Draco memakai asal handuk untuk melingkari pinggangnya. Dengan rambut pirang berantakan serta basah, ia berjalan keluar dari tempatnya membersihkan diri. Kulit putih pucatnya menyaingi handuk putih yang ia kenakan. Tak peduli dengan keadaan sekitarnya, ia berjalan ke lemari.
Memilih pakaian, menggunakan celana pendek hijau toska kotak terlebih dahulu, melihat pantulan tubuhnya di cermin. Melihat deretan otot lengan dan kotak-kotak di perutnya. Tersenyum puas, barulah memakai kaos polo putih untuk menutupi karya Tuhan yang indah tersebut. Handuk kecil—
yang kini berada di tangannya— ia gunakan untuk mengeringkan rambut.
Merasa selesai, Draco menutup pintu lemarinya. Meletakkan handuk di lehernya kemudian berbalik.
"Selamat pagi cantik," Draco tersenyum meremehkan.
"Aaa!"
Jeritan ini terdengar cukup untuk membuat Draco tuli. Ia mengutuknya.
Ryoma Ryan
Siblings
Chapter 2
HP Belongs to JKR
"Kenapa aku kena pukul!"
Draco menangkis serangan demi serangan yang ia terima dari gadis dengan rambut coklat mengembang dihadapnya. Bantal kamarnya yang sangat empuk dijadikan alat untuk menghajar tubuh proporsionalnya yang secara logis tak mungkin terluka dengan serangan seperti itu.
"Sialan, kau! Kakak menyebalkan! Kau aneh! Kau gila! Kau- Hell!"
Umpatan demi umpatan dilontarkan oleh gadis cantik yang secara kasat mata, mulutnya tak pernah ternodai bahasa kasar. Namun kini pandangan itu terbantah keras. Draco tertawa lepas mendengar gadis itu mengumpat pada dirinya.
"Jangan salahkan aku sweetheart, Paman Regulus mendapat tugas di Manchaster. Jadi karena—"
"Persetaan! Kau menyebalkan! Kau membuatku kesal! Kau membuatku merasa aneh! Kau pergi tanpa bilang! Kau! Kau—"
Ucapan gadis itu terhenti. Ia tercekat sendiri dengan kalimat yang ia lontarkan. Padahal tadi dengan semangatnya, ia memotong pembicaraan Draco. Kini ia terpaku, seolah berfikir.
"Aku membuatmu khawatir, eh?"
Draco menyeringai. Gadis itu merengutkan alisnya meremehkan. Keadaannya yang tadi seolah panik luar biasa menjadi tenang. Gadis itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Kau rindu aku kan, makanya kembali?"
Gadis itu mengangkat dagunya. Alisnya terangkat sebelah. Darah Malfoy dan harga diri besarnya sangat tercermin dalam diri gadis ini rupanya.
"Heh cantik, jawab dulu pertanyaanku sebelum mengajukan pertanyaan lain. Kau khawatir aku pergi?"
Draco mengikuti jejak gadis itu, bibirnya menyunggingkan senyum meremehkan. Tangannya ikut ikutan melipat di depan dada. Dan yang terakhir dagunya terangkat, sehingga pandangannya kini sangat meremehkan gadis itu.
"Halo kakakku yang aneh, untuk apa aku khawatir kau pergi. Kau kan sudah dewasa, memang—"
"Memang seharusnya adikku yang cantik ini khawatir aku pergi karena aku pergi tanpa berkata apapun padanya? Sedangkan hanya aku yang ia miliki?"
Seringai itu semakin melebar, seperti mendapat kemenangan mutlak akibat air muka gadis itu yang berubah. Gadis itu menyipitkan mata.
"Tidak tidak, pernyataan yang kau jadikan pertanyaan gila kedua itu salah besar om-om jelek. Aku masih memiliki Mum dan Dad, Ginny, dan—"
"Oh kau memanggilku om-om, sweetheart! Kau menyakiti hatiku!"
Draco seketika terduduk di lantai yang tadi tempatnya berdiri. Ia memegang jantungnya seolah terkena serangan jantung akut. Wajahnya berubah menjadi sangat kesakitan dan merintih.
"Kau terlalu berlebihan untuk orang setuamu, kakak jelek!"
Gadis itu menggelengkan kepalanya sambil menutup mata tak percaya dengan sikap kakaknya yang tak pernah berubah. Tangannya masih bersemayam manis, terlipat di depan dadanya.
"Jangan memutar fakta cantik, akui sajalah kakakmu ini tampan. Tak baik berbohong kepada diri sendiri."
Draco bangkit dengan sendirinya. Memandang gadis itu dari atas ke bawah, menatapnya lapar.
"Menjauhlah kau om-om tua-jelek-busuk!"
Draco berjalan perlahan namun pasti saat mendekati gadis itu. Membuat gadisnya berjalan mundur seiring langkah mengerikan yang diambil Draco. Umpatan gadis itu rupanya tidak berpengaruh besar.
"Om tua menurutmu? Aku ini kakakmu, hanya terpaut empat tahun dari usiamu sekarang, cantik."
Draco semakin mendekat, gadis itu sudah tertahan oleh dinding, sialan. Gadis itu mendecak kesal, instingnya tak ada yang berfungsi selain mundur saat ini. Untuk maju dan melawan kakaknya saja tak ada kemampuan, apalagi bergegas kabur dari kamar kakak satu-satunya ini. Mata sang kakak menyuruhnya untuk diam, dan entah mengapa ia menurut—seperti hipnotis.
"Tak dapat membalas karena aku benar atau karena aku tampan?"
Nafas Draco berhembus hangat di atas batang hidung gadis itu. Draco menunduk untuk menatap gadis yang tingginya terpaut dua puluh senti lebih rendah dari dirinya. Gadis itu mendongak pasrah seperti terhipnotis iris kelabu Draco. Bibir ranum gadis itu terbuka kecil, terlihat tak dapat membalas perkataan Draco.
Dengan nakal, Draco kembali mempersempit jaraknya dengan sang gadis. Kening Draco menempel pada kening sang gadis yang tertutup poni coklat ikal miliknya. Draco menatap gadis itu lama dalam diam. Draco tersenyum lembut. Kemudian gemas. Kemudian licik.
"Tertangkap kau, aku setampan apa sih sampai kau terpaku begitu?"
Gadis itu merasa tertampar oleh seluruh penduduk dunia. Ia kembali menjerit, menginjak kaki Draco. Memukul bahu pria tampan itu, dan kemudian menghentakkan kakinya keras keras saat keluar dari kamar Draco. Sepanjang jalan keluar kamar, mulutnya terus mengumpat, "aku benci kakak, aku benci kakak, aku benci kakak!"
Draco tertawa puas.
Setelah langkah gadis itu tak terdengar lagi, Draco menghela napas berat. Ia tersenyum miring sebelum mengangkat bahunya tak acuh dan berjalan menuju ruang makan, tentunya untuk sarapan.
RR
"Pagi Nona Malfoy," gadis itu mendongak untuk meihat siapa yang memanggilnya saat keluar dari lorong kamarnya dan kakaknya.
"Lama tidak berjumpa, senorita?" satu suara lagi berhasil mengambil perhatiannya.
Senyum gadis itu mengembang luar biasa. Ia berlari untuk sampai di meja makan.
"Perhatikan langkahmu 'Mione," Narissa memperingatkan, tapi dapat dilihat. Gadis muda itu tak begitu peduli dengan tata krama kali ini. Kejutan ini luar biasa baginya.
Tanpa aba-aba, dipeluknya ke dua pria yang duduk bersebelahan itu. Dengan reflek, kedua pria tua itu ikut membalas pelukan ponakan perempuan mereka. Seperti reuni keluarga, karena kakak beradik—pewaris terakhir marga Black—ini berada dalam bisnis yang terus menanjak. Wajarlah mereka selalu berkeliling negara sehingga jarang bertemu dengan keluarga yang lain.
"Aku tak tahu paman Regulus dan Sirius akan berkunjung hari ini! Aku rindu paman!"
Sirius mengacak sambut coklat gadis itu—Hermione—yang memang terlihat seperti rambutnya. Hanya saja rambutnya keriting, Hermione seperti semak. Sirius tersenyum gemas.
Sementara itu Regulus hanya diam dan menikmati peluk hangat sang ponakan.
"Ehem!"
Sebuah suara menginterupsi kegiatan mereka.
Dengan tangan yang berada dalam saku celan. Draco mendekati tempat duduk ayah dan ibunya sebelum mengambil tempat duduk di samping sang ibu. Hermione menatap kesal pada Draco, sedangkan Draco solah tak peduli. Dan seolah tak pernah mengusik reuni keluarga itu.
"Mione, sampai kapan kau mau di situ. Duduk ditempatmu, kita akan mulai makan."
"Baik Dad."
Hermione berjalan santai ke kursi Lucius dan mencium kecil pipi Lucius sebelum duduk. Seperti pagi biasanya.
RR
Draco makan dalam diam. Ia memotong kecil roti bakar miliknya sebelum masuk ke mulutnya. Berbeda dengan sang adik dan anggota keluarga lainnya yang saling mengobrol.
"Jadi, mengapa Draco bisa bersama kalian berdua?" tanya Lucius di tengah perbincangan mereka.
"Oh, kolegaku yang mengatakan bahwa ada seorang Malfoy yang bekerja padanya. Saat itu aku berada di Spanyol dan kebetulan sekali Sirius ada keperluan di Jepang. Jadi aku menyuruh Sirius untuk memastikan Malfoy mana yang merantau sejauh itu," ucapan itu diakhiri dengan potongan daging di mulut Regulus.
"Ya, dan aku sempat berfikir bahwa ada Malfoy lain di dunia ini. Karena aku tahu. Kau tak tertarik dengan Jepang sebagai salah satu sasaran pasarmu, Lucius. Ketika aku datang, yang aku temukan adalah seorang pirang diantara rambut hitam lainnya yang sangat serius dengan banyaknya kertas yang ia dapatkan di meja. Setelah meminta izin atasannya. Aku menghampirinya dan tak kusangka ponakanku," Sirius menimpali.
"Lalu kenapa kalian malah membawa orang aneh itu kembali ke London?" Hermione angkat bicara sambil mengarahkan garpunya ke Draco. Draco cuek, tak menanggapi sama sekali.
"Kenapa ya? Kenapa Reg?" Sirius kembali menyuapkan sepotong besar daging ke mulutnya.
"Pertama bertemu dengannya kau langsung memeluknya. Dan memesan tiket ke London untuk penerbangan esok hari saat itu juga. Lagi pula aku juga ada bisnis di Manchaster besok dan tidak ada acara hari ini. Jadi aku ikut rombongan ini pulang ke kampung halaman," Regulus tersenyum manis.
"Halah tidak seperti itu, kan kau yang memaksaku untuk mengecek Malfoy mana yang ada di Jepang. Dan kau terlebih dahulu menebak Draco. Kau juga yang mengusulkan untuk pulang ke London, apabila Malfoy yang ditemukan kolegamu itu adalah Draco," Sirius dengan wajah cueknya mengungkapkan itu semua. Membuatnya mendapat tatapan dingin dari Regulus adiknya.
"Huh, padahal kalian bawa saja orang menyebalkan itu keliling dunia sehingga aku tak perlu lagi melihat wajah jeleknya itu," Ucap Hermione tepat setelah menenggak jus jeruk miliknya sebagai akhir dari sarapannya.
Draco tetap tenang dan seolah tak ada yang membicarakan dirinya.
"Loh, Mione sayang. Bukankah kau yang sampai mengurung diri di kamar karena kakakmu tak berpamitan padamu dan menangis semalaman penuh? Sampai sampai kamarmu kau kunci, padahal tidak biasanya terkunci. Kalau kakakmu pagi ini tidak pulang Mum sangsi kau akan keluar kamar. Bersyukurlah kakakmu pulang sayang," Narcissa tersenyum lembut menenangkan.
Bagai iblis yang dibela oleh malaikat. Draco menjulurkan lidahnya sebagai bentuk ejekan terhadap sang adik yang duduk berhadapan dengan memicingkan matanya kesal.
"Mum, tidak separah itu—"
"Ya, tapi sampai tengah malam saat Dad ingin menengokmu tidur masih mendengar kau terisak. Apanya yang tidak parah?" Lucius menimpali.
Hermione bungkam seribu bahasa, Draco tersenyum puas. Dan para orang dewasa tertawa lepas. Suasana sarapan hari itu, sangat hangat. Tawa memenuhi meja makan. Jarang sekali anggota keluarga yang berkumpul untuk sarapan lengkap dan malah bertambah. Biasanya hanya Narcissa yang sarapan di rumah, dan apabila ia beruntung ia sarapan dengan suaminya saja. Atau dengan ke dua buah hatinya saja. Karena kesibukan anggota keluarga yang lainnya.
RR
Draco duduk di sofa ruang tengah. Sementara orang tua dan paman-pamannya berada di taman belakang, entah membicarakan apa. Ia hanya menyetel televisi tanpa menontonnya. Kedua tangannya asik melempar dan menangkap kembali ponselnya sendiri. Rambut pirang platina halusnya mengalun lembut mengikuti gerakan kepala.
Gadis itu—Hermione—datang dan duduk begitu saja di sampingnya. Tanpa permisi ia menangkap begitu saja ponsel Draco yang ia lempar ke udara. Draco mendelik dan mendecak kesal. Draco tak membantah, ia menghembuskan napas berat sambil menyandarkan punggungnya ke sofa.
"Mau apa?" entah mengapa Draco terdengar tak acuh, terlebih dengan matanya yang tak menatap Hermione melainkan televisi itu.
"Berikan aku penjelasan tentang tadi pagi," tuntut Hermione.
"Mum dan Dad membuatmu skak mat kalau kau merindukanku, darl."
Draco menyeringai menatap Hermione kemudian terkekeh pelan dan kembali pada televisinya.
"Bukan itu bodoh, tentang di kamarmu!"
Draco menatap Hermione bingung. Wajah Hermione kini seperti menahan malu, tetapi egonya terlalu besar untuk mengetahui apa yang tadi pagi kakaknya berusaha lakukan.
"Memangnya apa yang terjadi di kamarku, darl?"
Draco menampakkan ekspresi terkejut dan tidak mengetahui apa-apa. Dan wajah itu sukses membuat dua bantal sofa dipukulkan tepat di wajah tampannya.
"Jangan berpura pura tidak tahu, kakakku-Draco-Lucius-Malfoy-yang-sok tampan-padahal-jelek!"
Draco mengerutkan alisnya, ia bangkit dari posisi bersandarnya. Dan menatap Hermione lekat.
"Yang mana?"
Hidung Draco menabrak hidung Hermione, walaupun begitu Draco masih berpura pura tidak mengingat apa yang telah terjadi.
"Lupakan, kau menyebalkan," Hermione memutar bola matanya bosan dan bersiap memutar kepalanya untuk menjauh dari Draco.
"Yang ini?"
Draco menyandarkan keningnya di kening Hermione. Dan sangat sukses, Draco kembali mendapat mata Hermione seutuhnya.
"Y-ya! Jelaskan!"
Antara ego dan insting Hermione berperang. Dan sepertinya ego Hermione menang untuk mencari alasan mengapa kakaknya melakukan hal se-err-romantis-gila itu padanya. Tapi instingnya sudah memperingatinya mengenai hubungan darah dan rasa yang tak boleh tumbuh diantara mereka, terlebih dengan kakaknya yang memang tak mungkin memiliki rasa padanya.
"Jelaskan yang mana?"
Draco mengangkat sebelah alisnya seolah masih tak mengerti pertanyaan Hermione.
"Ya mengapa kau melakukan ini padaku?" ucap Hermione dengan penuh kemantapan.
"Oh, untuk ini."
Draco mengecup lembut dan singkat bibir adiknya, Hermione. Setelah itu ia melepasnya dan tersenyum manis. Lalu kembali pada televisinya seolah tidak pernah terjadi apa apa.
Hermione terdiam beberapa saat. Hanya matanya yang tetap berkedip untuk sekali dua kali. Tubuhnya membeku.
"Sudahkan? Ada lagi yang mau ditanyakan?"
Draco menatap datar pada Hermione. Melihat wajah adiknya yang tak kunjung berubah untuk sekedar menjawab, Draco menghela napas. Draco bersiap untuk berdiri dari posisinya. Dan kini ia sudah berada di posisi setengah berdiri.
"Kalau begitu aku tetap di sini," Draco turun dari posisinya dan kembali menonton tv. Hermione melemparnya dengan bantal.
"Kau tak ada romantisnya seperti di film-film!" Hermione memberengut kesal.
"Untuk apa aku romantis? Kau hanya adikku. Dan aku, punya pacar saja tidak, untuk apa menjadi orang romantis?"
Draco mengedikkan bahunya tidak peduli. Dan hanya dibalas kekehan oleh Hermione.
"Oke, sekarang pertanyaan terakhir, setelah ini kau mati pun aku persilahkan," Hermione menyilangkan kakinya di atas sofa dengan posisi tubuh penuh menghadap Draco.
"Oke, ini jawaban terakhir, setelah ini kau mati pun tidak aku persilahkan," Draco mengulang dan merubah sedikit kata kata yang dilontarkan Hermione. Dan itu menghadiahkannya satu lemparan bantal lagi.
"Kenapa kau menciumku?"
Hermione menatap Draco intens, Draco seolah berpikir keras. Kemudian menatapnya dengan senyum manis.
"Karena orang lain boleh, kenapa aku tidak?"
Draco memiringkan kepala. Manis sekali. Namun Hermione hanya bisa tersenyum kecut dan tak menjawab pernyataan sekaligus pertanyaan kakaknya, Draco.
Hermione yang tak tahu harus menjawab apa hanya membalikkan badannya ke arah televisi tanpa menidakkan atau mengiyakan perkataan Draco tadi.
"Tapi aku tidak seperti pasanganmu waktu itu, dia tidak tulus padamu. Entah kenapa aku yakin akan itu."
Draco yang sangat jarang tersenyum manis dan normal, kini tersenyum lagi. Entah sudah kali keberapa hari ini Draco begitu manis sekaligus begitu menyakitkan. Hermione tak membalas maupun menengok ke arah Draco.
"Yasudah, kakak ke kamar dulu ya dek," Draco mengacak gemas rambut Hermione. Hermione hanya mengangguk kikuk tanpa suara.
RR
Draco POV
Bodoh! Dasar matanya sialan! Suruh siapa mata itu begitu bersinar ketika aku melihatnya? Suruh siapa ia begitu menggemaskan? Suruh siapa bibirnya begitu dekat dengaku? Oke, aku yang mendekat. Tapi itu karena faktor tanggung. Sudah sangat dekat, kenapa tidak? Tapi dia adikmu. Tapi dia imut sekali. Sial sial sial. Otak dan hati sialan kalian semua!
Aku meninggalkan sofa dengan perang batin. Aku memegang keningku sendiri. Lelah dengan perang yang akan sangat sulit diakhiri dalam diriku ini. Yang sialnya hanya aku yang bisa mendengarnya. Tidak bisa ku bagi suara suara sialan ini kepada orang lain.
Harusnya aku bisa menahan diri. Harusnya dia tidak memancingku seperti tadi. Harusnya ia berlari dan menjauh dariku, padahal saat sarapan aku sudah berusaha sedingin mungkin padanya. Kenapa dia begitu penasaran? Ohya, aku diajak bicara oleh anak paling pintar selama dua belas tahun berturut turut. Sial. Dia begitu menyebalkan. Dia begitu sok ingin tahu. Padahal kalau dia tidak tahu, tidak akan ada kejadian seperti tadi. Dasar bodoh. Dasar Mione bodoh. Hah!
Aku berjalan ke arah toilet. Lebih baik aku menenangkan diriku terlebih dahulu.
Dia, si bocah cantik itu yang bersalah. Bocah ingusan itu, bukan aku. Aku tak membuat kesalahan apapun. Dia dia dia. Bukan aku. Aku lah korbannya di sini.
Aku masuk dan langsung berdiam di depan cermin. Melihat wajahku sendiri.
Aku menjambak frustasi rambut halusku, kemudian berdiam cukup lama.
Aku menyalakan kran, menarik oksigen sebanyak banyaknya dan kemudiam menyiram wajahku dengan aliran air dari kran westafel yang deras itu. Sungguh nyaman sekaligus membuatku tidak nyaman. Nyaman dengan rasa dingin dan kebebasan sesaat yang ada. Tidak nyaman akan rasa bersalah yang aku tidak akui sebagai salahku. Karena aku memang tidak salah.
Normal POV
"Kau bahagia?"
"Ya."
"Syukurlah."
Draco mematikan air dari kran itu. Berusaha mencuri dengar kembali dari suara yang secara sekilas ia dengar. Suara familiar yang entah berasal dari mana. Dengan perlahan agar orang yang ia ingin curi dengar percakapannya tidak menaruh curiga padanya. Ia buka pintu toilet yang dekat dengan ruang tengah dengan perlahan. Mencari keberadaan orang yang suaranya terdengar secara tiba tiba di toilet lagi.
Tapi yang ia temukan hanya adiknya yang masih menonton televisi. Tak ada orang lain di sekitar situ.
"Apakah si Brengsek itu menelefon adikku?" tanya Draco pada dirinya sendiri.
TBC (?)
Malfnger : ini update ya, baru sempet hehe :')
Heyyo : Ini update setelah nyaris setahun, semoga tidak mengecewakan :')
Mia Rinuza : salam kenal juga, ini update moga puas :D Draco sayang adiik
Widya : semoga tambah gemas :D
Nyanmaru Desu : Sedarah ga ya? #mikir semoga puas yaa
Gallatrance Hathaway : mereka beneran sedarah ga ya? #mikir semoga puas. Cek lagi ini ada typo atau ga dong :D
Ms. Loony Lovegood : Kakaak, maaf malah nyaris setahun saking sering diganggu kalo lagi bersemedi nulis fic. Semoga suka ya kak :D
Priscillaveela : wah, ikuti saja alurnya. Fic ini bukan tebak tebakan :D
Achan Lovegood : di chapter ini udah dikurangin, justru kakak-adik itu biar tambah ngena rasa sayangnya, Achan. Sarannya ditunggu lagi ;)
OktaMalfoy : Ini sangat kilat okta, setahun kurang :') semoga sukaa
Titah Anggraeni : Sangat kilat! Semoga sukaa
AureLiaStuff : makasih di fav dan foll :D
Guest : semoga puaas :D
Adellia Malfoy : Semoga sukaa :D
Tamjake : Semoga sukaaa :D
BlackPearl : Jangankan BlackPearl Ryo sendiri kecewa hehe
Sanmione84 : udah niiih, semoga sukaa :D
Natha Nala : duh senengnya di fav, semoga ga mengecewakan hehe
vitaitta : baca aja, jangan sedih hehe
Jhein : Kenapa ya? Tetep baca aja ;)
Yummi vic : Usahain sampe tamat kalo jaringan ke Ffnnya lancar, ga kayak setahun kemaren ga bisa buka terus :')
RR/N: Terimakasih untuk siapapun yang sudah menyempatkan waktu untuk membaca fic ini, terlebih yang me-review, mengikuti, dan memfavoritkan. Maaf typo dan sangat telat update :')
