.

.

Previous Chapter :
Mau bagaimana lagi, semuanya sudah ketahuan. Galerinya, password iPhone-nya, lalu apalagi? Hhh... Baekhyun tidak pernah mempunyai pikiran untuk memberi tahu Chanyeol atas segala perasaannya—ia sudah bertekad ketika menyadari perasaannya pada Chanyeol. Namun semua itu dirusak begitu saja, dibocorkan begitu saja dengan sangat-sangat memalukan oleh sesuatu yang disebut ketidaksengajaan. Dan lebih sialnya lagi, ketidaksengajaan itu bersumber sendiri darinya. Grr, Baekhyun merasa urat malunya terputus tiba-tiba.

"Baiklah, lupakan saja tentang yang tadi itu—"

.

.

.

Chapter 6

.

.

"—apa? Kau meminta aku melupakannya begitu saja setelah sudah sejelas ini? Hey, tidak bisa begitu! Kau pikir ini semua main-main—" Chanyeol menghela nafas, tiba-tiba lelah sendiri dengan hanya memikirkan apa yang terjadi. Baekhyun sendiri, menundukkan kepalanya. Melangkah terseok ke ranjangnya dan membaringkan tubuhnya di sana sambil menyambar iPhone-nya, setelah kembali berucap. "Sudahlah, Yeol. Hentikan."

Chanyeol memilih menyerah, lalu ikut membaringkan dirinya di samping Baekhyun lagi. Matanya mulai terpejam perlahan, karena efek mengantuk dan lelah. Ya tentu saja karena ini sudah menunjukkan pukul setengah satu malam. Baekhyun masih asyik membalas notif-notif di ponselnya sampai ia merasakan keheningan tak wajar. Mencoba melirik, ia mendapati Chanyeol yang sudah tertidur pulas. Dan kegiatan meliriknya itu berubah menjadi menatap, langsung. Juga lama.

Tapi setelah itu pintu kamarnya diketuk, dan terbuka dari luar. Ia mendapati eomma-nya yang tersenyum ke arahnya. "Sayang, di mana Chanyeol?" Tanya eomma-nya. Baekhyun menunjuk ke arah sampingnya. "Dia tertidur. Kenapa memangnya?" Eomma-nya menggeleng pelan. "Tidak ada. Tadi niatannya, Tuan dan Nyonya Park hendak pulang. Tapi melihat Chanyeol tertidur seperti ini... yah, mungkin Chanyeol bisa menginap di sini. Lagipula tak masalah karena dia dan kau akan kuijinkan libur."

"Ah... Baiklah." Jawab Baekhyun seadanya. Ia menoleh dan menatap Chanyeol kembali. Seperti tidak bosan, dan kenyataannya memang tidak. Menatap wajah Chanyeol itu, sudah cukup membuat detak jantungnya menggila, bahkan ketika Chanyeol tidur-pun. Tapi ia suka detak jantungnya yang menggila itu. Meskipun terkadang ia tidak bisa mengontrolnya lebih jauh dan memutus apapun yang membuat jantungnya berdegup terlalu kencang.

Keasyikan menatap Chanyeol, Baekhyun tidak sadar bahwa eomma-nya masih berada di ambang pintu. Dan ia sedikit terlonjak kaget ketika eomma-nya—yang dia pikir sudah pergi—berbicara tiba-tiba. "Kuharap kau bisa semakin dekat dengannya, dan kau tidak akan sakit hati pada akhirnya, Baekhyun. Semoga keputusan ini tidak salah sama sekali. Lagipula sepertinya kalian sudah cukup akrab, teriakan kalian terdengar sampai bawah tadi, hahaha. Kalau begitu, selamat malam sayang, eomma menyayangimu. Jaljayo."

Ucapan eomma-nya membuat Baekhyun merenung sesaat. Tapi ia segera memutuskannya sebelum eomma-nya mencurigainya. Ia tersenyum seadanya ke arah eommanya dan balas menjawab ucapan eomma-nya. "Ya, aku harap begitu. Selamat malam juga, eomma. Aku juga menyayangimu."

Sebelum pintu itu benar-benar tertutup, Baekhyun menyempatkan untuk kembali berbicara. Sukses membuat eomma-nya mematung tiba-tiba dan Baekhyun tidak menyadarinya, karena tubuh eomma-nya tertutup di balik pintu kamar. "Aku juga berusaha sebisa mungkin untuk tidak mengecewakan siapapun... Tapi dia sudah memiliki kekasih, aku harus bagaimana? Eomma... aku mencintainya, jauh sebelum perjodohan ini terjadi."

Tapi kemudian eomma-nya hanya menutup pintu kamarnya tanpa memberi komentar, dan Baekhyun tidak mempermasalahkannya. Ia tahu eomma-nya memberikan ia waktu untuk menenangkan diri dan berpikir. Jadi, ia memilih kembali menatap ke arah Chanyeol yang masih tertidur itu. Menatapnya dalam keheningan, dan Baekhyun merasakan sesak yang teramat sangat, menghantam tepat di ulu hatinya.

Bisakah kau merasakan bagaimana rasa ingin mencintai dan ingin memiliki itu terpendam begitu saja di dalam hati, tidak lagi membutuhkan jawaban tetapi terasa sangat menyakitkan?

Dan Baekhyun tidak bisa menahannya lagi. Segala rasa sesak yang membanjiri otak dan hatinya, Baekhyun bersumpah ia tidak bisa menatap Chanyeol lebih lama. Karena dari itu, demi mencegah air mata sialannya mengalir percuma begitu saja hanya untuk hal tolol ini—juga Baekhyun tidak sudi menjadi terlalu lemah, Baekhyun memilih bangkit untuk pergi. Mungkin ia akan memilih tidur di kamar tamu yang terletak di sebelah kamarnya saja.

Hanya saja, semua itu tertahan ketika pergelangan tangan Baekhyun dicengkram lemah oleh sebuah tangan. Mendesah lelah, Baekhyun membalikkan badannya dan mendapati mata sayu khas bangun tidur milik Chanyeol itu memandang tepat ke arahnya. Entah marah, sedih, jengkel atau lelah, Baekhyun merasa ingin menghajar Chanyeol sekarang juga. Oh my fucking God. "Apa?"

"Kau mau kemana?" Suara Chanyeol yang serak dan dalam itu hampir, hampir membuat Baekhyun luluh di tempat dan membuat Baekhyun berhasrat untuk berteriak di hadapan Chanyeol bahwa ia ingin pergi karena tidak tahan lagi menahan rasa sakit hatinya dan rasa cintanya kepada Chanyeol. Alih-alih mengetusinya, Baekhyun malah menjawabnya dengan sesabar mungkin. "Ke kamar sebelah. Orang tua-mu sudah pulang. Tadinya mereka ingin menyuruhmu pulang, tapi karena kau ketiduran, kau dibiarkan menginap di sini. Oh, dan mereka akan memberikan surat ijinmu untuk tidak masuk sekolah. Sekarang, karena kita tidak akan sekamar, makanya aku akan tidur di kamar tamu saja."

Penjelasan Baekhyun membuat Chanyeol mengangguk paham, namun sedetik kemudian ia terdiam begitu saja. Menatap Baekhyun lamat-lamat, tapi bibirnya hanya terkatup rapat, nampak tidak ingin mengatakan apapun. Melihat Chanyeol yang hanya diam, Baekhyun hendak meninggalkan Chanyeol lagi, tetapi sebuah suara dari Chanyeol lagi-lagi menahan kepergiannya. "Jangan pergi, Baek."

Langkah Baekhyun memang berhenti, tetapi membutuhkan waktu sedikit lama sampai Baekhyun berbalik lagi untuk menatap Chanyeol. Pikirannya melayang-layang, kenapa Chanyeol menahannya terus menerus? Tidakkah cukup untuknya karena telah membuatnya menderita terus-menerus, bahkan setelah ia tahu bahwa Baekhyun mencintainya? Atau ini balasan karena mungkin saja, Chanyeol tidak suka jika Baekhyun mencintainya? Tapi jika Chanyeol tidak suka, memangnya kenapa? Toh yang terpenting juga Baekhyun tidak nampak menuntutnya seperti orang mengidap obsesi berlebihan. Baekhyun mendengus pelan. "Lalu kau memintaku di sini, begitu? Tentu saja tidak bisa... Dan tidak ada alasan untuk ukuran ranjang yang bisa menampung tubuh kita berdua—karena memang ranjangnya berukuran king size."

"Tapi—"

"Atau kau ingin tidur di kamar tamu saja? Aku bisa membereskannya untukmu, jika kau tidak ingin tidur di kamarku." Potong Baekhyun cepat, dan Chanyeol menggeram pelan. Jengah akan Baekhyun. Ia hanya ingin menghabiskan malam langka ini bersama Baekhyun. Tak peduli akan menjadi canggung nantinya, atau mereka justru langsung menuju alam mimpi. Chanyeol tidak peduli, yang terpenting baginya adalah bagaimana ia bisa satu kamar bersama Baekhyun. Apapun alasannya, yang penting ia harus bersama Baekhyun. Dan hal ini membuat Chanyeol berpikir, bahwa ia mungkin memang sudah jatuh di dalam pesona seorang Byun Baekhyun. "Aku ingin tidur di sini..."

"Oh, kalau be—"

"—tapi bersamamu."

"H-hah?" Baekhyun membeku di tempatnya. Semua rasa di hatinya, kini benar-benar terasa tidak dapat terdefinisikan. Ia bahagia, tapi ia tidak boleh. Ia ingin berharap, tapi tidak bisa. Ia ingin marah, tapi tidak mampu. Ingin sedih, tapi ia ragu. Semua ini tidak boleh terjadi. Chanyeol tidak seharusnya menginginkan hal itu. Ini harus segera diselesaikan, sebelum semuanya terlanjur dan sebelum Baekhyun mulai terhanyut akan perasaannya sendiri. "Apa kau gila? Tentu saja tidak boleh, bodoh. Kau itu sudah punya Luhan dan kau masih ingin tidur sekamar denganku? Aku tahu kita telah bertunangan—ya Tuhan ini benar-benar gila—tapi tetap saja, kau tidak mencintaiku dan kau milik Luhan. Jadi, biarkan aku tidur di kamar tamu. Dan, Chanyeol—"

Sebelum Chanyeol hendak protes, Baekhyun sudah memotongnya, melanjutkan perkataannya. "—berhenti membuatku berharap seperti orang tolol, please?"

Baekhyun ingin berbalik lagi, tapi untuk kesekian kalinya kembali tertahan ketika matanya menangkap pancaran mata Chanyeol. Mendapati Chanyeol yang menatapnya dengan—Baekhyun tidak bermaksud percaya diri tetapi ia benar-benar bisa merasakannya—perasaan sakit hati. Teramat sangat, jika dilihat dari raut wajah Chanyeol. Tapi, untuk apa Baekhyun merasa sakit hati? Dan, ugh, tiba-tiba Baekhyun sendiri merasa tak enak hati melihat Chanyeol seperti itu. Hanya saja tak lama kemudian, senyuman pahit tersungging di bibir Chanyeol.

"Kau bilang aku dengan Luhan, ya..." Gumam Chanyeol. Kepalanya menoleh, dan matanya menerawang ke arah jendela kamar yang gordennya sedikit tersibak. Hatinya terasa bimbang tiba-tiba, dan Chanyeol sendiri merasa tidak pernah sebingung ini sebelumnya. Apakah ini sudah saatnya untuk memberitahu Baekhyun jika semua pemikiran Baekhyun itu tidaklah benar?

"Chanyeol, kalau kau tak kunjung bicara lagi, aku sebaiknya per—"

"—bagaimana jika aku bilang bahwa pemikiranmu itu salah?" Potong Chanyeol, kembali menoleh untuk menatap Baekhyun sedalam-dalamnya. Baekhyun nampak mengerutkan dahinya bingung, dan mulutnya tergerak untuk berbicara. Tapi sebelum suara Baekhyun keluar dari tenggorokannya, Chanyeol lagi-lagi memotongnya. "Aku tidak peduli kau percaya denganku, atau memilih percaya pada gosip yang ada. Dengar baik-baik, dan jangan menyela. Aku—adalah dongsaeng kandung Luhan."

"Oh, dongsaeng?" Tanya Baekhyun, matanya sedikit menyipit untuk mengingat sesuatu. "Jadi—tunggu! Bukankah Luhan anak dari—jadi kau anak pemilik sekolah dan, oh Tuhan!" Baekhyun mengusap wajahnya kasar, merasa aneh sendiri dengan dirinya yang sudah mendengar fakta—dan semoga itu benar. Bahkan cara bicaranya sudah sangat berantakan. "Tapi, kau dan Luhan sangat—ugh, mesra, kalau kau mau tahu." Gumam Baekhyun kemudian, yang sayangnya dapat didengar jelas oleh Chanyeol.

"Mesra? Ahh, kau cemburu?"

"A-apa? Ten-tentu saja ak-aku—aish, AKU TIDAK—"

"Kalau kau mau tahu, terserah kau percaya padaku atau tidak, tapi Luhan sudah punya kekasih. Oh Sehun, temanmu itu." Potong Chanyeol lagi, diam-diam mengulum senyum menatap Baekhyun yang nampak gelagapan di hadapannya. Sempat Chanyeol mendengar Baekhyun yang mengutuk-ngutuk Sehun karena berpikir Sehun sengaja merahasiakan hal ini. Melihat Baekhyun seperti itu benar-benar menggemaskan untuknya, tapi kemudian ia melihat Baekhyun kembali serius. "Tapi, apa benar kau anak dari pemilik sekolah kita? Jadi, Tuan Park tadi adalah pemilik sekolah kita?"

Chanyeol menyipit mendengar perkataan Baekhyun. "Kau... Memangnya, kau tidak tahu bagaimana wajah pemilik sekolah kita sampai-sampai kau bingung seperti ini? Astaga, kukira kau sudah tahu kalau aku ini anak pemilik sekolah setelah kau melihat appa-ku. Tapi ternyata, ck."

Baekhyun hanya menyengir malu dengan jari yang bertaut di balik punggungnya. Ia melihat Chanyeol bangkit, dan ia pikir Chanyeol hendak pergi entah kemana, mungkin mengambil minum di dapur atau sekedar akan ke kamar mandi. Tapi kemudian ia tersentak saat Chanyeol melangkah ke arahnya dengan cepat, dan sebelum ia menghindar, tangan Chanyeol lebih dulu terulur sehingga tubuh mungilnya terlebih dahulu masuk ke dalam dekapan Chanyeol. Hanya saja, wajah mereka tetap bertatap-tatapan, dengan tangan Chanyeol yang melingkar manis di pinggang Baekhyun. Saking terkejutnya, Baekhyun bahkan hampir mengeluarkan jurus hapkido-nya untuk melempar Chanyeol, alih-alih merasakan malu yang teramat sangat. "He-hei, apa yang kau lakukan, hah?"

"Memelukmu?" Bisik Chanyeol, mendekatkan wajahnya ke arah Baekhyun. Baekhyun ingin sekali memundurkan wajahnya dan berbalik pergi meninggalkan Chanyeol, tapi sayangnya dekapan erat Chanyeol tidak dapat membuatnya bergerak sedikitpun. Sampai pada akhirnya, dahi mereka bersentuhan dan Chanyeol kembali berbicara. "Baekhyun, bisakah aku menghentikan sandiwara yang kubuat sendiri? Membuatmu cemburu atas Luhan hyung, dan semua sandiwara lainnya. Dengar, Baekhyun, aku—mencintaimu..."

Dan bibir Chanyeol menyentuh bibir Baekhyun dengan lembut, tepat dengan air mata Baekhyun yang mengalir setetes. Baekhyun dalam hati memaki air mata sialannya yang keluar di saat-saat bodoh seperti ini—karena kalau diingat-ingat ia sama sekali tidak menangisi Chanyeol ketika tahu gosip antara Chanyeol dan Luhan—alih-alih merasakan malu dan bahagia di saat yang sama. Tubuhnya meremang, dan ia merasakan beribu kupu-kupu menggelitik perutnya dengan bibir Chanyeol yang menghisap lembut bibir bawahnya. Dengan reflek, ia perlahan membalas ciuman Chanyeol. Menghisap bibir atas Chanyeol sama lembutnya, dan suara kecipak antar bibir itu terdengar perlahan, pelan.

Baekhyun tidak menyangka ini akan terjadi. Jadi—Canyeol mencintainya juga? Cintanya tak bertepuk sebelah tangan? Setidaknya untuk kali ini, Baekhyun bisa mempercayai kata-kata Chanyeol, bukan?

Sampai beberapa lamanya, kemudian tangan Baekhyun mencengkram pundak Chanyeol erat, menandakan pasokan oksigennya yang mulai menipis. Beruntung Chanyeol menangkap sinyal Baekhyun, dan ia melepaskan ciumannya. Namun dahi mereka tetap bersentuhan, sehingga mereka saling menatap dengan jarak yang teramat dekat. Bibir Baekhyun yang sedikit membengkak itu terbuka kecil, terengah-engah. Chanyeol hendak menyambar bibir itu kembali sampai ia menyadari jejak setetes air mata yang membasahi pipi Baekhyun. "Baekhyun, kau menangis?"

Baekhyun masih terengah-engah tanpa menjawab, dan Chanyeol merasa tidak butuh jawaban lagi. Tangan kanannya terangkat untuk menghapus jejak air mata itu, hingga Chanyeol baru menyadari semburat merah tipis yang hadir di pipi Baekhyun. Teramat tipis, pantas saja ia tidak begitu melihatnya. Oh, Baekhyun merasa malu? "Baekhyun, kau manis sekali..."

Tangan kanan Chanyeol yang masih berada di pipi Baekhyun, kini ibu jarinya mengusap-usap pipi Baekhyun. Baekhyun sendiri masih menundukkan wajahnya efek kelelahan, yang kali ini nafasnya sudah lebih tenang, lebih teratur. "Oh, ya. Baekhyun, kau tidak berniat untuk—err, setidaknya menjawab pengakuanku tadi?"

Dengan sedikit menjauhkan kepalanya, Baekhyun mendongak. Menatap Chanyeol dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan, lalu tangannya mendarat di puncak kepala Chanyeol. Menggeplaknya dengan penuh akan rasa sayang. "Memangnya sudah sampai sejelas ini, dan kau masih butuh jawaban?"

"Akan lebih senang jika aku mendengar langsung dari bibirmu." Elak Chanyeol. Tersenyum lebar, alih-alih menyeringai. Baekhyun mendengus dan memutar kedua bola matanya, jengah. "Aku membencimu."

"Aww, romantis sekali." Gumam Chanyeol sarkatis, lalu mendorong tubuh Baekhyun hingga tubuh mungil itu terjatuh di atas ranjang. Sebelum Baekhyun hendak bangkit, tubuh Chanyeol sudah lebih dulu menindih Baekhyun, memenjarakan tubuh Baekhyun dalam kungkungannya. "Sebelum aku merubah pikiranmu untuk menyetubuhimu sekarang juga, lebih baik kau mengatakannya."

Wajah Baekhyun langsung memerah sampai telinga, entah menahan malu atau marah, tapi kemudian tangan Baekhyun langsung bekerja dengan baik. Mencubit pinggang Chanyeol dengan keras berulang kali sampai Chanyeol berteriak kesakitan di atasnya dan ganti menyiksa Baekhyun dengan menggelitik pinggang Baekhyun. Dengan berguling-guling di atas kasur, mereka sama-sama teriak, juga tertawa dan saling melempar kata-kata kasar serta ancaman, sampai akhirnya pintu kamar terbuka dan mereka mendapati orang tua Baekhyun yang menatap shock ke arah ranjang.

"Astaga." Gumam appa Baekhyun, dan eomma Baekhyun menganga lebar. "Ini pasti akan berjalan dengan sangat panas, bukankah begitu?" Ujar eomma Baekhyun sambil terikikik nista. Dan kini justru Chanyeol yang merasa wajahnya memanas hingga ke telinga, karena memang posisinya saat ini berada di atas Baekhyun sehingga, yeah, bagi orang tua Baekhyun ia nampak seperti akan memperkosa anaknya itu. Apalagi ranjang yang hampir tidak berbentuk itu karena mereka. Demi seluruh orang tua tidak waras di muka bumi ini, Chanyeol merasa amat sangat malu. "Tuan dan Nyonya Byun, ak-aku bisa jelaskan, i-ini—"

"Oh, tidak apa-apa." Sela Tuan Byun sambil tertawa. Nyonya Byun menatap Chanyeol dengan geli. "Habiskan saja dia semaumu. Toh kalian juga akan menikah nantinya." Setelah itu, orang tua Baekhyun menutup pintu kamar Baekhyun dan tertawa bersama-sama meninggalkan kamar Baekhyun. Meninggalkan anak mengenaskan mereka yang berteriak di kamarnya. "Yah! Kalian berniat meninggalkanku bersama bocah sialan ini—astaga!"

Chanyeol lebih dulu membebaskan Baekhyun. Ia beranjak berbaring di salah satu bagian kosong di ranjang Baekhyun, dan Baekhyun mengikutinya. Menarik selimut yang sudah sangat berantakan di bawahnya, menarik sebatas perut. Baekhyun hampir saja hendak tertidur kalau saja ia tidak merasakan sebuah lengan melingkari perutnya, dan ia tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa pelakunya. Di sisi lain, Chanyeol tersenyum lembut menatap Baekhyun dari samping, dan ia mengeratkan pelukannya. Merasa sangat bahagia hanya dengan membayangkan Baekhyun telah menjadi miliknya. "Aku mencintaimu, Baekhyun."

Bisikan Chanyeol membuat tubuh Baekhyun merinding sampai ke tulang ekor, dan Baekhyun balas menjawab dengan sebuah bisikan yang terdengar sedikit bergetar. "Aku juga mencintaimu."

"Maaf membuatmu tersiksa selama ini, Baekhyun." Gumam Chanyeol, meletakkan kepalanya di ceruk leher Baekhyun, membiarkan wangi strawberry itu memasuki indra penciumannya. Baekhyun sendiri sedikit bergerak gelisah merasakan hangatnya nafas Chanyeol di bagian sensitif tubuhnya, leher. Kemudian Baekhyun terpaku, memikirkan bagaimana tersiksanya ia mencintai Chanyeol selama ini. Dan alih-alih merasa sakit, ia justru tersenyum. Mengubah posisi tidurnya yang tadi terlentang tanpa melepaskan peluka Chanyeol, kini menghadap ke arah Chanyeol yang juga menghadap ke arahnya. "Tidak apa-apa, Yeol. Setidaknya kau beruntung karena aku belum mencoba mencintai yang lainnya. Kai, mungkin?"

Melihat Chanyeol yang berkerut kesal itu, membuat Baekhyun tertawa geli di dalam hati. Mungkin ia akan banyak-banyak menyeret nama Kai untuk menggoda Chanyeol, tak lupa menggoda Kyungsoo juga. Ahh, ini lucu sekali. Dan semoga Kai tidak membunuhnya di tempat karena telah membawa-bawa namanya seenak jidatnya. "Sialan kau Baek. Ah sudahlah."

Setelah itu Chanyeol menutup matanya sambil mencibir kesal, sehingga Baekhyun tergerak untuk mencium sekilas bibir Chanyeol sambil tertawa. "Aku mencintaimu, Chanyeol."

Dan karena perbuatan iseng Baekhyun tadi, mereka justru benar-benar berakhir tanpa busana di ranjang.

.

.

.

...end?

.

.

OMAKE

"Astaga Chanyeol... Appa kan sudah bilang untuk menahan nafsumu, ckckck." Ujar Appa Chanyeol keesokan harinya sambil menyibak sedikit kerah baju Baekhyun, memperlihatkan bercak merah keunguan yang nampak sangat jelas dan banyak itu. Chanyeol melenguh jengah dan Baekhyun meringis, berusaha menutupi lehernya.

Nyonya Park menempeleng kepala Chanyeol pelan dan menoleh ke arah orang tua Baekhyun sambil meringis tanpa dosa. "Tuan dan Nyonya Byun, tolong maafkan kelakuan anakku yang binal dan liar ini, ya. Maklum saja, masih remaja, hormonnya pasti sedang meraung-raung ganas."

"Oh—ahahaha, tidak apa-apa Nyonya Park. Lagipula mereka kelewat imut, jadi saya membiarkan Baekhyun, kkk." Balas Nyonya Byun sambil tertawa nista dan Baekhyun merengut. "Ya Tuhan, mimpi apa aku sampai punya orang tua seperti ini."

"Eh, sudah jam satu siang. Bukankah kita seharusnya mengadakan rapat? Kalau begitu kami semua pergi dulu, Chanyeol, Baekhyun!" Ujar Tuan Byun yang tadinya hanya tertawa-tawa. Tuan Park dan lainnya mengangguk, lalu segera beranjak bangun dari sofa.

"Kami pergi dulu, ya. Chanyeol, jaga Baekhyun baik-baik, arra?" Perintah Nyonya Park, lalu mereka berempat langsung melangkah menuju pintu setelah mengucapkan salam perpisahan. Sebelum benar-benar keluar dari rumah, Tuan Park sempat menoleh. "Chanyeol?"

"Ya?" Jawab Chanyeol, dan Tuan Park menyeringai. "Jangan masuki Baekhyun lagi."

"YAH!" Teriak Chanyeol dengan wajah yang memerah sampai telinga, dan Tuan Park langsung pergi begitu saja. Menoleh ke samping, Chanyeol mendapati Baekhyun yang masih menggerutu kesal dan Chanyeol yang memutar bola matanya. "Diamlah, Baek. Kau membuatku tambah jengah."

"Kau yang diam! Jangan ikut campur dengan apa yang kulakukan." Geram Baekhyun judes, lalu kembali bersumpah serapah.

"Sudahlah, Baek—" Putus Chanyeol, mendekatkan wajanya ke arah Baekhyun lalu mengulum bibir Baekhyun cepat dan melepaskannya, sukses membuat Baekhyun bungkam. Jika dengan cara baik tidak bisa menghentikan Baekhun, ya hanya ini jalan alternatifnya. "—lagipula tadi malam juga kau terlihat menikmatinya. Mau kuberi contoh? Ahh, Yeol... Damn kau be—ohh, besar sekalihh. Ohh... ahh—"

"YA TUHAN BERHENTILAH YEOL!" Teriak Baekhyun heboh, memukul Chanyeol beringas dan Chanyeol ikut berteriak, meringis memohon Baekhyun untuk berhenti menyiksanya.

...well, kalau Chanyeol bilang, ini seperti kekerasan dalam rumah tangga alias KDRT.

Tapi toh, yang membuat Baekhyun jadi beringas juga dirinya sendiri. Jadi, yeah, nikmati saja hasil keisenganmu, Park.

.

.

.

END!

.

.

.

CIYEEE UDAH END AJA NIH HOHOHO LUNAS SATU YAY:'3

Saya update nya lama banget ya HAHAHA (digampar)

Sebenernya saya udah pengen update dari kemaren-kemaren, tapi si XL gamau diajak kompromi, jadi...gitu.

Makanya saya mau minta maaf yang sebesar-besarnya, karena update chap terakhirnya lama pake bingits zzz.

Mungkin udah pada lupa ya haha tau deh ya:/

Jadi chap terakhir ini berakhir dengan sangat absurd dan omake yang terlalu maksain dan dan dan/?

OKEE, JADI, WANNA GIVE ME REVIEW?

.

.

Thanks a lot for the reviewers (and sorry again I can't answer it one by one hiks) :
Urushibara Puterrizme ; SweetyChanbaek ; sniaanggrn; ; BaekXoLove614 ; Kim Bo Mi ; JonginDO ; chanbaeg; sogogirl94 ; Shouda Shikaku ; aquariusbaby06 ; chanchanhwang; ShinJiWoo920202 ; rachel suliss ; hunniehan ; Syifa Nurqolbiah; beagle6104 ; KT CB ; meliarisky7 ; N-Yera48 ; baekhyunlips ; ParkbyunieTut92 ; Guest ; nur991fah ; KyusungChanbaek

.

.

.

.

.

xoxo,
baekfrappe.