Sequel of I am a bad girl

Ooc, Gs, Typo(s), tidak sesuai EYD dll.

Ranted : T

Chapter : 7/?

It's HunHan Story.

.

"Eomma…"

Yixing langsung merebut remote yang berada ditangan Luhan dan mematikan televisi sedangkan sang wanita hanya diam tercengang berdiri menatap layar televisi yang sudah berubah menjadi hitam.

Yixing langsung memeluk Luhan membuat tangisan wanita itu pecah begitu saja. Dia menangis sejadi – jadinya. Isakannya tidak bisa ditahan lagi. Luhan merasa dunianya berputar, di hampir saja pingsan kalau saja dia tidak mencoba menguatkan diri dan memeluk sang ibu dengan erat.

"Apa yang terjadi?" bisik Luhan disela – sela tangisannya. Yixing membawa anaknya duduk dan mengambilkan air minum untuknya.

"Minumlah dulu, ingat ada dia didalam sana." Ujar Yixing sambil menyerahkan gelas pada Luhan. Wanita itu menerima gelasnya dengan gemetar. Luhan mencoba untuk meneguk air itu.

"Apa yang terjadi?" ujar Luhan sambil kembali menyerahkan gelas itu pada ibunya. Yixing mengigit bibir, dia bingung bagaimana harus menjelaskan pada Luhan mengenai masalah ini.

"Lu, dengar eomma tidak tau harus dimulai darimana, tapi cobalah untuk tidak memikirkan berita ini. Appa, Eomma dan Sehun sudah setuju untuk menyembunyikan berita ini darimu sampai anak ini lahir." Yixing mencoba menjelaskan walau terlihat sekali suaranya bergetar.

Air mata Luhan semakin menganak sungai dipipinya, hatinya terasa ditusuk berulang – ulang kali. Dia merasa dibohongi oleh semua orang yang dia sayangi. Luhan kembali terisak menangis dalam diam dan menundukan wajahnya. Entah apa yang harus dialakukan sekarang. Dia tidak bisa terus bersedih dan melupakan fakta bahwa ada sebuah nyawa didalam kandungannya yang harus dia jaga dengan baik.

"Kenapa?" tanya Luhan perlahan. Yixing mengusap pipi Luhan menyerka air mata anaknya sendiri.

"Ini semua demi kebaikanmu sayang. Eomma tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu…"

"by lying to me?" Sela Luhan sambil terisak pelan. Dia benar – benar ingin marah, berterikan, kenapa dia baru mengetahui berita ini sekarang? Dan mengapa semua orang disekelilingnya menyembunyikan berita ini?

Yixing menitihkan air matanya, dia merasa bersalah atas apa yang dilakukannya, menyembunyikan semua ini dari anaknya. Tapi disisi lain dia tak ingin Luhan terbebani dengan berita ini ditambah lagi kandungan Luhan memang sangat rawan, mereka sudah tau hal itu dari sejak kandungan Luhan baru menginjak beberapa minggu.

"Sejak kapan eomma tau ini?" Tanya Luhan saat ibunya tak kunjung menjawab.

"Beberapa hari yang lalu- Luhan dengarlah, eomma mohon jangan memikirkan masalah ini Kau tau Sehun-"

"Aku ingin bicara padanya." Sela Luhan. Dia menyerka air matanya cepat dan menatap sang eomma. "Aku ingin bicara padanya." Ucap Luhan seklai lagi saat ibunya terlihat sangat ragu.

"Luhan…"

"Aku akan baik – baik saja setelah aku berbicara dengannya." Sela Luhan lagi mencoba meyakinkan.

Akhirnya Yixing mengangguk dan memberikan Luhan ponselnya. Wanita itu segera bangkit dan berjalan dengan perlahan menuju kamar. Dia menutup pintu perlahan dan menghembuskan nafas panjang.

Luhan menatap layar ponsel yang menampilkan fotonya bersama Sehun yang diambil sebelum pria itu pergi ke London. Dia menghela nafas sekali lagi dan mencoba untuk tidak menituhkan air mata. Luhan duduk dipinggiran kasur dan mencoba menelphone Sehun. Dia tidak perduli jika di London sana sekarang masih jam 1 pagi. Karna dia benar – benar butuh penjelasan Sehun.

"Hallo." Ucap sebuah suara yang dia rindukan. Suara itu semakin lama terdengar semakin serak dan lemah. Luhan kembali berpikir, seharusnya dia tidak menelphonenya sekarang tapi… dia butuh semua penjelasan ini.

"Sehun." Luhan tidak bisa menyembunyikan getaran dari suaranya. Isakan kecil membuat seseorang diujung telphone sana kerkesiap.

"LU?" Suara khawatir Sehun terdengar meninggi di ujung telphone sana. "Apa denganmu?" Tapi Sehun tidak mendengar sebuah jawaban tapi isakan tetap terdengar. Beberapa detik kemudian pria itu menghela nafas panjang.

"Kau sudah mendengarnya?" Tanya Sehun sejurus kemudian. Luhan terisak pelan dan mengangguk.

"Ya." Jawabnya dengan suara pelan. Sehun menghela nafas panjang. "Kenapa?" tanya Luhan pelan.

"Luhan dengar, semua berita itu tidak benar. Aku bersumpah Luhan." Tangisan wanita itupun kembali pecah. Dia terisak dan air matanya kembali mengalir dengan deras. "Luhan kumohon jangan pikirkan masalah ini. Ingat kau tengah mengandung Lu."

Luhan semakin terisak dalam tangisannya. Perlahan dia duduk diatas kasur dan menarik nafas dalam – dalam. Sehun menunggu sampai Luhan berbicara.

"Bagaimana aku bisa tidak memikirkannya?" Tanya Luhan dengan suara serak. "Semua orang disekitarku tau masalah ini dan aku merasa menjadi orang paling bodoh sekarang." Lanjutnya semakin lama suara Luhan semakin menghilang.

Sehun mengerang frustasi disana, nafasnya sendikit memburu. Luhan dengan gemetar memegang perutnya dan menghela nafas panjang. Hatinya benar – benar sakit dan itu semakin sakit saat menyadari fakta bahwa semua orang yang dia sayangi telah membohonginya. Appa, Eomma dan Sehun…

"Luhan dengarkan aku." Ucap Sehun. "Ini benar – benar bukan sebuah masalah besar. Aku akan membereskanya dengan cepat. Aku berjanji."

"Kau juga berjanji akan pulang saat dia lahir dan kenapa aku bisa mendengar berita seperti ini?" tanya Luhan.

"Tuhan! Percayalah Lu, aku akan berada disana saat kau melahirkan. Aku berjanji. Sekarang kau tidak perlu memikirkan masalah bodoh ini. Dan aku minta maaf karena ini aku memang merencanakan semua ini, aku yang ingin eomma dan appa menyembunyikannya darimu. Maaf." Air mata Luhan memang menitih tapi dia tidak terdengar isakan. Dia mencoba untuk kuat, untuk anaknya.

"Aku mengerti." Ujar Luhan perlahan. "Aku akan mencoba." Bisiknya.

"Kau percaya padaku bukan? Kau percaya aku sangat mencintaimu dan anak kita bukan?" tanya Sehun, terdengar nada penuh harap dalam suaranya.

"Aku…" Luhan menghela nafas panjang dan mengangguk.

"–Percaya"

"Terima kasih." Sehun tidak bisa menyembunyikan rasa senang dalam suaranya. "Aku mencintaimu." Ujar Sehun, Luhan mencoba untuk tersenyum walau matanya masih menitihkan air mata. Satu hal yang harus dia lakukan adalah percaya pada Sehun. hanya itu.

"Kau pasti kurang tidur belakangan ini bukan?" Tanya Luhan, dia mendengar Sehun mengerang pelan.

"Sebenarnya aku sama sekali tidak tidur selama 2 atau 3 hari." Erangnya. "Aku terlalu khawatir dengan kondisimu. Aku khawatir jika kau mendengar berita ini dan-Shit." Sehun memaki sebelum kemudian terdengar deru nafas di ujung telphone membuat Luhan meringis pelan.

"Maafkan aku sayang, kau tau? Berita ini benar – benar membuat kepalaku ingin meledak." Ucap Sehun dengan nada frustasi. Hati Luhan kembali bergejolak, seharusnya dia ada disana, disamping Sehun menemani pria itu disaat – saat seperti ini dan menjadi satu – satunya orang yang bisa menjadi sandaran Sehun. Tapi…

"Sabarlah." Ucap Luhan pelan. "Aku percaya padamu Hun. Dan disini aku baik – baik saja." Bisik Luhan. Walau dia ragu saat mengatakannya tapi Luhan mencoba untuk yakin, yakin pada dirinya sendiri bahwa dia akan baik – baik saja.

"I'm so sorry honey. I'm sorry…" Luhan menggeleng pelan, walau sebenarnya Sehun tak bisa melihatnya. "Maaf aku tidak bisa ada disana dan menjelaskan semuanya."

"Sehun, jangan memikirkanku disini. Aku baik- baik saja. Jaga dirimu disana. Kau tau, saat aku mendengar kau tidak tidur beberapa hari, hal itu membuatku semakin sakit."

Bagaimana aku bisa tidur dengan lelap sedangkan suamiku diluar sana tidak bisa tidur? Lanjut Luhan dalam hatinya.

"Maafkan aku."

"Berhentilah minta maaf Hun. Sebaiknya kau selesaikan masalah ini dan cepatlah pulang."

Terdengar hembusan nafas berat Sehun. "Pergilah tidur. Jaga dirimu baik – baik. Aku disini baik – baik saja." Lanjutnya pelan, mencoba meyakinkan Sehun dengan kondisinya.

"Terima kasih Lu. Terima kasih karena kau percaya padaku." Bisik Sehun terdengar letih. "Aku mencintaimu."

~Bad News~

Hari beralu, Luhan mencoba untuk menghentikan tangisannya walau hatinya mash sangat sakit, tapi dia percaya pada Sehun. Dia tau, pria itu tidak akan pernah menyakitinya, dia tau Sehun tidak akan pernah meninggalkannya. Luhan berbaring penyamping di kasurnya. Perlahan tangannya terulur untuk mengusap perutnya yang semakin membersar.

"Kau percaya pada ayahmu bukan?" Tanya Luhan masih mengusap perutnya dengan lembut. "Eomma?" tanya Luhan pada dirinya sendiri.

"Entahlah, haruskan kita percaya padanya?" tiba – tiba saja ada sebuah pergerakan dari perutnya, dia menendang. Luhan meringis pelan dan mengusap bagian itu. "Pelan – pelan sayang, itu sakit." Ujar Luhan menghembuskan nafas panjang. "Kau mau kita percaya pada ayahmu?" tanya Luhan. Wanita itu diam sesaat sebelum menghembuskan nafas panjang.

"Kau tidak percaya dengan berita itu?" Luhan mengerang pelan dan menutup matanya. Kepalanya terasa sakit.

"Bagaimana eomma bisa percaya ketika eomma bahkan tidak tau apa yang sebenarnya mereka bicarakan di media. Apakah mereka akan bisa menemukan kita disini?"

Luhan masih memejamkan matanya dan tiba – tiba saja bayangan itu datang, puluhan wartawan berada didepan rumah meneriaki namanya. Luhan membuka mata, karena dia takut tenang semua kenangan buruknya kembali terlintas. Dia tidak mau semakin memperburuk suasana hatinya sekarang.

"Haruskan eomma benar – benar percaya pada ayahmu?" bisik Luhan pelan. Dan tak lama kemudian dia meringis, kali ini sambil mencengkram bantal dan memejamkan matanya erat.

"Baby, pelan – pelan." Ujar Luhan dengan suara memburu. "Kau kesempitan disana hem?" Tanya Luhan mengusap – usap perutnya. "Bertahanlah. Dan eomma sedang mencoba percaya pada ayahmu, maka dari itu cobalah untuk tidak banyak bergerak sayang." Ujar Luhan dengan nada sayang pada anaknya.

Jujur saja ini menyakitkan. Mengandung. Kadang dia bisa muntah berkali – kali hanya karena mencium bau yang menyengat indra penciumnya, atau pergerakannya yang terbatas karena dia benar – benar harus berhati – hati, ditambah lagi dengan kepergian Sehun membuatnya semakin sulit dan berita ini… tapi Luhan tau, ini akan berakhir. Luhan percaya Tuhan pasti akan selalu membantunya.

~Bad News~

Hari demi hari Luhan melewatinya dengan banyak menghabisakan waktu berdiam diri dikamar. Kedua orang tuanya melarang Luhan menonton berita dan menjauhkan wanita itu dari semua barang elektronik. Yixing mengatakan kalau dia benar – benar tidak boleh melihat pemberitaan di media, Luhan pernah bertanya seklai pada ibunya, apakah pemberitaan Sehun benar – benar buruk atau bagaimana? Jujur saja dia masih penasaran dengan semua berita Sehun, karena tempo hari dia hanya melihat sedikit berita itu.

Berita mengenai Sehun yang…

Luhan menghela nafas panjang. Dia mencoba melupakan berita itu dan lebih memulih berbicara pada anaknya. Dia tau tak lama lagi memikirkan berita itu dan kembali bersedih. Tapi –sialnya– pikiran itu tetap menghantuinya.

Luhan keluar dari kamarnya dan menemukan sang ibu tengah berbiaca dengan ayahnya. Luhan tersenyum tatkala ingat bagaimana dulu ayah dan ibunya selalu bertengkar tapi mereka sekarang terlihat baik – baik saja. Sang ibu pernah bercerita bahwa mereka memutuskan untuk membicarakan masalah mereka baik – baik dan memaafkan segala kesalahan yang pernah dilakukan oleh keduanya, salah satu alasan yang membawa mereka kembali rujuk adalah dirinya.

Tapi kening Luhan berkerut saat dia melihat sang ibu yang menyandarkan kepalanya di bau dan sang ayah yang mengusap punggung Yixing, sang ibu terlihat sangat muram dan apakah Luhan tidak salah liat? Ibunya menangis.

Luhan berjalan mundur saat ayahnya bergerak. Luhan ingin tau apa yang sebenarnya terjadi. Dia berdiri dibalik tembok kamarnya dan membiarkan pintu terbuka.

"Sehun..." Ucap Yixing dengan suara lelah.

"Aku tau. Apa yang dia katakan hari ini?" tanya Junmyeon. Luhan bergerak semakin mendekat kearah pintu. Mereka tengah membicarakan tenang Sehun dan Luhan benar – benar perlu mengetahuinya. Jujur saja dia sangat penasaran sejauh mana berita ini dibicarakan di media.

"Dia baru saja mengatakan ini semakin buruk." Luhan terkejut. Semakin buruk. Nafas Luhan tercekat. Ini membuatnya semakin penasaran, apa sebenarnya yang terjadi di luar sana?

"Bagaimana dengan Luhan?" Tanya Junmyeon membuat Luhan terkejut dan langsung berjalan dengan cepat ke kasur. Luhan pura – pura berbaring sambil mengusap perutnya. Tak lama kemudian sang ibu datang memasuki kamarnya dan berjalan kehadapan Luhan.

"Kau belum tidur?" tanya Yixing duduk dipinggiran kasur. Luhan menggeleng dan tersenyum lelah. "Belakangan ini kau terlalu banyak menghabisakan waktumu sendiri Lu." Luhan menghembusakan nafas panjang da mengelus perutnya.

"Aku hanya ingin menghabiskan waktuku bersama dia." Yixing mengangguk dan mengelus rambut Luhan yang terlihat lusuh. Dia membungkuk dan mengecup kening Luhan.

Yixing benar – benar mencintai anaknya satu ini dan dia sangat khawatir dengan kondisi anaknya dan cucunya itu. Tapi dia tau Luhan bisa melewati semua ini, karena walau Luhan banyak menghabiskan waktunya sendiri tapi wanita itu masih terlihat seperti biasa, dia makan dengan teratur, kadang menonton film atau membaca buku dan majalah tentang kehamilan.

"Tidurlah." Ucap Yixing sebelum bangkit dan keluar dari kamarnya.

Luhan menghembuskan nafas panjang dan memejamkan mata. Dia mencoba mengenyahkan pikiran itu dari benaknya. Tapi sialnya dia tidakbisa melakukannya. Wajah Sehun selalu saja terbayang dan beirta itu…

Luhan benar – benar tidak tahan dengan semua ini. Dia benar – benar tidak suka diperlakukan sepetri ini. Dia perlu tau tentang semua ini, dia perlu tau tentang apa yang terjadi pada suaminya. Dan ucapan ibunya semakin membuat dia penasaran. Seburuk apakah berita itu? Luhan hendak bangkit. Dia mengendap – endap keluar dari kamar. Luhan mengigir bibir. Dia berjalan keruang tengah yang terdapat sebuah televisi disana. Luhan meraih remote televisi. Luhan menyalakan televisi, dengan tangan gemetar Luhan mencari sebuah saluran televisi yang menyiarkan berita mengenai Sehun.

Luhan mengentikan gerakan jarinya saat layar televisi menampakan wajah Sehun yang terlihat kelelahan. Pria itu tengah melewati puluhan paparazi yang mencoba menangkap gambarnya, Sehun mengatakan sesuatu tapi sayangnya Luhan tidak bisa mendengarnya, karena dia memutuskan untuk tidak mengeraskan volume takut – takut kedua orang tuanya terbangun. Dia melihat Sehun berhenti melangkah dan berbicara dengan ekspresi geram pada salah seorang reporter dan kemudian kembali melanjutkan jalannya.

Suara derap langkah pelan membuat Luhan gelagapan. Dia langsung mematikan televisi dan berjalan perlahan menuju dapur. Dia meraih sebuah gelas dan kotak susunya. Dia melihat dari sudut matanya sang ayah menghampiri.

"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya sang ayah. Luhan menatap ayahnya sambil mencoba tersenyum.

"Aku sedang membuat susu. Entah kenapa aku ingin sekali meminumnya." Junmyeon tersenyum dan meraih gelas Luhan.

"Biarkan appa yang menuangkan airnya." Luhan mengangguk dan membiarkan ayahnya menuangkah air hangat kedalam gelasnya. "Ayo kita masuk kamar." Junmyeon meraih bahu Luhan dan merangkul anaknya dengan sebelah tangannya yang bebas. Sang ayah membantu Luhan duduk sebelum menyerahkan gelasnya.

"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Junmyeon saat Luhan menyeruput susunya. Sang wanita kembali mencoba tersenyum.

"Aku baik – baik saja appa." Sang ayah tersenyum dan menatap Luhan dengan wajah sendu.

"Kau tidak mau membicarakan masalah Sehun?" Luhan terdiam. Perlahan dia menangkup gelasnya dan menunduk.

"Entahlah appa." Ucap Luhan sambil menghembuskan nafas panjang. "Bukakah terlalu banyak yang tidak aku ketahui?" Junmeon tersenyum dan mengelus rambut Luhan.

"Kau akan mengetahuinya saat dia lahir. Sehun yang akan menjelaskannya sendiri. Kau percaya pada dia bukan?"

Luhan terdiam. Apakah dia percaya? Luhan menghela nafas pendek dan tersenyum pada appanya, menyerahkan gelas yang sudah kosong itu.

"Tidurlah." Ucap Junmyeon sambil menyelimuti Luhan dengan selimut. "Semua akan baik – baik saja." Ucapnya sebelum keluar dan menutup pintu.

Bagaimana bisa appa mengatakan semua akan baik – baik saja saat appa bahkan terlihat sangat khawatir?

Pagi menjelang dan Luhan sudah bangun. Sebenarnya wanita itu tidak benar – benar tidur, hampir sepanjang malam dia terjaga, lihatlah sekarang matanya yang terlihat lelah tapi Luhan benar – benar tidak bisa memejamkan matanya dan terllah tidur. Sepanjang malam bayangan Sehun terus saja menghantuinya dan Luhan benar – benar harus tau mengenai berita ini.

Pintu kamarnya tiba – tiba saja terbuka menampakan sang ibu disana. Luhan berusaha tersenyum dan sedikit meregangkan badannya.

"Kau sudah bangun?" tanya sang ibu. Luhan mengangguk tapi mulutnya menguap lebar.

"Tapi sayangnya aku masih mengantuk. Apa eomma bisa membiarkan diriku kembali tidur dan bangun siang hari nanti?" tanya Luhan. Sang eomma menghampirnya dan menatap wajah Luhan yang terlihat kusut.

Rambut yang berantakan, bibir yang sedikit pucat dan lingkaran hitam disekitar matanya. Yixing menghembuskan nafas panjang dan membenarkan rambut Luhan.

"Kau tidak tidur semalaman?" Luhan tersenyum dan kembali menguap.

"Aku mimpi buruk." Elak Luhan, dia tidak mungkin menjelaskan kepada sang Ibu soal dia menonton berita Sehun semalam dan membuatnya memikirkan pria itu sampai pagi ini.

"Baiklah. Kalau begitu tidur saja. Lagi pula eomma harus pergi ke undangan pernikahan." Ucap Yixing.

Luhan kembali menguap lebar dan mengeluarkan air mata membuat Yixing tersenyum dan mengusap kepalanya.

"Tidurlah. Nanti saat makan si-Oh… kau tidak akan sarapan?" tanya Yixing.

Luhan memejamkan matanya dan menggeleng pelan.

"Aku kenyang eomma. Sekarang eomma pergilah dan biarkan aku tidur." Ucap Luhan tanpa membuka matanya.

Sang ibu tersenyum dan pergi meninggalkan Luhan yang sudah menutup matanya. Tapi satu hal yang Yixing tidak tau, Luhan sama sekali tidak tidur. Dia memang mengangtuk, mungkin dia bisa saja tertidur sambil berjalan tapi entah kenapa wanita itu sama sekali tidak bisa tiudr. Dan saat sang ibu mengatakan dia akan pergi, tiba – tiba saja wanita itu mendapatkan sebuah ide.

Beberapa menit kemudian terdengar suara derap langkah ibunya yang tegesa – gesa dan kemudian pintu depan yang ditutup secara keras. Luhan perlahan membuka matanya dan bangkit dari kasur. Dengan ragu dia membuka pintu dan memastikan tidak ada siapapun dirumah selain dirinya.

Luhan melangkah dengan ragu menuju ruang kerja ayahnya, wanita itu kemudian duduk didepan sebuah kursi dengan laptop yang terbuka. Luhan mengigit bibir saat mencoba menyalakan laptop itu.

Saat layar utama muncul derup jantung Luhan semakin cepat. Luhan hendak bangkit dan mematikan laptop itu tapi rasa penasarannya lebih besar yang membuat dia akhirnya kembali duduk dan menatap layar destop yang menampikan fotonya bersama Yixing, Junmyeon dan… Sehun.

Dengan tangan gemetar Luhan membulatkan tekadnya dan mulai membuka sebuah aplikasi untuk bisa mengakses internet. Beberapa kali Luhan mengepalkan tangannya agar berhenti bergetar tapi itu sia – sia karena tangannya terus gemetaran. Luhan mulai mencari berita tentang Sehun di segala macam situs.

Tangannya berhenti sesaat. Dia tidak mungkin membaca semua berita ini sekarang, Luhan melirik kesamping dan menemukan sebuah printer disana. Akhirnya wanita itu memutuskan untuk mencetak semua berita itu untuk dibacanya nanti.

Beberapa menit kemudian semua berita Sehun sudah selesai dicetak. Luhan menghela nafas panjang dan mencoba menghilangkan semua barang bukti. Dia menghapus history bekas mengakses info tentang Sehun. Luhan memastikan semuanya terlihat seperti keadaan semula, dari mulai laptop sampai printer dan dia membutuhkan setidaknya 3 kali pengecekan sebelum wanita itu memutuskan untuk keluar dari ruang ayahnya itu dengan beberapa kembar kertas.

Luhan masuk kembali kekamar dan mengunci pintunya. Dia menatap tumpukan kertas ditangannya itu, perlahan dia duduk diatas kasur dan membaca satu persatu artikel yang sudah dicetaknya.

Menit – menit berlalu dan mata Luhan masih fokus membaca satu persatu artikel itu tapi kali ini matanya mulai memerah tapi dia tetap melanjutkannya sampai kertas yang terakhir. Saat semuanya sudah selesai, wanita itu menghembuskan nafas panjang sambil menutup matanya.

Setetes air mata mendarat dipipinya dan detik berikutnya tidak bisa dihentikan, Luhan menangis. Dia terisak cukup keras, Luhan terlihat sangat kecewa dan sedih dengan apa yang dibacanya. Dan hatinya semakin teriris dengan melihat sebuah foto yang ada disana.

"Sehun…"

Nama itu yang terus diucapkan Luhan disela – sela tangisannya. Dengan tangan gemetar Luhan memungut semua kertas itu dan memasukannya kebawah tempat tidur. Sekarang dia tau kenapa orangtuanya tidak mau dia melihat berita di televisi, sekarang dia tau kenapa Sehun mencoba menutupi semua ini darinya, karena sekarang dia tau, kalau semua ini menyakitinya…

.

Seorang model ternama dikabarkan telah meniduri seorang model wanita yang baru saja mucul didunia modeling. Oh Sehun. Pria yang telah menikah ini dikabarkan keluar dari sebuah hotel bersamaan dengan seorang model wanita bernama Alice. Mereka juga dikabaran memang sudah dekat dari beberapa bulan yang lalu tepat saat Sehun kembali pada aktifitasnnya setelah beberapa bulan menghilang dari hadapan media.

Sebuah CCTV dari hotel tersebut memperlihatkan Sehun datang pada saat petang dan masuk kedalam hotel tersebut beberapa menit setelah Alice. Kemudian pria itu terlihat kembali keluar keesokan harinya, Alice menyusul setelah beberapa jam kemudian dengan mata yang lebam.

Yang mengejutkan sebuah foto beredar beberapa hari setelah berita ini keluar. Foto yang menampilkan seorang pria dan wanita yang sedang tertidur bersama dan hanya ditutupi oleh selimut, sang pria tengah memeluk wanita itu dan mengecup keningnya. Kedua orang di foto ini benar – benar mirip dengan Sehun dan Alice. Hal ini menguatkan semua berita di media.

Dengan bukti – bukti yang ada (rekaman Video dan Foto) semua ini benar – benar terasa nyata, ditambah lagi dengan tingkah laku Sehun yang mencurigakan setiap ditanya oleh media. Pria itu selalu saja mengelak saat diajukan pertanyaan mengenai berita ini. Dan Alice yang tak kunjung menampakan batang hidungnya. Wanita itu seakan – akan lenyap dari kejaran media.

Namun belakangan ini sebuah berita beredar tentang istri Sehun yang bernama Luhan. Dikabarkan wanita itu tengah mengandung anaknya, tapi sayangnya media tidak bisa mendapatkan alamat wanita itu untuk dimintai keterangan.

Sekarang semua media tengah mencari keberadaan sang istri dan menunggu semua berita ini diklarifikasi. Jika memang semua berita ini benar, bagaimana kondiri Luhan beserta sang janin?

.

.

.

~To Be Continued~

Hallo guys ^^ hari ini Bunga membawa kabar buruk untuk segelintir orang. Dikarenakan ada sesuatu yang terjadi kemaren – kemaren, semua ini ada sangkut pautnya sama khasus yang sedang marak dibicarakan di media. That is really scary.

I don't know how to explain this but… I hope you understand. I'll keep writing fanfiction about EXO. I swear as long as I can write I'll never stop it ^^ once again I hope you guys can understand it.

Aku mengganti semua fanfiction ku yang berated M, sebenernya bukan mengganti dan disunting ulang, dihilangkan sebagian cerita dan mencoba menyusunnya kembali dalam rated yang lebih aman.

Tapi aku ingin mengucapkan terima kasih banyak yang sudah membaca ff ini dari awal aku bikin sampai sekarang, mungkin? terima kasih juga untuk semua review, masukan, kritikan dan semuanya. ^^

From deep of my heart I love you ^^