Battle Music!
.
Disclaimer : all characters in this story aren't mine. Vocaloid, © Yamaha and crypton future media inc. ^^ but this story is originaly MINE! Don't you dare to copy this, okay? :) . . . HEY, I'M SERIOUS
.
Warning : OOC(maybe), some typo, bahasa sehari-hari, GJ, ini bakal panjang sepertinya?, dll~
.
Don't like? Don't read :)
.
Like? Review~ ;D
.
.
Chapter 5
.
.
"jadi, siapa tuh yang lu pilih, Rin?" tanya Miku yang terkesan lebih ingin menggoda Rin.
"eeeh… g-gue.."
'kenapa ini harus terjadi sama gueee! Kenapa begini sihhh!' pikir Rin.
"kenapa gue harus milih?" Rin bingung.
"u-udah pilih aja Rin. Biar cepet~" Rei menggenggam tangan Rin erat kelihatannya sudah ga sabar pengin denger jawabannya.
Sementara Rin melihat Lui yang hanya menunduk dengan muka yang memerah.
"uh.. Rei.. maaf ya. Gue lebih milih Lui deh kayaknya.. maaf ya.." Rin melepaskan pegangan tangan Rei.
'a-apa…? Rin milih gue? I-ini mimpi?' pikir Lui yang jantungnya mulai berdegup kencang.
"haa? Rin milih Lui? I-ini mimpi! Masa' gue yang keceh dan keren ini kalah sama diaaa?" Rei memelas.
"g-gomen Rei.."
"kenapa Rin lebih milih dia daripada aku? !"
"hehehe~! Udah..udah.. yang kalah ya harus nerima kekalahannya dong~ hahahaa~" Lui terlihat senang.
"uuu~ s-sedih yaaa.. ya sudah.. karena gue cowo yang memegang perkataannya.. gue coba buat lupain Rin.." Rei pun menangis sambil berlari keluar dari situ.
Semua cengo ngeliat Rei, kecuali Rui yang langsung mengejar Rei.
"haah~.. cowo cengeng dan sok keren gitu, gue ga suka. Gue lebih suka cowo yang kayak Lui~ hehe~" Rin tersenyum manis pada Lui sampe-sampe Lui berlari ke WC lagi.
"KYAAA! GUE MIMISAN LAGI!" Lui pun melesat pergi ke WC dan Rin mematung kebingungan lagi.
"eh? Lui kok sering mimisan ya akhir-akhir ini?" Rin bingung.
"HEY! LU CEWE RAMBUT IJO! KALO BERANI, TANTANG GUE JUGA BUAT NYANYI KAYAK GITU DAN KITA LIAT SIAPA YANG JADI PEMENANG HATI MIKUO!" teriak Lenka yang sudah ada di atas panggung dengan microfonnya.
"eh?" Mikuo hanya kebingungan.
Sementara Miku yang sedang asyik dengan makanan dan minumannya itu hanya menoleh sebentar ke arah Lenka yang sudah menantangnya di atas panggung lalu mengangkat bahu seolah mengaggap Lenka itu tak penting sama sekali dan melanjutkan kegiatan makannya itu.
Semua anak-anak di situ tertawa karena Lenka sama sekali gak di waro sama Miku. Lenka yang merasa terhina itu pun berteriak lagi di microfon.
"MIKUUUU! GUE NGOMONG SAMA LO!" teriak Lenka di microfon.
"Oh." Miku hanya menoleh ke arah Lenka sebentar lalu melanjutkan makannya lagi.
Sementara Lenka hanya mendapat malu karena sudah berteriak-teriak di microfon dan ga di waro sama si Miku malah dia di ketawain sama anak-anak lain.
~sementara itu di tempat lain dari sekolah itu~
Rei sedang duduk termenung menatap langit yang berawan.
'huuh~ salah besar banget gue nantang Lui kayak gitu tadi. Akhirnya.. gue harus jauhin Rin.. haa~! Ga rela! Tapi.. gue harus pegang kata-kata gue!' pikir Rei.
"Rei.."
Rei pun menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang memanggilnya.
"Rui..?"
"Rei.."
"kenapa lu di sini?" tanya Rei.
'Rei ngomong ke aku pake -lu gue-.. ga kayak ke Rin pake –aku kamu-..' pikir Rui.
"aku.. c-cuma khawatir aja sama kamu.." Rui tergagap.
"oh.. ga usah khawatirin gue, Rui.. gue..baik-baik aja..sungguh.." jelas sekali ucapan Rei dengan muka Rei itu berbeda jauh.
"Rei bohong. Rei terlihat sedih.. apa karena Rin lebih memilih Lui daripada Rei?" tanya Rui.
Rei terdiam.
"sudahlah Rei.. jangan sedih begitu.. kau kan keren dan tampan, jadi masih bisa mencari cewek lain untuk kau sukai.." Rui berusaha menghibur Rei.
"k-kau benar Rui… terimakasih ya sudah menghiburku.." Rei tersenyum manis pada Rui.
"eh?" muka Rui memanas karena Rei yang tersenyum seperti itu padanya.
'senyuman tulusnya.. dan dia tadi ngomong dengan ku pakai –aku kamu-… astaga..' pikir Rui.
"aku udah ga sedih lagi kok." Rei pun tersenyum seperti biasanya lagi.
"eh.. baguslah kalau begitu."
Rei menatap langit yang berawan itu lagi, dia pun teringat akan sebuah lagu yang menurutnya hampir cocok untuknya saat ini.
"lihat awan disana~ berarak mengikuti~ pasti dia pun tahu~" Rei pun menyanyikan lagu itu.
'eh? Rei nyanyi?' pikir Rui.
"ingin aku lewati~ lembah hidup yang tak indah~ namun harus ku jalani~" Rei berhenti menyanyi lalu menoleh ke arah Rui.
"hey, Rui. Kau tahu lagi ini tidak?" tanya Rei.
"un. Lagunya Acha Septriasa yang berdua lebih baik kan?" ucap Rui sambil mengangguk.
"kalo gitu, kita nyanyiin bareng aja ya?" ajak Rei.
"eh?" Rui kaget.
"berdua dengan mu~ pasti lebih baik~ aku yakin itu~ bila sendiri~ hati bagai langit berselimut kabut~" Rei menyanyikan lagu itu sementara Rui hanya menatap Rei.
"kayaknya, emang gitu kan?" tanya Rei pada Rui.
"eh? apanya?" Rui bingung.
"berdua sama kamu, ya lebih baik kan? Daripada sendiri. Hehee~" Rei tersenyum memperlihatkan sederet giginya membuat Rui blushing.
'uh.. Rei.. coba aja kamu tau, aku.. suka kamu..' pikir Rui.
~keesokan hari di apartemen Luka~
"Luka-nee~~!" panggil Miku, Rin, dan Lui saat membuka pintu apartemennya itu.
"oh. Kalian. Kebetulan, ada yang ingin ku bicarakan pada kalian." Ucap Luka.
"apa itu?"
Baru saja Luka ingin memberitahukan mereka, tiba-tiba muncul seseorang dari jendela apartemen Luka dan masuk ke dalam.
"aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi~" Gakupo mulai menyanyikan lagu Rumor yang Butiran Debu.
"payah. Kaga bisa bangkit lagi." Ejek Rin.
Luka dan yang lainnya masih cengo.
'gimana bisa dia datang dari jendela? Apartemen Luka di lantai 7!' pikir mereka.
"aku tenggelam dalam lautan luka dalam~" Gakupo masih enjoy nyanyiin lagu nya.
"ga bisa berenang ya? Ckckck." Rin masih ngejek Gakupo.
"aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang~" Gakupo masih nyanyi.
"puas ah kaga bisa pulang lu." Rin masih aja ngejekin si Gakupo.
"aku tanpa mu butiran debu~"
"lebih mirip butiran upil lu mah."
"Luka.. maafin Gakupo ya.." ucap Gakupo sambil ngasih bunga mawar ke Luka dengan gaya ala iklan xl yang mawar dan marwan.
"HEI! JANGAN DIEM AJA! AYO BASMI DIA!" Lui baru sadar.
Akhirnya Rin, Miku, dan Lui berusaha mendorong Gakupo keluar dari apartemen Luka. Tapi Luka menghentikannya.
"j-jangan! Berhenti!"
"eh? kenapa?" Miku keheranan dan mereka bertiga pun berhenti mendorong Gakupo.
"kalian tak perlu lagi menjauhkan Gakupo dari ku."
"kenapa?" Lui kebingungan.
"itukan udah tugas kita? Kalo ngga, ntar Luka-nee gamau ngajarin kita lagi dong?" tanya Rin.
"karena.. aku ga akan mengajar kalian lagi."
"apa…?" mereka semua terkejut.
"g-ga akan ngajarin kita lagi? K-kenapa?" tanya Miku.
"aku masih ingin mengajar kalian, tapi… tak bisa."
"kenapaaa?"
"karena.."
"?"
"karena aku akan menjadi juri di kontes Yamaha nanti." Ucap Luka.
Jeng jeng jeng
"APAAA!" anehnya, kenapa Gakupo yang teriak histeris gitu sih.
PLAK
Miku nampar Gakupo.
"alay lo. Kalo mau jadi pacarnya saudara gue, jangan alay lo!" bentak Miku.
"loh? Memang kenapa? Kalau Luka-nee jadi juri kenapa ga bisa ngajar kita lagi?" tanya Rin.
"itu sudah peraturannya, Rin. Juri tak boleh mengajar kontestannya."
"jadi… Luka-nee ga akan ngajarin kita lagi..?" tanya Lui dengan suara paraunya.
"….maaf.."
"hiks.. hiks.." Lui mulai drama dengan lebaynya sambil pura-pura nangis dan ingus meler(?)
"Lui lebay." Ejek Miku.
"tapi.. emangnya kita bisa ya tanpa ada yang ngajarin kita?" tanya Rin.
"kalian pasti bisa! Kalian sudah banyak berkembang! Aku yakin, kalian akan memenangkan kontes itu!" Luka menyemangati mereka.
"…tanpa guru yang mengajar kita?" Miku galau.
"…apa kita bisa?" Rin kebawa galau.
Sementara Lui sibuk narik ingus dan Gakupo masih terbengong-bengong GaJe.
Luka yang melihat mereka putus asa, langsung mengambil tangan Miku dan Rin lalu menggenggamnya di sebelah tangannya dan menutupnya dengan sebelah tangannya lagi, berusaha memberi semangat pada mereka.
"eh?"
"pasti.. kalian pasti bisa! Walaupun keadaan menjadi semakin sulit, ingatlah, kalian pernah melewatinya bersama onee-chan.." Luka tersenyum hangat pada mereka.
"….Luka-nee.." Miku dan Rin tersentuh.
"…Luka-senpai.." Lui terharu dan semakin sibuk menarik ingusnya.
"Miku.. Rin.. Lui.." Luka terbawa suasana.
"GAKUPO~~!" Gakupo yang kepengen namanya disebut malah nyebut namanya sendiri. Dan dia di kacangin.
Sementara Luka, Miku, Rin, dan Lui berpelukan terharu, Gakupo menghilang entah kemana(?)
~sementara itu di tempat lain~
"jadi.. kamu bakal tetep pergi, ..Teto?"
"…aku.. mungkin.."
"kenapa?"
"karena itu memang impianku, Ted!"
"kenapa kau ingin sekali menjadi grup musik? Itu akan membuat kita terpisah!"
"kita terpisah? Aku ingin tanya, sebenarnya.. kita ini apa? Pacar? Teman? Sahabat? Atau apa?" tanya Teto.
"…." Ted hanya terdiam.
"jawab aku. Kita ini apa? Sahabat? Tapi kita berciuman. Lalu, apa kita ini sepasang kekasih? Tapi, kita tak pernah ada ke jelasan…"
"….." Ted masih terdiam.
"kita ini apa sih? ?" Teto masih bertanya.
"kita… hanya teman… Teto."
"teman? Jadi kita cuma teman? ?"
Ted mengangguk dengan berat hati.
Hiks..
Teto menyapu air matanya yang mengalir.
'aku kira… Ted akan mengatakannya.. tapi ternyata tidak! aku.. akan tetap pergi kalau begitu..' pikir Teto.
Ketika Teto akan membalikkan badannya untuk pergi dari tempat itu, Ted memegang pergelangan tangannya dengan erat.
'eh? T-Ted..?'
Ted hanya diam dan mendekatkan wajahnya ke Teto.
'Ted? Dia ingin mencium ku lagi?' pikir Teto.
Untuk sesaat Teto hanya diam.
'aku… ga akan biarin lagi. Dia bilang kita cuma teman kan? Aku ga mau lagi.' Pikir Teto.
Teto pun melepaskan pegangan tangan Ted dan cepat berlalu dari tempat itu.
"Teto… maaf… aku hanya bingung.. apa aku yang miskin ini pantas untuk mu?"
Hari-hari berlalu, hingga tiba saatnya mereka untuk berangkat, menuju tempat mereka di karantina. Mereka akan berangkat bersama dari sekolah menggunakan mobil yang sama.
"APAAAA!" teriak Lenka dan Miku bersamaan sementara yang lainnya menutup telinga mereka. Ya, siapapun tak ada yang ingin telinganya jadi budek kan?
"GUE GA MAU SATU MOBIL SAMA DIA!" Lenka dan Miku saling menunjuk satu sama lain.
"sudah..sudah.. kalian harus semobil. Mobil sekolah yang sedang tidak di pakai hanya satu. Itu sih ya DL(Derita Lo) kalau kalian ga mau semobil, jalan aja sono sendiri." Ucap kepala sekolah mereka itu.
Lenka dan Miku hanya terdiam dan saling meng-glare satu sama lain.
'kenapa gue harus semobil sama si kuning –piit- ini sih!' pikir Miku. Oke, ada sensor, kali-kali aja ada yang baca ini sambil makan kan kasihan kalo ga di sensor.
'sialan gue semobil sama si kunyuk ijo ini.' Pikir Lenka. 'btw, kunyuk apaan ya? Kok gue bisa mikir kunyuk gitu?'
"baiklah, semuanya, kita masukkan barang-barang kita ke mobil satunya lagi." Ucap kepala sekolah.
"he? Katanya mobilnya cuma satu?" tanya Rinto.
"oh. Iya. Yang satu buat kita, yang satu itu buat barang. Itung aja satu mobil." Ucap kepala sekolah itu sambil ngeloyor takut ditanyain lagi.
"nah, Miku, lu di mobil barang aja." Ucap Lenka.
"yee enak aja. Lu aja sono!"
"lu mau berantem nih? !"
"ayo!"
"wei wei, stop stop!" untung Rin datang dan cepat membawa Miku pergi.
"eh eh! mau dibawa kemana si kunyuk nya! Sini-in! Kita mau berantem dulu!" ucap Lenka.
"gue pinjem dulu." Rin pun pergi membawa Miku.
Setelah di luar aula sekolah itu, Rin pun menghentikan langkahnya.
"kenapa sih, Rin?" tanya Miku keheranan.
"gatau. gue juga bingung." Ucap Rin yang seperti kesannya ingin minta di tampol.
"heuuh. Rin, apaan sih?" tanya Miku lagi.
"ya gatau gue juga bingung! Kenapa si Mikuo tadi tiba-tiba minta gue buat manggil lu." Ucap Rin yang keliatannya rada kesel.
"…Mikuo manggil gue?" tanya Miku yang tidak percaya.
"iya! Bingung kan? Gue juga gatau kenapa."
"…Mikuo manggil gue..?"
"geez.. udahlah! Cepetan sono! Lu di panggil dia di taman!" Rin mendorong Miku untuk pergi.
~di taman~
Miku pun menurut dan pergi menuju taman. Di situ dia menemukan sesosok laki-laki yang sangat di kenalnya. Orang yang di sukainya.
"Mikuo…?" panggil Miku ragu-ragu.
Yang namanya dipanggilpun menoleh ke arah yang memanggil.
"oh hey. Miku.." sapa Mikuo.
"ada apa?" tanya Miku dengan rasa berdebar-debar.
"ga ada apa-apa sih. Cuma ada batu, rumput, pohon.." ucap Mikuo ngelantur.
Sungguh, bila Mikuo bukanlah orang yang disukai Miku, mungkin saat ini kepala Mikuo sudah benjol-benjol dibuatnya. (asikgileee bahasanyaaa)
"bukan itu, Mikuo. Maksud gue, kenapa lu manggil gue ke sini?" tanya Miku sekali lagi dengan sabarnya.
"oh itu. tanya nya yang jelas gitu dong. Jadi gue ga salah paham tadi."
Suer dah itu Mikuo pengen di takol si Miku kali yak?
"ya.. jadi?"
"ada yang mau gue omongin sama lu. Sebelum lu pergi.."
"eh?" Miku bingung dan memiringkan kepalanya.
"itu.. em… soal… kenapa lu selalu berantem sama Lenka?" tanya Mikuo.
"EH? k-kenapa pengen tau? ?" Miku kaget.
"ya… aku pengen tau apa salahnya?"
"itu kan.. ku kira kau sudah tau penyebabnya.."
"oh. Karena aku ya?"
"EH? tuh kan sudah tau…" muka Miku pun memerah.
Mikuo yang melihat itu hanya tertawa kecil.
'Miku memang manis ya ternyata.. aku ga salah suka sama kamu sejak awal..' pikir Mikuo.
Mikuo memegang tangan Miku.
"e-eh!" muka Miku semakin memerah.
"aku minta.. kamu jangan lupain aku ya disana." Ucap Mikuo.
"t-tentu…"
Mikuo mencium pipi kiri Miku.
Sontak muka Miku semakin memerah dan jantungnya berdetak semakin kencang.
"ingat. Jangan lupakan aku." Ucap Mikuo lalu pergi meninggalkan Miku yang terbengong-bengong di situ.
.
.
TBC~
Review please? :D
