Battle Music!

.

Disclaimer : all characters in this story aren't mine. Vocaloid, © Yamaha and crypton future media inc. ^^ but this story is originaly MINE! Don't you dare to copy this, okay? :) . . . HEY, I'M SERIOUS

.

Warning : OOC(maybe), some typo, bahasa sehari-hari, GJ, ini bakal panjang sepertinya?, dll~

.

A/N : semuanya.. maaf ya lama ga update. masalahnya soal waktu juga sih. semingguan kemarin itu aku lagi di mos buat masuk sma. ini juga baru selese banget. dan aku update ini mepet banget. sekali lagi sorry ya. aku updatenya kelamaan. aslinya cape banget abis di mos semingguan kemarin itu. tapi seneng banget deh sekarang udah jadi anak sma~ jadi anak sma~ jadi anak sma~ jadi anak sma~ woohoo~ :D *plak. ya udah no BA no COT langsung aja~

.

Don't like? Don't read :)

.

Like? Review~ ;D

.

.

Chapter 8

.

.


Keesokan pagi pun tiba, semua sudah berkumpul di halaman belakang perusahaan Yamaha yang luas itu. tentu saja untuk berolahraga.

"uwaa~ akhirnya olahraga juga~" Rin terlihat senang.

"hihihi.. aku kangen main basket ui~" ucap Miku.

"he? Emang sekarang basket juga?" tanya Rin.

"nggak sih.. hehe~" Miku hanya cengengesan.

"are? Si Lui kenapa?" Teto menatap Lui dengan wajah kebingungan. Miku dan Rin pun jadi ikut menatap Lui.

"a-apa?" Lui jadi grogi di tatap gitu.

"kamu kenapa?" tanya Miku.

"a-aku.. ga apa-apa kok!" meski Lui menjawab begitu, tetap saja mukanya terlihat berbeda.

"Lui.. kalau kau ga mau olahraga juga ga apa-apa kok. Paling ntar di marahin Defoko-san hahaha!" Teto tertawa menjahili Lui. Sementara Lui hanya cemberut saja.

"udah...cuma lari-lari doang kok, Lui. Tenang aja." ucap Rin sambil mengikat tali sepatunya yang terlepas.

'ah.. entah kenapa cuma Rin yang bisa bikin aku tenang..' pikir Lui sambil senyum-senyum gaje.

"Mik, si Mikuo kemaren malem sms aku loooh~" ucap Lenka dengan bangga nya.

"so?" tanya Miku yang terlihat ga peduli sama sekali. karena dia kini sudah menyukai Kaito.

"lu ga cemburu? Kemaren dia sms-an sama aku~ oooh~" Lenka mulai lebay.

"cemburu? HAHA! LUCUBEL!" ucap Miku.


(buat yang belum mengerti apa itu 'LuCuBel', sebenarnya itu bahasa Glori sama temen-temen CoNine. Awalnya itu dari kata CUcu gemBEL yang disingkat jadi CUBEL. Terus salah satu temen ku(sebut aja si A) pake kata CUBEL itu ke temen ku yang satunya(sebut aja si B) karena si B mau bikin orang ketawa dengan cara ngejek si A. jadi si A itu ngegabungin kata-kata LUcu, dengan CUBEL. Jadilah Lu-CuBel. Jadi secara ga langsung si A itu kayak yang ngejek si B cucunya gembel.)


"alah~ bilang aja cemburu mah~" si Lenka rupanya pengen cari masalah.

"idih ngapain cemburu."

"cemburu~ woo~"

"urusai! Baka!"

"eh? gue ga ngejek ya! dasar ijo!"

"lu kuning!"

"lu ijo kayak pisang ijo!"

"eh! gue mending kayak pisang ijo! Daripada lo, kuning? Kayak yang ngambang-ngambang dong? Iyuuh~" ejek Miku balik.

Dan mereka pun berantem.

Tiba-tiba datanglah SeeU dan Zatsune.

"ckckck. Kita latihan nyanyi yuk, Zatsune?" ucap SeeU yang kini berada di dekat Miku dan Lenka yang berantem sambil melihat mereka. Spontan Miku dan Lenka kaget, lalu melihat ke arah mereka.

"ayo ayo aja SeeU. Aku tau lagu yang cocok." Ucap Zatsune sambil berjalan menghampiri Miku dan Lenka.

"aku juga tau apa yang kau pikirkan." Ucap SeeU sambil tersenyum licik. Dan Zatsune balas senyum yang ga kalah liciknya.

"jangan dekat-dekat denganku~ karena kamu bukan level ku~ kita berbeda kasta beda segalanya~" SeeU mulai menyanyikan lagu Lollypop yang Kamseupay.

"jangan mimpi saingi aku~ kalau masih punya malu~ modal dengkul aja gak ada harganya~" lanjut Zatsune.

"gaya lo~ tingkah lo~ muka lo~ KAM-SE-U-PAY~"

"gaya lo~ tingkah lo~ muka lo~ KAM-SE-U-PAY~"

'mereka ini punya masalah dengan kami gak sih!' pikir Lenka yang kesal pada SeeU dan Zatsune.

'kok nyari masalah banget sih!' Miku mulai kesal.

"tak sudi berteman sama rakyat jelata~ mendingan lo semua ke laut aja~ lihat ku aduhai~ gayapun keren pandai~ gak seperti lo semua yang~ KAM-SE-U-PAY~"

"hoo~ eoh~ eoh~ .. eoh~ eoh~ .. euuww~ KAM-SE-U-PAY~" SeeU dan Zatsune pun berhenti bernyanyi.

"AHAHAHA! cocok banget!" SeeU dan Zatsune pun tertawa.

"lu nyari masalah banget sih sama kita." Ucap Miku yang terlihat kesal.

"sembarangan katain kita kamseupay! Emang lo sendiri udah perfect, apa?" Lenka juga kesal.

"so perfect~" jawab Zatsune.

"we are perfect. You kamseupay~ ejek SeeU.

"grr.. ELO—" Miku yang sudah maju untuk melawan SeeU dan Zatsune itu di hentikan oleh Teto.

"ja-jangan Mik!" cegah Teto.

"gue sebel sama mereka!"

"Mik, ga usah cape-cape lah ladenin mereka." Ucap Teto.

"emang ada masalah apa sih kalian sama Miku dan Lenka?" tanya Rin yang sepertinya juga kesal kalo temennya di ejek.

"oh~ Cuma ingin bersenang-senang aja~ ahaha~" SeeU tertawa.

"mereka itu sering berantem. Dan itu tuh kamseupay banget tau gak! Berantem di depan umum." Ucap Zatsune.

"kita punya masalah masing-masing!" ucap Lenka.

"mereka itu ada masalah sendiri. Kalo kalian ikut campur, berarti siapa dong yang kamseupay? Lo? Atau mereka? Lo dong yang kamseupay." Ucap Rin dengan nada biasa.

Mereka terdiam.

"ikut-ikutan masalah orang lain. Ckckck." Rin menggeleng-gelengkan kepalanya.

"iya! Bener tuh! Berarti lo pada yang kamseupay~" ejek Lenka.

"ssh! Lenka sudah!" Lui sudah muak melihat pertengkaran mereka.

"jangan di bales, Lenka. kalo kita ngebales omongan mereka itu, berarti kita ga beda jauh sama mereka." Ucap Teto.

"ayo kita pergi aja." Ajak Lui.


"baiklah, setelah semua melakukan pemanasan, ku rasa kita bisa lari mengelilingi halaman ini sekarang! Kita kelilingi halaman ini sebanyak lima kali! Mengerti?" ucap Defoko yang menggunakan toa sehingga suaranya nyaring.

"A-APA? LIMA KALI? ?" Teriak semua anak di situ. (hampir semua.)

"MULAIII!" Defoko langung saja menyuruh mereka berlari mengelilingi halaman itu.

Tak ada pilihan lain selain langsung berlari. Maka mereka pun mulai berlari.

"lima kali? Dia gila? Halaman ini luas bangeeeett!" Lui masih ngomel sambil berlari.

"ga ada pilihan lain lagi, Lui! Kita harus lari lima kali sesuai perintahnya!" ucap Teto.

"ada pilihan lain sebenarnya." Ucap Rin.

"apa?" tanya mereka serempak.

"pick one, lari dan di beri sarapan atau tidak lari dan tidak di beri sarapan." Ucap Rin sambil berlari juga.

"aaa… ayo lari sajalah.." ucap Lenka pasrah.


"IA, kau sudah tau targetnya. Kau sudah siap?" bisik Oliver.

"siap. Aku memasangnya di dekat pohon." Ucap IA.

"bagus kalau begitu."

"emang siapa targetnya?" tanya Prima.

"diamlah kau."

"siapa? Siapa? Aku pengen tau~"

"kelompok H." bisik Oliver.

"oh~"


Kelompok H memang berada di urutan pertama. Benar saja, saat kelompok H melewati pohon itu, salah satu anggotanya, Lenka, menginjak sesuatu.

"iyuuh~ apa ini!" Lenka berhenti dan melihat apa yang di injaknya.

"kenapa?" tanya Rinto.

"permen karet! Iyuuh~ menjijikan!" ucap Lenka.


"ah! ada yang menginjaknya!" IA yang berada jauh dari mereka bisa merasakannya.

"kalau begitu, lakukan sekarang!" perintah Oliver.


"KYAAA!" Lenka hampir saja jatuh ke dalam jurang yang ada di pinggir pohon itu.

"EH! Lenka!" Rinto kaget. Begitu juga yang lainnya.

Rinto yang ada di dekatnya langsung saja menangkap tangan Lenka.

"R-RINTOOO TOLONG AKU!" rengek Lenka yang ketakutan karena sudah hampir jatuh ke dalam jurang. Untung Rinto memegang tangannya.

"L-Lenka, bertahanlah! Jangan banyak bergerak! Aku akan mengeluarkanmu." Rinto pun berusaha menarik Lenka.

"uwaa! Aku takut jatuh~" Lenka hampir menangis. Untunglah Rinto berhasil mengeluarkan Lenka.

Begitu keluar dari situ, Lenka langsung saja memeluk Rinto.

"R-RINTOOO~! Hiks.."

"E-EH?" Rinto kaget. Semua yang ada di situ juga kaget.

"t-terimakasih sudah menyelamatkan ku! Kalau tak ada kau.. mungkin.. mungkin.. aku sudah—"

Rinto langsung menutup mulut Lenka.

"jangan bicara lagi." Ucap Rinto dengan mukanya yang sedikit memerah. Mungkin karena di peluk oleh Lenka.

'eh? Rinto blushing? I-ini keren! Aku harus mulai jodohin Lenka dan Rinto! Ahahaay~' pikir Rin.

'Rinto kok blushing?' Dan Lenka pun baru menyadari kalau sedari tadi dia memeluk Rinto. Dia pun langsung melepaskan pelukkannya.

"eh.. maaf.." ucap Lenka.

"huh. Kau ini menyusahkan saja." Rinto pun kembali berlari lagi.

'k-kenapa jantungku berdebar-debar begini ya..' pikir Lenka.


"gagal." Ucap IA yang berada jauh dari tempat kejadian. Dia tau misinya gagal karena dia dapat merasakannya.

"sigh. Sialan."


"ah.. masa bisa jatoh sih? Cuma nginjek permen karet doang masa iya jatoh ke jurang?" Miku yang penasaran pun mencoba menginjak permen karet nya.

"E-EH! jangan Miku!" cegah Lenka.

"ah! aku ga akan jatoh! Tenang saja!" Miku pun menginjak-injak permen karet itu.

"mana! Ayo mana! Aku ga jatoh kan! Ayo mana jatohnya!" Miku jadi nge-sok dan injek-injek permen karet itu.


"ah! aku merasakannya! Ada yang menginjaknya lagi!" ucap IA.

"ayo lakukan!" ucap Prima semangat.


"ayo! Ayo jatoh! Dasar permen karet payah! Aku ga akan jatoh! Ahahaha! aku ga akan ja—WAAAA!"

"M-MIKUUU!" mereka semua kaget karena Miku pun terjatuh ke jurang itu.

"UWAAAA! TOLONG AKUUU!" teriak Miku.

"eh? kok aku belom jatoh-jatoh ya?" Miku heran.

"itu karena aku memegangimu, bodoh."

Mikupun melihat ke atas.

"ah? Rin.."

"diam! Apa yang kau lakukan! Dasar baka!" Rin memarahi Miku.

"aku kan cuma nyoba doang!" ucap Miku sambil menggembungkan pipinya.

"nyoba sih nyoba! Tapi kalo lu jatoh, kaki lu patah! Lu mau coba? !"

"ng-nggak sih.. ehehe.." Miku cengengesan.

"ya sudah. Aku coba mengeluarkanmu ya." Rin pun mencoba menarik Miku.

"unn.. uhh! B-beraaaat!" ucap Rin.

"Rin! Kenapa harus kau yang menolongku sih!" ucap Miku.

"kenapa emangnya? Mau di tolong Mikuo? Kaga ada dia disini! Udah bagus gue pegangin."

"aaa! Rin! Lepas! Aku mau di tolong Kaito-san aja!" ucap Miku.

"KAMU GILA ATAU GA WARAS SIH! KAITO-SAN GA ADA DISINI!" Rin mulai kesel.

"pokoknya. Aku. Mau. di sini. Nunggu. Kaito-san!" Miku bersikeras.

"KAMU GILAAAA!"

"ngga. Aku masih waras. … Sebelum aku bertemu Kaito-san~"

"AAA! TERSERAH APAPUN YANG KAU KATAKAN, AKU AKAN MENARIKMU KELUAR DARI SINI!" Rin pun berusaha menarik Miku keluar.

"TIDAAAK! AKU TAK MAU!"

"DIAM! AKU AKAN MENGELUARKANMU!"

"TIDAAAAK!"

"YA!"

"TIDAAKK!"

"YA!"

"TIDAAAKKK!"

"DIAM! AKU AKAN MENARIKMU KELUAR!" Bentak Rin.

"COBA SAJA KALAU BISA!" Miku berpegangan pada ranting tanaman sehingga mempersulit Rin untuk mengeluarkan Miku.

Semua yang melihatnya sweatdrop. Baru kali ini ada orang jatuh ke jurang dan ga mau di tolongin.

"LU GILA! LEPASIN RANTINGNYA!" perintah Rin.

"NEVER!"

"LEPAS!"

"NGGA!"

"LEPAS! ATO GUE PAKE CARA KASAR!" ancam Rin.

"AYO KALO BISA!" tantang Miku.

Rin pun membungkukkan badannya sedikit dan memukul-mukul tangan Miku yang berpegangan pada ranting itu.

"uh! Uh! Uh! Lepasin Mik!" paksa Rin sambil terus memukul-mukul tangan Miku.

"aw! Ittai!" rengek Miku lalu menjitak Rin. Dan, Rin pun terpeleset dan jatuh juga.

"UWAAA!"

"RINN!" teriak mereka semua.

Grep

"eh?" Miku kaget.

'ada yang memegangi ku lagi?' pikir Miku.

"bertahanlah."

"K-Kaito-san.." Miku kaget.

'i-ini mimpi! AAAAW!' teriak Miku dalam hatinya.

"hey. Kau ini sedang apa di situ?" tanya Len sambil berjongkok dan melihat ke arah Rin yang sedang berpegangan pada ranting tanaman.

"a-aku sedang bertahan hidup, bodoh!" jawab Rin dengan ketusnya.

'ah.. ternyata sudah ada Len-san. Tenang saja deh. Dia pasti bisa mengeluarkan Rin.' Pikir Lui kecewa.

"fufufu. Masih saja galak ya? mau ku tolong tidak?" tanya Len.

"NO! aku ga sudi di tolong sama KAMU!"

"ckckck. Yakin nih?"

"yakin!"

"bener? 100 persen?"

"999 persen!"

"bener nih? gak nyesel?"

"…" Rin terdiam.

't-tangan gue mulai pegel.. kalo gini terus, gue bakal jatoh.' Pikir Rin.

"jadi, ku rasa kau tak membutuhkan ku. Aku pergi ya." Len yang mau pergi itu di hentikan oleh Rin.

"L-Len! t-tunggu.."

"hm? Ada yang membutuhkan bantuan ku rasa?" tanya Len.

"a-aku.. tolong aku.." pinta Rin.

"apa? Kurang keras."

"tolong aku."

"hah? Apa?"

"TOLONG AKU, BUDEK!" teriak Rin di depan telinga Len.

"oke, oke."

"tunggu apa lagi! Tarik aku kelu—WAAA!"

"ups."

Sepertinya Len menariknya terlalu kencang sehingga membuat Rin melayang dan mendarat tepat di tempat sampah.

"ups.. pff— m-maafkan aku ya~ ahaha~" ucap Len dengan tanpa rasa bersalah sama sekali.

"KAMP**T! LU NYEBELIN BANGET SIH!" Rin menjambak Len.

"a-aduh! ITTAI!"


Sementara itu,

"t-terimakasih Kaito-kun~" ucap Miku.

"bukan apa-apa." Ucap Kaito sambil tersenyum pada Miku.

'ku peluk tidak ya? peluk tidak ya? ah~ ku peluk saja deh~' pikir Miku.

"kalau begitu sampai nanti~" Kaito pun langsung pergi.

Sedangkan Miku yang sudah bersiap mau memeluk Kaito malah jadi kejedot tiang listrik.

"aaa! Ittaaaai!" teriak Miku.


"gagal lagi. Sigh." Ucap IA.

"selanjutnya kelompok yang melewati rute itu adalah kelompok F." ucap Oliver.

"baiklah kalau begitu!"


"ah! Miriam tunggu!" ucap Mizki.

"ada apa?" tanya Miriam.

"e-etto.. sepertinya aku menginjak sesuatu." Mizki berusaha melihat apa yang diinjaknya.

"sekarang! Aku tak boleh gagal lagi!" ucap IA yang kemudian langsung menghentakkan kakinya sekuat tenaga.

"UWAAAA!" Mizki pun terjatuh.

"M-MIZKII!" Miriam berusaha menolong Mizki tapi terlambat. Mizki pun terjatuh ke dalam jurang itu.

"i-ini gawat! Aku harus mencari bantuan!" Miriam pun pergi.


Sementara itu di kamar nomer dua~

"ugh! Gara-gara si Kagamine nyebelin itu gue harus keramas dan mandi lima kali dalam waktu satu jam!" Rin yang sedang mengeringkan rambutnya yang basah itu terus ngomel-ngomel.

"Kagamine? Kamu kan Kagamine." Ucap Lenka.

"maksudnya. Bukan Kagamine yang imut." Ucap Rin sambil menunjuk dirinya sendiri. "tapi Kagamine yang nyebelin." Lanjut Rin sambil menunjuk ke arah kamar nomer satu.

"ahahaha! kasihan~ gimana rasanya jadi penghuni tong sampah selama dua menit? Ahaha~" canda Lenka.

"urusai! Lagipula, kau sendiri juga kan Kagamine." Rin menjulurkan lidahnya pada Lenka.

"oh iya ya.."

"APA? ! kakak Rin masuk tong sampah? !" Yuki kaget.

"SELAMA DUA MENIT? !" Gumi juga kaget.

"terus?" tanya Rin.

Gumi dan Yuki langsung menutup hidungnya.

"EH HEY! GUE UDAH MANDI DAN KERAMAS LIMA KALI! TENANG AJA KALI!" ucap Rin.

"oh~ SELO AJA KALI!" kata mereka serempak.

Sementara Miku sedang menatap dirinya di kaca dengan wajah berseri-seri yang sangat aneh, tersenyum memperlihatkan sederet giginya, dan tak berkedip sama sekali.

"um.. Miku? Kau baik-baik saja kan? Kau tak lupa caranya berkedip kan?" tanya Gumi yang khawatir.

"tenang saja, dia sudah daritadi begitu terus." Ucap Lenka dengan santainya sambil memainkan Ipod nya.

"sudah berapa lama?" tanya Rin.

"um… dua setengah jam." Ucap Lenka yang melirik ke arah jam dinding sebentar lalu fokus pada Ipodnya lagi.

"dua setengah jam? Biasanya cuma dua jam! Ini berarti ada yang aneh.." ucap Rin.

"DUA JAM ITU CUMA? ! ! CKCKCK." Gumi menggeleng-gelengkan kepalanya.

"kakak Miku kok jidatnya benjol?" tanya Yuki.

". . . ."

Hening~

hening~

hening~

hening~

hening~

hening~

hening~

"INI BENJOL YANG TAK AKAN PERNAH KU LUPAKAN SEUMUR HIDUPKUUUU! BARU KALI INI GUE SENENG KALO KEPALA GUE BENJOL GINI! POKOKNYA APAPUN YANG TERJADI GUE GA MAU KALO BENJOL INI ILANG! INI TUH PENUH SEJARAH! SEJARAH MIKU YANG AKAN MEMELUK KAITO-KUN LALU MALAH KEJEDOT TIANG! AWW!" jelas Miku tanpa titik koma sambil teriak-teriak.

Sementara semua hanya sweatdrop.


Sementara itu di kamar nomer satu~

Oliver sedang memejamkan matanya sambil duduk bersila seperti sedang yoga. Len duduk di jendela sambil termenung. Kaito merasa kalo ada yang sedang membicarakan dirinya(emang bener). Gumiya sedang main FB mencari Fb Gumi di laptopnya. Suasana kamar itu memang tenang dan damai. Tiba-tiba saja kedamaian itu hilang seketika, karena Yuuma masuk dengan membanting pintu dan langsung mencari-cari sesuatu.

"eh? Yuuma? Kenapa kau?" tanya Len.

"aaah! Yuuma! Bisakah kau membuka pintunya lebih halus sedikit? ! sinyal modem gue jadi ilang semua ini! Aaa!" Gumiya ngomel-ngomel sambil mukul-mukul modemnya.

Sementara Kaito dan Oliver masih sibuk dengan urusannya masing-masing sampai Yuuma mencari ke arah mereka. Oliver yang merasa risih akhirnya angkat bicara,

"Yuuma! Apa sih yang kau cari! Kau mengganggu konsentrasi ku!" ucap Oliver.

"m-maaf! Tapi aku cuma nyari.. AH! INI!" Yuuma mengangkat benda yang di carinya sejak tadi tinggi-tinggi. Dan seisi kamar itu kaget melihat barang apa yang di cari Yuuma.

"c-cuma permen karet yang abis di kunyah?" tanya Gumiya.

"astaga.. kalo mau permen karet minta aja kali." Ucap Len.

"i-ini bukan permen karet biasa! Permen karet ini yang sudah membuat Mizki jatuh dan patah kaki! Aku menemukannya di tkp." ucap Yuuma.

"!" Oliver kaget.

'j-jangan-jangan.. itu barang yang di gunakan oleh AI tadi..' pikir Oliver.

Yuuma pun langsung pergi.

"apa? Mizki patah kaki? Kok bisa?" Gumiya bingung.

"Cuma gara-gara permen karet? Aneh deh.." ucap Len.

"kita liat mereka yuk!" Gumiya dan Len pun pergi sambil menarik Kaito.

"ini gawat! Aku harus cepat-cepat beritahu AI dan Prima!" ucap Oliver.


Kembali di kamar nomer dua~

Tiba-tiba Teto masuk dan membanting pintu. Semua mata pun langsung tertuju pada Teto.

"k-kita harus cepat!" ucap Teto.

"cepat? Apanya?" tanya Rin yang masih sibuk mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.

"Mizki! Kita harus menengok Mizki!" ucap Teto.

"Mizki-san? Kenapa emangnya dia?" tanya Lenka.

"patah kaki." Ucap Rui.

"EH!" mereka semua kaget.


Dan kamar nomer 7 pun langsung penuh sesak oleh banyak orang yang ingin melihat keadaan Mizki~

*murmur *murmur

"blablablablabla."

"tenang! Semua tenang! Harap jangan ribut!" Defoko sudah tidak tahan mendengar ocehan-ocehan banyak orang di situ. Setelah Defoko berteriak, seisi kamar pun langsung tenang.

". . ."

BRAK

Tiba-tiba Yuuma masuk dengan membanting pintu. Seisi kamar itu pun langsung bersuara lagi.

*Murmur *murmur

"blablablablabla."

"DIAM SEMUA!" bentak Defoko.

". . ." dan semua langsung diam.

"Defoko-san! Aku membawa barang bukti!" ucap Yuuma.

"apa?"

BRAK

Tiba-tiba Gumiya dengan laptopnya, dan Len yang menarik syal Kaito masuk dengan menendang pintu. Seisi kamar itu langsung ribut lagi.

MURMUR MURMUR

"BLABLABLABLA!"

"DIAAMMM! EMANG NYA GA ADA KATA-KATA LAIN SELAIN 'BLABLABLA' YA?" Defoko kesal.

"…."

"BLEBLEBLEBLEBLEBLEBLEBLEBLE!" oceh seisi kelas itu dengan GaJe nya.

"DIAAAMMM! TOLONG TENANG! ATAU AKU USIR KALIAN SEMUA!" bentak Defoko.

". . . ." mereka semua pun diam.

"mana barang buktinya?" tanya Defoko pada Yuuma.

Baru saja Yuuma mau menunjukkan barang buktinya, seseorang sudah membuka pintu dengan kerasnya lagi.

BRAK!

Rupanya itu Teto, Rui, Rin, Miku, Lenka, Yuki, dan Gumi.

"AAAH! SUDAHLAH! COPOT SAJA PINTUNYA! DARIPADA INI NGOMONGNYA KAGA BERES-BERES!" Defoko pun kesal.

"blablebloblableblo~" ucap Gakupo. Dan sukses mendapat tendangan dari Defoko hingga mental keluar.

"jadi apa barang buktinya?" tanya Defoko lagi.

"ini." Yuuma menunjukkan sebuah permen karet yang sudah di kunyah.

Defoko tampak kebingungan melihatnya.

"ini? Yang seperti ini bukti namanya?" tanya Defoko.

"eh! i-itukan.. permen karet yang tadi ya, Mik?" Lenka menyenggol-nyenggol Miku.

"mana? Mana sih? Ga keliatan!" Miku berjingkak-jingkak berusaha melihatnya.

"iya! Itu bukti yang ku temukan. Kata Miriam, Mizki terjatuh karena menginjak permen karet itu." jelas Yuuma yang di sertai anggukan dari Miriam.

"hah? Mana bisa?" Defoko tidak percaya dengan yang dikatakan Yuuma.

"i-itu! permen karet itu emang bener!" ucap Miku yang baru dapat melihatnya. Seisi kamar itupun langsung menoleh ke arah Miku.

"aku dan Miku sebelumnya juga sudah menginjak permen karet itu, dan kami juga hampir terjatuh." Jelas Lenka.

"tapi untunglah ada Kai— hmph!" Miku yang mau bilang kalo dia di selamatin sama Kaito itu buru-buru mulutnya di tutup sama Rin.

"itu benar Defoko-san, aku melihatnya sendiri. Saat Mizki menginjak permen karet itu, spontan si tanah bergeser sehingga Mizki terpeleset dan masuk ke jurang itu." ucap Miriam.

"benarkah begitu?" tanya Defoko. Sementara Miku, Lenka, dan Miriam hanya mengangguk.

"kalau benar begitu, berarti.. kemungkinan ini adalah magic. Salah satu dari kalian disini, menggunakan magic untuk men-celaka-kan rival kalian." Simpul Defoko.

Semua kaget dan hanya diam.

'magic? Itu artinya di antara kami salah satunya adalah penyihir?' pikir Rin.

'tapi.. siapa penyihir itu?' pikir Miku.

'hmph! Sudah ku duga dari awal. Aku sudah merasakan hawa yang tidak enak saat masuk ke sini. Terutama saat di dekat…' pikir Meiko sambil melirik IA dan Prima.

'kenapa ini? Kenapa aku merasakan aura ga enak dari pancaran mata IA dan Prima?' pikir Teto.

'heh. Mereka tak akan mengetahui siapa penyihir itu. hehe.' Pikir IA.

"kalau begitu, kita akan menindak lanjuti ini semua. Kita akan mencaritahu siapa penyihir itu." ucap Defoko.

"kenapa tak kita suruh saja penyihir itu untuk mengaku?" tanya Ryuto.

"percuma. Berapa kalipun kita tanya, tidak akan ada yang mau mengaku pastinya." Ucap Defoko.

"lalu? Bagaimana dengan Mizki? Waktu penyembuhan kakinya tentu saja lama. Apa dia masih bisa bertahan di sini?" tanya Luka.

"aku ingin membawa Mizki pulang!" ucap Yuuma, spontan seisi kamar melihat ke arah Yuuma dengan tatapan kaget.

"apa yang kau bicarakan Yuuma!" tanya Piko.

"aku ingin membawa Mizki pulang! Dia tak bisa di sini terus, Piko!"

"tapi, kalau kau dan Mizki pulang, kita bagaimana?" tanya Piko sambil menggenggam tangan Miriam tanpa memalingkan pandangannya sedikitpun dari Yuuma.

"terserah kalian! Bagiku, Mizki itu lebih penting dari kontes ini! Mizki segalanya untukku!" ucap Yuuma.

"Y-Yuuma…" Mizki yang sedari tadi hanya duduk diam di kasur itu kini menundukkan kepalanya.

"Defoko-san, Luka-nee, Kiyoteru-san, Gakupo-nii, dan Ann-san. Aku.." Yuuma berhenti sejenak.

"Yuuma! Tidak!" Piko berusaha mencegah Yuuma.

"aku.. mengundurkan diri!" lanjut Yuuma.

Spontan seisi kamar itupun kaget dan langsung ribut lagi.

*mur mur *murmur

"blablablablablabla?"

"blablabla?"

"Yuuma! Apa yang kalu lakukan!" ucap Piko.

"aku mengundurkan diri, Piko. Aku harus membawa Mizki pulang dan merawatnya." Ucap Yuuma.

"i-itu artinya.. Mizki juga.." tanya Miriam.

"ya. Mizki juga harus."

"Defoko-san, Luka-nee, Kiyoteru-san, Gakupo-nii, Ann-san. Mizki, harus mengundurkan diri." Ucap Mizki sambil menundukkan kepalanya.

"k-kalian yakin?" tanya Luka.

"kami yakin sekali. dengan kondisi Mizki yang seperti ini, kita tak akan bisa."

"kalau begitu, ku putuskan, kelompok F, Utatane Piko, Miriam, Yuuma, dan Mizki. Gugur dalam kontes!" ucap Defoko. Semua pun kaget.

"APAA?" tanya Piko.

"karena dua personilnya mengundurkan diri, kalian pun tak cukup orang untuk melanjutkan kontes ini. Otomatis kalian gugur. Hari ini juga, kalian pulang!" Defoko pun pergi meninggalkan kamar itu.

Perlahan orang-orang di situpun keluar dari kamar. Piko terlihat tak bisa menerimanya. Kelompok C pun menghampiri Piko.

"Piko.." panggil SeeU.

"…"

"Piko?" panggil Mayu.

"hah. Aku tau kau masih ingin mengikuti kontes ini kan?" ucap Zatsune sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

"tentu saja dia pasti mau. Mana ada orang yang rela kalau usahanya sia-sia hanya gara-gara hal bodoh seperti ini." Ucap Ring.

"hmph.. kalau begitu, kami akan mengambil mu." Ucap Zatsune.

"Eh? a-apa?" tanya Piko.

"kami akan memasukkan mu ke dalam kelompok kami." Ulang Zatsune.

"kami juga butuh seorang cowok! Apalagi kamu kan dekat dengan kami~" ucap Mayu dengan senyum manisnya.

"k-kalian mau memasukkan ku ke dalam grup kalian?" tanya Piko masih tak percaya.


"kelompok F yang kena jadinya. Ahahaha!" Prima tertawa.

"sst! Diam! Jangan terlalu keras!" ucap Oliver.

"ups. Ya ya ya maaf~"

"lalu? Apa target mu selanjutnya?" tanya IA sambil fokus memainkan psp nya.

"hm.. bagus kalau kau sudah siap. Target kita selanjutnya, kelompok H." Oliver smirk.


.

.

TBC

Review please~? :D

.

A/N : maaf kalo rada gaje hehe.. dan.. kalo boleh minta saran atau apalah :D review~ thanks!