Chanyeol benar-benar, sangat terkejut karena ternyata Sehun mempunyai rekaman ketika Taeyeon mengakui kalau ia berpacaran dengan Baekhyun untuk memanfaatkannya. Dirinya juga tidak mengerti mengapa Sehun tidak memberitahukan padanya atau member lainnya bahwa dia mempunyai rekaman tentang itu.
Dan Chanyeol cukup bersyukur karena ia mengikuti Baekhyun berkencan hari ini, jadi rekaman yang ia punya dan rekaman milik Sehun berhubungan. Sangat membuktikan, dengan akurat, bahwa Taeyeon berbohong kepada Baekhyun, hanya memanfaatkan Baekhyun.
Begitu Chanyeol sadar sepenuhnya dari keterkejutannya pada Sehun, ia mendapati Baekhyun terisak di tempatnya, begitu ia mengalihkan pandangannya ke arah Baekhyun. Ia bimbang dalam diam, haruskah ia membiarkannya? Atau menenangkannya? Menenangkannya dengan cara apa? Atau, bagaimana jika Baekhyun menolak?
Tapi melihat Baekhyun yang sepertinya sangat terguncang, Chanyeol memutuskan untuk melangkah mendekati Baekhyun, dan ia sendiri entah bagaimana dan entah mendapatkan keberanian dari mana, tangannya terulur, memeluk tubuh Baekhyun.
Dalam diam, Chanyeol sudah menyiapkan dirinya jika ia mendapatkan penolakan, semburan kemarahan, atau mungkin tamparan dari Baekhyun. Tapi Baekhyun hanya diam, meskipun Chanyeol sebelumnya dapat menyadari tubuh Baekhyun menegang sesaat. Terkejut mungkin. Dan hingga saat ini, Baekhyun tidak menolak pelukannya. Chanyeol menghela nafas pelan, lega. Meskipun Baekhyun tidak membalas pelukannya, tapi setidaknya itu lebih baik. Lebih baik daripada Baekhyun menamparnya. Dan Chanyeol, bersumpah dalam hatinya, ia sangat bersyukur.
Chanyeol merasa Baekhyun sedikit lebih baik setelah beberapa menit terlewat dan masih dengan posisi Chanyeol memeluknya. Dan untuk memastikan, Chanyeol mencoba bertanya. Dengan suara yang sangat pelan, tapi di ruangan yang entah bagaimana bisa menjadi sunyi itu, suara Chanyeol bisa terdengar hingga ke penjuru ruangan.
"Baekhyun... Sudah baikan?"
Baekhyun mengangguk pelan, tanpa suara. Chanyeol tersenyum kecil, yang meskipun ia tidak mendengar suara Baekhyun, tapi anggukannya terasa jelas dari bahunya. Perlahan, Chanyeol melepaskan pelukannya. Dan tatapan mereka bertemu.
Chanyeol dan Baekhyun. Menatap satu sama lain. Tepat dari mata ke mata, dalam diam. Seolah masing-masing ingin menembus mata yang ditatap. Bagi Chanyeol, mata Baekhyun itu benar-benar sangat indah. Mata yang selalu membentuk eye smile ketika Baekhyun tersenyum. Mata yang menyipit manis ketika Baekhyun sedang tertawa lebar. Mata yang hanya dengan sekali menatapnya, Chanyeol bisa mengetahui apa yang berada di dalam pikiran Baekhyun.
Lain bagi Baekhyun. Mata Chanyeol yang sempurna, selalu memancarkan kebahagiaan. Baekhyun bukannya berharap tinggi, tapi Baekhyun menyadari bahwa mata Chanyeol akan memancarkan tatapan yang berbeda saat dirinya dan Chanyeol berhadapan. Tatapan matanya berbeda ketika menatap dirinya. Dan itu hanya dirinya. Baekhyun memperhatikan ketika Chanyeol menatap Suho hyung, Sehun, Kyungsoo, Kai... Tapi tatapannya berbeda dengan tatapan Chanyeol kepada dirinya. Sama sekali berbeda. Mata Chanyeol, hanya dengan menatapnya bisa membuat orang lain, termasuk Baekhyun, menjadi lebih tenang. Seolah tatapan Chanyeol ikut mengirimkan rasa bahagia yang tiada habisnya. Seolah Chanyeol, baik situasi baik atau buruk, selalu merasa tenang, dan dilingkupi kebahagiaan.
Dan bagi Baekhyun, mata Chanyeol itu memancarkan... kebaikan. Ketulusan. Kepolosan yang berbeda. Tatapan mata Chanyeol itu meneduhkan jiwa. Menenangkan jiwa. Pokoknya, hanya dengan menatap mata Chanyeol, seolah rasa kesedihan, kepedihan, akan langsung sirna dalam sekejap. Itu bagi Baekhyun.
Chanyeol memundurkan dirinya, dan kembali melangkah ke tempatnya ia berdiri sebelumnya. Tatapan Baekhyun mengarah kepada member lainnya. Menatapnya satu persatu. Menatap Suho, lalu kepada Kai, Sehun, Kyungsoo, dan kembali jatuh ke Chanyeol. Dan tubuh Baekhyun limbung, Baekhyun jatuh berlutut. Air matanya kembali mengalir, tapi kali ini tanpa isakan.
"Memberdeul..."
Tatapan Baekhyun mengarah ke arah lantai, menunduk. Tidak mempunyai nyali untuk menatap wajah para member lainnya yang bagi Baekhyun sendiri sudah ia anggap sebagai rekan kerja, teman, sahabat, keluarga.
"A-aku tidak tahu kalau selama ini Taeyeon berbohong padaku, mengkhianatiku. Aku dengan bodohnya percaya dengannya yang bahkan tidak kukenal lebih lama dari kalian semua. Aku seolah lebih percaya orang lain daripada keluargaku sendiri..." Bahu Baekhyun berguncang pelan.
"Aku benar-benar minta maaf tidak percaya kepada kalian. Pada Kyungsoo yang ku anggap telah menyerang yeojachinguku dengan beringas, padahal aku tidak tahu bahwa apa yang kau lakukan, Kyungsoo, ternyata itu untuk kebaikanku." Tatapan Baekhyun jatuh ke arah Kyungsoo, menatap Kyungsoo dengan tatapan bersalah dan menyesal yang tinggi.
"Pada Suho hyung. Kai, Sehun... Aku minta maaf." Tatapan Baekhyun beralih ke arah Suho, Sehun dan Kai. "Maaf menyalahkan kalian dan termakan oleh fitnahan Taeyeon noona. Aku malah ikut memfitnah kalian, tanpa menyelidiki lebih jauh terlebih dahulu."
"Dan Chanyeol..." Tatapan Baekhyun kembali beralih, kali ini ke arah Chanyeol yang menatapnya iba. Dan mata Baekhyun memburam, menatap Chanyeol membuat air matanya mengalir lebih banyak. "Maafkan aku. Aku meneriakimu, memarahimu dan membencimu, hanya karena melihat kau memperlakukan yeojachinguku dengan tidak baik. Aku tidak bertanya alasan mengapa kau melakukan itu kepada Taeyeon noona, aku justru menamparmu. Padahal apa yang kau lakukan pada Taeyeon... I-itu, itu demi—"
Baekhyun bangkit, lalu berlari keluar kamar tanpa menyelesaikan kalimatnya. Atau lebih tepatnya ia tidak sanggup. Air matanya mengalir deras, dan tak berhenti meskipun ia berusaha menghapusnya. Justru yang terjadi air matanya mengalir semakin deras.
Ia melanglah cepat ke kamarnya—dan Chanyeol, lalu menutup pintunya serta menguncinya. Tidak peduli kalau mungkin saja nanti Chanyeol akan masuk ke kamar. Rasa bersalah menyelimutinya dan ia tidak tahu... apa yang harus ia lakukan.
Begitu pintu terkunci, Baekhyun jatuh terduduk dan ia menyenderkan badannya pada pintu. Berusaha menenangkan diri. Hingga beberapa menit kemudian, ia mulai tenang. Isakannya juga peralahan telah berhenti. Lalu Baekhyun bangkit, melangkah menuju jendela kamar.
Baekhyun menyibak gorden, lalu membuka jendela. Membiarkan angin malam masuk ke kamar dan menerpa wajahnya. Dengan pelan ia menghela nafas. Tak menyangka hidupnya akan serumit ini.
Dan perlahan, rasa sakit itu muncul. Sakit hati. Perasaan dikhianati. Ditipu, dibohongi, diberi harapan palsu yang ia kira nyata. Baekhyun merasa bodoh. Ia tidak tahu. Saat mendengar rekaman tadi, ia tidak merasa sakit hati, hanya perasaan menyesal pada member lainnya. Tapi kenapa begitu ia sendiri, rasa sakit hatinya pada Taeyeon... baru terasa?
Ia sendiri tidak mengerti. Kenapa? Kenapa dirinya? Apa salahnya?
Lama Baekhyun termenung, hingga ia mendenga ketukan pintu. Baekhyun berjengit, lalu melangkah menuju pintu. Membuka pintu, dan mendapati Chanyeol berdiri tegap dihadapannya.
"Ehm... Baek, tadinya aku tidak ingin mengganggumu dan memilih untuk tidur di sofa. Tapi Suho hyung—"
Kepala Chanyeol menoleh sedikit ke belakang, di mana tempat Suho berada, yang sedang menatap Chanyeol seperti hendak membolongi belakang kepala Chanyeol. Baekhyun mengikuti arah mata Chanyeol.
"—dia tetap memaksaku untuk tidur di kamar, jadi aku terpaksa un—"
"Masuklah." Ucap Baekhyun pelan, tapi cukup untuk menghentikan Chanyeol. Chanyeol diam sebentar, lantas mengangguk dan melangkah masuk. Baekhyun membuka pintu lebih lebar dan sedikit menyingkir, memberikan jalan masuk untuk Chanyeol. Lalu Baekhyun menutup pintunya.
Setelah menutup pintu, Baekhyun berbalik dan kembali melangkah menuju jendela yang masih terbuka. Chanyeol yang sudah duduk di pinggiran kasur menatap pergerakan Baekhyun. "Baekhyun, kau tidak apa-apa?"
Baekhyun tak bergerak dari tempatnya. Hanya terdengar helaan nafas Baekhyun, dan Baekhyun seolah terpaku menatap langit malam dari jendela. Chanyeol mencoba memanggil Baekhyun kembali. "Baekhyun..."
Perlahan, Baekhyun tergerak. Ia menoleh, menatap Chanyeol sebentar, lantas kembali menatap langit malam. "Menurutmu?"
"Hhh..." Chanyeol menghela nafas, lalu terdengar suara decitan ranjang, yang menunjukkan Chanyeol bergerak, bangkit dari tempatnya. Ia melangkah mendekati Baekhyun dan berdiri di sebelahnya. Ikut menatap langit malam dari jendela.
"Kau tahu?" Chanyeol membuka percakapan. "Terkadang cinta itu memang menyakitkan. Hal seperti ini juga sudah biasa terjadi, Baek."
"Jangan sok tahu, Chanyeol." Pertama merasa tersentak, tapi selanjutnya Chanyeol menahan nafas. Terlalu lega, terlalu bahagia karena... Baekhyun menyebut namanya. Baekhyun telah sudi menyebut namanya.
"Aku tidak sok tahu. Aku hanya mengatakan sebenarnya." Jawab Chanyeol, melirik Baekhyun. Baekhyun membalas lirikan Chanyeol. "Kau pernah... merasa sakit hati?"
Chanyeol tertegun. Tiba-tiba ingat bagaimana rasa sakit yang ia rasakan selama ini. Rasa sakit karena mencintai seorang Byun Baekhyun.
Bahkan rasa sakit yang Baekhyun alami sekarang, tidak ada bandingannya daripada rasa sakit yang Chanyeol alami... selama ini.
Merasa tidak mendapat respon, Baekhyun berdecih dan mengalihkan pandangannya ke arah langit malam kembali. "Tidak pernah?"
"Aku pernah merasakannya." Tanggap Chanyeol kemudian. "Bahkan saat ini pun aku masih merasakannya."
"Pada siapa?" Tanya Baekhyun. Chanyeol tersenyum, miris, yang tak terlihat oleh Baekhyun. "Kau tidak perlu tahu."
"Yah." Baekhyun menghentakkan kakinya, lalu menghadapkan dirinya ke arah Chanyeol. "Jahat sekali kau tidak memberi tahuku, hah? Sejak kapan ada rahasia di antara kita?"
Chanyeol mengulum senyumnya mati-matian. Sifat kekanakan Baekhyun yang ia rindukan selama ini... kembali perlahan-lahan. Chanyeol menyeringai kecil, mencoba mengerjai Baekhyun. "Sejak... Kau berpacaran dengan Taeyeon?"
"Kau pikir aku masih sudi berpacaran dengannya setelah apa yang dia lakukan padaku?" Jawab Baekhyun cepat, lalu kembali merenung.
"Lupakan saja." Ucap Chanyeol akhirnya. "Lebih baik kau tidur, sudah malam." Chanyeol menutup jendela serta gordennya, lantas menatap Baekhyun. "Lagipula angin malam tak bagus untukmu." Lanjut Chanyeol.
Baekhyun mengangguk dan melangkah menuju ranjang. Perlahan, Baekhyun membaringkan tubuhnya di ranjang berukuran queen size tersebut. Chanyeol mengikutinya dari belakang, lantas juga berbaring di samping tubuh Baekhyun.
Setelah diam beberapa lama, Chanyeol menoleh ke arah Baekhyun. "Baek."
Baekhyun menoleh. Menatap Chanyeol yang juga menatapnya. "Wae?"
"Aku tak menyangka. Kita bisa seakrab ini dalam beberapa jam." Ucap Chanyeol, mengalihkan tatapannya ke arah lampu dengan tatapan menerawang. Baekhyun menghela nafas. "Aku sendiri juga tidak tahu, Yeol."
"Tapi Baek." Tanggap Chanyeol. "Kau sudah tidak apa-apa?" Diam-diam, Chanyeol melirik ke arah Baekhyun. Namun yang tidak disangkanya, Baekhyun masih menatap ke arahnya.
"Tentu saja aku tidak 'tidak apa-apa'. Kau gila?" Gumam Baekhyun. Chanyeol tersenyum kecil. "Jangan sakit hati terus-menerus, Baek. Sakit hatimu... Itu hal yang sebenarnya tidak terlalu menyakitkan."
"Yah." Ucap Baekhyun, terlihat tak terima. "Jangan asal menilai. Kau kira kau pernah mengalami yang lebih menyakitkan dariku?"
"Tentu saja..." Gumam Chanyeol. "Yang kau rasakan... Tidak ada bandingannya dengan apa yang kurasakan."
"Memang seperti apa yang kau rasakan?" Tanya Baekhyun. "Kau tahu..." Chanyeol diam sejenak. Baekhyun nampak penasaran di tenpatnya. "Tahu apa?"
"Kau tahu cinta terlarang?"
"M-mwo?" Ucap Baekhyun, nampak antara tidak mengerti dan tidak percaya. "Cinta terlarang? Cinta terlarang itu banyak, Yeol. Yang sejenis apa?"
"Intinya orang yang kau cintai adalah orang yang seharusnya tidak kau cintai dan tidak boleh kau cintai." Lanjut Chanyeol, menjelaskan. Baekhyun nampak masih tidak mengerti. "Seperti... apa? Aish, bisakah kau menyebutkan langsung namanya?"
Chanyeol tersenyum kecil melihat Baekhyun yang bergerak penasaran di tempatnya. "Kau mengenal orangnya?"
"Sangat?" Tanya Baekhyun.
"Ya." Jawab Chanyeol. Menatap Baekhyun dengan tatapan menerawang. "Kau sangat mengenalnya."
Dan setelah itu, mereka berdua tertidur dengan pikiran masing-masing.
.
.
.
"Pagi memberdeul." Gumam Chanyeol sambil mengusap matanya, khas orang bangun tidur. Sehun menoleh dahulu, disusul Kyungsoo serta member lainnya yang sudah duduk manis di ruang makan. "Oh, pagi Chanyeol hyung." Balas Sehun. Member lain hanya tersenyum sebisanya dan kembali pada apa yang mereka lakukan sebelumnya.
"Mana Baekhyun?" Tanya Kai. Chanyeol hanya menghendikkan bahunya. "Sedang ganti baju di kamar, dia akan pergi ke dorm SNSD."
"Eh?" Suho menoleh. "Untuk apa?"
"Meluruskan masalah." Jawab Chanyeol seadanya. Kyungsoo meletakkan gelas yang baru saja ia gunakan untuk minum. "Perlukah kita ikut? Dia bisa saja bertingkah berlebihan pada Tae—dia."
"Mungkin aku bisa menemaninya." Ucap Sehun, mengejutkan member lain. Chanyeol menoleh. "Kau yakin, Hun?"
Sehun hanya mengangguk, dan Chanyeol tersenyum tipis. "Arraseo."
"Pagi, memberdeul." Terdengar suara sapaan dari Baekhyun bebarengan dengan suara pintu yang terbuka. Semua menoleh dan mendapati Baekhyun dengan pakaian rapi, berjalan cukup cepat ke arah pintu dorm. Suho mengerutkan dahinya heran. "Kau mau ke dorm SNSD?"
"Eh?" Baekhyun berhenti melangkah dan menoleh ke arah Suho. "Nde, hyung."
"Tidak sarapan dulu?" Kini ganti Kyungsoo yang bertanya. Baekhyun menggeleng dan tersenyum tipis. "Tidak usah. Nanti jam 10 SNSD ada jadwal. Aku takut waktunya tidak akan sampai."
"Arraseo. Oh iya—" Kyungsoo menoleh ke arah Sehun. "Biar Sehun ikut."
"Tidak usah." Jawab Baekhyun cepat. "Dia tidak perlu ikut. Lagipula dia belum sarapan, kan?"
Sehun menoleh ke arah Baekhyun. "Tidak, aku akan ikut." Dan Sehun bangkit, melangkah ke sisi Baekhyun. Baekhyun mengangguk. "Baiklah, kau ikut. Kajja."
Baru selangkah berjalan, Baekhyun berhenti, yang otomatis membuat Sehun ikut berhenti juga. "Eh, waeyo hyung?"
"Kita butuh mobil. Suho hyung." Baekhyun menoleh ke arah Suho. "Pinjam mobilmu."
"Pakai mobilku saja." Tanggap Chanyeol cepat, lantas bangkit dari kursinya dan berjalan ke kamarnya. Baekhyun menoleh ke arah Sehun. "Sehun-ah, kau tunggu di parkiran saja. Aku menyusul Chanyeol dulu." Ucap Baekhyun. Sehun mengangguk cepat. "Arra, hyung."
Sehun berbalik menuju pintu dorm dan keluar dari dorm. Dengan cepat, Baekhyun melangkah ke kamarnya dan Chanyeol Baekhyun membuka pintu kamar, dan Chanyeol yang hendak membuka laci di buffet sebelah ranjang menoleh. "Baekhyun?"
Baekhyun menggumam sambil menutup pintu kamar. "Mana kuncinya?"
Chanyeol mengalihkan tatapannya ke arah laci dan segera membuka laci. Setelah mengambil kunci, ia menutup lacinya dan melangkah menuju Baekhyun yang masih berdiri di dekat pintu.
"Ini." Ucap Chanyeol, menyodorkan kunci mobilnya pada Baekhyun. Baekhyun mengangguk dan mengulurkan tangannya untuk menerima kunci mobil yang disodorkan Chanyeol. "Gomawo." Ucap Baekhyun.
Chanyeol mengangguk. Baekhyun hendak berbalik dan membuka pintu kamar, namun pergelangan tangannya digenggam Chanyeol. Dengan heran, Baekhyun menoleh. "Wae?"
"Kau..." Ucap Chanyeol, nampak tak yakin. "Apa yang akan kau lakukan di sana?"
"Hanya menanyakan kenapa dia melakukan itu padaku." Jawab Baekhyun singkat. Chanyeol terdiam sejenak, dan setelah itu tersenyum tipis. "Baiklah."
Perlahan, Chanyeol melepaskan cengkramannya di pergelangan tangan Baekhyun. Baekhyun tersenyum sekilas, lantas berbalik untuk keluar kamar dan melangkah dengan cepat keluar dorm, menyusul Sehun yang menunggunya di parkiran.
"Sehun-ah!" Panggil Baekhyun begitu menemukan Sehun yang sedang menyenderkan tubuhnya di mobil Chanyeol. Sehun menoleh. "Oh, hai hyung."
"Kajja." Ajak Baekhyun, hampir membuka pintu di bagian kemudi namun tangannya ditahan oleh Sehun. Baekhyun geram dalam hati, kenapa hari ini banyak yang menahannya, hah? Tapi Baekhyun dengan sesabar mungkin menoleh ke arah Sehun dengan memaksakan senyumannya. "Waeyo?"
"Biar aku saja yang menyetir." Ujar Sehun singkat dan mengambil kunci mobil yang masih digenggam Baekhyun. Baekhyun mendesah pelan, namun ia tanpa protes segera melangkah ke pintu bagian kursi penumpang.
.
.
.
Dengan sedikit tergesa, Baekhyun dan Sehun melangkah memasuki apartement di mana dorm SNSD berada. Membutuhkan beberapa waktu untuk menaiki lift dan kembali berjalan hingga akhirnya mereka berhenti pada sebuah pintu. Tanpa keraguan, Baekhyun memencet bel hingga Jessica noona nampak dalam layar intercom di samping pintu.
"Oh, Baekhyun dan Sehun?" Ujar Jessica di dalam sana. Baekhyun mengangguk dan Sehun hanya diam. "Ya, noona, aku ada keperluan dengan Taeyeon."
Setelahnya, Jessica membukakan pintu dorm dan mempersilahkan mereka untuk masuk. Dorm-nya saat ini cukup tenang. Nampak Hyoyeon dan Sunny duduk di ruang tamu sambil makan cemilan, Sooyoung, Yuri dan Yoona yang mengobrol di dapur sambil memakan makanan mereka masing-masing. Sisanya entah di mana.
"Di mana Taeyeon—noona?" Tanya Baekhyun yang saat itu, diam-diam merasa emosinya sedikit memuncak hingga bahkan merasa lidahnya kelu untuk sekedar mengucapkan 'noona' di belakang nama Taeyeon yang baru disebutnya. Jessica merasakan aura yang tidak mengenakkan, bahkan ketika menatap Sehun dengan tampang dinginnya, sudah bisa menjelaskan ada sesuatu.
Jessica menunjuk pintu kamar mandi dan tak lama kemudian Taeyeon keluar dari kamar mandi dengan hotpans dan kaos lengan panjang. Taeyeon tersenyum, hampir membuka mulut untuk menyapa namjachingunya dan Sehun sebelum Baekhyun langsung bicara to the point.
"Dasar pengkhianat."
"A-apa?" Taeyeon sedikit membelak, menatap Baekhyun terkejut. Jessica yang masih berdiri di dekat sana pun membuka refleks mulutnya, dan diikuti member-member lain yang seperti gerakan slow motion mengalihkan tatapan mereka ke arah Baekhyun dan Taeyeon berada.
Taeyeon ingin membuka mulutnya lagi namun sebuah suara kembali menggagalkannya.
Voice note dari bolpoin rekam milik Chanyeol. Yang entah bagaimana bisa berada di genggaman Sehun. Di mana itu menjelaskan semuanya dengan jelas. Taeyeon membeku di tempatnya dan Baekhyun mengepalkan tangannya. Tatapan member lain SNSD mengarah ke arah Sehun yang menggenggam handhone-nya, lalu menatap Taeyeon dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. Antara terkejut, kecewa, entahlah.
Hingga voice note itu berakhir, tak ada yang mencoba membuka suara dan Baekhyun memutuskan untuk mengakhiri keheningan itu. "Kau makhluk terjahat yang pernah ada Taeyeon-ssi, dan aku heran bagaimana makhluk sepertimu bisa hidup di dunia ini."
Dengan menggunakan embel-embel formal itu, Taeyeon tahu jika Baekhyun marah, benar-benar marah. Ditambah kepalan tangan Baekhyun yang bergetar itu, ia sangat yakin jika Baekhyun sedang menahan diri mati-matian untuk tidak menamparnya. Taeyeon menghela nafas perlahan, lalu membuka mulut untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Tunggu, Baek. Kau harus dengar penjelasanku—kumohon jangan menyela." Ucap Taeyeon cepat, disertai peringatan ketika melihat Baekhyun hendak membuka mulut. Merasa semua sudah tenang, Taeyeon menjelaskan dengan suara bergetar antara ketakutan dan kekecewaan pada dirinya sendiri. "Pada saat itu, entah hari apa itu, yang kuingat hanyalah saat itu sudah sangat larut malam. Manager menelponku dan menyuruhku untuk mendatangi ruangan Youngmin Sajangnim saat itu juga. Aku bahkan belum sempat protes atau sekedar membuka mulut karena manager sudah menutup telponnya sepihak. Aku yang memang dibawah kendali mereka, mau tidak mau menuruti mereka."
"Begitu aku sampai di sana, Youngmin sajangnim dengan manager SNSD di sisi kanan dan manager EXO di sisi kirinya, mengatakan dengan to the point jika aku harus membuat skandal dengan salah satu member EXO, tanpa boleh menolak. Aku masih ingat wajah memerah Youngmin sajangnim entah itu marah, kecewa, frustasi. Dan begitu mengintip berkas di genggaman Youngmin sajangnim, aku baru tahu saat itu jika SM Entertainment rugi 60 juta dollar karena skandal member kalian, Kris."
"Lalu dengan musyawarah singkat—di mana aku bahkan tidak membuka mulutku sama sekali—entah bagaimana jadi kau yang ikut ditarik di masalah ini. Kau yang terpilih. Yah, mungkin memang karena berita kau mengidolakanku—aku tidak bermaksud sombong—itu sudah menyebar, bukan. Tetapi herannya, aku tidak boleh memberitahumu tentang itu. Aku harus merayumu, membuatmu yakin bahwa aku benar-benar mencintaimu, lalu mengajakmu berkencan. Dan di malam itu saat kita di mobil, semua sudah diatur dan kau bahkan tidak sadar keberadaan kamera. Hhh... mungkin itu karena kau mengantuk, jadi kau tak menyadarinya."
"Tidak hanya kau yang tersiksa di sini, Baek. Kau kira aku tidak tersiksa akan hal ini? Yang selalu kupikirkan, kenapa harus aku? Kenapa mereka harus memilihku, kenapa tidak yang lain. Kenapa harus aku yang berkorban, kenapa harus—" Ucapan Taeyeon terhenti dan sesaat kemudian Taeyeon menangis, tanpa suara. Namun tubuhnya bergetar hebat, dan wajahnya ditundukkan hingga tertutupi oleh rambut-rambut panjangnya. Sooyoung yang bergerak dahulu, mendekati Taeyeon dan memeluknya untuk menenangkan, di susul Jessica yang mengusap pundak Taeyeon, Hyoyeon mengambil tissue dan Yoona mengguman ke arah Taeyeon, mencoba menenangkan. Baekhyun hanya terdiam, seolah tidak dapat mencerna semua penjelasan dari Taeyeon, namun ia merasakan remasan pelan di pundaknya. Begitu Baekhyun menoleh, ia mendapati Sehun yang menatapnya, seolah memberinya pesan untuk tetap tegar dan Baekhyun tersenyum kecil. Meskipun matanya tak bisa berbohong.
Taeyeon, setelah beberapa menit berlalu, melangkah mendekati Baekhyun dengan wajah sembabnya. Sedangkan Baekhyun membeku. Tak bergerak. Tidak dapat menolak ketika Taeyeon mengusap rambutnya lembut, membiarkan ketika Taeyeon merengkuh tubuhnya, dan hanya terdiam ketika merasakan sebuah benda kenyal nan lembut menempel di bibirnya diiringi sebuah bisikan mesra Taeyeon. "Dari hatiku yang paling dalam, Baekhyun, saranghae..."
Tepat ketika Baekhyun menjawab 'nado' saat itu jugalah pesan Sehun kepada Chanyeol terkirim. Dan Chanyeol, di dorm EXO sana, langsung membeku di tempatnya yang sejurus kemudian meneteskan air matanya tanpa arti.
{To : Park Chanyeol
From : Oh Sehun
Subject : -
"Hyung, berita buruk. Baekhyun dan Taeyeon berpacaran, lagi."}
.
.
.
TBC
.
.
.
HAIII SAYA KEMBALI LAGIII.
Lagi ada waktu luang, jadi saya pikir yaa kenapa ga sekalian aja update ini, hehehe.
Ceritanya makin ke sini makin menjijikkan, discousting. Jadi saya hanya bisa pasrah jika peminatnya semakin turun hahah.
Lagian ini juga membosankan banget ga sih/? Terinspirasinya aja dari berita yang udah...basi.
Tapi daripada nganggur di laptop, yaa mending saya publish ajalah.
JADI, WANNA REVIEW?
