Battle Music!
.
Disclaimer : all characters in this story aren't mine. Vocaloid, © Yamaha and crypton future media inc. ^^ but this story is originaly MINE! Don't you dare to copy this, okay? :) . . . HEY, I'M SERIOUS
.
Warning : OOC(maybe), some typo, bahasa sehari-hari, GJ, ini bakal panjang sepertinya?, dll~
.
A/N : nyahoo~ libur ui~ acik acik~! ^^ aku jadi alay gini deh gara-gara waktu itu sih. Udah ah jadi curcol. Wkwkwk. Aku lagi ngetik ch 10. Mudah-mudahan bisa cepet selese. Okay, langsung aje~
.
Don't like? Don't read :)
.
Like? Review~ ;D
.
.
Chapter 9
.
.
Keesokan paginya, setelah kepulangan kelompok F, semua kembali seperti biasa lagi. Mereka semua kini sedang sarapan bersama di kantin.
"kelompok H yang mana ya?" maid itu kebingungan mencari meja kelompok H. dia harus mengantarkan makanan itu ke kelompok H.
Prima yang mendapat ide buruk itu pun langsung menghampiri si maid.
"ehm. Biar aku saja kalau begitu. Aku yang mengantarkannya ke kelompok H ya." pinta Prima dengan senyum manisnya.
"ah. baiklah. Terimakasih ya! aku masih banyak pekerjaan." Maid itupun langsung menyerahkannya pada Prima dan langsung pergi.
'heh. Dasar bodoh.' Prima smirk. Seketika tangannya pun bercahaya, cahaya itu menyelimuti makanan itu. dalam beberapa detik cahaya itu pun sirna.
"beres deh~ lalala~" Prima pun dengan muka polosnya lagi berjalan menuju meja kelompok H.
"holla~ ini makanannya~ selamat menikmati ya~" ucap Prima dengan senyum manisnya.
"wah~ terimakasih ya~" ucap Rei yang terlihat sudah tak sabar ingin menyantap makanan itu.
"are? Kok kamu yang nganterin makanannya sih?" Lenka bingung.
Prima yang sudah membalikkan tubuhnya untuk pergi itu menunjukkan wajah yang mengerikan. Tapi saat dia berbalik lagi ke kelompok H, dia menunjukkan wajah yang sangat manis.
"… aku sedang berbaikhati~" ucap Prima.
"wah kau ini memiliki senyum yang manis sekali~" ucap Rinto yang terdengar seperti lebih ingin menggoda.
"ahahaha~ terimakasih~"
"siapa namamu?"
'hmph. Terlalu lama. Kalau begini, obatnya akan hilang.' Pikir Prima.
"Prima." Ucap Prima dengan senyum manisnya.
"oh~ aku Rinto. Boleh minta nomer hp mu?" tanya Rinto.
'grrr. Sudah sana makan saja! Yang lain kan sudah makan! Kalau begini, nanti kamu gak kena obatnya!' pikir Prima.
Prima pun mengeluarkan cahaya seperti laser dari jari telunjuknya di bawah meja yang di arahkannya ke kaki Rinto.
"aduh! ittai!" ucap Rinto tiba-tiba.
"sampai nanti~" Prima pun pergi dengan senyum manisnya.
"eh? hau henafa?(kau kenapa)" tanya Rei dengan mulut penuh makanan.
"ga apa-apa. Aku ngerasa kayak ada sesuatu mengenai kaki ku." Ucap Rinto sambil melihat ke bawah meja.
"perasaan mu saja kali." Ucap Lenka sambil memotong makanannya.
"AH! AKU TAU! PASTI KAU KAN YANG MENGINJAK KAKI KU TADI! NGAKU!" tuduh Rinto sambil menudingkan jarinya pada Lenka. Lenka yang baru saja membuka mulutnya untuk makan, jadi cengo ngeliat Rinto yang nuduh dia sembarangan gitu.
"APA-APAAN SIH! GUE DARITADI DIEM AJA!" ucap Lenka.
"terus, siapa dong yang tadi?" ucap Rinto dengan tablo(TAmpang BLOon)nya.
Semua pun mengangkat bahunya tanda tidak tahu.
"mungkin ada hantu tadi. Hantunya naksir sama kamu, Rinto~" Rei berusaha menakut-nakuti Rinto.
"ah. m-masa sih. Masa ada hantu." Rinto berusaha supaya tidak takut.
"iya loh! Katanya, disini kan angker! Hiii~" Lenka juga berusaha menjahili Rinto. Padahal di situ sama sekali ga ada hantunya.
Sementara disitu hanya Rui yang cuek dengan santainya makan.
Rinto hanya diam sambil keringet dingin. Sepertinya dia mulai ketakutan. kemakan omongan Rei dan Lenka. sementara Rei dan Lenka hanya melihat satu sama lain sambil tersenyum.
'berhasil~' pikir Rei dan Lenka.
"berhasil~" ucap Prima dengan riangnya sambil memeluk IA.
"aduh! Apa yang berhasil?" IA kaget dan melepaskan pelukan Prima.
"sst! Jangan kencang-kencang Prima! Nanti Miki mau kesini." Ucap Oliver.
"tadi, aku menaruh sesuatu di makanan kelompok H. dengan sihirku tentunya~" ucap Prima dengan suara pelan.
"ah? bagus kalo gitu! Kamu taruh apa?" tanya Oliver.
"obat."
"kali ini pasti bener kan? Obat kan? Bukan udang? Soalnya kamu pernah latihan nyihir obat malah jadinya udang." Ucap IA.
"iiih! Jangan ungkit-ungkit lagi yang itu!" ucap Prima sambil cemberut, membuatnya jadi imut.
Mereka pun berhenti berbicara soal itu karena Miki sudah datang dengan makanannya.
Setelah semua makan, kini latihan vokal pun akan dimulai. Satu per satu grup masuk ke dalam ruang latihan untuk di latih oleh Kiyoteru dan Sweet Ann.
Semua kelompok sedang duduk di depan ruang latihan, menunggu gilirannya.
Sementara Iroha yang sudah capek narik-narik si Ryuto buat ga deket-deket sama Yuki tapi akhirnya tetep aja bilik lagi sama Yuki, kelompok G sedang duduk bersama di sebuah meja.
"huh. Lama. Kita kelompok berapa sih, Rin?" tanya Miku sambil menidurkan kepalanya di meja.
"kelompok G. masih lama~ huh~" Rin mengembungkan pipinya.
"ini masih gilirannya kelompok C. kelompok C lama banget. Belom selesai-selesai deh." Teto juga ngomel-ngomel.
"itu kelompok C udah beres!" ucap Lui setengah senang.
"ha! Giliran kita! Ingat, kita harus berusaha yang terbaik! Jangan dulu pikirkan tentang cinta! Ya kan, Iroha?" ucap Aoki dengan semangatnya.
"ya~" jawab Iroha dengan manisnya.
"ya kan Gumiya!" tanya Aoki dengan semangat nya lagi.
"ya ya ya.." jawab Gumiya ogah-ogahan.
"ya kan Ryuto!" tanya Aoki dengan penuh semangat.
"eh? kok ga ada jawaban? AA! SI RYUTO MANA!" Aoki kaget saat Ryuto ga ada sama mereka.
"itu~" ucap Iroha sambil menunjuk Ryuto yang sedang deket-deket sama Yuki.
"kamu cantik deh~" goda Ryuto pada Yuki.
"ah.. Ryuto.." Yuki hanya blushing sambil tersenyum.
"RYUTOOOO!" teriak Aoki.
"eh!" Ryuto kaget.
"GILIRAN KITA SEKARANG!"
"oh! Ya sudah. Aku pergi dulu ya~ dadah~" Ryuto pun ikut masuk ke dalam ruang latihan bersama kelompoknya.
Sementara yang lainnya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku mereka.
"si Ryuto itu masih kecil tapi bisa aja bikin Yuki sampe merah gitu. Ckckck." ucap Rin.
"ah.. Rin juga bisa kok bikin Lui jadi merah gitu." Gumam Lui dengan mukanya yang sedikit memerah.
"are?" tanya Rin.
"AH! GA APA-APA! GA APA-APA KOK! HEHEHE~" Lui jadi salting.
'ckckck Lui Lui~ udah keliatan kalo Lui itu suka sama Rin.' Pikir Teto.
Tiba-tiba kelompok A datang menghampiri mereka.
"Rin~ Miku~ Teto-chan~ dan Lui-san~" sapa Gumi dengan senyum manisnya dan langsung duduk di sebelah Rin.
"hai~" sapa Rin balik.
"aduh. Gumi sempit tau! bokongmu lebar sekali." omel Miku yang berada di sebelah Rin.
"ehehehe~" Gumi cengengesan.
"hei. Muka mu pagi ini beda ya." ucap Len pada Rin. Seperti biasa, tanpa ekspresi sama sekali.
"eh? beda apanya?" tanya Rin.
"… jadi lebih gimana gitu."
"gimana gimana?" Rin bingung.
"mm.."
'ah.. ini satu juga. Kayaknya sama kayak Lui.' Pikir Teto.
"lebih kusut. Ahahaha~" Len tertawa.
'benar kan. Dia juga suka Rin. Tapi cara meng-ekspresikannya beda dengan Lui yang lembut.' Pikir Teto.
"sigh. Dasar shota." Gumam Rin.
"biarin wle~" Len menjulurkan lidahnya pada Rin. Sementara Rin balas menjulurkan lidahnya lagi.
"ah! hai Kaito-kun~" sapa Miku.
"hai." Sapa Kaito balik sambil tersenyum.
"lihat! Lihat ini!" Miku berusaha menunjukkan benjolnya yang waktu itu.
"eh? apa?" Kaito bingung.
Untunglah sebelum mereka bisa melihatnya, giliran kelompok G pun tiba.
"ah! giliran kelompok kita tuh! Cepet banget deh? Ayo~" ajak Lui.
"ah iya! Bener juga tuh! Sampai nanti ya!" pamit Teto.
"jaa~!" Rin melambaikan tangannya.
"Mik, ayo! Giliran kita nih!" bisik Rin pada Miku yang masih diam sambil memandangi Kaito tanpa berkedip dan senyum lebarnya.
"Miku!" panggil Rin lagi.
"eh.. temanmu itu.. ga apa-apa ..kan?" tanya Kaito yang sepertinya agak takut karena di liatin Miku segitunya.
"ah. ga apa-apa kok! Ahaha~ dia cuma… um.. agak rusak. Eror. Ehehe~" Rin mencari alasan.
"Miku! Ayo! Cepat!" bisik Rin lagi.
Sementara Meiko, Kaito, Len, dan Gumi memandang mereka dengan tatapan kebingungan. Rin pun tak punya pilihan lain.
"Miku! Kau yang memaksa ku melakukan ini!" bisik Rin lagi sebelum dia menyeret Miku masuk ke dalam ruang latihan.
"KYAAA~" Miku hanya bisa pasrah dirinya di seret oleh Rin. Dan kelompok G pun masuk ke dalam ruang latihan untuk berlatih.
"ckckck. Sungguh aneh." Meiko menggeleng-gelengkan kepalanya.
'si Miku itu kan suka sama Kaito ya? ckckck. Kaito kan pacarnya Meiko.' Pikir Gumi.
"huff.. unttung saja Rin-chan itu sudah menyeret Miku-chan untuk masuk ke ruang latihan. Aku sudah takut karena di pandangi begitu terus sama dia. Hiii ngeri~" ucap Kaito.
"kau juga suka memandangi ku seperti itu kok." Ucap Len.
Dan Kaito pun langsung menatap Len dengan cara yang sama seperti Miku menatap Kaito.
'aduh.. bener-bener di lakuin juga ni anak. Gue jadi ngeri ah.' pikir Len.
Meiko pun langsung menjitak Kaito.
"KAITO!" bentak Meiko.
"ups. Maaf~ harusnya aku kayak gitu nya ke kamu ya. eheheh~" ucap Kaito yang lalu memandang Meiko begitu. Sementara muka Meiko terlihat memerah. Entah menahan marah atau sedang blushing.
'ckckck. Aneh. Cowok baka begitu kok sampe dua cewek suka sama dia sih.' Pikir Gumi. 'kan gantengan juga Gumiya~ uhuuy~' pikir Gumi yang mulai blushing dan senyum-senyum sendiri.
Sementara Gumi masih belum menyadari kalo dirinya sedang di tatap oleh Meiko, Len, dan Kaito dengan tatapan yang kebingungan.
Setelah kelompok G selesai berlatih, mereka pun keluar dari ruangan itu.
"kenapa rasanya hari ini kerasa tenaaaaang~ gitu ya?" tanya Miku.
"itu karena kau ga berantem sama Lenka." jawab Lui.
"eh! iya juga ya. daritadi aku ga liat kelompoknya Lenka loh." Rin baru nyadar.
Luka pun keluar dari ruang latihan itu,
"hai semua!" sapa Luka.
"Luka-nee!" Miku, Rin, Lui, dan Teto menoleh kebelakang melihat ke arah Luka dengan senyum manisnya.
"Luka-nee! Gimana tadi latihan kita? Bagus kan?" tanya Lui dengan semangatnya.
"bagus kan? Bagus ya? bagus dong! Bagus lah~ ya kan? Ya dong~" Rin maksa sambil nyenggol-nyenggol Luka.
"iya iya~ Kalian sudah banyak berkembang loh sejak terakhir kita bertemu! Luka-nee bangga sama kalian!" ucap Luka sambil tersenyum manis.
"ehehehe~ saudara mu gitu loh~ ga kalah pinter kan ahaha." Miku mulai nyombong.
"ehem~ aku di cuekin~ nostalgianya ntar dong~" Teto bercanda sambil cemberut.
"ahaha iya, iya. Oh ya, Luka-nee lihat Rinto dan lainnya ngga?" tanya Rin.
"soalnya daritadi adem ayem aja nih. kaga ada si Lenka." tambah Miku.
"oh ya. si Rinto dan lainnya itu gak ikut latihan kali ini. Karena katanya sih, mereka sakit?" ucap Luka sambil mengangkat kedua bahunya.
"sakit?" tanya Miku sambil ikut-ikutan mengangkat kedua bahunya.
"ya. kalian jenguk saja. Sekalian kalian kasih tau, jangan sampe ga ikut latihan tiga kali. Nanti Defoko bisa marah." Ucap Luka.
"souka.." ucap Lui.
"baiklah kalau begitu! Ayo kita kesana~" ajak Teto.
"iya! Ayo kesana~ Rin—" Miku kaget saat menoleh dan ternyata Rin tak ada di situ.
"eh? Rin? Kemana dia?"
TOK TOK TOK
"Reeiiiiiii~ cepetan doooong! Gue udah ga kuat nih!" Lenka sedaritadi terus ngetok-ngetok pintu wc.
"bentar dong Lenka! sabaaaar! Gue juga masih sakit nih! adoh!" balas Rei dari dalam wc. Sedaritadi Rei terus-terusan di dalem wc karena sakit perut.
"buruan dooong! Gue juga sakit perut nih! aduh! REEEEIII!" Lenka tetep berdiri di depan wc nungguin Rei.
"setia amat sama si Rei. sampe si Rei lagi b*ker aje di tunggu-tungguin. Ahahaha!" ejek Rinto.
"berisik lo!" balas Lenka.
Dan akhirnya Rei pun keluar.
"ah~ akhirnya! Aku mau masuk!" Lenka yang sudah bersiap mau masuk itu malah di cegah oleh Rei.
"kenapa? Gue udah ga kuat nih!" ucap Lenka sambil megangin perutnya.
"g-gue.. GUE JUGA SAKIT LAGI!" Rei pun langsung kembali masuk ke dalam wc.
"AAAH! REEIIIII!"
Tok tok tok
Terdengar ketukan pintu dari luar kamar Lenka itu. mereka kini memang sedang ngumpul di kamarnya Lenka alias kamar nomer dua. Saat pintu kamar terbuka, menunjukkan sosok seorang gadis manis dengan rambut blondenya.
"Rinto?"
"Rin?"
"ah! Rinto!" Rin yang mendapati Rinto sedang berbaring di kasur itu, langsung berlari masuk ke dalam kamar dan menghampiri Rinto.
"apa yang kau—AAA!" Rinto kaget karena Rin langsung saja memeluknya.
"Rinto~! Bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja? Katanya kau sakit ya? aku mengkhawatirkan mu tau! Kau sampe ga latihan gitu! Gimana kalau kamu bolos latihan tiga kali? Defoko-san bakal marah! Bisa-bisa kamu di keluarin! Kamu ga mau hal itu terjadi kan!" oceh Rin panjang lebar sambil masih memeluk Rinto dengan erat.
"ah.. i-iya.."
'kenapa rasanya jantungku berdegup kencang ya? pelukan dari Rin terasa hangat dan nyaman..' pikir Rinto. 'ingin rasanya ku balas pelukannya..' Rinto ragu-ragu untuk memeluk Rin.
"kau sakit apa Rinto?" tanya Rin sambil melihat wajah Rinto tanpa melepaskan pelukkannya.
"ah.. aku.. sakit.."
'si Rinto mukanya merah gitu.. kenapa ya? jangan-jangan dia demam? Tapi.. badannya ga panas kok. AH! JANGAN-JANGAN DIA MIKIR YANG NGGA-NGGA!' pikir Rin. Rin pun langsung melepaskan pelukkannya.
"jangan mikir yang ngga-ngga ya! aku kan cuma khawatir sama kamu karena kamu itu saudara ku." Ucap Rin sambil membalikkan tubuhnya memebelakangi Rinto.
"ah.. iya iya. Tenang aja. Aku ga mikir yang ngga-ngga kok." Bohong Rinto.
"alah.. bohong!" ucap Lenka yang masih berdiri di depan wc nungguin si Rei keluar. Dan di balas glare oleh Rinto. Lenka hanya balas menjulurkan lidahnya.
"jadi, sakit apa?" tanya Rin.
"perut gue sakit. Gue sama yang lainnya daritadi bulak-balik wc mulu nih."
"oh. Yaudah gue cari obat ya." Rin pun berjalan keluar kamar.
Tak lama setelah Rin pergi, Lui dan Teto pun datang.
"hai hai hai~ semua~ gimana keadaannya?" tanya Teto.
"so-so." Jawab Rui yang baru datang dan masuk ke kamar.
"loh? Darimana Rui?" tanya Lui.
"abis dari wc kamar sebelah. Daripada nunggu di sini lama."
"iya juga! Gue di sebelah aja ah!" Lenka langsung semangat dan berlari. Tapi sayang,
"hello semua~"
BRUK!
"ups!"
Saat Miku datang dan membuka pintunya, Lenka malah kejedot pintu dan jatuh terkapar.
"m-maaf Lenka!" ucap Miku.
"argh! MIKUUU!" Lenka yang baru saja mau memukul Miku, merasakan perutnya sakit dan,
Broot
Semua hening.
Hening~
Hening~
Hening~
Hening~
Hening~
"G-GUA CABUT DULU!" Lenka langsung berlari keluar dengan kecepatan inhuman. Sementara yang didalem kamar itu pingsan.
Rei pun keluar dari wc.
"ah~ akhirnya lega juga.. loh kok? Kenapa semua?" Rei bingung ngeliat temen-temennya yang pada tepar.
Sementara itu, Rin sedang mencari obat untuk Rinto dan yang lainnya.
"aduh. Cari dimana ya? di dapur mungkin ada.." Rin pun masuk ke dapur dan mulai mencari obat itu di rak-rak.
"aduh.. kok ga ada ya? lagian di sini kok sepi banget sih? Ga ada maid-maid kayak biasanya." Rin kebingungan.
"Rin?"
Merasa namanya dipanggil, Rin pun menoleh.
"kau?" Rin kaget saat melihat Len.
"ngapain lu disini?" tanya Len sambil menghampiri Rin.
"lu sendiri ngapain?" tanya Rin balik.
"yeh malah nanya balik. Gue nanya duluan. Lu jawab dulu dong."
"ya gue lagi nyari obat buat si Rinto. Lu?"
"nyari makanan. Gue laper."
"oh, yaudah. Awas, gue mau nyari di situ."
Len malah sengaja mengerjai Rin dengan menghalangi jalannya. Rin geser ke kiri, Len ngehalangin. Rin geser ke kanan, Len ngehalangin lagi.
"LEN!" bentak Rin yang mulai kesel.
"apa~?"
"AWAS!"
"hm~ kalo aku ga mau gimana ya~?"
Rin meng-glare Len sambil mikir.
'bagusnya ni anak gue apain ya. di sate, di bakar, atau di lalap.' Pikir Rin.
"jangan. Jangan di makan dong. Gue kan bukan makanan." Ucap Len tiba-tiba seperti dia bisa membaca pikiran Rin.
'eh! dia bisa baca pikiran gue?' pikir Rin sambil menatap Len kaget.
"ngga..ngga. gue ga bisa baca pikiran kok. Gue cuma berusaha nebak aja. Dan kayaknya tebakkan gue bener! Ahahaha!"
"iiih! Udahlah! Minggir! Gue mau ambil—WAA!" Rin yang mau mendorong Len malah terpeleset dan jatuh nimpah Len lagi. Persis seperti mereka pertama ketemu.
Dan Prima yang ga sengaja melewati dapur itu melihat mereka dalam posisi begitu.
'HAAH! OH MY GOD! Gue ga salah liat nih? ahahay~ gosip baru~ sekalian aja gue kerjain nih.' pikir Prima.
'aduh.. kenapa jadi begini lagi sih!' pikir Rin yang berusaha bangun.
'sigh.. harusnya ga gue jailin ni anak. Jadinya begini lagi kan.' Pikir Len yang berada di bawah Rin.
Prima pun menggumamkan beberapa mantra lalu pintu dapur terkunci.
BLAM
"hmhmhm~ beres deh~ lalala~" Prima pun pergi.
"ah? suara apa itu?" Rin pun berdiri.
"mana aku tau."
Rin langsung mencoba membuka pintu dapur itu.
Klek klek
"hah? P-pintunya kok ga bisa di buka!" Rin kaget tapi masih mencoba tenang. Dia pun terus mencoba membuka pintunya.
"ng-ngga bisa! KYAA! GUE KEKUNCI! GIMANA INIIIII!" Rin mulai panik.
…
TBC~
Review please? :D
