"Kau benar." Chanyeol membenarkan, sudah tahu apa yang akan dikatakan Daehan. Daehan menepuk-nepuk pundaknya. "Tidak salah menjadi gay, hyung. Aku sendiri pernah berpacaran dengan namja. Dan, aku, ehm... bagaimana ya, kau sedang patah hati, hyung?" Tanya Daehan berantakan.
"Wah, kau juga gay. Dan kau, masih kecil, berpacaran? Hah? Aku tak menyangka anak kecil sepertimu..." Ucap Chanyeol, masih menanggapi pengakuan Daehan. "Kau tidak tahu bagaimana rasanya ketika orang yang kau cintai, namja, berpacaran dengan yeoja yang sudah cukup membuktikan bahwa orang yang kau cintai itu normal, dan ditambah fakta kalau namja yang kau cintai itu ternyata sedang dimanfaatkan oleh yeojachingunya sendiri, sehingga kau yang mencintai namja tersebut berusaha untuk menyelamatkan namja yang kau cintai itu, tapi malah mendapatkan tamparan dari namja yang kau cintai... Kau tidak tahu perasaanku, kan?" Chanyeol melanjutkan, tatapannya mengarah ke arah Baekhyun dan Taeyeon yang terlihat mesra, menatapnya dengan sendu. Daehan menatap Chanyeol sedih, seolah-olah ikut merasakan apa yang dirasakan Chanyeol saat ini. Chanyeol juga entah bagaimana, bisa dengan santainya mengungkapkan perasaannya tanpa beban sekalipun pada bocah berumur 14 tahun.
"Hyung, tenanglah. Aku yakin, jika kau benar-benar tulus mencintainya, kau bisa mendapatkannya. Atau kalau tidakpun, setidaknya kau bisa menyelamatkan Baekhyun hyung dari Taeyeon noona yang memanfaatkannya. Percayalah, hyung, kebenaran akan selalu menang jika melawan kejahatan." Ucap Daehan, merangkul Chanyeol dan mengusap pundak Chanyeol, menenangkan. Chanyeol tersenyum kecil, tak menyangka bocah 14 tahun yang baru dikenalnya hari ini bisa berpikiran dewasa seperti itu.
"Gomawo, Daehan-ah." Ucap Chanyeol tulus, dan Daehan mengangguk. "Nde, cheonma hyung."
Tiba-tiba bianglala berhenti. Sepertinya memang sengaja dihentikan. Tempat Chanyeol dan Daehan kini di tempat yang hampir tertinggi, sedangkan tempat Baekhyun dan Taeyeon di tempat yang teratas. Chanyeol mendapati Baekhyun mengatakan saranghae ke arah Taeyeon (terlihat dari gerakan mulut Baekhyun) lalu mendekatkan wajahnya ke arah Taeyeon. Dan bibir Baekhyun menyentuh bibir Taeyeon. Bibir Baekhyun terlihat bergerak, melumat lembut bibir Taeyeon. Ciuman yang manis tapi menyesakkan bagi Chanyeol yang melihat.
"Jangan dilihat, hyung." Tiba-tiba suara Daehan terdengar. Chanyeol mengalihkan pandangannya ke arah Daehan dan tersenyum. "Gwaenchana, Daehan-ah. Gomawo."
"Kau tahu hyung," Daehan menatap Chanyeol. "Aku baru tahu kalau Chanyeol yang di belakang panggung bisa serapuh ini, padahal saat kau di atas panggung terlihat kuat, tak kenal lelah tersenyum lebar seperti orang idiot seolah semuanya tidak apa-apa. Tapi pada kenyataannya—astaga, kau menangis, hyung?"
Chanyeol sontak menyentuh pipinya. Basah. Ya Tuhan, ia tidak menyadarinya. Daehan tampak menghela nafas dan tangannya terjulur untuk membuka kaca mata Chanyeol dan menghapus air mata Chanyeol. "Ck, hyung. Dengar, jangan menjadi lemah hanya karena cinta. Seharusnya kau harus bisa menguasai hatimu, bukan hatimu yang menguasai tubuhmu. Pokoknya aku tidak mau mendengar Chanyeol menangis lagi. Arraseo, hyung?"
"Arraseo." Chanyeol tersenyum dan mengusap puncak kepala Daehan. Daehan ikut tersenyum. "Ini baru Chanyeol yang ku tahu."
"Oh kita sudah sampai bawah." Ucap Chanyeol. "Ayo keluar."
Dengan sigap Chanyeol menggandeng tangan Daehan dan menarik Daehan lembut. Ia berjalan santai bersama Daehan, hingga siluet eomma Daehan terlihat. Masih setia berdiri di tempatnya tadi. Chanyeol tersenyum ke arah eomma Daehan. "Nyonya, ini Daehan. Gomawo sudah mengijinkan Daehan menemaniku, dia anak yang sangat baik."
Eomma Gongchan tersenyum lembut. "Iya, Chanyeol. Terima kasih juga sudah menemani anakku naik bianglala." Chanyeol mengangguk. "Baiklah, saya harus pergi. Ada pekerjaan yang harus saya lakukan. Saya permisi dulu, senang bertemu kalian."
Chanyeol menyunggingkan senyuman, yang sebenarnya terlihat menyedihkan. Begitu berbalik untuk meninggalkan eomma Gongchan beserta Gongchan, air matanya mengalir. Ia tidak peduli lagi jika mungkin ada fans yang menyadarinya, atau mungkin ada wartawan di sini? Masa bodoh. Hatinya sakit, rasanya seperti dicabik-cabik. Meskipun percakapannya dengan Gongchan tadi cukup membangkitkan semangatnya, tapi tak urung hatinya masih sakit. Dan air matanya benar-benar tidak bisa di tahan. Biarlah, batin Chanyeol. Semoga ini jadi air mata yang terakhir.
Eomma Gongchan menoleh ke arah Gongchan yang menatap Chanyeol iba. "Gongchan, ada apa dengan Chanyeol?"
"Tidak apa, eomma." Gongchan tersenyum kecil, penuh arti. Masih menatap punggung Chanyeol yang menjauh dengan iba. "Hyung sedang patah hati."
Dan kembali ke Chanyeol, ia masih berjalan. Tak ada semangat. Tangannya terkepal, tapi lemah. Ia tidak menyembunyikan isakannya, meskipun ia terisak pelan. Tak peduli dengan tatapan aneh dari pengunjung lain. Yang ia pikirkan adalah bagaimana ia sampai dorm dan menggunakan waktu yang tersisa untuk mengistirahatkan dirinya sebelum acara jam satu nanti.
Chanyeol mengangkat tangannya untuk melihat jam yang terpasang apik di pergelangan tangan kirinya. Jam 11.30. Berarti sudah 2 jam ia di sini. Entah di mana Baekhyun dan Taeyeon sekarang ia tidak peduli. Hidupnya mungkin saat ini sudah dipenuhi kata 'tidak peduli'.
Setelah setengah jam perjalanan, akhirnya Chanyeol sampai di dorm. Begitu ia sadar sepenuhnya, ia sudah di dalam dengan tatapan khawatir dari member lain. Baekhyun belum pulang. Ah, lupakan.
"...Chanyeol? Kau kenapa?" Tanya Kyungsoo. Kai menyentuh pundak Chanyeol. "Sebaiknya kau duduk dulu, hyung. Sehun-ah, siapkan es batu dan kompres untuk mengompres mata Chanyeol hyung."
"Nan gwaenchana... Ada apa dengan mataku?" Ucap Chanyeol setelah mendudukkan badan lemasnya di sofa ruang tengah dibantu Kai. Tangan Chanyeol perlahan terangkat, menyentuh salah satu matanya. "Matamu bengkak. Kau menangis?" Ucap Kai, memberi penjelasan, lalu menghela nafas.
"A-aku—"
"Kau menangisinya lagi, ya kan? Aku yakin kau tadi mengikuti Baekhyun dan Taeyeon berkencan." Ucap Kai, memotong perkataan Chanyeol. Kai memutuskan bangkit dari tempatnya, berniat menyusul Sehun yang entah bagaimana lama sekali. Baru selangkah, Kai merasakan ada yang menahan pergelangan tangannya, tangan Chanyeol.
"Wae?" Tanya Kai. "Aku mau menyusul Sehun."
"Kai, setelah acara kita nanti... Aku ingin semua member kecuali Baekhyun berkumpul di kamarmu atau Suho hyung. Ada yang ingin aku bicarakan." Ucap Chanyeol lemah. Kai mengangguk. "Arraseo. Sekarang aku susul Sehun dulu. Kita harus menghilangkan bengkak di matamu sebelum Baekhyun melihat dan acara kita berlangsung."
Chanyeol mengangguk pelan dan melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Kai. Kai yang sudah terlepas langsung berjalan cepat menuju dapur. Tak lama kemudian, Kai sudah kembali dengan membawa baskom, es batu dan kain yang digunakan untuk mengompres. Sehun mengekor di belakang Kai.
"Berbaringlah hyung. Biar aku dan Sehun mengompres matamu. Oh ya, Kyungsoo sedang membuat teh hangat. Lebih baik setelah aku mengompres matamu, kau minum tehnya agar kau lebih tenang." Ucap Kai setelah sampai di hadapan Chanyeol. Sehun mengambil barang-barang yang tadi di bawa Kai, lalu mulai mengompres mata Chanyeol yang sudah berbaring di sofa dibantu Kai.
10 menit kemudian, Kai dan Sehun berhenti mengompres mata Chanyeol. Mata Chanyeol sudah terlihat lebih baik dibandingkan yang tadi. Lalu Kyungsoo datang membawa secangkir teh hangat. "Chanyeol, minumlah. Nanti keburu dingin." Ucap Kyungsoo dan menyodorkan cangkir di tangannya.
Chanyeol menerima cangkir tersebut dan meminum tehnya perlahan. Merasa penasaran, Kyungsoo mengulurkan tangannya dan menyentuhkan punggung telapak tangannya pada dahi Chanyeol. Kyungsoo menghela nafas, mengetahui ini akan terjadi. "Kau demam, Chanyeol hyung. Kau masih kuat untuk acara jam 1?"
"Aku baik-baik saja, Soo. Aku mungkin masih kuat." Ucap Chanyeol, tersenyum tipis. Kyungsoo hanya mengangguk, mencoba mempercayai ucapan Chanyeol. Suho tiba-tiba keluar dari kamarnya dan berteriak. "Hey memberdeul! Sekarang siap-siap secepat mungkin 15 menit lagi kita berangkat!"
Kai dan Sehun langung membereskan barang-barang yang tadi digunakan untuk mengompres mata Chanyeol, lalu masuk ke kamarnya masing-masing. Kyungsoo menyambar cangkir kosong yang baru saja diletakkan Chanyeol di meja kecil yang terletak di dekat sofa, lalu membawanya ke wastafel di dapur dan ia menyusul Kai ke kamar. Chanyeol perlahan bangkit dan masuk ke kamarnya, berganti baju.
Baru saja Chanyeol membuka lemari untuk mengambil kemeja dan celana, tiba-tiba pintu kamar terbuka dan Baekhyun masuk kamar sedikit terburu-buru. Chanyeol memilih mengabaikannya dan berganti baju. Baekhyun diam, membuka lemari dan mengambil kaos serta celana, lalu mengganti pakaiannya.
Chanyeol yang selesai dahulu, menyambar cepat jam tangan dan handphone-nya yang tergeletak di meja samping ranjang, lalu beranjak keluar. Namun belum sempat tangannya menyentuh gagang pintu, tiba-tiba Baekhyun bersuara. "Yeol."
Tangan Chanyeol yang tadi terangkat untuk menyentuh gagang pintu, kini terhenti dan kembali menurunkan tangannya. Perlahan Chanyeol membalikkan badannya menghadap Baekhyun yang menatap Chanyeol dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. "Wae, Baek—ehm, hyung?"
Alih-alih menyebut nama Baekhyun, Chanyeol memilih menyebut Baekhyun dengan sebutan hyung. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Baekhyun sendiri tampak tidak mempedulikannya. "Aku... melihatmu. Saat tadi aku berkencan di Lotte World."
Chanyeol merasa tubuhnya sedikit menegang. Baekhyun menyadarinya? Batin Chanyeol. Tapi sejurus kemudian Chanyeol kembali dapat menguasai keterkejutannya dan menyunggingkan senyum tipis ke arah Baekhyun. "Kau salah lihat. Aku bukan orang yang kurang kerjaan untuk membuntuti orang yang berkencan."
Bilang saja Chanyeol munafik, Chanyeol sendiri tidak keberatan untuk menyebut dirinya itu munafik. Mungkin manusia paling munafik di muka bumi ini?
"Tidak mungkin." Ucap Baekhyun, nampak tak percaya dengan Chanyeol. Matanya menyipit, seolah mengintrograsi Chanyeol. "Aku benar-benar melihatmu. Saat mengantri di bianglala. Kau bersama namja kecil saat itu. Wajah itu benar-benar mirip denganmu. Suaranya juga—"
"Hyung." Sela Chanyeol. Ini benar-benar harus dihentikan atau ia akan terancam. "Sudahlah. Aku tidak di sana, kau bisa tanya memberdeul. Aku keluar dulu."
Chanyeol menyunggingkan senyum kepada Baekhyun sebelum akhirnya berbalik untuk keluar kamar. Baekhyun masih di tempatnya, menatap punggung Chanyeol yang menjauh. Dahinya mengerut, berusaha mencerna antara pikirannya dan perkataan Chanyeol. Namun akhirnya Baekhyun menyerah dan memilih segera memakai bajunya. "Aku benar-benar membencimu, Park Chanyeol."
.
.
.
"Oh, hai Chanyeol. Mana Baekhyun?" Sapa Suho saat Chanyeol sudah sampai di mobil van EXO-K. Chanyeol tersenyum. "Oh, hai Suho hyung. Baekhyun masih mengganti bajunya, mungkin sebentar lagi smpai." Ucap Chanyeol dan memasuki van. Ia memilih duduk di tempat yang biasanya, paling belakang, pojok dekat jendela.
"Hai memberdeul." Terdengar suara Baekhyun setelah beberapa saat Chanyeol mendudukkan dirinya. Kai, Sehun dan Suho membalas sapaan Baekhyun. Kyungsoo masih berbicara dengan manager, sedangkan Chanyeol memilih mendengarkan lagi di iPod-nya melalui headset, lalu memejamkan matanya.
"Sehun-ah, aku ingin duduk di tempatmu boleh, kan?" Suara Baekhyun terdengar, samar-samar di telinga Chanyeol yang disumpal headset. Tapi Chanyeol memilih tetap memejamkan matanya, sama sekali tak berniat membuka matanya barang sedikitpun. Sehun memandangnya penuh tanda tanya, hampir mengangguk menyetujui keinginan Baekhyun tapi Kyungsoo menyela terlebih dahulu. "Tidak. Sehun, kau duduk di situ. Dan Baekhyun, duduklah di tempatmu."
Sehun hanya menurut. Baekhyun melirik Kyungsoo sebal, tapi Kyungsoo mengabaikannya. "Pak, ayo berangkat." Ucap Kyungsoo pada sang sopir. Dan Baekhyun dengan terpaksa duduk di tempatnya. Tempat yang satu-satunya tersisa.
Di samping Park Chanyeol.
.
.
.
.
.
Hampir 5 jam mereka gunakan untuk acara yang mereka hadir, dan kini semua member EXO-K sedang dalam perjalanan kembali ke dorm. Chanyeol menepuk pundak Kai, memberi isyarat, dan Kai mengangguk mengerti. Kai mengambil handphone-nya yang berada di kantung celananya, lalu mengetikkan pesan singkat untuk semua member terkecuali dirinya sendiri, Chanyeol, dan Baekhyun.
'Memberdeul. Sesampai di dorm, kita berkumpul di kamarku dan Kyungsoo. Tanpa Baekhyun.'
Setelah menyentuh tulisan 'send' pada layar handphone-nya, beberapa detik kemudian langsung terdengar bunyi nyaring yang beragam dari handphone member lainnya, hampir berbarengan. Dan tentu saja kecuali Baekhyun. Semuanya langsung mengecek handphone masing-masing, lalu melirik Kai yang tersenyum penuh arti.
Chanyeol tersenyum ke arah Kai dan berbisik pelan. "Gomawo, Kai."
Pada malam harinya, begitu sampai di dorm, semua member duduk mengistirahatkan dirinya di sofa. Atau sebenarnya adalah menunggu Baekhyun masuk kamar, sehingga Baekhyun tidak mencurigai jika adanya pertemuan mendadak antar member nanti di kamar Kai dan Kyungsoo.
Chanyeol masuk ke kamarnya dan Baekhyun, lalu melangkah menuju meja di samping ranjang. Perlahan, Chanyeol membuka laci yang paling atas. Terdapat berkas-berkas yang Chanyeol bahkan lupa apa saja isinya, beberapa album foto entah itu miliknya atau milik Baekhyun, beberapa kaca mata yang biasa digunakannya atau Baekhyun untuk menjadi aksesoris.
Tapi yang paling penting adalah benda lonjong yang tergeletak di samping album foto di dalam laci itu. Bolpoin rekam. Dengan cepat, Chanyeol menyambar bolpoin rekam tersebut dan menyimpannya di kantung celananya.
Tepat saat Chanyeol menutup laci, terdengar pintu terbuka dan tak perlu dijelaskan lagi bahwa itu Baekhyun. Tangan kanan Baekhyun menggenggam handphone yang sejak tadi didekatkan di telinga. Dan tidak perlu bertanyapun, Chanyeol tahu siapa yang berbicara dengan Baekhyun di telepon itu.
"Nde, chagi, aku baru sampai dorm..."
"Apa? Baiklah, kapan?"
"Baiklah... Tunggu aku, arraseo? Saranghae~"
"Aish, jawablah, baby..."
"Hahaha, okey, bye."
Diam-diam Chanyeol mengepalkan tangannya, lalu dengan tanpa suara ia berjalan keluar kamar. Menemui member lainnya yang mungkin sudah menunggunya di kamar Kai dan Kyungsoo. Meninggalkan Baekhyun yang mungkin saja masih asik dengan Taeyeon noona.
"Hai memberdeul." Sapa Chanyeol begitu masuk ke kamar Kai dan Kyungsoo. Chanyeol menutup pintu dan berjalan ke arah ranjang, mendudukkan dirinya di antara Suho dan Kyungsoo.
"Ada apa, hyung?" Tanya Sehun. Chanyeol menatap satu persatu member dengan tatapan sendu. "Kau tahu." Ucap Chanyeol, memulai penjelasan. "Perkiraan Kyungsoo benar. Taeyeon noona memang mengatakan hal yang tidak bisa dijelaskan kepada Baekhyun. Ia memfitnah kita."
"Sudah kuduga." Gumam Sehun. Rahang Kyungsoo nampak mengeras dan tangannya terkepal. "Cih, si jalang itu... Dasar brengsek."
Kai masih diam, menatap Chanyeol, mengijinkan Chanyeol untuk berbicara lebih lanjut. Suho sendiri terlihat menenangkan dirinya agar tidak meledak.
"Aku... tadi pagi mengikuti Baekhyun dan Taeyeon yang berkencan di Lotte World. Tadi saat kita akan berangkat untuk acara jam 1 siang tadi, dia sempat curiga padaku dan bertanya apakah aku mengikutinya, tapi untung saja aku cepat mengelak. Dan saat aku mengikuti mereka, aku merekam... beberapa hal penting." Chanyeol kembali berbicara, lalu menyodorkan bolpoin rekamnya.
"Ini... bolpoin rekam?" Tanya Kai, menerima sodoran bolpoin rekam dari Chanyeol. Chanyeol mengangguk. "Iya. Tidak banyak, sebenarnya. Mungkin mereka sudah membahasnya kemarin."
Kai menekan tombol, menyalakan file rekaman yang pertama.
.
"...Hey, Taenggo, kau semakin hari bertambah cantik, kau tahu?"
"Hehehe, kau bisa saja oppa. Kau juga semain tampan dan manis."
"Ahh, gomawo chagi. Tunggu dulu, apa lukamu sudah baikan?"
"Aku tidak apa-apa, Baekhyun oppa."
"Aish, ini gara-gara Chanyeol sialan itu. Aku ingin menghajarnya, kau tahu? Berani-beraninya ia melukai yeojachingu-ku! Aku benar-benar membencinya."
"Sudahlah, oppa. Aku juga tidak tahu apa yang mereka pikirkan. Mereka memaki-makiku, mengatakan aku terlalu tua, dan tidak pantas untukmu. Aku sedih sekali. Padahal aku tidak tahu apa-apa dan selalu bersikap baik pada mereka."
"Jangan pikirkan mereka, chagi. Bagiku, kau adalah gadis tercantik di dunia ini. Saranghae."
"Nado saranghae."
.
Tak terdengar suara lagi, yang menunjukkan bahwa file rekaman sudah selesai. Sehun menganga kecil. "Dia memfitnah kita!"
"Dasar bermuka dua." Geram Kyungsoo. Suho mengerutkan dahinya, tersinggung. "Sebenarnya apa salah kita sampai dia seperti itu? Sayang sekali dia sunbae, jadinya kita sebisa mungkin harus menghormatinya."
"Hah... Aku mulai berpikir, apa sunbae yang seperti itu masih patut dihormati? Dihargai?" Ucap Kai, masih menanggapi Suho. Chanyeol menghela nafas. "Itu belum seberapa. Lagipula, di sini entah mengapa Taeyeon lebih menyalahkanku."
"Benar juga. Padahal kemarin yang beringas itu Kyungsoo." Ucap Kai, dan Kyungsoo melirik Kai tajam. Kai hanya menghendikkan bahunya, mengabaikan tatapan tajam Kyungsoo yang seperti ingin memakannya hidup-hidup.
"Masih ada file lagi." Chanyeol menengahi, dan Kai dengan sigap langsung menyalakan file lainnya.
.
"...lumayan untuk melupakan kejadian tempo hari."
"Sebenarnya aku masih tidak begitu mengerti apa yang terjadi. Heran saja. Maksudku, member-memberku tidak biasanya bermain tangan, apalagi Chanyeol. Selama aku bersama dengan mereka, baru kali ini Chanyeol bermain kasar pada perempuan, sunbae pula."
"Tidak. Menurutku Chanyeol itu menyebalkan. Dia, Kyungsoo dan lainnya mengatakan aku hanya memanfaatkanmu. Katanya agar aku tenar—"
"—padahal kan aku mencintaimu tulus... Kau bisa merasakan ketulusanku, kan? Saranghae, Baekhyun oppa."
"Aku tahu, Taenggo. Nado saranghae."
.
"Wow." Gumam Suho. "Dia termasuk lumayan jujur meskipun akhir-akhirnya apa yang dia katakan menyimpang." Chanyeol tertawa, dipaksakan. "Dia hampir menjebak dirinya sendiri."
"Arrgggh aku tidak tahu apa yang harus kukatakan untuk ini." Ucap Kyungsoo frustasi, lantas mengacak rambutnya kesal. Sehun yang kebetulan berdiri di samping Kyungsoo langsung merangkul Kyungsoo, menenangkan. "Sabar hyung, sabar."
"Bagaimana mau sabar, hah? Dia itu manusia paling keterlaluan yang pernah kukenal!" Lagi-lagi Kyungsoo menggeram kesal. Sehun berdeham. "Ehm, hyungdeul. Aku mau menunjukkan—"
CKLEK!
"Memberdeul, apa yang kalian lakukan di—" Tiba-tiba Baekhyun masuk. Namun ucapannya terhenti ketika matanya menangkap sesuatu. Bolpoin rekam di genggaman Kai. "Itu... bolpoin rekam, kan?"
Kai menggeleng perlahan, gugup. Baekhyun berdecak. "Jangan bohong. Aku sudah berada di balik pintu daritadi."
Keadaan langsung sunyi. Keringat dingin mulai mengalir dari dahi Chanyeol. Dan suasana meriuh ketika Baekhyun berusaha merebut bolpoin rekam tersebut dari tangan Kai.
"Kai, berikan padaku! Ka—argh, jangan membantah!" Geram Baekhyun, masih berusaha. Kai menggeleng keras-keras dan berusaha menghindarkan bolpoin rekam di tangannya dari tangan Baekhyun, hingga akhirnya sebuah tangan merebut bolpoin rekam tersebut. Bukan Baekhyun.
Kyungsoo.
"H-hyung—"
"Kau mau ini, Baek? Silahkan. Dengar."
.
"...lumayan untuk melupakan kejadian tempo hari."
"Sebenarnya aku masih tidak begitu mengerti apa yang terjadi. Heran saja. Maksudku, member-memberku tidak biasanya bermain tangan, apalagi Chanyeol. Selama aku bersama dengan mereka, baru kali ini Chanyeol bermain kasar pada perempuan, sunbae pula."
"Tidak. Menurutku Chanyeol itu menyebalkan. Dia, Kyungsoo dan lainnya mengatakan aku hanya memanfaatkanmu. Katanya agar aku tenar—"
"—padahal kan aku mencintaimu tulus... Kau bisa merasakan ketulusanku, kan? Saranghae, Baekhyun oppa."
"Aku tahu, Taenggo. Nado saranghae."
.
Baekhyun nampak terdiam di tempatnya. Seolah membeku, namun kemudian tatapannya jatuh pada Chanyeol. Menyadari sesuatu yang ganjal. "Chanyeol."
Chanyeol menegang di tempatnya.
"KAU MEMBUNTUTIKU, HAH?!"
PLAKK
Semua member menatap Baekhyun horor, tak terkecuali Chanyeol. Tak menyangka akan mendapat bentakan... apalagi tamparan. Kyungsoo hampir saja menampar balik Baekhyun kalau saja Suho dan Sehun tidak menahannya.
"H-hyung... Aku bisa jelaskan—"
"Untuk apa dijelaskan, hah?! Semuanya sudah jelas! Kau membuntutiku, lalu kau dan yang lainnya berusaha menjelek-jelekkan dan menghina Taeyeon dengan fitnahan kalian, kan?!" Bentak Baekhyun.
PLAKK
Baekhyun menganga ketika pipinya ditampar oleh Sehun. Terkejut. Bahkan yang lainnya ikut terkejut. Sehun yang biasanya tenang dan kalem... terlebih dia maknae. Dan sekarang...?
"S-sehun... K-kau menamparku?"
Sehun diam, tak menanggapi Baekhyun yang sepertinya masih terguncang karena ditampar oleh Sehun. Ia membuka lockscreen handphone-nya, lalu tiba-tiba suara Taeyeon terdengar. Rekaman.
.
"—Suho hyung, lanjutkan kalau begitu."
"Baiklah, sampai mana tadi? Oh iya, ia melempar beberapa pertanyaan dengan sengit. Seperti, bagaimana Baekhyun bisa tertarik pada, maaf, jalang sepertinya yang membuat sahabatnya sedih... Lalu atas dasar apa Taeyeon noona mengencani Baekhyun, ehm, ada olok-olokan juga seperti, sangat menyedihkan Baekhyun bisa berpacaran dengan Taeyeon noona, lalu apa lagi ya? Pokoknya, intinya seperti itu."
"Begitu? Kyungsoo, aku benar-benar akan mengajari sopan-santun yang baik kepadamu setelah ini."
"Dan sekali lagi kukatakan, kau belum tahu apapun."
"Lalu, apa yang dikatakan Taeyeon?"
"Oh, aku harus membuat pengakuan terhadapmu juga, namja menyedihkan?"
"Kau mau tahu apa yang ku jawab atas perkataan Kyungsoo?"
"Aku bilang... Aku mengencani Baekhyun, dengan sengaja, untuk memanfaatkannya."
"Apa? Memanfaatkan kau bilang?"
"Ya, memanfaatkan."
"Kau tahu si KYM sialan itu hanya memandang EXO, apa-apa serba EXO, lalu boyband dan girlband seperti kami dicampakkan... Kau kira aku terima? Dan melihat Baekhyun malang yang kelihatannya sangat mengidolakanku dan mudah dipengaruhi itu... Kau tahu sendiri, aku dapat ide dari itu."
"Dia sangat mudah dipengaruhi, oh Baekhyunnie yang malang... Untuk fans-fansku, berkomentar di akun Instagram dan berjalan di airport dengan ekspresi menyedihkan penuh air mata itu, ah, hanya membutuhkan sedikit akting dan semua percaya."
"Dan untuk Baekhyunnie tersayang? Fans-fansnya yang menggila itu? Oh, terima saja nasibmu Baekhyun sayang, hahahaha."
*CUIH* (Chanyeol meludah)
"Dengarkan aku nona Kim Taeyeon yang terhormat, aku tidak akan membiarkanmu menyakiti Baekhyun sedikitpun."
*PLAKK* (Yang ini saat Chanyeol menampar Taeyeon)
"Chanyeol! Apa yang kau lakukan pada yeojachingu-ku!"
"Kau. Akan berakhir di tanganku."
.
Member lain (kecuali Sehun dan Baekhyun) menatap Sehun tak percaya. Tidak ada yang menyangka bahwa Sehun mempunyai rekaman kejadian waktu itu. Tidak ada yang tahu bahwa saat itu Sehun memegang handphone-nya. Tidak ada yang menyangka, tidak ada yang tahu, tidak ada yang menyadarinya.
Baekhyun sendiri, hanya mematung di tempat. Semua menjadi jelas. Mengapa Chanyeol menampar Taeyeon, mengapa Taeyeon bercerita ketika Kyungsoo memperlakukannya dengan ganas, semuanya menjadi jelas. Tubuh Baekhyun bergetar. Tidak menyangka apa yang dilakukan semua member... Apa yang dilakukan Chanyeol...
Dan Baekhyun menangis di tempat. Terisak keras. Perasaannya terombang-ambing. Antara kesal, jengkel, marah, sedih, kecewa, bersalah... Perasaannya bercampur aduk, dan Baekhyun tidak tahu harus bagaimana mengatasi perasaannya.
Mengapa Taeyeon begitu kejam? Tidak pernah ada yang menduga dibalik wajah malaikat seorang Kim Taeyeon tersimpan hati yang sangat kejam, dan Baekhyun benar-benar bersumpah tidak ada yang menduga itu.
Semua kebaikan yang selama ini ia berikan kepada Taeyeon, kasih sayang, cinta, apapun...
Baekhyun benar-benar merasa kecewa. Sangat.
Lalu rasa bersalah yang benar-benar besar, terhadap para member. Terutama Chanyeol. Ia yang sebenarnya tidak tahu apa-apa, hanya membela yeojachingunya yang ternyata pengkhianat itu, tidak tahu apa-apa tiba-tiba datang dan menampar Chanyeol, lalu memurkai semua member...
Tiba-tiba sebuah pasang lengan memeluk tubuh mungil Baekhyun. Baekhyun cukup terkejut, tapi ia benar-benar tidak bergerak dari tempatnya. Bahkan untuk sekedar mendongak, untuk mengetahui siapa yang memeluknya. Ia masih dilanda shock.
Meskipun Baekhyun sebenarnya tahu siapa yang memeluknya.
Beberapa waktu terakhir tidak berada di dekat namja ini, tidak berarti Baekhyun akan melupakan wangi tubuh ini. Postur tubuhnya yang lebih tinggi dari Baekhyun. Parfum vanilla. Hangat tubuhnya, yang masih sama rasanya seperti dulu namja ini memeluknya.
Tapi Baekhyun tidak tahu mengapa namja ini masih mau memeluknya, menenangkannya... Padahal sikap kurang ajar yang ia lakukan kepada namja ini, sangatlah tidak pantas untuk dibalas dengan kasih sayang dari namja ini. Baekhyun benar-benar tidak tahu mengapa...
...seorang Park Chanyeol masih mau memeluknya.
.
.
.
TBC
.
.
.
Well, pertama-tama saya mau kasih penjelasan dulu buat typo saya kemaren-_-
Sebelum saya nulis nama 'Daehan', sebenernya karakter Daehan itu Gongchan'-' Tapi kemudian saya inget kalo saya buat fanfic ini itu berdasarkan berita yang ada (meskipun ini udah kelewat melenceng), dan ga mungkin juga kan Gongchan tiba-tiba berubah jadi bocah umur 14 tahun-,-
Jadi akhirnya saya ganti Gongchan menjadi Daehan, dan saya sukses menambahkan other cast yang seharusnya pantang saya tambahin di fanfic ini, lol.
Semoga di chap ini gaada typo ya, aminnn. Dan untuk chap sebelumnya, kayaknya beberapa typo udah saya benerin.
Untuk kritik sarannya, terima kasih. Dan buat siders, capek ngingetin saya. Coba hargai saya dong.
BUAT YANG UDAH REVIEW, MAKASIH YAAA MAAF SAYA GA BISA BALAS DULU HEHE.
Dan buat request request, terima kasih juga yaa. Tapi maap saya belum tentu bisa ngabulin, soalnya di laptop saya, cerita ini udah selesaii. Cuma saya updet potong potong gituu, hehe. Jadi maap yaaa.
WANNA GIVE ME REVIEW?
