Naruto tidak habis pikir pada bocah-bocah labil yang terus memaksanya bercerita tanpa ingat waktu. Bahkan bel sekolah sudah berdering dari sepuluh menit lalu, dan mereka tampak tidak ingin pulang sebelum Si pirang selesai bercerita.

Lalu harus bagaimana?

Kabur saja, begitu?

Naruto benar-benar berniat kabur karena ia pasti akan kena marah kakaknya jika tidak kembali ke kantor. Kakak angkatnya itu bukan hanya marah tapi pasti akan memberinya kerjaan bertumpuk.

Si pirang menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Menatap murid-murid dengan senyum canggung, ia berujar. "Maaf, ya, anak-anak. Tapi, aku harus kembali bekerja, ne?!" Sedikit membungkuk, ia buru-buru kabur melesat keluar kelas dan secepatnya dapat kembali ke kantor.

Sedangkan murid-murid itu masih memproses kejadian tadi dengan lambat bak modem yang kuotanya sudah limit.

Dalam waktu beberapa detik teriakan seisi kelas membuat alunan suara layaknya orcestra. Teriakan hiperbolis yang membuat Naruto makin cepat untuk lari dan selamat dari murid-murid kecanduan cerita romance.

Ia menghela nafas ketika sudah sampai dengan selamat dalam mobilnya. Ia melajukan mobil force hitam itu keluar dari kawasan sekolah, menghiraukan para siswa-siswi yang kesetanan mengejar dirinya seperti jombie kelaparan.

Akibat hari ini, Ia kembali mengingat masa lalunya.

Naruto tersenyum miring kearah jalan di depannya dengan tatapan tanpa arti.

'setelah hari itupun, dia tak pernah lagi dapat kutemui. Si brengsek itu, memang selalu seenaknya saja.'

Naruto Belongs to Masashi Kishimoto

First Love stories © Amach cuka'tomat-jeruk

warn: AU, OOC, Typo(s), bahasa gak karuan, gak jelas, alur sesuka hati author, cerita pasaran, ngawur,dan berbagai kekurangan yang lain termasuk EYD.

Minat baca? silahkan.

DON'T LIKE DON'T READ.

ENJOY~

Amma Cherry Present.

Naruto Stories.

Naruto berjalan dengan gontai menuju kelasnya. Kejadian buruk yang beruntun menimpanya membuat kantung hitam dibawah matanya, hasil dari insomnia semalaman. Belum lagi, ia hanya sendirian dirumah dengan hujan deras tadi malam. Ia hanya takut pada mahluk sakral tak kasat mata yang di juluki hantu. Tapi, bukan itu yang perlu di kawatirkan, ada hal yang lebih horor dari hantu. Yaitu Uchiha Sasule, eh maksudnya Uchiha Sasuke.

Tuan muda teme Uchiha itu benar-benar membuat Naruto kehilangan selera hidup seketika. Dengan wajah datar tanpa merasa bersalah sedikitpun, Ia diajak bertemu kedua orang tuanya dan kakaknya yang aneh, lalu mengatakan jika mereka adalah sepasang kekasih yang membuat Itachi Uchiha semakin tertawa tidak waras. Semua Uchiha nampak tidak waras dimata Naruto, terutama Sang kepala keluarga itu sendiri. Tanpa ekpresi berarti Uchiha senior itu justru memintanya dengan senang hati untuk jadi menantu dan menyandang marga Uchiha.

Maka terkutuklah Uchiha bagi Si pirang.

Bahkan ia tidak dibiarkan bersuara untuk protes, Ia diseret lagi begitu saja keluar dari mansion besar Uchiha dan di antar pulang ketika dirinya telah sadar tiba di depan rumahnya.

.

.

Tanpa sadar kaki jenjangnya membawa ia sudah masuk kedalam kelas. Tidak ada siapapun yang datang karna masihlah sangat pagi untuk kesekolah. Si pirang pun tidak pernah datang sepagi ini, Ia lebih sering telat ketimbang masuk di pelajaran pertama tanpa hukuman. Duduk di kursinya yang ia tempati sudah hampir sepuluh bulan selama berada di kelas 3-A, ujian pun akan segera ia hadapi.

Haah~

Naruto menghela nafas, ia membenamkan wajah diatas kedua tangannya yang bertumpu diatas meja. Ia masih sendirian hingga kantuk menyerangnya, dan ia tenggelam dalam mimpinya setelah tidak tidur semalaman.

.

.

.

Ramai, berisik, gaduh, begitulah suasana kelas 3-A saat ini. Acara gosip yang selalu menjadi jadwal anak murid di kelas ketika menunggu guru tiba, membuat siswi-siswi itu membentuk meja dan kursi menjadi satu. Mereka membicarakan tentang idola mereka yang selalu populer tunjuh turunan, juga calon tunangannya yang memasang tanda bahaya untuk siapapun yang berambut pirang. Hingga beberapa yang berambut pirang menelan ludah ngeri akibat Sang calon tunangan Uchiha terkenal tak main-main dengan perkataannya.

"Yang aku dengar, sih, begitu!"

"Dan orang yang diseret Uchiha-sama kemaren itu berambut pirang katanya!?"

"Sepertinya aku harus mengecat rambutku, jidat!"

"Memang harus, pig! Kau tidak ingin jadi mangsa Si nenek sihir berambut merah itu, 'kan?!"

"Aku juga sepertinya."

"Kalian ubah warna rambut kalian. Tapi, jangan warna pink, ya?!"

"Kami juga tidak ingin warna rambut norak sepertimu, jidat!"

"KAU BILANG APA, PIG?"

"NORAK! FORHEAD!"

"KYAAAAAA...!"

"HENTIKAN MEREKA!"

Teriakan demi teriakan pun memenuhi jam pelajaran kosong, adu jambak, lempar bola kertas dan masih banyak yang lainnya, tidak perlu di jabarkan secara langsung bentuk kekerasan yang tidak boleh ditiru disini.

Keributan masal yang sedang berlangsung membuat sesosok pirang mengangkat wajahnya dari atas meja. Tangannya terasa kaku akibat terlalu lama bertumpu dimeja dan menjadi bantal kepalanya, tangan berkulit tan tersebut mengucek pelan kedua matanya. Mata sebiru langit itu pun melihat sekeliling yang penuh dengan ke anarkisan teman sekelasnya. Biasanya ia turut tampil dalam keributan, tapi sekarang dirinya terlalu malas.

Ia menatap keluar jendela disamping tempat duduknya. Musim dingin akan segera tiba, membuat pohon-pohon sakura menjadi gundul kembali. Sapphiernya menatap sosok yang duduk dibawah pohon maple taman belakang sekolah, tepat berada di samping jendela yang ia tatap. Sosok itu begitu menawan, hembusan angin lembut menerpa rambut ravennya yang sedikit panjang hingga melambai. Udara sedingin ini, orang itu tertidur dengan lelapnya tanpa merasa dingin sedikitpun dari tidurnya yang terlihat nyaman.

Si pirang mendengus, pandangannya ia arahkan ke depan kelas. Semua temannya masihlah rusuh dengan berbagai aktifitas tidak jelas. Tak ingin ambil pusing, Naruto berdiri dari duduknya lalu mulai melangkah untuk meninggalkan kelas.

"Hoi, Naruto! Kau mau kemana?" Seorang pemuda berambut coklat jabrik berseru tanya padanya. Pemuda Inuzuka itu sedang memegang Lee yang memberontak untuk di coret lipstik, Lee dengan semangat masa mudanya memang sangat menyusahkan. Kiba sampai memelintirnya bersama tiga orang teman lainnya.

Naruto memutar mata jengah. "Jangan bertanya seperti kau itu pacarku saja! Aku ingin ke toilet," Lalu ia membuka pintu kelas untuk menuju tempat tujuan yang ia katakan.

"Sialan! Aku hanya ingin mengajakmu main Uno, yang kalah dicoret lipstik. Ayo, ikutlah setelah kembali dari toilet?!" Seru si pecinta anjing itu sembari mengacungkan lipstik yang ia dapat dari Ino. Tanpa perasaan ia mencoret wajah Lee dengan lipstik pink terang hingga Lee berteriak makin menjadi.

.

.

.

AMMA CHERRY.

.

.

Naruto menatap pantulan dirinya di cermin besar di depan wastafel toilet sekolah, ia membasuh wajahnya meski suhu air dan udara begitu dingin. Bergerak kearah pintu keluar lalu berjalan sambil mengeratkan syal orange yang melekat manis di lehernya.(Kyuubi membelikannya bulan lalu saat memasuki musim gugur dan ia tidak ingin Naruto terserang penyakit.)

.

.

semilir angin membuat Si pirang bergidik akibat dinginnya hawa yang di sebar angin, kaki jenjangnya berhenti melangkah. Di depannya duduk seorang pemuda dengan surai raven tengah tertidur dengan headphone menempel di telinganya.

Si pirang berjalan mendekat dengan gemerisik rerumputan setiap kakinya menginjak tanah berumput hijau tersebut.

Tangan berkulit tannya melepas syal yang melilit lehernya, lalu ia menunduk untuk melilitkan syal merah tersebut keleher sesosok raven yang masih juga tak terganggu dengan hawa dingin yang menyergapnya.

Mendengus.

Uzumaki muda itupun beranjak untuk kembali keruang kelasnya.

.

.

.

Perlahan manik onyx yang selalu memikat itu terbuka, tangan alabasternya menggenggam syal merah yang lumayan menghangatkan lehernya dari sapuan angin. Surai ravennya bergoyang gemulai saat ia mendongkak keatas; arah si pirang duduk dan tanpa sengaja melihatnya sedang menatap si pirang, membuat rona merah mudah sukses mendarat di pipi tannya yang seksi.

Sasuke mendengus geli melihat tingkah si pirang. Menggemaskan!

"Hachiimm..."

Sepertinya Ia terserang flu. Kenapa juga bisa-bisanya ia tertidur disini saat menatap Naruto dari jauh. Merepotkan.

.

.

.

"Kau di jemput?" Kiba menyernyit saat Naruto tengah terburu-buru memasukan buku kedalam tas coklat miliknya.

"Um. iya, Kyuu-nii hari ini pulang dari Uzu. Tou-san menjemputku untuk langsung menjemput Kyuu-nii di bandara," Si pirang sudah siap menyampingkan tas kepunggungnya. "Jaa~!" serunya langsung berlari keluar.

Kepala bersurai coklat Kiba cuma geleng-geleng melihat tingkah teman pirangnya.

.

.

.

Naruto berjalan menuju keluar sekolah dengan terburu-buru. Tidak terpikir olehnya bahwa akan ada drama seperti tertabrak seseorang dilorong yang lumayan sepi karena sudah jam pulang sekolah, namun apa daya ketika tiba-tiba seseorang muncul dari ruang UKS layaknya drama anak SMU di televisi.

Bruuk.

Braak.

"Ouch..!"

Naruto mengelus bokongnya yang secara dramatis mencium lantai marmer dengan keras, wajahnya cemberut hampir menangis jika tidak ingat ia seorang pria.

Mendengar dengusan dari orang yang di tabraknya, Si pirang lekas mengangkat kepalanya ke arah orang yang telah tertabrak olehnya. Maka wajah dengan garis tipis dan juga dihiasi lesung pipi sebelah kanannya pun semakin cemberut masam. Rasanya sial sekali setiap bertemu pemuda raven yang masih tegak berdiri setelah bertabrakan dengan cukup keras bersama dirinya, bahkan untuk membantunya berdiri pun tidak.

Apa ia akan selalu mendapat sial ketika bertemu Uchiha ini?

Kenapa semenjak kemaren Si raven terus merusak hari Naruto?

Jawabnya ada di ujung langit.

Oke, lupakan!

Naruto, sudah berdiri dengan Sasuke yang masih tetap tak beranjak dari tempatnya berdiri. Sasuke menatap Naruto intens, wajah putih susunya dihiasi kemerahan sekitar hidung, sepertinya ia filek. Tangannya bergerak melepas syal merah yang tersemat dilehernya, lalu memakaikannya pada Si pirang yang mangap-mangap atas perlakuan Sasuke.

Sang Uchiha, dengan wajah datar penuh karisma meski dihiasi warna kemerahan sekitar hidung- sudah jangan dibahas, melilitkan syal merah tersebut kepada pemuda yang lebih pendek sekian senti darinya.

"Aku kembalikan." ucapnya, tau jika syal tersebut ada di lehernya saat terbangun karna Si pirang yang menaruh ke lehernya. Lagi pula ia tetap terkena flu.

Sasuke berbalik membelakagi Naruto, ia hendak berjalan ketika Si pirang menarik tangan kanannya, lalu buru-buru melepasnya dengan cepat.

"Te-teme, k-kau 'kan sedang sakit? Pakai saja untukmu." Naruto dengan kikuk dan salah tingkah berucap tergagap sambil menggaruk tengkuknya, pipinya merona dengan imutnya. Ia melepas syal lalu mengulurkannya ke arah pemuda raven yang kali ini mendengus geli.

"Haatchim.."

Lagi-lagi Sasuke bersin.

Ia mengambil syal lalu berjalan terlebih dulu, meninggalkan Naruto yang entah ingin tertawa atau menangis melihat ekpresinya sekarang.

Tapi, sebelum jaraknya semakin jauh, Sasuke menengok kebelakang dan berucap, "Kau memang kekasih yang baik." Lalu kembali berjalan hingga menghilang di belokan terakhir menuju pintu keluar.

Blush.

"Te-teme!" Naruto semakin tergagap 'tak jelas dengan wajah semerah lipstik Kushina saat ke acara arisan. Ia membawa kaki jenjangnya untuk lekas menuju pintu keluar karna Ayahnya pastilah telah menunggunya.

Deguban jantungnya tak kunjung reda bahkan saat ia telah tiba di bandara, Ayahnya sampai khawatir putranya sakit karna wajahnya merah dan ia terus bergumam tak jelas.

"Apa kalian terkena macet? Aku menunggu lama disini." Seorang pemuda berambut jingga menghampiri duo pirang ayah anak tersebut. Sebelah alisnya terangkat melihat Sang adik seperti orang linglung dengan tatapan kosong. Di dera rasa khawatir ia menempelkan tangannya yang putih dan halus itu ke kening adiknya. Manik crimsonnya menatap Sang ayah yang hanya bergumam 'tidak tau' sambil mengangkat bahu.

Ia mendengus melihat Ayahnya dalam mode menyebalkan.

"Hei, bocah!" Kyuubi menyentil dahi Si pirang hingga ia mengaduh dan cemberut. Dengan seringai menyebalkan Kyuubi mengacak rambut blonde Naruto dan mengeretnya untuk pulang dengan di ikuti Sang kepala keluarga.

Sepanjang perjalanan mereka sangatlah ramai ketika kedua putera Namikaze tersebut terus bertengkar karna Kyuubi begitu jahil. Ketika sampai kediaman mereka, suara ribut semakin menjadi karena Sang ibu ikut-ikutan rusuh.

Minato hanya geleng-geleng saat waktu menonton tv-nya kacau. Tidak berubah sama sekali ketika keluarga mereka berkumpul.

.

.

.

Makan malam keluarga Namikaze begitu santai di isi dengan obrolan-obrolan kecil mereka.

"Bagaimana sekolahmu, Naru?"

"Baik. Nilaiku juga tidak buruk, Tou-san." Naruto menjawab sambil menyeruput Ramennya. "Kyuu-nii, akan berapa lama disini?" Manik biru cerahnya yang besar menatap sulung Namikaze.

"Kau bertanya seolah ingin cepat-cepat aku kembali ke Uzu yang membosankan karna tak ada kau." Kyuubi memutar matanya ketika tau Si pirang paling jengkel jika di jahili oleh dirinya. "Disana membosankan, tapi mau bagaimana lagi. Aku disini hanya satu bulan atau bisa lebih." Ia terkekeh dengan wajah jahat melihat ekpresi adiknya tiba-tiba suram dan menaruh mangkuk Ramennya yang tinggal kuahnya saja. "Hei, kau tidak perlu berekpresi seperti itu, bocah?!" seru Kyuubi dengan keringat mengantung di dahinya.

"Jangan terus menjahili adikmu, Kyuu!" Kushiha menegur anak sulungnya yang sudah ia anggap anaknya sendiri semenjak Kyuubi di adopsi.

Naruto menatap Ibunya dengan sedih. Dengan sejuta modus ia memeluk Ibunya yang cantik lalu menatap Kyuubi jengkel di balik pelukannya kepada Sang ibu.

Kushina sungguh tidak tahan melihat ekpresi lucu putranya yang lalu ia cubit gemas setelah di peluk manja Naruto. Si pirang hanya bisa berteriak protes.

"Aku ingin tau, siapa orang yang telah membuatmu menjadi mummy berjalan seperti tadi siang?' Kyuubi menatap Naruto curiga penuh tuntutan.

"A-aaku hanya berpikir tentang team basketku disekolah. Kami akan ikut pertandingan sebentat lagi." ucapnya dengan lancar diakhir.

"Benarkah?'

Naruto hanya mengangkat bahunya acuh.

Setelah makan malan hampir selesai. Si pirang seperti telah mengingat sesuatu yang sedari kemaren ingin di tanyakannya.

"Aku boleh bertanya? Tou-san?" Naruto menggaruk pipinya dengan jari telunjuknya. Melihat anggukan Minato, ia meneruskan ucapannya, "Apa, Tou-san mengenal keluarga Uchiha?" Pertanyaan tersebut membuat Minato tegang sesaat, bahkan Kushina yang sedang mencuci piring bekas makan malam pun menyernyit dalam.

TBC.

Masih ngegantung banget ya?

gak papa lah ya, yang penting chappi ini udah kelar. #dibuang

saya tau chapter kali ini membosankan dan alurnya begitu lambat. tapi demi kesejahteraan rakyat indo- /author dilempar tomat/ ini demi plot yang udah teratur tertib gais. biar ff ini ngambang(?) nanti chapter depan akan saya tambah romancenya~ karna mood saya bikin romance lg anjlok kedasar-dasarnya.

berhubung banyak yg kaget sama Fugaku. gak ada yg spesial jg gak akan ada fugamina. doi setuju nanti ada penjelasannya. maaf ya gais..

sama sifat OOC Itachi dan yg lain jg itu karna plotnya idah gitu. X3

well, saya minta maaf lagi gak bisa balas ripiu satu2.. mepet gais, maaf lagi soal updet yg lama. tugas kuliah sama kerjaan saya numpuk selalu. #alesan XP

okeh.. kalo gitu..

SUPER BIG TANKS AND BIG HUG BUAT REVIEW.

Juniel Is A Vampire Hybrid., Guest1., hanazawa kay., Gunchan CacuNalu Polepel., himekaruLI., anes dobe-chan., FuuCker690., jewELF., Guest2., onyx sky., Harpaairiry., Retnoelf., Imel jewels., Icha Clalu Bhgia., Ihalaech., mifta cinya., ikatriplesblingers., Sayaku Shiina 'Shi-Chan., Uzumaki Prince Dobe-Nii, .5., yukiko senju., bellakyu., zhiewon189., uzumakinamikazehaki., fukuda., Saory Athena Namikaze., Zen Ikkika., Guest3., Vianycka Hime., miss horvilshy.

Saya harap kalian masih berkenan review dan memberi saya kritik atau saran yg membantu. :3 #kejtcup reader atu2

TOMAT-JERUK