Previous Chapter :
{To :
Park Chanyeol

From : Oh Sehun

Subject : -

"Hyung, berita buruk. Baekhyun dan Taeyeon berpacaran, lagi."}

.

.

.

Chapter 6

.

.

Ternyata semua member EXO menyadari perubahan raut wajah Chanyeol, lalu dibuat terkejut dengan Chanyeol yang menangis tiba-tiba dengan tatapan yang tak luput dari layar handphone-nya. Suho yang duduk tepat di samping Chanyeol itu bertanya khawatir, namun Chanyeol hanya diam tak menjawab. Bahkan ketika handphone-nya ditarik lembut oleh Kai, Chanyeol tidak bergerak sedikitpun.

Dan dengan sebuah pesan dari Sehun yang dibacanya itu, Kai mengerti. Kyungsoo yang tak sabar mengintip dari balik tubuh Kai, hingga tak lama tubuhnya sendiri sempat membeku sesaat, terkejut akan apa yang dibacanya. Suho sendiri dengan sigap merampas handphone Chanyeol dari tangan Kai, lalu hampir saja menjatuhkan handphone Chanyeol karena terkejut dengan yang dibacanya barusan.

"Baekhyun?" Bisik Suho yang masih tidak percaya. Kai hanya menghampiri Chanyeol, duduk di sofa tepat di samping Chanyeol dan mengusap pundak Chanyeol lembut, menenangkan. Kyungsoo yang langsung dihinggapi emosi saat itu, terlihat dari raut wajahnya yang menggarang.

"Kurang ajar, apa yang dilakukan Tae sialan itu sampai Baekhyun jadi kembali padanya, hah?" Desis Kyungsoo, di9am-diam mengepalkan tangannya erat. Chanyeol mendongak sedikit, menatap Kyungsoo dengan aliran air mata di pipinya dan bergumam pelan. "Jaga ucapanmu, Soo, dia tetap sunbae-mu."

Belum sempat Kyungsoo membantah, suara berdering singkat dari handphone Chanyeol menciptakan keheningan sesaat. Suho yang saat itu masih menggenggam handphone Chanyeol segera membukanya. Pesan dari Sehun lagi, tapi bedanya ini adalah voice note. Perlahan Suho mendongak, sekilas. "Voice note, dari Sehun."

Begitu Suho selesai berbicara, sesaat kemudian jarinya menyentuh file voice note tersebut dan voice note itu memutar isinya dengan sangat jelas.

"...dengar penjelasanku—kumohon jangan menyela."

"Pada saat itu, entah hari apa itu, yang kuingat hanyalah saat itu sudah sangat larut malam. Manager menelponku dan menyuruhku untuk mendatangi ruangan Youngmin Sajangnim saat itu juga. Aku bahkan belum sempat protes atau sekedar membuka mulut karena manager sudah menutup telponnya sepihak. Aku yang memang dibawah kendali mereka, mau tidak mau menuruti mereka."

"Begitu aku sampai di sana, Youngmin sajangnim dengan manager SNSD di sisi kanan dan manager EXO di sisi kirinya, mengatakan dengan to the point jika aku harus membuat skandal dengan salah satu member EXO, tanpa boleh menolak. Aku masih ingat wajah memerah Youngmin sajangnim entah itu marah, kecewa, frustasi. Dan begitu mengintip berkas di genggaman Youngmin sajangnim, aku baru tahu saat itu jika SM Entertainment rugi 60 juta dollar karena skandal member kalian, Kris."

"Lalu dengan musyawarah singkat—di mana aku bahkan tidak membuka mulutku sama sekali—entah bagaimana jadi kau yang ikut ditarik di masalah ini. Kau yang terpilih. Yah, mungkin memang karena berita kau mengidolakanku—aku tidak bermaksud sombong—itu sudah menyebar, bukan. Tetapi herannya, aku tidak boleh memberitahumu tentang itu. Aku harus merayumu, membuatmu yakin bahwa aku benar-benar mencintaimu, lalu mengajakmu berkencan. Dan di malam itu saat kita di mobil, semua sudah diatur dan kau bahkan tidak sadar keberadaan kamera. Hhh... mungkin itu karena kau mengantuk, jadi kau tak menyadarinya."

"Tidak hanya kau yang tersiksa di sini, Baek. Kau kira aku tidak tersiksa akan hal ini? Yang selalu kupikirkan, kenapa harus aku? Kenapa mereka harus memilihku, kenapa tidak yang lain. Kenapa harus aku yang berkorban, kenapa harus—"

...kresekkresekkresek...

"Dari hatiku yang paling dalam, Baekhyun, saranghae..."

"...nado"

Begitu voice note itu selesai berbunyi, wajah Chanyeol semakin basah oleh air mata. Meskipun tanpa suara. Kai masih berusaha menenangkan Chanyeol dengan tangannya sendiri yang bahkan bergetar karena masih terkejut, Suho hanya menatap kosong ke arah handphone milik Chanyeol dan berakhir ikut menenangkan Chanyeol, dan Kyungsoo yang paling parah, langsung berjalan ke arah kamar mandi dengan kaki yang terhentak keras, lalu menutup pintu kamar mandi dengan kasar. Kai menoleh sekilas ke arah kamar mandi, dan mendesah pelan mengetahui apa yang dilakukan Kyungsoo di sana. Mencuci muka, dan menenangkan pikirannya. Cara yang sempat ia ajarkan ketika ia tahu bagaimana kelabilan emosi Kyungsoo.

Tak lama setelah Kyungsoo masuk ke kamar mandi, terdengar pintu dorm yang dibuka. Menandakan Baekhyun dan Sehun yang sudah sampai di dorm. Suho dengan cepat membawa Chanyeol ke kamar milik Chanyeol dan Baekhyun, tidak membiarkan Baekhyun melihat keadaan Chanyeol saat ini. Sehun yang nampak terlebih dahulu, melangkah ke arah Kai yang masih duduk di sofa. Tatapan Sehun langsung menatap ke arah mata Kai butuh penjelasan, dan Kai menunjuk kamar Chanyeol dan Baekhyun menggunakan dagunya. Sehun mengangguk mengerti dan mendudukkan dirinya di samping Kai. Baekhyun sendiri masih sibuk dengan sepatu dan apalah itu.

"Baek—" Panggilan Kai terpotong dengan suara kamar mandi yag terbuka. Kyungsoo dengan wajah basah dan mata yang masih memerah menahan amarah, melangkah keluar dari kamar mandi. Tubuhnya sempat mematung mendapati Baekhyun yang berdiri di dekat sofa, tapi sejurus kemudian kekhawatiran Kai dan Sehun tidak terjadi, justru yang terjadi malah Kyungsoo yang memeluk tubuh Baekhyun di tempat. Oh, bukan. Kekhawatiran itu berubah menjadi bentuk kekhawatiran lain ketika mereka melihat Kyungsoo yang berbicara langsung tepat di telinga Baekhyun.

"Kau berpacaran lagi dengan Taeyeon? Sialan kau, Baek. Aku baru kali ini bertemu orang paling brengsek di dunia sepertimu."

Baekhyun membulatkan matanya, terkejut dengan apa yang dikatakan Kyungsoo, lalu semakin terkejut dengan kelanjutannya. Bahkan Kai dan Sehun ikut membeku di tempatnya ketika mendengar apa yang dikatakan Kyungsoo selanjutnya, sebuah kalimat yang seharusnya tidak boleh dikatakan Kyungsoo saat ini, namun mereka bahkan tidak sempat mencegahnya.

"Brengsek, Chanyeol mencintaimu bodoh."

.

.

.

Sore harinya, Chanyeol menggendong gitarnya dan menatap pemandangan di hadapannya dengan wajah berantakan. Ternyata Seoul cukup indah dilihat dari atap gedung apartement dorm EXO. Tapi nyatanya pemandangan indah itu tidak cukup untuk memperbaiki suasana hati Chanyeol saat ini.

Suho baru saja meninggalkannya beberapa waktu lalu setelah mengantarnya kesini karena dipanggil oleh manager dan Chanyeol bersyukur akan itu. Dengan sendirian ia tidak perlu menyembunyikan segala perasaannya.

Ia duduk begitu saja tanpa mempedulikan debu yang berada di lantai atap ini, memangku gitarnya lalu menggenjrengnya asal. Tak tahu harus memainkan lagu apa sampai akhirnya sebuah judul lagu menghampiri otaknya saat itu juga.

Mulai serius, Chanyeol menggenjreng gitarnya dengan telaten dan penuh penghayatan. Lalu bergumam untuk menyanyikan lagunya, yang sebenarnya cukup jelas untuk didengar karena tempat ini sepi dan hanya ada suara angin berhembus. Suara beratnya cukup bagus untuk mengimbangi permainan gitarnya, menyanyikan lagu ini yang seharusnya menggunakan nada tinggi.

.

"Skies are crying, I am watching

Catching tear drops ini my hands

Only silence, as it's ending

Like we never had a chance

Do you have to, make me feel like

There's nothing left on me?

You can take everything I have,

You can break everything I am

Like I'm made of glass

Like I'm made of paper"

.

Chanyeol menangis dalam diam, masih menyanyi dengan suaranya yang kian lama makin serak dan hilang tertutupi tangisannya. Ia memang pintar bahasa inggris, tapi bukan berarti ia tidak tahu arti dari lagu ini

Lagu yang pernah ia nyanyikan dan ia artikan bersama dengan Baekhyun.

Lagu favorit Baekhyun yang terdengar sangat menyedihkan untuknya.

.

"Go on and try to make me down

I will be rising from the ground

Like a skyscraper, like a skyscraper...

As the smoke clears, I awaken

And untangle you from me

Would it make you feel better

To watch me when I bleed?

All my windows still b—"

.

"—broken, but I'm standing on my feet..."

Chanyeol menghentikan gumaman—nyanyian—nya saat mendengar suara Baekhyun yang ikut bernyanyi dan ia baru merasakan kedatangan seseorang di belakangnya. Tapi ia tidak mampu untuk berbalik dan Baekhyun tidak peduli. Baekhyun tetap menyanyi dan Chanyeol tanpa dikendalikan, memainkan gitarnya, yang kali ini tidak sambil bernyanyi.

.

"...you can take everything I have

You can break everything I am

Like I'm made of glass

Like I'm made of paper

Go on and try to tear me down

I will be rising from the ground

Like a skyscraper, like a skyscraper...

Go run run run,

I'm gonna stay right here, watch you disappear

Yeah

Go run run run

Yeah, it's a long way down

But I am closer to the clouds up here..."

.

Nyanyian Baekhyun dan genjrengan gitar Chanyeol, dengan otomatis langsung berhenti begitu saja, tak ada yang merasa mengakhiri. Dan keheningan melanda mereka berdua. Chanyeol menunduk, menatap gitar di pangkuannya dengan tatapan kosong dan Baekhyun menatap punggung Chanyeol dengan pandangan miris.

Seandainya Chanyeol lebih dulu mengatakannya...

Seandainya Chanyeol tahu jika perasaan ini tidak akan pernah hilang dari hati Baekhyun...

Seandainya Chanyeol tahu, seandainya mereka menyadarinya...

...mereka saling mencintai.

.

.

.

Baekhyun selalu berdoa, selalu, agar Chanyeol menyadari perasaannya.

Ia begitu mencintai Chanyeol. Ya, mencintai Chanyeol. Tida tahu sejak kapan, tidak tahu mengapa. Ia hanya mencintai Chanyeol tanpa alasan. Dengan harapan Chanyeol dengan sesegera mungkin menyadari perasaannya. Ia sangat yakin Chanyeol juga mencintainya, melihat bagaimana perlakuan Chanyeol.

Sejak trainee.

Hingga debut.

Tapi ia menyerah. Chanyeol menjauh. Ia tidak melarang Chanyeol bergaul dengan yang lain, tapi tidak jika meninggalkannya. Siapa yang tidak sakit hati mendapati pujaan hatimu menjauhi dirimu begitu saja, terkesan tidak peduli dengan dirimu, padahal kelakuannya sebelum itu 360 derajat berbeda, sangat perhatian.

Melihat Chanyeol yang nampak melewatinya begitu saja, Chanyeol yang lebih memilih duduk di samping Kris atau Kyungsoo bahkan yang lainnya dibandingkan dirinya, bahkan ketika ada kesempatan—dan itu JARANG ada—untuk bersebelahan saja Chanyeol seperti tak menganggapnya ada.

(Padahal dia tidak tahu jika di hati Chanyeol yang terdalam ia mencintai Baekhyun, dan sikapnya yang menjauhi Baekhyun hanya karena tidak ingin melakukan hal yang salah lebih lanjut dan akan dijauhi Baekhyun (yang Chanyeol pikir adalah seorang straight).

Ah, rumitnya.)

Dia pikir dengan berpacaran bersama Taeyeon dapat membuatnya melupakan Chanyeol.

Dia pikir dengan mengatakan kata cinta kepada Taeyeon dapat mengurangi rasa cintanya pada Chanyeol.

Atau yang sebenarnya, ia pikir Chanyeol akan cemburu dengan skandal pacarannya itu.

Dan ia pikir itu salah karena Chanyeol nampak tidak peduli dengan status pacarannya. Dan begitu ia sudah terlalu lelah, ia memilih percaya kepada Taeyeon, ia merasa sudah baik dengan taeyeon, Chanyeol datang dan—ia pikir—menghancurkan segalanya karena memfitnah Taeyeon, tapi nyatanya semua yang dikatakan Chanyeol itu benar.

Lalu saat Chanyeol memeluknya untuk menenangkannya.

Juga perilaku Chanyeol yang seolah mendekatinya.

Ia sudah jatuh ke lubang yang sama.

Tapi menatap Taeyeon dengan air mata seperti tadi itu tidak bisa membuatnya menolak. Meskipun bukan berarti menerima. Ia bahkan hanya mengatakan 'nado' saat Taeyeon mengucapkan kata cinta padanya, tidak membalas perlakuan mesra Taeyeon, karena semua pikirannya hanya terpusat pada satu orang sejak ia mengetahui kebenaran akan perlakuan Taeyeon.

Park Chanyeol.

Ia jatuh ke lubang yang sama, jatuh cinta pada orang yang sama, dan ia sudah menyiapkan hatinya untuk diremukkan lagi dengan Chanyeol yang mungkin saja akan mengacuhkannya lagi dengan tiba-tiba entah kapan waktu itu datang.

Dan kemudian Kyungsoo datang serta memberitahu kebenarannya, yah, meskipun itu mungkin belum tentu benar. Ia bilang Chanyeol mencintainya. Chanyeol mencintai dirinya. Chanyeol mencintai seorang Byun Baekhyun.

For God Sake...

Mungkin ia bahagia, tapi ia tidak tahu harus berkata apa pada Taeyeon. Saat ia mencoba membicarakan ini dengan Kyungsoo yang pertama-tamanya menggalakinya, tapi pada akhirnya saran Kyungsoo-lah yang paling menenangkannya. "Ikuti kata hatimu."

Jadi, ya, begitu. Bagaimana Baekhyun bisa muncul di belakang Chanyeol seperti ini. Join barsama dan merebut part bernyanyi Chanyeol yang sarat akan kesedihan. Karena Baekhyun mencoba mengikuti kata hatinya. Baekhyun mencoba menuntun hatinya untuk pergi.

Dan Chanyeol jawabannya.

.

.

.

"Yeol." Panggil Baekhyun dengan suara pelan. Chanyeol menjawabnya dengan gumaman pelan dan itu sama sekali tidak memuaskan Baekhyun. Baekhyun mencoba memanggil Chanyeol sekali lagi. "Yeol. Tatap orang itu jika ada yang mengajakmu bicara."

Chanyeol tak bergeming.

Dan Baekhyun tidak sabar lagi.

"Yeol!"

"Apa!"

Dan kini Chanyeol melempar gitar kesayangannya itu kasar dengan sembarang arah, meskipun tidak terlalu jauh, berbalik menatap Baekhyun dengan bekas air mata yang masih nampak jelas di pipi Chanyeol. Rambutnya berantakan. Cukup menjelaskan juga bagaimana perasaan Chanyeol yang hancur sekarang. Setidaknya, masih beruntung Chanyeol tidak lompat dari atap.

Baekhyun menatap langsung pada mata Chanyeol. Diam-diam merasakan hatinya ikut sakit atas penampilan Chanyeol. Ternyata, sebegitukah berpengaruhnya ia pada kehidupan Chanyeol? Terlalu mengecewakan karena Chanyeol bahkan masih tidak mau mengatakannya dengan jujur.

"Chanyeol, tolong. Berhentilah membohongiku dan perasaanmu sendiri. Sampai kapan lagi kau mau memendamnya sendirian?" Gumam Baekhyun. Chanyeol mencoba mengalihkan tatapannya, kemanapun asal jangan langsung ke mata Baekhyun. "Perasaan apa?"

"Jangan berpura-pura bodoh Yeol!" Teriak Baekhyun memecah kesunyian, matanya memerah. "Sudah sejelas ini dan kau bahkan masih tidak mau mengatakannya?"

"Memang kau tahu apa?" Ujar Chanyeol cepat.

"Apapun." Jawab Baekhyun singkat. Chanyeol menghela nafas. "Apa? Aku membencimu?"

"Ya dan ya, aku juga mencintaimu idiot."

Chanyeol terdiam. Mencoba memastikan jika ia tidak di alam mimpi saat ini. Seorang Byun Baekhyun mencintainya? Ini terlalu cepat dan... terkesan tidak mungkin. Baekhyun menghiraukan kediaman Chanyeol dan melangkah mendekati Chanyeol, tiba-tiba membungkam bibir Chanyeol menggunakan bibirnya.

Mereka sama-sama tidak tahu apa yang mereka lakukan. Dan mereka juga tidak sadar akan apa yang terjadi. Yang mereka tahu saat itu, yang hanya ada di pikiran mereka saat itu...

...mereka saling mencintai.

.

.

.

"Sialan kau Baek, gara-gara kau gitar kesayanganku jadi rusak." Gumam Chanyeol dengan wajah suram sambil memasuki dorm, tak lupa menggendong gitarnya yang senarnya sudah putus dua sekaligus. Karena dilemparnya tadi.

Baekhyun mengikutinya dari belakang sambil memberengut. "Kau saja yang bodoh karena melempar-lemparnya sembarangan. Otakmu di mana, hah?"

Mereka berdua masih berdebat terus-menerus sampai masuk di kamar, tidak mempedulikan tatapan member lain yang menatap aneh mereka. Sampai akhirnya pintu kamar Chanyeol dan Baekhyun sudah ditutup dari dalam, Sehun bergumam. "Wow. Mereka jadian?"

Kyungsoo hanya tersenyum dalam hati. Baekhyun benar-benar melaksanakannya.

.

.

.

"Yaaaaah, gitar kesayanganku rusak, ck. Baek, kau benar-benar harus menggantinya." Chanyeol masih mengomel-ngomel sambil memasukkan gitar rusaknya ke dalam tasnya. Baekhyun bergumam pelan. "Aku tidak punya uang. Lagipula itu salahmu, Yeol. Sudah diam dan cepat tidur, aku sudah tidak tahan."

"APA?"

"AISH BUKAN YANG SEPERTI ITU! Aku sudah mengantuk dan aku tidak tahan dengan suara berisikmu jadi lebih baik kau tidur agar tidak berkicau lagi BEGITU!" Jawab Baekhyun cepat hingga terengah, diam-diam merutuki kata-kata ambigunya tadi dan rona merah mulai menjalari pipinya. Sial, dia benar-benar seperti perempuan kasmaran. Hhh, kemana jenis kelaminmu.

"Oke oke. Jangan marah baby." Jawab Chanyeol, terkikik sendiri di tempatnya dan Baekhyun melempar belakang kepala Chanyeol menggunakan bantal. "Sial, jangan panggil aku seperti itu! Menjijikan."

Chanyeol hanya menghendikkan bahunya, lalu melangkah mendekati Baekhyun dan dengan santainya membaringkan tubuhnya di samping Baekhyun, tak lupa membawa bantal yang tadi dilemparkan Baekhyun kepadanya. Baekhyun memprotes. "Aish, tidur di kasurmu sendiri!"

"Shireo! Aku mau bersamamu." Jawab Chanyeol, menarik paksa pinggang Baekhyun dan memeluk Baekhyun. Baekhyun sendiri pasrah, diam-diam menikmati sentuhan Chanyeol yang sudah lama ia rindukan. Tiba-tiba Chanyeol mendongak dan menatap Baekhyun yang memang saat itu dalam posisi bersender, tidak tiduran seperti Chanyeol. "Ngomong-ngomong Baek, bagaimana hubunganmu dengan Taeyeon?"

Baekhyun diam sejenak, lantas menghela nafasnya. "Semua terserah padamu. Aku bisa memutuskannya kalau kau mau."

"Putuskan saja." Ucapan Chanyeol mendingin sampai Baekhyun merinding sendiri. Ia mengangguk takut-takut.

"Akan kulakukan." Baehyun tersenyum lembut dan Chanyeol memeluk Baekhyun lebih erat, lantas sejurus kemudian menindih tubuh Baekhyun. Baekhyun memekik terkejut atas perlakuan tiba-tiba dari Chanyeol.

"Saranghae, Baek." Ujar Chanyeol dan Baekhyun mengangguk. "Nado saranghae, Yeol. Dan, terima kasih untuk semuanya." Setelah itu, Baekhyun membiarkan Chanyeol mencium bibirnya. Membiarkan Chanyeol menyentuh seluruh tubuhnya, menanggalkan pakaiannya dan menyatukan tubuh mereka berdua. Menikmati bagaimana jantungnya yang berdegup cepat atas perlakuan Chanyeol, menikmati bagaimana beribu-ribu kupu-kupu seolah menggelitiki perutnya. Mendengar benar-benar semua ucapan cinta yang Chanyeol ucapkan untuknya.

Untuk pertama kali, Baekhyun merasa benar-benar dimiliki, dan rasanya sangat menyenangkan.

.

.

.

END

.

.

.

Terima kasih yang udah bersedia review di chapchap sebelumnya, dan mungkin buat yang akan mereview chap ini. Saya tahu cerita ini jelek banget, ga mutu, bikin nyesek, ah tau lah saya aja ga pede sama fanfic ini. Dan saya udah ngelunasin fanfic ini, yay!~

Jadi, WANNA GIVE ME REVIEW?