Ada beberapa beberapa pertanyaan yang author jawab, bisa di baca setelah cerita selesai. thanks^^

Sequel of I am a bad girl

Ooc, Gs, Typo(s), tidak sesuai EYD dll.

Ranted : T

Chapter : 10/11

It's HunHan Story.

.

Luhan tengah menggendong Jangmi sambil bersenandung pelan, membuat bayi itu melengkungkan sebuah senyuman, beberapa kali Luhan mengecup pipi putih Jangmi yang merona, menghirup aroma bayi yang menguar dari tubuhnya. Seseorang mengetuk pintu, membuat Luhan mendongakkan kepalanya. Dia menemukan Sehun tersenyum padanya. Pria itu berjalan ke arahnya.

"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Sehun sambil mengecup kening Luhan. Wanita itu tersenyum dan mengangguk pelan.

"Aku baik – baik saja." Jawab Luhan. Sehun tersenyum kearah jangmi dan mengecup sang bayi.

"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu." Ujar Sehun sambil duduk di samping Luhan. Dan tak lama kemudian seorang pria bertubuh tegap masuk bersamaan dengan sang ibu.

"Kau masih mengingatnya?" Tanya Sehun bangkit dan menatap ke arah pria itu.

"Joey?" Tanya Luhan ragu, dia pernah melihat pria itu sekali-dua kali saat mereka berada di London, pria itu adalah manager pribadi Sehun. Tubuhnya tegap, kulitnya putih dan rambut pirangnya selalu di sisir rapih. Matanya hijaunya bertemu dengan Luhan, pria itu tersenyum ramah dan mendekatinya.

"Remember me?" Tanya pria yang sekarang sudah berdiri di sisi lain kasur Luhan.

"Sure. Joey? Long time no see you." Ucapnya membalas senyuman pria itu. Joey menatap ke arah Jangmi dengan mata yang penuh dengan kilatan tertarik.

"She is so beautiful. Her name is Jangmi right?" Tanya Joey. Mendengar nama anaknya di sebut dalam aksen britis yang sangat kental membuat Luhan tersenyum dan menatap anaknya.

"Yeah. You wanna carry her?" Tanya Luhan. Pria itu membukatkan mata menatap ke arah Sehun sesaat.

"But-I never…"

"Come on, just try." Sela Sehun membuat Joey memutarkan bola matanya dan mencoba menggendong Jangmi. Tangannya sedikit kaku saat bersinggungan dengan Luhan, membuat wanita itu mengingat bagaimana kakunya dia saat pertama kali menggendong Jangmi.

"Oh my god. Please bless this beautiful girl." Ucap Joey saat Jangmi berada di tangannya. Luhan tau semorang pasti akan terpesona saat melihat Jangmi, walau dia masih seorang bayi.

"You wanna take a walk with her?" Tanya Yixing yang berdiri di samping Sehun.

"Are you sure?" Tanya Joey menatap ke arah Sehun dan Luhan bergantian.

"Sure. I also wanna talk to my wife." Jawab Sehun membuat Joey langsung mengangguk, dan menggumamkan sesuatu pada Jangmi yang terdengar seperti 'let's walk with uncle Joey.' Yixing tersenyum pada Luhan sebelum mengajak Joey keluar dari ruangan.

Dan disinilah mereka, berdua. Luhan dan Sehun, pria itu duduk di samping Luhan dan menaruh tanganya di kedua sisi Luhan agar pria itu semakin dengan dengan sang istri.

"Kapan terakhir aku memandangmu sedekat ini?" Gumam Sehun saat mata mereka bertemu, membuat semburat merah perlahan naik ke pipi Luhan.

"Sekarang aku terlihat berbeda bukan? Gendut." Ujar Luhan sambil menatap tubuhnya yang terbalut selimut. Tapi Sehun malah tertawa dan mengusak kepala Luhan dengan tangan sebelah kanannya.

"Kau masih terlihat secantik dulu, sayang. Tidak ada yang berubah." Ucap Sehun sambil mengusap pipi Luhan dengan ibu jarinya. Pria itu membawa dagu Luhan mendekat dan mengecup bibir pink yang dirindukannya. Untuk sesaat waktu terasa berhenti tapi sebuah pergerakan di lehernya membuat Sehun tersenyum dan lebih menekan bibirnya pada milik Luhan. Beberapa detik kemudian dia melepaskannya dan tersenyum sebelum mengecup pelan dan menatap Luhan.

"Kapan terakhir kau menciumku seperti ini?" bisik Luhan masih melingkarkan tangannya di leher Sehun. "Aku merindukanmu." Bisik Luhan dan menarik Sehun mendekat untuk sebuah pelukan hangat. Sehun mengecup pundak Luhan dan semakin mengeratkan pelukannya.

"Joey datang tidak hanya untuk melihat Jangmi bukan?" tanya Luhan sambil melepaskan pelukannya. Sehun menelusuri wajah Luhan dengan telunjuknya, mulai dari kening, turun ke pipi dan menyelipkan rambut Luhan di balik telinganya.

"Dia akan membawamu ke London?" tanya Luhan membuat mata mereka bertemu. Sehun menganguk sekilas dan Sehun melanjutkan perjalanan telunjuknya ke dagu Luhan, menusap rahang wanita itu sebelum kembali mendaratkan sebuah kecupan manis di bibirnya.

"Kapan?" bisik Luhan dengan nafas yan sedikit memburu.

Jujur saja Sehun tidak ingin membicarakan hal ini sekarang, ini terlalu pagi, tapi Luhan yang mengungkitnya sendiri. Sehun menghembuskan nafas panjang dan kembali memberi jarak antara mereka berdua.

"as fast as possible. I don't know, tomorrow? today? Or even now." Ujar Sehun.

Sang istri menghela nafas panjang, tapi dia tidak melepaskan kedua tangannya yang melingkar di leher Sehun. Wanita itu mengusap rambut Sehun pelan dan pipi tirus sang pria.

"Kalau begitu pergilah, mereka membutuhkanmu bukan?"

"Kau lebih membutuhkanku." Sela Sehun, tapi Luhan menggeleng sambil tersenyum.

"Ada eomma dan appa yang akan membantuku selama kau tidak ada." Ucap Luhan sambil menganggukkan kepala, meyakinkan Sehun. Wanita itu mendorong sedikit tubuhnya dan mengecup kening Sehun, kemudian kedua matanya, pipi sampai akhirnya pria itu kembali membuka mata.

"Kembalilah saat semuanya sudah selesai." Bisik Luhan sambil membawa pria itu kedalam dekapannya. "Kau bahkan bisa pergi hari ini, aku tidak apa – apa. Jangmi juga akan baik – baik saja." Lanjut Luhan masih berupa bisikan.

"Kau yakin? Bukannya kau belum bisa bangkit dari kasur?" tanya Sehun, tapi Luhan menanggapinya sambil berdecak lidah dan melepaskan pelukannya.

"Aku hanya harus kembali meregangkan kakiku sedikit dan kemudian aku bisa melakukan aktivitas seperti biasa." Jawabnya enteng dan kembali membaringkan tubuhnya di kasur.

"Baiklah, kau ingin aku mamnggil Joey dan Eomma?" Tanya Sehun langsung mendapat gelengan dari Luhan.

"Aku ingin bersamamu." Jawab Luhan manja dan menarik Sehun untuk berbaring di sampingnya. Sang suami terkekeh pelan dan melingkarkan tangannya di pinggang Luhan dan menarik wanita itu kedalam pelukannya.

"Bagaimana kau masih bersikap manja seperti ini saat kau sudah mempunyai seorang bayi cantik?" bisik Sehun di atas kepala Luhan membuat wanita itu semakin merapatkan tubuhnya.

"Aku tidak tau kau akan kembali atau tidak bukan?" Guman Luhan di dada lebar milik Sehun. Pria itu meregangkan pelukannya agar bisa menatap Luhan, wanita itu menatapnya dengan alis yang menaik. "Kita tidak akan tau apa yang di katakan wanita bernama Alice itu. Kau tau, dia bisa mengatakan kalau pria yang ada di foto itu adalah dirimu-"

"Luhan-"

"Tidak, Sehun. Aku percaya padamu, sungguh." Sela Luhan sambil memainkan kancing kemeja yang di gunakan Sehun. "Hanya saja kita tidak tau apa yang akan di katakan Alice pada media, mungkin di menginginkan sesuatu darimu, kita tidak tau. Kau bahkan belum bertemu dengannya secara langsung." Jelas Luhan tanpa bisa menatap langsung ke mata Sehun.

Tapi Sehun manangkup kedua pipi Luhan mempertemukan mata mereka. Sehun memperlihatkan senyumannya membuat jantung Luhan berdebar. Meskipun mereka sudah menikah dan meskipun Luhan sudah melihat senyuman itu beribu kali tapi jantungnya masih terus berdebar.

"Semua akan baik – baik saja." Bisik Sehun di sambut dengan angguka oleh Luhan.

"Aku tau, maka dari itu pergilah." Ujar Luhan mengusap pipi Sehun dan mengecupnya.

Luhan mungkin tidak tau apa yang akan terjadi jika Sehun pergi ke London dan bertemu dengan wanita bernama Alice itu, dia juga tidak tau bagaimana rumah tangganya akan berakhir, yang dia tau hanyalah dia percaya pada suaminya, dan dengan itu Luhan percaya semua akan baik – baik saja, harus baik – baik saja.

~Clarification~

Luhan sudah dibolehkan pulang ke rumah dan Joey harus menunggu sampai setidaknya mereka berada di rumah kedua orang tua Luhan sebelum dia bisa menyeret Sehun kembali ke London. Banyak paparazi yang mulai mengetahui keberadaan Luhan maka dari itu, Sehun dengan sembunyi – sembunyi membawa Luhan dan Jangmi kembali ke rumah orang tuanya tanpa di ketahui media.

Sehun tidak mau para media mengganggu kehidupan istrinya apalagi Jangmi kecil, dia tidak mau mereka merusak semua yang dia sudah bangun bersama Luhan. Dia tidak mau kehilangan keluarga kecilnya.

"Aku pergi." Ucap Sehun memeluk erat sang istri dan mengecup keningnya. Luhan mengangguk dan melepaskan pelukannya. Joey menghampirinya dan memeluk Luhan sebentar sebelum kembali melepaskannya.

"I'm gonna give Sehun back to you as fast as I can, and I promise." Ujar Joey sambil menelus pundak Luhan, wanita itu hanya tersenyum dan menggumamkan ucapan terima kasih sebelum matanya kembali bertemu dengan Sehun. Pria itu mengelus rambut Luhan sebelum mengikuti Joey keluar dari kamar. Luhan tersenyum sambil melambaikan tangannya dan bergumam tanpa suara.

"Everything is gonna be alright."

Dan kata itu yang membuat Sehun setidaknya bisa menghela nafas lega untuk beberapa saat.

~Clarification~

Sehun sudah sampai di London dari beberapa hari yang lalu, dia juga sempat bertemu dengan Alice karena mereka pernah mengadakan pertemuan tertutup yang tidak di ketahui oleh para media. Dan hari ini dia akan mengadakan konferensi pers di salah satu hotel terkenal di London.

Pria itu sudah siap dengan setelan berwarna putih yang rapih dengan sebuah dasi hitam yang melingkar di lehernya. Dia tengah menunggu di sebuah ruangan dengan Joey yang sibuk dengan sebuah laptop. Entah kenapa dia merasa sangat tegang. Joey menatap ke arahnya sebelum bangkit dan memegang pundaknya.

"Don't be nervous boy! You'll be alright." Ucapnya sambil berlalu dengan laptop di tangannya.

Joey mungkin bisa berkata seperti itu karena dia tidak merasakan bagaimana berada di posisinya, dia tidak merasakan bagaimana orang – orang akan berpikir tentang dirinya, Joey juga tidak akan merasakan bagaimana tatapan media saaat mata mereka bertemu. Dan hal itu semakin membuatnya gugup. Sebuah telphone masuk mengagetkan Sehun. Dia meraih ponselnya yang tergeletak dia tas meja dan melihat nama Luhan tercetak di sana.

"Hallo dear."

"Hallo, kau terdengar gugup Hun." Ujar Luhan membuat Sehun entah kenapa menarik bibirnya.

"Begitulah."

"Kapan acaranya di mulai?" tanya Luhan, terdenaru suara Jangmi yang sedang merengek dan kemudian di susul dengan suara eomma yang mencoba menenangkan.

"5 menit lagi, mungkin?" Ujarnya sambil menatap jam yang melingkar di tangan kirinya. Luhan terdengar menghembuskan nafas panjang sebelum kembali berujar.

"Kalau begitu kau harus siap – siap bukan? Aku hanya ingin tau keadaanmu dan ternyata kau terdengar gugup. Kau yakin akan baik – baik saja nanti?" Tanya Luhan dengan suara khawatir.

"Yeah… ku rasa. Mendengar suaramu… kau tau, suaramu membuatku lebih baik." Ujar Sehun sambil memejamkan mata, membayangkan senyuman Luhan dengan pipinya yang memerah.

"Baguslah. Hun aku harus menutup telphonenya, Jangmi menangis dan eomma mulai kerepotan."Ujar Luhan membuat Sehun menganggukan kepalanya.

"I'm gonna call you later. Tell Jangmi that her father miss her so much." Ular terkekeh pelan.

"Sure. I love you."

"I love you."

Tepat saat sambungannya terputus Joey memanggilnya untuk keluar dari ruang tunggu dan menghadapi media. Kegugupan Sehun kembali lagi, tapi setidaknya ini lebih baik. Dia terus melafalkan nama Luhan dan Jangmi dalam benaknya, sebelum dia melangkan keluar dari ruang tunggu.

~Clarification~

Saat Sehun berjalan menuju tempat duduk yang sudah di siapkan dengan sebuah meja panjang yang di lapisi kain putih yang menutupi hampir seluruh badan meja, diatasnya berjajar mic dari berbagai media dan detik berikutnya cahaya dari kamera para wartawan membidiknya. Sehun hanya berjalan lurus kedepan tanpa ada niatan untuk melirik ke arah salah satu kamera. Dia pernah mengalami hal ini sebelumnya, saat mengadakan konferensi pers untuk masalahnya dengan Luhan saat itu, satu tahun yang lalu mungkin tepatnya.

Sehun duduk di salah satu meja di samping Joey dan tak lama kemudian Alice datang dengan dress warna hitam yang mengkilap, semua mata langsung tertuju padanya. Wanita itu sama seperti dirinya, hanya berjalan lurus ke depan dan duduk di samping Sehun dan seorang wanita yang tak lain adalah managernya duduk di sisi lain, dan seorang pria dengan tampang pintar dengan sebuah kaca mata bertengger di hidungnya duduk di samping manager Alice. Alice berdeham pelan sebelum berbicara.

"Hari ini saya bersama Sehun akan mengkonfirmasi semua berita yang belakangan ini heboh di media." Alice menatap managernya sekilas.

"Pertama, saya ingin mengkonfirmasi saya tidak melarikan diri." Jelas Alice, wanita itu terdengar menjaga suaranya agar tidak meledak. "Sekali lagi saya menekankan saya tidak melarikan diri. Saya yakin satu pertanyaan yang langsung terbesit di benak kalian adalah kemana saya pergi selama ini?"

Semua orang disana hampir mengangguk dan mengiyakan. Alice menatap ke arah Sehun sekilas sebelum kembali menatap para wartawan di hadapan mereka.

"Saya pergi ke chicago." Ucapnya sambil menghenbuskan nafas panjang. "Nenek saya meninggal beberapa minggu lalu, dan saya pergi ke sana untuk menghadiri pemakamannya dan menghibur ibu yang terpukul, tapi beberapa minggu setelahnya, saya malah mendapat kabar dari manager saya bahwa di media beredar berita saya bersama Sehun."Jelasnya.

"Jujur saja saya sangat terkejut dengan pemberitaan media yang mengatakan kalau Sehun tidur dengan saya, di tambah lagi dengan beredarnya sebuah video yang memperlihatkan saya dan Sehun masuk ke dalam satu hotel yang sama, dan sebuah foto yang memperlihatkan Sehun tengan tidur disamping saya." Alice kembali menghela nafas, wanita itu terlihat sangat emoisi.

"Semua orang bisa lihat foto ini." Ucap Alice sambil menunjuk pada sebuah layar yang terpampang di sisi kanan ruangan. Di layar itu terlihat foto yang baru saja di bicarakan Alice. "Ini foto hasil rekayasa, karena ini foto sebenarnya." Ujar Alice, detik itu juga foto berganti, semua orang disana terkejut dengan sebuah foto yang sama, hanya saja laki – laki di foto itu bukanlah Sehun. Pria yang berada di samping manager Alice memperkenalkan dirinya sebagai Luke, dia seorang pakar telematika yang cukup terkenal di bidangnya. Dia menjelaskan bahwa foto Sehun bersama Alice adalah sebuah rekayasa, dia bahkan menunjukan bagian mana saja yang sanat mencurigakan dari foto tersebut membuat semua seorang di sana terkesiap.

"Ini adalah tunangan saya, Jason. Saya masih tidak mengerti bagaimana foto ini bisa beredar dan di edit seperti ini." Jelas Alice.

"Bagaimana dengan video yang memperlihatkan kalian masuk kedalam hotel yang sama?" Seseorang mengajukan sebuah pertanyaan yang membuat senyuman miring dari Alice terlihat.

Alice menyuruh managernya untuk memutar video yang di maksud oleh wanita itu sampai selesai sebelum dia menjawab.

"Di video ini hanya memperlihatkan kami masuk kedalam hotel yang sama, tapi tidak memperlihatkan kalau kami masuk kedalam kamar yang sama. Saat itu, aku dan Sehun berada di sebuah acara yang sama, kita sama – sama menjadi model sebuah peragaan busana. Dikarenakan acara selesai tengah malam, jadi sang desainer dengan baik hati menyewakan sebuah kamar untuk kami berdua, tidak hanya kami berdua tapi semua model yang bekerja sama dengannya, karena acara yang baru saja di gelar sukses besar. Saya yakin kalian tau akan hal itu."

"Saya dan Alice bahkan tidak pernah bertemu setelah acara itu selesai, hubungan kami hanya saat acara peragaan busana itu saja." Tambah Sehun yang di sambut dengan anggukan oleh Alice.

"Jadi sekarang semuanya sudah jelas bukan, atau masih ada pertanyaan lagi?" tanya Alice tak sabaran. Beberapa orang menujukan tangan membuat Alice menganguk dan membiarkan mereka bertanya.

"Bagaimana dengan pria itu? Maksud saya tunangan anda?" Tanya salah seorang wanita dengan rambut yang di semir warna merah.

"Jason dan aku hanya tertawa saat melihat foto dan video ini." Jelas Alice yang menahan tawanya. "Dia sendiri tau kalau pria di foto itu dirinya dan saya tidur sepanjang malam di sampingnya. Dia bahkan hadir di acara peragaan busana itu dan dia tau kalau saya dan Sehun bahkan tidak berbicara satu sama lain selama acara di gelar. Dan jujur saja Jason benar – benar tertawa." Lanjutnya.

"Lalu kenapa di akhir video anda keluar sendiri dan anda kelihatakan menangis? Apa sesuatu terjadi?" Tanya seorang pria dengan sebuah note di tangannya.

"Ya, dan sudah saya katakan dari awal, nenek saya meninggal. Saat pagi hari, mungkin sekitar jam 3. Ibu saya menelphone dia mengatakan kalau nenek saya kembali masuk ke rumah sakit dan dia juga mengatakan kalau penyakit jantung yang di derita nenek saya sudah tidak bisa di tolong. Tentu saja saya sedih, bahkan menangis. Saat itu juga saya lansung bergegas membereskan diri dan Jason mengatakan kalau dia mempunyai meeting, maka dari itu saya pergi sendiri untuk langsung tebang ke chicago." Jelas Alice. "Dikarenakan video yang heboh di media hanya potongan video saya dan Sehun jadi kalian tidka akan bisa melihat saat Jason masuk ke dalam hotel dan keluar, tapi jika kalian melihat versi asli kalian bisa melihatnya." Jelas Alice dan memutarkan sebuah video berdurasi 5 menit yang memperlihatkan Jason masuk dan keluar dari hotel tersebut.

"Ada pertanyaan lain?" tanya Alice.

"Saya ingin bertanya pada Sehun. Bagaimana keadaan dan kondisi istri anda, terakhir saya dengar kalau istri anda tengah mengandung."

Sehun menghela nafas sesaat sebelum menjawab.

"Luhan baik – baik saja, mungkin sekarang dia tengah menonton. Dan saya informasikan Luhan sudah melahirkan seorang bayi cantik bernama Oh Jangmi, mereka tinggal di rumah orang tua Luhan untuk sementara ini."

"Saya ingin menambahkan," Ujar Alice. "Saya ingin meminta maaf pada Luhan karena berita ini mungkin dia mengalami masa – masa sulit selama mengandung, sekali lagi saya minta maaf, dan juga saya ingin mengucapkan selamat atas kelahiran Jangmi kecil." Ucapnya sambil menatap Sehun, sedangkan sang pria hanya tersenyum tipis.

"Bagaimana dengan orang yang menyebarkan berita palsu ini? apa kalian akan mengajukan tuntutan?" tanya salah seorang wartawan. Alice dan Sehun bertatapan sesaat sebelum Sehun menengakan badan dan berdeham pelan.

"Saya dan Alice sudah setuju kalau kita akan mencari orang yang menyebarkan dan mengedit foto ini."

"Saya akan mengurus semuanya." Tambah Alice. "Saya benar – benar tidak bisa menerima pada siapapun orang yang suah menyebarkan berita ini di media. Tadinya Sehun mengatakan kalau dia tidak akan mengajukan tuntutan atau apalah. Tapi saya sangat tidak bisa menerima karena siapapun orang yang telah menyebarkan berita ini, jelas – jelas membuat sebuah pencemaran nama baik." Ujar Alice mulai bernafsu. Manager di sebelahnya hanya mencoba untuk menenangkan wanita itu.

~Clarification~

Sehun dan Alice tengah berada di sebuah ruangan yang tadi sempat di gunakan Sehun, mereka tengah mengobrol dengan Joey, manager Alice yang di ketahui namanya adalah Ann dan beberapa orang lainnya. Alice tengah mengoceh bagaimana bingungnya dia saat masalah ini mucul di media dan bagaimana sikap Jason yang hanya tertawa saat mereka membicarakan masalah ini.

Alice memaksa untuk berbicara dengan Luhan karena dia ingin menyampaikan rasa maafnya pada wanita itu, walau Sehun yakin sekali Luhan sudah memaafkannya.

"Oh Come on Sehun, I wanna talk with her. I wanna see your daughter too." Rayu Alice yang membuat Sehun akhirnya memgeluarkan ponsel dan menyambungkannya pada Luhan.

Pria tu menunggu sampai dilayarnya mucul wajah sang istri, dan tak lama kemudian Sehun melihat wajah istrinya memenuhi layar.

"Hallo." Ucap Sehun sambil tersenyum melihat wajah Luhan yang berseri. "Kau melihat konferensi pers yang baru di adakan?" Tanya Sehun.

Luhan menarik bibirnya semakin lebar dan mengangguk.

"Aku mengerti apa yang sebenarnya terjadi, kadang media memang membutuhkan berita untuk di jadikan makanan publik bukan?" tanyannya sambil terkekeh pelan.

"Ya, dan seseorang ingin bertemu denganmu." Ucap Sehun membuat kening Luhan terlihat berkerut dan Sehun mengeser ponselnya agar Alice yang duduk di sampingnya terlihat oleh Luhan.

"Oh my god." Ujar Alice sambil menutup mulutnya. "Hallo." Sapanya agak sedikit gugup.

Luhan tersenyum dan membalas sapaannya. "Sehun, are you sure she is your wife?" Tanya Alice pada Sehun, membuat pria itu mengangguk sambil menghembuskan nafas. "I'm sorry." Ucap Alice kembali menatap layar. "I mean you're so beautiful, I have seen you once on television but you're getting beautiful you know, how could you married someone like Sehun?" Kemudian kedua wanita itu tertawa sedangkan Sehun hanya menghembuskan nafas panjang.

"I actually don't know who can I married with someone like him." Ucap Luhan sambil tertawa.

"Hey, I almost forget, I wanna say sorry. You know this fucking news and…"

"It's okay Alice. Don't say sorry, it's not your fault. It's okay." Sela Luhan dan Alice terlihat seperti akan menangis.

"You're one of amazing girl I ever met. You know, you still with him and in love with him however this fucking news… you know. I just wanna say you're amazing." Ucap Alice kemudian wanita tu menatap Sehun.

"You got the jackpot!" Ucap Alice sambil tertawa.

"Luhan, I thought you're gonna hate me because of this news, but when I heard you talk with Sehun, you're definitely such a good wife and mother. I'm envy you." Ujar Alice kembali memalingkan wajahnya pada Luhan.

"Oh, Alice, thanks but I'm not as good as you think, I'm just…"

"I know." Sela Alice yang tidak mau mendengar Luhan yang merendah. "Can I see Jangmi?" Tanya Alice dengan mata yang berbinar.

"Sure. Sehun probably wanna see her too." Ucap Luhan kemudian layar terlihat bergerak karena sepertinya Luhan berjalan. Tapi tidak lama kemudian wajah Jangmi terlihat. Dia sedang tidur di pangkuan sang nenek.

"She is sleeping." Bisik Luhan menjauhkan ponselnya agar wajah dia terlihat. Wajah Alice benar – benar berbinar saat melihat Jangmi.

"She is so beautiful. She definitely looks like you, Luhan." Ucap Alice ikut berbisik. Sehun hanya menatap Jangmi kecil yang terngah tertidur, dia benar – benar rindu dengan bayi mungilnya itu. "What's the meaning of her name? Jangmi?" Tanya Aice pada Sehun.

"Rose. Because she looks like a rose." Jawab Sehun singkat dan Alice kembali mengalihkan perhatiaanya.

"Such a beautiful name. I'm gonna send her a present. Just wait okay little Jangmi." Ucapnya sambil terkekeh pelan. Dia menatap ke arah Ann yang melambaikan tangannya pelan dan berbicara tanpa suara kalau mereka harus segera pergi.

"My manager told me that I should go. Nice to know you, Luhan. See you later Jangmi. Bye." Ucap Alice sambil melambai.

"Nice to know you too. Bye."

Sehun melambaikan tangan pada Alice dan kembali menatap Luhan. Pria itu tersenyum lebar dan menungu Luhan untuk menjauh dari Jangmi sebelum kembali berujar.

"Dia tidak seperti yang aku bayangkan." Ujar Luhan sesaat setelah duduk di sofa. "Aku pikir dia… kau tau." Sehun langsung mengangguk.

"Aku juga berpikir hal yang sama, tapi ternyata dia memang wanita yang menyenangkan." Ujar Sehun sambil menghembuskan nafas panjang, dia tidak bisa melepaskan pandangannya dari Luhan. "Aku benar - benar sudah lega sekarang." Lanjut Sehun sambil menyunggingkan sebuah senyuman membuat Luhan mau tidak mau ikut tersenyum.

"Kapan kau akan pulang?" Tanya Luhan, wanita itu telihat berharap. Sehun tersenyum dia berharap dia bisa memeluk istrinya saat itu juga.

"Setelah semua selesai, aku akan mengambil cuti, kau tau aku butuh waktu untuk menenangkan diri dan menghabiskan waktuku bersama Jangmi dan Kau." Jawab Sehun membuat sebuah kenkungan di bibir Luhan.

"Kau masih mempunyai banyak waktu untuk itu, Jangmi bisa menunggu ayahnya." Ujar Luhan masih dengan sebuah senyuman di bibirnya. Dan jika semakin lama dia melihat senyuman itu, semakin Sehun ingin kembali ke Korea dan memeluk istrinya tercinta itu.

"Tapi kau tidak bisa menunggu." Sela Sehun sambil terkekeh. Luhan memutarkan bola matanya tapi dia tertawa.

"Tidak, aku bisa menunggu. Aku hanya ingin kau menyelesaikan pekerjaanmy tanpa terburu – buru, aku tidak mau mendengar kau tidak tidur, tidak makan karena ingin menyelesaikan pekerjaanmu." Ucap Luhan dengan wajah sok serius membuat Sehun ingin sekali tertawa.

"Baiklah, tunggu aku kembali okay?"

"Sure. Love you."

"Love you more."

.

.

.

To Be Continued

Sorry guys, aku tau updatenya lama banget. Ini di karenakan author sedang depresi. Lol. But seriously yeah I am. Collage thingy. Tapi sekarang author sudah lebih baik, walau sebenernya belum pulih. Author engga gila kok atau kayak semacam punya penyakit kejiwaan. Lol. Engga kok, cuman lagi stress aja, lebih suka menghabiskan waktu untuk membenahi hidup dan lain lain. Di tambah lagi kemarin author kembali tepar karena penyakit lama kambuh *ini curhat atau apa?

Okay. Author akan menjawab beberapa pertanyaan yang masuk di review.

Author kenapa harus pindah?

Aku engga pindah, cuman bakal post di Wattpad juga. Kalau emang author ga bisa post di ffn, author bakal post disana, tapi author bakal post di dua tempat itu kok. Untuk yang engga pake android masih bisa buka wattpad kok, coba aja deh ^^

Buka di opera juga bisa kok.

Sayang, buka di opera emang bisa, tapi cuman bisa buat review dan baca doang, kalau buat post engga bisa ^^

Kok cepet gini endingnya?

Dear… katanya kalau kepanjangan kayak My Wishes di kira sinetron u.u

Untuk HchY-nim. Terima kasih masukannya, aku udah ganti, thank you so much dear ^^

Untuk pertanyaan yang belum terjawab kalian bisa mention saya atau kirim saya PM. Terima kasih atas penantian panjangnya. Maafkan author karena lama sekali updatenya. Maafkan author juga karena tidak bisa menyebutkan satu persatu dari kalian yang udah review. Pokonya thank you so so so so much guys!

Thanks for reading my story and please give me a review ^^