.
Author's note:
Main pairing MikoRei with heaaavvyyy hint of IzuSeri (baca: author membuat mereka menjadi sepasang suami istri di chapter kali ini) and slight of SaruMi.
Mohon maaf karena author telat upload setelah dihajar kesibukan duniawi *alasan*. Langsung saja, AU kali ini merupakan crossover dari (1) Doujinshi MikoRei Demon-paro oleh artist Jing yang author dapat dari akun pixiv yang bersangkutan (di mana dikisahkan Mikoto menjadi setan kecil dengan siluet pedang biru menembus dadanya), dan (2) Jinja no Miko (c) Alamanda Hindersah, 2005 (author menggunakan latar lokasi dan tema cerita miko-sama beserta 4 penjaga miko-sama dari novel ini). Apakah di antara pembaca ada yang mengetahui dan pernah membaca mengenai kedua maupun salah satu dari subjek crossover yang author pilih kali ini? Akan jadi seperti apa dan bagaimana, selamat membaca dan semoga kalian menikmati crossover(s) author kali ini~ ^^
This chapter is dedicated for Alamanda Hindersah (yang sudah bersedia latar lokasi dan Desa Wako-nya, beserta pedang 4 penjaganya dipinjam dan diberdayakan *uhuk*seenakjidat*uhuk oleh author). Let's have cups of decent tea again next week after we got back to our beloved hometown, Girl~ ;)
.
...
.
[Far away inside the forest, I was born from scorching fire.]
[The sky was dark. The forest was dying.]
[A sting on my chest. A beautiful ray of colour pierced through me.]
[Yet I didn't feel any pain.]
[I was all alone.]
[Then, all I could see was fire.]
[Scarlet red. Vermillion red. Crimson red. Flame, burning red.]
[I touched, here and there, yet they burned down.]
[The trees. The birds. The flowers. The crickets.]
[It was all red… except,
for the beautiful contrast of red that stabbed through my chest.]
[It was all quiet.]
[Could not hear bird's chirping. Could not hear branch's rustling.]
[They all turned into ashes.]
[Hidden in the forest of embers, I was all alone.]
.
...
.
Project K (c) GoRa & GoHands
TWENTY-FOUR
Fragment 2: Forest of Embers
.
"... Dan bukankah hal itu seharusnya kuberikan pada seorang anak manusia, atau pada seorang wanita, lebih tepatnya, bukan untuk sesosok setan yang tengah menunggu waktunya untuk membunuhku atau kubunuh terlebih dahulu?"
.
.
.
.
.
Desa Wako di sebelah barat Provinsi Dewa (Prefektur Yamagata dan Prefektur Akita setelah jaman restorasi Meiji) adalah sebuah desa kecil yang tidak pernah tercantum dalam peta, meski penduduk desa yang secara letak geografis dikelilingi bukit dan gunung ini tidak pernah sekalipun merasa terkucilkan maupun terlupakan atas keberadaan mereka yang begitu tersembunyi. Desa kecil namun bersumber daya alam melimpah ruah—penduduk yang dapat hidup dari hasil pertanian, peternakan unggas, serta peternakan ulat sutra. Desa yang damai. Desa yang begitu tentram dengan sebuah air terjun besar yang mengalir mengisi sungai-sungai hingga membentuk satu cekungan danau tidak jauh dari desa.
Namun betapa kedamaian dan ketentraman itu harus dibayar dengan pengorbanan seorang miko setiap seratus tahun sekali untuk menyegel para setan dan siluman yang menyeruak ke muka bumi, memangsa manusia dan makhluk hidup lainnya. Desa Wako yang konon pula disebut-sebut sebagai satu pintu lain menuju yomotsu-no-kuni, atau dunia orang mati… ada pula yang mengatakan bahwa batu raksasa setinggi dua meter yang dikelilingi shimenawa di satu-satunya kuil keramat Desa Wako merupakan penghubung dunia manusia dan dunia siluman. Dan telah beratus tahun lamanya penduduk desa terbiasa dengan hal-hal berbau mistis, sosok siluman bertanduk, hewan-hewan ternak yang hilang tanpa jejak, kucing yang bisa berubah menjadi manusia… dan sebutkan hal-hal keajaiban lainnya, maka hampir seluruhnya telah menjadi kebiasaan dan keseharian normal bagi penduduk desa.
Seratus tahun sekali, dan seorang gadis muda berumur enam belas tahun harus bertarung melawan ratusan, tidak, ribuan siluman dan iblis yang datang menggempur Desa Wako, bersama dengan keempat penjaga yang masing-masing didampingi oleh satu dari empat dewa penjuru dan sebilah pedang sakti. Sang miko yang akan kemudian merapel mantra, melantunkan doa, dan menyegel kembali pintu dunia manusia dan dunia para siluman.
Lalu sang miko yang kemudian akan mati kehabisan tenaga, mengorbankan seluruh hidupnya demi kedamaian seratus tahun ke depan. Termasuk miko-sama kesebelas yang baru saja menghembuskan napas terakhirnya setengah tahun lalu, tiga hari setelah ritual penyegelan berhasil dilakukan, di tengah pesta pora penduduk Desa Wako. Bersamaan dengan kebakaran hebat yang melanda hutan di sebelah selatan desa. Meluluhlantahkan segala warna hijau, menggantinya dengan kelabu.
Setengah tahun lamanya, dan asap yang masih belum berhenti membumbung tinggi hingga langit. Menimbulkan kecurigaan, terutama di antara keempat mantan penjaga mendiang miko-sama.
"Aku bertaruh tiga gelas anggur hasil panen di kebunku, bahwa pelaku pembakaran dan perusakan hutan ini adalah manusia, Totsuka."
"Hmm~ kalau begitu aku bertaruh satu petak peternakan ulat sutraku, kalau pelakunya adalah kadal api!"
"… Totsuka-san… petak ulat sutramu itu 'kan hanya seukuran tatami, tidak sebanding dengan yang ditawarkan Kusanagi-san…."
"… dan kadal api itu tidak ada di dunia ini, Totsuka-san."
"Ahhahahahaaa~ jangan merusak kesenanganku seperti itu, Yata-kun, Fushimi-kun! Kalian juga, mau bertaruh apa dan berapa? Ayo sini berikan taruhan kalian atau—ouch…! Mu—Munakata-san, bisakah kalau kau tidak melulu memukul orang lain dengan sarung pedangmu itu?!"
"Atau kau lebih suka jika kupukul tanpa menggunakan sarung pedang, Totsuka-kun? Dan apakah perlu kuingatkan sekali lagi bahwa Yata-kun dan Fushimi-kun masih di bawah umur untuk kau ajak berjudi, hmm?"
"Uwaaah… kau benar-benar kejam, Munakata-san…."
"Sudah-sudah, kalian berdua. Jadi bagaimana? Kita berpencar dan mencari?"
"Setuju. Satu-satunya cara paling cepat adalah dengan berpencar dan mencari ke setiap pelosok hutan yang terbakar. Kuharap kalian tetap mempersenjatai diri dengan pedang kalian masing-masing, kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi di luar sana."
"Miko-sama sudah melakukan penyegelan enam bulan yang lalu, apakah mungkin masih ada setan dan siluman berkeliaran?"
"Kupikir kau tentunya mengetahui bahwa pintu penghubung dunia manusia dan dunia makhluk gaib itu bukan hanya terletak di Desa Wako saja, Fushimi-kun. Meski sejujurnya, hal ini cukup mengangguku. Seharusnya tidak ada lagi setan maupun siluman berkeliaran, utamanya di sekeliling Desa Wako. Dan kebakaran hutan yang tepat terjadi ketika Miko-sama menutup matanya ini…."
"Kita tidak akan tahu sebelum kita melihatnya dengan mata kepala sendiri, Munakata. Baiklah. Semuanya, kita berangkat sekarang. Gunakan isyarat elemen dari pedang kalian masing-masing apabila kalian menemukan sesuatu. Pencarian berhenti dilakukan apabila matahari telah terbenam, dan aku tidak ingin mendengar alasan apapun jika kalian terlambat sampai di desa, mengerti? Lalu kau, Totsuka, beritahu Anna dan Seri-chan bahwa kami akan melakukan pencarian di hutan dan pulang setelah hari gelap."
"Are? Kau yakin tidak mau kau sendiri yang memberitahu Seri-san, Kusanagi-san? Aku tidak tanggung jika ia marah dan menyuruhmu tidur di beranda lagi malam ini."
"… kalau sampai itu terjadi, aku akan mengulitimu tengah malam karena hal kontradiktif yang kau katakan padanya, Totsuka. Dan tolong pastikan Anna tetap aman berada di wilayah desa. Meskipun kekuatan rohnya hampir sama besarnya seperti Honami-sama, tapi setelah apa yang terjadi enam bulan lalu pada miko-sama, kakaknya sendiri, aku merasa tidak ingin melibatkan anak itu lebih jauh dalam dunia roh seperti ini."
"Baiklah, Kusanagi-san. Hati-hati di jalan untuk kalian semua. Akan kumasakkan nabe ketika kalian pulang nanti malam~!"
"… tch, aku lebih baik tidak pulang daripada menyantap makanan berasa racun tikus buatan Totsuka-san…."
"Fushimi-kun? Kau tidak mengatakan sesuatu?"
"Tidak. Bukan apa-apa, Munakata-san."
...
.
[The air felt heavy.]
[No longer I could see red anymore, because everything was already grey.
Black ashes and white vast sky.]
[Concealed in the forest, I was all alone.]
[Until one day… 'he' found me….]
.
Dua puluh empat tahun hidup dan dibesarkan di Desa Wako, baru kali ini Munakata Reishi merasa bahwa ia akan tersesat di hutan yang seharusnya sudah begitu dihapalnya luar kepala ini. Udara yang terasa berat, wangi abu dan debu yang menginvasi indera penciumannya. Rupa hutan yang tampak begitu berbeda. Serasah daun yang menghitam di kakiknya. Pepohonan segelap jelaga tanpa daun-daun menghinggapi ujung-ujung ranting merapuh. Warna langit dalam stagnansi kelabu, seolah awan tebal dan berat menggelayuti langit tanpa celah. Reishi terus melangkah, memeriksa setiap jengkal, berusaha menyatukan gambaran yang berupa potongan-potongan dalam kepalanya, merekonstruksinya kembali menjadi peta hutan yang telah dikenalnya seperti semula.
Hingga ia tiba di cerukan selebar tiga meter… yang sebelumnya sangat ia yakini sebagai salah satu anak sungai yang berasal dari air terjun di sebelah utara desa. Sungai yang tidak lagi dialiri air. Kering kerontang. Bahkan ketika Reishi melompat turun ke dalam cerukan sedalam satu meter dan menyentuh permukaan tanah di kakinya, tidak ada lagi kelembaban yang tersisa. Seakan sejak awal tidak pernah ada sejumlah air berarus yang mengaliri cerukan tersebut.
"Ini aneh," ujar satu suara di belakangnya, suara milik Kusanagi Izumo. Reishi menoleh, menemukan laki-laki bersurai pirang itu berjongkok di tepian cerukan sungai. "Api tidak seharusnya membuat tanah gersang seperti ini."
"Katakan hal itu lagi di depan wajahku, Kusanagi-san," tanggap Reishi seraya menghela napas. "Api pun tidak seharusnya sanggup menguapkan air sungai hingga mengeringkan tanahnya."
"Jadi menurutmu, apa yang kita hadapi kali ini?"
Satu desah napas. Reishi hanya mampu menatap nanar sepanjang cerukan sungai yang membentang di hadapannya. "Mengesampingkan fakta tentang penyegelan yang dilakukan Honami-sama setengah tahun lalu, aku hampir yakin tidak ada lagi kekuatan besar selain siluman kelas atas yang sanggup melakukan ini. Yang jadi pertanyaan, atas alasan apa? Jarak desa dari titik terluar hutan yang terbakar ini begitu dekat, apabila yang jadi sasarannya adalah manusia yang memiliki kekuatan roh, atau demi membalas dendam pada miko-sama yang telah melakukan ritual penyegelan, seharusnya siapapun siluman yang melakukan hal ini dapat langsung menyerbu dan meluluhlantahkan desa."
"Kau harus melihat seperti apa tampang Saru-chan ketika ia melangkah masuk hutan ini, Munakata. Bocah itu tidak ada bedanya dengan seekor monyet yang tidak bisa berenang lalu ditenggelamkan ke dasar danau. Dan mengenai sungai ini, apakah kau bisa mengembalikan alirannya seperti semula dengan kekuatanmu?"
Reishi tersenyum simpul. Menjadi mantan penjaga sang miko yang dianugerahi kekuatan untuk menguasai elemen air jelas membuatnya dengan mudah mengembalikan kondisi sungai seperti sedia kala. Namun ia tahu bukan hanya dirinya yang harus turun tangan demi mereboisasi ulang hutan dan sesisinya itu. Dibutuhkan pula kekuatan Izumo sebagai pengendali tanah serta Saruhiko sebagai pengendali udara dan angin. Dan apabila sumber permasalahan ini belum ditemukan, Reishi yakin tidak ada gunanya untuk meregenerasi segala kerusakan yang ada.
"Aku akan menyusuri cerukan sungai ke arah selatan dan melihat sampai di mana kekeringan ini berlanjut," tutur Reishi pada akhirnya, "bagaimana denganmu?"
"Kalau begitu, aku akan mencari tahu sampai sejauh mana kebakaran ini melanda. Aku mungkin akan membutuhkan bantuanmu jika aku menemukan daerah yang masih diliputi kobaran api."
Reishi mengangguk. "Baik. Hati-hati, Kusanagi-san."
Tidak ada jawaban dari pria itu. Reishi hanya melihat punggung Izumo yang berbalik lalu berlari, membelah jajaran batang pohon menghitam hingga menghilang dari pandangannya. Reishi lantas melompat dari dasar cerukan, mendarat ringan tepat di tepian apa yang sebelumnya menjadi sungai tersebut. Ia melangkah, cepat namun tidak tergesa. Matanya menatap awas ke segala penjuru, telinganya terpasang tajam untuk menangkap setiap bunyi di sekelilingnya. Di saat seperti ini (maupun setiap kali Reishi harus menebas pedangnya pada siluman dan setan yang berkeliaran) barulah Reishi menyadari manfaat di balik pelatihan bela diri maupun penguasaan kekuatan rohnya semenjak ia berumur sepuluh tahun, dengan Izumo sebagai senior sekaligus pelatih dengan jeda enam tahun darinya.
Reishi memusatkan konsentrasinya. Semakin dalam ia melangkah, semakin berat udara yang dihirupnya. Bulir-bulir peluh mulai membasahi tengkuk dan kerah yukata-nya. Izumo benar, Saruhiko sebagai penguasa elemen udara pasti tidak akan sanggup menghadapi hawa janggal semacam ini. Namun indera keenam Reishi pun sama sekali tidak merasakan keberadaan aura roh jahat sedikitpun.
Ada. Namun terasa begitu samar. Begitu lemah. Seperti kobaran api yang tertiup angin dan menunggu letupannya memadam.
Di ujung pencariannya Reishi menemukan sisa-sisa bara api, masih membakar di ujung-ujung pepohonan tumbang. Abu yang semakin menyesakkan indera penciumannya. Menyeret langkah, Reishi meninggalkan tepian cerukan sungai, mencari jejak sisa-sisa bara yang masih menyala terang. Tidak jauh dari sana, tepat di atas gelondongan kayu-kayu hitam, seorang anak kecil terduduk diam dengan lidah api menari-nari mengitari anak kecil tersebut. Reishi lantas menggenggam erat pegangan pedang mizutama-nya, kemudian menarik keluar pedang berelemen air itu dari sarungnya. Mengendap perlahan, mengambil kuda-kuda. Mendekati makhluk tersebut. Dan suara gemerisik kakinya yang beradu dengan arang di atas tanah sontak mengalihkan perhatian makhluk itu padanya.
Meski detik berikutnya, Reishi terpaku. Reishi kehilangan kata-kata akan sosok yang dilihatnya itu.
.
['He' was the one with no horns or tails, no wings and no claws.]
['He' was the one with pale skin and strange orb's colour,
the one I always found every night I crouched upon my slumber.
A colour of a clear night sky.
A colour that matched the sting pain on my chest.]
.
Tubuh yang tidak lebih tinggi dari anak kecil berusia lima tahun. Surai merah menyala yang mencuat ke segala arah layaknya percikan api. Sepasang tanduk cokelat mencuat mungil di antara surai merah dan pola hitam khas setan kelas atas yang tergambar menjalar dari kedua pundak hingga sikut tangan serta di kedua sisi wajah. Siluet cahaya biru, seolah bilah pedang tak nyata yang menusuk, menembus dada hingga punggung. Sepasang telinga runcing seperti milik para siluman. Dan yang terakhir adalah sepasang bola mata emas yang balas menatap ke arahnya. Melebar maksimal. Penuh ketakutan. Tubuh kecil itu yang kemudian merangsek mundur, tergesa-gesa memanjati gelondong kayu, hingga akhirnya sukses terjungkal dari atas kayu dan menghilang dari pandangan Reishi.
Sejenak, Reishi tidak percaya bahwa apa yang dihadapinya ini adalah sebentuk setan maupun siluman. Karena di matanya, makhluk itu tidak ubahnya seperti seekor anak kucing liar yang kelaparan dan ketakutan, mencari perlindungan.
Reishi lantas kembali menyarungkan mizutama-nya. Ia berjalan perlahan, mengitari tumpukan-tumpukan kayu tersebut, dan menemukan si setan mungil bersembunyi di antara potongan-potongan kayu. Tubuh kecil yang gemetaran. Reishi menghela napas, tanpa sadar melengkungkan bibirnya seraya berjongkok dan mengulurkan tangannya.
"Halo, Setan Cilik. Sedang apa kau di sini? Apakah kau yang menyebabkan hutan menjadi seperti ini?"
Sosok mungil itu tidak menjawab. Tentu saja, pertanyaannya tadi terdengar sangat tidak ramah dan penuh rasa ancaman. Reishi tidak bisa berharap bahwa makhluk itu akan menjawab pertanyaannya begitu saja. Ia kemudian beringsut, berusaha mendekatkan dirinya pada setan kecil itu.
"Tidak apa-apa. Aku tidak akan membunuhmu. Kau… ketakutan karena melihat pedangku? Lihat, sekarang aku tidak memegang apa-apa, bukan? Karena itu kemarilah. Aku tidak akan melakukan apa-apa padamu."
Reishi mampu merasakan, sepasang manik emas itu memandangnya ragu naik-turun, dari kepala hingga kaki, seolah menyusuri seluruh tubuhnya, mencari-cari tanda kebohongan yang mungkin ditunjukkan oleh gestur tubuh Reishi. Namun Reishi hanya balas tersenyum. Tidak peduli tangannya yang terasa pegal setelah ia julurkan tanpa disambut sama sekali oleh makhluk tersebut. Tidak peduli napasnya yang terasa semakin sesak dengan abu dan debu di sekelilingnya. Yang Reishi inginkan hanyalah menggapainya. Perintah yang entah mengapa tidak turun dari otak dan logikanya, melainkan muncul dari benak terdalamnya.
Hingga akhirnya setan kecil itu keluar dari tempat persembunyian. Tangan kecil yang nyaris terjulur untuk menyentuh tangan Reishi, meski ditarik kembali dengan satu sorot wajah pucat dari makhluk tersebut.
"Ada apa?" Reishi bertanya hati-hati. "Kau takut sesuatu?"
Sepasang emas itu kembali menatap ke dalam ungunya, kemudian sepasang tangan kecil si setan cilik yang menyentuh gelondong kayu di punggung, hanya untuk mengeluarkan lidah api yang lantas menjilat habis tumpukan kayu tersebut, menguarkan asap kehitaman hingga angkasa.
Reishi mengerti seketika. Mungkin inilah yang menyebabkan kebakaran hutan berlangsung begitu lama tanpa henti. Setan mungil ini tampak tidak tahu cara menggunakan kekuatannya. Itu artinya hanya tersisa dua pilihan bagi setan tersebut, antara membawanya kembali ke desa lalu melatihnya agar bisa menjadi sekutu manusia, atau langsung memenggalnya di tempat saat itu juga. Logikanya yang kemudian mengantarnya pada opsi kedua, di mana siluet biru tajam di dada si setan cilik terasa begitu identik dengan mata pedang mizutama miliknya. Haruskah ia membunuh makhluk itu? Di tempat itu, saat itu juga?
Entah mengapa, Reishi tahu ia tidak akan sanggup melakukannya.
Menghela napas, Reishi berdiri sembari kembali mengulurkan tangannya. "Kau mau ikut denganku? Kau tidak perlu khawatir tentangku. Aku penguasa air, aku tidak akan terbakar olehmu." Reishi kemudian menggenggamkan telapaknya, untuk kemudian terbuka lagi dan memunculkan sebentuk bola air mengapung di atas telapak. Si setan kecil terkesima. Manik emas melebar yang kali ini penuh rasa keingintahuan, diiringi bola air yang kemudian meluncur turun membasahi sepasang telapak tangan mungil si setan. Reishi tidak tahan untuk menahan tawanya. "Baiklah, sekarang kau percaya padaku? Air milikku tidak hangus dan menguap ketika menyentuh tanganmu, berarti kau tidak perlu cemas akan melukaiku. Sekarang, ikutlah denganku?"
Si setan cilik mengangguk. Satu uluran tangan yang menyambut tangan Reishi. Tangan kecil yang tergenggam di jemarinya. Suhu tubuh yang menguar hangat, sedikit lebih tinggi dari suhu tubuh manusia normal, dan Reishi tidak merasa terbakar sedikit pun. Tidak ada api yang menjilati tangannya. Hanya hangat yang begitu nyaman. Menentramkan sesuatu dalam benaknya.
.
[And 'he' was the one, who wouldn't get burnt when I touched 'him'.]
.
Dengan sebelah tangannya, Reishi menarik mizutama, mengacungkannya ke langit. Mulutnya membisik mantra, memunculkan pancuran air mengalir tinggi dari ujung pedangnya, disertai aura berwarna biru menguar dari percikan air yang dipanggilnya, berarak menuju arah Desa Wako. Sementara si setan kecil di sisinya mengamati dengan seksama. Genggaman di tangan Reishi yang terasa mengerat, sarat ketertarikan. Reishi lantas tersenyum dan mengembalikan pedangnya ke dalam sarungnya. "Kau senang dengan pertunjukanku baru saja? Setelah kau tiba di desa, aku akan memperlihatkan lebih banyak hal padamu."
Menurut. Setan mungil itu melangkah mengikutinya, berusaha menjajari langkah Reishi yang lebar. Dan manik emas yang tidak berhenti menatap ke arahnya. Hingga hangat di genggamannya mengalir naik, membasuh hingga jauh ke dasar benaknya.
.
[For the first time in forever, I was glad that 'he' found me….]
.
...
"Di mana Munakata?"
"… entah. Aku dan Misaki baru saja tiba."
"Kalian kembali bersama-sama?"
"Aku berbalik arah ketika aku sadar udara di sekelilingku berubah, terasa bersih. Monyet Bodoh satu ini pasti tidak tahan dengan seisi hutan dan memilih untuk menjernihkan udara, meski ketika kutemui ia nyaris pingsan kehabisan napas. Memperbaiki sesuatu tapi dengan nyawamu sebagai taruhannya itu adalah hal bodoh, Saru. Kau harus ingat hal itu!"
"Tch. Kau berisik, Misaki. Kepalaku pusing."
"Kau sendiri yang tidak mau menurut, tidak mau menjaga dirimu, dan—"
—bletakk!
"Yata-chan, kau dengar apa katanya, jadi berhentilah mengkhawatirkannya dan biarkan Saru-chan beristirahat—"
"—bisakah kau hentikan panggilan menggelikan itu, Kusanagi-san?"
"Baik, baik, Saruhiko… kau juga, pertarungan terakhir kita bersama-sama dengan miko-sama, dan kau yang menerima paling banyak serangan untuk melindungi mendiang miko-sama. Kekuatan rohmu belum pulih sepenuhnya, jadi kuharap kau jangan lagi memaksakan diri seperti ini, mengerti?"
"… baik, Kusanagi-san."
"Yosh, sekarang tinggal menunggu Munakata—ah, itu dia!"
"Kira-kira ada apa, ya? Aku tidak menyangka Munakata-san akan memberi tanda untuk meminta kita berkumpul di gerbang desa."
"Tch. Semoga saja ia tidak membawa hal yang aneh-aneh… tunggu… i—itu, bukankah…."
"Ararara… aku tidak menyangka bahwa orang paling pintar di Desa Wako akan dengan begitu pintarnya membawa oleh-oleh ke desa berupa…."
"… si—siluman…?! Ku—Kusanagi-san! Munakata-san… ia membawa pulang siluman! Akan kutebas siluman itu dengan pedang hiyaku milikku—"
"—berhenti di situ, Yata-chan~ atau setidaknya sebelum kau menebasnya dengan pedang apimu itu, aku ingin tahu apa alasan Munakata membawanya kemari. Dan dibanding siluman yang punya kemampuan berubah bentuk sesuai keinginan, aku lebih cenderung mengatakan kalau Munakata… saat ini tengah menggandeng tangan sesosok setan kecil."
"…tch. Jangan katakan padaku kalau ia bermaksud membawanya ke dalam tembok desa dan melatihnya hingga jinak seperti siluman beruang gendut tukang makan peliharaanmu itu, Misaki… siapa namanya? Kamamoto?"
"Oi, Saru… jangan samakan Kamamoto dengan siluman lainnya. Sejak awal aku bertemu dengannya, ia memang sudah jinak seperti anak anjing. Mulutnya bahkan lebih bisa dijaga ketimbang mulutmu."
"Oya? Kalian sudah berkumpul rupanya. Sudah lama menungguku?"
"Tidak begitu lama, aku tiba di sini setelah Yata-chan dan Saru-chan. Dan benda di belakangmu itu, Munakata, bisa kau jelaskan padaku? Atau kau sengaja membawanya ke sini untuk menjadi objek pembantaian beramai-ramai, setidaknya oleh kita berempat sebagai mantan penjaga miko-sama yang bertugas untuk menghancurkan siluman maupun setan yang berkeliaran di dunia manusia?"
"Oh, ini? Kupikir kau ingin tahu siapa pelaku pembakaran hutan selama enam bulan ini, Kusanagi-san."
"He?! Setan sekecil ini?!"
"Ya. Aku menemukannya di tengah hutan, sendirian di atas tumpukan kayu dengan bara api di kanan-kirinya masih menyala. Dan ia sendiri yang menunjukkan padaku, apapun yang disentuhnya akan terbakar."
"Dan kau sekarang membiarkannya menggenggam tanganmu? Astaga, Munakata… kau ini kelewat santai, atau…."
"Justru itu, Kusanagi-san. Kau lihat sendiri bahwa aku baik-baik saja dengan memegang tangannya. Dan sku ingin membawa anak ini pada Anna. Aku ingin tahu apa yang Anna lihat mengenai anak ini. Jika menurut Anna, ia tidak akan membawa ancaman bagi desa, maka aku mungkin akan melatihnya—ia bisa menjadi aset untuk kita melawan setan dan siluman. Namun jika Anna berkata sebaliknya, maka aku akan bertanggung jawab untuk membunuhnya. Lagipula, kalian lihat berkas cahaya di dadanya? Seperti bilah pidang, dan begitu serupa dengan bilah mizutama."
"Jadi menurutmu… hanya kau yang bisa membunuhnya?"
"… oh, lebih dari itu. Bahkan mungkin jalan takdirku pun bersinggungan dengan setan kecil ini."
...
Rumah besar keluarga Kushina, keluarga yang selama lima generasi ke belakang mewarisi kekuatan para miko melalui garis keturunan anak sulung laki-laki dan sang miko yang hampir selalu terlahir sebagai anak bungsu di keluarga tersebut. Rumah besar keluarga Kushina yang bergaya Jepang kuno dengan lantai tatami dan koridor-koridor kayunya, berbentuk huruf 'U' dilengkapi bangunan gudang terpisah dan doujou latihan, tidak pula ketinggalan kolam ikan koi beserta sepasang pancuran bambunya. Rumah besar itu kini hanya ditinggali oleh keturunan terakhir keluarga Kushina, Anna, ditemani Totsuka Tatara—pemuda tanggung yang sewaktu bayi ditinggalkan di depan pintu rumah besar keluarga Kushina hanya dengan secarik kertas bertuliskan nama 'Totsuka Tatara'—dan Kusanagi Seri yang semula bernama Awashima Seri, keturunan keluarga Awashima yang merupakan abdi setia keluarga Kushina. Bahkan setelah Seri resmi menikah dengan Izumo tiga bulan lalu, sang penjaga miko yang memiliki kemampuan mengendalikan tanah ini lantas tinggal bersama sang istri dan Anna.
Satu hal yang dirasa cukup baik, utamanya bagi keempat penjaga mendiang miko, ditambah Totsuka dan Seri sendiri, adalah kehadiran mereka semua yang dengan bebas diizinkan keluar-masuk hingga menginap di rumah besar keluarga Kushina demi menemani Anna. Karena apapun yang terjadi, gadis kecil yang baru berumur tiga belas tahun itu masih terlihat menyalahkan dirinya sendiri setelah apa yang terjadi pada kakak perempuan satu-satunya, putri sulung keluarga Kushina yang terpilih menjadi miko kesebelas, Kushina Honami. Anna yang kerap merasa bahwa dirinyalah yang seharusnya menjadi miko dan mati demi melindungi desa, lalu kakaknya yang akan menikah dengan seorang pria idaman demi meneruskan garis keturunan sang miko.
Dan sore tersebut, empat penjaga mendiang miko duduk berhadapan dengan Anna—yang kini telah memegang keputusan tertinggi atas segala hal yang menyangkut dunia roh, siluman, maupun setan yang berkeliaran. Ditemani Seri di sisi kanan dan Totsuka di sisi kirinya, Anna tahu keempat pria di hadapannya ini akan memberikan sebuah topik pembicaraan yang cukup berat. Terlebih lagi, pandangannya yang kerap tercuri oleh sosok mungil yang mengintip dari balik punggung Munakata Reishi. Anna tahu apa yang dihadapinya. Meski tidak sedikitpun Anna merasa takut atau merasakan adanya tekanan kekuatan jahat dan emosi negatif menguar dari sosok mungil tersebut.
Anna mendengar deham pelan dari Izumo, meminta perhatian penuhnya. Anna mengangguk, dan Izumo lantas menceritakan kondisi hutan belantara di sebelah selatan dari dinding Desa Wako. Tanah yang gersang, sungai yang kering-kerontang, udara berat penuh abu menyesakkan—yang bahkan sanggup menumbangkan sang penjaga berelemen udara, Fushimi Saruhiko. Dilanjutkan oleh Reishi, penyebab kerusakan hutan itu tidak lain adalah sosok mungil bermanik emas itu.
"Tidak ada energi negatif. Tidak ada aura membunuh. Mudahnya, setan kecil ini seperti seekor anak kucing yang lahir di tengah hutan tanpa mengenal induknya. Ia belajar berjalan, mencari makan dan minum, serta bertahan hidup seorang diri. Namun yang menjadi masalah adalah ketika setiap benda yang disentuhnya lantas dilahap kobaran api. Setan kecil ini membakar apapun yang disentuhnya, apapun yang diinjaknya, apapun yang bersentuhan langsung dengannya."
"Tapi ia tidak membakarmu, Reishi. Padahal Reishi tahu sekeras apa ia mencengkram kerah yukata-mu," potong Anna. Dan yang Anna dapatkan hanyalah seulas senyum tipis dari pria bersangkutan. Anna melanjutkan, "Lalu, apa yang Reishi ingin aku lakukan terhadap setan ini?"
"Jika kau tidak keberatan, Anna… aku ingin kau melihat menembus dirinya. Siapa ia sebenarnya. Takdir apa yang ia bawa. Terlebih lagi…," Anna melihat pria itu berbalik, berusaha memandu si setan kecil untuk melangkah maju mendekati Anna, hingga Anna mampu melihat guratan sinar berwarna biru terang, menembus tepat di atas dada makhluk tersebut. Reishi tidak perlu berkata dua kali hingga Anna memahami maksud pria itu, hingga Reishi meneruskan, "Dan jika semua itu tidak mengancam ketentraman desa, maka aku meminta izin darimu agar ia tinggal bersamaku. Aku sendiri yang akan melatihnya. Ia akan berguna untuk melindungi desa ini dari serangan siluman maupun setan ke depannya."
Sejenak, Anna menatap ke dalam ungu milik pria itu. Sarat permohonan. Meski ada sendu dan rindu yang menggenang. Anna tidak tahu apa artinya, namun Anna mengangguk, memenuhi permintaan Reishi. Anna kemudian menjulurkan kedua tangan, perlahan menyentuh sisi wajah makhluk bersurai semerah api tersebut. Setan kecil itu hanya terdiam, manik besarnya balas menatap rubi merah milik Anna. Dan ketika Anna memusatkan konsentrasinya, mencari di balik sepasang emas itu, yang Anna temukan adalah potongan gambar. Begitu banyak gambar. Wajah-wajah yang dikenalnya, meski dalam dimensi yang tidak pernah diketahuinya. Dominasi warna merah dan biru. Sebuah janji yang tidak terpenuhi, yang tak ayal berubah menjadi sebuah kutukan yang menjerat takdir merah dan birunya. Berkali-kali.
Butiran perak mengalir dari kedua matanya, membasahi pipinya. Cepat-cepat Anna menggisik kedua mata dengan punggung tangannya. Tepukan Totsuka di kepalanya dan rangkulan hangat Seri di pundaknya yang nyaris tidak bisa lagi Anna rasakan. Hatinya sesak. Duka yang mengalir dalam dadanya, terasa begitu menghimpit. Anna kini mengingat semuanya. Anna kini mengerti bahwa tidak terpilihnya ia menjadi seorang miko memanglah memiliki arti lain. Anna belum bisa mati. Anna belum diizinkan untuk mati, hingga Anna selesai menyaksikan merah dan birunya menggenapi karma pada dimensi kehidupannya kali ini.
"Aku… ingin bicara berdua saja dengan Reishi. Bisa kalian semua tinggalkan kami berdua?"
Tidak ada parah kata yang dilontar. Gemerisik kain hakama beradu tatami, pintu shoji yang digeser, hingga di ruang tengah rumah besar keluarga Kushina kini hanya tersisa Anna, Reishi, dan makhluk mungil yang masih menatap Anna dengan sepasang mata besarnya.
"Anna, maaf… aku tidak bisa membuat anak ini pergi meninggalkanku—"
"—tidak apa-apa, Reishi. Lagipula, mengerti atau tidak, apa yang akan kukatakan ini berhubungan pula dengannya."
"Baik, Anna. Jadi… tolong katakan padaku, apa yang kau lihat?"
Menarik napas, Anna berusaha sekuat tenaga untuk menenangkan gedoran keras dalam dadanya. Bahunya yang masih berguncang. Matanya yang siap menumpahkan tangis kapanpun. Meski Anna berjuang. Anna tahu tugasnya. Peranannya. Dan tangan takdir tidak akan mungkin membelenggunya untuk satu cerita yang tidak bisa Anna selesaikan dengan kedua tangan dan kakinya sendiri.
"Anak ini… ia tidak akan memberikan ancaman apapun bagi desa. Bahkan penduduk desa, meski awalnya menaruh curiga padanya, namun lama-kelamaan akan menerimanya dan menyayanginya tanpa mempedulikan statusnya yang memang merupakan setan yang memiliki kekuatan besar. Yang jadi masalah adalah kau, Reishi."
"… aku?"
Anna mengangguk. "Anak ini tidak akan mengancam desa, tapi ia akan membahayakan hidupmu, keselamatanmu… nyawamu. Waktumu hanya sampai musim dingin tahun depan. Reishi, dengan mizutama, akan menjadi satu-satunya yang sanggup membunuhnya. Namun hingga akhir musim dingin musim depan, Reishi harus memilih…."
"Memilih…?"
"Ya. Memilih… apakah Reishi yang akan mengakhirinya, ataukah Reishi yang akan terlebih dahulu diakhiri olehnya. Jadi, apa yang akan kau lakukan, Reishi? Membunuh anak ini sekarang, atau menggenapi takdirmu dengan pilihan yang akan kau ambil di ujung jalan, satu setengah tahun dari sekarang?"
...
"Sudah dua minggu. Aku tidak menyangka Munakata akan benar-benar mengadopsi setan kecil itu… siapa namanya? Mikoto?"
"Maa maa, sudahlah, Kusanagi-san. Perjanjiannya 'kan apabila setan itu mengancam ketentraman desa, maka Munakata-san akan menebasnya di tempat saat itu juga. Dan apabila ia akhirnya mengambil setan itu untuk tinggal bersama dengannya, berarti Anna tidak melihat sesuatu yang berbahaya darinya, 'kan?"
"Dan kau harus tahu, Kusanagi-san! Kekuatan api Mikoto-san sangatlah luar biasa hebatnya! Memang, sih, aku hanya sekali melihatnya memanggil tornado api—dan Munakata-san juga langsung memarahinya dan melatihnya untuk tidak mengeluarkan kekuatan sebesar itu, tapi… aku saja butuh berlatih lima tahun untuk bisa mengeluarkan api dari pedang hiyaku, LIMA TAHUN…! Bisa kau bayangkan hal itu, Kusanagi-san?!"
"… tch. Itu sih kau saja yang lamban dalam mendalami kekuatan rohmu, Mi—sa—kiiiii. Dan berhenti memanggil setan jadi-jadian itu dengan embel-embel penghormatan. Kau membuatku mual."
"Saru, kau tidak bilang kalau kau tidak suka dengan Mikoto-san, 'kan—"
"—sudah, sudah, Fushimi-kun, Yata-kun! Seharusnya kau sudah tahu dari gelagat teman masa kecilmu ini, Yata-kun… ia tidak membenci Mikoto-kun, kok! Aku sering memergokinya memberi makan setan kecil itu."
"… kalau yang kau lihat adalah si Monyet Bodoh ini memberi makan Mikoto-san dengan sisa sayuran makan malamnya, itu karena pada dasarnya Saru benci sayuran, Totsuka-san!"
"Tidak juga, toh Fushimi-kun sering menyelundupkan seporsi makan malam dari dapur apabila ia tahu Munakata-san akan pulang terlambat, dan menemani setan cilik itu menghabiskan makanannya. Itu artinya, Fushimi-kun bukannya tidak suka pada Mikoto-kun, tapi ia hanya cemburu karena kau lebih banyak menghabiskan perhatianmu pada setan itu."
"To—Totsuka-san! Jangan bicara yang tidak-tidak—"
"Ararara~ Saru-chan malu, yaaa?"
"… tch. Aku keluar."
"O—oi, Saru…! Tunggu sebentar—Saruhikoooo…!"
"Aaah~ anak muda jaman sekarang. Betapa aku berharap hari-hari penuh tawa seperti ini akan berlangsung selamanya."
"Yah… berdoa saja kalau begitu, Totsuka…."
...
.
.
.
"Reishi, jika kau ingin tinggal bersamanya, bagaimana jika Reishi memberinya nama?"
"Ide bagus, Anna. Jadi… harus dengan nama apa aku memanggilmu, Setan Kecil?"
"Namanya sudah ada di dalam kepala Reishi. Ucapkan saja."
"Hmm, kalau begitu… Mikoto? Kau suka nama itu? Baiklah, mulai hari ini aku akan memanggilmu dengan nama itu. Salam kenal dan mohon bantuanmu, Mikoto."
.
.
.
Penghujung musim gugur. Daun-daun yang mulai menguning untuk kemudian merontok jatuh ke atas tanah. Sementara merah dedaunan momiji yang selalu mengingatkan Reishi pada kehadiran setan cilik yang mengisi seluruh hidupnya. Menjungkirbalikkan ritme kesehariannya. Melengkapkan dan membuatnya terasa utuh. Sempurna.
Mengurus Mikoto tidaklah jauh berbeda ketika Reishi di umur sepuluh tahun yang dilimpahi tugas oleh Izumo untuk mengajak bermain duo Yata Misaki dan Fushimi Saruhiko ketika kedua bocah ingusan itu masih berumur lima tahun. Hanya saja, tidak ada satu patah kata pun yang sepertinya bisa diucapkan oleh si setan kecil. Atau lebih tepatnya… setan di hadapannya ini—menurut Reishi—merupakan perpaduan antara lasaknya Misaki dan pendiamnya Saruhiko. Mikoto akan melompat ke sana kemari, tangannya tidak akan berhenti menggapai dan meraih apapun yang menarik perhatiannya, begitu persis Misaki kecil dulu, sementara mulut terkunci rapat tanpa mengeluarkan bunyi apapun kerap mengingat Reishi pada Saruhiko setiap kali bocah kecil itu mematri tatapannya pada sebuah buku.
(Seperti ketika suatu hari Reishi menemukan si setan kecil tengah berjongkok di atas sebuah batu di pinggir kolam koi, dengan perhatian penuh pada sepasang bambu shishiodoshi yang naik-turun mengikuti aliran air diiringi bunyi klak-klok yang khas. Beberapa detik Reishi terpaku melihat setan kecil itu, hingga si setan kecil mulai menganggukkan kepalanya naik-turun mengikuti gerak shishiodoshi. Atau ketika kodok di kolam koi ternyata jauh lebih menarik bagi Mikoto ketimbang ikan berwarna-warni yang berenang di dasar kolam, dan Mikoto akan melompat ke sana kemari mengikuti si kodok hijau—bahkan hingga jatuh terjungkal ke dalam kolam dan sukses membuat Totsuka serta Izumo tertawa terbahak-bahak. Atau ketika Saruhiko berteriak panik menemukan benda panjang menggeliat menjuntai dari dalam mulut Mikoto, hingga butuh satu jitakan di kepala oleh Reishi hingga Mikoto memuntahkan lagi kadal yang tengah dikulum di mulut si setan kecil itu.)
Meski dari segala hal itu, yang hampir selalu membuat jantung Reishi berdegup lebih cepat ditemani desir menghangat di dadanya itu adalah setiap kali sepasang tangan mungil yang terjulur ke arahnya, memeluknya erat, menggelayut manja di lehernya ataupun di punggungnya. Wangi bara api dan arang yang mulai akrab di indera penciumannya. Malam-malamnya yang tidak lagi seorang diri, dengan hangat tubuh dan detak jantung dalam dekapnya. Juga setiap kali Reishi memanggil nama itu, dan sepasang manik emas membulat akan menatap ke arahnya.
"Mikoto."
Dari pinggir perkebunan ulat sutra yang dijajari pohon momiji di kanan-kiri, si setan kecil mendongak, mengalihkan perhatiannya dari siluman beruang besar jinak yang tengah mengunyah daging ayam dengan lahapnya.
"Mikoto, ayo pulang."
Dan Reishi hanya butuh dua detik sebelum si setan kecil menerjang ke arahnya, mengalungkan kedua tangan di lehernya. Reishi mengulum tawanya. "Kau benar-benar setan manja. Harimu menyenangkan dengan bermain bersama Kamamoto seharian ini?"
Si setan kecil tidak menjawab, hanya memeluk Reishi erat dan menopangkan dagu di atas pundak Reishi. Reishi melangkah, menggendong Mikoto dalam pelukannya. Kakinya menggesek guguran daun momiji di atas tanah. Dan ia tidak tahu, di belakang punggungnya sepasang manik emas memancangkan pandangan pada merah daun-daun berjari ganjil tersebut. Memori yang melayang jauh, berayun tertiup angin, seolah daun momiji yang melayu, menunggu jatuhnya ke tanah.
...
.
['His' hands was warm just like morning sun.]
['His' smile as gentle as rays of twilight.]
['His' soft tones often hummed me a peaceful lullaby.]
.
"Mikoto…."
.
[Yet there was time 'he' also said something painful.]
[He said that 'he' would be the one to slay me,
that one day I would ended up being killed by 'him'.]
.
"Mikoto… ada hal yang harus kuberitahukan padamu."
"Suatu saat… kau akan mati di tanganku dengan pedangku ini."
.
[I do not understand.]
[But a glimpse on 'his' strange orbs said the contrary.]
[It was not a hostile look on 'his' feature,
yet it was a deep, full of sorrow.]
[The look… of another lonesome creature.]
.
"He—hey, Mikoto…! Sudah kukatakan berkali-kali, jangan memelukku begitu saja ketika aku sedang memegang mizutama. Kau mengerti?"
"Seandainya… kita bisa bersama lebih lama lagi, Mikoto."
.
[No matter how, I do not care.]
[Because 'he' found me. I always knew 'he' would be.]
.
...
Musim dingin berlalu. Plum putih yang berganti menjadi sakura merah jambu pucat. Reishi menengadahkan kepala, seolah tengah menikmati pemandangan indah mengawali musim semi, meski isi otaknya nyatanya tidak ada di tempat itu. Pikirannya berkelana, hingga akhir musim dingin berikutnya di mana ia akan menemukan ujung jalannya.
Satu tubuh yang kemudian menerjang padanya, memeluknya dari belakang. Kali ini, Reishi yang tidak awas nyaris jatuh dari beranda rumah besar keluarga Kushina—apabila Izumo dan Totsuka tidak berada di sampingnya untuk menarik dan menyeimbangkan tubuhnya. Reishi yang kemudian berbalik, menemukan sosok setan berelemen api di balik punggungnya. Manik emas besar yang masih memandangnya penuh ketertarikan, meski tubuh si setan yang bertambah tinggi secara signifikan… atau sebenarnya terlalu cepat di mana hanya lima bulan berlalu semenjak Reishi menemukan setan kecil itu, dan kini Mikoto tidak ada bedanya dengan pemuda berumur empat belas atau lima belas tahun.
"Mikoto… sudah berapa kali kuingatkan kau untuk tidak menubrukku seperti itu? Tubuhmu bertambah tinggi dan bertambah berat, kau bisa meremukkanku sekali peluk," keluh Reishi, meski tidak menaikkan nada bicaranya sedikit pun. Si setan muda itu hanya menunduk, raut penuh rasa bersalah. Reishi menghela napas, tangannya terjulur untuk membelai surai merah berantakan yang kini memanjang hingga pangkal leher Mikoto. "Kau sudah selesai membersihkan doujou? Kalau begitu, bisa kuminta kau panggilkan Fushimi-kun dan Yata-kun di gudang? Setelah mereka selesai merapikan gudang dan menemukan tikar, kita akan pergi melihat hanami."
Setan muda itu mengangguk, lantas setengah berlari menyusuri koridor berlantai kayu, meninggalkan bunyi derit nyaring di telinga. Reishi mendengar tawa kecil Totsuka di sebelahnya, ditambah dengus geli tertahan yang ia yakin berasal dari mulut Izumo.
"Setan kecilmu itu sudah sebesar ini hanya dalam lima bulan, ya, Munakata-san! Satu tahun lagi, mungkin ia akan sebaya denganmu… atau mungkin dengan Kusanagi-san. Baiklah, karena sebentar lagi kita berangkat, aku akan membantu Seri-san mempersiapkan bento."
"Asal kau tidak meledakkan dapur saja, Totsuka. Aku sudah lelah membuat ulang perkakas dapur hanya karena kau merusakkannya," keluh Izumo cepat-cepat, seraya melambai-lambai pada arah Totsuka yang melangkah ringan meninggalkan beranda, meninggalkan Reishi berdua saja dengan sang pemilik pedang kichi itu.
Reishi hanya tersenyum tipis mendengar celetukan Totsuka. Satu tahun lagi… apakah kedamaian ini akan abadi dan berlangsung seperti biasanya? Damai di desanya, maupun tentram dalam benaknya…. Reishi meringis. Sesuatu dalam dadanya terasa disengat ngilu.
"Munakata? Kau baik-baik saja?"
Berdeham pelan, berusaha menghilangkan rasa sakitnya, Reishi tersenyum. "Aku tidak apa-apa, Kusanagi-san. Hanya sedikit lelah karena patroli desa semalam."
"Kalau begitu, mulai hari ini dan seterusnya, kau kulepaskan dari tanggung jawabmu melakukan patroli malam, Munakata."
Tatapan Reishi yang kemudian melayang pada sepasang cokelat madu milik Izumo. Mengangkat alis, Reishi membalas penuh sangsi, "Ho? Mengapa tiba-tiba kau semurah hati ini sampai memberhentikan kewajiban yang seharusnya kupenuhi terhadap desa, Kusanagi-san?"
"Karena kondisimu, Munakata. Dan kau tidak perlu menyembunyikan apapun dariku lagi. Anna memberitahu segalanya padaku, ya, hanya padaku, sebagai kepala desa sekaligus pemimpin dari empat penjaga keluarga miko-sama. Aku tahu tentang masa depan yang harus kau hadapi bersama setan itu, tentang pilihan yang diberikan padamu, juga sisa waktumu. Tubuhmu mulai merasakannya, Munakata. Satu tubrukan tidak sengaja dari makhluk yang seumur dengan pemuda lima belas tahun tidak akan nyaris membuatmu terjatuh tanpa keseimbangan dan refleks pertahanan diri jika kau berada dalam kondisi prima, bukan?"
Reishi mendengus. Memaksakan sebentuk lengkung bibir lain pada Izumo. "Terima kasih banyak, Kusanagi-san. Dan boleh kuminta satu hal darimu?"
"Untuk tidak mengatakan hal ini pada siapapun, termasuk istriku sekalipun? Kau pegang kata-kataku, Munakata. Meski aku pun akan meminta satu, tidak, dua hal padamu. Yang pertama adalah, berjanjilah padaku bahwa kau tidak akan memaksakan dirimu. Yang kedua… beritahu aku jika waktumu telah tiba."
"… kau sungguh-sungguh tidak akan mencegahku, Kusanagi-san? Kau tidak akan mencoba melakukannya? Padahal kau tahu aku bisa saja membunuh anak itu saat ini juga, mencabut hak hidupnya sebelum waktu yang dijanjikan itu datang."
"Logikaku bisa, tapi nurani sebagai manusia tidak akan memaksamu melakukannya. Dan aku pun akan menempuh jalan yang kau pilih ini jika aku dan Seri-chan berada dalam situasi yang sama. Dan ini pilihanku, Munakata, karena aku percaya padamu."
Lidahnya yang terasa kelu. Beban di pundaknya yang terasa mencair sepersekian bagiannya. Dan tidak ada lagi kata yang sanggup Reishi katakan pada Izumo, selain sebuah anggukan dan satu ucapan rasa terima kasih.
...
.
[I saw something in my head as I fell asleep]
[Something felt so real, so far away.]
.
.
.
.
Mikoto….
.
.
.
.
[A sun. A flap of wings. A laugh of joy. A cry of pain.]
.
.
.
.
—kau akan pergi…? Kau akan melupakan—
—dua puluh—… kita akan bertemu—
—akhirnya… aku menemukanmu….
.
.
.
.
[I awoken. Trembling head into toes. While fire danced around as my lung longed for the heavy air.]
.
"Mikoto…! Mikoto, bangun! MIKOTO…!"
.
[And yet… 'he' was right beside me. Smiled at me.]
.
"Kau mimpi buruk? Hmm? Oh, jangan khawatirkan futon dan tatami-nya. Kau bermimpi buruk, kau tidak sengaja membakarnya. Aku? Aku baik-baik saja, aku tidak terbakar dan tidak terluka sama sekali, lihat? Sekarang, kau tidurlah kembali. Aku akan menjagamu di sini."
.
[Lulling my fear off. Hushing my weary down.]
.
"Kau tahu, Mikoto? Kau semakin besar, meski kelakuanmu tidak berubah semenjak kali pertama kita bertemu di hutan itu. Jika saja… jika saja kita tidak sedang meniti seutas tali hingga ke ujungnya, aku akan sangat menantikan perkembanganmu, menunggumu hingga kau dewasa sepertiku… bukan sebagai setan maupun siluman, melainkan sebagai makhluk hidup bernyawa yang sama berharganya seperti manusia…."
"… jangan pernah berubah, Mikoto. Jangan pernah… pergi…."
.
[Once again I drove into my slumber.]
[But still I wondered… what was that dream tried to tell me about?]
.
...
Musim hujan sebagai penanda datangnya musim panas. Sosok si setan muda yang kini berubah seutuhnya. Perawakan dewasa. Warna kulit menggelap. Manik emas yang tidak lagi melebar maksimal dan menatap dunia penuh rasa ingin tahu. Rambut memanjang hingga punggung (yang sanggup membuat Izumo merutuk setiap kali mengguntingnya tiga hari sekali). Sepasang tanduk yang meruncing kokoh. Tatapan ganas meski apa yang terlukis di baliknya tidak lebih dari seekor kucing jantan manja yang begitu nyaman bergumul bersama manusia.
Meski pancaran siluet biru menembus dada yang kini bidang itu tidak memudar. Pancang bilah imajiner yang semakin menampakkan warnanya. Serta nyeri di dada Reishi sendiri yang semakin tidak bisa ia tak acuhkan.
"Anak itu… Mikoto hidup dengan memakan energi kehidupanmu, Reishi. Mikoto tumbuh dan berkembang, kini telah menjadi sosok setan seutuhnya. Sementara Reishi… apa yang akan tersisa dari Reishi—"
Reishi menyentuh sisi wajah Anna, membelai sisi wajah gadis kecil itu dengan lembut. Tidak ingin mendengar lebih jauh lagi apa yang akan dikatakan Anna. "Ini jalanku, Anna. Ini pilihanku sendiri. Aku tidak akan menyesalinya, ataupun mengeluh di tengah jalan karenanya."
"Reishi… mencintai anak itu?"
Tutur kata polos Anna yang sontak membuat Reishi ingin tertawa terbahak-bahak. "Cinta? Aku tidak mengenal arti kata itu, Anna. Dan bukankah hal itu seharusnya kuberikan pada seorang anak manusia, atau pada seorang wanita, lebih tepatnya, bukan untuk sesosok setan yang tengah menunggu waktunya untuk membunuhku atau kubunuh terlebih dahulu? Kalau memang benar, cerita cinta tragis dan satir macam apa ini?"
Di luar perkiraannya, gadis kecil itu tersenyum manis, menyambut setiap usap hangat Reishi di pipi bulat itu. "Tidak perlu Reishi menjelaskannya dengan kata-kata, karena sesuatu di dalam sini," gadis itu menunjuk pada dadanya, "sudah mengerti arti perasaan itu dengan sendirinya, bukan begitu, Reishi?"
Ada hangat yang membasuh hingga ke sudut lubuk jiwanya. Hangat yang menenangkannya.
"Reishi benar-benar… tidak ingat apa-apa tentang kehidupan masa lalu?"
Ia mengernyit. Sebuah pertanyaan yang menurutnya janggal untuk ditanyakan oleh seorang pemilik kekuatan roh terbesar di Desa Wako, yang mampu melihat menembus ruang dan waktu. Reishi tersenyum dan menggeleng, sementara satu pertanyaan lain meluncur dari suara lirih gadis kecil itu.
"Reishi… tidak akan menyesal karena telah bertemu dengan Mikoto?"
Dan lengkung bibirnya yang kali ini begitu tulus. Tanpa ragu.
"Tidak akan, Anna. Karena aku tahu, aku akan selalu menemukannya."
...
Hujan deras berminggu-minggu membasahi tanah Desa Wako. Hingga pada suatu siang dengan guyuran air tanpa henti, Reishi menemukan sosok Mikoto di tengah hujan. Surai merah yang tidak lagi mencuat berantakan, kini menjuntai lembab menutupi dahi dan telinga. Kepala tengadah menatap langit, tanpa menghiraukan butiran tajam dan dingin yang menghantam wajah tirus itu. Sorot mata yang tidak bisa Reishi baca artinya, walau ada perih yang melintas setiap kali Reishi melihat kilau itu dari kedua manik Mikoto.
Dari bawah payung bambunya, menyisakan jarak beberapa langkah tidak jauh dari Mikoto, Reishi mengamati sosok itu. Mengamati setiap lekuk tubuh yang terasa begitu akrab di ingatannya, di jemarinya. Mengamati setiap ekspresi sederhana namun sebenarnya penuh makna yang bisa dilukiskan Mikoto. Mengamati pancaran biru yang begitu ingin Reishi cabut dari atas tubuh itu.
Haruskah ia membiarkan dirinya mati, menjadikan dirinya sebagai manusia pertama yang dimangsa Mikoto sebagai setan, sebagaimana selayaknya setan yang selalu memangsa manusia? Namun setelah ia mati nanti… akankah Mikoto bertahan hidup tanpanya? Akankah Mikoto menjadi setan kecil yang membakar setiap benda yang disentuhnya? Akankah warga desa tetap menerima kehadiran Mikoto dengan tangan terbuka? Akankah Izumo dan Anna mampu melanjutkan perannya untuk melatih dan mengontrol kekuatan Mikoto?
Kedua matanya mendadak terasa panas. Sesak menghimpit benaknya. Reishi tidak bisa membayangkan hal itu terjadi. Ia tidak bisa….
"Mikoto—"
Satu nyeri menusuk di dadanya. Reishi jatuh berlutut, terbatuk keras. Payungnya terselip lepas dari genggaman, mengundang ribuan titik air yang terasa sedingin es lantas menusuk kulitnya, merembes tanpa ampun menembus kain yukata-nya. Ia terbatuk lagi, sebelah tangan menakup mulutnya. Dan kepalanya yang lantas berputar ketika ia melihat bercak merah segar di telapak tangannya.
Pandangannya mengabur. Tubuhnya oleng. Namun tepat sebelum kesadarannya pergi melayang meninggalkannya, Reishi mampu merasakan sepasang tangan kekar dan aura hangat yang membungkusnya, menangkap jatuh tubuhnya dengan sempurna, mengizinkan Reishi untuk menyandarkan lelah dan segala nyeri yang membelenggunya.
...
"Bagaimana keadaan Munakata, Seri-chan?"
"Demamnya berangsur turun. Sudah satu minggu, dan mungkin aku akan mulai panik jika kondisinya tidak kunjung membaik."
"Bahkan Miwa-sama dan Yatogami-kun sebagai tabib desa pun tidak bisa berbuat banyak. Kusanagi-san, benarkah kau tidak menyembunyikan apapun tentang Munakata-san? Benarkah kau memang tidak tahu apa-apa tentang semua ini?"
"… aku akan bohong padamu dan semua yang ada di ruangan ini apabila aku menjawab bahwa aku tidak tahu apa-apa, Totsuka. Tapi ini adalah satu dari dua hal yang kujanjikan pada Munakata, jadi aku benar-benar tidak bisa mengatakannya pada kalian. Kuharap kalian mengerti, dan kuharap kalian menghargainya, bahwa apapun yang akan terjadi mulai saat ini… adalah keputusan yang telah diambil Munakata."
"Dan Mikoto-kun, sekarang ada di mana?"
"Ia ada di gudang bersama Anna. Mikoto-san mengunci dirinya sendiri di gudang setelah tiga hari yang lalu ia dimarahi Saru karena tidak sengaja membakar baskom kompres yang semula Mikoto-san siapkan untuk Munakata-san."
"Itu artinya, Munakata sudah tidak bisa lagi menyegel kekuatan Mikoto, kah?"
"… Anata? Kau barusan mengatakan sesuatu?"
"Tidak. Bukan apa-apa, Seri-chan. Terima kasih karena sudah membantuku merawatnya. Kau beristirahatlah, biar Totsuka yang menggantikanmu. Lalu kalian, Yata-chan dan Saru-chan, maaf karena aku harus meminta kalian melakukan patroli malam lagi hari ini."
"… tch, asalkan kau berhenti memanggilku dengan embel-embel menjijikan itu, Kusanagi-san."
...
.
[Far away from the forest…
I was forgotten that I was born from scorching fire.]
.
"Mikoto…?"
.
[I should have known. I should have seen.
That I could not live without burning things down,
without those vermillion surroundings.]
.
"Mikoto, ada apa? Kemarilah. Aku tidak apa-apa."
.
[And now 'he' was there, lying helplessly,
counting times he had left before death comes to take 'him' away.]
.
"… kau menghindariku, Mikoto?"
.
[No. It was not death who haunted 'him' and ready to take 'him' far away.]
.
"Mendekatlah. Genggam tanganku… lihat? Kau tidak membakarnya, bukan? Kemarilah. Rasanya sudah begitu lama aku tidak melihat wajahmu, Mikoto. Malam ini tidurlah bersamaku. Hmm… aku mungkin bisa mati beku jika malam ini aku tidak tidur dengan penghangat raksasaku ini."
.
[It was my fire.]
[It was my presence.]
[It was… me.]
.
"Mikoto, tatap aku. Kau percaya padaku bukan, Mikoto? Ini semua bukan salahmu. Aku akan baik-baik saja. Semuanya… akan baik-baik saja."
"Jangan pergi lagi, Mikoto…. Tetaplah di sini…."
.
[I was the one… who forced 'him' down onto 'his' own death.]
.
...
Pertengahan musim gugur. Reishi tahu ia tidak bisa kehilangan kesadaran sedikit pun, atau Mikoto akan kembali menjadi setan api tanpa segel darinya. Ya, semenjak pertama kali keduanya bertemu, dan Reishi tidak sadar bahwa ia tengah menukar aura kehidupannya untuk menyegel dan mengendalikan kekuatan destruktif milik Mikoto. Menukar umur dan nyawanya untuk mengajarkan Mikoto tentang cara hidup manusia. Bagaimana rasanya memiliki nurani. Untuk apa dan siapa… bahkan Reishi sudah tidak yakin apakah yang ia lakukan ini semata-mata memang untuk desa yang dicintainya, ataukah untuk Mikoto, atau melainkan untuk pembenaran dirinya sendiri.
Namun semuanya sudah terlambat. Terlambat untuk mengubah jalan takdirnya. Tidak ketika Reishi jatuh terlalu dalam untuk sosok yang baginya sehangat matahari itu.
Suatu sore, Reishi duduk di beranda rumahnya, ditemani secawan teh hijau panas mengepul tergenggam di pangkuannya, dan sebelah tangan Mikoto melingkar di pinggangnya. Ya, rumah sederhananya di pinggir desa, tidak jauh jaraknya dari air terjun. Rumah yang semula ditinggali ayah, ibu, dan kakaknya, hingga ketika Reishi berumur tujuh belas tahun dan seluruh anggota keluarganya habis dibantai oleh siluman. Rumah yang tidak pernah ia tinggali selama nyaris delapan tahun lamanya, dan ketika Reishi tahu waktunya semakin menipis, ia memutuskan untuk pindah dari rumah besar keluarga Kushina, melanjutkan sisa hidupnya berdua saja dengan sang setan api tersebut, di mana Mikoto yang lebih banyak mengerjakan porsi pekerjaan membersihkan rumah dibandingkan sang tuan rumah sendiri. Izumo dan yang lainnya hampir setiap hari bergantian mendatangi rumahnya, membawakan bahan masakan atau bento siap makan, ditambah Anna dan Misaki yang semakin hari semakin merajuk agar Reishi kembali ke rumah besar keluarga Kushina. Dan setiap gembung pipi di wajah sendu kedua orang itu hanya akan Reishi balas dengan tepukan di kepala beserta satu senyuman yang berusaha meyakinkan keduanya bahwa Reishi tidak akan kembali. Ia tidak ingin mempertaruhkan nyawa para penghuni rumah besar itu, tidak pula para penduduk desa di sekitarnya, apabila waktunya tiba dan Mikoto akan kehilangan kendali atas kekuatan besarnya.
Menyesap tehnya, Reishi merasakan rangkulan di pinggangnya mengerat. Baru saja ia akan menoleh dan menaikkan sebelah alisnya, sebelum kepala bersurai merah itu bersandar di pundaknya. Deru napas panas menggelitik lehernya. Reishi mengangkat sebelah tangannya, menggasak lembut helai-helai rambut Mikoto.
"Ada apa…? Kau kesepian? Ingin kembali ke desa? Aku bisa mengantarmu jika kau mau."
Satu gelengan kepala. Reishi menghela napas.
"Sayang sekali kau tidak bisa berbicara, Mikoto. Betapa aku ingin mendengar suaramu… perubahan suaramu dari satu tahun lalu ketika kau tidak ubahnya bocah kecil yang tidak mau diam hingga kau menjadi laki-laki gagah seperti sekarang ini. Hanya butuh satu tahun untukmu berkembang secepat ini… bahkan aku harus sampai menjahit hakama baru untukmu nyaris satu bulan sekali—"
Kata-katanya yang kemudian terputus. Napasnya yang mendadak tercekat. Reishi terbatuk beberapa kali, berkali-kali. Nyeri menusuk di dadanya. Mengundang substansi merah segar meluncur keluar dari mulutnya. Lebih banyak dari biasanya. Sementara satu tangan menarik cawan dari genggamannya, dan yang sebelah lagi menyandarkan tubuh Reishi di atas dada bidang itu. Reishi menarik napas, berusaha meredakan sakit yang seolah menjalar ke seluruh tubuhnya. Konsentrasinya yang terpusat pada nyeri yang mati-matian ditahannya, hingga Reishi tidak sadar pada jemari Mikoto yang tengah mengusap lembut bibirnya, membersihkan bercak kemerahan hingga ke sudut bibirnya.
Sontak, Reishi tengadah, menemukan sepasang emas yang menatapnya penuh rasa. Meski Reishi hanya mampu tersenyum dan membisik, "Terima kasih."
Sang jelmaan setan yang kemudian menundukkan leher, menutup jarak di antara keduanya. Awalnya Reishi terbelalak, tidak siap dengan sensasi panas yang asing tersebut. Meski jalaran rasa itu perlahan meredakan sakitnya, melegakan napasnya, mengekang kesadarannya pada tempatnya. Desahnya yang tertahan di tenggorokan. Reishi yang lantas menarik sosok itu ke arahnya, berusaha menenggelamkan diri dalam luapan kenikmatan itu.
Berusaha melupakan takdirnya. Pilihannya. Sisa waktunya. Satu kali saja, Reishi ingin tenggelam sepenuhnya dalam entitas sarat bara api tersebut.
...
"Izumo, sudah saatnya."
"Ta—tapi, Anna… bukankah ini baru dua minggu awal musim dingin?"
"Karena Reishi sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Semakin dalam Reishi jatuh, Mikoto akan semakin kuat."
"… ia sendiri sudah mengetahuinya?"
"Ya. Tubuh itu milik Reishi. Reishi yang paling mengetahuinya dibandingkan siapapun juga."
"Baiklah kalau begitu. Lokasinya di mana, Anna?"
"Di tempat mereka berdua bertemu. Reishi akan membawanya kembali ke tempat itu. Di sanalah… takdir keduanya menunggu."
"Kusanagi-san? Anna? Kalian memanggil kami? Ada apa—"
"—Yata-chan, dan kau juga, Saruhiko, bawa hiyaku dan sogokaze kalian, dan kuminta kalian berjaga di seluruh desa. Panggil bantuan Seri-chan dan Kuroh-chan bila perlu—Saru-chan, kau jangan memberikanku tampang meremehkan seperti itu… kau lupa bahwa istriku itu pelatih kendo-mu dulu?"
"Tidak, Kusanagi-san! Kami akan ikut denganmu! Kami… kami sudah diberitahu Anna apa yang terjadi di antara Munakata-san dan Mikoto-san. Kami juga akan membantu!"
"Tidak bisa, Yata-chan. Atau setidaknya, musuh yang mungkin akan kuhadapi kali ini memiliki elemen yang akan merugikan kalian. Apimu tidak bisa melawannya, Yata-chan. Dan elemen angin milik Saruhiko hanya akan membuatnya bertambah kuat."
"… Kusanagi-san, kau tidak bilang kalau ini semua merupakan skenario terburuk di mana Munakata-san harus…."
"… tidak, Saruhiko. Dugaanmu benar. Maka dari itu aku tidak bisa membawa kalian, dan kuserahkan tugas menjaga desa ini pada kalian berdua, mengerti?"
"Tunggu, Izumo, aku ikut."
"… Anna? Kau serius? Bagaimana dengan desa ini?"
"Ini adalah tugasku, Izumo. Perananku. Aku harus menyaksikannya sendiri, hingga akhir."
"Baiklah kalau begitu, kau ikut denganku, Anna. Yata-chan, Saruhiko, kutitipkan desa ini pada kalian."
"Ya. Semoga berhasil, Kusanagi-san. Dan Munakata-san… apakah ia benar-benar…."
"… berdoalah untuk pilihan yang terbaik, Yata-chan."
...
Reishi merasakan tubuhnya naik-turun berirama. Ia membuka matanya, bertanya-tanya selama apa dirinya tak sadarkan diri. Dan kengerian yang mendadak merayapi tengkuknya adalah ketika Reishi menyadari bahwa panas bara api terasa di sekelilingnya, berasal dari bawah kakinya. Reishi memfokuskan pandangannya, menemukan dirinya dibopong di punggung Mikoto, sementara kaki Mikoto membawa keduanya memasuki hutan yang selama satu tahun lebih ini telah berhasil direboisasi ulang oleh Reishi, Izumo, Saruhiko, dibantu Anna. Hutan di sisi selatan Desa Wako. Hutan tempatnya pertama kali bertemu dengan Mikoto.
Dan kini, jejak-jejak kaki Mikoto yang membakar rumput hingga batang pohon muda yang dilaluinya. Reishi terbelalak.
"Mikoto… hentikan! Kau pikir apa yang kau lakukan! Turunkan aku! Mikoto…!"
Namun setan itu tidak menjawab. Alih-alih langkah kaki Mikoto yang semakin melebar. Reishi tidak mampu berontak, bahkan ia kehabisan tenaga hanya untuk menahan rasa mualnya akibat gerakan kasar dan tidak sabar dari tubuh yang ditumpanginya. Dan Reishi hanya memejamkan mata, berusaha menulikan kedua telinganya dari derak kobar api yang mengikutinya dari belakang. Betapa gambaran hutan terbakar itu begitu jelas terpatri di otaknya. Rasa panas yang semakin menghantui hingga ke sela-sela yukata-nya. Keringatnya mulai mengucur. Kepalanya terasa pening. Napasnya memberat.
"… ke mana kau akan membawaku, Mikoto…?"
Tidak butuh waktu lama hingga Reishi mendapatkan jawabannya. Reishi nyaris tidak mengenali lagi tempat itu, tidak ketika tempat di mana Mikoto menurunkannya kini menjadi lahan berumput yang dikelilingi tunas-tunas dan batang-batang pohon baru yang ramping. Tempat yang satu setengah tahun lalu hanya berisi tumpukan gelondong kayu-kayu hitam meranggas. Tempatnya bertemu dengan Mikoto untuk pertama kali. Dan kini, tempat itu mulai terbakar. Dinding api menyapu sekelilingnya, seolah membentang tembok yang memenjarakan Reishi dan Mikoto di sana.
Reishi terduduk lemah, berusaha menegakkan tubuhnya. Tampaknya kekuatan roh milik Reishi yang tersisa hanya sanggup untuk membuat dirinya sendiri bertahan dari kobaran api Mikoto.
"Mikoto, mengapa…."
Belum sempat Reishi menyelesaikan kalimatnya, Mikoto lantas berjongkok di hadapannya. Tangan setan itu yang menjatuhkan satu benda di depan Reishi. Pedang mizutama. Dan ketika Reishi menatap tidak percaya pada sepasang emas milik Mikoto, yang ia temukan hanyalah tatapan Mikoto terpancang padanya, penuh keyakinan.
"Tidak, Mikoto. Aku tidak bisa—"
Namun setan itu bersikeras. Sosok itu yang kemudian menarik keluar mizutama, lalu menggenggamkannya ke tangan Reishi. Mikoto mengangguk, tanpa gentar sedikit pun dalam kilat emas itu. Kentara berusaha meyakinkan Reishi sepenuhnya. Meski satu bulir perak nyatanya mengalir turun membasahi pipinya. Reishi menggeleng. Menunduk. Tangannya yang bergetar memegang gagang mizutama.
.
[Please, do not cry.]
[Please, do not give me that look.]
.
"Jangan, Mikoto. Kumohon… jangan paksa aku melakukan hal ini…."
Sayangnya, satu setengah tahun hidup bersama tidak membuat Reishi lantas mengerti arti dari setiap gestur yang ditunjukkan setan itu. Dalam satu gerakan tangan memutar cepat, tanpa sempat Reishi sadari sepenuhnya, Mikoto memandu tangan Reishi, menggenggamnya erat untuk kemudian menghunuskan mizutama ke dadanya sendiri.
.
[Do not fear of my misery. Do not fear for my pain.]
.
Sang jelmaan setan meraung. Reishi memekik. Pegangan tangannya yang sontak menarik mizutama dari rongga dada Mikoto dan melemparkan pedang itu jauh dari jangkauan keduanya. Kobar api yang kemudian mengganas di sekelilingnya. Namun Reishi tidak lagi merasakan panas di sekitarnya. Pandangannya yang mengabur hanya melihat sosok itu menggelepar di atas tanah. Lidah api yang menjilat-jilat dari tubuh Mikoto. Reishi tidak bisa memikirkan hal lain, selain menubrukkan dirinya di atas sosok itu. Mulutnya merapel mantra di tengah sesak yang mengikatnya. Api di atas kulit Mikoto yang berangsur memadam. Tubuh Mikoto yang berhenti mengejang. Meski tatapan ngeri kini tersirat dari sepasang bola mata emas itu.
"Jangan takut… Mikoto…. Kalaupun kau harus mati setelah tertusuk mizutama, biarkan aku menghilangkan sakitnya untukmu…."
.
[Please just stay away… do not get any closer.]
[Please… just kill me. I do not want 'you' to get hurt.]
.
Setan itu berusaha berontak, berusaha menjatuhkan tubuh Reishi, namun Reishi menggunakan sisa-sisa energinya untuk menahan Mikoto. Sakit di dadanya yang semakin tidak tertahan, tenaganya yang semakin cepat terhisap keluar dari tubuhnya. Reishi merosot ke samping, jatuh lunglai dari tubuh Mikoto. Kesadarannya yang hilang-timbul bersamaan dengan kedua pelupuknya yang terasa memberat. Dan tanpa Reishi ketahui, Mikoto berguling di sisinya, bertumpu pada kedua tangan, menaungi Reishi.
Seulas senyum di bibir Reishi. Ia membuka mulut, hanya untuk menghujani bibir dan dagunya dengan darahnya sendiri. Reishi mengangkat tangan, perlahan menyusuri torehan di dada Mikoto—dan setan itu yang ikut memuntahkan substansi merah kehitaman ketika Reishi menyentuh luka itu—hingga telapaknya menangkap sisi wajah tirus Mikoto. Dua sorot mata yang saling beradu. Ada genangan di mata emas yang baginya teramat indah itu. Genangan yang mungkin sama dengan yang mengaburkan pandangannya.
.
[Please… do not leave just yet.
I want 'you' to live.
I want 'you' to be happy.]
.
"… Rei… shi…."
Suara serak dan rendah. Memanggil namanya. Menggetarkan sesuatu dalam benaknya. Menenggelamkannya dalam kedamaian.
.
[Please… I love 'you'….]
.
"Rei… shi…."
Perlahan, Reishi menutup matanya. Menghembuskan napas penghabisannya. Membiarkan tangannya jatuh lunglai ke atas tanah. Menggenapi takdir dari pilihan yang Reishi tahu tidak akan pernah disesalinya.
...
Izumo memacu langkah, berkali-kali merapel mantra dan mengibaskan pedang kichi miliknya, mengguncang dan mengangkat batuan-batuan dari dalam tanah untuk membantunya memadamkan api. Sementara Anna di belakangnya, menggunakan mantra air untuk menghalau kobar api yang menjilat ke arah keduanya.
Izumo tahu tujuannya. Gaung erangan berat mengerikan dari tengah hutan. Jantungnya berdegup kencang. Isi kepalanya tidak bisa membayangkan pemandangan apa yang menunggunya di sana.
Meski pada kenyataannya, baik Izumo maupun Anna terpaku ketika mereka menemukan sosok sang setan api. Tubuh yang dibalut api merah marun indah, lidah api yang membumbung hingga langit. Percik-percik api yang memudar layaknya kunang-kunang merah beterbangan tertiup angin. Dan keduanya dapat melihat, sosok itu tengah meraung pada langit sembari memeluk tubuh melunglai tak bernyawa, seolah tidak mempedulikan tubuhnya sendiri yang berangsur terbakar menjadi abu.
"Reishi… Mikoto…."
Sosok itu menoleh. Manik emas menyirat kekosongan yang hanya sesaat menatap bergantian pada Anna dan Izumo. Wajah itu kemudian menunduk. Kobaran api yang berpusar cepat membentuk tornado menjulang, menghempas api-api kecil di sekelilingnya, membawanya berputar dan melesat ke angkasa. Hilang menjadi abu. Meninggalkan hutan yang kembali meranggas.
"Sudah selesai."
Izumo menoleh pada Anna. Tidak yakin dengan apa yang dirasakan tubuhnya sendiri. Lelah menyergap yang terasa begitu menguras energinya. Dihantui kehilangan yang teramat sangat.
"Anna…."
Meski satu senyum lega, diiringi tetes perak dari rubi merah milik Anna, dan Izumo tahu seumur hidup ia tidak akan bisa melupakan imaji tentram namun menyayat tersebut.
"Karma mereka kali ini, sudah selesai."
.
'Dan sampai bertemu lagi di kehidupan selanjutnya, Reishi, Mikoto….'
...
.
.
.
Afterwords.
Sekian dari author kali ini. Jika ada yang penasaran mengenai entah puisi entah prosa bahasa Inggris yang nyempil dan setiap kata ganti 'he' pasti pakai kutip... salahkan otak author yang sebenarnya menulis entah-puisi-entah-prosa ini dalam bahasa Jepang terlebih dahulu, baru mengalihbahasakan ke dalam bahasa Inggris. Yap, kalau pakai bahasa Jepang-nya, 'he' ini menjadi 'ano mono' yang jika diterjemahkan langsung akan menjadi 'that thing'. Karena dirasa tidak sesuai pada tempatnya, akhirnya author mengganti dengan 'he' *dilindes karena seenaknya*.
Yap, terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca (untuk guest MikoRei, request-nya masuk waiting list dulu yaaaa xp tapi tenang aja, author memang bakal memasukkan cerita dengan tema highschool AU kok, jadi ditunggu aja yaaa :D), dan sampai ketemu di chapter berikutnya~!
