.

Author's note: Apakah di antara pembaca ada yang pernah membaca manga berjudul 'Dream Saga' karangan Tachikawa Megumi-sensei? Yap, chapter kali ini juga merupakan crossover (atau mungkin lebih tepat jika disebut juga terinspirasi oleh) 'Dream Saga', hanya saja author menyebut dunia para dewa sebagai Takamagahara dan dunia manusia sebagai Nakatsukuni... sementara pada serial 'Dream Saga', Takamagahara adalah dunia mimpi dan Nakatsukuni adalah dunia nyata tempat tinggal para tokoh 'Dream Saga'. Author juga tidak memasukkan elemen karakter yang berpindah antara dunia nyata dan dunia mimpi, alih-alih lebih memusatkan cerita pada legenda Amaterasu dan Susano-O yang diadaptasi dalam 'Dream Saga'. Jadinya seperti apa, silakan dibaca dan semoga chapter kali ini berkenan di hati pembaca sekalian~! (^^)/


...


Takamagahara, sebut saja sebagai negeri para dewa, di mana dewa seolah tinggal di atas awan dan selalu memandang ke bawah, pada sebuah hamparan hijau meluas yang dinamai Nakatsukuni. Takamagahara dan Nakatsukuni juga merupakan dua dunia di mana Matahari menjadi entitas sakral yang mulai terlupakan oleh tingkah arogan manusia. Karena Matahari akan selalu menggantung di langit setiap siangnya, bertukar peran dengan sinar Bulan di malam hari. Siklus menjemukan yang kemudian tidak lagi manusia hiraukan. Toh Matahari tidak akan pernah jatuh dari langit. Toh Matahari tidak akan pernah menggelapkan sinarnya di tengah siang bolong untuk menggemparkan seisi muka bumi. Toh ritual yang dilakukan setiap menyambut awal tahun baru juga ditujukan sebagai penghormatan dan penyembahan terhadap dewa penguasa Matahari itu sendiri, Amaterasu-Ou-Mikami. Toh selama ritual tetap berjalan, dewa tidak akan murka dan tidak akan mengirimkan petakanya pada umat manusia, bukan?

Atau benarkah demikian?

Benar, tentu saja. Apalagi jika argumen ini dilontarkan oleh rakyat jelata yang hanya peduli isi perut semata. Dan silakan layangkan pertanyaan itu pada anggota keluarga kerajaan yang selalu tinggal di balik tembok Kastil Shinoukyu yang menjulang megah di tengah kota Ryusha, jatung dari Nakatsukuni. Atau tanyakan pula pada para pendeta paruh baya kaku dari Kuil Dewa Matahari. Manusia-manusia dengan tubuh terbalut warna-warni sutra lembut dan gemerlap permata ditata kanan-kiri, hidup di tengah kemegahan dan kemewahan yang sekaligus membutakan mata dari rakyat kelaparan di luar tembok kokoh yang mereka bangun, yang mengetahui bahwa ritual penyembahan Amaterasu-Ou-Mikami setiap tahun baru itu hanyalah dusta belaka. Bahwa hasil panen dan ternak yang rakyat kumpulkan di Kuil Dewa Matahari hanyalah semata-mata upeti tahunan bagi sang raja penguasa, Tsukuyomi.

Meski tentu saja, ada alasan lain di balik mengapa pendeta-pendeta Kuil Dewa Matahari sendiri memutuskan untuk berlindung di bawah jubah ketamakan sang raja dan menyembunyikan fakta mengenai ketidakabadian Amaterasu-Ou-Mikami.

… tidak abadi?

Oh ya, tentu saja. Karena akan tiba hari di mana Matahari seluruhnya tertelan oleh kegelapan pekat. Dalam siklus ratusan tahun sekali, akan tiba hari di mana Amaterasu-Ou-Mikami dilahap sepenuhnya oleh sosok makhluk legendaris yang selalu menantikan datangnya kenihilan total, tidak hanya di Takamagahara, tempat tinggal para dewa, namun juga di Nakatsukuni. Dan apa jadinya jika manusia-manusia lemah yang dengan arogan menggantungkan sejuta harap pada sang Matahari, lantas mengetahui kenyataan pahit bahwa keabadian hanyalah segumpal kebohongan yang dirajut dengan kata-kata indah, bahwa sesungguhnya tangan-tangan rapuh manusia selama ini hanyalah menggenggam dusta yang tidak akan pernah bisa menepati janji akan kesejahteraan sepanjang masa?

Karena sang dewa yang tidak akan pernah abadi. Sang dewa yang memiliki siklusnya sendiri. Sang dewa yang akan selalu memilih penerusnya, seorang anak manusia yang diberkahi cahaya untuk melanjutkan peran sang dewa, untuk berganti menerangi dunia, dalam janji manis berupa sebentuk ketidakabadian yang sempurna.


...


.

Project K (c) GoRa & GoHands

TWENTY-FOUR

Fragment 1: Heavenly Rising Sun

.

'Mataharinya. Dewanya. Entitas yang selalu menenggelamkannya dalam beribu jalaran kehangatan rasa yang tidak ia mengerti artinya.'

.

.

.

.

.

Di kedalaman gua Ama-no-Iwato, gua pada puncak gunung Tenjukyu, gunung tertinggi di daratan Takamagahara, tampak sosok tegap sang Dewa Matahari. Surai merah seolah lidah api yang menjilat. Bola mata emas yang membara, seakan membakar siapapun yang berani mengusik ketenangannya. Meski sorotnya lantas nanar menancap pada dua makhluk di hadapannya. Yang satu serupa anak laki-laki yang memiliki empat pasang sayap berwarna gelap di punggung, sementara yang satunya serupa anak perempuan dengan surai seputih butiran salju dan sepasang manik rubi berkilau yang balas menatap sang dewa, sendu.

[… Ame-no-Uzume, apakah sudah waktunya?]

Sosok menyerupai anak perempuan kecil mengangguk lembut. Helai demi helai putihnya tersibak mengikuti gerak tubuh. Sementara sosok bocah laki-laki bersayap terdengar menahan pekik terkejutnya.

[Anna… jangan bilang kalau Mikoto-san tidak lama lagi akan—]

[—Yatagarasu, jaga ucapanmu. Kau kuizinkan memanggilku dengan nama manusiaku, tapi tidak seharusnya kau menyebutnya dengan nama kecil seperti itu.]

[Ma—maafkan aku, Ame-no-Uzume-sama….]

[Tidak perlu sungkan, Misaki. Kita sudah bersama-sama menemani Mikoto sebagai Amaterasu, jadi Misaki tidak punya alasan untuk bersikap formal hanya karena aku seorang dewi. Dan mengenai Mikoto… ya, kegelapan tidak lama lagi akan datang. Waktu yang mungkin bagi manusia relatif lama, tetapi tidak bagi kita yang telah menghabiskan ratusan tahun lamanya untuk hidup.]

[Heh. Biarkan ia datang, kalau begitu. Empat ratus tahun… aku mulai bosan dengan peran bodoh sebagai dewa ini.]

[Jangan khawatir, Mikoto. Telah lahir manusia yang ditakdirkan untuk menggantikan peranmu.]

Sang Dewa Matahari menyeringai. Namun kobar janggal di matanya belum mereda.

[Oh? Aku ingin melihatnya, Ame-no-Uzume. Bisakah?]

Sang dewi mungil mengangguk lagi. Telunjuk kecil yang kemudian terentang melewati Mikoto. Sang Dewa Matahari menoleh, mengikuti arah yang ditunjukkan Anna, hingga sepasang emas berkilau miliknya menemukan satu ceruk besar, setinggi tubuhnya, tertanam di dinding gua. Melangkahkan kaki dan mendekati ceruk tersebut, Mikoto kemudian menggerakkan tangan, lantas mengibaskan ruang kosong dalam naungan cekungan ceruk lonjong vertikal tersebut, seolah melengkungkan ruang, membentuk pusaran warna kelabu.

Tidak lama, ceruk cekung itu berubah menjadi sebuah jendela. Dan apa yang Mikoto lihat melewati jendela itu nyaris menghentikan tarikan napasnya.

Sesosok bayi mungil, anak manusia. Surainya gelap sewarna langit malam. Sepasang manik dengan warna unik yang kontras dengan identitas merah membara miliknya, namun betapa Mikoto terhisap ke dalamnya. Sementara si bayi kecil dalam kelambu, seakan menyadari kehadiran Mikoto di sana, berguling di atas tumpukan sutra yang membalut erat tubuh, menghadap ke arahnya. Sebuah senyum manis dan sepasang tangan yang terangkat. Seolah memanggilnya. Mengajaknya bermain.

Sesuatu dalam dada Mikoto serasa dibakar. Rindu.

Suara beratnya meluncur. Mendadak terdengar serak.

[Siapa namanya?]

Di sisinya, tanpa Mikoto sadari, satu lengkung senyum hangat tengah Anna berikan pada wajahnya yang masih belum berpaling dari si bayi mungil di seberang jendela ceruk.

[Reishi. Nama anak itu Reishi.]


...


.

[Dawn never waits to rise

Dusk never fails to set]

.

[While darkness lifts fangs to its prey

of empty pray that might you convey]

.

[Just don't cover you ears

Don't ever be consumed by fears

Don't ever let them lick your tears]

.

[Because I will find you

Yes, once more and I will find you]

.


...


"Reishi, jika sudah besar nanti, kau akan menjadi penerus Dewa Matahari."

"Kau anak yang diberkati, Reishi. Kau akan menjadi cahaya bagi seluruh umat manusia di muka bumi."

"Menjadi Dewa Matahari adalah takdirmu, Reishi, dan kau tidak perlu risau akan apapun. Kau harus bangga akan hal itu."

Reishi di umur sembilan tahun masih tidak bisa mengerti maksud setiap ucapan yang terlontar dari mulut ayahandanya, yang merupakan raja penguasa di negeri Takamagahara. Bagaimana caranya seorang manusia biasa sepertinya, yang bisa berdarah dan terluka jika jatuh terjerembab, lantas berubah menjadi dewa yang tinggal di puncak tertinggi langit dengan kekuatan di luar logika manusia? Lalu peranan sebagai Dewa Matahari…? Jangan bercanda. Mana ada anak manusia biasa yang punya kekuatan sebesar itu untuk menerangi seisi bumi? Dan apa yang harus dibanggakan dan tidak perlu dirisaukan, bila hari-hari yang dilaluinya tidak lain adalah sebuah sangkar emas yang dibangun dari tembok-tembok kokoh menjulang tinggi, bahkan membuat Reishi sendiri kesulitan untuk menikmati luasnya langit biru?

Berbagai macam pertanyaan berjejalan dalam kepalanya, sementara ayahandanya terlalu sibuk mengurusi negara dan para pengasuhnya tidak pernah memberikan jawaban yang memuaskan haus dahaganya akan pengetahuan akan dunia di sekelilingnya. Terlebih lagi mengenai takdir yang seolah dibebankan tanpa tanggung jawab di atas pundak mungilnya. Mungkin jika ibundanya masih menuntunnya dan menemaninya ke manapun Reishi merengek ingin pergi, maka ibundanya pasti mampu menjawab apapun pertanyaan yang akan dicelotehkan Reishi.

Meski sayangnya, kenyataan tidak seindah itu. Bahkan mengingat wajah ibundanya saja Reishi tidak bisa. Atau lebih tepatnya… Reishi tidak tahu seperti apa wajah wanita yang menghembuskan napas terakhir beberapa saat setelah melahirkannya itu.

Dan Reishi kecil tidak pernah berhenti mencari. Berlari. Pelariannya adalah pada segudang buku dan jutaan lembar kertas di perpustakaan istana. Toh selama Reishi tetap berada di dalam kurungan tembok istana, maka ia tidak perlu membuat para pengasuhnya kerepotan. Reishi tahu ia harus menjaga dirinya, menjaga perilakunya. Karena ia tidak ingin sepasang tangan besar milik sang raja yang kerap menepuk kepalanya lantas berbalik pergi menjauh apabila Reishi membuat ulah yang—mungkin di mata ayahandanya—tidak termaafkan.

Seperti hari ini. Langit di luar tengah mencurahkan berton-ton air yang mengalir deras dalam guruh petir memekak telinga. Dan Reishi seperti biasa akan menghabiskan setengah harinya di perpustakaan, membaca buku dan melahap informasi apapun ke dalam otaknya. Meski sesekali Reishi akan melirik keluar jendela-jendela kayu istananya, berharap hujan akan segera berhenti dan matahari akan kembali bersinar dari langit.

Ya. Satu fakta menarik yang membuat Reishi merasa, mungkin dirinya cocok sebagai penerus Dewa Matahari, adalah ketika Reishi sangat menikmati hari-harinya berjemur di bawah dekap hangat mentari, dengan buku di pangkuan maupun ketika salah satu pengasuhnya mengajarkannya ilmu pedang kayu dan beladiri lainnya.

"Are, Reishi-kun? Di sini kau rupanya! Kami mencarimu ke mana-mana. Sedang apa kau di sini?"

Satu suara ramah menyapa indera pendengarannya. Reishi mengangkat kepala dari buku tebal berjudul 'Sejarah Pembangunan Benteng Kastil Ryusha, jilid 2' yang tengah dibacanya. Mengintip dari ujung rak, seorang pemuda yang lebih tua darinya, tersenyum hangat ke arahnya. Di belakang pemuda bersurai madu itu tampak satu laki-laki muda lainnya, perawakan yang bahkan jauh lebih dewasa dari si pemuda berwajah manis satunya.

Reishi kemudian mengangguk dan tersenyum kikuk. "Tatara-niisan, Izumo-niisan… seperti yang kalian lihat, aku sedang belajar."

"Tuh 'kan, Tatara… sudah kubilang, kalau mau mencari Reishi-chan di hari hujan begini ya ke perpustakaanlah tempatnya. Kau malah menyeretku ke Kuil Dewa Matahari, astaga… Reishi-chan 'kan belum menjalankan ritual persucian pertamanya, jadi tidak mungkin ia ada di sana—"

"—iya iya, aku mengerti. Kau semakin lama semakin bawel seperti raja tua itu, Izumo-nii. Nanti kau cepat tua dan cepat keriput, loh."

"Demi Amaterasu, astaga… kau berani mengejekku, Tatara?!"

Reishi mulai kehabisan akal sehat menghadapi dua kakak tirinya ini apabila keduanya mulai bersilat lidah kemudian terlarut dalam dunia kecil kakak-beradik itu. Ya, kakak tiri. Izumo dan Tatara adalah anak sang raja dari permaisuri sahnya, berbeda dengan Reishi yang merupakan anak dari selir sang raja. Ah, pantas saja dikatakan bahwa Reishi harus berbangga diri akan takdirnya sebagai penerus Dewa Matahari. Tidak setiap anak selir diberikan anugerah peranan penting dalam sejarah, bukan? Satir sekali. Reishi masih sering meringis daripada merasa bangga apabila mengingatnya.

Berdeham, Reishi berusaha mengalihkan perhatian kedua kakak tirinya yang sebentar lagi akan memulai adu jotos ronde pertama itu. "Izumo-niisan, Tatara-niisan, ini perpustakaan dan kuharap kalian tetap tenang, ya? Dan… apakah kalian mencariku? Ada apa?"

"AH~! Kami nyaris saja melupakannya!" seru Tatara cepat. Pemuda itu kemudian menghilang dari balik rak, dan tidak lama kembali lagi, dengan sebelah tangan merangkul bocah kecil berumur lima tahun. "Saruhiko-kun~ kami sudah mengantarmu pada kakak tersayangmu itu, ayo sekarang pergi main dengannya dan jangan lagi sembunyi malu-malu di belakang Izumo-nii~!"

Reishi mengerjap. Manik ungunya menatap adik bungsu yang sedarah dengan Izumo dan Tatara itu, meski anehnya si bocah yang dipanggil Saruhiko tadi lebih sering menghabiskan waktunya dengan mengekor Reishi ke mana pun Reishi melangkah. Sindrom anak kecil punya idola, atau seperti itulah penjelasan ekstra-singkat Izumo, kalau Reishi tidak salah ingat.

Menghela napas meski tidak bisa menyembunyikan seulas senyum di wajah, Reishi menutup bukunya dan beringsut turun dari bangkunya, berjalan pelan ke arah Saruhiko yang masih belum melepas cengkeraman erat pada hakama emas yang dikenakan Tatara. Reishi kemudian mengulurkan tangan, menggasak surai hitam gelap milik Saruhiko, yang begitu identik dengan surai milik sang raja.

"Kau masih tersesat dan tidak bisa menemukan jalanmu menuju perpustakaan ini, Saruhiko-kun?"

Si bocah kecil tidak menjawab, alih-alih bergerak dan bergelayut manja menggamit sebelah lengan Reishi yang bebas.

"Saru-chan sepertinya semakin menempel padamu," komentar Izumo, bersandar pada tepian rak buku. "Mungkin karena beda umurnya dengan kami yang terlalu jauh, atau ada alasan lain? Tapi apapun itu, aku bersyukur kau tidak menutup dirimu dan menyempatkan waktu untuk menemaninya bermain."

"Itu karena kalian juga tidak menganggapku hanya sekedar anak selir atau sebagai penerus Amaterasu berikutnya. Kalian memperlakukanku seperti adik kalian sendiri, sehingga aku tidak punya alasan untuk menelantarkan Saruhiko-kun begitu saja."

"Tapi aku sebetulnya penasaran," sambung Tatara, mengangguk-angguk dan memasang raut wajah berpikir keras, "Saru-kun tidak pernah semanja ini pada orang lain… bahkan ia pun tidak mau terbuka pada kami."

Reishi tertegun. Kata-kata Tatara ada benarnya juga. Reishi baru dikenalkan pada Saruhiko satu tahun lalu, atau lebih tepatnya tidak sengaja bertemu ketika Reishi yang sedang membaca buku di taman istana bertemu Tatara yang kewalahan berusaha menghentikan tangis merengek Saruhiko dengan membawa bocah berisik itu ke taman. Dan semenjak hari itu, selalu ada sepasang bola mata berbinar yang mengikuti Reishi, mulut yang menurut diam jika Reishi memintanya untuk tidak membuat kegaduhan di perpustakaan, kerut di kening setiap kali Reishi mengajarkan Saruhiko membaca dan menulis, juga wajah kekanakan yang tertidur lelap di sampingnya setelah malam sebelumnya Saruhiko menangis di depan pintu kamarnya karena mimpi buruk dan merajuk untuk tidur bersamanya. Reishi tidak mengerti dengan tingkah laku Saruhiko yang janggal di matanya ini—meski Reishi pun sesungguhnya tidak pula merasa terganggu dengan polah polos adiknya itu. Apakah sekedar sindrom anak kecil yang Izumo katakan padanya? Atau….

"Omong-omong, Reishi-chan… satu minggu lagi, ya?"

Pertanyaan Izumo itu mengembalikan kesadaran Reishi dari lamunannya. Ah, ya. Satu minggu lagi. Ternyata waktu sudah berjalan secepat itu, ya? Reishi hanya menganggukkan kepala, lalu beralih menatap Tatara, yang berpaling cepat ke arah Izumo lalu kembali memandang ungunya, sendu. Kemudian gerakan kepala Saruhiko di lengannya. Sepasang mata bulat yang menyorot kebingungan, kentara meminta penjelasan tanpa perlu mengucap sepatah kata pun.

Reishi mendesah. Entah mengapa, sesuatu dalam dadanya terasa dihimpit. Sesak. Reishi lantas memaksakan seulas senyum hangat pada Saruhiko.

"Minggu depan… aku akan menjalani ritual pertamaku sebagai penerus Amaterasu, Saruhiko-kun."


...


[Bocah itu… ia bahagia, Ame-no-Uzume. Ia bahagia dengan hidupnya.]

Sang dewi bersurai putih terdiam. Manik rubinya tidak lagi mengamati pemandangan dalam ceruk cekung itu, melainkan pada garis wajah sang Amaterasu-Ou-Mikami di sisinya.

[Mereka yang ditakdirkan untuk menjadi Amaterasu akan selalu hidup bahagia. Bukankah Mikoto dulu juga begitu?]

Senyum dingin sang Dewa Matahari yang lantas menjawab.

[Aku sudah lupa.]

[Sembilan tahun dan Mikoto terus mengawasi Reishi. Padahal Mikoto tahu kalau Reishi yang sekarang sama sekali belum bisa merasakan kehadiran Mikoto, 'kan?]

[Apalah arti sembilan tahun dibandingkan empat ratus tahun lebih, dan tiga puluh satu tahun sebagai manusia hingga aku sepenuhnya berubah menjadi dewa? Biarkan aku bersenang-senang sedikit sebelum waktuku berakhir, Ame-no-Uzume.]

[Mikoto… berjanji tidak akan melewati batas?]

Sang Dewa Matahari terkekeh. Getirnya terasa menggaung hingga ke sela dinding gua.

[Yatagarasu.]

Seruan bunyi kepakan sayap. Beberapa detik berikutnya, sosok pemuda bersurai sewarna kacang itu mendarat dan membungkuk hormat di hadapannya.

[Anda memanggilku, Mikoto-san?]

[Satu minggu lagi, Yatagarasu. Persiapkan dirimu, karena setelah ini kau harus mengajarkan banyak hal pada calon penerus Amaterasu, seperti yang telah dilakukan para pendahulumu.]


...


Ritual persucian pertama bagi calon Dewa Matahari. Ritual yang konon katanya bertujuan untuk memekakan sel-sel tubuh sang calon dewa terhadap energi (jika tidak mau dibilang kekuatan mistis) di sekitarnya. Berbagai macam air dengan wangi bunga-bungaan berpadu, lembar-lembar gulungan doa yang dibacakan, ceramah panjang lebar dari tengah hari hingga matahari nyaris tenggelam di ufuk barat.

Reishi nyaris tertidur jika cipratan air tidak tiba-tiba saja telak membasahi wajahnya.

"Tuan Muda, Anda tidak boleh tertidur! Ini ritual penting dan Anda harus melewatinya dari awal sampai akhir!"

Reishi menggumam kata maaf, diiringi semburat merah menghiasi wajahnya. Ia menegakkan tubuhnya. Kakinya sudah mati rasa setelah dipaksa berjam-jam duduk bersimpuh. Dan ia tidak butuh kecerobohan lainnya hanya untuk diakhiri dengan semprotan galak Pendeta Awashima—sang pendeta wanita tertinggi dari Kuil Dewa Matahari.

"Sekarang, silakan Anda ucapkan kalimat mantranya."

Menurut, Reishi berdiri—nyaris limbung karena kedua kakinya yang mendadak diserang kesemutan luar biasa—dan menyeret langkah menuju altar. Tepat di hadapannya, di atas meja persembahan, terdapat sebuah magatama putih bersih. Reishi kemudian mengulurkan tangan, menyentuh batu tersebut, diikuti gerak mulutnya yang mengucap sepatah kalimat yang telah dihapalnya selama satu minggu ke belakang. Kata-kata yang Reishi tidak terlalu mengerti artinya—dan bertapa Reishi gatal untuk mencari tahunya terlebih dahulu sebelum melakukan ritual bodoh dan tidak masuk akal ini.

Selesai Reishi mengucapkan suku kata terakhirnya, tubuhnya mendadak dibalut cahaya kemerahan. Pola lingkaran di altar yang kemudian menyala terang, memunculkan kobar api yang meliuk-liuk, mengepung Reishi. Reishi terperangah. Bukan karena rasa takut akan api yang mungkin saja melahapnya dalam hitungan detik. Melainkan karena, nyatanya, api itu sama sekali tidak terasa membakar di kulitnya. Panas yang sekedar membalut tubuhnya, begitu nyaman. Reishi memejamkan mata, merasakan sel-sel di tubuhnya yang seolah menyerap kekuatan mahadahsyat itu.

[Reishi….]

Membuka mata, dan apa yang kemudian dilihatnya nyaris membuat jantungnya berhenti berdetak seketika.

Sebuah siluet api, menari melukiskan sosok tinggi besar. Panas di sekelilingnya yang semakin menguar. Reishi mulai megap-megap kehabisan napas. Paru-parunya butuh udara bebas. Meski kehadiran sosok agung di hadapannya itu membuat seluruh tubuhnya kaku. Terkunci. Mulutnya menganga. Matanya terbelalak tak percaya.

Apakah yang di hadapannya ini… tidak lain adalah Amaterasu-Ou-Mikami sendiri?

Detik berikutnya, diserang sensasi membakar yang teramat sangat, dunia di sekelilingnya mendadak berputar cepat. Sang calon dewa yang kemudian jatuh ditinggalkan kesadarannya.


...


"Reishi-niichan…! Reishi-niichan…!"

"Saru-chan, jangan khawatir…. Reishi-chan akan baik-baik saja."

"Tapi… tapi sudah lima hari dia tidak bangun, dan—"

"Saruhiko-kun, Reishi-kun hanya butuh istirahat. Kalau kau terus merengek seperti ini di depan pintu kamarnya, Reishi-kun akan terganggu dan itu tidak akan membuatnya bangun lebih cepat. Jadi, kau harus bersabar, ya?"

"… un."

"Kalau begitu, ayo sekarang ikut aku! Aku akan memasak sesuatu untukmu, kamu mau makan apa, Saruhiko-kun?"


...


Reishi membuka matanya. Kepalanya berpaling ke arah pintu. Telinganya samar-samar mendengar derap langkah Izumo, Tatara, dan Saruhiko pergi meninggalkan koridor depan kamarnya. Ia lantas menghela napas, setengahnya berterima kasih pada usaha dua kakak tertuanya untuk mengalihkan perhatian Saruhiko dari kondisinya, dan sisanya digenangi perasaan bersalah pada Saruhiko.

[Oi. Sudah bangun?]

Dan inilah yang menjadi alasan terbesar baginya untuk sementara waktu menarik diri dari orang-orang di sekitarnya, terutama Saruhiko. Mendesah, Reishi mendudukkan diri di atas futon-nya, sementara matanya mendelik tajam pada burung gagak berbulu cokelat kacang yang terbang rendah mengitarinya. Sedetik berikutnya, diiringi satu bunyi berdebum pelan, wujud si burung gagak berganti, menampakkan figur pemuda bersurai serupa bulu si gagak, dengan kimono merah menyala dan empat pasang sayap di punggung.

Siluman burung ini, Reishi mengenalinya sebagai Yatagarasu, gagak bersayap delapan yang juga merupakan peliharaan suci sekaligus penjaga para Amaterasu-Ou-Mikami, juga merupakan makhluk pertama yang menemaninya ketika Reishi siuman satu malam setelah ritual persuciannya berakhir.

[Kau jahat sekali,] keluh si pemuda gagak, menyilangkan kaki dan duduk nyaman di sisi futon Reishi, [Aku tahu kalau Amaterasu diberi kebebasan untuk mengubah bentuk kami, para yatagarasu, menjadi manusia maupun burung sesuai keinginan kalian, tapi setidaknya biarkan aku mendarat dulu baru kau mengubahku, bocah sialan.]

[Dan aku harus bilang berapa kali bahwa aku tidak ingin kelihatan berbicara sendiri pada seekor gagak bawel yang tid bisa diam?] balas Reishi ketus. [Tidak menyangka aku akan diberikan burung penjaga banyak bicara sepertimu.]

[Heh. Kau pikir cuma kau yang berhak mengeluh? Kuberi tahu ya, bocah sialan, tuanku Amaterasu-sama hanya satu, hanya Mikoto-san seorang! Aku membantumu di sini hanya untuk menjalankan perintahnya, mengerti?]

Reishi menghela napas. Ia tidak ingin berdebat lebih panjang dengan siluman cerewet ini. [Baiklah, sepertinya aku memang terjebak denganmu, Yatagarasu.] Dan juga dengan bahasa para dewa yang aneh ini, tambah Reishi dalam hati. Reishi masih belum terbiasa dengan kemampuan berkomunikasinya yang begitu janggal, sebuah bahasa asing yang ia gunakan setiap kali ia berbicara dengan Yatagarasu, namun entah bagaimana bahasa itu terasa begitu mudah diucapkan olehnya. Reishi lantas mengulurkan tangan pada sang siluman burung.

Yatagarasu di depannya itu hanya mengangkat sebelah alisnya. Bola mata hazel yang bergantian memandang tangan Reishi yang terjulur dan pada sebuah raut di wajahnya.

[Kita belum berkenalan secara formal, bukan? Namaku Reishi, dan kuharap kau mau memanggilku dengan namaku, bukan dengan sebutan 'bocah sialan' atau sebutan lainnya. Mohon bantuannya, Yatagarasu—]

[—Misaki. Kau bisa memanggilku dengan nama itu], sambar si siluman gagak cepat, seraya menyambut uluran tangan Reishi. Sementara Reishi gatal menahan tawa ketika ia menyadari satu semburat merah menghiasi pipi siluman penjaganya itu.


...


[Dengar, Reishi. Aku memang diutus sebagai penjagamu, tapi aku juga masih terikat dengan kewajibanku akan Mikoto-san—maksudku, Amaterasu-sama yang sekarang. Jadi, aku akan membantumu belajar selama aku berada di Nakatsukuni ini, namun akan ada waktunya aku harus meninggalkanmu dan kembali ke Takamagahara untuk sementara waktu, mengerti?]

[Aku mengerti. Kalau begitu, bisa kita mulai sekarang, Misaki-kun?]

[… kau benar-benar bocah manusia tidak sabaran, ya, Reishi? Baiklah. Aku akan menceritakan asal mula kebenaran mengenai Amaterasu-Ou-Mikami-sama, yaitu pada saat—]

[—bukankah sebaiknya kau memulainya dari legenda mengenai Takamagahara dan dua dewa pencipta, Izanagi dan Izanami?]

[Oi, Reishi. Satu hal yang perlu kau ketahui, ini semua bukan legenda. Yang akan kusampaikan adalah kebenaran, sebuah kenyataan yang selama turun-temurun disampaikan dalam garis darah Yatagarasu untuk diajarkan pada para penerus Amaterasu-sama. Dan kulihat kau sudah mengenal Izanagi-sama juga Izanami-sama, bagus sekali… ini akan mempermudah tugasku. Jadi bagaimana kalau kau saja yang menjelaskannya padaku, Reishi? Apa saja yang sudah kau ketahui mengenai para dewa sejauh ini?]

[Tidak banyak. Yang kuketahui hanyalah cerita tentang Izanagi dan Izanami, entitas dewa dan dewi pertama di Takamagahara sekaligus yang menciptakan daratan-daratan di Nakatsukuni. Izanami kemudian meninggal ketika melahirkan Kagutsuchi, Dewa Gunung Berapi. Izanagi yang tidak menerima kematian istrinya itu lantas mengejar Izanami hingga ke Yomi—tempat tinggal makhluk yang telah mati, dan memintanya kembali ke Takamagahara untuk melanjutkan hidup mereka. Izanami berkata bahwa ia telah mati dan sudah seharusnya berada di Yomi, namun Izanami mencoba mencari tahu apakah ia masih diperbolehkan meninggalkan Yomi atau tidak. Izanami meminta Izanagi untuk menunggu, namun sang dewa pencipta yang tidak sabar lantas mengingkari janjinya, ia mengejar dan mencari Izanami, yang saat itu telah berubah sosoknya menjadi semacam mayat hidup yang kehilangan kecantikan sempurnanya sebagai seorang dewi. Izanagi yang ketakutan kemudian kabur dari Yomi dan meninggalkan Izanami di sana. Sepulangnya dari Yomi, Izanagi membersihkan tubuhnya, dan dari tubuhnya kemudian lahirlah Amaterasu, Tsukuyomi, dan Susano-O.]

[Hmm, bagus sekali. Lalu setelah itu, apa yang menurutmu terjadi pada Amaterasu-sama, Tsukuyomi-sama, dan Susano-O-sama?]

[Ketiga dewa ini saling bertengkar satu sama lain, seperti ketika Tsukuyomi membunuh Dewi Pangan, menyebabkan Amaterasu mengusir Tsukuyomi dan Takamagahara, memisahkan siang dan malam. Lalu yang paling terkenal adalah legenda pertengkaran Amaterasu dan Susano-O, di mana Susano-O menghancurkan ladang milik Ame-no-Uzume, Dewi Fajar, yang kemudian membuat Amaterasu murka dan bersembunyi di gua Ama-no-Iwato. Kegelapan yang kemudian melanda seluruh Takamagahara dan Nakatsukuni, hingga akhirnya Ame-no-Uzume, dibantu oleh Susano-O yang datang untuk meminta maaf dan mempersembahkan pedangnya, Kusanagi-no-Tsurugi, mengadakan suatu festival penuh musik dan keramaian untuk memancing Amaterasu keluar dari tempat persembunyiannya, agar matahari kembali bersinar di dua dunia ini.]

[… itu saja…?]

[… memang ada cerita lain lagi?]

[Hahh…. Kalau memang benar ceritanya seperti itu, tidak perlu ada manusia sepertimu yang dikorbankan untuk meneruskan jejak Dewa Matahari, Reishi.]

[… dikorbankan? Misaki-kun, sebenarnya apa yang—]

[—kukatakan padamu, Reishi. Yang akan kusampaikan ini adalah kenyataan, yang sangat berbanding terbalik dengan mitos dan legenda yang selama ini disampaikan turun-temurun oleh manusia. Dan kau sudah terlanjur tahu sebanyak ini… aku tidak tahu apakah ini akan memudahkanmu untuk menerima apa yang akan kukatakan, atau malah sebaliknya.]

[Ceritakan saja, Misaki-kun. Itu sudah menjadi tugasmu, bukan?]

[… baiklah. Sebelumnya, pernahkah kau bertanya-tanya mengenai peranmu, mengenai mengapa Dewa Matahari harus ada penggantinya? Dan tambahan pertanyaan lainnya, adalah mengenai mengapa raja penguasa di negeri ini memiliki panggilan yang sama dengan salah satu adik dari Amaterasu-sama?]

[Ya. Aku bertanya-tanya, meski sama sekali tidak menemukan literatur yang bisa menjawab pertanyaanku ini.]

[Karena memang tidak pernah ada manusia yang diperbolehkan untuk mencatat apa yang sebenarnya terjadi pada ketiga dewa ini, Reishi. Kebenaran ini hanya disampaikan dari Yatagarasu pada penerus Amaterasu-sama, sebagaimana kau berjanji padaku, kau tidak akan pernah menceritakan apa yang akan kukatakan ini pada siapapun. Si-a-pa-pun, mengerti?]

[… baik. Aku janji, tidak akan mengatakannya pada siapapun.]

[Jadi, Reishi… hal pertama, dan paling krusial, yang harus kau ketahui dari ketiga dewa ini adalah… ketiganya bukanlah makhluk abadi, sama sekali. Setiap generasinya akan lahir Amaterasu-sama, Tsukuyomi-sama, dan Susano-O-sama yang baru, berulang kali. Hal yang kedua adalah mengenai Tsukuyomi-sama. Pertikaiannya dengan Amaterasu-sama memang benar terjadi, namun bukan berarti siang dan malam terpisah hanya karena alasan itu saja—itu benar-benar mitos bodoh yang pernah kudengar dari mulut manusia, sungguh. Pada kenyataannya, Tsukuyomi-sama diusir dari Tenjukyu—bahkan dari Takamagahara, dan Amaterasu-sama memerintahkannya untuk memimpin para manusia di Nakatsukuni, untuk menjadi raja demi menuntun umat manusia.]

[Lalu… bagaimana dengan Amaterasu dan Susano-O?]

[Susano-O-sama… adalah adik yang semula paling akrab dengan Amaterasu-sama, sebelum para penghuni Takamagahara mengetahui takdir lain yang dibawa oleh Susano-O-sama. Pertengkaran kedua kakak-beradik ini bukan hanya karena Susano-O-sama sekedar mengobrak-abrik ladang Ame-no-Uzume-sama, melainkan karena setelah itu, terjadi pertarungan antara Amaterasu-sama yang berusaha membela Ame-no-Uzume-sama, namun karena pertarungan tidak imbang maka Amaterasu-sama yang terjepit dan terdesak akhirnya melarikan diri dan bersembunyi di puncak Tenjukyu, tepatnya di gua Ama-no-Iwato. Tetapi….]

[… tetapi?]

[Susano-O-sama yang tidak menerima perilaku pengecut sang kakak yang seperti itu, lantas mengejar Amaterasu-sama hingga ke Tenjukyu. Segala cara dilakukan Susano-O-sama untuk memancing Amaterasu-sama keluar dari persembunyiannya. Dan ketika Amaterasu-sama lengah, Susano-O-sama memaksa masuk, dengan kekuatan besarnya menjebol pintu gua dan… dan memakan Amaterasu-sama… melenyapkan keberadaan matahari dari Takamahagara maupun Nakatsukuni. Setelah itu, demi mengembalikan sinar matahari ke seluruh penjuru bumi, Dewa Langit membunuh Susano-O-sama namun juga membuat siklus reinkarnasi untuk mereka, di mana setiap empat ratus tahun sekali Amaterasu-sama akan dibunuh oleh Susano-O-sama, lalu sang penerus Amaterasu-sama yang akan menjadi penerus agar matahari tetap bersinar.]

[….]

[Aku tahu ini bukan cerita yang mudah untuk dicerna, Reishi. Maaf, mungkin… aku pun terlalu cepat menjelaskan ini semua padamu. Bagaimana kalau kali ini kita bahas tuntas mengenai sejarah kerajaanmu dan tentang Tsukuyomi-sama? Dan mengenai Amaterasu-sama juga Susano-O-sama… kau boleh bertanya padaku lagi lain waktu.]

[… baik.]


...


[Mikoto, kenapa meminta Misaki untuk tidak menceritakan lebih jauh tentang Susano-O pada Reishi?]

Sang Dewa Matahari mendengus sembari menatap ke dalam layar cekung, dengan pantulan gambaran sang penerus dan Yatagarasu-nya yang tengah menghabiskan waktu berdua di sebuah ruangan penuh tumpukan buku dan kertas-kertas berserakan.

[Belum saatnya, Ame-no-Uzume. Aku ingin menemukan Susano-O terlebih dahulu.]

[Mikoto… Mikoto sudah janji untuk tidak melewati batas, 'kan?]

[Hanya sekedar mencari tahu siapa titisan Susano-O, apakah itu artinya aku melampaui batasku, Ame-no-Uzume?]

Sang Dewi Fajar bungkam. Tidak lagi berdebat lebih jauh dengan sang Dewa Matahari. Meski tatapannya tak lekang mengamati kobar api menyala di dalam manik emas milik sang dewa, menari-nari penuh rasa, dan sang Dewi Fajar tahu persis pada siapa sang dewa melayangkan kobar emosi yang menggelegak lembut tersebut.


...


Terkadang, Reishi merasa dirinya seperti diawasi oleh seseorang.

Hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya, atau lebih tepatnya tidak sebelum ritual pertama berhasil dilaluinya lebih dari setengah tahun yang lalu. Selama sepuluh tahun hidupnya, Reishi tidak pernah sekalipun merasa risih berkelana seorang diri di dalam istana, tidak pernah pula merasa kesepian akan kesendirian yang kerap menemaninya. Reishi tidak pernah merasa takut, meski tidak pula merasa aman sepenuhnya.

Sensasi aneh kali ini memaksanya untuk berhenti bersikap tidak acuh. Rasa itu tidak pernah timbul setiap kali Reishi menghabiskan waktunya bersama kakak-kakaknya maupun dengan Saruhiko. Tidak pernah pula sensasi ganjil itu merayap di sela-sela waktu belajarnya dengan sang Yatagarasu.

Reishi merasakannya. Sepasang mata yang awas memperhatikan dirinya di waktu-waktu kesendiriannya. Aura hangat membakar yang seolah tidak ingin membiarkannya kesepian, yang kerap terasa begitu ingin menjaganya, melindunginya.

Setiap saat Reishi ingin memutar tubuhnya. Bukan untuk berlari, melainkan untuk mencari. Untuk menggapai. Untuk mengerti. Imaji yang selalu ada dan membuatnya aman. Namun setiap kali Reishi berbalik dan menoleh, Reishi tahu dirinya hanya seorang diri di sana. Imaji itu akan selalu tersembunyi rapat, entah di sela-sela dinding maupun langit-langit.

Ini tidak lagi seperti dahulu adanya. Tidak ada lagi kesendirian tanpa sepi yang mengancam ketenangannya. Kesendirian Reishi kini ditemani damai, namun juga sebuah rasa ganjal yang mengiris perih benaknya setiap kali Reishi berusaha menjangkaunya.


...


Tahun keenam Reishi menjalani hidupnya sebagai calon penerus Amaterasu, dan ritme kesehariannya yang mendadak berubah total. Tidak banyak, hanya saja waktunya yang biasa ia habiskan seorang diri dengan membaca dan berlatih bela diri, atau sebagian besarnya menemani Saruhiko, kini digunakannya untuk belajar (jika tidak mau dikatakan mendengar celoteh berisik) dari sang siluman gagak. Reishi pun sudah semakin jarang terlihat di perpustakaan istana, alih-alih kini dirinya dan Misaki mengotori tatami ruang belajar Kuil Dewa Matahari dengan ceceran tinta dan lembaran kertas-kertas. Oh ya, berterima kasih pada Misaki yang—menurut Reishi—tidak becus mengajarinya menulis huruf dan simbol-simbol doa yang biasa digunakan Tenjukyu sehingga Reishi harus mengulangnya berkali-kali dan membuang begitu banyak kertas. Ini sama saja dengan pencemaran lingkungan namanya!

Dan sebab lainnya yang membuat Reishi seolah melukis jarak di antara dirinya dan saudara-saudaranya adalah peraturan Kuil Dewa Matahari yang menyebutkan bahwa hanya para pendeta dan sang penerus Amaterasu-Ou-Mikami saja yang diperbolehkan masuk ke dalam kuil—bahkan Raja Tsukuyomi sendiri tidak diizinkan menginjakkan kaki ke dalam bangunan sakral itu apabila tidak ditemani Pendeta Awashima. Namun tidak peduli sekeras apa usaha Reishi menarik garis di antara dirinya, Izumo, Tatara, dan Saruhiko, tidak jarang pula Reishi menemukan Tatara dan Saruhiko berada di luar gerbang kuil hanya untuk menjemputnya, lalu mereka akan pulang bersama-sama ke istana. Izumo, yang dalam tahun-tahun terakhir disibukkan dengan tugas kenegaraannya, berkelana dari desa ke desa untuk mengamati perkembangan sektor pertanian, perkebunan, dan pertambangan, tetap menyempatkan diri untuk mengajak Reishi makan malam bersama setiap kali sang kakak tertua pulang ke istana.

[Oi, Reishi… boleh aku tanya sesuatu padamu?]

Reishi hanya menggumam singkat sebagai jawaban atas pertanyaan Yatagarasu barusan, tanpa sedikit pun mengalihkan perhatian dari catatan-catatan yang tengah diguratkan pena bulunya. Tentunya sang siluman gagak sudah hapal persis arti dari perangai Reishi yang seperti itu, hingga suara ringan yang sama kembali melayangkan pertanyaan lain pada Reishi.

[Kenapa kau menghindar dari keluargamu? Kau tahu, kalau kau butuh waktu untuk bersama-sama dengan mereka, maksudku… adikmu itu sepertinya sangat dekat denganmu, dia selalu tampak kesepian setiap kali datang menjemputmu ke sini, dan aku bisa memberimu waktu untuk itu. Kau tidak harus terus-terusan mengunci diri di tempat ini dan menarikku untuk belajar, Reishi.]

[Tidak perlu khawatir, Misaki-kun. Sejak awal, mereka bukan kakak dan adik kandungku. Aku anak selir sementara mereka anak permaisuri utama. Tidak seharusnya aku lupa diri akan statusku dan terlena begitu saja atas kasih sayang yang mereka berikan padaku.]

[Itu bukan alasan, Reishi. Astaga… kenapa sih, kalian para ras manusia, senang sekali memberikan alasan konyol yang tidak masuk akal?]

Jeda sejenak. Atau mungkin sesungguhnya cukup panjang, hingga sanggup menghentikan gerak berirama telapak tangan Reishi yang tergenggam dan menarik garis-garis tulisan di atas carikan catatannya. Mengapa dirinya menghindar? Reishi tidak pernah merasa dirinya berlari meninggalkan keluarganya. Yang ia lakukan semata-mata hanyalah menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai penerus sang Dewa Matahari….

… atau benarkah seperti itu? Benarkah tidak ada hal lain yang merayapi isi kepala Reishi?

Satu rasa mengalir dalam benaknya, melaju jauh hingga ke dalam otaknya, menginvasi logikanya. Tubuhnya yang mendadak tegak, tatapan lurus menatap sang Yatagarasu.

[Ceritakan padaku tentang Amaterasu yang sekarang. Tentang orang yang kau panggil… Mikoto-san?]

Sang siluman gagak terlihat terperanjat. Bulu-bulu di sekitar sayapnya mencuat berdiri. Ke—kenapa kau tiba-tiba bertanya hal itu…?

[Apakah aku dilarang untuk bertanya mengenai Amaterasu pendahuluku? Atau kau dilarang untuk menceritakan tentang Amaterasu yang sekarang?]

[Bu—bukan begitu, tapi—]

[—kalau begitu, tolong ceritakan padaku, Misaki-kun.]

Satu hela napas, Reishi menemukan siluman penjaganya itu menggaruk belakang kepalanya sesaat, sebelum akhirnya menjawab pertanyaannya, [Mikoto-san… atau begitulah namanya saat ia masih menjadi manusia, adalah Amaterasu-sama paling hangat dari Amaterasu-sama yang pernah kukenal. Kau tahu, kami para Yatagarasu memiliki umur yang lebih panjang dibandingkan Amaterasu-sama sendiri. Satu generasi kami bisa melayani tiga sampai empat generasi Amaterasu-sama. Mikoto-san adalah Amaterasu-sama pertama yang kulayani sebagai tuanku, meski aku pun cukup mengenal Amaterasu-sama sebelumnya, Genji-san, yang dilayani oleh ayahku.]

Si siluman gagak terdiam, memandangnya dengan satu sorot janggal yang tidak dimengerti Reishi. Namun dirinya hanya balas menatap sang Yatagarasu, berharap penjelasan lebih jauh, berharap bahwa Misaki mau memberikan jawaban mengenai sesuatu yang bergelung ganjil, tersembunyi di sudut benaknya.

Tanpa menunggu reaksi apapun dari Reishi, Misaki melanjutkan kisahnya, [Dibandingkan api matahari milik Genji-san yang liar dan ganas, api milik Mikoto-san lebih menyejukkan. Ia tidak panas membakar, namun juga tidak pernah kalah pada awan-awan mendung yang menghalangi sinarnya. Hangatnya selalu ada di tengah hujan petir maupun badai salju sekalipun.]

[Kalau begitu, setiap Amaterasu… memiliki ciri dan karakteristiknya tersendiri?]

[Ya. Begitu pun denganmu nanti, Reishi. Kau pun akan menemukannya. Kita akan mulai pembelajaran itu setelah ritual persucian keduamu.]

[Lalu mengapa Amaterasu harus mengutus Yatagarasu untuk mengajari penerusnya? Oh, tunggu… jangan katakan alasan klise semacam 'itulah tugas Yatagarasu' atau semacamnya, Misaki-kun, karena aku sudah bosan mendengar hal-hal seperti itu darimu.]

[… karena dua matahari tidak mungkin saling bertemu, Reishi.]

Jawaban sederhana dari sang Yatagarasu yang entah mengapa membuat benak Reishi mencelos, untuk detik berikutnya terasa ditusuk-tusuk perih yang datang bermain.

[Misaki-kun, aku masih tidak mengerti. Bisa kau jelaskan lebih lanjut—]

"—Tuan Muda, Pangeran Tatara dan Pangeran Saruhiko sudah menunggu Anda di gerbang kuil."

Reishi dan Misaki sama-sama mendongak ke arah suara tersebut. Pendeta Awashima, masih dengan pakaian pendeta lengkap meski dengan gagang sapu di tangan, melongok ke dalam ruang belajar kuil. Ada senyum tipis yang menghiasi wajah wanita yang sudah tidak lagi muda itu.

"Tuan Muda Reishi, hari sudah larut dan angin malam tidak baik untuk kesehatan tubuh. Sebaiknya Anda segera pulang dan beristirahat. Anda bisa melanjutkannya lain waktu, pintu kuil ini akan selalu terbuka untuk Anda."

Mengangguk, Reishi tersenyum simpul seraya mengucap terima kasih pada sang pendeta tertinggi. Dan ketika dirinya sibuk membereskan berkas-berkas catatan serta beberapa tumpukan buku—dibantu Misaki, tentu saja—lalu melangkah keluar ruang belajar, menyusuri koridor-koridor berlantai kayu, untuk kemudian menemukan lambaian tangan Tatara dan binar di mata Saruhiko yang kentara menahan kantuk, seluruh pertanyaannya mengenai sang Amaterasu menguap begitu saja. Meninggalkan sebentuk rasa di sudut benaknya, yang belum Reishi mengerti apa artinya, atau bahkan mungkin belum disadarinya.


...


"Reishi-niisan…."

"Ah, Saruhiko-kun? Maaf, aku sedang melamun, tidak mendengarmu mengetuk pintu. Ada apa?"

"… tidak, bukan apa-apa. Hanya mau… mengucapkan selamat malam."

"Oh? Baiklah. Selamat malam juga kalau begitu, Saruhiko-kun. Selamat tidur."

"… ya. Selamat beristirahat—"

"—tunggu, Saruhiko-kun."

"… ya, Niisan?"

"Sudah lama rasanya sejak terakhir kali aku melihatmu masuk ke kamarku. Malam ini, kau mau tidur bersamaku?"


...


[Yatagarasu….]

[Ya, Mikoto-san?]

[Kau sudah menemukannya?]

[… belum, Mikoto-san. Meski aku punya kecurigaan.]

[Hm. Kuharap kecurigaanmu itu sama seperti apa yang sedang ada dalam kepalaku ini.]

[Mikoto-san….]

[Awasi anak itu, Yatagarasu. Segera laporkan jika kau menemukan kejanggalan padanya. Kuharap tugas ini tidak terlalu memberatkanmu.]

[Tidak, tentu saja, Mikoto-san. Ah, sebelum itu, Mikoto-san… tentang Reishi….]

[Hm?]

[Apabila suatu saat ia bertanya lagi tentangmu, apa yang harus kukatakan? Maksudku—]

[—jangan khawatir, Yatagarasu. Satu tahun lagi, dan aku akan melakukannya dengan caraku sendiri.]

[… Mikoto-san, Anda tidak benar-benar bermaksud untuk….]


...


Ritual persucian tahap dua yang dilalui Reishi di umurnya yang menginjak tujuh belas tahun. Kali ini ia terjaga sepanjang malam, namun dengan tubuh lunglai kehilangan tenaga. Ia meringkuk dalam futon-nya, berusaha menggunakan sisa-sisa tenaganya hanya untuk sekedar memejamkan mata dan melenakan diri dalam dunia mimpi. Ia lelah. Ia ingin berlari dari suara-suara yang menggaung dalam kepalanya. Suara-suara yang tidak seharusnya ia dengar, atau mungkin belum. Suara-suara manusia yang menggantungkan harapan pada dewa-dewi di langit, padahal belum waktunya Reishi untuk menjadi salah satunya.

"Niisan…."

Suara lirih serta gerakan tangan Saruhiko mengusap lembut puncak kepalanya berhasil mengalihkan perhatiannya, meredakan sakit yang menggedor-gedor kepalanya akibat suara berisik yang menggema tanpa henti itu.

"Jangan khawatir, Saruhiko-kun. Kau… kembali saja ke kamarmu. Yatagarasu akan menjagaku. Aku akan baik-baik saja."

Namun bocah berusia sepuluh tahun itu masih bergeming di tempatnya. Masih duduk berlutut dan membelainya penuh rasa kasih. Reishi mendesah, berusaha menenggelamkan diri dalam hangat yang tiba-tiba saja menjalar menyelimutinya.

[Kau harus beristirahat, Reishi. Mikoto-san bilang bahwa ia ingin bicara denganmu jika kau sudah pulih nanti.]

Mengangkat kepala, Reishi mendelik pada seekor gagak yang bertengger canggung di atas pundaknya. [Bicara? Bagaimana mungkin? Bukankah kau bilang dua matahari… tidak mungkin saling bertemu?]

[Mikoto-san selalu punya caranya sendiri untuk bertindak sesuai keinginannya. Yah, aku hanya bisa berharap ia tidak melewati batas yang ditentukan langit tentang dua matahari… tentang kalian.]

Reishi tidak menjawab lagi. Mendadak matanya terasa begitu berat. Kehangatan yang semakin erat mendekapnya, menulikannya dari gema suara-suara yang masih belum siap Reishi tampung di punggungnya yang kecil. Dan Reishi tahu, kehangatan itu bukan berasal dari Saruhiko maupun sang Yatagarasu. Jalaran panas itu begitu serupa dengan api yang selalu membungkusnya, baik di malam ritual pertamanya lima tahun silam maupun beberapa jam yang lalu.

Tidak butuh waktu lama hingga Reishi jatuh dalam tidur tanpa mimpinya. Tanpa lagi mengetahui bahwa dua pasang tatap mata dalam kamarnya yang saling beradu. Penuh delik tajam bertarung. Serta kata-kata dan sangsi tidak terucap yang berhasil meremang keadaan.


...


.

[Let it be

Just let me be]

.

[Let the shadow of the sun goes by

Because never shall it be our lullaby]

.

[Your light

is so bright shall I lose my sight]

.

[Let it guides me to you

As dreams that would never be come true]

.

[Because whenever, wherever

I will find you for once and forever more]

.


...


[Reishi….]

Untuk pertama kalinya, melalui cermin permata besar yang terukir di atas altar Kuil Dewa Matahari, Reishi menemukan sosok sang Dewa Matahari. Tubuh kekar dan letup api menjilat-jilat dari kulit, surai merah membara layaknya lidah api, serta sepasang manik emas yang menatapnya dalam, ditemani lengkung tipis yang entah mengapa berhasil membuat degup jantung Reishi berlari dua kali lebih cepat.

Reishi terpaku. Terpana. Akan imaji sang Dewa Matahari, juga aura agung dan megah yang erat mengikat sendi-sendi tubuhnya. Mengerjap, Reishi tahu ada yang seharusnya ia katakan, meski tidak ada satu suara pun yang berhasil meluncur dari pita suaranya.

Lalu telinganya menangkap tawa terkekeh dari suara berat sang dewa di hadapannya.

[Jangan menatapku seperti itu, anak manusia. Kau sama sekali tidak menarik.]

[Memang… apa yang kau harapkan di hari pertama kita berbicara seperti ini, Oh Dewa Matahari, Amaterasu-sama?]

Satu detik, Reishi buru-buru menyesali pilihan kata-katanya barusan. Bukan karena setetes nada sinis di balik nada bicaranya, melainkan raut di wajah sang dewa yang lantas berubah dengan panggilan yang sengaja Reishi tekankan di ujung kalimatnya. Sorot yang mendadak berubah, sarat sebuah rasa yang menyesakkan dadanya.

[Tch. Jangan panggil aku dengan sebutan menyebalkan itu, Reishi.]

[Oh? Ternyata sang dewa tidak searogan yang kukira sebelumnya,] balas Reishi, tanpa sadar menarik sudut-sudut bibirnya, mengundang jalaran kupu-kupu bermain di perutnya. [Dan kulihat kau sudah mengetahui namaku, meski tidak ada salahnya kita berkenalan formal sekali lagi. Perkenalkan, namaku Reishi. Dan dengan sebutan apa aku bisa menyebutmu, Amaterasu-sama?]

Decak lidah lainnya, sebelum sosok di dalam cermin itu menjawab diiringi letup api menari di sekeliling.

[Mikoto. Panggil saja aku Mikoto. Dan kau harus belajar caranya menjaga mulutmu, bocah. Tidak terbayang akan jadi Amaterasu seperti apa dirimu dengan lidah tajammu dan kegemaranmu akan hal detail membosankan itu.]

Senyum di wajah Reishi semakin melebar. Luapan dalam dirinya yang semakin menggeliat meliar.

[Kita lihat saja kalau begitu, Mikoto. Dan mohon bantuannya, sepertinya mulai saat ini aku akan banyak merepotkanmu.]


...


Suatu kejutan bagi Tatara adalah ketika suatu hari ia melangkahkan kaki ke dalam taman istana, dan yang menyambutnya adalah seekor gagak berbulu cokelat kacang tengah hinggap di salah satu bangku taman. Tatara telah mengenal gagak tersebut sebagai makhluk penjaga milik Amaterasu-Ou-Mikami. Yang tidak Tatara mengerti adalah mengapa ia menemukan gagak ini bertengger gagah di atas sandaran bangku, bukannya menemani calon Dewa Matahari sebagaimana yang dilakukan gagak ini biasanya.

"Selamat sore, Yatagarasu-san! Tidak sedang menemani Reishi-kun?"

Gagak itu memutar leher jenjang ke arahnya. Sepasang manik mungil hazel diiringi gerakan memiringkan kepala. Sontak Tatara tertawa renyah sembari mendudukkan diri di sisi bangku satunya.

"Ah ya, maaf ya, Yatagarasu-san… aku lupa kalau kau tidak akan mengerti bahasaku, atau mungkin aku yang tidak mengerti bahasamu? Tapi sudahlah, meski aku masih penasaran kenapa kau tidak menemani Reishi-kun."

"Reishi-niisan sedang berada di kuil, Tatara-niisan. Yatagarasu tidak menemaninya karena saat ini niisan sedang bersama Amaterasu-sama."

Tatara menoleh, menyadari keberadaan Saruhiko, melangkah perlahan mendekatinya dan sang siluman gagak. Ia kemudian menggeser tubuhnya, memberikan tempat dan menggesturkan tubuh agar Saruhiko duduk di sisinya, meski sang adik bergeming dan lebih memilih untuk berdiri.

"Kau selalu tahu ke mana Reishi-kun pergi, Saruhiko-kun."

"Tck. Tidak juga," jawab Saruhiko, memalingkan wajah ke arah lain, "Satu-satunya saat di mana Yatagarasu tidak bisa menemani calon tuannya adalah saat calon tuannya itu mengadakan pertemuan dengan Amaterasu-sama sendiri."

"Hee…. Saruhiko-kun tahu banyak mengenai Amaterasu-sama, rupanya."

"… ini pengetahuan umum yang bisa kau dapatkan dari buku-buku di perpustakaan, Tatara-niisan."

"Begitu kah? Ahahahahaa… kau tahu sendiri, Saruhiko-kun. Aku punya banyak hobi, tapi sepertinya membaca buku akan menjadi hobi terakhir yang kupilih, mengingat aku sepertinya sudah bosan melihatmu dan Reishi-kun yang selalu menghabiskan waktu dengan membaca dari waktu ke waktu."

Adiknya itu tidak menjawab, alih-alih mendecak lidah keras sembari menyilangkan tangan depan dada. Satu sikap defensif yang sudah Tatara kenali dengan baik, dan sudah terlalu hapal bagaimana harus menghadapinya. Menghela napas, Tatara bangkit dari kursinya, sejenak berbalik dan membungkuk pada sang siluman gagak.

"Aku permisi dulu kalau begitu, Yatagarasu-san. Saruhiko-kun, nanti malam Izumo-nii pulang, dan kuharap kau tidak melewatkan makan malam bersama kami."

Memutar tumitnya, Tatara melangkah riang sembari menyenandungkan sebuah lagu dari mulutnya. Tanpa lagi mempedulikan Saruhiko yang kini duduk di bangku yang sama yang semula ditempatinya. Tatapan lurus menatap percikan air mancur berkilauan di hadapan. Serta sang siluman gagak yang menatap tajam pada Saruhiko, yang berhasil melukiskan sebuah lengkung dingin di wajah si pemuda bersurai gelap tersebut.

.

.

.

[Bersyukurlah kakakmu itu tidak suka baca buku, bocah… atau kebohonganmu mengenai pertemuan tentang calon Dewa Matahari dan Amaterasu-sama akan terbongkar dengan mudah.]

[….]

[Oi. Jawab aku, bocah sialan. Aku tahu kau mengerti bahasaku.]

[Apakah memang kau tidak diperbolehkan untuk mencampuri urusan kedua matahari, atau sebenarnya kau diutus untuk mengerjakan hal lain… memata-matai, misalnya, hei Yatagarasu?]

[Bocah… siapa kau sebenarnya?]

[… siapa? Ah ya, siapa aku? Sebenarnya aku juga bertanya-tanya tentang hal itu, Yatagarasu. Tidak bisakah kau memberitahuku? Bahkan aku bisa mengerti bahasa percakapan ini dengan mudah, hanya dengan mendengarmu bercakap-cakap dengannya. Jadi, katakan padaku, Yatagarasu, siapa aku ini? Dan ingatan-ingatan yang berlarian dalam kepalaku… yang bukan milikku ini… takdir apa yang kubawa ini, Yatagarasu?]

[… kau….]


...


Semenjak ritual persuciannya yang kedua, Reishi tahu dirinya kerap merindukan sinar hangat matahari yang turun dari langit, di sela-sela mendung menggelayut tebal ataupun ketika matahari bersinar gagah tanpa terhalang awan putih bersih sedikit pun.

Langit kini gelap. Langit selalu muram. Langit tidak menumpahkan hujannya. Namun angin beku yang bertiup tidak ada bedanya dengan angin di musim salju.

Reishi merindukan matahari. Merindukan cahaya. Merindukan hangat. Hangat yang kini ia sadari selalu menyelimutinya, bahkan sebelum ia bisa mengingat namanya sendiri.

'Mikoto….'

Dan sepenggal nama yang meluncur dari sudut ingatannya. Nyaris terucap lugas dari bibirnya. Sementara kedua tangannya yang memeluk tubuhnya erat ketika angin dingin membelainya. Terasa membekukan hingga sendi dan tulang-tulangnya.

Reishi mendesah. Ia kini sudah tahu apa yang ada di hadapannya. Kenyataan mengenai entitas dua dewa kakak-beradik yang akan terus melanjutkan siklus kehidupan dan kematian mereka dalam keabadian. Yang belum Reishi mengerti adalah alasannya. Mengapa tragedi itu harus terus berulang, dalam keabadian?

'Mikoto….'

Mengangkat kepala, sekali lagi Reishi mengadu tatapannya pada langit sendu. Ada perih mengiris dalam dadanya. Karena Reishi tidak mau membayangkan bumi yang dipijaknya ini kehilangan cahaya.

Tidak.

Karena Reishi tidak bisa kehilangan cahaya hangat itu sendiri. Mataharinya. Dewanya. Entitas yang selalu menenggelamkannya dalam beribu jalaran kehangatan rasa yang tidak Reishi mengerti artinya.


...


[Kau menyangsikan para dewa, Reishi?]

[Aku tidak mengerti arah pembicaraanmu, Mikoto.]

[Karena kau merapel mantra, belajar begitu banyak hal, mendengar suara-suara dari doa yang ditujukan padaku, namun tidak satupun dari semua itu berhasil meyakinkanmu akan takdir yang kau jalani saat ini.]

Ucapan sang Dewa Matahari telak mengunci rapat mulut Reishi.

[… ini tidak adil.]

Kali ini giliran sang dewa yang membungkam mulutnya, kentara menunggu kata-kata apa lagi yang akan Reishi lontarkan.

[Dewa yang tidak abadi? Pertarungan terus-menerus kedua dewa sementara manusia lantas ditumbalkan untuk menjadi penerusnya? Lalu apa lagi, calon penerus Amaterasu yang akan menyinari muka bumi, tapi hampir delapan belas tahun aku sama sekali tidak diperbolehkan melihat sendiri apa yang ada di luar tembok istana ini? Lalu kau, Mikoto….]

[… aku?]

Ada getir yang kemudian menginvasi nada bicaranya.

[Mengapa… Amaterasu harus mati?]

'Mengapa kau harus mati, dan harus aku yang menggantikanmu? Membiarkanku menjalani empat ratus tahun, seorang diri?

Jeda lantas menyelinap di antara keduanya. Reishi yang mengadu manik ungunya dengan sepasang emas dari balik cermin tersebut. Segala macam rasa yang tidak tercurahkan kata-kata, namun entah mengapa Reishi tahu sang dewa mengerti. Mikoto akan selalu tahu. Mikoto akan selalu mengerti dirinya. Bagai matahari yang tidak pernah lengah menyinari satu-satu makhluk di muka bumi ini.

Sebagaimana Reishi tidak mengerti apapun mengenai Mikoto. Sedikit pun. Sungguh. Ini sangatlah tidak adil baginya.

[Reishi, mendekatlah.]

Menurut, Reishi bangkit dan berjalan mendekati cermin itu. Dan ketika ia melihat sang dewa menjulurkan tangan, sesuatu dalam kepala Reishi seolah berbisik padanya, menggiringnya untuk melakukan hal yang sama. Reishi mengulurkan tangannya. Jemarinya menempel pada tepian cermin. Dan yang ia rasakan bukanlah dingin dari ikatan partikel cermin itu sendiri, melainkan panas api yang membara. Meluap-luap di di antara telapak tangannya dan telapak sang dewa yang hanya terhalang cermin tersebut. Hangat yang dicintainya, yang seperti telah hilang dari langit, kini menari di telapak tangan Reishi. Sungguh. Ini semua tidak adil.

Betapa besar keinginan Reishi untuk menjebol cermin kaca yang merentang jarak di antara keduanya.

[Reishi, tidak lama lagi aku akan mati.]

Reishi tidak menjawab. Kepalanya tertunduk.

[Reishi, tatap aku.]

[… kenapa harus Amaterasu yang terus berkorban, Mikoto? Tidak bisakah… tidak bisakah jika Susano-O yang dihentikan?]

[Kau akan melanggar kehendak langit, Reishi.]

[Aku tidak peduli! Aku tidak bisa—]

[—dan kau tidak akan sanggup melakukannya, bocah manusia. Aku tahu kau tidak akan pernah mampu melakukannya. Karena Susano-O ditakdirkan untuk lahir dan hidup di dekatmu, menjadi keluargamu, menjadi… satu-satunya orang yang dekat denganmu.]

[… tidak mungkin. Kau bohong, Mikoto! Itu tidak mungkin… tidak….]

[Jika kau tidak percaya, seret saja orang yang paling dekat denganmu ke tempat ini, Reishi. Satu alasan lain mengapa tidak boleh ada orang luar menginjakkan kaki di Kuil Dewa Matahari adalah magatama milik Susano-O yang tersimpan di dasar altar tempatmu berdiri saat ini. Hanya Amaterasu dan Susano-O yang dapat menjangkau dan menemukannya. Kalau kau ragu, bawa orang itu kemari dan kau akan melihatnya berubah dengan mata kepalamu sendiri.]

[… Mikoto….]

[Dan kuyakinkan setelah itu kau tidak akan pernah melihatku lagi, Reishi.]


...


[Yatagarasu, apakah tidak mungkin bila Susano-O dihentikan?]

[Dengan cara…? Kau mau membunuhnya, begitu, Reishi? Jangan gila! Kalaupun Susano-O-sama belum tersadar dan wujud manusia mati terlebih dahulu, maka ketika kau tersadar sebagai Amaterasu-sama nantinya, kau harus bertarung dengan Mikoto-san! Kau harus membunuhnya, atau ia yang akan membunuhmu, karena dunia tidak bisa disinari oleh dua matahari!]

[Dan kapan aku tersadar sebagai Amaterasu sepenuhnya?]

[… bersamaan ketika Susano-O-sama mendapatkan wujud aslinya, atau jika wujud manusianya mati di dunia.]

[….]

[… Reishi, sudahlah. Jangan gila dan jangan berpikir bahwa kau bisa menghentikan Susano-O-sama, karena—oi, Reishi…! Reishi, kembali ke sini! Reishi…! OOOIII REISHIIII…!]


...


[Kau melampaui batasmu, Mikoto.]

[Begitukah, Ame-no-Uzume? Aku bahkan sama sekali tidak menginjakkan kaki keluar gua sialan ini.]

[Tapi dengan aura yang selama delapan belas tahun ini tanpa henti kau berikan untuk Reishi.]

[Hmph.]

[Reishi terlanjur mencintai Mikoto. Dan Mikoto tahu itu adalah larangan terbesar bagi Amaterasu juga penerusnya. Dengan begini, Reishi tidak akan membiarkan Mikoto mati, atau setidaknya itulah yang ada dalam pikiran anak itu.]

[Ia hanya anak manusia. Ia tidak memiliki kekuatan untuk mengubah ketentuan langit.]

[… Reishi bisa melakukannya, Mikoto. Ada takdir lain yang mengikat kalian berdua. Yang tidak ada hubungannya dengan Raja Langit sekalipun. Takdir yang telah lama mengikat kalian, bahkan jauh sebelum Mikoto dilahirkan sebagai anak manusia sekalipun.]

[Ame-no-Uzume, apa yang….]

[… tapi tidak ada gunanya berdebat sekarang, Mikoto. Semuanya sudah terlambat. Yang penting sekarang adalah apa yang ada dalam jiwa Mikoto. Apakah Mikoto… mencintai Reishi?]


...


"Izumo-niisan, Tatara-niisan… apakah kau melihat Saruhiko-kun?"

"Tidak. Bahkan ketika aku pulang dua malam lalu, Saru-chan belum menemuiku sama sekali. Ada apa dengannya, Reishi-chan? Kalian tidak bertengkar, bukan?"

"… tidak. Kami tidak bertengkar. Maaf membuatmu khawatir, Izumo-niisan."

"Ah, benar juga…. Tadi pagi aku ke kamarnya untuk mengajaknya sarapan bersama, dan kamarnya kosong melompong. Padahal hari ini Saruhiko-kun tidak ada jadwal belajar atau latihan apapun, dan aku juga tidak menemukannya di perpustakaan maupun di taman. Sesungguhnya aku khawatir dengan bocah itu, loh. Maksudku… semenjak ritual kedua Reishi-kun, Saruhiko-kun semakin menutup diri dan sepertinya ia juga berusaha menjauhiku. Beberapa pelayan bahkan mengatakan bahwa mereka sering mendengar erangan dan teriakan dari kamar Saruhiko-kun beberapa malam terakhir ini, seolah bocah itu terkena mimpi buruk atau semacamnya. Hei, tidakkah hal ini mulai mencemaskan?"

"Tatara… aku lebih mencemaskan dirimu yang baru menceritakan hal sepenting ini sekarang. Kenapa kau tidak bilang lebih awal, heh?! Kalian berdua, ayo temani aku mencari Saru-chan! Ah, tetapi… kalau kau sedang sibuk dengan kegiatanmu, biar aku saja yang mencarinya berdua dengan Tatara, Reishi-chan."

"Tidak. Izinkan aku ikut, Izumo-niisan. Lagipula… sepertinya aku tahu di mana Saruhiko-kun berada saat ini."


...


Pemuda itu mencari. Mengikuti instingnya. Mengikuti gelegak dalam benaknya. Penggal-penggal memori yang berlarian dalam kepalanya. Potongan gambar yang merekat satu demi satu. Rasa lapar dan amarah meliar di setiap sel-sel tubuhnya. Namun gerakan tangan dan kakinya terasa tidak nyata. Apa yang dilihat sepasang matanya terasa bagaikan mimpi. Kabur. Memburam. Bahkan teriakan-teriakan yang menggaung di sekitarnya terasa begitu jauh. Telinganya berdenging.

Sebuah altar batu melingkar dengan pola matahari dan simbol-simbol terukir di kakinya. Pemuda itu melangkah. Detik berikutnya, altar itu mengeluarkan api biru kehitaman. Pola melingkar di pusat altar yang kemudian merekah, membuka jalan berupa undakan anak tangga menukik turun hingga ke kedalaman. Pemuda itu melangkah tanpa ragu. Mengikuti anak-anak tangga berliku yang membawanya turun pada dasar takdirnya.

Tepat di kaki tangga terakhir, terdapat sebuah pintu. Hanya sekali sentuh, pintu besi berukiran sepasang naga berhadapan berwarna hitam gelap itu terbuka untuknya. Lalu sebuah ruangan kecil menyapanya, dengan obor-obor api biru kehitaman, tersemat di dinding ruang melingkar tersebut, yang mendadak menyala menyambut kedatangannya. Tidak ada apa-apa di sana. Namun pemuda itu tahu apa yang harus dilakukannya. Ia bersimpuh. Sepasang tangannya yang terjulur, ia mulai menggali tanah yang ada di sekitarnya.

Mengikuti bisikan dalam kepalanya. Memanggilnya. Memintanya untuk dibebaskan.

[Susano-O….]

Pemuda itu kemudian merasakannya. Dingin di ujung jemarinya. Ia sudah menemukannya.

"Saruhiko-kun…!"


...


Ketika Reishi kembali ke Kuil Dewa Matahari, ia tahu dirinya sudah terlambat.

Setengah bagian depan kuil tersebut telah runtuh, seolah rontok terkena terjangan kekuatan mahadahsyat. Pendeta-pendeta kuil yang bergelimpangan di kakinya, Darah yang mengalir dan rintihan tertahan. Tengkuk Reishi meremang. Untuk pertama kalinya, Reishi merasakan takut yang luar biasa, membelenggunya erat.

Pada undakan tangga menuju altar utama, tampak Pendeta Awashima, bersandar pada anak-anak tangga. Setengah bagian tubuh pendeta wanita itu diwarnai merah tua. Tanpa pikir panjang Reishi lantas menghampiri sang pendeta paruh baya.

"Pendeta Awashima… apa yang—"

"—Tuan Muda… maaf…. Aku tidak bisa mencegahnya…. Pangeran Saruhiko… ia masuk ke dalam altar…."

Batin Reishi mencelos. Ia masih tidak ingin percaya. Tidak mungkin Saruhiko….

"Reishi-chan, pergilah," ujar Izumo di sampingnya, menepuk lembut pundaknya. "Biar aku dan Tatara yang mengurus para pendeta. Kau pergi saja. Kau tahu apa yang harus kau lakukan."

Mengangguk, Reishi memaksakan kakinya mendaki puing-puing hingga tiba di altar yang kini dikelilingi sempurna oleh api biru kehitaman. Sebuah lubang menganga di tengah-tengah altar, sementara sosok sang Yatagarasu terlihat kewalahan di sudut altar dengan api janggal yang mengurungnya. Satu lambaian tangan, magatama putih yang terkalung di lehernya bersinar terang, dalam hitungan detik mengubah api berwarna gelap itu menjadi api merah terang.

[Misaki-kun…! Kau baik-baik saja—]

[—cepat kejar dia, Reishi! Dia akan menemukan magatama-nya!]

Tersentak, Reishi sontak mengangkat kepala. Matanya mencari pada cermin yang semula tergantung di dinding muka altar. Namun cermin itu kini gelap. Tidak ada bayangan apapun yang tergambar dari dalamnya, maupun bayangan dari dunianya yang seharusnya bisa dipantulkan cermin normal manapun.

Sesuatu dalam dadanya mencelos. Ketakutannya yang semakin menjadi.

'Mikoto….'

[Reishi, cepat…!]

Sentakan sang Yatagarasu mengembalikan kesadarannya. Reishi memacu langkahnya, menuruni anak-anak tangga batu curam melingkar, seolah membawanya jauh ke dasar bumi. Napasnya yang terasa memberat. Ketika ia tiba di undakan terakhir, yang kemudian menyapanya adalah sebuah ruangan dengan pintu berukiran naga yang telah terbuka lebar, menampakkan sesosok punggung yang tengah berlutut. Sosok yang begitu dikenalnya.

"Saruhiko-kun…! Jangan sentuh magatama-nya—"

Kata-kata Reishi terputus. Seberkas cahaya biru membungkus tubuh Saruhiko dengan cepat, bersamaan dengan pancaran putih menyilaukan terbias dari tubuhnya sendiri. Dan Reishi merasakan sensasi panas membakar itu di sekujur tubuhnya, melesak hingga ke tulang-tulangnya. Rasanya sesak. Indera-inderanya yang lantas menangkap wangi dan derak api. Tubuhnya yang terasa melayang. Ia membuka matanya, menemukan dirinya sendiri yang dibalut cahaya jingga yang hangat. Reishi terpana. Meski detik berikutnya, suara merangsek di hadapannya membangunkannya dari lamunan. Sosok adiknya yang telah berubah. Yang kini berada di depannya adalah seorang pemuda berwajah ganas dengan pola mengerikan menghiasi wajah hingga leher, sepasang mata kuning berpupil setipis kucing, dua pasang sayap serupa sayap ukiran naga pada pintu ruang bawah tanah tersebut, terselubung oleh jilatan api berwarna hitam. Dan di tangan pemuda itu tergenggam sebuah magatama berwarna hitam gelap. Magatama milik sang penakluk Dewa Matahari.

Amaterasu-Ou-Mikami dan Susano-O-no-Mikoto telah terbangun.

[Saruhiko-kun….]

Sosok itu tidak menjawab. Manik kuning yang nyalang menatap ungunya. Penuh rasa lapar. Seolah tatapan itu saja sanggup menelan Reishi bulat-bulat.

[Saruhiko-kun, kendalikan dirimu…! Aku tahu kau bukanlah… kau tidak mungkin—]

Sang dewa tidak mendengar. Sosok itu hanya menggeram rendah pada Reishi, sebelum menjejak kuat-kuat dan menjebol dinding-dinding batu di atas kepala mereka, melesat keluar dengan kepakan sayap bersisik. Gemuruh yang mengepung sekelilingnya menjadi pertanda bagi Reishi untuk segera menyelamatkan diri dari ruangan tersebut. Tubuhnya kemudian melayang ringan, membawanya dengan cepat dan begitu mudah menaiki undakan anak tangga melingkar. Setibanya kembali di altar kuil, yang pertama menyambutnya adalah pekik panik sang Yatagarasu.

[Reishi…! Susano-O-sama… baru saja—]

[—aku tahu! Aku tahu….] Reishi membisik lemah, merasakan tatapan iba sang siluman gagak yang ditujukan padanya. Namun sesuatu dalam dirinya berteriak perih. Ia tidak ingin semuanya berakhir seperti ini. Tidak dengan dirinya yang harus kehilangan mataharinya, untuk empat ratus tahun lamanya hingga takdir menentukan akhir kehidupannya. Menarik napas, Reishi menatap sang Yatagarasu. [Misaki-kun, kumohon… bisakah kau membawaku ke Ama-no-Iwato?]

[KAU GILA, REISHI…?! Kau—apabila kau pergi ke sana, apa yang bisa kau lakukan?! Kau tahu peraturan langit bahwa dua matahari tidak boleh berada bersama-sama dalam satu tempat dan—]

[—kumohon, Misaki-kun…! Aku… percayalah padaku, aku tidak akan pernah menyesali keputusanku ini.]

[Reishi… kau sungguh-sungguh….]

Hanya satu anggukan mantap yang Reishi berikan pada siluman penjaganya itu. Diikuti kilat sendu yang lantas menggenang di kedua manik Misaki.

[Aku… aku tidak tahu apa yang akan kau lakukan, Reishi. Tapi kuharap kau tahu, meski kau tidak menyesal, jika sesuatu terjadi padamu, maka Mikoto-san lah yang akan menyesali semua perbuatan bodoh yang akan kau lakukan ini. Mengerti?]

[Ya. Terima kasih banyak, Misaki-kun.]

[Kalau begitu, kau perlu mengubah wujudku. Bayangkan saja gagak raksasa atau apapun dalam kepalamu, maka aku akan berubah sesuai gambaran dalam kepalamu. Kau kini telah menjadi Amaterasu-sama, kau akan bisa mengubahku lebih dari yang selama ini kau lakukan.]

Reishi memejamkan mata. Berusaha fokus membangun imaji gagah sang siluman gagak. Dan detik berikutnya, bersamaan dengan suara kepakan menghempas tanah, seekor burung setinggi dua meter berbulu kecokelatan dengan empat pasang sayap berdiri di hadapannya, membungkuk rendah dan mempersilakan Reishi menaiki punggung burung tersebut. Reishi mengangguk, kakinya memanjat di antara tumpukan bulu yang dijejaknya. Manik hazel si burung raksasa yang melempar pandang singkat padanya, leher yang sejenak menunduk hormat diikuti empat pasang yang terentang. Sang Yatagarasu menapak cakarnya kuat-kuat dari tanah, mengangkat Reishi terbang tinggi, mengantarnya menuju takdirnya.

Meski sempat Reishi berpaling. Menatap sendu pada Izumo dan Tatara yang melihatnya melesat jauh. Perih yang kemudian mengiris benaknya, teringat akan ucapan perpisahan yang tidak akan pernah diucapkannya.

Terima kasih. Selamat tinggal.


...


[Anak itu datang, Mikoto.]

[Heh. Biarlah dia datang. Aku siap dengan takdirku.]

[… bukan Susano-O, tetapi Reishi.]

[… apa…?]

[Anak itu datang untuk menggantikanmu.]

[Ame-no-Uzume—]

[—anak itu datang untuk menukar tempat dengan Mikoto. Karena anak itu… mencintai Mikoto.]


...


Panas. Sekujur tubuhnya terasa terbakar. Kepalanya sakit. Telinganya berdenging. Rasa lapar dan dahaga yang tidak dimengertinya. Tubuhnya yang melesat kencang, berlomba dengan angin. Derak di punggungnya yang janggal dan nyeri. Ia tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada tubuhnya yang seolah bergerak sendiri di luar kemauannya. Meski ia pun tak sanggup menentang gelegak napsu yang menusuk di dada.

Takdirnya. Di puncak gunung tertinggi kerajaan langit, ia tahu ada yang menunggunya di sana. Menunggu untuk dilahapnya. Menunggu untuk memberinya ketenangan dan ketentraman. Cahaya hangat yang akan mengantarnya pada tidur lelap hingga ratusan tahun berikutnya ia terbangun dan menjalankan tugasnya.

Gunung bebatuan yang mulai tampak. Ia mempercepat kayuhan sayapnya. Setiap kepak sayap hitamnya menebar kegelapan pekat. Menerkam segala bentuk cahaya di sekelilingnya. Melenyapkan awan-awan. Hingga angin pun tak terasa lagi membelai kulitnya. Ia menukik naik, mencari sebuah gua yang tertutup bongkah batu besar raksasa. Ia tahu, gua itu ada puncak gunung—

—sebuah cahaya menyilaukan menghadangnya. Tepat di depan pintu gua tersebut. Pintu yang ia tahu masih tersegel rapat. Cahaya yang seharusnya kini tengah bersembunyi di balik bongkah batu penutup gua tersebut nyatanya menyambut dan menunggu dari luar pintu gua. Ia berhenti, melayang tepat di hadapan cahaya menyilaukan itu.

[Aku Amaterasu-Ou-Mikami! Aku menyerahkan nyawaku padamu, Susano-O-no-Mikoto!]

Kekeh berat meluncur dari pita suaranya. Ia bahkan tidak mengenali suaranya sendiri. Diikuti jalaran rasa lapar yang semakin mengikatnya. Melumpuhkan logikanya. Desis sinis lantas melantun dari bibirnya, [Kau bukan Amaterasu yang ditakdirkan untuk menjadi makananku. Minggir. Kau pelanggar kuasa langit, kau tidak pantas berdiri di sana.]

[Aku tidak akan menyingkir selangkah pun dari tempat ini, Susano-O-no-Mikoto! Tidak pula Dewa Langit menentukan Amaterasu mana yang menjadi tujuan takdirmu! Dan kau pun tidak sanggup menahan lapar dan dahagamu lebih lama lagi, bukan? Karena itu, mari kita selesaikan di tempat ini, aku sebagai Amaterasu-Ou-Mikami dan kau sebagai Susano-O-no-Mikoto!]

Menarik. Rasa dalam benaknya yang menggeliat liar. Ia tahu ia tidak bisa berpaling lebih lama lagi. Tidak bisa mengulr lebih banyak waktu lagi. Ia merentangkan sayapnya. Melaju. Menerjang. Menjemput siraman cahaya takdirnya….

… meski sesaat, ia seakan menemukan sebuah wajah dengan sorot hangat yang begitu dikenal jauh dalam ingatannya, diikuti lengkung bibir penuh kedamaian. Mengundang jerit perih di dadanya, serta tetes perak meluncur dari matanya.

"Niisan…!"

"Maaf, Saruhiko-kun… selamat tinggal…."


...


.

[Dawn never waits to rise

Dusk never fails to set]

.

.

.

Sang Dewa Matahari menyeruak dari dalam guanya. Dengan kekuatan mahadahsyatnya, ia menghancurkan dinding pelindungnya sendiri. Dan ketika lubang gua terbuka, berkas cahaya putih yang begitu hangat menerpa. Cahaya yang selama belasan tahun ini diawasinya. Cahaya yang ditakdirkan mengantarnya menuju tidur abadinya.

Meski tidak. Kemilau lembut sehangat mentari pagi itu nyatanya tengah membelokkan tangan takdir.

.

.

.

[Your light

was so bright shall not I lose my sight]

.

.

.

[REISHI…!]

Cahaya itu meredup. Kegelapan merebak menjalari sekujur tubuh cahaya kecilnya, meraup kemilau itu tanpa sisa. Makhluk dalam takdirnya yang meraung puas, untuk kemudian berubah menjadi abu bersamaan dengan titik-titik putih layaknya kunang-kunang. Menyisakan tubuh sang calon Dewa Matahari muda. Tubuh yang kemudian jatuh limbung ke arahnya.

[Reishi—]

Ada satu senyum hangat, begitu lemah terpancar untuknya.

[—akhirnya… aku menemukanmu… Mikoto….]

.

.

.

[While you held my cold body so tight

Embraced me shall your eyes full of fright]

.

.

.

Kedua tangannya yang mendekap erat tubuh mendingin itu gemetar. Tidak ada lagi kata-kata mampu meluncur dari pita suaranya. Kepalanya tertunduk. Menyesap dalam-dalam perih bercampur wangi matahari. Mematrinya jauh dalam ingatan. Untuk empat ratus tahun lagi yang harus dijalaninya. Empat ratus tahun dalam kehampaan… tanpa keberadaan sang matahari miliknya.

.

.

.

[And last breath that for you I tried to fight

While you stole one kiss of good night]

.

.

.

Sepasang manik yang menutup. Lengkung senyum yang belum sirna mengantar. Embus napas terakhir mengucap perpisahan di sudut bibirnya.

.

.

.

[Let the shadow of the sun goes by

Because never shall it be our good bye]

.

.

.

Sang Dewa Matahari berdiri. Sinarnya yang kembali meraja di seluruh muka bumi. Meski pada satu ruang di relung jiwanya, kilau matahari manapun tidak akan pernah sanggup menjangkaunya.

.

.

.

[Because I will find you

Yes, for once and forever more

I will always find you]

.


...


"Izumo-nii… sudah tiga tahun semenjak hari itu, ya?"

"… hm."

"Reishi-kun… sama sekali tidak mengatakan apapun ketika ia pergi."

"Kau tahu kalau kita, manusia biasa, tidak bisa menentang kehendak Dewa Langit, Tatara. Bahkan sejak awal kita tidak tahu kapan persisnya Reishi-chan akan berubah seutuhnya menjadi Dewa Matahari. Juga tentang Saru-chan dan Susano-O… jika anak itu tidak meninggalkan catatan pelajarannya di bawah tatami kamarku tiga tahun lalu, mungkin kebenaran mengenai Amaterasu-sama dan Susano-O selamanya akan menjadi misteri bagi umat manusia."

"… kau berniat membukukan catatan Reishi-kun, Izumo-nii?"

"Menurutmu sendiri bagaimana? Apakah kita akan tetap membiarkan generasi kita mendatang berjalan tanpa arah hingga akhirnya mereka, seperti kita dan mungkin para pendahulu kita, hampir tenggelam dalam duka yang amat sangat ketika tiba waktunya mereka harus kehilangan dua saudara terkasih, atau kita membeberkan kenyataan untuk mempersiapkan dan mengantarkan manusia-manusia terpilih ini menjalani takdirnya?"

"Aku setuju pilihan kedua. Meski informasi ini lebih baik diberikan sebatas pada kalangan elit istana, para pendeta Kuil Dewa Matahari saja, dan utamanya untuk generasi berikutnya yang dianugerahi darah Amaterasu-sama serta Susano-O-sama di antara mereka. Rakyat tidak perlu tahu terlalu banyak. Atau mungkin… setelah kita berhasil menjamin bahwa rakyat hidup makmur untuk tujuh generasi ke depan, barulah kita bisa mulai membuka kenyataan mengenai Amaterasu-sama ini secara bertahap."

"Tujuh generasi katamu, Tatara? Kau yakin bisa hidup selama itu?"

"Tapi kau tetap akan menjadi Raja Tsukuyomi pertama yang membebaskan rakyat dari perbudakan dan otoritas kalangan kerajaan, benar begitu, Izumo-nii?"

"… kau tahu, Tatara? Jika Reishi-chan menepati janjinya pada Yatagarasu-sama, bahwa ia akan menutup mulut mengenai sejarah dan takdir gila ini, mungkin aku pun tidak akan terpikir untuk melawan kuasa tirani dan membebaskan diri dari segala bentuk hukum absolut Raja Tsukuyomi sebelumku. Reishi-chan membuatku berpikir bahwa… manusia pun sanggup menulis takdirnya sendiri, tanpa harus tunduk mengalah pada segala kekuatan tak terlihat yang mengekang."

"Reishi-kun… ia benar-benar seperti matahari, ya?"

"… ya. Meski menurut catatan, setiap matahari seharusnya memiliki karakteristiknya masing-masing, dan aku tidak menemukan adanya perbedaan dengan matahari setelah maupun sebelum terjadinya peristiwa tiga tahun lalu itu."

"Ahahahahaa… kalau soal itu, seperti katamu, Izumo-nii, manusia biasa seperti kita tidak pernah bisa tahu segalanya mengenai rahasia langit. Tapi tetap saja… aku merindukan mereka berdua, Reishi-kun dan Saruhiko-kun…. Kuharap mereka berdua menemukan kedamaian di kerajaan langit."

"… mereka pasti menemukannya, Tatara. Sekarang, mau temani aku ke kuil? Lusa adalah penobatanku sebagai raja, dan aku merasa bahwa aku bisa mendapatkan ketenangan jika aku datang ke sana."

"Are…? Kau akan datang untuk berdoa, atau untuk bertemu Pendeta Awashima? Izumo-nii, aku tahu kau tertarik padanya sejak lama, ditambah fakta bahwa perawakannya yang masih menawan layaknya wanita muda berumur tiga puluh tahunan, tapi kau harus ingat bahwa beliau sekarang sudah berumur kepala lima dan beliau tidak boleh menikah—AAAWWW…!"

"Diam dan ikut aku, atau kau yang akan kujadikan persembahan untuk Amaterasu-sama, Tatara."


...


.

.

.

Yap, sekian dari author kali ini. Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk membaca, dan sampai jumpa di chapter berikutnya~! ^^v