Sequel of I am a bad girl
Ooc, Gs, Typo(s), tidak sesuai EYD dll.
Ranted : T
Chapter : 8/?
It's HunHan Story.
.
Semenjak dia membaca semua berita itu, Luhan benar – benar jarang sekali bicara, dia bahkan hanya menghabiskan waktunya melamun dikamar. Hal ini membuat Yixing tidak bisa tidur dengan nyenyak. Dia selalu mengeluh pada Junmyeon atas keadaan Luhan. Anehnya belakangan ini Luhan tidak mau bicara dengan Sehun, dia akan selalu beralasan capek dan ingin tidur saat pria itu menelphone.
"Apa dia sudah tau tentang masalah ini?"tanya Yixing saat mereka berbaring di tempat tidur. Junmyeon memeluknya dan menghembuskan nafas panjang.
"Entahlah, dari mana dia tau? Bukankah kita sudah melarangnya?" Tanya Jumnyeon. Sang istri mengangguk, membenarkan. Tidak ada celah bagi Luhan tau akan semua berita ini. Lalu ada apa dengan anak itu?
~The Day~
Salju mulai turun dan Luhan berdiri di depan jendela, hanya dapat memandangnya dengan diam, sesekali dia mengelus perutnya dan menghela nafas panjang. Sebentar lagi dia akan melahirkan, tepat saat salju membanjiri kota Seoul. Pikirannya berkelana pada sang suami, namum disaat yang bersamaan sebuah perasaan sakit menyapa hatinya. Dia kecewa? Tentu saja.
Dia tidak percaya Sehun melakukan ini padanya. Berkencan dengan wanita lain sementara dirinya tengah mengandung disini. Luhan menghela nafas panjang saat semua kenangan bersama Sehun terlintas. Semua kenangan dia saat tinggal di London. Semua perjuangan Sehun untuk mengembalikannya, semua pengorbanan yang Sehun lakukan untuk dirinya tapi kenapa sekarang berakhir seperti ini?
Jika Luhan tau, kisah cintanya bersama Sehun akan berakhir mengerikan seperti ini, dia lebih memilih tinggal di London menjadi gadis jalang sekalian di sana, setidaknya hal itu tidak membuat sebuah luka di hatinya, setidaknya hal itu tidak akan mengalami kesulitan dengan mengan-
Luhan menggelengkan kepalanya mengenyakan pikirkan bodoh itu dalam benaknya. Entah sejak kapan air matanya menetes, tubuhnya bergetar pelan. Luhan kembali menangis.
"Maafkan eomma sayang." Bisik Luhan sambil mengusap perutnya. Dia benar – benar bodoh telah berpikir kalau mengandung adalah sebuah kesulitan. Bodoh! Dan pikirkan Luhan semakin kacau saat sebuah foto kembali terlintas dalam benaknya. Foto Sehun bersama wanita lain. Foto –sialan- itu belakangan ini benar – benar memenuhi kepala Luhan dan membuat wanita itu semakin stress sama halnya seperti saat ini.
Suara pintu tiba – tiba saja terbuka tepat saat Luhan mulai lemas. Dan dia mendengar suara teriakan sang ibu yang memanggil ayahnya. Luhan mencoba menahan tubuhnya pada pada daun jendela sebelum sang ayah menompang berat tubuhnya.
"Tuhan! Ada apa denganmu?" Tanya sang ibu saat Junmyeon mendudukan Luhan di kursi. Wanita itu tidak menjawab dan hanya menerima sebuah gelas dari ayahnya.
"Aku baik – baik saja bu." Ucap Luhan mencoba menenangkan ibunya yang terlihat khawatir. Wanita itu mengerjap beberapa kali dan menghembuskan nafas panjang. Dia benar – benar tidak apa – apa, atau mungkin hanya terlalu stress memikirkan berita itu dan sedikit limbung. Hanya itu.
"Bagaimana kau bisa bilang baik – baik saja ketika eomma melihatmu hampir terjungkal jatuh. Bagaimana jika kau benar – benar terjatuh hah?" Yixing mulai meninggikan suaranya sedangkan Junmyeon mencoba menenangkan sang istri.
"Mungkin Luhan butuh istrirahat. Besok kita pergi ke dokter Byun untuk memeriksa keadaanya." Sela Junmyeon dan kembali menerima gelas dari Luhan. Tangan wanita itu terlihat bergetar membuat sang ayah menatapnya.
"Aku baik – baik saja." Ucap Luhan mencoba kembali meyakinkan ayahnya dan sedikit menarik bibir untuk memaksakan seulas senyum. Tapi ayahnya tidak seperti sang ibu, dia tau bagaimana Luhan. Dia tau saat anaknya itu benar – benar tersenyum atau hanya senyuman terpaksa. Tapi di luar dugaan sang ayah hanya mengangguk dan membantunya berdiri untuk pindah ke tempat tidur.
Sang ibu memasak makan malam walau dia sudah mengatakan kalau dia tidak lapar, tapi dia tau sia – sia jika berdebat dengan ibunya disaat seperti ini. Sang ayah duduk disampingnya dan mengelus rambut Luhan yang tertidur menyamping.
"Kenapa? Katakan pada appa." Ucap sang ayah dengan raut wajah khawatir. Luhan menghela nafas panjang. Sehun. Tapi Luhan tidak menjawab dia hanya menggeleng pelan. "Sehun?" tanya sang ayah seakan – akan bisa membaca pikirannya. "Ada apa dengan suamimu itu?" Lanjutnya.
Ada apa?
"Sudahlah appa. Aku baik – baik saja, dan sekarang aku tidak ingin membicarakan pria itu." Sela Luhan sebelum apa benar – benar mendesaknya.
"Tapi bukannya Sehun sudah menjelaskan semunya?"
Tidak. Tidak semua, tidak tentang berita itu dan fotonya. Luhan mengela nafas panjang. Ingin sekali dia berbicara dengan appa-nyatapi mungkin tidak saat ini. Dia tidak ingin semakin mengkhwatirkan mereka dengan fakta dirinya memang sudah tau berita itu.
"Kau sudah tau mengenai semua berita itu?" Tanya sang ayah setelah beberapa menit Luhan tidak mengatakan apapun. Luhan tidak langsung menjawab, dia memandang keluar jendela kaca, berpikir sesaat.
"Bagaimana cara aku mengetahui semua itu saat kalian menjauhkanku dari segala macam benda?" Tanya Luhan menatap ayahnya.
Junmyeon mengela nafas dan bangkit ketika sang istri memanggilnya dari luar. Luhan kembali mengalihkan pandangannya menatap keluar jendela dan membiarkan ayahnya keluar. Dan saat itulah setitik air mata kembali jatuh bersamaan dengan turunnya salju yang semakin melebat.
~The Day~
Sehun merasa heran dengan perubahan sikap Luhan yang seakan – akan mencoba menghindarinya. Entah kenapa tapi itulah yang Sehun rasakan, setiap mereka mengobrol, Luhan hanya membalasnya dengan gumaman pelan dan di 5 menit pertama dia akan mengatakan kalau dia lelah dan ingin tidur. Tentu saja Sehun tidak bisa menolak dan memutuskan sambungan.
Dia sudah bertanya pada ayah dan ibu mertuanya, apakah Luhan sudah tau detail mengenai masalah yang tengah di hadapinya sekarang tapi kedua orang tuanya itu mengatakan kalau Luhan sepertinya tidak mencoba mencari tau berita itu. Luhan seakan – akan menurut dan menjauhi semua benda elektronik, dia bahkan banyak menghabiskan waktunya didalam kamar.
Lalu kenapa? Ada apa dengan Luhan? Sehun semakin frustasi dibuatnya. Dan sialnya masalah ini sama sekali belum menemukan titik terang. Tidak banyak yang bisa Sehun lakukan sekarang selain menghindari kejaran media. Sehun menghembuskan nafas panjang saat perlahan wartawan itu meninggalkan apartemennya. Mungkin mereka sudah menyerah dan lebih memilih mengejar Alice.
Ponselnya berbunyi. Dengan cepat Sehun meraihnya.
"Hallo Sehun." Ucap seseorang di ujung telphone sana.
"Ya eomma ada apa?" Tanya Sehun saat mendengar suara khawatir dari ibu mertuanya itu.
"Luhan. Dia belakangan ini berbeda sekali bukan?" Sehun tau. Ternyata ibunya juga merasakan hal yang sama.
"Begitulah, mungkin dia belum bisa percaya. Tapi dia baik – baik saja bukan?" Tanya Sehun dengan suara lelah.
"Tidak juga. Barusan kami baru saja mengantar Luhan check up and dokter Byun mengatakan kalau kandungan Luhan melemah karna dia banyak sekali pikirkan belakangn ini. Dia memang terlihat tidak nafsu makan dan dokter Byun memberinya saran agar menjaga kondisinya dan juga beberapa vitamin yang akan membantunya. Eomma khawatir sekali hun." Ucap Yixing dengan nada cemas.
Sehun menghela nafas memijat pelipisnya, kepalanya kembali berdenyut pelan.
"Apa mungkin dia sudah tau?" Tanya Sehun.
"Entahlah, tapi sepertinya tidak mungkin. Luhan bahkan tidak menonton televisi dari beberapa hari yang lalu." Yixing coba menjelaskan. "Pulanglah Hun. Eomma khawatir dengannya. Eomma takut terjadi sesuatu dengan Luhan. Mungkin dengan kamu kembali akan sangat membantu."
Jujur saja Sehun benar – benar ingin pulang dari beberapa hari yang lalu tapi semua reporter sialan itu masih ada didepan apartemennya, menunggu dia menjadi santapan empuk mereka. Dan Sehun tidak ingin semakin menambah masalah dengan dia pulang ke Korea dan membawa reporter itu kedepan rumahnya.
Hell! BIG NO.
"Aku akan pulang secepat mungkin eomma, tapi-"
"Hun, kemarin Luhan hampi saja terjatuh pingsan." Sang ibu terdengar menghela nafas panjang. "Itu alasan kenapa hari ini dia menemui dokter Byun."
Sekujur tubuh Sehun tiba – tiba saja melemas. Apa ibunya bercanda atau mungkin terlinganya yang salah dengar, Luhan hampir terjatuh? Entah otak Sehun yang menggila atau apa, tapi dia berpikir itu bukan sebuah lelucon yang lucu.
"Eomma tidak bercandakan? Luhan hampir terjatuh?"
"Ya Tuhan! Sehun. Bagaimana eomma bisa mengatakan hal itu sebagai lelucon. Ini benar! Kemarin dia berdiri seharian menatap salju dan saat eomma akan masuk kekamarnya dia sudah limbung dan hampir saja terjatuh, kalau saja saat itu eomma dan appa tidak ada disana. Demi Tuhan…" Isakan terdengar dari ujung telphone sana. "Sehun, eomma tidak bisa membujuk Luhan. Kembalilah. Eomma tidak mau terjadi sesuatu yang lebih buruk lagi."
Dan hari itu juha Sehun langsung mengambil jam terbang pertama untuk pergi ke Korea.
~The Day~
Luhan bangun siang ini dan mendapati dirinya kelaparan, sekujur tubuhnya lemas. Dia baru ingat kalau semalam dia hanya makan 3 suap nasi walau sang ibu sudah membujuknya puluhan kali. Akhirnya wanita itu mencoba bangkit dan keluar dari kamar.
Saat itu rumah terasa sangat kosong. Mungkin sang ibu keluar untuk membeli sesuatu di super market. Luhan mencoba berjalan perlahan dengan berpegangan pada beda disekitarnya. Butuh waktu sepuluh menit untuk sampai didapur. Dia melihat sepertinya sang ibu belum memasakan sesuatu untuk dirinya dan Luhan juga tidak mungkin untuk memasakan makanan sendiri dengan keadaan seperti ini.
Akhirnya dia duduk dimeja dan mencoba untuk beristirahat, entah kenapa berjalan sedekat itu bisa membuatnya kelelahan setengah mati tapi perutnya terus saja berbunyi membuat Luhan akhirnya memutuskan untuk kembali berdiri setelah beberapa menit. Tapi tiba – tiba rasa sakit yang tak tertahankan mendera seluruh tubuhnya, dia meringis pelan, kemudian yang terdengar adalah teriakan sang Ibu.
~The Day~
Penerbangan menuju Korea Selatan baru saja dibatalkan. Semua ini sebabkan oleh salju turun yang cukup lebat di sana, membuat Sehun harus menunggu. Jujur saja dia tidak bisa berhenti mengkhawatirkan Luhan, apalagi dia baru saja mendengar istrinya itu hampir saja jatuh, setelah sebelumnya Sehun mendapat berita tentang Luhan yang mulai murung dan terus menolak makan padahal seorang ibu hamil memerlukan banyak nutrisi untuk dirinya dan juga si janin.
Sehun mengacak rambutnya kesal. Hari ini dia sudah berhasil pergi tanpa ketahuan paparazi tapi sialnya penerbangannya harus ditunda sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Dan hal itu sama sekali tidak membantunya, justru membuatnya semakin cemas dan khawatir. Dia benar – benar harus bertemu Luhan secepat mungkin, sebelum wanita itu mengetahui semua berita sialan ini dan sebelum paparazi menemukan keberadaanya.
~The Day~
"SEHUN! SEHUN!" Suara sang ibu mertua langsung terdengar bahkan sebelum Sehun menempelkan ponselnya ke telinga.
"Ada apa eomma?" Tanya Sehun. Jantungnya tiba – tiba saja berderup kencang, dia sudah mempersiapkan diri mendengar berita yang lebih mengerikan lagi hari ini. Sayup – Sayup terdengar suara sang ayah yang mencoba menenangkan.
"Luhan di larikan kerumah sakit. Sepertinya dia akan melahirkan. Dia dibawa ke rumah sakit biasa. Dokter Byun yang akan menanganinya. Kau dimana sekarang?" tanya sang ibu dengan nada cemas dan suara yang bergetar sepertinya dia tengah menangis.
"Oh ya Tuhan! Eomma aku…" tapi tiba – tiba saja sambungan terputus dan ponselnya mendadak mati. Ini kesialan lainnya yang harus dia terima.
~The Day~
Entah kenapa Junmyeon memutuskan kembali kerumah saat pikirannya terus saja teringat pada sang anak. Junmyeon sempat menelphoen Yixing dan istrinya itu ternyata ada di supermarket yang tak jauh dari rumahnya. Junmyeon semakin khawatir saat mengetahi fakta bahwa Luhan berada sendiri dirumah. Sepanjang jalan dia berdoa agar salju tidak turun lebat hari ini dan menggangu laju jalan mobilnya. Di depan jalan dia melihat Yixing baru saja keluar dari supermarket dengan belanjaan di tangannya. Dia menepi dan keluar dari mobil membuat yixing terkejut mendapat sang suami yang seharusnya berada di kantor malah berada dihadapannya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Yixing saat Junmyeon menghampirinya.
"Aku khawatir dengan kondisi Luhan." Ucap Junmyeon membawakan barang belanjaan milik Yixing dan menggandeng wanita itu memasuki mobil. Junmnyeon memasukan semua belanjaan kedalam bagasi sementara Yixing masuk kedalam mobil.
"Aku benar – benar cemas saat ternyata Luhan berada sendiri dirumah. Kau tau belakangan ini kondisi Luhan sangat mengkhawatirkan." Ujar Junmyeon sambil kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan pelan karena jalanan yang sangat licin.
Yixing merasa bersalah, sejak pagi juga dia sangat cemas engan keadaan Luhan tapi dia sudah kehabisan bahan makanan di kulkas, akhrinya mau tidak mau dia harus pergi berbelanja dan meninggalkan Luhan tapi sepertinya ini bukan salah satu keputusan baik.
"Apa yang dia lakukan pagi ini?"Tanya Junmnyeon membuat Yixing mendongak menatapnya.
"Dia tertidur. Aku mencoba membangunkannya tapi sepertinya dia benar – benar kelelahan." Yixing menarik nafas. Rasa kekhawatiran tiba – tiba saja mendera dirinya, pikiran – pikiran buruk silih berganti mampir kedalam benaknya.
Tak lama kemudian mereka sampai dirumah. Dengan tidak sabar Yixing membuka pintu dan masuk kedalam rumah. Dia mencari Luhan kedalam kamar tapi ternyata ruangan itu kosong. Sayup – sayup terdengar suara rintihan membuat Yixing langsung berjalan kedapur….
"LUHAN!"
~The Day~
Wajah Yixing penuh dengan air mata, Luhan tengah mengerang kesakitan di atas brangcart rumah sakit yang didorong oleh dua orang suster memasuki ruang UGD. Disampingnya berdiri Junmnyeon yang membantu para suster mendorong brangcart. Tepat saat berada didepan UGD Junmyeon dan Yixing berhenti karena dilarang masuk oleh salah seorang suster.
"Di mana Sehun?" tanya Junmnyeon sambil mencoba menenangkan Yixing. Wanita itu mendongak dan langsung merogoh ponselnya yang berada didalam tas.
"Aku sudah mencoba menghubunginya sepanjang jalan tapi sepertinya Sehun terjebak oleh salju." Jelas Yixing mencoba menghubungi Sehun.
"Apa dia sudah tau kalau Luhan dilarikan ke rumah sakit?" Tanya Junmyeon mendapat anggukan dari Yixing.
"Aku sudah memberi taunya kalau Luhan berada disini dan sepertinya dia akan melahirkan tapi kemudian sambungan terputus dan aku tidak bisa menghubunginya seperti saat ini." Ucap Yixing sambil menghembuskan nafas panjang saat sambungan masuk ke mail box.
Tiba – tiba saja seorang suster keluar dari dalam ruangan. Yixing dan Junmyeon langsung bangkit dan menghampirinya takut – takut ada sesuatu yang tidak diinginkan malah terjadi.
"Ada apa suster?" Tanya Yixing.
"Saya mencari suaminya. Apakah sang suami ada disini?" tanya suster menatap Junmnyeon dan Yixing bergantian.
"Tidak. Mungkin dia sedang berada dijalan, bolehkah sang ayah yang menemaninya?" Tanya Junmyeon menatap Yixing sesaat.
"Seharunya sang suami berada disini, karena itu akan banyak membantu, dengan kondisi Nyonya Luhan yang sangat lemas sepert itu." Lutut Yixing tiba – tiba saja melemas mendengar penuturan sang suster. Dia menggenggam tangan Junmnyeon pelan mencoba mencari kekuatan.
"Kalau begitu Pak silahkan masuk karena kita tidak punya banyak waktu." Ucap sang suster tergesa – gesa sambil menyuruh Junmyeon masuk kedalam.
Tapi,
Suara derap langkah terdengar sepanjang lorong membuat ketiga orang itu mendongak. Yixing hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Sehun.
Pria itu berlari kencang sambil terengah – engah.
"Saya suaminya sus. Biarkan saya…" Ucap Sehun dengan nafas tersenggal menatap sang ayah dan ibu bergantian. Merasa tidak banyak waktu Sehun langsung ditarik masuk kedalam oleh suster bahkan sebelum mengucapkan sepatah katapun pada ayah dan ibunya.
~The Day~
Sehun masuk dan menadapati beberapa suster tengah sibuk dengan pekerjaannya masing masing, sebuah tirai besar berawarna putih perpampang dihadapannya dan saat tirai itu terbuka…
Dia menemukan Luhan sedang berbaring dengan kedua kaki mengangkang lebar yang di tutupi oleh semacam selimut putih dan disana ada dokter Byun yang sudah tak asing lagi.
Mata mereka bertemu.
Sehun langsung berjalan kesampingnya dan menatap Luhan yang bercucuran air mata. Wanita itu terlihat sangat kelelahan dengan keringat yang bercucuran membasahi wajahnya.
"Sehun." bisiknya pelan membuat sang pria mengenggam tangannya mencoba memberi dorongan pada sang istri.
"Aku disini. Aku disini." Bisik Sehun ditelinga Luhan. "Berjuanglah untuk anak kita." Lanjutnya membuat Luhan mencoba untuk mendorong anaknya keluar. Tangan mereka bertatutan, Luhan mencoba mencengkram tangan Sehun dengan erat mencoba mencari sebuah tumpuan yang akan memberikannya kekuatan
Menit terbunuh, waktu terus berjalan dan...
Luhan sudah terlalu lelah.
.
.
.
To Be Continued
Aku tau, aku tau, kalian pasti mau bunuh aku. Lol. Maaf u,u
Belakangan ini author suka mainin perasaan orang… *bercanda deh ^^
Setelah lama menunggu dan maaf author kembali menggantungkan ceritanya lagi. Yohohooo… tenang aja, mungkin kalau author mood bisa dilanjut cepat. Soalnya author punya project ff baru. Lol *padahal yang ini aja belom kelar.
Dan author juga mau minta maaf kepada semua orang yang sudah disakiti sama author as Lee Dong Hwa ataupun yang pernah disakitin sama Bunga Juniar. Author mau mintaa maaf, udah masuk bulan Ramadhan kan? Jadi harus saling memaafkan u.u
Author tau punya banyak dosa sama kalian karena suka digantung dan jarang di kasih thanks to diaakhir cerita. Bukan author sombong atau apa, tapi author bener – bener sibuk
Jadi sekali lagi author mau minta maaf. Anyway…. Author juga mau berterima kasih pada SEMUA readers yang udah setia menunggu mau readers terbaik yang suka review maupun side readers yang entah kenapa pada engga mau review. Thank you so so so so so much :*
Love ya.
