BIP BIP
Arthur membuka matanya dengan perlahan,ia mengerjapkan matanya dan perlahan duduk sambil menguap tak lupa juga ia menggaruk rambut melirik ke jam dan memutuskan untuk bersiap –siap untuk berangkat kerja.
Setelah mandi,merapikan rambut dan memakai kemeja biru garis-garis,dasi merah dan celana hitam ia sudah tampak rapi dan siap untuk kerja.
Saat tengah menuruni tangga ia mendengar suara yang bukan berasal dari orangtuanya dari ruang makan,suara yang sangat familiar dan annoying baginya.
Ia langsung buru-buru menuruni tangga dan menuju ke ruang makan.
"Ah!good morning Arthur!"
Ternyata ketiga kakaknya yang harusnya berada di Skotlandia,Wales,dan Irlandia Utara sedang duduk di meja makan dan bercanda ria.
"Allistor,Dylan,Connor…!bukannya kalian…"Arthur tak bisa berkata-kata saking terkejutnya.
"Hei little brother!"Sapa Allistor.
"Mereka datang tadi malam saat kau sudah tidur" menjelaskan.
"kok mendadak…."
"yah apa boleh buat" kata Connor—si anak kedua yang tinggal di Wales "Tiba-tiba Allistor menelponku dan Dylan katanya ia mau ke kami berdua juga lagi libur ya udah kami ke sini"
Arthur duduk di meja makan dan menyantap menatapnya dan berdehem "Arthur sepertinya masih single"
Hampir saja Arthur tersedak makanannya yang sudah berjalan mulus menuruni terbatuk-batuk dan langsung menegak minumannya.
"Mentang-mentang kalian udah nikah kalian terus mengejekku!"Tukasnya kesal sambil mengelap pinggir mulutnya.
"Kami gak mengejek kok"Bela Dylan—si anak ketiga "Kau memang masih gak pernah pacaran"
"Ukh..jangan membahas itu dong"
"Umurmu sudah hampir 30 loh,masa belum pernah saja,wajahmu itu lumayan masa gak pernah ada yang nembak ato cemana gitu"Sekarang Connor yang berkomentar.
Kalau soal perempuan yang menyukainya itu sih jangan ditanya,banyak yang menyukainya karena ia menunjukkan sikap yang kasar para perempuan pun menyerah.
"Cari cewek kek..atau kau pacaran dengan cowok?"Sindir dan Dylan langsung tertawa terbahak-bahak.
"Tolong kak..aku bukan gay.."Arthur menghela napas—sedikit heran karena kakak-kakaknya sudah berumur 30 tahun lebih namun masih menunjukkan sikap yang anak-anak.
Mr dan sudah biasa dengan keributan 4 saudara , membaca Koran dengan tenang tanpa ada yang kurang sedangkan mencuci piring sambil bersenandung.
"Jadi kapan kalian pulang?"Tanya Arthur.
Allistor menjetikkan jarinya "Slow…aku masih lama disini kok!jadi adikku yang single ini tidak terlalu kesepian"
Sebenarnya aku ingin kalian bertiga yang memuakkan ini segera pulang ke tempat kalian
"Arthur!lihat jamnya!" mengingatkan.
"Bloody hell!sudah jam segini aja…bisa terlambat aku!"Arthur segera bangkit dari kursinya,mengambil tasnya dan langsung pergi tanpa bilang apa-apa.
"Habit Arthur..gak pernah pamit"Kata dari balik Koran.
Setibanya di kantor Arthur langsung duduk di mejanya—Rengga yang sudah sangat dengannya tahu dari raut muka pemuda itu ia sedang bad mood.
"lo kenapa thur?lagi pms?"Goda Rengga dengan muka flat.
"Pantatmu aku pms"
"Baru tau aku pantatku bisa pms"
"Oh shut up!"
Rengga berdiri dan mengintip Arthur dari mukanya makin parah.
"oh..emang lagi pms.."
.
.
.
.
Kiku Honda—pemuda dari jepang yang bekerja di kantor marketing ini sedang berjalan menuju ke meja Arthur dan Rengga.
"Maaf Arthur-san,apakah kau melihat Rengga-san?"Tanyanya sopan.
"Dia di gudang"Balasnya.
Kiku mengangguk dengan sopan sebagai tanda terima kasih dan pergi ke mengetuk pintu gudang "Rengga-san apakah kau di dalam?"
Tak ada jawaban.
Kiku pun memutar gagang pintu dan langsung terkejut apa yang ia jumpai di dalam gudang.
Rengga terkapar babak belur di sebuah kotak bertulis 'barang tak berguna'.
"Rengga-san!kenapa kau bisa seperti ini?"Kiku menarik Rengga dari kotak itu.
"Kiku aku ada saran untukmu.."Ia berbicara dengan sedikit terhuyung-huyung "jangan pernah menganggu orang jomblo yang lagi pms"
"Hah apa yang kau bicarakan Rengga-san?"Kiku sedikit bingung "Apa kau baru saja meminum alkohol?"
"Aku tidak pernah meminum alkohol…oh ya kau ada perlu apa denganku?"Otak Rengga mulai kembali bekerja dengan sehat.
"Kau dipanggil direktur"
Seketika pandangan Rengga menghitam kembali
"Memangnya kalau dipanggil direktur itu tanda yang buruk?"Ucap Arthur (udah gak pms lagi)
"Demi Tuhan!"Ia berdiri dan membanting kepalanya ke meja (Arthur sedikit ngilu karena itu) "Kau tidak tahu kasus 'The Danish '?"
"Tak pernah dengar"
Tiba-tiba meja Arthur dan Rengga hilang dan background berubah menjadi menghidupkan senter dan menaruhnya di kesan 'horor abal-abal'.
"Pada suatu masa~~"Ia mulai bercerita "Pria Denmark yang bahagia sedang bekerja di kantornya namun…suatu peristiwa yang tidak diinginkan terjadi….." (sfx:mind heist :v) "Ia dipanggil direktur perusahaan!"
Arthur dengan muka flat hanya menjawab "ha..baru?"
"Ia keluar dari ruangan direktur sambil memakai sebuah kartu nama baru yang bertuliskan…."
"Hm?"
"Bertuliskan…"
"ha…"
"Bertuliskan….."
"Woi cepat bilang..kayak kaset rusak aja lu"
"Bertuliskan.."
"Demi Semvak!Bertuliskan apa sayton!"
"Bertulis—"
Sebelum Rengga sempat menyelesaikan ucapannya ia sudah tewas karena pukulan Arthur yang mendarat mulus di kepalanya . Rengga hanya bisa menyampaikan kepada para pembaca agar berhati-hati saat bicara dengan jomblo yang lagi pms . Salah -salah bisa berkeadaan sama seperti Rengga.
.
.
.
.
Hupla!akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan cerita ini!
Btw Di chapter 1 typonya banyak amat ..padahal udah sya cek :v
Seperti biasa Review sangat dibutuhkan biar saya bisa membuat cerita yang lebih baik!
Arigato~~~~
