Tittle:
I Can't Believe It
Main Cast : Kim Jongin (Namja)
Do Kyungsoo (Yeoja)
Support Cast: EXO and other cast
Genre: Romance, Drama
Rate: T
Desclaimer :
Semua cast Milik Sang Pencipta,Keluarga, dan SME
.
.
.
WARNING
GenderSwitch / GS / Typos Everywhere / FF GAJE / DLDR / RnR
.
.
.
.
.
^^ Happy Reading ^^
Chapter 4
Seorang namja sedang duduk disebuah café, wajahnya nampak gelisah menantikan seseorang lebih tepatnya menanti seseorang mengangkat sambungan teleponnya.
" Yeoboseo?" terdengar suara lembut seorang yeoja dari sebrang sana pertanda panggilannya telah terjawab, wajahnya kini nampak sedikit lega " Changi, kau dimana?" jawab si namja.
" Mianhae, aku sedang bersama teman-teman sayang, sebentar lagi aku menemuimu, ne."
" Aissh." Si namja mengacak rambutnya kesal, namun entah apa yang terlintas dipikirannya sehingga kini sebuah seringai terukir dibibirnya " Cepat kau ketempat biasa baby, jika tidak aku akan menghukummu sayaaangg…ffuuuh" ucapannya begitu menggoda, si yeojapun merinding geli karena ulah si namja. Mesum, eoh si namja, padahal sambungan telpon.
Si yeoja meneguk salivanya susah, 'apakah dia benar-benar akan menghukumku? Jangan-jangan dia akan menyuruhku mengerjakan tugasnya selama seminggu sebagai hukuman? Anni anni. .' segera dia tepis pikiran-pikiran negative yang berputar diotaknya disertai gelengan kepala yang tak bisa dilihat si namja.
" Ne, sayang aku akan segera kesana. Saranghae."
" Hm, nado saranghae."
.
.
.
.
.
Si yeoja berlari dengan tergesa-gesa menghampiri 'namja tak sabaran' yang tadi menelponnya. Si namja sedang duduk di dekat jendela dan menikmati segelas iced choco ditangannya.
" Hunnie, aku tidak lama kan? Hh. . hh" si yeoja mengatur nafasnya yang stabil kemudian mengambil posisi duduk dihadapan si namja. Setelah dirasa nafasnya mlai teratur si yeoja mengambil paksa iced choco milik si namja dan meneguknya dengan cepat. Dehidrasi sepertinya.
" Anni, Xi Lu Han kau sudah membuatku duduk dikursi ini selama 15 menit. Kau tahu aku sudah sangat bosan menunggumu changi." Mengambil iced choco yang sudah diletakkan Luhan di meja meneguknya dengan sedotan yang tadi digunakan Luhan, membayangkan bibir kenyal yeojanya jika menyentuh bibirnya. Bingung, eoh! Sebenarnya namja ini tak benar-benar marah dia hanya ingin menggoda yeojachingunya.
" Sehunnie, mian" Luhan menggabungkan kedua tangannya sampai berbunyi plak seperti akan berdoa dikuil. " Anni Lu." Sahut Sehun dingin.
" Ayolah Hannie, tadi aku harus meladeni Xiumin yang meminta pendapatku untuk kencan pertamanya bersama Jongdae oppa." Si yeoja memajukan bibirnya imut dengan tangan yang masih menyatu, membuat Sehun yang melihatnya harus menahan salivanya. Begitu menggoda bibir cherry itu rasanya ingin segera kumakan. Sadarkan aku bahwa ini bukan Sehun!
" Menggoda eoh?" Luhan mengerjapkan matanya 'menggoda?' padahal dia sedang tidak menggoda Sehun, kenapa dia berpikir begitu. Ah, bibirku?!
" Anni Hunnie, aku tidak menggodamu. Aku sedang membujukmu untuk memaafkanku changi." perbuatannya tadi telah membangkitkan jiwa 'mesum' Sehun. Oh Tuhan, yeoja ini sungguh polos.
" Hm." Sehun hanya berdehem menanggapi kata-kata Luhan.
Mereka memang hampir 2 minggu ini tidak bertemu –berdua saja- karena Sehun yang tentunya kalian tahu jabatannya sebagai Ketua Dewan Kesiswaan banyak menyita waktunya, belum lagi dia harus mengulang kembali beberapa dance yang sulit dilakukannya, ditambah jatah latihan club basketnya yang 3 bulan lagi akan bertanding. Benar-benar tak ada banyak waktu baginya untuk mementingkan urusan cinta, tapi bukan Sehun namanya jika tidak bisa membagi waktu, sesekali sehun menyempatkan diri untuk sekedar melepas rindu meski hanya beberapa menit.
.
.
Kini Sehun sudah membawa Luhan masuk kedalam mobil sport merahnya. Berlama-lama didalam café membuatnya tak bebas melakukan apa saja pada Luhan disamping itu dia tidak ingin ada orang lain yang melihat mereka sedang bermesraan dicafe. Bukannya malu memiliki pacar secantik Luhan, hanya saja dia tidak ingin menanggapi pertanyaan bodoh teman-temannya. Toh, sebentar lagi Sehun akan mengumumkannya pada public. Itu lebih baik daripada harus menerima pertanyaan para siswa yang termakan gossip.
" Baiklah kita akan pergi kemana sayang?"
" Kerumahku, otte?" rasanya pikiran mesum Sehun berlanjut, padahal disekolah Sehun terkenal sebagai namja dingin yang tak banyak bicara ah jangan lupakan dia juga siswa yang cukup pandai meski tak sepandai Jongin. Hari ini Sehun sengaja memberikan beberapa tugas-tugasnya pada Kyungsoo, dia berencana menghabiskan waktu seharian bersama yeojachingunya. Wajar saja, Sehun dan Luhan masih merahasiakan hubungan mereka istilah lainnya belum go public. Teringat sesuatu, eoh? Lupakan!
Pasangan Hunhan sudah menjalin hubungan sekitar 6 bulan lamanya, mereka pertama kali bertemu diperpustakaan sekolah lalu selanjutnya mengalir begitu saja. Kalian menanyakan dimana letak perpustakaan? Ting Tong, jawabannya adalah tepat disebelah gedung serbaguna. Kembali ke Hunhan couple.
" Ah. . tapi aku ingin ke toko buku Hunnie, otte?" Luhan tahu namjachingunya memiliki kadar kemesuman hampir 94% jika bersamanya, tadi saja Sehun sudah mencium pipinya sebagai hukuman, Luhan sebenarnya mengetahui bahwa namjachingunya itu benar-benar mesum hanya saja Luhan berpura-pura tak mengetahuinya, jadi dia harus pandai-pandai menjaga diri kan. Of course! Agar Sehunnie tak memakannya. Dia tidak ingin Sehun melakukan lebih padanya, apalagi sampai terpenjara diatas ranjang Big NO.
" Wae?" dia merasa Luhan sengaja mengelak, padahal niat Sehun membawa Luhan kerumah untuk memperkenalkannya pada eomma dan appanya.
" Karena a. .a -sedikit gagap karena gugup- ada buku yang ingin kubeli baby Hunnie." Luhan memberikan senyum termanisnya berharap namjachingu tersayangnya mengabulkan keinginannya. Sehun yang melihat senyum manis yeojachingunya merasa bimbang, ini sudah ketiga kalinya Luhan menolak ajakannya untuk datang kerumah pasalnya Sehun juga tak memberi penjelasan pada Luhan apa tujuannya. Ppabbo. Sehun masih diam membisu, menarik nafas panjang hingga akhirnya,
" Ini sudah ketiga kalinya aku mengajakmu Lu, aku tidak tahu kenapa kau selalu menghindar setiap aku mengajakmu kerumah. Padahal aku hanya ingin memperkenalkan kau yang berstatus yeojachinguku pada appa dan eomma, tentu appa dan eommaku ingin tahu yeoja seperti apa yang membuat putra kesayangan tergila-gila. Aku sering bercerita tentangmu pada appa dan eomma, mereka begitu penasaran akan dirimu yang asli sehingga eomma sering menyuruhku mengajakmu kerumah tapi nyatanya kau selalu menolakku Lu." Sehun meluncurkan rentetan kalimat-kalimat itu dengan lancar padahal jantungnya berdetak tak menentu, dia hanya takut jika perkataannya akan menyakiti Luhan.
Luhan tertunduk malu mendengar ucapan Sehun, dia sudah berprasangka yang tidak-tidak pada namjachingunya. 'Ppabbo! Tentu saja Sehun tidak akan macam-macam, selama ini dia selalu menghormatiku dan menjagaku. Ppabbo Luhan ppabboo!' Luhan begitu meruntuki prasangkanya yang berlebihan tentang Sehun, dia benar-benar menyesal, setelah mendengar perkataan Sehun dia sadar bahwa namja yang duduk disampingnys itu benar-benar mencintainya.
" Mianhae Hunnie, aku tidak tahu kalau kau ingin memperkenalkanku pada appa dan eommamu, mian. Hiks . . Hiks" Luhan terisak, bulir-bulir air mata jatuh membasahi seragam sekolahnya. Sehun kaget mendengar Luhan terisak segera dia mendekatkan dirinya pada Luhan, menggengam tangan mungil gadisnya yang sedikit gemetar. Luhan masih terisak, tangisnya pecah setelah Sehun menggenggam tangannya, dia benar-benar merasa bersalah. Sehun menangkup pipi Luhan membawa sipemilik wajah untuk menatapnya, Luhan tak menatap Sehun pandangannya kebawah.
" Ssstt, uljima baby uljima ne. Lihat aku baby Hunnie, jangan kau alihkan matamu yang indah itu. Tatap aku" Luhan begitu saja patuh pada perintah Sehun, seolah kata-katanya mengandung hipnotis.
" Mian, tak seharusnya aku berkata seperti itu padamu." Sehun kini menatap tajam deer eyes milik Luhan yang mengeluarkan bulir-bulir bening. Mencium lembut kedua deer eyes yeojachingunya sedangkan Luhan menikmati setiap sentuhan yang diberikan namjachingunya. Setelah Sehun mencium kedua mata Luhan, dia memeluk tubuh mungil itu menghantarkan kehangatannya. Luhan menenggelamkan kepalanya diceruk leher Sehun untuk menenangkan dirinya. Selalu kehangatan yang Luhan rasakan ketika Sehun memperlakukannya dengan lembut seperti ini. Luhan sudah sedikit tenang, dia mengangkat kepalanya menatap namjachingunya, mereka saling menatap " Hunnie, mian Hunnie mian, Mi. ."
Luhan tak dapat melanjutkan kalimatnya bibirnya sudah terkunci oleh bibir Sehun, cukup lama Sehun menempelkan bibirnya tak berani melakukan apapun karena memang selama ini Sehun tak pernah melakukan yang lebih dari ini. Hanya saling menempel, tapi kini hal itu tidak terjadi, Luhan menggerak-gerakan bibirnya dan menggigit bagian bawah bibir Sehun. Sehun sempat kaget menerima perlakuan dari gadisnya, dia membuka matanya mencari tahu apakah Luhan menutup matanya atau tidak, melihat Luhan menutup matanya Sehun segera membalas ciuman Luhan, menekan tengkuk gadisnya untuk memperdalam ciuman mereka, saling menghisap, dan berperang lidah didalam rongga mulut Luhan, ciuman yang cukup lama.
Luhan memukul dada Sehun pelan meminta dibebaskan karena paru-parunya membutuhkan pasokan udara. Sehun tahu maksud Luhan namun dia tetap tak melepaskannya, pukulan Luhan semakin keras didada Sehun, dengan amat sangat terpaksa dia melepaskan ciuman (panas) pertamanya.
'Mppppck' –sampe bunyi gitu(?)- Luhan menghirup udara rakus mengisi paru-parunya yang membutuhkan banyak oksigen, setelah cukup puas " Hunnie, kau benar-benar kejam, tak membiarkanku menghirup udara sedikitpun." Luhan melayangkan protesnya sambil memajukan bibirnya imut –padahal bibirnya terlihat sedikit bengkak-, Sehun terkekeh melihat Luhan yang memajukan bibirnya, rasanya ingin merasakannya lagi dan lagi namun diurungkan niatnya itu Sehun tahu ini pertama kali bagi Luhan, dia harus menjaga perasaan gadisnya meski hasratnya hampir tak terbendung. Haha, benar-benar mesum eoh!
" Hehe, mianhae, aku begitu menikmati ciuman kita baby. Mianhae changi" Sehun mengecup pipi Luhan.
'Bluuussssh' Luhan benar-benar malu, wajahnya kini sudah semerah tomat mendengar kata-kata Sehun. Mereka masih saling memeluk, Sehun mencium puncak kepala Luhan menghirup wangi strawberry yang menguar dari rambut gadisnya 'benar-benar manis, beruntung aku yang pertama mendapatkanmu Hannie' pikir Sehun dalam hati.
.
.
.
" Baiklah Hannie, nanti malam aku akan menjemputmu makan malam bersama appa dan eomma."
" Ne, Hunnie. Aku masuk dulu baby Hunnie, Saranghae." Luhan mencium pipi Sehun kilat setelah melakukan itu dia langsung berlari menuju pintu rumahnya tak menghiraukan Sehun yang tampak syok atas ulahnya.
" Nado Saranghae baby Hannie. . ." Sehun berteriak sekencang-kencangnya tak pedulia ada orang lain mendengarnya, dia hanya ingin Luhan mendengar apa yang dikatakannya. Luhan yang mendengar Sehun berteriak sontak membalikkan tubuhnya, memberikan kiss bye untuk namja chingunya.
.
.
.
.
.
Kini Kyungsoo sedang duduk disofa, dia cukup lelah mengerjakan tugas dan menata document-document Dewan Kesiswaan sejak pulang sekolah hingga sore. "Hah, dasar Sehun sialan! Bisa-bisanya dia menyuruhku menata document ini sendirian. Dia sendiri malah pergi kencan dengan Luhan, sejak kapan mereka menjadi dekat, kenapa aku tidak tahu?" Kyungsoo bermonolog sendiri, kesal dengan tingkah ketuanya yang alay!
Flashback On
Kyungsoo dan ketiga sahabatnya sedang duduk dikantin. Xiumin sedang menceritakan perihal kedekatannya dengan Jongdae yang mungkin sebentar lagi akan berpindah status yang awalnya hubungan sunbae-hobae change to sepasang kekasih karena mala mini Jongdae mengajak Xiumin makan malam. Senangnya begitu pikir Kyungsoo sedangkan dirinya belum –atau mungkin sudah- memiliki seorang namja cho-sarangnya, mungkin kekesalan Kyungsoo akan bertambah setelah ini.
.
Drrrt drrrrt drrrt
.
Kyungsoo menatap layar ponsel melihat siapa yang menelponnya siang ini tepat setelah pulang sekolah, ' Sehunnie' segera dia menggeser layarnya ponselnya menerima sambungan telpon dari ketuanya itu.
" Yeoboseo?"
" yeoboseo, Kyungie-chan?"
" Hm, ada apa albino?" Kyungsoo sangat tahu jika ketuanya –lebih tepatnya teman terakrab di DK- itu memanggilnya 'Kyungie dengan imbuhan –chan' dia pasti benar-benar mengharapkan sesuatu dari seorang Kyungsoo.
" YA! Aku ini ketuamu berani sekali mengataiku."
" Ne Sehunnie, waegurae, kau ingin apa eoh?"
" Haha, kau tau saja nona Do. Ok, hari ini kau ada acara Kyungie?"
" Anni, waeyo?"
" Bagus sekali, karena kau adalah sekretaris satu-satunya yang kumiliki maka kuberikan kau sebuah amanat."
Jdeeer!
Benar saja tebakan Kyungso, ketuanya itu mengingkan sesuatu, dengarkan saja kata-katanya yang mencoba merayu Kyungsoo –apakah itu bisa disebut rayuan?-
" Cepat katakan atau kututup telponnya. Tak usah bertele-tele, kau ingin aku melakukan apa?"
" Baiklah, tolong teliti semua proposal kegiatan club sekolah, acc saja jika menurutmu itu bisa diterima, ah jangan lupa buat proposal untuk kegiatan kita yang akan datang."
" Kenapa sebanyak itu? Itukan pekerjaanmu Hun?"
" ah, ya satu lagi selesaikan semuanya sebelum hari senin karena kita harus menyerahkan semuanya kepada kepala sekolah hari senin."
" MWO?! Aisssh! Baiklah akan kukerjakan, memangnya kau mau kemana Hun?"
" Aku ada kencan dengan salah satu sahabatmu, gomawo Kyungie nanti kubelikan boneka pororo ne sebagai ucapan terima kasih. Bye"
" Ah. ." belum sempat kyungsoo membalas ucapan Sehun, sambungan telponnya sudah terputus. Dia kesal pada Sehun yang suka semena-mena itu, benar-benar menyebalkan mengerjakan tugas Dewan Kesiswaan saat weekend dan parahnya lagi tak ada yang menemaninya. 'Ah, sebal sebal sebal!' Kyungsoo melayangkan protesnya yang tak didengar oleh Sehun.
Flashback Off
.
.
.
.
'bbuug. . bbuug. . bbuug' terdengar suara bola yang memantul ke lantai. Saat ini gedung serbaguna (kantin, unikes *unit kegiatan siswa, dan DK) sedang kosong, ini kan hari sabtu dimana para siswa mengakhiri kelasnya pada pukul 12.00 KST.
Suara debuman bola semakin mendekati ruang DK, Kyungsoo merasakan bulu kuduknya merinding, dalam pikirannya dia menerka-nerka siapa yang memainkan bola basket di koridor gedung lantai 3 ini. Jangan-jangan itu adalah namja mesum yang sedang mencari mangsa atau hantu penunggu sekolah. Dia mulai ketakutan, tubuhnya gemetar setelah merdengar bunyi,
.
'Creeeek'
.
Pintu ruang DK terbuka menampilkan setengah badan seseorang namja, Kyungsoo menyipitkan matanya 'namja mesum?! Oh Tuhan, kumohon selamatkan aku' pintanya dalam hati. Tubuhnya membeku tidak dapat beranjak dari kursi sofa mulutnya kini dia bekam dengan tangan kirinya mencoba untuk tidak berteriak sedangkan tangan kirinya mencoba menggapai ponsel dimejanya, namun . .
" Kyungsoo? Apa yang kau lakukan disini?" rupanya si 'namja mesum' itu adalah Kim Jongin. Ah! Rasany itu lebih pantas untuk Sehun.
Kyungsoo mengenali siapa namja yang tengah berdiri di pintu, 1 minggu yang lalu namja tan itu telah mengembalikan kalung pemberian eommanya. Kyungsoo merasa lega, dia membuang nafas panjang, mengatur kembali detak jantungnya yang sempat mendapatkan seranganmendadak.
" Ah, Jongin-shi. Kau yang memainkan boladisepanjang lorong? Kau membuatku hampir mati ketakutan." Kyungsoo menata duduknya, terlihat anggun sekarang.
" Sampe segitunya Kyungsoo? Ah, Mianhae." Jongin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, hal itu dilakukannya untuk mengurangi rasa gugupnya. Jongin memang sering melihat Kyungsoo dikantin, diperpus, atau digedung serbaguna, dia juga mengetahui bahwa Kyungsoo anak terpandai ditingkatannya. Untuk peringkat parallel –peringkat seluruh siswa SA International High School- Jongin berada diperingkat pertama sedang Kyungsoo diperingkat kedua selalu seperti itu tapi tentu saja Kyungsoo mendapat peringkat pertama di tingkatan dan jurusannya.
Dengan cepat Kyungsoo membalas perkataan Jongin " Anni anni, gwenchana Jongin-shi." Menggelengkan wajahnya imut, dia tidak ingin Jongin salah paham padanya. " Ah, ne." Jongin hanya menjawab singkat.
.
.
Kini keduanya diam membisu dengan posisi yang masih sama. Kyungsoo duduk tak jauh dari Jongin yang masih sibuk dengan bola basket ditangannya. Kyungsoo sendiri masih berkutat dengan dokumen-dokumen diatas meja. Dia ingin mengobrol banyak dengan Jongin tapi dia bingung harus bagaimana cara memulainya dan dapat kalian lihat Jongin sendiri malah menyibukkan dirinya. Melihat hal itu Kyungsoo semakin tak percaya diri.
" Ehemmm." Jongin berdehem pelan, " Apa yang kau lakukan disini Kyung. .ngie? Apakah ada pekerjaan DK?" dia sedikit ragu memanggil 'Kyungie' terdengar tak biasa dilidah dan telinganya meskipun dihatinya ingin memanggil begitu.
Kyungsoo menoleh ke arah Jongin mendengar si namja memanggilnya dengan panggilan yang tak biasa bagi Kyungsoo. Dia merasakan ada getaran aneh, rasanya begitu menyesakkan namun menyenangkan. Tentu saja namanya saja cho-sarang!
" Aku sedang mengerjakan tugas-tugasku dan Sehun, lantas kau sendiri apa yang kau lakukan Jongin-shi?" Kyungsoo mencoba memberanikan dirinya untuk bertanya dan memanggil Jongin dengan akrab, masih malu rasanya jika harus memanggil jongin dengan akrab.
" Memangnya Sehun tak mengerjakan tugasnya sendiri? Kenapa harus kau yang mengerjakan tugasnya? Ini aneh sekali. Ah, Aku habis bermain basket bersama teman-temanku. Dan ini –menunjukkan bola basket- harus diletakkan pada tempatnya bukan?"
" Dia sedang kencan dengan Luhan, makanya dia menyuruhku mengerjakan pekerjaannya ini, benar-benar menyebalkan. Lantas kenapa kau tidak mengembalikan bola itu, Jonginnie?"
" Kau tanya kenapa, Kyungie? Tentu saja karena aku sedang mengobrol denganmu sekarang. Bukankah ruang extra-basket setelah ruangan DK nona manis?"
Bluuussh, Jongin mengatakan bahwa Kyungsoo itu 'manis' rasanya sekarang Kyungsoo sedang menjerit didalam hatinya, kalian lihat bukan dua namja yang sama-sama genit bedanya jika Sehun terlihat lembut tapi liar sedangkan Jongin terlihat liar namun begitu lembut. Gak kebalik noh?!
" Ah, ne Jonginnie, mian."
" Ne, . . "
.
Drrrrt drrrt drrrrt drrrrt drrrrt
.
" Changkaman Kyung, aku ada telpon." Jongin memasukkan tangannya kesaku celana trainingnya. Mengambil ponselnya dan melihat sebuah nama yang terpampang pada layar ponselnya.
'Junsu Uisa Calling'
Dokter yang bertanggung jawab merawat eommanya selama 1 tahun ini, eommanya menghidap kanker, meski sudah dilakukan operasi 3 bulan yang lalu namun sudah 2 minggu ini kondisi eomma memburuk. Dengan segera Jongin mengangkat sambungan telpon Junsu Uisa.
" Yeoboseo Junsu eonni?"
" . . . . . ."
" Ne Eonni? Sekarang?"
" . . . . . ."
" Ne eonni ne, aku akan segera kesana." Jongin menutup telponnya kemudia mengambil tasnya
Kasar, Kyungsoo yang melihat itu segera bangkit dari tempat duduknya " Ada apa Jonginnie? Apa ada hal yang serius?"
" Aku harus kerumah sakit sekarang. Mian aku tak bisa menemanimu lagi, pulanglah segera, hari sudah malam. " Jongin berjalan tergesa-gesa namun langkahnya terhenti sangat sebuah tangan memegang lengannya. Melihat lengan kecil dan putih itu sebentar kemudia menoleh kebelakang, "Ada apa Kyungie?" Kyungsoo menatap Jongin tajam, " Aku ikut denganmu."
" Maksudmu?"
" Iya aku ingin ikut denganmu kerumash sakit."
" Kerumah sakit? Tapi aku hanya membawa sepeda."
" Aku bawa mobil, bukankah kita bisa cepat sampai dengan mobilku?" Jongin tampak berpikir dia sedikit ragu sebenarnya, 'apa tidak apa-apa?' begitu pikirnya
" Baiklah, tapi aku yang mengemudikannya." Kyungsoo mengangguk mantap. Jongin kan sudah punya SIM jadi boleh dong Jongin yang nyetir gitu.
Mereka berlari ke parkiran, Jongin segera menekan tombol kunci otomatis yang sudah diserahkan Kyungsoo. Mobil sedan putih Limited Edition –atau lebih tepatnya satu-satunya produksi Do Corp. Mobil yang didesign khusus untuk satu-satunya putri dan pewaris Do Corp. Ayah Kyungsoo yang memberikannya padanya sebagai hadiah diterimanya dia di SA International High School. Biasanya supir yang membawanya tapi hari ini Kyungsoo ingin membawa mobilnya tanpa supir, suatu keberuntungan bukan karena dengan begitu mereka bisa semobil seperti ini. Haruskah Kyungsoo bersyukur? Tentu saja, jika Sehun tidak memberikannya tugas segitu banyaknya yang mengakibatkannya pulang malam dia mungkin takkan bertemu namja tan yang kini duduk dibelakang Kyungsoo untuk berterimakasih pada Sehun.
.
.
.
Selama diperjalanan Jongin terlihat begitu cemas, dia juga mengemudikan mobil Kyungsoo dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Memecah keramaian Seoul dimalam hari, dia ingin cepat sampai Seoul Hospital dan bertemu dengan Junsu Uisa.
Kyungsoo melihat ekpresi khawatir Jongin, perlahan tangannya mendekati tangan Jongin yang tengah berada diatas kemudi. Jongin terkejut. Untung saja dia tak membanting setirnya. Dia diam saja tak menggerakkan tangannya, dia bingung harus bagaimana baginya ini bukan waktu yang tepat mesra-mesraan dengan Kyungsoo. Bukan itu yang Jongin pikirkan, dia diam karena detak jantungnya semakin berdetak kencang – alasan pertama tentu saja kabar dari Junsu eonni dan kedua serangan mendadak Kyungsoo. Kita benarkan bukan serangan mendadak Jongin! Hanya sentuhan yang mendebarkan (?)
Tiba-tiba suasana hening itu dipecahkan oleh Kyungsoo " Jonginnie." Panggil Kyungsoo.
Jongin menolehkan wajahnya kesamping menatap wajah Kyungsoo yang sudah menatapnya sedari tadi. " Ne Kyungie, ada apa?"
" Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Maaf aku memang tidak tahu apa yang terjadi. Aku hanya tidak ingin melihat wajah sedihmu. Mian, aku lancang memegang tanganmu." Dimata Kyungsoo, namja itu tidak suka tangannya tiba-tiba disentuh olehnya. Dia melepaskan pegangan tangannya dengan perlahan, namun tangannya ditahan oleh tangan Jongin. Dia menggenggam erat tangan Kyungsoo seperti tidak ingin kehilangan tangan mungil milik si yeoja.
" Gwenchana." Jongin menautkan tangannya dengan Kyungsoo. Tangan yeoja itu memang kecil tapi begitu pas dalam tautan tangan Jongin " Gomawo Kyungi." Lanjutnya kemudian dia menarik kedua pipinya, menampilkan senyum hangatnya yang khas.
.
.
Jongin segera membuka pintu mobil dan berlari, Kyungsoo yang melihatnya ikutan lari dibelakang Jongin. Mereka segera menuju kamar dimana Jongin eomma dirawat.
" Junsu eonni." Pekik Jongin saat melihat seorang wanita mengenakan jas putih keluar dari kamar eommanya.
" Jonginnie, akhirnya kau datang juga." Jongin berdiri tepat dihadapan Junsu uisa.
" Bagaimana keadaan eomma, eonni?"
" Eommamu sudah melewati masa kritisnya, tapi tak mungkin bahwa eommamu akan mendapati masa kritis lagi."
" Syukurlah, aku benar-benar khawatir pada eomma."
" Tenanglah, sebaiknya kau banyak berdo'a untuk kesembuhan ibumu."
Kyungsoo tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi alhasil dia hanya bisa diam dibalik punggung tegap milik Jongin. Saat Kyungsoo ingin mencoba bertanya pada Jongin tiba-tiba seorang perawat membuka pintu kamar rawat Jongin eomma dan berteriak memanggil Junsu yang sedang mengobrol dengan Jongin tak jauh dari kamar.
" Uisa. .Junsu uisa. ." Seruu perawat wanita itu.
" Ada apa?"
" Pasien kamar 288, dia dalam keadaan kritis."
" MWO?! Aku akan segera kesana, kau ambil pemacu jantung, segera!" Titah Junsu pada si perawat ucapannya hanya dibalas anggukan perawat itu sesegera mungkin berlari guna melaksanakan perintah atasannya itu.
Junsu menatap Jongin, " Kau disini saja, tenanglah disini." Kemudian dia berjalan menuju ruang pasiennya menangani Ny. Choi Sungmin yang memang adalah temannya saat Senior High School.
Jongin begitu lama menunggu di depan kamar eommanya dirawat, dia begitu gelisah, khawatir, banyak pikiran-pikira negative mengahantuinya. Dia benar-benar takut kemungkinan ibunya akan meninggalkannya. Kyungsoo bisa memahami apa yang dirasakan Jongin, dia masih menggenggam tangan Jongin. Genggamannya terasa semakin erat karena Jongin menggenggamnya begitu erat, dia masih menundukkan kepalanya sehingga Kyungsoo tak bisa melihat bagaimana wajah namja tan itu.
" Tuan Kim Jongin." Jongin terkejut namanya dipanggil, dia mengangkat kepalanya melihat seorang perawatlah yang memanggilnya.
" Ne?"
" Ibu anda memanggil anda. Silahkan anda masuk." Jongin masih mengenggam tangan Kyungsoo, dia mengajak yeoja itu masuk kedalam bersamanya. Setelah melihat eommanya genggaman itu terlepas dan berpindah ke tangan eommanya.
" Eommma. ." panggil Jongin
Sungmin begitu lemah, wajahnya tampak pucat, kondisinya benar-benar mengakhawatirkan " Jonginnie. ." panggil Sungmin dengan suara paraunya.
" Ne eomma, apa eomma merasa sakit? Katakan pada Jongin bagian mana yang sakit eomma, jongin akan mengatakan pada dokter untuk menyembuhkannya, eomma tak usah banyak bicara tunjuk saja. Eomma . ." perkataan Jongin yang panjang lebar dipotong oleh Sungmin.
" Ssst, kau cerewet sekali chagy." Sungmin memaksakan senyumnya, dia merasakan jantungnya semakin sakit.
" Eomma, aku cerewet untuk kebaikan eomma juga."
" Dengarkan eomma Jonginnie."
" Ne eomma."
Sungmin tersenyum, " Jongin kau harus ingat appa dan eomma begitu menyayangimu. Kau satu-satunya anak kami yang berharga. Appa pasti senang melihatmu tumbuh menjadi namja yang kuat dan baik. Appa dan eomma selalu berdoa untukmu chagy, kau harus selalu kuat dan bersikap baik pada siapapun. Suatu saat jika kau menerima sebuah kenyataan pahit, kau harus menerimanya, berpikirlah dengan bijak chagy."
" Eomma, Hiks. . Hiks . . kenapa eomma berkata begitu. Jongin juga sayang appa dan eomma, jadi eomma harus cepat sembuh dan masakkan untuk Jongin."
" Bukankah kau namja yang kuat, jangan menangis chagy." Sungmin mengusap air mata yang membasahi pipi anaknya dengan susah payah, tubuhnya semakin lemah.
" Mian chagy berbahagialah. Kau harus bahagia. Chagy. . ." tangan Sungmin terkulai lemas jatuh begitu saja dari pipi Jongin, matanya sudah menutup terlihat begitu damai. Junsu segera menyingkirkan Jongin.
" Alat pemacu jantung, cepat!" perintah Junsu pada seorang perawat
1x
2x
3x
Tidak ada reaksi, Junsu segera melakuka VPR pada pasiennya itu, memberikan nafas buatan dan menekan-nekan dada Sungmin
1x
2x
3x
Tetap tak ada reaksi apapun dari tubuh Sungmin, Junsu tak mau menyerah dia masih melakukan itu berkali-kali
1x
2x
3x
Hasilnya tetap nihil dengan sangat berat hati Junsu turun dari atas tubuh Sungmin, menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya. Jongin dan Kyungsoo masih bingung dengan keadaan itu, mereka tidak mau mengira-ngira sesuatu yang buruk telah terjadi pada ibunya tapi nyatanya itulah yang terjadi.
" Mianhae Jonginnie, eommamu sudah tiada. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin."
" ANDWAE! Andwae eonni, jebal selamatkan ibuku, bukankah kau dokter specialis jantung terbaik di Seoul eonni."
Junsu mendekati Jongin, menggenggam tangan namja tan itu. " Mianhae, kau harus kuat Jonginnie."
" Eonni, aku harus bagaimana." Jongin melepas genggaman tangan Junsu, mendekati eommanya yang masih terbaring diatas tempat tidur. " Eomma. ." panggil Jongin.
" Eomma, ireona. . ireona eomma. Jongin disini eomma, bangunlah eomma kumohon. Hiks. . Hiks. . eomma." Jongin memeluk tubuh ibunya yang mulai kaku dan dingin.
" Eomma, bukankah eomma sayang padaku. Kenapa eomma meninggalkanku secepat ini. Eomma, akupun belum sempat meminta maafku, belum sempat membahagiakanmu, wae eomma wae, kenapa kau meninggalkanku eommaa. . ."
Kyungsoo segera mendekati Jongin dan memeluknya. " Kau harus kuat Jongin, relakan ibumu. Jangan kau buat dia khawatir, bukankah kau anak yang kuat?"
Jongin menoleh kearah Kyungsoo, dia menangis dan terlihat begitu sakit. " Kyungie, aku belum sempat membahagiakan eommaku. Aku tidak tahu harus bagaimana setelah ini."
" Jongin, kuatkan dirimu. Sungmin pasti akan melihat dan menjagamu dari surga. Biarkanlah ibumu pergi dengan tenang dan bertemu appamu. Kau harus kuat." Junsu juga memeluk Jongin, memberikan kekuatan pada namja yang sudah dianggap anak olehnya.
.
.
.
" Yeoboseo, Suie?"
" Ne, oppa . ."
" Benarkah Suie? Lantas dimana Jongin? Dia baik-baik saja?" tanya seorang namja bermata musang pada Junsu melalui saluran telepon.
Junsu mengernyitkan dahinya heran, orang yang daritadi berkali-kali dia hubungi kenapa sekarang baru menghubunginya padahal bisa dibilang itu keadaan darurat. " Kenapa kau baru menelponku sekarang, oppa? Dia dirumah duka RS. Segera kesini!"
" Mian, tadi aku ada acara makan malam bersama keluargaku. Aku akan segera kesana. Kau hibur dia dulu." Suara namja itu terdengar sedih
" Hm, sepertinya dia sudah bisa menerimanya, sekarang aku ada pasien. Ku tinggalkan dia bersama temannya."
" Baiklah, kututup telponnya."
" Ne."
Tut tut tut tut
.
.
.
.
TBC
Bagaimana nasib Jongin selanjutnya? Sampai ketemu di chapter selanjutnya.
Thank To : Kim Kyungmin, ruixi, Yixingcom, and Guest (?)
Berusaha semaksimal mungkin..
Hug and Kiss
Yukasa Kisaragi : )
Silahkan Reviews
