Sequel of I am a bad girl
Ooc, Gs, Typo(s), tidak sesuai EYD dll.
Ranted : T+
Chapter : 11/11 the last chapter
It's HunHan Story.
.
This chapter special for my lovely friend, Sehyun-sii.
Here we go dear
.
5 tahun kemudian.
Luhan tengah menggendong Jangmi sedangkan Sehun mendorong sebuah troli yang di tumpuki koper – koper, kebanyakan dari isi koper itu adalah milik Jangmi. Mereka memutuskan untuk pindah ke London setelah berbicara dengan kedua orang tua Luhan dan Sehun serta Jangmi. Anak mereka bahkan tidak sabar untuk pergi ke London.
"Eomma kapan kita pergi ke taman bermain?" tanya Jangmi sambil melingkarkan tangannya di leher Luhan dengan sikap manja. Sang ibu menatap suaminya sambil tersenyum dan mengelus rambut Jangmi.
"Sesegera mungkin." Jawab Luhan singkat.
Banyak sekali orang yang menyambut kedatangan mereka, sebenarnya mereka menyambut kedatangan Sehun. Walau pria itu sudah menikah dan memiliki seorang anak tapi masih banyak fans yang mencintainya dan mereka tetap menyambut Sehun di bandara seperti biasa. Sehun tersenyum kepada para fans sedangkan Luhan hanya berjalan disampingnya sambil menundukan kepala. Jangmi hanya bisa melingkarkan tangannya di leher sang ibu dan menatap malu – malu ke arah orang – orang dengan kamera itu.
"Joey!" Teriak Sehun membuat seorang pria yang tak lain adalah managernya melambaikan tangan. Jangmi langsung mendongakan kepalanya menatap ke arah pria yang kini tersenyum padanya. Tangan kecilnya melambai pada Joey dengan girang.
"Uncle Joey!" Teriak Jangmi sambil berlari ke arah pria itu. Joey tertawa sambil menggendong Jangmi. "Long time no so you uncle." Ucap Jangmi sambil memeluk Joey yang hanya tertawa.
Mereka memang sangat dekat di karenakan setiap Sehun pulang ke Korea Joey selalu menemaninya, dia juga selalu membawa beberapa hadiah untuk diberikan pada Jangmi, membuat gadis kecil itu dekat dengan pamannya.
"Long time no see you too little girl." Ucap Joey sambil tersenyum.
Luhan dan Sehun mengikuti dari belakang, mereka langsung keluar dari bandara karena fans yang datang semakin banyak membuat situasi di bandara semakin ricuh. Mereka masuk kedalam mobil, Jangmi dan Luhan duduk dibelakang sedangkan Sehun dan Joey duduk didepan, dengan sang manager yang mengemudikan mobil.
"Jadi kalian benar – benar akan tinggal disini?" Tanya Joey sambil mengemudikan mobilnya menembus jalanan macet kota London. Sehun menengok kebelakang menatap Jangmi dan Luhan.
"I guess we are." Jawab Sehun membuat menampakan senyuman tipisnya.
.
Tidak lama kemudian mereka sampai di apartemen yang selalu Sehun gunakan jika dia berada di London, apartemen ini juga yang dia gunakan saat kembali bertemu dengan Luhan dan memaksa wanita itu untuk tinggal bersamanya sampai mereka akhirnya menjadi sepasang suami istri.
Joey dan Jangmi berjalan didepan mendahului Sehun dan Luhan, sedangkan mereka berjalan dibelakang sambil menatap ke sekeliling apartemen, tangan Sehun melingkar di pinggang Luhan.
"Sudah lama sekali." Gumam Luhan sambil menatap Sehun. Pria itu mengecup pipi Luhan dan membawa wanita itu semakin merapat ke tubuhnya.
"Hampir 5 tahun. Kau pasti merindukan London." Ujar Sehun yang disambut dengan helaan panjang dari Luhan.
Jujur saja, wanita itu memang sangat merindukan London, karena hampir seluruh masa remajanya dia habiskan di kota yang cantik ini. Dia rindu dengan London eyes, thames river, Big band, semua bangunan bergaya victoria yang tidak bisa ditemuinya di Korea dan segala hal yang bersangkutan dengan London termasuk…
"You miss bar?" Bisik Sehun membuat tubuh Luhan sedikit kaku. Ucapan Sehun terdengan lebih seperti ungkapan daripada pertanyaan. "Kita akan pergi malam ini jika kau mau." Lanjut Sehun saat melihat wajah Luhan yang terlihat murung.
"Tidak. Aku tidak mau Jangmi…"
"Dia akan bersama Joey." Sela Sehun cepat. Dia melihat Luhan menghela nafas panjang dan terlihat berpikir. "Hanya mengunjungi bos mu saja Lu. Kau rindu dia bukan?" tanya Sehun sambil mengusap lengan Luhan dan membawa wanita itu memasuki lift.
Sehun tersenyum pada Jangmi yang tengah tertawa karena celotehan yang di keluarkan Joey. Dia membawa Luhan ke sudut ruangan dan tanpa melepaskan tangannya dia menggeser tubuh Luhan untuk semakin merapat. Dia masih ingat dengan ketakutan Luhan akan menaiki sebuah lift dan sampai sekarang wanita itu masih takut, walau kadang Luhan menyembunyikannya dan bekata kalau dia baik – baik saja tapi Sehun tidak melihat kalau Luhan baik – baik saja disetiap kali mereka menaiki lift.
"Aku baik – baik saja Hun." Bisik Luhan dengan pelan mencoba agar tidak terdengar oleh Jangmi ataupun Joey yang berdiri didepan mereka. Pria itu kembali mengusap tangan Luhan.
"Aku tidak bisa melihat apa yang baru saja kau katakan. Apa kita harus pergi ke tempat terapi untuk menyembuhkan ketakutanmu itu, hmm?" Tanya Sehun yang langsung di sambut dengan gelengan oleh Luhan.
"Tidak, biarkan seperti ini. Mungkin jika nanti aku sembuh aku tidak akan pernah bisa merasakan pelukan ini lagi." Jawab Luhan sambil mengandarkan kepalanya ke pundak Sehun.
Mereka berdua terdiam untuk beberapa saat dan hanya mendengarkan celotehan lucu dari Joey dan suara tawa Jangmi yang lucu. Sampai tidak lama kemudian mereka tiba di lantai tempat dimana apartemen Sehun berada.
"Appa, ini benar – benar akan menjadi rumah kita?" tanya Jangmi sambil mendongak kebelakang menatap sang ayah saat mereka masuk.
"Tentu saja, sayang. Kau suka?" Tanya Sehun.
Jangmi memekik kegirangan dan turun dari gendongan sang paman untuk berlarian kesana kemari melihat rumah baru yang akan dia tempati. Anak itu berjalan ke sebuah jendela besar dari kaca yang langsung mengarah ke bagian jalan.
"Kapan kita jalan – jalan?" Tanya Jangmi sambil berlari pada sang ayah. Sehun tertawa sambil menyambut anaknya itu. Dia menggendong Jangmi dan membawa anak itu menatap jalanan siang kota London.
"Kau ingin pergi jalan – jalan?" tanya Sehun.
"TENTU SAJA." Jawab Jangmi dengan girang.
"Kenapa kau tidak mengajak Paman Joey?" Tanya Sehun sambil menatap Joey yang langsung mengibaskan tangannya tanda kalau dia menolak. Jangmi yang melihat itu langsung menampakan ekspresi murung.
"Joey Ahjussi tidak mau jalan – jalan bersama Jangmi." Rengeknya dalam bahasa Korea yang membuat Joey tidak mengerti. Jangmi bersembunyi di leher sang ayah, sementara Sehun menerjemahkan apa yang baru saja diucapkan oleh anaknya.
"Fine." Desah Joey sambil berjalan ke arah Jangmi dan membawa anak itu kedalam gendongannya. Jangmi kembali memekik kegirangan dan membiarkan paman Joey yang menggendongnya.
"where do you want to go, hm?" Tanya Joey.
"Amusement park."
Joey menghela nafas panjang berpura – pura kalau dia tidak akan suka membuat Jangmi merengek dan menunjukan matanya yang berkilau seperti yang dimiliki sang ibu.
"Oh come on uncle Joey. I want to go to amusement park. Please. Mom and dad will be with us too." Rengek Jangmi dalam gendongan.
Sementara Jangmi yang terus merengek. Luhan berjalan ke dapur dan membuat sebuah teh untuk semua orang yang tengah mengumpul ke ruang keluarga. Tapi tiba – tiba saja Sehun datangan dan melingkarkan tangannya di pinggang Luhan, membuat wanita itu terkejut.
"Lepaskan Hun, bagaimana jika Joey dan Jangmi melihatnya?" Tanya Luhan dengan tangan yang sibuk membuat teh.
"Biarkan saja." Jawab Sehun semakin mengeratkan pelukannya. "Oh Tuhan, aku rindu sekali padamu." Lanjutnya membuahan kekehan dari Luhan. Wanita itu membalikan tubuhnya dan mengecup pipi Sehun sebelum melepaskan pelukan sang pria dan membawa sebuah nampan dengan 4 teh diatasnya.
"Tea." Teriak Luhan membuat Jeoy dan Jangmi yang tengah bercanda langsung melirik kearahnya. Jangmi berlari kecil kearah ibunya, sedangkan Jeoy mengikuti gadis itu dari belakang.
"Jadi kalian sudah memutuska akan pergi kemana?" tanya Luhan sambil mendudukan Jangmi di pangkuannya. Dia menyerahkan sebuah cangkir kecil kepada Jangmi.
"Aku ingin pergi ke taman bermain." Jangmi langsung mengusulkan, sedangkan Joey menggeleng sambil bergumam tak jelas. Luhan dan Sehun hanya tertawa.
"Tidak hari ini okay?" Ucap sang ayah sambil mengusak kepala Jangmi.
"Tapi-"
"When I said no, so no." Sela Sehun cepat membuat Jangmi mengerucutkan bibirnya.
Luhan mengecup pucuk kepala sang anak dan membelainya sayang. Luhan mengusulka untuk pergi ke pusat kota dan berjalan – jalan. Joey langsung menyerujuinya, karna dia tau jika mereka pergi ke sana, dia tidak akan terlalu kehabisan tenaga menemani Jangmi berjalan kesana kemari. Kadang Joey bertanya pada Sehun, apakah dia seorang manager atau pengasuh tapi modelnya itu hanya menjawabnya dengan sebuah tawa dan 'Aku tau kau menyukai anak – anak, jadi tidak ada salahnya bukan menjaga Jangmi.' Dan Joey pun tidak bisa menyangkal untuk yang satu itu.
Untuk beberapa jam kemudian, mereka duduk di ruang tamu membahas tentang banyak hal dan Jangmi selalu menjadi pembicara yang baik. Dia terus berceloteh dalam bahasa inggris yang terdengar lucu. Kadang Joey tertawa dengan apa yang dicuapkan Jangmi, karena jujur saja tidak ada yang bisa menahan tawanya setiap kali Jangmi berucap dengan aksen korea yang lucu.
"Kapan kita pergi?" tanya Jangmi mulai merengek pada ibunya.
"Sehun." Ucap Luhan pada sang suami yang duduk disampingnya.
"Okay dear. Let's go." Ucap Sehun sambil bangkit dari sofa membuat Jangmi memekik kegirangan dan turun dari pangkuan sang ibu.
.
Sepanjang jalan tidak jarang orang – orang memperhatikan mereka berempat, tapi tidak ada satu orang yang berani mendekat apalagi menyentuh mereka. Sehun tidak perduli dengan tatapan itu, karena mereka sudah mulai terbiasa, termasuk Luhan. Bertahun – tahun menjadi istri seorang model terkenal membuatnya terbiasa ditatap oleh orang – orang bahkan tak jarang mereka juga berbisik – bisik tertang dirinya. Sedangkan sang gadis kecil, dia tidak terlalu memperdulikan apa yang ada disekitarnya, karena sekarang Joey tengah menceritakan sebuah kejadian lucu pada Jangmi yang membuat gadis kecil itu tertawa.
Sehun dan Luhan berjalan di belakang, tangan Sehun melingkar di pinggang Luhan sedangkan tangan sang istri melingkar di pinggang Sehun. Mungkin banyak sekali orang yang iri terhadap mereka, apalagi jika dilihat, pasangan ini sering sekali dibicarakan sebagai pasangan yang romantis, karena publik mengetahui kisah cinta mereka yang berliku – liku. Tapi tidak jadang orang yang berpikir kalau mereka hanya membuat cerita sendiri –settingan- hanya untuk menambah pamor Sehun sebagai model.
Tapi jujur saja Sehun tidak perduli apa kata orang, terlebih lagi Luhan, dia sudah cukup berpengalaman dengan gunjingan dan segala sesuatu mengenai hal itu. Pengalaman dia saat masih bekerja di bar sudah cukup memberi dia pelajaran, mungkin hal itu menjadi salah satu hal positif yang bisa dia ambil dari kehidupannya saat sebelum bertemu dengan sang suami, Oh Sehun.
"Kau rindu London bukan?" Bisik Sehun membuat Luhan tersenyum dan mendongakan kepala menatap langit.
"Ya." Jawabnya singkat sambil menatap Sehun dan menyandarkan kepalanya pada pundak sang pria.
Jangmi terlihat merengek pada Joey untuk masuk ke sebuah tempat yang penuh dengan boneka. Joey tidak bisa berkata apa – apa selain mengikuti gadis kecil itu. Luhan dan Sehun hanya tertawa dan mengikuti mereka masuk.
Jangmi langsung turun dari gendongan dan berlari untuk mencari boneka yang dia inginkan membuat Luhan refleks langsung berlari menyusulnya, naluri seorang ibu. Sedangkan Sehun menghampiri Joey yang menatap Jangmi sambil bercekak pinggang.
"Kau tidak keberatan membawa pulang Jangmi setelah makan malam?" tanya Sehun membuat Joey langsung menatap kearahnya.
"Kau dan Luhan akan pergi kesuatu tempat? Berduaan?" Goda Joey membuat Sehun tertawa. Dia menatap Luhan yang tengah menggendong Jangmi dan berkeliling untuk mencari boneka yang diinginkannya.
"Aku ingin membawa Luhan ke bar." Ujarnya membuat Joey terkejut. "Aku tau Luhan rindu dengan tempat itu, walau dia tidak berkata apa – apa, tapi aku tau. Dia rindu pada bosnya mungkin dia juga rindu pada suasana bar. Kau tau benar kalau Luhan menghabiskan banyak masa remajanya untuk bekerja disana." Lanjut Sehun menatap sang manajer yang berada di sampingnya.
Joey mencoba membuka mulut tapi tidak ada suara yang keluar. Sehun dibuat tertawa karenanya. "Kau terlihat bodoh seperti itu Joey." Cetus Sehun membuat pria itu meninju Sehun cukup keras.
"Bro, walau kadang kau menyebalkan dan membuatku harus menjadi pengasuh anakmu, tapi kau memang ayah dan suami yang baik." Ucap Joey sambil menepuk punggung Sehun membuat pria itu tertawa pelan.
"Jadi itu artinya kau akan menjaga Jangmi selama aku dan Luhan pergi."
Joey langsung melepaskan tangannya dari pundak Sehun dan meringis pelan. Dia melipat tangannya di dada dan menggeleng.
"Kau selalu memberikanku satu pilihan man." Ujar Joey sambil menghembuskan nafas panjang.
Sehun menepuk punggung pria itu sambil bergumam terima kasih. Dia menghampiri Luhan dan Jangmi yang berdiri di sebuah boneka mickey mouse yang berukuran cukup besar. Saat sadar sang ayah ada di dekatnya Jangmi langsung meminta pada sang ayah untuk dibelikan boneka itu. Sehun mengangguk membuat Jangmi langsung kegirangan.
Tak lama kemudian mereka keluar dari toko tersebut dengan Jangmi yang memeluk boneka besarnya, Luhan sudah berusaha membujuk anak itu untuk memberikan bonekanya karena dengan memeluk boneka seperti itu, cara berjalan Jangmi sedikit oleng dan membuat Luhan khawatir. Wanita itu menatap sang suami sambil menghela nafas panjang, meminta bantuanya. Sehun menghembuskan nafas panjang dan menghentikan langkah Jangmi.
"Biar eomma yang membawakan bonekamu, okay?"
"Appa tapi-"
"Say yes or you'll lose your mickey." Sela Sehun membuat Jangmi langsung mengangguk dan memberikan boneka itu pada sang ibu. "Good, come to appa my little deer." Lanjut Sehun sambil menggendong Jangmi. Gadis itu menatap bonekannya sesaat sebelum melingkarkan sebelah tangannya di leher sang ayah.
"Apa yang kau inginkan untuk makan malam kita?" Tanya Sehun pada sang gadis kecil.
Jangmi terlihat berpikir sesaat sambil menatap jalanan kota London di tengah malam. Jangmi mengatakan kalau dia akan memakan apapun untuk hari ini karena sang ayah sudah membelikannya sebuah boneka. Akhirnya Sehun memilik sebuah restoran yang tidak jauh dari pusat kota.
Mereka menghabiskan makan malam mereka dengan Joey yang bercerita semua hal – hal lucu saat dia menjadi manager Sehun, kadang Jangmi tertawa atau kadang juga memukul Joey karena pria itu meledek sang ayah dan Joey akan pura – pura kesakitan membuat gadis kecil itu tertawa.
"Kau akan pulang bersama paman Joey, eomma dan appa harus pergi ke suatu tempat." Ucap Sehun setelah mereka menghabiskan semua santapan makan malam.
"Apa aku tidak bisa ikut?" Tanya Jangmi dengan mata yang sama persis seperti Luhan ketika wanita itu tengah merajuk. Sehun hanya bisa menghela nafas dan mengusak rambuk Jangmi.
"Bukankah ada mickey yang akan menemanimu? Appa dan Eomma tidak akan lama." Jawab Sehun sambil menyerahkan boneka itu pada Jangmi. "Okay?" Tanyanya sekali lagi. Jangmi mengerucutkan bibirnya, merajuk.
"Eomma akan membelikan ice cream untukmu besok, okay?" tanya Luhan yang langsung membuat mata anaknya berkilat. Tidak butuh waktu lama untuk Jangmi menyetujuinya. Gadis itu memeluk boneka besar itu erat dan menatap Joey.
"Uncle Joey, kau harus datang ke acara minum teh aku dan Mickey malam ini." Ujar Jangmi membuat Joey menghela nafas panjang.
"Oh, jangan lagi." Ucapnya sambil mengelus wajah. Bukan tidak mau, Joey pernah datang ke acara minum teh yang dibicarakan Jangmi, dan dia berakhir dengan duduk di kursi kecil bersama kumpulan boneka dan berpura – pura berbicara dengan mereka. Tapi Joey tidak akan pernah bisa menolak apapun yang dikatakan Jangmi, bukan hanya Joey sebenarnya, tapi semua orang yang berada di samping Jangmi tidak akan pernah bisa menolak apapun yang ingin dilakukannya. Dan itulah apa yang dia dapatkan dari sang ibu.
"Kalau begitu, kau bisa pulang sekarang, bermain dengan mickey dan paman Joey dan setelah itu pergi ke tempat tidur. Okay?" Ucap Sehun.
.
Sehun dan Luhan mengantar Joey dan Jangmi ke tempat di mana mereka memarkirkan mobil. Dan mengecup Jangmi sambil mengucapkan selamat malam. Luhan dan Sehun menaiki sebuah taksi untuk datang ke bar. Semakin dekat mereka menuju bar, semakin Luhan ragu. Entah kenapa Luhan merasa kalau dia harus berbalik dan tidak mengunjungi bar. Dan jantungnya bergemuruh saat mereka sampai di hadapan bar.
Sehun menariknya keluar dan merangkul wanita itu sebelum mereka masuk, tapi tiba – tiba saja Luhan menghentikan langkahnya. Dia menatap Sehun dan keraguan benar – benar menyelimutinya.
"Kita lebih baik tidak mengunjungi bar Hun, aku tidak mau kalau kau masuk ke dalam berita dan apalah." Ujar Luhan membuat yang suami tersenyum. Pria itu mengelus pipi Luhan dan menggenggam ke dua tangannya mencoba menenangkan.
"Kita akan baik – baik saja. Jangan terlalu khawatir seperti ini." Ucap Sehun sambil kembali merangkul Luhan dan membawa wanita itu masuk.
Tempat itu masih sama seperti terakhir kali Luhan lihat, mungkin hanya ada beberapa meja tambahan di sebelah kiri ruangan dan beberapa tiang tambahan. Luhan menghela nafas saat semua ingatannya kembali. Seseorang memanggil namanya membuat Luhan mendongak. Dia adalah salah satu penari di tempat ini, Luhan biasa memanggilnya dengan Flo.
"Oh Tuhan, kau benar – benar Luhan?" tanya wanita itu sambil menghampiri. Sepertinya wanita itu baru saja datang untuk tampil dia atas panggung. Luhan bisa mengetahui hal itu, karena Flo masih menggunakan baju waras, layanya seorang wanita biasa.
"Ya begitulah." Jawab Luhan sambil memeluk wanita di hadapannya itu.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Flo sambil menatap ke arah Sehun sesaat.
"Aku hanya ingin menunjungi tempat ini. Sudah lama sekali bukan?" Tanyanya disambut dengan anggukan oleh Flo.
"Aku harus cepat – cepat mengganti baju, kau tau…" Ucap Flo tidak meneruskan kalimatnya takut – takut Sehun yang sedari tadi berada di sampingnya tersinggung.
"Tentu, tapi sebelumnya aku ingin mengenalkan dia." Ucap Luhan sambil melingkarkan tangannya di pinggang Sehun. "Kau sudah pasti mengenalnya bukan?" tanya Luhan dan Flo hanya tertawa sambil mengulurkan tangannya.
"Tentu saja. Sehun, model terkenal yang sekarang sudah menjadi suamimu." Ujar Flo membuat ke tiga orang itu tertawa.
Setelah mereka berbincang dengan waktu yang cukup singkat, seseorang memanggil Flo untuk ke belakang panggung dan bersiap – siap. Sebelum wanita itu pergi, dia mengatakan kalau dia akan mencari sang bos untuk bertemu dengan Luhan.
Mereka akhirnya memutuskan untuk duduk di samping ruangan, menjauh dari panggung yang sebentar lagi akan di sesaki banyak pengunjung. Mereka memesan segelas cocktail.
"Luhan." Seseorang memanggilnya dengan suara khas yang tak asing lagi di telinga Luhan.
Itu sang bos, dia berjalan menghampiri Luhan dan memeluknya dengan erat membuat Luhan hampir tidak bisa bernafas. Tapi Luhan senang, sudah lama sekali dia tidak bertemu dengan pria bertubuh tambun ini.
"Sudah lama sekali aku tidak bertemu denganmu." Ucap pria itu sambil melepaskan pelukannya. Luhan yang tersenyum dan kembali duduk di kursinya. Tak lupa juga sang boss menyapa Sehun yang duduk di sana sambil tersenyum ke arah mereka.
"Kau benar – benar terlihat berbeda sekali." Ujar sang bos yang ikut bergabung dengan mereka.
"Tentu saja, sekarang aku sudah memiliki seorang anak." Ucap Luhan sambil tersenyum bahagia.
"Oh ya, aku sudah mendengarnya, jadi dimana dia sekang?"
"Bos, kita tidak mungkin membawanya ke sini." Ucap Luhan sambil menggeleng dan Sehun hanya tersenyum tipis.
Dan kemudian mereka membiacarakan banyak hal, kadang Sehun menimpal dan memberikan tanggapan tentang apa yang di katakan istrinya ataupun pria yang di panggil Luhan dengan bos itu. Mereka menghabiskan waktu berjam – jam sampai akhirnya Sehun merasa kalau ini saatnya untuk pulang. Joey pasti sudah kelelahan menjaga Jangmi.
Luhan mengatakan kalau mungkin dia akan jarang sekali mampir kemari karena dia harus menjaga Jangmi, tapi sang bos mengatakan kalau mereka bisa bertemu di tempat lain, karena pria itu juga ingin melihat Jangmi secara langsung. Sehun tidak keberatan dengan hal itu, Luhan sudah menjadi seorang ibu, dia tau mana yang baik untuk dilakukan.
.
Mereka sampai di apartemen setengah jam kemudian. Joey sedang menonton televisi dengan kaki yang di angkat ke meja. Joey menengok ke arah mereka dan menguap lebar – lebar.
"Kalian sudah membuatku menjadi pengasuh Jangmi seharian. Kau atau aku juga butuh di bayar untuk itu." Keluh Joey sambil bangkit dan meraih jasnya.
"Sehun akan mentraktirmu makan selama seminggu." Ucap Luhan sambil menepuk sang pria sebelum dia melenggang, pergi ke dapur.
"Sehun! kau mendengar apa yang dikatakan istrimu barusan bukan?" Tanya Joey dan Sehun hanya tertawa.
"Baiklah. Kau juga bisa mengajak pacarmu kalau mau." Dan Joey hanya mengacungkan jari tengahnya sambil berjalan menuju pintu tapi sebelunya Luhan memberikan pria itu makan malam untuk di bawa pulang ke rumah, wanita itu juga tidak lupa mengucapkan terima kasih dan selamat malam.
Luhan berjalan ke arah Sehun yang tengah duduk di sofa sambil menonton televisi. Dia mendudukan tubuhnya di samping Sehun dan dengan manja wanita itu melingkarkan tangannya di pinggang Sehun.
"Aku lelah sekali hari ini." Ujar Luhan sambil menatap ke layar LCD yang sekarang tengah menayangkan sebuah iklan parfum.
"Kalau begitu tidurlah." Ucap Sehun melingkarkan tangannya di pundak Luhan dan membawa wanita itu semakin mendekat ke dalam pelukannya.
Mereka menghabiskan malam mereka dengan berbicara satu sama lain, kembali membahas semua masa lalu mereka yang pernah terlewati, semua perlakukan buruk Luhan padanya saat mereka pertama kali mereka bertemu kembali di London, bagai mana saat itu Luhan benar – benar pecandu alkohol, saat Luhan masih bekerja di bar, bermasalah dengan polisi, dan semua hal yang di lakukan Sehun untuknya.
"Apakah aku sudah mengucapkan terima kasih?" tanya Luhan. Sehun menatapnya sesaat sebelum mengangguk sambil tersenyum.
"Baiklah, kalau bergitu biarkan aku mengatakannya lagi." Ucap Luhan sambil mengecup pipi Sehun. "Terima kasih untuk segalanya. Kalau bukan karenamu mungkin aku masih berada di tempat itu." Bisik Luhan. "Mungkin aku tidak akan pernah bisa memiliki Jangmi dan kembali pada orangtuaku."
Sehun mengecup bibir Luhan untuk menghentikan ucapannya. Sehun menatap Luhan dan mengelus pipi wanita itu.
"Itu sudah menjadi tanggung jawabku. Aku pernah berjanji untuk selalu berada di sampingmu bukan? Dan aku hanya mencoba untuk tetap menetapinya." Ucap Sehun dan mengecup kening Luhan.
Setelah beberapa saat mereka memutuskan untuk pindah ke kamar. Tapi sebelumnya Luhan berhenti di depan kamar Jangmi. Gadis itu terlelap dengan sebuah boneka dalam pelukannya. Luhan berjalan mendekat sambil tersenyum.
"Seharusnya aku yang berterima kasih padamu." Bisik Sehun sambil melingkarkan tangannya di pinggang Luhan. "Kau telah memberiku seorang gadis kecil yang sangat cantik." Lanjutnya membuat Luhan tersenyum. Sehun menyandarkan dagunya di pundak Luhan, mereka berdua menatap anak kesayangan mereka dalam diam.
"Dia mirip sekali denganmu." Bisik Sehun sambil mengecup pipi Luhan.
"Tentu saja, dia anakku." Timpal Luhan sambil terkekeh pelan. Sehun membalikan tubuh Luhan dan menatap wanita itu sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Anak kita." Koreksi Sehun sambil mencuri sebuah kecupan di bibir Luhan. Wanita itu memukul dada Sehun sambil tersenyum. Dia mendorong pria itu keluar dari kamar Jangmi dan menatap anaknya sekali sebelum mematikan lampu dan meninggalkannya.
.
Saat pagi tiba, Luhan sudah sibuk mempersiapkan sarapan sedangkan Sehun masih terlelap di kamarnya. Tiba – tiba saja Jangmi membuka pintu dan menghampiri sang ibu dengan mata yang masih mengantuk.
"Pagi eomma." Ucapnya sambil duduk di atas kursi. Dia menaruh bonekanya di kursi kosong yang terletak di samping kiri.
"Kau bisa membangunkan ayahmu sayang?" tanya Luhan menatap anaknya yang langsung membuka mata lebar.
"Jadi appa belum bangun?" Luhan menggeleng sambil tersenyum melihat reaksi anaknya. "Biar Jangmi yang membangunkannya." Ucap Jangmi sambil turun dari kursi dan berlari ke arah kamar.
Jangmi membuka pintu kamar orang tuanya perlahan dan menemukan ayahnya masih terlelap di tempat tidur. Dia perlahan merangkak naik dan menatap wajah ayahnya. Jangmi memikirkan cara untuk membangunkan ayahnya kali ini. Dan sebuah ide datang tak lama kemudian.
Dengan tiba – tiba Jangmi mencubit hidung ayahnya sambil berteriak, "APPA IREONA!" hal itu membuat Sehun langsung tersentak kaget dan menatap sang anak yang hanya menatapnya dengan wajah polos.
Sehun menghembuskan nafas panjang, tapi bukannya bangun dia malah kembali memejamkan matanya. Jangmi menggerutu pelan, dia mengguncangkan tubuh ayahnya berkali – kali sambil terus berteriak agar ayahnya bangun.
Tapi kemudian tangan Sehun langsung membawa tubuh mungil itu kedalam pelukannya. Jangmi langsung memberontak, bukannya melepaskan sang anak Sehun malah menggelitik tubuh Jangmi membuat gadis kecil itu tertawa.
"Appa berhenti." Ucap Jangmi di sela – sela tawanya. Tapi Sehun hanya menjulurkan lidah dan kembali menggelitik Jangmi membuat anak itu tidak bisa berhenti tertawa.
"Kau harus janji tidak akan membangunkan appa seperti itu lagi." Ucap Sehun menghentikan jarinya menatap Jangmi yang masih tertawa tapi Jangmi malah menggeleng, menolak apa yang baru saja di katakah oleh sang ayah. "Kau tidak mau hem? Hem? Hem?" Tanya Sehun kembali menggelitik Jangmi membuat gadis itu kembali tertawa.
"Sehun! Jangmi!" Seru Luhan dari dapur membuat ayah dan anak itu berhenti. Sehun menghembuskan anfas panjang dan menyisir rambutnya ke atas.
"Eomma sudah memangil, kau tau apa yang akan dia lakukan jika kita tidak segera ke sana?" tanya Sehun membuat Jangmi mengangguk. Gadis itu mengulurkan tangannya manja, dia ingin Sehun menggendongnya dan dengan sekali gerakan Sehun membawa Jangmi turun dari kasur dan berlari menuju dapur.
Sehun mendudukan Jangmi di kursinya dan mengusak rambutnya pelan, sedangkan dirinya pergi untuk mengambil koran yang sudah di sediakan oleh Luhan. Pria itu duduk di hadapan Jangmi yang sedang bermain dengan bonekanya.
Inilah yang biasa mereka lakukan setiap pagi. Sementara Luhan memasak, Sehun akan membaca koran dan melihat anaknya yang bermain dengan beberapa boneka. Walau kadang dia harus melewatkan sarapan karena pekerjaanya sebagai model sangat menuntut dan kadang dia harus menyiapkan sarapannya sendiri, setiap kali dia tinggal jauh dari sang istri.
Menu sarapan hari ini adalah America Style, Luhan menyiapkan beberapa potongan daging, telur dan roti. Tak lupa dia juga menyediakan secangkir kopi untuk sang suami dan segelas susu untuk anaknya tersayang.
Sehun melipat korannya dan mengecup pipi Luhan sebelum mereka memulai sarapan. Jangmi sudah biasa dengan hal itu tidak terlalu memperdulikan ayah ibu mereka, dia hanya terdiam dan fokus menghabiskan makanannya.
"Hari ini kau ada pekerjaan?" tanya Luhan yang di sambut dengan anggukan oleh Sehun.
"Aku mempunyai satu pemotretan dan mungkin akan pulang sebelum makan siang dan mungkin sebentar lagi Joey akan datang." Tepat saat itu bel pintu mereka berbuyi dan kemudian password yang berhasil terbuka.
Joey bukanlah tamu, dia bisa kapan saja masuk ke apartemen Sehun seperti saat ini. Pria itu sudah rapi layaknya seorang manager. Dia tersenyum saat harum makanan menyapa indra penciumannya.
"Good morning guys. Can I join?" Tanya Joey sambil duduk di sebelah boneka milik Jangmi. Gadis itu menyapanya dengan sebuah senyuman dan kembali menghabiskan makannya. Joey mengusak rambut Jangmi pelan sementara itu Luhan pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk Joey.
Pria itu dan Sehun membicarakan pemotretan hari ini saat Luhan kembali, wanita itu menangkap beberapa nama yang terlibat dan beberapa pakian yang harus di pakai oleh Sehun. Pria itu hanya mendengarkan dan mengangguk sebagai jawaban.
"Hari ini aku akan pergi mengurus pendaftaran Jangmi." Ucap Luhan mengingatkan suaminya. Jangmi menatap sang ibu, begitu pula Joey dan Sehun. "Ini saatnya dia masih ke sekolah dasar." Tambah Luhan.
Sehun menatap sang anak yang terlihat tertarik saat ibunya membicarakan soal sekolah. Jangmi memang sudah tidak sabar untuk masuk ke sekolah barunya. Dulu saat dia masih di Korea, sang ibu mendaftarkannya pada Taman kanak – kanan dan Jangmi selalu antusiaas setiap pagi saat dia berangkat.
"Kau dengar apa yang dikatakan ibumu?" Tanya Sehun sambil menatap Jangmi yang mengangguk bersemangat.
"Kau akan masuk ke sekolah baru dan juga mendapatkan teman baru." Tambah Joey membuat anak itu semakin bersemangat.
"Jadi kapan aku akan masuk sekolah?" Tanya Jangmi antusias.
"Mungkin awal tahun." Jawab Luhan tidak kalah antusiasnya, dia senang melihat anaknya saat bermain dengan teman – temannya. Dia senang saat melihat Jangmi berlarian dengan balutan seragam yang lucu.
Sehun mengatakan kalau dia akan menjemput Luhan dan Jangmi setelah pekerjaanya selesai dan membawa anak mereka ke taman bermain. Tapi sayang Joey tidak bisa ikut dengan mereka karena dia harus bertemu dengan seseorang, saat itulah Sehun dan Luhan terus menyindir soal wanita pada pria itu. Joey memang seharusnya sudah menikah tapi karena pria itu terlalu sibuk dengan pekerjaanya Joey kadang lupa untuk berkencan dan mencari seorang tambatan hati.
Sebelum Sehun pergi, pria itu mengecup pipi sang istri dan memeluk Jangmi, meminta sebuah kecupan dan dari sang mawar tercinta. Jangmi akan mencium sang ayah beberapa kali sebelum memeluknya sebelum membiarkan sang ayah pergi untuk bekerja.
.
Jangmi dan Luhan sedang berjalan – jalan di sekolah baru Jangmi sambil menunggu sang ayah menjemput. Tak lama kemudian ponsel Luhan berdering, ternyata Sehun sudah berada di depan sekolah. Dengan segera dia berjalan keluar dai sekolah, mengikuti Jangmi yang berjalan tergesa – gesa setelah mendengar ayahnya sudah datang untuk menjemput mereka.
"Do you like your new school dear?" tanya Sehun saat Jangmi masuk ke dalam mobil. Gadis itu duduk di belakang sedangkan sang ibu duduk di depan.
"Yes appa." Jawab Jangmi dengan semangat. "Apa kita akan pergi ke taman bermain?" tanya Jangmi.
"Tentu saja, kita akan main sampai kau puas." Jawab Sehun membuat Jangmi kegirangan dan sang Ibu hanya menatapnya sambil tersenyum.
Butuh waktu setengah jam kemudian utuk mereka sampai di tempat bermain. Jangmi menunggu sang ibu dan ayah keluar dai mobil sebelum dia bisa turun. Matanya langsung berkilat saat melihat wahana permainan yang terpampang di hadapannya.
Jangmi tidak berhenti untuk terus menaiki semua wahana yang ada, dia juga memaksa orang tuanya untuk terus mengikutinya kemanapun dia pergi, padahal kaki sang ibu sudah mulai pegal tapi Jangmi terus saja merengek membuat Luhan tak tega akhirnya mereka menghabisakan waktu mereka sampai sore hari.
"Kau senang hari ini?" Tanya Sehun yang menggendong Jangmi di pangkuannya. Mereka sedang duduk di salah stau kursi yang di sediakan di sana. Jangmi tengah menjilati lolipop yang baru saja di belinya.
Gadis itu mengangguk dan mengecup sang apa walau bibirnya belepotan dengan lolipop. Sang anak tertawa saat meliaht ayahnya yang menatapnya dengan mata yang di sipitkan.
"Kau ini." Ucap Sehun sambil mengusak kepala Jangmi pelan. Dia beralih menatap Luhan yang mengeluarkan sebuah tisu dari tasnya. "Dia benar – benar mirip denganmu." Bisik Sehun membuat Luhan tertawa.
Dulu Luhan memang sempat melakukan hal yang sama pada Sehun dan ternyata hal itu kembali terulang dan sekarang Jangmi yang melakukannya.
"Sekarang kita pulang?" tanya Jangmi, bibirnya semakin belepotan dengan bekas lolipop membuat Luhan harus membersihkannya dengan tisu.
Mereka akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah dan mampir ke salah satu restoran untuk makan malam. Di sepanjang jalan Jangmi tidak berhenti berceloteh tentang bagaimana senangnya dia hari ini. Pertama karena dia sudah mengunjungi sekolah barunya dan yang kedua mereka bertiga menghabiskan waktu bersama. Jujur saja, mereka jarang sekali menghabiskan waktu seperti ini dan itu alasan terbesar kenapa Jangmi begitu gembira.
Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mereka kembali ke apartemen, mungkin karena Jangmi terlalu kelelahan akhrinya anak itu tertidur di mobil. Saat lampu merah Luhan pindah ke belakang dan menggendong Jangmi yang tertidur pulas.
"Tunggu sebentar." Ucap Sehun saat mereka sampai di apartemen. Dia membukakan pintu untuk Luhan dan menggendong Jangmi. "Kemari." Bisik Sehun membuat Jangmi yang berada di ambang batas ke sadaran memeluk ayahnya dan kembali tertidur.
Luhan berjalan di sampingnya sambil membawa barang – barang yang mereka beli di taman bermain. Saat mereka menaiki lift, sebelah tangan Sehun membawa Luhan untuk merapat padanya, dia tidak akan melupakan bagaimana phobia sang istri pada lift. Luhan menghembuskan nafas panjang dan menaruh kepalanya di bahu Sehun memejamkan mata sambil berbisik.
"Hari yang panjang."
Sehun mengangguk dan mengusap pinggang istrinya, untungnya lift sedang sepi jadi Sehun bisa mengecup kening Luhan dan membiarkan wanita itu bersandar padanya.
Luhan berjalan mendahulu Sehun untuk membuka pintu apartemen. Pria itu langsung membawa Jangmi ke kamar tidurnya, sementara itu Luhan berjalan ke lemari pakaian untuk mengambil sebuah piama.
"Sayang, ganti baju dulu." Bisik Luhan pelan membuat sang anak bergumam tak jelas. Sang ibu tersenyum dan membantu Jangmi mengganti pakaiannya, sedangkan Sehun duduk di tepian kasur.
Setelah bajunya di ganti Luhan kembali membaringkan Jangmi dan menyelimutinya. Dia menatap anaknya yang sekalang berguling untuk memeluk boneka.
Dia menatap ke arah Sehun dan menyandarkan tubuhnya pada sang pria, dengan senang hati Sehun melingkarkan tangannya di pinggang Luhan. Kedua orang itu menatap anak mereka dalam diam.
"Haruskan kita memberikan seorang adik untuk Jangmi?" tanya Sehun yang di sambut dengan gumaman pelan dari Luhan tanda tak setuju. Sehun hanya tertawa dan mengelus surai sang istri.
"Biarkan dia yang meminta." Bisik Luhan. Sehun mengangguk tanda menyetujinya.
"Bukan suatu hal yang sulit. Tidak akan lama lagi dia pasti akan memintanya." Ujar Sehun membuat Luhan menjauh darinya.
"Jangan mempropokasi." Tegur Luhan sambil bangkit dari kasur tapi sebelumnya dia mencondongkan badan dan mengecup kening sang anak. Ada segelintir perasaan yang merambat di hatinya saat Sehun melihat Luhan melakukan hal itu, sesuatu yang tidak bisa di deskripsikan dengan sebuah kata.
Luhan bangkit dan menyodorkan tangannya pada Sehun. Pria itu mengecup kening Jangmi dan menarik mengusap kepalanya sebelum menyambut tangan Luhan. Mereka berjalan keluar dari kamar sang anak.
.
Sehun tengah berada di balkon kamarnya. Dia bisa menatap pemandangan kota London dari sana, sang istri tengah berada di kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Tapi tak lama kemudian sepasang tangan tangan melingkar di pinggangnya. Sehun tersenyum dan menggengam tangan Luhan dari depan.
"Aku lelah sekari hari ini." Bisik Luhan membuat Sehun menariknya ke depan. Kini giliran Sehun yang memeluk Luhan dari belakang, pria itu menaruh dagunya di pundak Luhan dan membiarkan semilir aingin malam menenangkan mereka.
"Dia terlihat begitu senang." Ujar Sehun yang di sambut dengan anggukan oleh Luhan. "Kau tau, sekarang semuanya terasa sempurna. Aku bisa berada di sini bersamamu, aku bisa melihat kau dan Jangmi di akhir hari yang melelahkan. Aku juga bisa memelukmu setiap malam tanpa takut harus kehilanganmu saat pagi menjelang." Lanjut Sehun berupa bisikan.
Luhan menengok ke samping dan mengecup bibir Sehun sekejap sebelum menggesekan hidung mereka sambil tersenyum. Mereka kembali berpelukan, kali ini semakin erat karena hembusan angin malam semakin kencang.
"Aku masih tidak percaya kita bisa berada di sini, saling memeluk satu sama lain sedangkan anak kita tertidur di kamar sebelah. Aku masih merasa ini tidak nyata, kau tau dulu kita…"
Luhan membalikan tubuhnya menghadap Sehun membuat pria itu menghentikan ucapnnya. Wanita itu menaruh ke dua tangannya di pipi Sehun dan mengehujam wajah pria itu dengan kecupan manis, dari mulai kening, kedua mata, pipi sampai akhrinya bibir mereka bertemu.
Untuk sesaat Luhan membiarkan bibirnya bertautan dengan Sehun beberapa lama sebelum menarik diri dengan pelan. Kedua manik mereka bertemu, Luhan menampakan senyuman yang selalu membuat jantung Sehun berdetak tak normal.
"Tidakah itu membuatmu merasakan kalau semua ini nyata?" Bisik Luhan dengan tangan yang berada di kedua pipi Sehun. "Jangan pernah berpikir semua ini tidak nyata, jangan pernah berpikir kalau aku akan meninggalkanmu, karena asal kau tau, hal itu tidak pernah terbesit sedikitpun dalam benakku. Aku mencintaimu, dan tidak akan berubah sampai kapanpun." Lanjut Luhan membuat sang suami menatapnya dengan penuh kasih sayang.
Sehun menyentuh pipi Luhan dan membawa wanita itu sebuah kecupan manis di bibirnya. Dan biarkan ke dua orang ini menghabiskan malam dengan penuh rasa kasih sayang.
.
.
.
The END.
FINNALY! THANKS GOD FOR LETING ME FINISH THIS STORY.
Maaf karena kalian terlah nunggu lama *sob sob* author benar – benar minta maaf. Collage make me so busy dan author sepertinya akan semakin, semakin dan semakin sibuk di awal oktober sampai akhir tahun tapi mudah – mudahan aja engga dan semoga meskipun sibuk author tetep punya waktu buat nulis.
Untuk yang sudah membaca ff ini dari mulai I'm a bad girl sampai sequel yang udah taman ini, author mau mengucapkan banyak BANYAK TERIMA KASIH. Tanpa kalian apalah aku sebagai seorang author *cikiciw* *apa deh* tapi beneran loh author seneng banget denger semua komentar, kritik dan sarang yang masuk, suka seneng sendiri sampai pengen nangis bacanya *lebay*
Untuk yang menunggu You're My London, sorry guys~ ffnya belum kelar di lanjut u.u nanti kalau udah selesai pasti author post deh, dan untuk yang menunggu Sequel My Wishes. GODD! Maaf author juga belum punya mood buat melanjutkan cerita itu dan entah mau di bawa kemana alurnya.
And for the last SEE YOU ON MY NEXT FF ^^
