PERINGATAN!
BAGI READERS DIBAWAH 17 TAHUN, JIKA MENEMUKAN ADEGAN KISSING HARAP DILEWATI SAJA.
BAGI READERS DIBAWAH 21 TAHUN, JIKA MENEMUKAN ADEGAN MELEBIHI KISSING DAN MENJURUS KE HAL YANG HIL HARAP SEGERA MELEWATINYA SAJA.
BAGI READERS YANG BANDEL TETEP KEKEH MAU BACA AJA PADAHAL UDAH DI INGETIN, TANGGUNG SENDIRI AKIBATNYA! -_-
.
Rate : T
.
.
Balasan Reviews lewat PM
^^ Happy Reading ^^
Chapter 12
Yunho yang mendengar kepulangan putra angkatnya segera mengemasi mejanya dan bersiap pulang. Tugas kepala Rumah Sakit di hari sabtu tidaklah terlalu sibuk, hanya meneliti beberapa dokumen dan menandatangainya.
Yunho keluar dari ruangannya menuju basement rumah sakit, berjalan menuju mobil Audi R88 miliknya. Dalam perjalanannya keluar dari rumah sakit, dia melihat seorang yeoja berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Dalam diam Yunho memperhatikan yeoja itu dengan seksama, dia kenal jelas siapa yeoja yang terlihat panic itu. Namun, tak ingin berlama-lama hanyut dalam pikirannya Yunho segera menginjak gas, melajukan mobil audi hitamnya.
.
.
ICBI
.
.
Yeoja itu berlari dengan tergesa-gesa berlari memasuki rumah sakit. Rasa khawatir menyelimuti hatinya, harapan-harapan positif dia panjatkan dalam hatinya.
Yeoja itu segera menghampiri meja resepsionis, "Permisi, bolehkah aku bertanya dimana ruang IGD?" tanyanya
"Anda berjalan lurus saja melalui jalan ini nona" Perawat itu menunjuk sebuah jalan "Lalu belok kiri ikuti garis merah." Tambah perawat.
"Baiklah terimakasih." Yeoja itu segera berjalan sesuai petunjuk yang didapatnya dari perawat.
Ketika yeoja itu hampir sampai di depan pintu IGD dia tidak melihat siapapun, dia tetap berjalan memasuki ruangan bertuliskan IGD diatasnya.
Dia berjalan mengintip dari balik tirai, mencari seseorang yang akan ditemuinya. Setelah melewati 4 pasien akhirnya dia sampai pada pasien yang kelima, dia sedikit mengintip kedalam. Melihat orang yang tertidur diatas ranjang adalah orang yang dicarinya dengan segera dia menerobos masuk.
Yeoja itu ingin segera meneriaki orang yang terbaring diatas ranjang, namun dia urungkan karena si pasien sudah memberi isyarat 'jangan mengatakan apapun, diamlah'.
.
.
ICBI
.
.
Yunho berjalan memasuki rumahnya, saat dia membuka pintu Jaejoong sudah menyambutnya. Yunho memberikan kecupan singkat di dahi istrinya. "Dimana Jongin, chagy?"
Jaejoong memindahkan tas suaminya pada tangannya "Sedang menonton tv bersama Sehun, yeobo, kajja kita temui dia."
Yunho berjalan berdampingan dengan istrinya menuju ruang keluarga. Disana terlihat Jongin duduk bersila diatas sofa dengan semangkuk besar yoghurt ditangannya.
"Kim Jongin." Panggil Yunho. Jongin mencari asal suara yang sangat familiar di telinganya "Appa Jung?" Jongin meletakkan mangkuknya di meja dan berlari memeluk Yunho.
Yunho menerima pelukan putra angkatnya itu "Selamat datang kembali jagoan Kim." Ucap Yunho dalam pelukannya. Jongin melayangkan protesnya
"Appa! Aku bukan balita yang harus dipanggil jagoan."
Yunho melepas pelukannya, dia tertawa gembira mendengar perkataan Jongin "Rupanya Kim Jongin sudah dewasa, lama tinggal di New York membuatmu tumbuh dewasa nak."
"Kuanggap itu sebagai pujian appa."
Setelah saling menyapa Yunho ikut bergabung dalam percakapan anak dan istrinya. Mereka semua duduk di sofa yang tersedia di ruang keluarga. Kopi hangat dan cookies menemani obrolan mereka malam itu.
Jongin menceritakan pengalamannya selama menempuh pendidikan di New York. Jongin sering memberi kabar pada keluarga angkatnya namun cerita yang disampaikan langsung olehnya terdengar lebih mengasyikkan.
.
.
Jongin selesai membersihkan wajah dan giginya, dia menganti pakaiannya dengan celana pendek dan kaos santai. Saat dia keluar dari kamar mandi, dia menemukan Sehun duduk manis diatas ranjang.
"Apa yang ingin kau inginkan?" tanyanya pada Sehun
Sehun mengerti maksud saudaranya. Dia begitu ingin tahu kronologi kejadiaan yang bertahun-tahun silam terjadi, perpisahan yang terkesan janggal dimata Sehun.
"Kau sudah berjanji akan menceritakan segalanya ketika kau pulang, Kim!" Sehun mengingatkan, Jongin duduk diatas kursi "Tidak sekarang, aku lelah."
"Appa tadi bertemu dengan Kyungsoo di Rumah Sakit." Ucap Sehun enteng, dia berdiri dari dari duduknya hendak meninggalkan kamar Jongin.
Jongin terkejut, "Tunggu!" cegahnya "Bagaimana bisa appa bertemu dengan Kyungsoo?"
Sehun yang hendak pergi dari kamar Jongin balik memandang namja itu, "Akan kuceritakan setelah kau melunasi hutangmu." Benar-benar Jung Sehun yang tidak mau kalah.
"Geurae! Aku akan menceritakannya padamu."
.
.
ICBI
.
.
"Oppa, benarkah hari ini Jongin kembali ke Korea?" Namja yang dipanggil oppa itu menatap yeoja di dsampingnya, dia mengangguk "Ne chagy, Jongin sudah sampai dirumahnya. Sehun yang menghubungiku."
"Benarkah hyung? Kenapa Jongin tidak memberiku kabar, dia itu!" ucap namja lain. "Mungkin Jongin ingin memberi kejutan pada kita oppa."
"Ya, ada benarnya juga apa yang dikatakan Baekhyun. Lagipula, saat dia terpuruk karena Kyungsoo kita tidak bisa membantu apapun."
Mereka tidak mengerti kenapa hubungan Jongin dan Kyungsoo bisa kandas begitu saja, 3 tahun bukanlah waktu yang singkat. Hubungan yang begitu lama terjalin dan putus begitu saja hanya karena alasan yang sebenarnya terlalu dibuat-buat.
Jika Kyungsoo tidak sanggup menjalani LDR lantas 2 tahun yang dia jalani sebelum putus disebut apa? Bukankah selama 2 tahun itu mereka juga LDR, siapapun pasti akan menebak bahwa alasan yang dibuat Kyungsoo terlalu mengada-ada. Mungkin Kyungsoo memang tidak pandai berbohong atau dia tak tahu bagaimana caranya berbohong. Entahlah.
"Kau sudah menghubungi Kyungsoo, Xiu?" tanya Jongdae pada yeojachingunya.
Xiumin menggelengkan kepalanya, sejak 15 menit yang lalu dia sudah berusaha menghubungi Kyungsoo, tapi ponsel yeoja itu susah sekali dihubungi. Berkali-kali Xiumin menghubungi Kyungsoo, panggilannya selalu teralihkan pada kotak suara. Xiumin sedikit geram dan khawatir dibuatnya.
"Sudah oppa, aku sudah berkali-kali menghubunginya tapi panggilannya selalu teralihkan."
Baekhyun ikut membantu dengan menghubungi Luhan, namun hasilnya sama saja mereka tidak bisa menghubungi Kyungsoo dan Luhan.
Saat mereka sedang kebingungan menghubungi Kyungsoo, ponsel Chanyeol berdering tanda panggilan masuk.
"Yeoboseo." suara yeoja menyambut telinga Chanyeol "Yeoboseo? Nuguseo?" balas Chanyeol
"Oppa! Aku Kyungsoo. Mian, aku tidak bisa ikut kumpul malam ini, appaku masuk rumah sakit. Mianhae, ne?"
Kyungsoo yeoja yang dinantikan kabarnya itu menghubungi Chanyeol memberikan penjelasan atas ketidakhadirannya dalam acara itu. Acara kumpul bersama yang rutin mereka lakukan.
"Appamu masuk rumah sakit? Apa yang terjadi Kyungsoo-ah?" tanya Chanyeol panic
"Appa hanya kelelahan. Gwenchana, sampaikan salamku untuk yang lain. Oppa Sudah dulu ne, aku harus menemui perawat. Bye!"
Kyungsoo memutuskan panggilannya.
"Apa yang terjadi pada Kyungsoo oppa?"
"Apa dia terluka?"
Chanyeol meletakkan ponselnya diatas meja "Dia bilang appanya masuk rumah sakit karena kelelahan."
.
.
ICBI
.
.
Jongin menceritakan segalanya pada Sehun, tak ada satu hal pun yang tertinggal dari ceritanya. Benar-benar tak ada satu hal pun dan Jongin menceritakannya dengan sangat detail hingga tidak ada kata ambigu dalam kisahnya.
Sehun mendengarkan setiap detail cerita Jongin, tampaknya terlihat serius dan berpikir. Terkadang dahinya ikut berkerut di ikuti wajah keheranan.
"Sekarang giliranmu untuk menceritakan bagaimana appa bisa bertemu dengan Kyungsoo?" ucap Jongin di akhir dongengnya.
Jongin balik menuntut haknya pada Sehun, sebenarnya dia sudah menghindar untuk membicarakan topic yang pelik ini. Namun, apa daya ketika mendengar nama yeoja itu disebut Jongin tidak dapat untuk mengacuhkannya begitu saja.
Dia benar-benar merasa gagal karena tidak dapat mempertahankan Kyungsoo. Dia begitu mencintai gadis itu. Dalam hatinya sudah tercipta sebuah tekad untuk bersama gadis itu dalam suka dan duka. Dalam satu ikatan janji suci.
Rencana yang dibuat Jongin menguap begitu saja di udara. Dia berencana menikahi Kyungsoo setelah lulus dari study dan membawanya tinggal di Amerika bersamanya. Jongin sudah membeli sebuah rumah di Amerika, rumah yang nyaman dan elegan untuk mereka tinggali bersama anak-anaknya nanti. Rumah yang di desain khusus oleh Jongin dengan segala penataannya.
"Tunggu, apa benar itu alasan Kyungsoo memutuskanmu?" Sehun berkata
Cerita Jongin dianggap tidak masuk akal baginya, bukankah mereka saling mencintai dan Sehun tahu betapa Kyungsoo mencintai Jongin.
Jongin mengangguk, hanya mengangguk. Dia tidak bisa untuk menjelaskan segala yang terjadi lebih dalam lagi, dia bahkan sudah mencoba bertanya pada Kyungsoo.
"Bukankah itu tidak masuk akal? Itu terlalu mengada-ada, aku kira kau bukan orang bodoh yang tidak mengerti apa arti dari kalimat itu. Tidak sanggup menjalani LDR? What the …..? bukankah itu hal yang bisa dikatakan hampir tidak mungkin dijadikan sebagai alasan putusnya kalian?" komentar Sehun panjang lebar
Dia bukannya ingin ikut campur, dia hanya merasa semuanya berjalan begitu aneh. Bagaikan ada banyak rahasia dan kebohongan dibalik itu semua. Jongin belum mengetahui bahwa Kyungsoo adalah anak dari seorang Do. Ya, Do yang telah merebut perusahaan appa Jongin.
Sehun berpikir sejenak mencoba untuk mencari sesuatu yang tertinggal, suatu hal yang mungkin luput dari perhatiaannya, sesuatu yang dapat membawanya pada kejelasan masalah yang pelik ini. Pelik bagi sahabat dan saudara tirinya.
"Hun-ah, aku bukannya menutup mata, telinga, dan hatiku. Aku tahu alasan Kyungsoo memutuskanku terkesan dibuat-buat dan mengada-ada. Aku sudah mencoba memintanya unuk menjelaskan alasan sebenarnya, tapi kau tahu apa yang dia katakan?"
Sehun Nampak begitu penasaran, "Apa yang dia katakan?"
Jongin menghirup nafas panjang, rasanya berat mengorak luka lama yang telah tersimpan jauh di dalam hatinya yang entah itu merupakan bagian terdalam dari ruang hatinya.
"Dia hanya berkata, tak ada alasan lain dia hanya merasa tidak sanggup untuk menjalani hubungan seperti itu lebih lama lagi, ketika dia membutuhkanku disisinya aku berada jauh darinya, ketika dia ingin mendengar suaraku secara langsung suaraku bagai ilusi baginya, ketika dia ingin menyentuhku dia hanya dapat menyentuhku lewat sebuah foto, ketika dia ingin memelukku dia hanya dapat memeluk bayanganku. Lantas bagaimana aku harus mengelak? Aku tidak bisa melakukan apa-apa, aku tidak bisa selalu berada disisinya, aku tidak bisa bercanda dan menghiburnya setiap saat dia inginkan, aku tidak bisa membiarkannya menyentuh tubuhku bahkan aku tak bisa merangkulnya dalam pelukanku." Jongin benar-benar menumpahkan segala kekalutan hati yang dia simpan terlalu lama.
Dia benar-benar menahan segala kegalauan hatinya. Dia masih mampu untuk berpikir jernih. Dia ingin segera menyelesaikan tugasnya dan kembali ke negaranya. Ya negaranya, dimana seorang Do Kyungsoo tinggal dan hidup disana.
Sehun menepuk bahu Jongin, mencoba menenangkan namja tan yang sedang teringat kembali pada luka lamanya. Luka yang sudah dikubur selama 2 tahun ini.
"Tenanglah, kau sudah disini sekarang. Kau ingin menanyakan langsung pada Kyungsoo? Bertemu dengannya dan membicarakannya?"
Sehun memberikan gagasan, entah gagasan itu diberikan disaat yang tepat atau tidak. Ya gagasan itu meluncur begitu saja dari bibirnya. Dia merasa bersalah melihat Jongin tak memberikan respon apapun.
Jongin diam terpaku ditempatnya mendengar apa yang dikatakan Sehun, dia tidak dapat berpikir sekarang. Dia tidak memiliki rencana untuk bertemu dengan Kyungsoo dan membicarakan masa lalu mereka. Percuma. Begitu pikir Jongin, kejadian itu sudah berlalu 2 tahun yang lalu dan mungkin saja saat ini Kyungsoo sudah memiliki namja lain disisinya.
Melihat Jongin tak memberikan respon Sehun segera berpikir untuk mengganti topik. Dia memilih sebuah kata yang mungkin akan memperburuk suasana hati Jongin.
"Kau tadi bertanya bagaimana appa bisa bertemu dengan Kyungsoo? Appa hanya melihat Kyungsoo berlari masuk ke rumah sakit dengan tergesa-gesa. Aku sudah menghubungi perawat yang ku kenal di rumah sakit, dia mengatakan bahwa ayah Kyungsoo dirawat dirumah sakit."
Jongin sedikit terkejut. "Dia pasti sangat mengkhawatirkan appanya."
Sehun mengangguk, dia ingin menceritakan segala perubahan yang terjadi pada Kyungsoo.
"Mungkin begitu tapi sejak kalian putus, dia tinggal berpisah dengan appanya. Ya sudah aku kembali ke kamarku, kau istirahatlah."
Sehun beranjak dari kamar Jongin, ketika dia sudah diluar pintu kamar Jongin dia menyadari sesuatu. Sesuatu yang luput dari perhatiaannya. Ya dia harus mencari tahu kejelasan dari hal itu.
Jongin masih berkutat dengan pikirannya, segalanya makin membuat kepalanya pening.
.
.
ICBI
.
.
Yunho, Jaejoong, Sehun sudah kembali ke Korea setelah menghadiri perayaan kululusan Jongin. Mereka bertiga kembali ke Korea tanpa namja tan itu. Yunho dan Jaejoong ikut bangga meski mereka bukan orang tua kandung Jongin.
"Seharusnya Jongin ikut bersama kita kembali ke Korea. Dasar penggila kerja." Sehun kembali menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
Dia merasa jengkel pada Jongin, tidak bisa kembali ke Korea karena alasan pekerjaan 'Cih!' menyebalkan sekali dia, disamping itu dia tidak ijinkan menginap di rumahnya barang satu atau dua hari lebih lama. 'Dasar temsek!' serapah Sehun dalam hati
"Hun, bukankah Jongin harus mengurus perusahaannya? Dia benar-benar mirip seperti appanya, ku kira saat dia mendapat beasiswa kuliah di Amerika dia akan memperdalam ilmu dancenya tapi sebaliknya, dia lebih memilih jurusan management bisnis." Jaejoong berkata
"Tetap saja umma, setidaknya dia mengijinkanku untuk tinggal disana satu atau dua hari lebih lama." Ucap Sehun
Kesal. Itu yang Sehun rasakan, pasalnya dia ingin menikmati casino di Las Vegas yang terkenal dengan gadis-gadis cantiknya. Oh tunggu, apa yang terjadi padanya dan Luhan?
Luhan? Gadis blasteran China Korea itu masih menjadi kekasih satu-satunya Jung Sehun. Dia mengunjungi ingin menunjungi casino atau night club di Las Vegas atau Amerika bukan untuk mengincar para gadisnya. Dia hanya ingin mencicipi bagaimana rasanya menikmati segelas wine di sebuah night club Negara orang, tentu akan beda sensasinya. Pikiran anak muda.
"Jangan khawatir, kalian pasti akan bertemu dengan Jongin lagi dalam waktu dekat." Akhirnya sang raja angkat bicara, setelah diam mendengarkan istri dan anaknya berceloteh.
"Jongin? Dia akan kembali ke Korea? Apakah dia akan tinggal disini appa?"
Yunho tampak tenang dengan wibawa yang begitu terjaga, dia berdehem kecil sebelum menjelaskan apa yang dia ketahui tentang rencana Jongin.
"Ya, dia akan kembali dan mengurus cabang baru perusahaannya disini, di Korea, di tanah kelahirannya."
Sehun terbatuk, dia hampir menyemburkan kembali makanannya. Appanya tadi bilang 'mengurus cabang perusahaannya' Sehun mencoba berpikir 'perusahaannya' maksud appanya.
"Maksud appa perusahaan Jongin? Milik Jongin?" pertanyaan Sehun menuntut, dia perlu jawaban. Kaget, tak percaya, khayalan, semuanya bagai mimpi. Demi Tuhan, Sehun tidak pernah sekalipun mendengar kabar Jongin akan merintis perusahaan, tapi sekarang bukannya kabar akan merintis yang di dengar Sehun malahan kabar Jongin sudah memiliki sebuah perusahaan di Amerikadan apa tadi? Anak cabang? Oh God. Apa yang dilakukan namja itu selama 4 tahun ini di Amerika.
"Ya, dia sudah merintis bisnisnya sejak 3,5 tahun yang lalu. Beruntung dia bertemu rekan dan teman bisnis yang luar biasa. Dia benar-benar menuruni bakat dan keberuntungan Siwon, dalam waktu kurang lebih 3 tahun itu bisnisnya sudah berkembang cukup pesat." Yunho menjelaskan secara singkat.
"Oh God. Apa saja yang dia lakukan di Amerika, benar-benar dia itu. Lantas kenapa umma tidak terkejut?" Sehun memperhatikan wajah ummanya yang sama sekali tidak terkejut dengan apa yang disampainkan appanya. Oh dia tahu "Appa dan umma sudah tahu sejak lama dan hanya aku yang baru tahu sekarang?"
"Jongin yang meminta umma dan appa tidak memberitahu siapapun termasuk kau, Hun."
"Sudah, cepat selesaikan makanmu. Kau bisa langsung menanyainya ketika dia pulang. Kemungkinan besok dia sudah berada di rumah."
"Dia mengambil penerbangan pagi?" tanya Sehun antusias "Dia naik jet pribadinya Hun."
Oh God. Apalagi ini, dalam sekali waktu Sehun mendengar kabar mencengangkan mengenai saudara tirinya. Saudaranya itu mendadak menjadi seorang pengusaha muda yang sukses dan kaya raya. Pantas saja namja tan itu jarang sekali pulang, ralat tidak pernah pulang ke rumahnya bukan rumah keluarga angkatnya, mungkin itu lebih tepat. Jongin berhutang banyak penjelasan padanya.
.
.
ICBI
.
.
Jongin sampai dengan cepat di tanah kelahirannya, dia merasakan lelah dan kantuk yang luar biasa. Dengan cepat Jongin menekan beberapa digit kode apartemennya, dia ingin segera membersihkan diri dan berganti pakaian.
Sejak acara perayaan kelulusannya selesai, dia langsung di sajikan dengan beberapa dokumen dan pertemuan penting dengan kliennya. Dia tidak sempat untuk sekedar mandi dan duduk santai. Jadwalnya kemarin sangat padat, belum lagi beberapa dokumen harus dia teliti sebelum keberangkatannya ke Korea.
Jongin melangkah masuk kedalam apartemennya, apartemennya cukup nyaman, luas dan bersih. Tidak banyak perabotan di dalam apartemennya, dia tidak suka banyak parabotan atau ornament-ornamen tidak penting dalam rumahnya. Toh, dia tinggal sendiri ornament-ornamen itu tidak akan berpengaruh padanya. Lagipula dia juga malas jika harus membersihkan ornament-ornamen kecil sendirian.
Apartemennya kedap suara, jadi dia tidak akan mendengar suara-suara aneh atau pertengakaran pasangan suami istri yang mungkin tinggal disebelah apartemennya.
Jongin keluar dari kamarnya dengan tergesa-gesa mendengar ponselnya berdering 'Sehun' nama dilayar ponselnya.
"Yeoboseo?"
'YA! Kim Jongin kau pulang ke Korea tidak menemuiku appa dan umma hah? Dimana kau saat ini.' Jongin menjauhkan ponselnya, merasa penging mulai merambati telinganya.
"Diamlah Jung, aku sedang lelah. Aku sudah mengatakan pada appa, nanti malam aku akan makan malam dirumah."
'Dimana kau sekarang? Kau berhutang banyak penjelasan padaku' Jongin menyeruput iced kopinya, dia membuka pintu geser menuju balkonnya dia berjalan keluar.
"Aku di apartemen, iya aku tahu. Nanti aku akan menjelaskannya padamu. Jangan khawatir."
'Hah~ baiklah. Kau sudah makan? Istirahatlah, jaga dirimu baik-baik.'
Sehun selalu cerewet padanya, mungkin karena dia dokter. "Tentu saja. Bye." Jongin menutup telponnya, dia menikmati kopinya lagi dan memandang pemandangan Kota Seoul yang sibuk di siang hari. Dari balkonnya Jongin dapat melihat kantor cabang perusahaannya yang terletak tak begitu jauh dari apartemennya K'Logg Korea.
Udara Seoul disiang hari terasa hangat, musim panas sebentar lagi berakhir. Jongin akan melangkah masuk namun langkahnya saat satu kakinya sudah menginjak lantai dalam rumahnya. Dia melihat seorang keluar menuju balkon, ya seseorang yang dikenalnya.
Entah apa yang dilakukan Jongin dia malah melangkah masuk dan menarik gordennya. Dia berjalan menjauh dari balkon.
Kyungsoo.
Dia yakin gadis yang keluar berjalan menuju balkon itu Kyungsoo. Dia tinggal bersebelahan dengan gadis yang selama ini selalu menghantuinya dalam mimpi. Gadis yang dirindukannya setiap malam. Gadis yang selalu membuatnya kesepian. Gadis yang membuat hatinya kering karena haus akan cintanya.
.
.
Kyungsoo begitu menikmati siang harinya, setelah lelah membersihkan apartemennya. Dia menikmati setiap angin yang berhembus menyentuh wajahnya. Iced lemon tea di tangannya ikut menyegarkan siang hari di balkon apartemennya yang penuh angin.
"Haah~ menyegarkan sekali." Kyungsoo menutup matanya masih menikmati hembusan angin.
Kyungsoo membuka matanya, dia mendengar suara seperti kain yang diterpa angin.
"Oh, suara apa itu?" Kyungsoo melirik ke balkon apartemen disebelahnya. Apartemen Jongin. Kyungsoo berjalan mendekati balkon apartemen tetangganya. Kyungsoo mengernyitkan dahinya, seingatnya apatermen disebelahnya itu kosong.
"Chogiyo~" teriak Kyungsoo, dia berteriak sekali lagi tapi hasilnya nihil. "Ah sudahlah, mungkin penghuninya sengaja membuatny terbuka."
Kyungsoo mengacuhkan tetangga apartemennya itu, tanpa tahu namja yang sedang bersembunyi di dalam sedang bingung bagaimana dia harus menghadapi situasi itu. Untung saja Kyungsoo langsung mengacuhkan kejadiaan itu. Jika tidak, Jongin tidak tahu harus berbuat apa.
.
.
ICBI
.
.
Pagi-pagi sekali Kyungsoo sudah bersiap untuk ke kantor, dia punya meeting penting dengan beberapa perusahaan. Appanya memang sudah mempercayakan perusahaannya kepada Kyungsoo, berat rasanya harus menjalankan perusahaan itu. Mungkin itu hukuman baginya, karena dosa appanya.
Kyungsoo begitu tergesa-gesa, dia terlambat bangun pagi ini. Dia bergegas berjalan menuju basement apartemennya. Disana terlihat seorang namja sedang memperhatikannya dari dalam mobil.
Kyungsoo dengan cepat melaju menuju kantornya, dia sudah sangat terlambat. Ini pertama kalinya dia datang terlambat ke kantor.
"Selamat pagi sajjangnim." Sapa sekretaris pribadinya, Luna.
Kyungsoo tersenyum mendengar sapaan Luna, "Selamat pagi, Luna siapkan segala keperluanku. Ku tunggu di ruangku 5 menit lagi.
Luna mengangguk "Ne sajjangnim, saya sudah menyiapkan sarapan anda dimeja. Anda dapat menunggu saya selagi menikmati sarapan anda."
Luna adalah gadis berparas cantik dan sikapnya juga sopan, dia sekretaris yang dapat di andalkan. Luna selalu menyiapkan sarapan Kyungsoo, itulah bentuk perhatiaan yang Kyungsoo suka.
Kyungsoo sudah menyelesaikan sarapannya ketika Luna mengetuk pintu. "Masuk"
Luna berdiri dan membacakan agenda Kyungsoo dengan seksama.
"Sepertinya anda harus melewati makan malam dengan pemilik perusahaan itu sajjangnim."
"A-apa? Kau tahu bukan, aku paling tidak suka makan malam berdua bersama dengan rekan bisnisku." Kyungsoo sedikit sebal, makan malam berdua itu terlalu pribadi baginya. Dia tidak suka meetingnya di balut dalam ke tidakformalan. Seharusnya meeting itu dilakukan di pagi, siang, atau sore hari di temani sekretaris pribadi dari kedua belah pihak.
Luna mengerti perasaan presidennya, "Maaf sajjangnim, anda jangan salah paham. Ini bukan makan malam berdua, saya akan ikut dengan anda."
Kyungsoo menatap Luna, "Jadi ini bukan makan malam berdua dengan pemilik perusahaan itu?"
Luna terkekeh geli, "Anda kira anda akan pergi kencan dengan pemuda itu sajjangnim?"
"Tunggu! Tunggu! Pemuda? Apa maksudmu dengan pemuda?"
Lagi-lagi Luna tersenyum geli "Ya sajjangnim, hari ini anda akan meeting dengan beberapa pemuda bukan ahjusshi-ahjusshi tua yang tidak menarik." Luna tersenyum penuh arti
"Oh God. Apalagi ini, kenapa banyak sekali pemuda yang harus kutemui. Aku malas melakukan negoisasi dengan para namja-namja muda itu, mereka terkadang arogan dan tak mau kalah."
Luna menggelengkan kepalanya "Setidaknya anda bisa menjalin hubungan dengan salah satu diantara mereka." Kyungsoo menatap Luna tajam dan yang ditatap hanya tersenyum.
.
.
Kyungsoo sudah duduk manis di sebuah meja bersama dengan Luna sekretarisnya. Dia meneguk minumannya.
"Apakah mereka datang terlambat, rekan yang tidak disiplin." Cibir Kyungsoo
Luna mencoba menenangkan direkturnya itu "Tenanglah sajjangnim, negosiasi ini sangat penting. Anda tahu bukan, kita yang membutuhkan. . ." belum sempat Luna menyelesaikan kalimatnya seorang pria datang menyapa mereka
"Maafkan keterlambatan saya. Perkenalkan saya sekretaris pribadi direktur, Park Jinki." Pria itu memperkenalkan dirinya dan membungkuk dengan sopan.
Kyungsoo dan Luna ikut memperkenalkan diri dan membungkuk.
Lelaki itu menjelaskan keterlambatannya, di samping itu dia menjelaskan keberadaan direkturnya.
"Direktur kami akan menyusul lima menit lagi. Selagi kita menunggu saya akan menjelaskan rincian awalnya pada anda."
Tak lama setelahnya seorang namja berjalan mendekati meja Kyungsoo.
Mengenakan Setelan jas berwarna hitam yang memperlihatkan wibawa dan kegagahannya. Sepatunya yang mengkilap tanpa debu memberikan kesan ekslusif padanya.
"Oh, itu direktur kami." Seru pria bernama Park Jinki
Kyungsoo mengikuti arah pandangan pria itu dan yang dilihatnya adalah sesosok pria dari masa lalunya yang datang secara tiba-tiba.
Kim Jongin? Apa yang dia lakukan disini? Tidak mungkin, tidak. Bukan!
Jongin berjalan semakin mendekat, dia tampak begitu tenang dan berwibawa.
"Maafkan keterlambatan saya, saya memiliki sedikit masalah yang harus saya tangani terlelbih dahulu." Jongin menunduk
"Ah. .Ne. ." Kyungsoo tidak dapat berkata apa-apa, dia merasakan gemuruh di dadanya di ikuti rasa pening di kepalanya. Kejutan apa lagi Tuhan.
"Perkenalkan saya Kim Jongin, direktur K'Logg Corp. Maaf, apakah anda baik-baik saja Nona Do?" tanya Jongin padannya. Dia bisa melihat wajah Kyungsoo yang semakin pucat.
"Ah. .Ne, saya baik-baik saja. Permisi saya ingin ke toilet sebentar." Kyungsoo merasakan kepala semakin pening, entah apa yang terjadi padanya. Dia merasakan sakit yang luar biasa pada kepalanya.
Kyungsoo mencoba untuk berdiri dan berjalan, tapi tiba-tiba badannya lemas dan jatuh begitu saja. Untung saja Jongin berdiri tidak jauh darinya, sehingga dia bisa menangkap Kyungsoo dengan cepat.
"Sajjangnim, sajjangnim.. . Oh bagaimana ini dia pingsan Tuan Kim." Luna panik melihat direkturnya tiba-tiba pingsan.
"Siapkan mobilku. Segera." Jongin memerintah sekretarisnya.
Kyungsoo masih tertidur di salah satu kamar kerumah sakit, wajahnya pucat pasi. Jongin menjaga Kyungsoo di sampingnya.
"Tuan Kim, biarkan saya saja yang menjaga Nona Do. Terimakasih sudah membantu saya." Ujar Luna.
Jongin masih menatap Kyungsoo, "Tidak apa-apa Luna-shi, dia dulu teman satu sekolahku dan aku mengenal keluarganya. Percayalah padaku, aku akan menjaganya dengan baik."
Luna tidak berani menolak apalagi setelah tahu bahwa direktur K'Logg itu mengenal dengan baik direktur dan keluarganya.
"Baiklah Tuan Kim, saya pamit. Permisi."
Jongin mengangguk dan menoleh menghadap Luna "Anda akan diantar pulang oleh sekretarisku, aku sudah mengatakan padanya. Terimakasih Luna-shi."
"Anda tidak perlu repot-repot tuan, saya baik-baik saja. Saya bisa pulang sendiri . .saya. ."
"Tidak apa-apa, anggap saja itu ucapan terimakasihku." Jongin memotong kalmia Luna dan dia menampakkan wajah tidak ingin dibantah.
Jongin menggenggam tangan Kyungsoo, dia begitu merindukan yeoja dihadapannya ini. Yeoja yang begitu dicintainya.
"Kyung, kenapa kau meninggalkanku sayang." Jongin ingin menangis, dia begitu sedih.
Banyak perubahan yang terjadi pada Jongin ketika dia berpisah dengan Kyungsoo. Dia kembali menjadi pribadi yang pendiam dan angkuh mungkin jika di ukur, sikapnya itu menjadi lebih parah setelah kehilangan Kyungsoo. Jika dulu ketika dia kehilangannya ayahnya ada ibunya dan ketika ibunya pergi ada Kyungsoo, tapi ketika Kyungsoo pergi tidak ada siapa-siapa yang menenangkannya.
Jongin mencium punggung tangan Kyungsoo, mengantarkan kerinduannya yang mendalam pada gadis pemilik doe eyes itu.
Kyungsoo sudah terbangun sejak Jongin bertanya padanya kenapa dia meninggalkannya. Dia pura-pura tertidur, dia tidak akan sanggup menatap mata kekasihnya itu atau lebih tepatnya mantan.
Jongin melepas ciumannya pada tangan Kyungsoo. Dia memandangi wajah Kyungsoo yang masih tertidur –mungkin. Kyungsoo masih tetap cantik dimata Jongin, kulitnya masih seputih susu, mata doe nya akan terlihat ketika terbuka, hidungnya, dan bibir hati yang berwarna secerah buah berry, merekah dan manis.
Tanpa sadar Jongin hanya terfokus pada bibir hati Kyungsoo. Dia ingin menyentuhkan bibirnya diatas bbibir Kyungsoo.
Jongin bangkit dari duduk, dengan setengah menunduk dia mendekatkan wajahnya pada wajah Kyungsoo.
Kyungsoo merasakan udara panas yang menerpa kulit wajahnya, dia sempat mendengar kursi bergeser. Mungkin Jongin beranjak pergi dari kamarnya, tapi tiba-tiba Kyungsoo merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya, lembut dan kenyal.
'Omo, apa ini? Dia..'
Awalnya Jongin hanya ingin memberikan kecupan ringan pada bibir Kyungsoo tapi kerinduaan yang mendalam mengusainya dan membawa untuk semakin menyatakan kerinduaannya melalui caranya sendiri.
"Eungghh. ." Kyungsoo mengeluh, sontak Jongin membuka matanya dan bertatapan langsung dengan doe eyes Kyungsoo.
Sial!
Dia kepergok sedang mencuri ciuman dari gadis yang sedang tertidur. Pengecut.
"Kyung . ." sapa Jongin, dia kembali duduk.
"Dimana aku?" Kyungsoo mencoba untuk menutupi rasa malunya. "Kau dirumah sakit, tadi kau pingsan saat kita akan melakukan meeting."
Ah, benar meeting. Kyungsoo kembali teringat bahwa Jongin adalah seorang direktur K'Logg Corp. Dia ingin bertanya pada Jongin bagaiman bisa dia menjadi seorang direktur perusahaan terkenal di Amerika tapi rasanya itu tidak mungkin. Tidak! Tidak dia harus mencobanya.
"Kau. ." Jongin menoleh "Iya Kyung. ."
"Bagaimana bisa kau menjadi direktur diperusahaan itu?" ucap Kyungsoo cepat.
Jongin terlihat tenang "Itu perusahaanku wajar jika aku direktur perusahaan itu."
Oh, tidak bukan itu maksud Kyungsoo. Dia ingin cerita yang sejelas-jelasnya bagaimana Jongin bisa mendirikan sebuah perusahaan di Negara orang.
"Jika kau tidak mau cerita. Lupakan! Lantas kenapa kau ada disini? Kemana Luna?" ucap Kyungsoo ketus.
Jongin tersenyum melihat Kyungsoo "Kau lucu, sayang."
"Jangan memanggilku sayang, aku bukan kekasihmu! Kau belum menjawab pertanyaanku."
"Baiklah, aku menyuruh sekretarismu itu pulang agar aku bisa menjagamu. Puas sayang?" Jongin tersenyum manis pada Kyungsoo.
"Kau tidak perlu menjagaku karena aku baik-baik saja dan jangan memanggilku sayang sudah kukatakan aku bukan kekasihmu."
"Tenanglah Kyung, apa salahnya aku menjaga mantan kekasihku. Toh, kita putus baik-baik. Ah mengenai putus boleh aku bertanya sesuatu padamu sekarang? Karena aku tidak yakin kau mau menemuiku setelah kejadiaan ini."
"Tidak kau tidak boleh bertanya." Jawab Kyungsoo singkat
Jongin tertawa "Kau lucu Kyung, tentu saja aku boleh bertanya."
"Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Okay aku langsung saja. Apa kau tahu masalah appamu dan appaku di masa lalu?"
.
.
TBC
Terimakasih ^^
Sign
Kisaragi
