.

.

.

Previous Chapter

"Aku benar-benar tidak mengerti alur hidupmu. Ini masalah yang sangat rumit. Bahkan penyelesaiannya lebih rumit daripada masalah Kris. Dan Chanyeol, sebenarnya ini terserah padamu bagaimana kau menyikapi masalah ini dan menyelesaikannya. Yang jelas, aku hanya berpesan jangan sampai masalah ini mengganggu pekerjaan kita. Arra?"

Chanyeol mengangguk dan tersenyum tipis ke arah Suho. "Gomawo, hyung."

"Baiklah, ini masih sangat pagi. Sebaiknya kita tidur." Ucap Suho yang disetujui Chanyeol dan Sehun. Akhirnya, mereka bertiga membaringkan badan lelah mereka di kasur king size tersebut.

.

.

.

TOK TOK

"Suho hyung, Sehun-ah, bangunlah! Waktunya sarapan!" Terdengar suara Kyungsoo dari luar kamar. Suho terbangun dan menanggapi Kyungsoo yang masih mengetuk pintu. "Iya, tunggu sebentar!"

Suho membangunkan Sehun dan Chanyeol, lalu akhirnya melangkah keluarr kamar menuju ruang makan bersama dua dongsaengnya itu. Kyungsoo yang sedang menyiapkan makanan terkejut dengan keluarnya Chanyeol dari kamar sang leader dan maknae. "Eh, Chanyeol? Bagaimana bisa kau di kamar Suho hyung dan Sehun?"

"Annyeong memberdeul." Terdengar suara Baekhyun, lalu Baekhyun duduk di samping Kai. Chanyeol menatap Kyungsoo dan tersenyum. "Gwaenchana. Nanti akan ku ceritakan."

"Baekhyun tidak mengusirmu, kan?" Ucap Kyungsoo dengan suara yang sengaja dikeraskan. Chanyeol menghela nafas, seharusnya ia tahu akan menjadi seperti ini. Suho menghendikkan bahunya, tahu kalau Kyungsoo memang seperti itu. Kai menepuk jidatnya, sudah tahu apa yang terjadi karena baru saja diceritakan Sehun. Sehun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Baekhyun yang sadar kalau ia sedang disindir oleh Kyungsoo, menoleh ke arah Kyungsoo dengan tatapan tajam. "Kyung, aku sama sekali tidak mengusir Chan—dia. Kau bisa bertanya langsung kalau kau tidak percaya." Tanpa sadar Baekhyun mengepalkan tangannya di bawah meja.

Kyungsoo menoleh ke arah Chanyeol, meminta jawaban. Lagi-lagi Chanyeol menghela nafas. "Baek—dia benar." Ucap Chanyeol singkat. Mendadak dadanya seperti dihimpit batu besar hingga rasanya sakit. Menyadari Baekhyun bahkan tidak sudi mendengar namanya dipanggil dari bibirnya.

Tidak menuntut jawaban lebih, Kyungsoo hanya mengangguk, lalu duduk di kursinya. Mereka berenam makan dengan diam. Dan Suho baru menyadari, sebenarnya mendengar Chanyeol dan Baekhyun yang berebut makanan saat sarapan itu lebih menyenangkan meskipun bising dibandingkan sunyi dan dingin seperti saat ini. Mendadak Suho merasa menyesal karena di hari-hari sebelumnya selalu memarahi Baekhyun dan Chanyeol yang berisik.

Ah sudahlah.

.

.

.

"Oh, Baekhyun? Mau kemana?" Tanya Suho yang melihat Baekhyun melangkah ke pintu dorm. Baekhyun menoleh ke arah Suho sekilas dan tersenyum sebisanya. "Aku akan menemui Taeyeon noona." Lalu tanpa basa-basi Baekhyun segera memakai flat shoes miliknya. Suho menatap Baekhyun. "Jangan terlalu lama. Kita ada job jam satu siang."

"Arra, hyung. Aku pergi dulu." Baekhyun melangkah pergi. Suho kembali menikmati tayangan televisi dihadapannya sambil tiduran di sofa, dan tiba-tiba suara bising terdengar. Ia menoleh, mencari sumber suara dan ia mendapati Chanyeol memakai snapback dan kaca mata hitam, berjalan terburu-buru ke arah pintu dorm, mengikuti jejak Baekhyun.

"Chanyeol? Kau mau kemana? Ingat kita ada job jam satu siang." Lagi-lagi, sebagai leader mengharuskan Suho mengingatkan jadwal-jadwal mereka kepada para member. Chanyol menoleh ke arah Suho dan tersenyum. "Baiklah, aku ada urusan sebentar. Aku janji tak akan lama."

Chanyeol langsung melangkah terburu-buru keluar dorm. Dengan cepat, ia berjalan ke arah lift, lalu memencet tombol di samping lift yang tertutup. Setelah menunggu beberapa saat, pintu lift terbuka dan tak ada orang di dalamnya. Tanpa basa-basi, Chanyeol segera masuk dan memencet tombol dasar yang akan mengantarkannya ke lantai dasar. Pintu lift mulai tertutup dan lift bergerak. Chanyeol dengan tak sabar mengetukkan kakinya pelan pada lantai lift, namun kemudian semakin cepat karena tak tahan. Terlalu lama. Bisa-bisa ia kehilangan jejak Baekhyun.

Oh, belum sempat dijelaskan? Baiklah. Chanyeol kali ini mencoba mengikuti Baekhyun. Jujur, ia cukup memikirkan perkataan Kyungsoo tadi malam. "Apa yang dikatakan Taeyeon pada Baekhyun?" Semoga saja Taeyeon dan Baekhyun masih membahas masalah kemarin. Tak lupa di kantung celananya sudah tersedia alat rekam yang akan merekam perkataan Taeyeon nanti. Siapa tahu berguna.

Begitu pintu lift terbuka, Chanyeol langsung berlari keluar, tak lupa mencari keberadaan Baekhyun engan menolehkan kepalanya ke segala arah. Berkali-kali ia menabrak orang, tapi Chanyeol tidak peduli dan terus berlari, mengabaikan tatapan sebal dari orang yang ditabraknya. Hingga akhirnya Chanyeol berhenti dan sontak bersembunyi di dekat tanaman dalam pot yang cukup tinggi ketika melihat Baekhyun dan Taeyeon di pintu depan.

Baekhyun dan Taeyeon terlihat sedang berbincang, entah apa itu. Dan Chanyeol cukup sadar, ia harus mendekati mereka tanpa membuat mereka curiga agar dapat menguping apa yang mereka bicarakan. Dengan sigap Chanyeol memegang bolpoin miliknya yang dapat berfungsi sebagai alat rekaman, lalu melangkah santai ke arah Baekhyun dan Taeyeon. Semakin dekat, Chanyeol semakin mendengar apa yang mereka bicarakan.

Chanyeol menekan tombol "on" pada bolpoin tersebut, lalu dengan otomatis bolpoin itu merekam suara di sekitar, termasuk suara yang dibicarakan Taeyeon dan Baekhyun. Untuk mencegah penyamarannya yang bisa saja diketahui, ia membuka gulungan majalah yang ia bawa, lalu menutupi wajahnya dengan majalah tersebut. Memposisikan seolah ia membaca majalah, namun siapa tahu di balik majalah tersebut terdapat alat rekam berbentuk bolpoin?

"...Hey, Taenggo, kau semakin hari bertambah cantik, kau tahu?" Suara Baekhyun terdengar, menggoda Taeyeon yang malu-malu kucing, namun Chanyeol bersumpah itu pasti akting. Oh, tentu saja.

"Hehehe, kau bisa saja oppa. Kau juga semain tampan dan manis." Kini terdengar suara Taeyeon, membalas ucapan Baekhyun dengan suara malu-malu. Bagi Baekhyun, hal itu sangat damn cute, tapi bagi Chanyeol, suara itu seperti ibu-ibu genit nan centil yang menggoda remaja polos yang tak tahu apa-apa. Seperti ibu-ibu matre yang hanya butuh keuntungan tanpa mempedulikan korbannya yang rugi.

Chanyeol berusaha keras untuk tidak menarik Baekhyun dari tempatnya dan menampar mulut bajingan Taeyeon di tempat.

"Ahh, gomawo chagi. Tunggu dulu, apa lukamu sudah baikan?" Tanya Baekhyun. Chanyeol menajamkan telinganya, lalu mengintip apa yang dilakukan Baekhyun. Pemandangan yang, astaga, Chanyeol mendapati Baekhyun mengusap sudut bibir Taeyeon yang memang terluka itu. Bekas tamparannya.

Taeyeon menggeleng dan tersenyum kecil. "Aku tidak apa-apa, Baekhyun oppa."

"Aish, ini gara-gara Chanyeol sialan itu. Aku ingin menghajarnya, kau tahu? Berani-beraninya ia melukai yeojachingu-ku! Aku benar-benar membencinya." Chanyeol membeku. Tangan kirinya meremas majalah yang masih menutupi sebagian wajahnya dan tangan kanannya menggenggam erat bolpoin rekam itu.

"Sudahlah, oppa. Aku juga tidak tahu apa yang mereka pikirkan. Mereka memaki-makiku, mengatakan aku terlalu tua, dan tidak pantas untukmu. Aku sedih sekali. Padahal aku tidak tahu apa-apa dan selalu bersikap baik pada mereka." Chanyeol menganga kecil. Astaga, jadi Taeyeon benar-benar melakukan aktingnya dengan sangat baik.

"Jangan pikirkan mereka, chagi. Bagiku, kau adalah gadis tercantik di dunia ini. Saranghae." Tiba-tiba tubuh Chanyeol seolah limbung. Kakinya kehilangan kekuatan untuk menopang badannya. Sangat sakit mendengar orang yang kau cintai mengatakan cinta pada orang lain. Terlebih orang yang kau cintai itu tidak tahu apa-apa, tidak tahu jika ia sedang dimanfaatkan. Chanyeol berusaha keras menahan air matanya. Ya Tuhan, sakit sekali...

"Nado saranghae."

Chanyeol memberanikan diri untuk kembali menatap Baekhyun dan Taeyeon. Mereka mulai beranjak, berjalan menuju parkiran. Chanyeol mengikuti mereka, hingga akhirnya Baekhyun dan Taeyeon menaiki mobil Porsche putih milik Taeyeon. Tanpa menunggu lagi Chanyeol berlari ke arah mobil Audi hitam miliknya, menstarter mobilnya dan langsung menjalankan mobilnya mengikuti mobil Taeyeon.

Ternyata mobil Taeyeon berhenti di parkiran Lotte World. Chanyeol memutar bola matanya. Jadi di sini mereka kencan? Wow, romantis sekali. Taeyeon dan Baekhyun tampak turun mobil bersama, lalu berjalan bergandengan menuju loket masuk.

Chanyeol menuruni mobilnya lalu berjalan menuju loket. Sudah ada beberapa orang yang mengantri di belakang Baekhyun dan Taeyeon, jadi ia tidak perlu khawatir akan ketahuan atau semacamnya. Ia pun berdiri di barisan, mengantri.

Setelah menunggu sebentar, akhirnya Chanyeol sampai di pintu loket. Ia segera membeli satu tiket untuk dirinya, lalu berlari masuk. Matanya menatap ke penjuru Lotte World, mencari keberadaan Baekhyun dan Taeyeon. Nampak Baekhyun dan Taeyeon tengah memakan satu permen kapas bersama sambil berdiri di dekat sebuah bangku. Dengan sigap, ia berjalan menuju bangku tersebut dan mendudukinya. Berusaha tidak peduli dengan Baekhyun dan Taeyeon yang masih asik memakan permen kapas di dekatnya, agar tidak terlalu mencurigakan. Tangannya kembali menyentuh bolpoin rekam, siapa tahu ia akan merekam sesuatu.

"—permen kapasnya enak kan?" Ini suara Baekhyun.

"Hum, enak. Manis, aku suka. Gomawo Baekhyun oppa." Suara Taeyeon menyahut.

"Hey, bagaimana kalau kita bermain pepero kiss menggunakan permen kapas?" Chanyeol tersedak air liurnya sendiri. What the—?

Diam-diam, Chanyeol melirik ke tempat di mana Baekhyun dan Taeyeon berada. Terlihat Baekhyun dengan senyuman menggodanya dan Taeyeon dengan wajah yang memerah malu. Baekhyun mengambil segumpal permen kapas yang tersisa dari batang yang digenggam Taeyeon, lalu menggigit ujung permen kapasnya. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Taeyeon, yang diterima dengan senang hati Taeyeon. Mereka berdua memakan permen kapas tersebut, dan wajah mereka berdua semakin dekat. Hingga semakin dekat dan bibir mereka sukses bersentuhan. Hanya beberapa detik saja, karena Taeyeon sontak menjauhkan wajahnya dan menunduk malu. Baekhyun mengerang kecewa karena gagal melumat bibir Taeyeon, atau setidaknya untuk berciuman lebih lama.

"Ini kan bukan pepero day." Ucap Taeyeon. Baekhyun mengangguk pasrah di tempatnya, lalu menggandeng Taeyeon untuk ke stand lainnya.

Chanyeol masih terdiam di tempatnya, meskipun ia tetap mengawasi gerak-gerik Baekhyun dan Taeyeon. Bibir mereka baru bersentuhan saja rasanya Chanyeol ingin mati di tempat, entah bagaimana jika Chanyeol melihat yang lebih dari itu. Mungmin ia akan terjun dari roller coaster?

Merasa Baekhyun dan Taeyeon melangkah semakin jauh, Chanyeol mulai bangkit dan kembali berjalan mengikuti mereka. Dalam hati Chanyeol terus berdoa untuk bertahan, setiaknya sampai ia berhasil mengorek kejujuran atas Taeyeon lebih jauh.

Sejak memakan permen kapas hingga saat ini, benar-benar tidak ada percakapan penting antara Taeyeon dan Baekhyun. Hanya tadi pagi saja di dekat pintu keluar. Chanyeol benar-benar menahan diri antara berusaha tidak cemburu dan menghampiri Taeyeon untuk memaksa mengungkap kebenarannya. Chanyeol lelah, sebenarnya. Tapi ia sama sekali tidak berpikir untuk menyewa detektif atau apa. Lagipula, jujur saja, Chanyeol penasaran apa yang dilakukan Taeyeon dan Baekhyun saat berkencan

Mereka berdua—tiga termasuk Chanyeol—sudah naik ke berbagai wahana. Mulai dari roller coaster dan rumah hantu yang sangat menyesakkan bagi Chanyeol karena selama itulah Chanyeol mendapati Baekhyun memeluk Taeyeon, atau bahkan hingga komidi putar di mana Chanyeol harus menyaksikan Baekhyun dan Taeyeon yang bercanda ria. Lalu berbagai wahana lainnya yang Baekhyun dan Taeyeon naiki dengan senang hati. Kini pemberhentian terakhr, bianglala.

Agar tidak terpisah jauh dengan Baekhyun dan Taeyeon yang tidak menyadari keberadaannya, ia dengan sigap langsung mengantri tepat di belakang Baekhyun dan Taeyeon. Kembali, tangannya menyentuh bolpoin rekam di kantung celananya. Kembali bersiap kalau-kalau Taeyeon mengatakan sesuatu.

"Kau lelah?" Tanya Baekhyun, menyentuh pundak Taeyeon.

"Cukup melelahkan, tapi ini menyenangkan. Lagipula ini lumayan untuk melupakan kejadian tempo hari." Jawab Taeyeon sambil tersenyum. Chanyeol yang berbaris di belakang mereka tersenyum, lalu menekan tombol 'on' pada bolpoin rekam dan menggenggam bolpoin rekam tersebut, sedikit mendekatkannya pada Baekhyun dan Taeyeon.

"Sebenarnya aku masih tidak begitu mengerti apa yang terjadi. Heran saja. Maksudku, member-memberku tidak biasanya bermain tangan, apalagi Chanyeol. Selama aku bersama dengan mereka, baru kali ini Chanyeol bermain kasar pada perempuan, sunbae pula." Baekhyun mengutarakan rasa penasarannya. Diam-diam Chanyeol menahan untuk tidak bersikap berlebihan. Ya Tuhan, Baekhyun memperhatikannya dengan baik?

"Tidak. Menurutku Chanyeol itu menyebalkan. Dia, Kyungsoo dan lainnya mengatakan aku hanya memanfaatkanmu. Katanya agar aku tenar—" Chanyeol tertawa tertahan. Yeoja itu gila? Dia menjebak dirinya sendiri.

"—padahal kan aku mencintaimu tulus... Kau bisa merasakan ketulusanku, kan? Saranghae, Baekhyun oppa." Baekhyun nampak mengangguk dan tersenyum. "Aku tahu, Taenggo. Nado saranghae."

Yang ada di pikiran Chanyeol saat itu adalah, semoga hari kemarin Taeyeon tidak mengatakan yang lebih buruk dari ini. Diam-diam Chanyeol berpikir, apa ia pantas naik bianglala sendirian? Ia tidak akan dikira orang yang masa kecilnya kurang bahagia, kan?

"...chogiyo? Anda mau beli tiket berapa?" Chanyeol tersadar dari lamunannya. Ia menoleh ke arah penjaga loket dan tersenyum. "Dua."

"Arraseo." Ucap sang penjaga loket lalu menyerahkan dua tiket. Chanyeol menyerahkan dua lembar 5000 won2 kepada penjaga loket. Dengan segera, ia berlari menuju bianglala. Sebelum mencapai bianglala, ia menemukan dua orang di mana yang satu adalah yeoja berumur sekitar 30 tahunan dan yang satu namja berumur sekitar 12 tahun, mungkin. Harap-harap cemas, Chanyeol menghampiri kedua orang itu.

"Annyeong, nyonya. Ehm... Apa aku boleh mengajak anak anda menaiki bianglala? Kebetulan saya membeli tiket brerlebih." Sapa Chanyeol sopan dan to the point sambil menununjukkan 2 tiket di genggamannya setelah membungkuk 90 derajat.

Sang Ibu membalas sapaan Chanyeol dengan ramah, namun ia menatap Chanyeol antara kurang yakin dan khawatir. Yah, tentu saja karena Chanyeol bukan orang yang dikenalnya. Melihat gelagat Ibu itu, Chanyeol segera mengambil langkah terlebih dahulu. "Ehm, saya Park Chanyeol... Apa anda mengenalku?"

Chanyeol melepas kaca mata hitamnya, dan sontak Ibu tersebut mengangguk sambil tersenyum. "Ah... Park Chanyeol member boyband EXO? Tentu saja aku mengenalmu, anak-anakku sangat menyukai boyband anda." Ucap sang Ibu ramah.

Dan akhirnya sang Ibu menyerahkan anaknya kepada Chanyeol. "Nah, Daehan sayang, kau tahu paman ini kan? Dia Park Chanyeol, member EXO kesukaanmu. Kau mau kan naik bianglala bersama Chanyeol?"

"Nde, eomma. Annyeong Chanyeol hyung, aku sangat menyukaimu!" Ucap Daehan imut dan Chanyeol tertawa. "Arra arra. Baiklah, nyonya, aku pergi dulu! Aku janji akan mengembalikan Daehan tepat waktu, di sini."

Sang Ibu mengangguk sambil tersenyum, dan dengan cepat Chanyeol menarik tangan Daehan lembut, mengisyaratkan untuk berlari. Chanyeol menolehkan kepalanya, mencari keberadaan Baekhyun dan Taeyeon. Begitu melihat siluet dua sejoli itu, Chanyeol tanpa menunggu lagi langsung berlari sambil menggandeng Daehan untuk mengantri menaiki bianglala di belakang Baekhyun dan Taeyeon.

"Hey, Daehan. Siapa yang kau suka di EXO?" Tanya Chanyeol, tersenyum lebar ke arah Daehan sambil menusuk-nusuk pelan pipi tembem Daehan menggunakan telunjuknya. Chanyeol tidak sadar bahwa suaranya cukup keras sehingga menarik perhatian Baekhyun dan Taeyeon yang berdiri di depannya. Entah bagaimana, Daehan tiba-tiba menyambar kaca mata hitam yang bertengger di kerah kaos Chanyeol dan memakaikannya ke Chanyeol.

"Aku suka Kris hyung! Ia sangat cool dan tampan. Tapi aku sangat sedih ketika mendengar dia keluar dari EXO..." Keceriaan Daehan sedikit menghilang dan sorot mata Daehan seolah meredup. Chanyeol merasa sedikit bersalah karena, oh ayolah, mengingatkan kejadian menyakitkan itu kepada anak seperti Daehan. Ia juga tidak menyangka kalau Daehan menyukai Kris.

"Ahh, maafkan hyung, ne? Jangan sedih. Percaya saja, Kris pasti kembali. Aku juga percaya kalau Kris akan kembali. Oke?" Ucap Chanyeol bertindak cepat, tersenyum kecil dan mengusap puncak kepala Daehan pelan. Daehan kembali tersenyum senang. "Arraseo, hyung! Oh lihatlah, antriannya maju!"

Chanyeol kembali menggandeng Daehan dan melangkah maju. Mereka berdua kembali berbincang dan bercanda ria sambil menunggu antrian bianglala. Hingga akhirnya mereka mulai memasuki salah satu tempat di bianglala tersebut. Tepat di tempat yang berada di samping Baekhyun dan Taeyeon berada. Dari tempatnya Chanyeol dapat melihat Baekhyun dan Taeyeon.

Tatapan Chanyeol beralih ke arah Daehan, dan Chanyeol tersenyum kecil. "Hey jagoan, sudah berapa kali naik bianglala?"

"Ehm... Aku tidak tahu, mungkin 10? Atau 11? Biasanya aku naik bersama hyung-hyungku. Tapi mereka ada tugas sekolah jadi tidak ikut. Eomma-ku sendiri phobia ketinggian dan Appa-ku tidak suka ke tempat ramai." Ucap Daechan panjang lebar.

"Kau punya hyung? Kau punya berapa saudara, hm?" Tanya Chanyeol, mencubit pelan pipi gembul Daehan, gemas. Daehan menghendikkan bahunya. "Ada 3 termasuk aku. Hyungku yang paling tua namanya Daehwan. Yang kedua namanya Daewoo."

"Ahh, arraseo. Hey bianglalanya sudah jalan!" Ucap Chanyeol tersenyum lebar. Gongchan bertepuk tangan semangat dan menatap pemandangan di luar dengan ceria. Chanyeol menatap Daehan, lalu tatapannya beralih ke arah Baekhyun dan Taeyeon yang berada di tempat di sebrangnya, mereka nampak bahagia. Terlihat Taeyeon yang menatap senang pemandangan di sekitarnya melalui jendela yang tersedia, dan Baekhyun yang tersenyum menatap Taeyeon. Sesekali mereka berbincang dan tertawa bersama. Chanyeol hanya menghela nafas, tiba-tiba merasa tidak bersemangat lagi.

"Hyung." Chanyeol menegang sebentar, lalu menoleh ke arah Daehan yang menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. "Nde?" Tanya Chanyeol, memaksakan senyumnya kepada Daehan.

Daehan menghela nafas dan menatap objek yang tadi ditatap dan dilamunkan Chanyeol. "Aku mulai berpikir kalau kau mengikuti pasangan itu. Eh, Tunggu! Itu Baekhyun hyung dan Taeyeon noona, kan?" Ucap Daehan, memekik pelan di akhir kalimatnya begitu menyadari objek yang ditatap Chanyeol. Chanyeol mengangguk lemah, tak ada salahnya ia mengaku, kan? Toh sudah ketahuan basah. Dan lagipula, yang diajaknya bicarapun saat ini adalah anak kecil.

"Hyung, kau menyukai Taeyeon noona?" Tanya Daehan, tatapannya terlihat penasaran. Chanyeol dilanda kebingungan, sesekali masih melirik ke arah Baekhyun dan Taeyeon. Anak kecil seperti Daehan, dia seharusnya tidak boleh diberitahu tentang gay, kan? Tapi—

Chanyeol entah bagaimana menggelengkan kepalanya. Diam-diam, Chanyeol mencuri pandang ke arah Daehan, dan Chanyeol mendapati tatapan Daehan melembut dan senyuman manis tersungging di bibir mungilnya. Manis sekali. "Wow, hyung. Kau..."

.

.

.

TBC

.

.

.

INI BENER-BENER MELENCENG DARI PEMIKIRAN SAYA! ASTAGA!

Saya bener-bener gahabis pikir, gimana ceritanya sampai-sampai nambahin other cast di dalem fanfic ini. Terus juga alurnya yang makin melenceng. Sampe ke taman bermain pula-_- Padahal niatnya saya mau membuat alur cerita ini berdasarkan berita yang ada. Pfft, anggep aja Daehan itu lucky fans. T.T

Silent readersnya bejibun, akurapopo-_-

Bisakah mencoba menghargai saya? *jiah*

WANNA GIVE ME REVIEW, PLEASE?