.
.
.
Previous Chapter :
Shit, geram Chanyeol dalam hati. Ia mencoba berpikir, mencari kemungkinan empat angka apa yang digunakan Baekhyun untuk mengunci iPhone-nya. Tanggal lahir Baekhyun? Ouch, ternyata bukan. Gabungan nomor absennya dengan Baekhyun? Hmm, bukan juga—dia memang kegeeran. Mungkin tanggal lahirnya dirinya? Pfft, percaya diri sekali—eh, tunggu. Berhasil. Terbuka. Jadi—?
Wow.
Tiba-tiba saja dia ingin berteriak kegirangan. Eh.
.
.
.
Chapter 5
.
.
"Baekhyun benar-benar naksir denganku, heh?" Chanyeol terkikik mendengar gumamannya sendiri. Mengulum senyum dengan mati-matian, ia mulai menjelajahi iPhone Baekhyun. Tapi, hey, Baekhyun memiliki banyak social media dan dia tidak mungkin membukanya satu persatu. Jadi ia memilih membuka notif, tapi isinya... tentang SNSD. Hanya SNSD.
Merasa tak ada yang menarik, ia membuka galeri. Dan, astaga, isinya sampai tiga ribu foto? Ya Tuhan, melihat jumlahnya saja sudah membuatnya nyaris memutar bola matanya malas dan hampir menekan tombol tengah di sisi bawah iPhone yang akan membawanya pada menu awal, karena di bagian atas-atas galeri banyak sekali foto selfie Baekhyun. Tapi, hampir. Hampir menutup galeri kalau saja ia tidak menemukan sebuah folder foto tanpa nama.
Penasaran, Chanyeol membuka folder tersebut, dan sukses membuatnya membuka matanya lebar, seolah matanya akan segera terlepas dari tempatnya. Tubuhnya membeku, nyaris menjerit kegirangan entah kenapa melihat isi folder itu. Ia pikir semua yang Baekhyun rasakan itu sekedar cinta monyet yang akan terlupakan nantinya. Tapi ini... sepertinya berbeda.
Ya. Berbeda. Lihat saja foto-foto di dalam folder itu. Semuanya, tanpa terkecuali, foto dengan objek dirinya. Chanyeol bersumpah ia tidak pernah merasa sebahagia ini. Banyak macam pose dirinya, yang diambil tanpa ia ketahui, dan yang jelas itu pasti difoto oleh Baekhyun. Candid. Ia yang sedang tersenyum, ia yang sedang memperhatikan pelajaran, ia yang sedang tertawa, ia yang sedang mengerucutkan bibirnya, ia yang melengkungkan bibirnya ke bawah, ia yang sedang makan, ia yang sedang membaca buku, ia yang sedang bermain ponsel, ia yang sedang membuang sampah, ia yang sedang minum, ia yang sedang membetulkan tali sepatu, ia yang sedang menggendong tas, ia yang sedang memutar pensil di tangannya, ia yang—
Banyak lagi.
Tangan Chanyeol bahkan bergetar tanpa alasan. Mungkin terlalu terkejut. Hingga akhirnya ia mengembalikan iPhone tersebut dalam menu awal, lalu menguncinya dan menaruhnya kembali ke tempat semula. Tepat saat itu, Baekhyun menggeliat lalu melenguh pelan, kemudian matanya terbuka pelan-pelan. Ia mengerjapkan matanya sekali, dua kali, tiga kali, dan pada kerjapan yang ketujuh ia sukses menjerit.
"ASTAGA MIMPI APA AKU SAMPAI BERTEMU TIANG LISTRIK BERMUKA—oh, hai Chanyeol!" Baekhyun langsung tenang begitu mendadak hiperbolis. Chanyeol menganga melihat reaksi Baekhyun yang, ewh, tapi kemudian ia tersenyum kecil. "Hei, Baekhyun, berniat untuk membuka pesan dariku?"
Sambil mengerutkan kening bingung—sepertinya dia masih lupa apa yang sedang terjadi, ia membuka iPhone-nya, lalu menggerakkan jarinya lincah di atas layar iPhone-nya. Membuka bagian pesan, lalu membuka chat Chanyeol yang berada di nomer ketiga, dan ia membeku di tempat. Langsung begitu saja, semua hal-hal yang tadi ia lupakan kini mengalir begitu deras di dalam otaknya. Sampai-sampai otaknya berdenyut seketika.
Besan, keluarga Park, appa, eomma, sekolah, beasiswa...
Lalu seperti pesan dari Chanyeol—
'Kita dijodohkan.'
Baru saja Baekhyun ingin membuka mulutnya, ketukan dari pintu kamarnya terdengar. "Baekhyun sayang, Chanyeol, ayo turun. Makan malam dulu."
"Ne, eomma"
"Ne, eommonim."
Setelah menjawab panggilan dari eomma Baekhyun dengan hampir bebarengan, Baekhyun mulai bangkit dari ranjangnya, meninggalkan kasurnya yang berantakan karena habis ditiduri. Dengan hening, Chanyeol mengekor di belakang. Sampai tidak tahu bagaimana, tanpa kesadaran, tangan kanan Chanyeol terulur untuk menggandeng tangan kiri Baekhyun yang terjuntai di sampingnya. Chanyeol tahu Baekhyun menoleh kaget ke arahnya dengan mata yang membulat sempurna, tapi bahkan ia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Ia ingin melepaskan tangannya, tapi yang terjadi justru Chanyeol yang mengabaikan tatapan terkejut Baekhyun, dan melangkah mendahului Baekhyun sambil menarik lembut tangan Baekhyun yang berada di dalam genggamannya.
Benar. Chanyeol pikir, ia sudah gila.
Mereka melangkah bersama menuruni tangga. Dan dari tangga itu, mereka berdua sama-sama melihat kedua orang tua itu sudah menunggu di ruang makan. Semuanya menyambut Baekhyun dan Chanyeol dengan senyuman manis, tapi tidak lama karena sebuah suara yang terdengar. "Wah wah wah, lihat tangan Chanyeol. Bahkan sudah berani menggandeng Baekhyun, aw! Mereka benar-benar serasi."
Sumpah, Chanyeol tidak menyangka, Tuan Byun bisa mengatakan hal seperti itu. Chanyeol saja tidak percaya, apalagi Baekhyun yang sudah sejak jaman bayi sampai sebesar ini tinggal serumah dengannya. Appa-nya memang berlebihan, tapi Baekhyun baru kali ini mengetahui appa-nya benar-benar sudah diambang, uhm, kegilaan.
Tidak ada yang menyadari, Chanyeol bahkan tidak berniat sedikitpun untuk melepaskan gandengan tangannya. Justru yang ada malah Chanyeol yang kembali menarik lembut Baekhyun untuk duduk di dua kursi tersisa—dan entah kebetulan atau tidak itu bersebelahan. Baekhyun sendiri hanya menurut, tidak berniat memprotes sedikitpun.
Tema makan malam itu adalah steak dan spaghetti. Minumannya adalah milkshake dengan berbagai rasa. Chanyeol mengambil steak tanpa sadar diri jika ia tidak cocok dengan daging, dan milkshake chocolate lebih dahulu, dan setelah itu Baekhyun memilih spaghetti dengan sedikit ragu, lalu tentu saja milkshake strawberry. Untuk Tuan dan Nyonya Byun serta Tuan dan Nyonya Park, tidak ada yang peduli mereka mengambil menu apa. Chanyeol dan Baekhyun bahkan tidak tahu, siapa yang memulai, sampai pada akhirnya mereka saling menyuapi—astaga.
Yang terjadi akhirnya adalah perut Chanyeol penuh dengan spaghetti, dan perut Baekhyun penuh dengan steak. Mereka berdua benar-benar seperti dalam dunianya sendiri, padahal status mereka saja masih buram. Mereka bahkan tidak menyadari—benar-benar tidak menyadari—Tuan dan Nyonya Byun juga Park, menatap kelakuan Baekhyun dan Chanyeol dengan mulut menganga dan mata yang terbuka lebar. Ini lebih dari sekedar mengejutkan.
Baekhyun menunduk tanpa harus tahu akan berbuat apa, sedangkan Chanyeol merenung di tempat. Aku benar-benar tidak tahu apa yang salah denganku. Bahkan Chanyeol tidak sadar jika insiden suap-menyuapi itu dimulai oleh dirinya sendiri. "Baek, kau mau coba steak?"
Sudah sejelas itu, Chanyeol. Kau masih mau mengelak lagi atas perasaanmu?
Chanyeol merasa tertampar dalam mental.
.
.
.
Baekhyun menggeliat, lalu membuka matanya perlahan. Ia mengerjap-kerjapkan matanya berkali-kali untuk menyesuaikan cahaya lampu kamar yang masuk ke retina-nya. Tapi kemudian ia terlonjak, sangat terkejut mendapati suatu tiang listrik mempunyai wajah mampir di kamarnya—oh, baiklah, ia benar-benar baru menyadari kalau itu Chanyeol. Rasanya seperti dadanya menghangat begitu melihat wajah crush-mu ketika bangun tidur. Bagaimana rasanya jika ia mendapati wajah Chanyeol setiap ia bangun tidur?
Berhenti ngelantur, Byun Baek.
Chanyeol menanggapinya dengan sebuah senyuman, dan setelah itu ia membuka mulutnya. "Hei, Baekhyun, berniat untuk membuka bbm dariku?" Eh? Memang ada apa? Sungguh, pikirannya saat ini seperti berkabut, blur. Tidak bisa mengingat apa yang terjadi, mungkin efek bangun tidur. Tapi kemudian ia memilih untuk menyambar iPhone yang tergeletak manis di sampingnya, segera membuka aplikasi bbm dan membuka chat Chanyeol.
Ia merasakan kepalanya berdenyut-denyut sakit. Semuanya nampak jelas begitu saja. Ia ingat segalanya sekarang. Mulai dari besan, keluarga Park, sekolah, beasiswa... tapi bukan di sana permasalahannya. Itu bukan apa-apa, meskipun itu prioritas utama alasan dari Baekhyun melakukan hal ini. Ya, masalahnya hanyalah; dijodohkan.
Seperti yang Chanyeol bilang dalam pesannya. 'Kita dijodohkan.'
Ia mencoba bersiap mendengar segala penolakan dari Chanyeol. Tapi berpikir bahwa ia tak cukup kuat untuk mendengarnya, maka Baekhyun berinisiatif untuk mengelak. Baru saja ia membuka mulut dan hendak berbicara, namun sebuah ketukan pintu dan panggilan untuk makan malam dari eomma-nya mendahului. Mereka menjawab hampir bebarengan.
Setelah itu Baekhyun memilih bangkit, hendak keluar kamar dan menyusul ke ruang makan. Ia menyadari Chanyeol mengekorinya dari belakang, tapi ia tidak menyangka bahwa Chanyeol menarik tangan kirinya ke dalam sebuah genggaman. Baekhyun bahkan tidak menyangka bahwa genggamannya terasa sangat pas. Entah dirinya yang berlebihan karena digandeng oleh crush-nya, atau memang itulah kenyataannya. Jari lentiknya—ia benar-benar jengah dengan dirinya yang memiliki sisi perempuan pfft—memenuhi ruas-ruas jari Chanyeol, telapak tangan mereka bersatu, menempel manis. Ini benar-benar pas, dan Baekhyun berpikir tak ada yang lebih membahagiakan dari ini—
—sampai sebuah kenyataan pahit menubruknya. Ya, ini menyenangkan. Ya, ini memabukkan, membahagiakan, menggembirakan, mengharukan, apapun. Salah satu hal yang ia impikan. Terjadi begitu saja, bahkan Chanyeol yang memulai. Semua tampak indah kalau saja ia lupa; Chanyeol telah mempunyai Luhan.
Di ruang makan sudah terdapat orang tuanya dan juga orang tua Park Chanyeol. Ia melirik ke arah meja makan, dan mendapati banyak menu di sana. Tapi ia hanya fokus dengan steak dan juga milkshake strawberry—menu favoritnya ngomong-ngomong—dan membuatnya hampir melangkah menerjang meja makan kalau saja tidak ada sebuah suara menginterupsi. ""Wah wah wah, lihat tangan Chanyeol. Bahkan sudah berani menggandeng Baekhyun, aw! Mereka benar-benar serasi."
Ugh, dammit. Kalau saja itu bukan appa-nya, mungkin ia sudah mencekiknya sampai mati saking malunya. Lagipula, sejak kapan appa-nya bisa mengatakan hal semacam itu, cih. Lalu, ini pula—ia melirik tangannya yang masih digenggam Chanyeol. SUDAH TAHU DISINDIR KENAPA MASIH DIGENGGAM JUGAAA?
Sumpah, siapapun yang mau membunuh Baekhyun, tolong lakukan sekarang juga. Ia benar-benar merasa ingin menghantamkan kepalanya ke dinding terdekat. Demi Tuhan, ia dikelilingi orang idiot—tolong berkaca Byun. Jangan sampai wajahnya memerah sialan seperti gadis, ck. Dan Chanyeol, kini lagi-lagi menariknya untuk duduk di dua kursi tersisa yang sialnya—atau untungnya? —bersebelahan.
Baekhyun hendak mengambil sepiring steak yang ada, tapi Chanyeol malah mengambilnya lebih dulu. Sebenarnya tidak masalah, toh masih ada sepiring steak lainnya. Meskipun ia juga heran sendiri karena ia tahu pasti, Chanyeol tidak cocok dengan daging. Tapi ia juga terlalu malas untuk mengurusi hal bodoh semacam itu. Dan yang seharusnya, Baekhyun hendak mengambil sepiring steak lainnya, tapi entah ada kecelakaan apa di otaknya sampai-sampai yang ia ambil justru sepiring spaghetti.
Merasa hampir gila, Baekhyun hampir menyumpit spaghetti-nya dan memilih makan seadanya sampai sebuah suara menahan pergerakannya. Sukses membuatnya membeku, tak menyangka yang seperti ini akan terjadi. Seorang Park Chanyeol yang tersenyum lembut ke arahnya dengan sodoran garpu yang terdapat potongan daging steak di sana. "Baek, kau mau coba steak?"
Ajakan untuk saling menyuapi?
Bahkan Baekhyun lupa bagaimana ia membalasnya. Yang terjadi selanjutnya justru Baekhyun yang juga menyodorkan sumpitan spaghetti ke arah Chanyeol, dan yeah, mereka saling menyuapi. Baekhyun tidak tahu harus berkata apa, sementara jantungnya sudah berdegup tak karuan. Di satu sisi merasa bahagia, di satu sisi juga kecewa merasa dipermainkan. Chanyeol selalu, SELALU menunjukkan sikap seolah-olah ia juga menyukai Baekhyun, melakukan apapun untuk Baekhyun dan membuat Baekhyun merasa berharap, berlaku solah-olah ia diciptakan untuk Baekhyun. Yang kadang membuat Baekhyun melupakan satu fakta jika Chanyeol mempunyai namjachingu-nya sendiri, Luhan.
Maksudnya, untuk apa berlaku semanis itu kalau sudah jelas-jelas ia mempunyai kekasih? Atau sengajakah membuat Baekhyun merasa berharap, lalu kemudian akan dijatuhkan dengan seenak jidatnya dan membuatnya patah hati? Ingin membunuh Baekhyun secara mental? Tapi yang lebih Baekhyun benci itu, sudah tahu jika Chanyeol nampak tidak akan menyukainya, seharusnya ia juga tidak boleh berharap, tapi kenapa ia juga tidak kuasa untuk sekedar menolak segala sikap manis Chanyeol? Kenapa ia seolah-olah mengikuti jalan cerita Chanyeol?
Baekhyun memikirkan hal itu sampai ia tidak sadar bahwa makanan mereka sudah sama-sama habis dan baru tersadar saat ia tiba-tiba sudah sampai di kamarnya. Bersama Chanyeol. Tidak sadar bahwa ia sendiri yang meminta ijin untuk kembali ke kamar. Kalau Chanyeol, ya hanya mengikuti. Tapi Baekhyun mencoba merilekskan diri dan bermasa bodoh.
.
.
.
Setelah mendapat ijin, Baekhyun dan Chanyeol kini menaiki tangga bersama—kali ini tidak bergandengan—dengan pikiran masing-masing. Baekhyun berpikir bahwa ini tidak disangka dan sangat mengejutkan, Chanyeol berpikir apa mungkin sudah waktunya untuk menerima seorang Byun Baekhyun sebagai namja pendamping hidupnya.
Baekhyun masuk kamar setelah Chanyeol, jadi ia yang menutup pintunya. Begitu berbalik, ia mendapati Chanyeol yang seenak jidatnya meniduri kasur berukuran king size-nya. Ia dapat melihat Chanyeol dengan posisi berbaring menelungkup, mulai merogoh sakunya dan mengeluarkan Galaxy S5 miliknya lalu berselancar ke dunia maya dengan ponselnya itu. Baekhyun mendengus. "Seenak jidatmu saja kau, tuan muda, meniduri ranjangku."
Ia melangkah mendekati ranjang dan membaringkan dirinya di samping Chanyeol. Sekilas ia melirik jam dinding yang berada di atas televisi, tepat di hadapan ranjang Baekhyun. Pukul setengah sembilan malam. Wow, sudah malam juga ternyata. Ia melirik Chanyeol, dan secara kebetulan Chanyeol juga sedang melirik ke arahnya. "Sesukaku saja ingin berbaring di ranjangmu atau tidak. Toh kenyataannya kau berada di bawah kendaliku."
"Kau tahu, Yeol?" Gumam Baekhyun, lalu mengambil iPhone-nya dan memilih memainkan game yang ada di iPhone miliknya. Alih-alih bermain, itu semua justru berfungsi untuk menutupi kegundahannya. "Aku bisa menolak perjodohan itu kalau kau mau. Aku akan berpacaran dengan seluruh buku pelajaran dan gadget milikku, sedangkan kau bisa kembali bermesra-mesraan bersama Luhan seperti tadi."
Seketika suasana hening. Baekhyun mencoba melirik untuk mengetahui apa Chanyeol masih di sana atau tidak, dan tatapannya lagi-lagi bertemu dengan mata Chanyeol yang kini sudah sepenuhnya menatap dirinya, meskipun masih berbaring terbalik. Galaxy S5-nya sudah berada di dekat bantal, kini tak tersentuh sama sekali. "Byun Baekhyun."
Perasaan Baekhyun saja atau Chanyeol yang memang tidak suka jika ia mengungkit-ungkit sesuatu tentang Luhan. Nada bicaranya bahkan juga mendingin, dan Baekhyun tiba-tiba bergidik sendiri. "Dengar. Aku mungkin tidak pernah berkata iya untuk menyetujui perjodohan ini, tapi aku sama sekali tidak berminat untuk menjawab tidak. Jangan bawa-bawa nama orang lain."
"Tapi—" Baekhyun mengerutkan keningnya, bingung. "—Luhan memang—"
"—pacarku?" Potong Chanyeol, sarat akan geram. Baekhyun mengangguk lamat-lamat. Chanyeol menghela nafas. Bagaimana bisa Baekhyun percaya rumor itu... tapi, ah sudahlah. Biarkan saja Baekhyun berpikir dengan presepsi-nya itu. Daripada membahas rumornya, ia lebih senang untuk mengerjai Baekhyun. "Hei, Baekhyun-ah."
Baekhyun menoleh, dan Chanyeol juga menoleh. Jarak mereka sangat dekat, sampai-sampai masing-masing dari mereka dapat merasakan deru nafas lawan tatapannya. Dengan seringai, Chanyeol mendekatkan wajahnya ke arah wajah Baekhyun. Diam-diam mengulum senyum melihat Baekhyun yang gugup setengah mati itu. Dan Baekhyun semakin shock karena, ayolah, bagaimana dengan secepat itu, mood Chanyeol bisa berubah? "Aku senang melihat wajah-wajahku tinggal di dalam galerimu."
Ucapan Chanyeol membuat Baekhyun terdiam untuk beberapa saat. Chanyeol tidak mencoba untuk menyadarkan Baekhyun, dan malah mulai memejamkan matanya sambil memeluk guling milik Baekhyun. Diam-diam masih merasa ngantuk karena efek kelelahan. Tapi matanya tidak terpejam lama, karena Baekhyun sudah bertindak lebih dahulu. "PARK CHANYEOL SIALAN, KAU MEMBAJAK PONSELKU, HAH?!"
Perang lempar bantal-guling-selimut itu-pun tidak dapat terhindari. Ketika Chanyeol hendak menghindar setelah berhasil membuka matanya lagi, sebuah bantal sudah lebih dulu menghantamnya keras, bertubi-tubi sampai ia menggelundung jatuh ke lantai. Merasa kesal, ia juga membalas lemparan Baekhyun menggunakan guling yang tadi masih di dalam pelukannya. "HEY, KENAPA MELEMPARKU, HAH?"
Mereka tidak peduli jika suara teriakan itu terdengar hingga penjuru rumah. Padahal mereka sebenarnya tidak perlu teriak karena jarak mereka juga tidak jauh-jauh. Chanyeol menyalahkan itu atas Baekhyun karena Baekhyun yang pertama kali berteriak. Ngomong-ngomong Baekhyun, ia makin gencar melempari Chanyeol dengan atribut tempat tidurnya itu. "BAGAIMANA BISA KAU MEMBUKA PASSWORD-NYA! LANCANG JUGA KAU, DASAR!"
"SALAHMU SENDIRI MENGGUNAKAN TANGGAL ULANG TAHUN-KU SEBAGAI PASSWORD IPHONE-MU!" Tangan Baekhyun yang tadi hendak melempar Chanyeol lagi dengan bantal, kini terhenti begitu saja. Melayang di udara. Kemudian ia menjatuhkan tangannya yang memegang bantal itu dengan lemah, melenguh pasrah. Baiklah, itu juga salahnya yang menggunakan password seperti itu. Mungkin ia yang terlalu terobsesi dengan Chan—stop, itu terdengar seperti Baekhyun itu yeoja-yeoja menggelikan. Padahal dia kan namja.
Mau bagaimana lagi, semuanya sudah ketahuan. Galerinya, password iPhone-nya, lalu apalagi? Hhh... Baekhyun tidak pernah mempunyai pikiran untuk memberi tahu Chanyeol atas segala perasaannya—ia sudah bertekad ketika menyadari perasaannya pada Chanyeol. Namun semua itu dirusak begitu saja, dibocorkan begitu saja dengan sangat-sangat memalukan oleh sesuatu yang disebut ketidaksengajaan. Dan lebih sialnya lagi, ketidaksengajaan itu bersumber sendiri darinya. Grr, Baekhyun merasa urat malunya terputus tiba-tiba.
"Baiklah, lupakan saja tentang yang tadi itu—"
.
.
.
TBC
.
.
.
...tbc-nya nggak pas banget duh...
HELLOOO SEMUANYAHH
Saya balik lagi buat update cerita inih hoho.
Bentar lagiiiiiii udah endddd kekeke.
Jangan paksa saya buat manjangin cerita ini, otak saya ga kuat-_-
Gimana nih chap yang ini? Jelek banget ya ga sih-,-
Makin absurdddd *tendang*
Hmm, tapi tetep saya menanti review dari kalian semua yaa hehe.
Oh ya, BETEWE BETEWE, saya nge-publish fanfic chaptered baru (dan yakin aja ga panjang-panjang amat), judulnya '有一个地方 There Is a Place'. Romance humor kok genre-nya, tenang aja-_- Meskipun judulnya keliatan kayak fanfic mellow lol. Saya ga sanggup bikin yang sedih-sedih (buat saat ini), dan itu pairingnya ChanBaek~~~
Yang berminat, baca sama kasih review di fanfic itu ya hehehe. Makin bagus lagi kalo kasih fav/follow-nya wkwk. *PROMOSI*
Dan buat yang chap iniiiii,
WANNA GIVE ME REVIEW?
.
.
Thank you for reviews, sorry I can't answer it now. (because my signal.. pfft.)
Kim Bo Mi ; ; hunniehan ; Nenehcabill ; sogogirl94 ; ; Sniaanggrn ; Shouda Shikaku ; jongindo ; septhaca ; Syifa Nurqolbiah ; ChanBaekLuv ; rachel suliss ; ; KaiSooCouple ; Guest ; ShinJiWoo920202 ; aireyer ; park sehan ; chanbaeg ; nur991fah ; chanchanhwang ; BaekXoLove614 ; Babies BYUN ; Jung Ri Young ; aquariusbaby06
.
.
Oh ya, ngomong-ngomong ada dua pertanyaan yang sempet saya inget dari semua reviewer di atas/?
Q : Jadi password iPhone 5s-nya Baekhyun itu tanggal lahirnya Chanyeol ya?
A : Saya ga nyangka masih ada yang gangerti wkwk *digampar* jadi jawabannya, iya, passwordnya Baekhyun itu tanggal lahirnya Chanyeol :)
Q : Author namanya siapa? Umurnya berapa? Mian tanya-tanya, daripada manggil 'author'
A : Sebenernya sih saya fine fine aja ya dipanggil 'author' hehe, soalnya kalo misalnya pake nama saya, ntar takutnya ada temen saya yang mergokin kalo saya bisa bikin fanfic/? Tapi daripada ga dijawab, kasihan, yaaa saya jawab aja ya. Tapi ga sesuai real-nya nanti, wkwk. Nama sih, panggil aja Miho (nama Jepang saya loh /gaadayangtanya). Umur...intinya masih belasan lah. Kalo saya sebut umurnya ntar saya didamprat lagi gegara masih muda udah nggak-nggak aja (APAINI /slapped)
Gitu aja sih ya hehe._.
.
.
.
.
.
.
.
xoxo,
baekfrappe.
