini? hehe… maaf sekali karna updatenya lama dan membuat kalian menunggu. Author bener – bener sibuk dan cerita itu sedikit terhambat karena moment HunHan belakangan ini ilang ditelen dinosaurus-_-v
Belangan ini author sibuk sama persiapan UN daftar universitas dan laen sebagainya, Tapi tenang aja author sudah kembali! Lee Dong Hwa is back! xD
Anyway author mau sekalian minta doanya nih :D semoga author lulus ujian dan masuk PTN (AMIN)
Terima kasih untuk semua orang yang masih menunggu setia fic geje ini :'D I'm so happy to have you guys. Terima kasih juga untuk yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca ffnya author dan dengan baik hatinya memberikan review, to be honest I love you guys with my heart.
