Ada beberapa info di bawah –setelah cerita ini selesai- yang harus author sampaikan. Mohon dibaca. Terima kasih ^^
Sequel of I am a bad girl
Ooc, Gs, Typo(s), tidak sesuai EYD dll.
Ranted : T
Chapter : 9/?
It's HunHan Story.
.
Sehun sudah menunggu setidaknya dua jam, dia duduk seperti orang tolol menunggu informasi keberangkatannya. Tapi menit – menit terus berlalu membuat pria itu tidak bisa duduk di sana dan membuat pikiran buruk tentang Luhan semakin menggila, akhrinya di bangkit dan menemui seseorang untuk diajak berbicara.
Sehun sudah berbicara pada seseorang yang bernama Nathan yang bertanggung jawab di bandara ini, dia sudah membujuk pria itu agar pesawatnya bisa terbang sekarang juga. Tapi pria dengan setelan rapi itu tidak mengijinkan Sehun setidaknya sampai salju berhenti turun.
Sehun sudah mengatakan dia akan membayar berapapun asalkan dia bisa pergi sekarang, sekarang juga. Sehun juga mengatakan, akan menyewa sebuah pesawat hanya untuk membawanya terbang ke Inchone. Akhirnya seorang pilot yang berasal dari Korea bersedia mengantarkan Sehun.
Sehun menjelaskan pada sang pilot yang diketahui namanya adalah Lee Minsoo itu tentang Luhan, kenapa dia harus mengambil penerbangan sekarang juga. Sang pilot berujar kalau dia juga pernah mengalami hal yang sama, itu alasannya kenapa dia bersedia mengantarkan Sehun hari ini.
Setelah dipastikan kalau salju sudah mereda, Sehun langsung berangkat untuk terbang ke Inchone. Semua hal sudah disiapkan, pesawat, pilot dan semua barang milik Sehun sudah berada disana. Pria itu menghembuskan nafas panjang saat memasuki pesawat.
Semua akan baik – baik saja. Harus baik – baik saja.
~Birth~
Sehun sudah sampai di Inchone dan dia tidak tau harus bagamana lagi mengucapkan terima kasih pada sang pilot beserta staff lain yang membantunya dan seorang pramugari ramah yang sedari tadi mendengarkan celotehan Sehun mengenai istrinya dan mencoba menenangkan pria itu –yang sekarang sudah seperti mayat hidup- kalau semua akan baik – baik saja.
Sehun sudah memakai kacamata hitam dan sebuah masker untuk menutupi wajahnya saat dia berada di bandara. Pria itu berjalan layaknya orang biasa dan bersikap seolah – olah dia bukanlah seorang model yang tengah dikejar media massa karena terlibat sebuah skandal.
Sampai akhrinya dia bisa keluar dan masuk ke sebuah taksi. Sang supir terlihat kaget saat ternyata yang masuk adalah Sehun. Pria itu tau kalau sang supir mengenali dirinya saat dia melepaskan semua penyamarannya.
"Ahjussi, bisakah kita pergi ke Seoul sekarang?" tanya Sehun membuat sang supir mengerjap dan menggunakan topinya.
"Algesseubnida."
Sehun menghembuskan nafas panjang, sepertinya dia harus menerima kenyataan jika ternyata seseorang sudah mengetahui keberadaannya di Korea.
Beberapa jam kemudian dia sudah sampai di Seoul tapi dia tidak mungkin membawa taksi ini pulang ke rumah. Dia tidak mau keberadaan rumahnya diketahui oleh banyak orang. Tapi sepertinya sekarang sudah terlambat, karena cepat lambat media akan mengetahuinya. Tepat saat Sehun akan mengatakan alamat rumahnya sebuah telphone masuk.
Sang ibu terdengar memanggilnya bahkan sebelum Sehun sempat meletakan ponsle itu ke telinga, beliau mengatakan kalau Luhan dilarikan kerumah sakit, sang ibu mengatakan sepertinya Luhan akan melahirkan.
Seketika itu lutut Sehun terasa sangat lemas. Suara sang ibu yang menahan tangisannya membuat Sehun semakin cemas tentang keadaan istrinya. Untung saja dia sudah sampai di Seoul, pria itu tidak bisa membayangkan jika dia masih berada di London dan mengingkari janjinya untuk bisa berada di samping Luhan saat dia melahirkan.
"Oh ya Tuhan! Eomma aku…" Tiba – tiba saja sambungan terputus dan Sehun menatap ponselnya yang mati tolal. Pria itu hampir saja membanting ponselnya kalau saja dia tidak berada di dalam sebuah taksi dengan supir yang tidak bisa berhenti memperhatikan gerak – geriknya.
Sehun tidak perduli lagi dengan apapun, sekarang yang dia harus lakukan adalah datang kerumah sakit dan melihat kondisi Luhan. Kondisi Luhan.
~Birth~
Menit terbunuh, waktu terus berjalan dan...
Luhan sudah terlalu lelah.
Wanita itu terbaring lelah dikasur rumah sakit, keringat membasahi seluruh tubuh, nafasnya tersenggal. Dia menatap Sehun sambil menggelengkan kepalanya pelan. Luhan memang sudah menghabiskan waktunya berjam – jam untuk mencoba mengeluarkan sang bayi dari janinnya, pantas saja jika wanita itu kelelahan. Detik berikunya semua orang kembali sibuk, seorang suster membawa sebuah alat yang terlihat sepeti vakum. Well… yeah that is vacum.
Vakum, alat untuk membantu proses persalinan saat kondisi jadin dalam keadaan gawat. Proses ini biasanya dilakukan bila posisi bayi sudah berada di bawah mulut panggul. Biasanya tindakan ini diambil saat sang ibu sudah kehilangan tenaga dan memiliki riwayat penyakit seperti jantung atau hipertensi. Dan dalam kondisi ini, Luhan sudah tidak memiliki banyak tenaga lagi.
"Bertahanlah." Bisik Sehun ditelinga Luhan membuat wanita itu menelan ludahnya mencoba kembali bernafas. Dokter Byun mulai menggunakan vakum itu, terdengar dari suara yang mengengung pelan. Luhan memejamkan mata mengumpulkan kembali tenanganya, sementara Sehun menyerka keringat di wajahnya dengan pelan.
"Luhan-sii, tarik nafas dan coba dorong sekali lagi." Ucap dokter Byun. Sehun langsung menatap Luhan dan menirukan gaya bernafas membuat wanita itu mengikutinya.
"Ayo Lu, berjuanglah. Demi anak kita." Ucap Sehun membuat Luhan mengangguk dan kembali mendorong anaknya keluar.
Erangan dan senggalan nafas terus terdengar dan Sehun di sampingnya tidak berhenti untuk terus menyemangati Luhan, sampai akhirnya wanita itu berteriak keras membuat Sehun terkejut menatapnya. Tapi kemudian suara tangisan bayi terdengar. Membuat Sehun mendongakan kepalanya.
Dokter Byun tengah menggendong seorang bayi yang masih penuh dengan darah segar dan menyerahkannya pada seorang suster. Kemudian matanya menatap kearah Luhan yang masih menghembuskan nafas tersenggal.
"Luhan-sii jangan bergerak dulu." Ucap Dokter Byun membuat tubuh Luhan langsung kaku. Dia juga tidak tau harus bergerak seperti apa karena semua tubuhnya terasa sangat lelah. Matanya menangkap seorang bayi mungil yang tengah digendong oleh seorang suster. Suster yang lainnya langsung menyelimuti bayi itu.
Suara tangisan si mungil membuat Luhan meneteskan air mata, perjuangannya selama ini tidak sia – sia, dia sudah berhasil melahirkan denga selamat. Luhan terisak dan baru sadar disana ada seorang Sehun yang masih menggengam tangannya dengan erat. Mata mereka bertemu, untuk sesaat Luhan merasakan rindu yang selama ini ditahannya menguap saat dia melihat senyuman Sehun.
"Terima kasih." Sang pria memeluk Luhan pelan dan terus membisikan kata itu ditelinganya membuat tangisan Luhan pecah.
~Birth~
Sehun melihat Luhan yang memejamkan mata, sepertinya wanta itu benar – benar kelelahan. Dokter Byun mengatakan bahwa Luhan memang sangat kelelahan setelah proses persalinan ini, akhirnya Sehun membiarkan istrinya itu untuk beristrahat.
Sedangkan sang bayi tengah diperiksa takut terjadi sesuatu yang tidak ingininkan. Sehun tau melahirkan dengan bantuan vakum memang beresiko, salah satu yang Sehun tau adalah lecet pada bagian kepala atau bahkan lebih parahnya adalah pendarahan di otak. Sehun mengenyahkan pikiran buruk itu dari benaknya dan berjalan keluar dari ruang perawatan untuk bertemu dengan kedua mertuanya. Tapi ternyata disana juga sudah ada kedua orang tuanya.
"Bagaimana keadaan Luhan?" Tanya sang ibu. Sehun mencoba tersenyum dan mengangguk.
"Suster bilang dia baik – baik saja, hanya kelelahan dan memerlukan istirahat." Jelas Sehun. Sang ibu mengangguk dan memeluk anaknya tercinta. Sehun bukan anak kandung memang, tapi sang ibu mencintainya dengan sangat seolah – olah Sehun adalah anak yang lahir dari rahimnya.
"Tenanglah, Luhan dan anakmu akan baik – baik saja." Bisik sang ibu sambil mengecup pipi Sehun membuat pria itu mengangguk sambil tersenyum.
Yixing dan Jumnyeon berpamitan untuk pulang dan mengambil beberapa barang. Sedangkan kedua orang tua Sehun masih berada disana berbicara dengan Sehun soal skandal yang tengah menimpanya. Pria itu mengatakan kalau dia tidak tau apa – apa. Berita itu tiba – tiba saja datang ketika dia bahkan sedang tidur di apartemennya karena baru saja pulang pemotretan.
Perusahannya sedang mencari cara untuk mengklarifikasi berita ini dan mengembalikan nama baiknya yang sekarang terlihat sangat buruk di media. Tapi jujur saja Sehun tidak perduli dengan nama baik atau apapun itu, karena saat ini yang dia khawatirkan adalah kondisi istrinya dan sang anak.
~Birth~
Luhan bangun, dia menemukan dirinya tebaring disebuah kamar inap. Matanya harus mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam retinanya. Tepat saat itu seseorang membuka pintu dan detik berikutnya Sehun terlihat. Pria itu sedikit terkejut saat mata mereka bertemu.
"Kau sudah sadar?" Tanya Sehun berjalan menghampirinya. Luhan tersenyum tipis. Matanya kembali terpejam saat beberapa bagian tubuhnya terasa sakit. Pikirannya langsung teringat pada sang buah hati yang belum dijumpainya. Tadi Luhan hanya melihatnya sebentar sebelum seorang suster membawanya keluar.
"Dimana dia?" Tanya Luhan menatap Sehun yang sekarang duduk disampingnya.
"Dia sedang dalam pemeriksaan." Jawab Sehun singkat. Hati Luhan langsung bergetar, pikiran buruk langsung singgah dalam benaknya. "Tidak apa – apa. Hanya sebuah pemeriksaan biasa, dia baik – baik saja." Lanjut Sehun saat melihat perubahan ekspresi dari Luhan. Wanita itu mengangguk dan menghembuskan nafas panjang, kembali menutup matanya. Tapi bayangan lain terlintas dipikirannya, foto itu, foto Sehun bersama seorang wanita kembali terlintas dibenaknya. "Bagaimana keadaanmu?" Tanya Sehun membuat Luhan membuka matanya.
"Lelah, pegal, sakit, semuanya terasa bercampur."
"Sakit?" Sehun terlihat panik. "Bagian mana yang terasa sakit?" Lanjutnya menatap sekujur tubuh Luhan yang masih terbaring lemas. Wanita itu tersenyum penuh arti.
"Sehun dengar. Kau tau, melihatmu duduk disini membuatku merasa sangat bahagia, kau menepati janjimu untuk datang disaat dia lahir tapi di sisi lain, entah kenapa ada sebuah perasaan sakit setiap kali aku melihatmu Hun, dah ya… aku sudah mengetahui semuanya. Soal skandalmu, semua berita, tanggapan media, bahkan aku juga tau mengenai foto itu." Ucap Luhan dengan suara letih. Wanita itu menatap Sehun yang mulai gusar.
"Lu dengar itu bukan aku, yang mereka bicarakan di media selama ini bukan aku." Ujar Sehun mencoba meyakinkan tapi Luhan kembali tersenyum tipis.
"Bagaimana aku bisa percaya setelah melihat foto itu Hun? Jika itu bukan kau kenapa yang aku lihat di foto itu adalah dirimu?" tanya Luhan mencoba menaikan suaranya. Sudah lama dia ingin menanyakan hal ini pada Sehun, sudah cukup dia menahan semuanya.
Sehun benar benar terlihat frustasi, kerutan dikeningnya semakin tercetak jelas dengah wajah lelah yang membuat pria itu semakin terlihat lebih tua dari usianya. Dia mengembuskan napas lelah sambil mengusap wajahnya kasar.
"Tapi Demi Tuhan! Itu bukan aku Lu. Sungguh! Aku tidak tau bagaimana cara agar kau percaya-aku hanya…" Sehun mengerang fustasi. Dan memijat pelipisnya sambil mengerang pelan. "Apa yang harus aku lakukan agar kau percaya?" Tanya Sehun, sebuah air mata tanpa disadarinya jatuh dipipi.
Luhan yang melihatnya terenyuh, dia tidak pernah melihat Sehun begitu frustasi seperti ini bahkan sampai mengeluarkan air mata, wanita itu meraih tangan Sehun dan menggenggamnya pelan, membuat mata mereka bertemu.
Luhan menarik Sehun untuk sebuah pelukan. Keduanya menghembuskan nafas panjang saat kehangatan yang sudah lama hilang itu kembali dirasakannya. Tidak bisa dipungkiri Luhan merindukan Sehun, merindukan pelukan hanyanya, tawanya dan semua hal tentang pria itu.
"Jangan menangis." Bisik Luhan pelan. "Aku tidak bisa melihatmu menangis Hun. Jangan lakukan lagi. Itu membuatku semakin sakit." Lanjutnya dengan bulir air mata yang mengalir di pipinya. Luhan mengeratkan pelukannya, membawa Sehun semakin merapat pada tubuhnya, menghirup aroma tubuh Sehun yang dirindukannya. Sampai sebuah isakan tidak bisa ditahan lagi.
"Stttt, jangan menangis." Bisik Sehun melepaskan pelukanya, dia menangkup kedua pipi Luhan dan mengecup kedua mata Luha. "Jika kau tau air matamu jauh lebih menyakitiku dari pada apapun Lu." Ujarnya sambil mengerka air mata Luhan dengan ibu jarinya.
Luhan mengangguk, lengan wanita itu kembali terulur dan menarik Sehun untuk sebuah kecupan. "Jangan pernah pergi dariku." Bisik Luhan dan melingkarkan tangannya di leher Sehun, kembali memeluk sang suami.
"Tidak akan. Aku berjanji."
~Birth~
Luhan sudah berbincang dengan kedua mertuanya, mereka berdua terlihat sangat senang karena tahun ini mereka bisa menimang seorang cucu, Luhan juga ikut senang mendengarnya walau sampai sekarang dia belum bisa bertemu dengan sang bayi. Sehun mengatakan kalau si kecil sedang tidur setelah proses pemeriksaan, mungkin mereka bisa bertemu nanti sore. Dan Luhan harus sedikit lebih sabar.
Wanita itu kembali terlelap saat kedua mertua mereka berpamitan untuk pulang membawa beberapa makanan untuk mereka berdua, walau Luhan sudah berkali – kali menolak tapi orang tua Sehun itu memang terlalu baik hati, tidak jauh berbeda dengan anak mereka.
Sehun tidak beranjak sedari tadi, pria itu hanya menatap Luhan yang sedang tertidur dengan pulas. Sudah lama sekali dia tidak memandang wajah bak bidadari dihadapannya itu, entah kenapa Sehun merasa kalau Luhan semakin cantik saat mengandung, bahkan setelah melahirkan sekalipun. Badan Luhan memang sedikit berisi, tapi itu sama sekali tidak mempengaruhi kecantikannya.
Suara derit pintu terdengar membuat Sehun mendongakan kepalanya. Sang mertua datang, membawa beberapa barang untuk keperluan Luhan dan si kecil. Yixing dan Junmyeon berjalan pelan mendekati Sehun.
"Eomma menemukan ini Hun." Ucap Yixing sambil menyerahkan beberapa tumpukan kertas padanya. Sehun melihat tumpukan kertas itu yang ternyata adalah semua artikelnya di media. Pria itu menatap satu bersatu kertas itu tanpa benar – benar membacanya. Dan sampailah dia di kertas terakhir yang menampilkan foto seorang pria yang tengah tertidur dengan seorang wanita disampingnya. Sehun menghembuskan nafas panjang dan melipat kertas itu, menaruhnya di dalam laci.
"Dia sudah tau." Ucap Yixing sambil mengusap pundak Sehun, pria itu mengangguk dan memaksakan seulas senyuman.
"Ya, Luhan mengatakannya sendiri eomma." Ujar Sehun kembali menatap Luhan yang masih terlelap. Yixing mengangguk, tidak tau apa yang harus dikatakan lagi pada Sehun.
"Sekarang kau lebih baik membersihkan tubuhmu, eomma membawa pakaian ganti untukmu." Ucap Yixing sambil menyerahkan pakaian pada Sehun. "Setelah itu makan. Eomma yang akan menjaga Luhan." Lanjut Yixing saat Sehun hendak menyela. Akhirnya pria itu bangkit dan menatap Luhan sesaat.
~Birth~
Sore haripun datang, Luhan bangun dari tidurnya dan menemukan Sehun duduk disampingya. Pria itu sudah mengganti baju dan tidak terlihat sekacau tadi. Saat sadar kalau dia bangun, Sehun tersenyum dan langsung menggengam tangan Luhan.
"Kau sudah bangun?" tanya Sehun disambut dengan anggukan pelan oleh Luhan. "Kau ingin bertemu dia?" tanya Sehun. Luhan langsung menebar pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, mencoba mencari tanda – tanda keberadaan seseorang di ruangan ini selain dirinya dan Sehun.
"Dia di luar, bersama eomma dan appa." Ujar Sehun cepat sambil tersenyum pada Luhan sambil bangkit untuk memanggil kedua orang tuanya.
Tak lama kemudian tuan dan nyonya Oh masuk dengan seorang bayi ditanga mereka. Dia terlihat sangat kecil di dalam gendongan sang ibu mertua, tidak terlalu kecil untuk seorang bayi yang baru lahir tapi juga tidak terlalu besar.
Sang ibu tersenyum dan menyerahkan bayi mungil itu pada pangkuan Luhan. Wanita itu sedikit canggung saat bayi itu berada dipangkuannya. Bayi kecil itu menggeliat pelan di pangkuan Luhan dan entah kenapa Luhan merasa seakan – akan ada sebuah ikatan batin saat melihat wajahnya putih yang merona bagaikan sekuntum bunga mawar. Luhan mengecup pipi si kecil dengan pelan dan seketika itu juga aroma yang hanya tercium dari bayi menguar memenuhi indra penciumannya.
"Dia cantik." Ucap sang ayah mertua yang berdiri disamping istrinya. Luhan menatap mereka sambil tersenyum kemudian kembali menatap bayinya.
"Kalian tidak akan memberinya nama?" tanya Yixing yang baru masuk dengan Jonmyeon yang berjalan dibelakangnya.
Luhan menatap Sehun sesaat dan pria itu tengah menatap si kecil yang ada dipangkuannya.
"Aku tidak tau kau akan berpikir hal yang sama denganku tapi dia terlihat seperti setangkai mawar yang baru saja mekar." Ucap Sehun saat mata mereka bertemu. Luhan tersenyum mendengar penuturan itu, karena dia memikirkan hal yang sama. Ke empat orang tuanya ternyata memiliki pendapat yang sama. Bayi mungil ini memang seperti sekuntum mawar yang baru saja mekar, begitu cantik dan menarik siapapun yang menatapnya.
"Oh Jangmi?" Tanya Sehun membuat wanita itu menatapnya.
"Jangmi? (장미)?" Tanya Luhan menaikan alisnya.
"Kau tau, Jangmi artinya bunga mawar. Dia benar – benar terlihat seperti mawar."
Mulut Luhan seakan terbuka untuk mengatakan 'ah' tapi dia tidak bersuara sama sekali dan kembali menatap anaknya.
Jangmi tidak terdengar buruk ditelinganya dan si kecil ini memang terlihat seperti sekuntum maw-Oh… sudah berapa kali Luhan mengatakan hal yang sama? Jujur saja, dia akhirnya mengerti bagaimana perasaan seorang ibu saat pertama kali melihat buah hatinya.
"Jangmi?" Ucap Luhan lebih terdengar seperti memanggil anaknya.
"Jangmi terdengar manis." Ucap Yixing menyetujui. Akhirnya mereka memutuskan untuk memanggil si kecil yang cantik itu dengan nama Oh Jangmi.
~Birth~
Ke empat orang tuanya sudah pulang ke rumah karena bujukan Luhan, mereka terlihat kelelahan karena mengurus dirinya seharian dan mengatakan dia akan aman karena Sehun ada disini. Akhirnya ke empat orang tua itu pulang dan berjanji besok pagi mereka akan datang.
Luhan masih menggendong sang bayi yang sekarang tertidur di pangkuannya, Jangmi menggeliat pelan dan Sehun baru saja masuk kembali ke ruang perawatan setelah mengantar orang tuanya. Pria itu duduk disamping Luhan dan mengusap Jangmi dengan telunjuknya.
"Dia cantik sepertimu Lu." Ujar Sehun membuat Luhan tersenyum tipis, wanita itu tersipu.
"Tapi dia memiliki rambut sepertimu Hun. Aku penasaran dengan matanya." Ucap Luhan mulai tertarik dan detik berikutnya seorang suster masuk, menyapa mereka berdua. Sang suster membawakan makan malam untuk Luhan dan mengatakan jika sang bayi menangis mungkin itu saat yang tepat bagi Luhan memberikan asi pertamanya.
Wanita itu membelalakan mata, dia sama sekali tidak berpengalaman dalam memberikan asi dan dia juga tidak tau apa yang harus dilakukannya. Tapi sang suster menjelaskan apa saja yang harus dilakukan Luhan, bagaimana cara memberikan asi yang baik dan segala macam tentang hal itu. Sehun yang sekarang berdiri beberapa langkah dari kasur, tersenyum melihat ekspresi Luhan yang bersungguh – sungguh saat sang suster menjelaskan.
"Tidak perlu khawatir, semua ibu bisa melakukannya." Ucap sang suster sebelum pergi keluar meninggalkan Luhan dan Sehun. Pria itu berjalan ke arah Luhan dan mengusap kepala wanita itu.
"Mungkin apa yang ingin dikatakan suster itu adalah jangan dipikirkan karena insting yang akan menuntunmu untuk melakukannya. Aku tau kau akan menjadi ibu yang baik." Ujar Sehun dan mengecup pucuk kepala Luhan. Hal itu membuat sebuah perasaan kembali bergejolak di hati sang istri, dia tau kalau Sehun sangat mencintainya. Seorang pria tidak akan mengecupnya seperti itu jika pria itu tidak benar – benar mencintainya. Perlahan keraguan Luhan tenang perasaan mulai luntur. Dari semua hal yang masih disembunyikan oleh suaminya, satu hal penting yang Luhan tau dengan jelas, Sehun masih mencintainya, tidak ada yang berubah ataupun berkurang, pria itu masih memberikan kasih sayang yang sama seperti dulu. Luhan tau itu.
~Birth~
Jangmi terbangun tepat beberapa saat setelah Luhan menghabiskan makan malamnya, wanita itu langsung menggendong Jangmi yang tertidur disampingnya. Dia kembali teringat dengan perkataan sang suster untuk memberikan Jangmi asi.
"Sehun..." Pria yang duduk disampingnya itu langsung menatap Luhan.
"Kau mau aku keluar, meninggalkan kalian berdua?" Tanya Sehun hendak bangkit tapi Luhan langsung menggeleng. Entah sejak kapan Luhan tidak suka dengan kata 'meninggalkan' apalagi jika kata itu keluar dari bibir Sehun.
"Tidak, jangan. Jangan pergi." Ucap Luhan cepat. "Aku tidak tau harus bagaimana, aku… aku…" Sehun tersenyum dan duduk diatas kasur, disamping Luhan.
"Kau seorang ibu, sayang. Biarkan insting yang menuntunmu." Sela Sehun sambil tersenyum meyakinkan.
Tubuh Luhan entah kenapa tiba – tiba saja kaku, tangannya masih mengendong Jangmi yang sekarang mulai menangis kencang, mungkin bayi kecil ini kelaparan. Dan Luhan mengerjap, bukan saatnya memikirkan hal bodoh, Sehun benar, dia bisa melakukannya.
~Birth~
Sehun berada di sampingnya selama dia memberikan asi untuk Jangmi, pria itu terlihat sangat santai dan menatap Jangmi dengan kilatan mata yang penuh kasih sayang, detik berikutnya mata mereka bertemu. Sehun tersenyum dan mengulurkan tangannya mengelus rambut Luhan dan berakhir di pipinya.
"Apa aku sudah mengatakan kalau kau seorang ibu yang baik?" Tanya Sehun membuat Luhan mengangguk pelan sambil tersenyum tipis.
"Mungkin kata 'baik' tidak cukup. 'Sempurna' akan lebih menjelaskan keadaanmu sekarang." Lanjut Sehun kemudian mengecup kening sang istri.
Luhan benar – benar merasakan bagaimana perasaan seorang ibu, entah kenapa sekarang terasa sangat lengkap, dengan adanya Sehun disini dan si kecil Jangmi. Semuanya terasa nyata dan jikalah ini sebuah mimpi, biarkan Luhan bermimpi lebih lama dari sewajahnya.
Dia masih menginginkan semua kebahagian ini sebelum kenyataan menariknya kembali dan mengaharuskannya berhadapan dengan fakta bahwa keluarganya masih dilanda masalah besar. Tapi perlahan dia meyakinkan hatinya untuk percaya pada keluarganya kecilnya ini, terutama pada sang suami. Sehun.
Suara ponsel membuat kedua orang diruangan itu langsung menatap pada ponsel yang tergeletak di meja yang ada di sebelah kanan kasur. Sehun langsung meraih ponsel itu dan menatapnya sesaat. Dia menghela nafas panjang sebelum bangkit, kembali mengecup kening Luhan dan keluar dari ruangan tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Dan mungkin inilah saatnya Luhan harus kembali bangun dari mimpi indahnya.
~Birth~
Sehun masuk saat Luhan baru saja menidurkan Jangmi disampingnya. Wanita itu menepuk – nepuk tubuh Jangmi pelan sambil mendendangkan sebuah lagu. Sang suami duduk dikursi menunggu Luhan selesai dengan Jangmi.
"Ada apa?" Bisik Luhan setelah memastikan kalau Jangmi kembali tertidur. Sehun menghela nafas panjang menatap wanita itu beberapa saat.
"Media menemukan keberadaan Alice." Ucap Sehun berupa bisikan. Suara lelah dan frustasi itu kembali terdengar membuat hati Luhan teriris ditambah lagi dengan Sehun yang menyebutkan nama wanita itu tapi dia tidak mengatakan apapun. "Semua orang di London tengah mencoba mencari cara untuk menyelesaikan masalah ini dan mereka baru saja menemukan titik terang setelah berhari – hari kami mengumpulkan informasi." Lanjut Sehun.
"Lalu? Apa yang harus aku lakukan untuk membantumu?" tanya Luhan sambil meremas selimutnya, wanita itu terlihat sangat tegang. Sehun menghela nafas, berdiri dan memeluk wanita itu. Menaruh dagunya diatas kepala Luhan.
"Kau hanya harus mempercayaiku. Itu lebih dari cukup." Bisik Sehun sambil mengelus punggung Luhan. "Aku tidak mau kehilanganmu dan Jangmi kecil." Lanjutnya dengan suara bahkan hanya terdengar seperti sebuah hembusan angin di telinga Luhan.
"Aku percaya padamu Hun. Aku akan selalu berada di sampingmu sampai kapanpun. Apapun yang terjadi. Maaf karena sudah mengiramu yang bukan – bukan. Seharusnya aku-"
"Tidak Lu, mungkin aku yang akan heran jika kau percaya begitu saja padaku setelah melihat semua berita itu. Tapi sekarang… kau percaya padaku sepenuhnya?" Tanya Sehun kembali bertanya, tapi sekarang pria itu tidak menemukan sebuah keraguan di mata Luhan seperti saat dia menjelaskan semua ini untuk pertama kalinya.
"I'll always believe and stay next to forever. No matter what, even when the world say that we shouldn't be together-"
.
.
.
"-I promise."
.
.
.
~To Be Continued~
Hi Hi Hi ^^
Banyak yang nanya kapan ini ff berakhir, well… sepertinya kalian pengen ff ini cepat berakhir, jadi author mau mempercepat, mungkin satu atau dua chapter lagi dan END~~~
Buat yang nanya kapan Sequel My Wishes di luncurkan, mungkin setelah ff ini selesai. Dan ngomong – ngomong, di karenakan belakangan ini entah kenapa FFN kadang susah buat dibuka, author berencana pindah ke Wattpad.
Wattpad semacam FFN lagi cuman Wattpad punya aplikasinya sendiri, kalian bisa cari di play store –yang punya android- atau bisa langsung cari di google (www. wattpad user/Bunga_Juniar) (hilangkan spasi). Author berencana memposting Sequel My Wishes dan beberapa ff HunHan di sana, tapi entahlah… tergantung readers aja kalau setuju ya mungkin pindah._.v
But anyway, thanks buat yang udah baca, even for the sider, thanks guys! Tapi masih engga ngerti apa sulitnya memberikan sebuah komentar di kolom review dan TERIMA KASIH BANYAK BANYAK BANYAK untuk yang memberikan review dan segala komentar, masukannya.
I Love you guys so much much much.
Xoxo
