Battle Music!
.
Disclaimer : all characters in this story aren't mine. Vocaloid, © Yamaha and crypton future media inc. ^^ but this story is originaly MINE! Don't you dare to copy this, okay? :) . . . HEY, I'M SERIOUS
.
Warning : OOC(maybe), some typo, bahasa sehari-hari, GJ, ini bakal panjang sepertinya?, dll~
.
Don't like? Don't read :)
.
Like? Review~ ;D
.
.
Chapter 4
.
.
"kelompok yang menjadi pemenangnya adalah…"
Jeng jeng
"siapaaa?"
"kelompok dari sekolah Utau, harus menerima kekalahannya dengan lapang dada. Dan selamat untuk kelompok yang menjadi pemenangnya! Kelompok dari sekolah Voca!"
Tepat saat itu juga terdengar suara tepukan tangan oleh seluruh penonton di situ.
"k-kita menang! Kita menang!" Miku loncat-loncat senang sambil memegang tangan Lui dan Rin.
"woohoo! Menaaaang!" Lui juga loncat-loncat senang sambil berpelukan dengan Miku.
Sementara itu Rin hanya tertawa senang sebentar dan terdiam melihat Teto di seberang sana.
Mereka terlihat sedih. Tidak, bukan mereka yang sedih. Hanya Teto yang menangis! Sedangkan Ted, Leon, dan Lily terlihat biasa saja. Apa mereka tak merasa sedih atau menyembunyikannya?
Rin pun mengangkat tangannya meminta perhatian dari juri.
"uh.. juri! Juri!" panggil Rin.
"ya?"
"gue—maksudnya Rin mau mengambil Teto untuk di masukkan ke dalam kelompok Rin." Ucap Rin.
Sementara Miku, Lui, Ted, Teto, Leon, dan Lily terlihat sangat kaget dengan ucapan Rin itu.
"a-apa yang lu bicarain Rin!" Miku kaget.
"lu mau ngambil anak Utau itu buat kelompok kita?" Lui ga percaya.
"apa Teto-san mau dimasukkan ke dalam kelompok sekolah Voca?" tanya juri itu.
"a-aku mau! aku mau sekali!" Teto terlihat senang sekali.
"eh? kok Teto di ambil!" Ted protes.
"ga apa-apa dong. Ini hak dari setiap kelompok yang menang untuk mengambil atau tidak anggota dari salah satu kelompok yang kalah."
Ted pun hanya diam, dia tak bisa menentang peraturan yang ada.
"kalau begitu, Teto sekarang resmi menjadi salah satu dari anggota grup sekolah Voca! Selamaat!" ucap juri.
"aaaaa?" Miku dan Lui tak bisa berkata-kata.
"R-Rin~ terimakasih~" Teto memeluk Rin.
"hehe. Bukan apa-apa. Lagipula, kami juga butuh satu personil lagi kan? Yasudah gue ambil aja lu. Hahaha."
-skip-
"Leon, lu seneng kan? Akhirnya kita bisa bebas dari latihan musik menyebalkan itu?" tanya Lily pada Leon yang sedang berdiri menyandar di tembok sambil tersenyum memandang langit malam penuh bintang.
"heh. Siapa yang senang? Gue itu bahagia! Bukan senang! Akhirnya kita bisa lolos dari latihan grup musik yang di paksakan oleh kepala sekolah kita itu buat mengangkat nama baik sekolah." Ucap Leon.
"iya, gue juga. Rasanya bahagia banget. Si kepala sekolah itu seenaknya saja menyuruh kita ikutan kontes ini hanya untuk memperbagus nama sekolah. Cih, kalau dia mau lakukanlah sendiri! Jangan menyusahkan orang!" Lily masih kesal pada kepala sekolah mereka itu.
"tapi! Kenapa harus Teto yang jadi korbannya sih!" Ted masih ga rela kalau Teto masuk kelompok dari sekolah Voca dan akan ikut di karantina minggu depan.
"sudahlah Ted, selo aja. Nanti juga kan kalau mereka kalah, Teto pulang lagi." Lily berusaha menenangkan Ted.
"lu ga ngerti segimana pentingnya Teto buat gue!"
"eh? !" Lily terkejut mendengar ucapan Ted.
"a-apa maksud lo?"
"lu gatau ya kalo Ted itu suka sama Teto?" tanya Leon pada Lily.
"ngga.. gue gatau. baru tau ini."
"yah.. kamseupay ah! ketinggalan berita lo!" Leon menjulurkan lidahnya pada Lily.
"pokoknya gue pengen grup itu kalah secepatnya! Gue pengen Teto cepet-cepet balik lagi!" ucap Ted.
~Rin's home~
"Rin, kenapa sih lu malah masukin Teto ke grup kita seenaknya aja gitu?" tanya Miku dengan agak marah dan langsung menjatuhkan diri di sofa.
"um, memang ada masalah?" tanya Rin dengan santainya sambil berjalan menuju dapur.
"iya, perasaan ga ada masalah deh, Mik. Lu kenapa sih kayak yang ga setuju gitu kalo Teto jadi grup kita?" tanya Lui yang juga duduk di sofa.
"padahal kan bagus kalo Teto masuk grup kita? Kita kan emang butuh satu orang lagi?" ucap Rin sambil meminum segelas jus jeruk dan duduk di sebelah Miku.
"gue… buat gue masalah. Gue takut lu jadi lebih suka sama Teto daripada sama gue!" ucap Miku langsung to the point.
FRUUUUUUT
Rin langsung menyemburkan jus jeruk yang sedang di minumnya.
"EH? Rin, kamu kenapa?" tanya Lui yang panik ngeliat Rin langsung nyemburin jus nya gitu.
"APA? Apa maksud lo ngomong gitu? ?" tanya Rin dengan wajah horornya.
"iya kan! Apa yang salah dari omongan gue? Gue bener kan? Gue cemburu liat lo sama Teto! Gue takut lu lebih suka Teto dari pada gue." Jelas Miku.
"YANG BENER AJAA! GUE GA MUNGKIN SUKA SAMA TETO APALAGI LU! GUE BUKAN YURI, YA!" teriak Rin.
Sementara Miku dan Lui kicep ngeliat Rin yang salah tanggap gitu.
'iya juga sih.. Miku salah ngomong. Jadinya Rin juga salah tanggep. Tapi si Rin nya juga baka, lagi. Kaga mungkin lah si Miku suka dia. Miku kan lagi ngejar-ngejar si Mikuo.' Pikir Lui.
"Rin.. lu salah kira. Gue ga suka sama lo." Ucap Miku yang wajah nya masih terbengong-bengong.
"oh. Lu ga suka sama gue? Bilang dong dari tadi! Lu sampe bikin gue kaget dan nyemburin jus kesayangan gue. Gantiin lo!"
"yee enak aje. Siapa yang nyuruh lo nyemburin jus nya." Miku menjulurkan lidahnya.
Sementara Lui menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku kedua sahabatnya ini.
Tiba-tiba handphone Rin berbunyi menandakan ada telpon yang masuk.
"siapa, Mik?" tanya Rin yang sedang asyik minum jusnya pada Miku yang sedang memegang HP nya Rin.
"pacarmu." Ucap Miku.
"hah?" Rin langsung menyambar HP nya untuk melihat siapa yang menelponnya.
"sialan! Ini Rinto! Bukan pacar gue!" Rin langsung ngambek setelah liat layar ponsel nya itu, dan mengangkat telponnya.
"apa?" sapa Rin dengan juteknya.
"hoi Rinnot~ lagi apa~" tanya orang di seberang sana.. Rinto.
"CIEEEE~!" teriak Miku, dan langsung dibalas glare dari Rin.
Miku dan Lui bisa mendengar pembicaraan mereka karena HP Rin di speaker.
"ga usah basa-basi deh. Kalo ada sesuatu langsung ngomong aja." Ucap Rin pada Rinto.
"okay, sebenernya gue mau nanya, gimana kontes lu? Menang ga?" tanya Rinto.
Rin, Lui, dan Miku saling berpandangan dan tersenyum licik.
"Menang dooong! Kita ga mungkin kalah~" ucap Miku.
"diem lu negi. Gue mau ngomong sama si Rinnot." Jawab Rinto di sana.
Sementara Lui hanya menahan tawa dan Miku cemberut sebal karena dipanggil dengan sebutan negi.
"ya, yang dibilang si Miku bener. Kita menang. Gimana lu?" tanya Rin.
"heheh. Kalo gitu selamat buat kalian. Kita akan ketemu nanti di karantina Yamaha~"
"…. apa?" tanya Rin ga percaya.
"hey? Lu ga ada masalah dalam pendengaran kan? Gue juga menang. Jadi sampai bertemu nanti di sana ya~" ucap Rinto dengan santainya.
"….terserah."
"oh ya. Gue mau ngasih tau aja. Kata kepala sekolah, besok kita ga akan ada pelajaran."
"loh? Kenapa?" Rin bingung.
"besok, katanya mau ngerayain keberhasilan kelompok kita yang sudah lolos kontes kemarin itu." ucap Rinto.
"oh yaa? ? bagus deh! Ga ada pelajaran! Gue ga usah ngerjain PR Mat! YESSS!" Rin terlihat sangat senang. Sementara Miku dan Lui menatapnya keheranan.
'segitunya ya..' pikir Miku.
'kelihatannya senang banget ga usah ngerjain PR Mat itu buat Rin..' pikir Lui.
"ya udah deh. Bye~ calon pacar ku~" Rinto pun memutuskan telponnya.
"he? Calon pacar?" Rin kebingungan.
"CIEEEEE~~~!" spontan Miku menyoraki Rin.
"berisik lo." Anehnya, kenapa malah Lui yang sewot, Rin diem-diem aja tuh.
~keesokan hari di sekolah~
Rin baru saja sampai di sekolah. Di halaman sekolah sudah hampir banyak anak-anak yang datang dan memakai pakaian bebas hari ini.
'si Miku sama Lui mana ya?' pikir Rin.
Dan Rin mendapati Miku yang sedang berantem sama Lenka.
Miku dengan mini dress hijau kebiru-biruan nya yang terkesan simple dengan syal yang senada dan sepatusendal putih itu sedang adu mulut dengan Lenka yang memakai minidress kuning dengan rompi kecil berwarna oranye dan sepatu berwarna putih.
"aduh. Anak itu pagi-pagi udah berantem. Jangan sampe dah terjadi adegan jambak-jambakan. Rambutnya Miku lagi bagus-bagusnya deh hari ini. Gue suka~"
Terlihat disana Lui dengan kaos lengan panjang warna putih dan celana jins yang panjangnya sampai di bawah lutut dengan sepatu yang biasa di gunakan oleh anak cowok lainnya itu datang berusaha melerai Miku dan Lenka. Tapi kelihatannya malah Lui yang dimarahi Lenka dan Miku.
"INI URUSAN CEWE! LU DIEM AJA." Miku memarahi Lui.
"DIEM LO! INI URUSAN GUE SAMA MIKU!" bentak Lenka.
"HEH! LU BIASA AJA DONG NGOMONGNYA! GA USAH NYOLOT GITU SAMA TEMEN GUE!" bentak Miku pada Lenka.
"APAAN LO! LU JUGA SENDIRINYA TADI NYOLOT!"
"GUE PUNYA HAK BUAT MARAHIN DIA! LU GA ADA HAK!"
"KATA SIAPA GUE GA ADA HAK? GUE PUNYA SEPATU BER-HAK 5 CM!" Lenka ngaco.
"GUE PUNYA SEPATU BER-HAK 15 CM! MAU APA LO!" Miku baka.
"GUE PUNYA SEPATU BER-HAK 30 CM!" Lenka gamau kalah.
"GUE PUNYA SEPATU BER-HAK 5 METER!" Miku gamau ngalah. Sampe ngada-ngada sepatu hak 5 meter. Ckckck.
"LU NGAJAK BERANTEM GUE? !"
"HAYO AJA!"
"e-eh! berhenti!" Lui kebingungan bagaimana cara melerai mereka.
"wei wei rebut aje." Rin pun menghampiri mereka.
"iya nih Rin! Mereka daritadi berantem aj–" Lui tercengang melihat Rin yang hari ini kelihatannya lebih beda dari biasanya.
Rin memakai bando berwarna putih dengan pita kecil dipinggirnya dengan baju warna biru muda dan rok yang seperti rok SD berwarna hitam dengan strip putih dan sepatu kats putih.
"kenapa? Kok liatnya segitunya sih? Gue aneh?" tanya Rin sambil melihat dirinya.
"ng-ngga! Ngga aneh! Imut kok. Cantik, lagi.." puji Lui dengan wajah yang bersemu merah.
"oh. Makasih~!" Rin terseyum manis pada Lui sampe-sampe Lui harus ijin ke WC.
"G-GUE MIMISAN!" Lui pun langsung melesat menuju WC, sementara Rin mematung kebingungan disitu.
Hingga bel petanda pelajaran yang sekarang digunakan untuk petanda pesta dimulai berbunyi. Semua murid pun berkumpul di halaman dan mengambil tempat duduknya masing-masing di kursi yang sudah di sediakan.
"acara hari ini kami adakan untuk merayakan keberhasilan kelompok Miku, Rin, Lui, Rinto, Lenka, Rei, dan Rui di kontes kemarin. Mereka minggu depan akan di karantina di Yamaha dan melanjutkan kontesnya. Selamat untuk mereka." Ucap seorang guru disusul tepukan tangan dari seluruh siswa.
"Acara ini katanya akan di buka oleh pidato kepala sekolah. Tapi ga yakin juga si kepala sekolahnya bakal pidato." Ucap Miku yang disertai anggukan dari anak-anak lain.
Kepala sekolah yang terkenal dengan ke-malas-an-nya itu naik ke panggung, rencananya mau pidato.
"ehm.. selamat pagi menjelang siang. Hari ini rencanannya saya akan pidato. Tapi karena takut kelamaan, semua siswa boleh lihat pidato saya di catatan facebook saya. Sekian acara ini saya buka." Kepala sekolah itu pun turun dari panggung sambil di soraki.
"halah bilang aja males.."
"betulkan apa kata gue." Ucap Miku.
"tapi bagus juga deh. Jadi kita bisa langsung nyamber makanannya kan!" Rin bersemangat.
"iya.. siapa juga yang mau cek catatan FB nya buat baca pidato dia. Ckckck." Lui menggeleng-gelengkan kepalanya.
"hoi. Ayo buruan! Ntar makanannya keburu abis!" ucap Rin yang sudah menjauh menuju tempat makanan bersama anak-anak yang lain.
"eh! tunggu gue, Rin!" Miku menyusul Rin dan meninggalkan Lui.
Sementara itu Rei tiba-tiba datang menghampiri Lui.
"hei Lui~" sapa Rei.
"mau apa lo?" tanya Lui dengan tidak menatap Rei sama sekali.
"wah wah sombong sekali yah. Gue cuma mau nantang lo."
"nantang apaan?"
"hehe gampang kok. Cuma nyanyi sambil nari di situ doang." Ucap Rei sambil menunjuk ke panggung yang memang di sediakan untuk siswa yang ingin menyanyi.
"ah ngapain nyanyi di situ sama lo? Ogah ah gue."
"hey hey hey. Gue nantang lo. Kalo lu tolak, berarti lu pengecut."
Lui terdiam sambil mengglare Rei yang tersenyum licik pada Lui.
"oke, apa peraturannya." Lui pun pasrah.
"Siapa yang bisa narik perhatian Rin dengan nyanyian dan tariannya, dia yang menang dan berhak mendekati Rin, sementara yang kalah, harus menjauhi Rin. Gimana? Deal?" tantang Rei sambil mengajak Lui bersalaman.
"oke. Deal." Lui menjabat tangan Rei.
'huh.. mungkin dengan cara ini gue bisa menjauhkan Rei dari Rin. Jadi gue bisa deketin Rin sesuka gue.. hehe.' Pikir Lui.
Lui dan Rei pun naik ke atas panggung bersama.
"kita akan menyanyikan lagu yang sama bersamaan. Dan sesudah itu, kita tanya sama Rin, siapa yang lebih keceh. Oke?" tantang Rei.
"oke. Siapa takut." Lui tersenyum kecut pada Rei.
"HEY! SEMUANYA! GUE MINTA PERHATIANNYA SEBENTAR! GUE SAMA LUI MAU NYANYI BUAT RIN!" Rei berteriak di microfon dan sukses mendapatkan perhatian semua orang.
"a-apa yang lo lakukan Rei!" tanya Lui.
"hehe. Ikuti saja peraturan tantangan ini." Ucap Rei sambil tersenyum pada Lui.
"RIN! KITA MAU NYANYI BUAT KAMU! I LOVE YOU~" teriak Lui di microfon lagi.
Sementara muka Rin memerah malu.
's-sialan! Apa-apaan mereka itu! gue malu banget sumpaaaah!' pikir Rin dalam hatinya sambil menahan malu.
"ciee~ Rin~" Miku mulai menggoda Rin.
"d-diem lo!" muka Rin semakin memerah.
"BERISIK LO REI! LANGSUNG AJA NYANYI! GAUSAH 'I LOVE YOU' 'I LOVE YOU' SEGALA SAMA RIN!" Lui terlihat cemburu.
"woo~ cemburu~ ayo langsung mulai nyanyi!"
(np super girlies – hip hip hura)
"hip hip hura hura~ hip hip hura hura~ hip hip hura huraaa~!" Rei mulai bernyanyi dan menari dengan lincahnya. Lui tercengang melihatnya yang… iyuh lebay.
'tapi kalo gue ga bisa narik perhatian Rin, gue bakal kalah! Gue juga harus nari!' pikir Lui.
"di malam minggu ku pergi ke pesta~ pesta meriah ulang tahun kawanku~ semua yang datang bergaya ceria~ berdansa dan gembira~" Lui mulai menyanyikan lagunya Super Girlies Hip Hip Hura.
"go go go!" teriak para murid lainnya.
"di tengah pesta ku lihat si dia~ lincah gayanya~ dandan masa kini~ ingin hatiku mencium pipinya~ tapi malu rasanyaa~" Rei melanjutkan lagunya sambil tersenyum manis menunjuk ke arah Rin. Membuat Rin tersipu. Dan Lui meng-glare ke arah Rei.
"oh hip hip hura hura~! Hura hura~! Huuuu~ aku suka dia~! Suka dia~! Huuuu~ aku jatuh cinta~! Jatuh cinta~! Huuu~ dia pun menanti cinta bersemi di hati~" Rei terus menari dan Lui juga yang tak mau kalah dari Rei.
"hip hip hura hura! Hip hip hura hura!" teriak anak-anak lain yang ikut terbawa oleh nyanyian mereka.
"di tengah pesta ku lihat si dia~ lincah gayanya~ dandan masa kini~" Lui melanjutkan menyanyi dan menari.
"ingin hatiku mencium pipinya~ tapi malu rasanyaa~" lagi-lagi Rei melihat ke arah Rin dan mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum menggoda.
Rin hanya terdiam dengan mukanya yang memerah.
"cieee~" bisik Miku pada Rin.
"a-apa sih!" Rin semakin kesal dan malu.
"oh hip hip hura hura~! Hura hura~! Huuu~ aku suka dia~! Suka dia~! Huuuu~ aku jatuh cinta~! Jatuh cinta~! Huuu~ dia pun menanti cinta bersemi di hati~" Rei dan Lui menari selincah mungkin berusaha menarik perhatian Rin.
"oh hip hip hura hura~! Hura hura~! Huuu~ aku suka dia~! Suka dia~! Huuuu~ aku jatuh cinta~! Jatuh cinta~! Huuu~"
"sungguh suka dia~! Suka dia~! Huuu~ sungguh jatuh cinta~! Jatuh cinta~! Aaaa~ diapun menanti cinta bersemi di hati~ di hati ada cinta~ di hati ada cinta~ di hati ada cinta~~!" Rei dan Lui pun berhenti menyanyi dengan disusul sorakan dan tepuk tangan meriah dari murid-murid lain.
"terimakasih~~" ucap Rei dan Lui yang langsung menuruni panggung dan menghampiri Rin.
"RINNN~!" mereka langsung memegang tangan Rin masing-masing.
"e-eh? a-apaan nih!" Rin merasa risih.
"Rin~ tadi pas nyanyi, siapa yang lebih keren dan menarik perhatian mu~? Siapa~? Aku ya? Iya kaaan?" paksa Rei.
"lu jangan maksa gitu dong." Ucap Lui pada Rei.
"jadi, siapa tuh yang lu pilih, Rin?" tanya Miku yang terkesan lebih ingin menggoda Rin.
"eeeh… g-gue.."
'kenapa ini harus terjadi sama gueee! Kenapa begini sihhh!' pikir Rin.
TBC~
Review please? :D
