Battle Music!

.

Disclaimer : all characters in this story aren't mine. Vocaloid, © Yamaha and crypton future media inc. ^^ but this story is originaly MINE! Don't you dare to copy this, okay? :) . . . HEY, I'M SERIOUS

.

Warning : OOC(maybe), some typo, bahasa sehari-hari, GJ, ini bakal panjang sepertinya?, dll~

.

A/N : sebelumnya, Glori minta maaf, kalau kalau buat chapter selanjutnya bakal lama update. itu bukan aku yang mau loh ya. itu gara-gara kepentok urusan sekolah pastinya. besok udah mulai sekolah lagi sih. tapi di usahakan deh, biar ceper selese. okay, no BA no COT, langsung aje~

.

Don't like? Don't read :)

.

Like? Review~ ;D

.

.

Chapter 10

.

.

Klek klek

"hah? P-pintunya kok ga bisa di buka!" Rin kaget tapi masih mencoba untuk tetap tenang. Dia pun terus mencoba membuka pintunya.

"ng-ngga bisa! KYAA! GUE KEKUNCI! GIMANA INIIIII!" Rin mulai panik.

"yang kekunci bukan lu aja. Gue juga. Jadi tenang aja." Ucap Len yang tiba-tiba sudah ada di belakang Rin.

"i-itu yang lebih buruk lagi! Gue lebih suka kekunci di kandang mbe yang bau sendirian, daripada kekunci di dapur yang banyak makanan tapi berdua sama lo!" Rin tetep mencoba ngebuka pintunya.

"sigh."

'dasar keras kepala.' Pikir Len yang lalu berjalan menjauh dari Rin.

'eh? tuh cowok mau ngapain?' pikir Rin yang kebingungan melihat Len yang sedang mencari-cari sesuatu di laci-laci dapur.

Rin pun menghampiri Len.

"gue nyari kunci dapur. Siapa tau ada disini." Ucap Len yang masih fokus mencari kunci di laci itu.

"gue kan belom nanya." Rin menunjukkan wajah sebalnya.

"tapi pasti lu mau nanya itu kan." Tebak Len.

"…" Rin terdiam.

'sigh. Emang gue segampang itu ya buat di tebak.' Pikir Rin.

"jangan diem aja dong. Bantuin gue. Cari tuh kunci biar kita bisa keluar."

"iya iya iya." Rin pun membantu Len.

Setelah beberapa lama mereka mencari,

"ketemu ga kunci nya?" tanya Len sambil duduk di atas meja dan memakan pisang.

"ngga! Kamu kenapa makan coba? Bantuin dong!" Rin kesal.

"aku kan tadi tujuannya ke dapur itu buat makan." Ucap Len sambil menggigit pisang nya lagi.

'ugh! Dasar nyebelin! Kenapa sih begini banget deh jadinya!' pikir Rin kesal.


Sementara itu,

"ehehe~ IA~ tau gaaa?" Prima nyenggol-nyenggol IA.

"kaga. Apaan emang?" tanya IA acuh ga acuh.

"si Len kelompok A itu lagi berduaan di dapur sama si Rin kelompok G loh~"

"hah? Kok bisa?" IA kaget dan bingung.

"iya dong~ kan sama aku di jailin ahaha~ aku kunci deh pintunya~ ahahaha~ nanti tinggal bilang aja ke Defoko-san, kalo mereka itu…" Prima menggantungkan bicaranya lalu mengangkat kedua tangannya dan menggerak-gerakkan kedua jari telunjuk dan tengahnya seperti membentuk tanda kutip.

"eh? kamu mau ngefitnah mereka?" tanya IA.

"uh-huh! Benar! Siapa tau dua kelompok itu langsung di keluarin~"

"Prima! Kamu itu gimana sih! Kalau ada yang tau kamu yang ngelakuinnya, bisa-bisa kita yang di keluarin!" protes IA.

"uh~ jadi gimana dong?" Prima menggembungkan pipinya.

"kalian ini.. daripada rencana yang itu, aku punya rencana lain." Ucap Oliver yang baru saja datang.

"apa rencana mu?" tanya Prima.

"kita fitnah saja mereka." Usul Oliver sementara mereka berdua nepok jidat.

"itu ga ada bedanya sama ide Primaaaa!" IA kesal sementara Oliver hanya cengengesan.

'eh! ternyata benar dugaanku! Siapa yang mau di fitnah mereka? Aku harus berhati-hati!' pikir Meiko yang tanpa sengaja mendengar percakapan mereka lalu segera pergi.


Di kamar nomer 2~

"aduh kenapa si Rei lama amat sih! WOI! CEPETAN OY!" Lenka mengetuk-ngetuk pintu wc lagi.

"sebentar dong! Gue juga sakit!" jawab Rei dari dalam.

"seengganya lu ga separah mereka ya, Rinto." Ucap Miku yang sedang duduk di kasurnya.

"iya. Cuma badan gue lemes banget." Rinto sedari tadi hanya tiduran di kasur Rin.

"kenapa ga di wc sebelah lagi aja coba?" tanya Rui pada Lenka.

"ah.. gue takut, Rui. Temenin yuk!"

"APA! MAKSUD LO GUE MASUK KE DALEM! ?" Rui histeris.

"… kaga lah. Tunggu di depan pintunya aja. Ayo." Lenka pun menarik Rui ke kamar sebelah.

"si Rin kok belom ke sini ya? lama banget.." gumam Teto.

"iya.. katanya ambil obat. Tapi kok lama banget sih." Gumam Lui.

Tiba-tiba Meiko, dan Kaito masuk,

"KAITO-KUN~~" Miku langsung berbinar-binar.

"eh.. e-he-he-he.. h-hai.." sementara Kaito mulai takut.

"maaf ganggu tapi, ada yang liat Len ga?" tanya Meiko.

Semua diam.

"Len juga ngga ada? Rin juga ngga ada loh." Ucap Lui.

"atau.. mungkin mereka lagi jalan-jalan? Ga usah khawatir tenang aja." Teto berusaha menenangkan mereka.

"t-tapi, tadi Rin kan lagi nyari obat buat aku? Ga mungkin jalan-jalan dong." Rinto angkat bicara.

"terus, Len kemana?" tanya Meiko lagi.

Mereka semua kebingungan.

'gue takut kalo yang mau di fitnah mereka itu… Len.' pikir Meiko.


Sementara itu,

"aduh.. gue laper.. gue kan belom makan.." gumam Rin.

Len yang sedang asik makan itu menoleh ke arah Rin sebentar yang duduk di kursi meja makan itu. Len pun menghampiri Rin.

"nih." Len memberikan sebuah jeruk pada Rin.

"eh? t-tau darimana gue suka jeruk?" Rin bingung.

"nebak aja. Emang bener ya? Nih. gue ga mau lu mati kelaperan." Ucap Len sambil menyodorkan jeruk itu.

Rin pun mengambil jeruknya. Entah kenapa Rin jadi jinak sama Len.

"m-makasih.."

Sementara Len hanya mengangguk dan duduk di sebelahnya.

"ini aneh. Udah ampir setengah jam kita kekunci. Tapi belum ada yang nyadar juga kalo kita ini ilang." Len mengamati jam dinding di situ.

"tapi kenyataannya kita ga ilang. Kita itu ada. Kita kekunci di sini." Jawab Rin sambil memakan jeruknya.

"hehe." Len tertawa kecil.

"eh? kenapa? Apa yang lucu?" Rin bingung.

"ga apa-apa." Len tersenyum tipis.

Rin pun melanjutkan makannya lagi.

"imut." Gumam Len.

"apanya?" Rin menoleh ke arah Len dengan wajah bingungnya.

"kamu." Jawaban Len spontan membuat Rin kaget dan tersedak.

"uhuk! uhuk!"

"eh! makannya pelan-pelang dong. Minum dulu nih! ceroboh banget deh." Len menyodorkan segelas air.

'Len kok jadi baik gini sih. Eh? sejak kapan ya aku deket sama dia? Seinget aku, aku ga pernah panggil dia dengan embel-embel apapun.' Pikir Rin sambil meminum segelas air tadi.

Rin pun mengamati Len.

'dia itu kalo di liat-liat.. cute juga loh.' Pikir Rin sambil terus melihat Len.

Len yang merasa di amati jadi grogi.

"apaan sih. Liatnya biasa aja dong. Kenapa? Gue ganteng ya?" Len mulai GR.

"idih. Muntah. week~" Rin menjulurkan lidahnya pada Len.

Len balas menjulurkan lidahnya lagi.


Sementara itu Kiyoteru terlihat sedang berjalan menuju sebuah koridor yang sepi, rupanya si Gakupo mengikuti dia diam-diam.

'huh! Tak akan ku biarkan dia merebut Luka-chan ku! Lihat saja! Akan ku ikuti terus dia!' pikir Gakupo sambil masih mengikuti Kiyoteru diam-diam.

Tiba-tiba Kiyoteru berhenti dan menjawab telepon yang masuk ke ponselnya itu.

"baru mau ku telpon balik. ada apa? Tumben kamu telepon. Sampe 15 misscall begini. Sepertinya ada hal penting." Ucap Kiyoteru pada seseorang yang menelponnya itu.

"ah. bilang saja kau senang kalau ku telepon." Balas seseorang di sebrang sana.

'telepon dari siapa tuh?' pikir Gakupo sambil terus mengamati Kiyoteru dan bersembunyi di belakang pot tanaman.

"geez. Cepat bicara saja, ada apa?" tanya Kiyoteru.

"sudahlah. Aku punya tugas untuk mu. Aku tau, kamu sekarang ini sedang menjadi juri di kontes Yamaha itu kan?"

"lalu?"

"kau tau kelompok yang salah satu anggotanya bernama Teto Kasane?"

"dia di kelompok G. ada apa? Teto itu teman dekatmu kan, Ted?"

'hah? Ngapain ngomongin Kelompok G? Ted? siapa dia?' pikir Gakupo.

"ya, benar. Aku ingin agar kau membuat kelompok itu gagal dalam kontes secepatnya!" di seberangsana Ted smirk.

"apa maksud mu? Teto itu teman mu kan? Kenapa kau meminta ku untuk mengalahkan kelompok itu?" tanya Kiyoteru penuh tanda tanya.

'! Apa.! ? Kiyoteru dan seseorang dalam telepon itu ingin mengalahkan kelompok G?' Gakupo kaget.

"ah. sudahlah! Kau hanya perlu mengalahkan kelompok itu saja kok. Kau melakukan perintahku, lalu kau mendapatkan uangnya. Bagaimana?"

"kau akan membayarku?" tanya Kiyoteru.

'ini ga bisa di biarin! Aku harus memberitahu Luka!' pikir Gakupo dan langsung pergi berlalu dari tempat itu.

"hey, jangan pura-pura bego deh. Kamu emang pengen uang nya kan."

"ngga! Maaf kali ini aku rasa ga bisa." Kiyoteru pun mematikan teleponnya.

"sigh. Sial. Lihat saja. Yang perlu ku lakukan hanya lah menaikkan harga nya saja." Jauh disana Ted smirk. Lagi.


Meanwhile, Kaito, Miku, Rinto, dan Lui sedang berpencar mencari Len dan Rin.

"Teto." Panggil Meiko.

"ya?" Teto pun menoleh ke arah Meiko.

"aku ngerasain sesuatu yang ga enak dari temen sekamar kita itu."

"hm? Yang mana?" tanya Teto.

'apa jangan-jangan yang dimaksud Meiko-tan.. IA-san dan Prima-san..' pikir Teto.

"IA dan Prima."

"eh!" Teto kaget, ternyata dugaannya benar.

"aku udah dua kali ngeliat dan denger percakapan sama tingkah laku mereka itu mencurigakan. Yang pertama, pas Prima nganterin makanan buat kelompok H." ucap Meiko.

"memangnya kenapa?" tanya Teto.

"aku liat, tangan Prima yang megang makanan itu, tiba-tiba bersinar, sinarnya menyelimuti makanan itu. lalu dia mengeluarkan smirk. ku rasa dia melakukan hal yang buruk."

"b-benarkah?" Teto tampak tak percaya.

"aku melihatnya sendiri, jangan-jangan penyihirnya adalah Prima."

"i-itu bisa jadi!"

"kedua, barusan aku ga sengaja mendengar percakapan mereka. Mereka akan memfitnah dua orang di sini." Bisik Meiko.

"yang bener?" Teto tampak kaget.

"iya! Siapa yang akan mereka fitnah itu aku ga tau sih. Cuma aku takut kalo…"

"kalo?"

"yang kena itu Len sama Rin."

"kenapa kamu bisa mikir gitu? ?" Teto kebingungan.

"soalnya mereka berdua ilang tiba-tiba! Aku takut sesuatu terjadi sama mereka…"


Sementara itu, saat salah satu maid kembali ke dapur,

Klek klek

"eh! pintunya kok susah di buka ya?" Maid itu berusaha membuka pintunya.

"eh! itu ada orang di depan pintu!" seru Rin.

"tolong! Kami kekunci disini!" teriak Rin dari dalam.

"ah! ada orang. Baiklah, saya akan carikan dulu kuncinya ya. tunggu sebentar."

maid itu pun pergi, tanpa sengaja maid itu bertabrakkan dengan Lui.

BRUK

"Aduh.. maaf! Maaf! Saya ceroboh!" maid itu meminta maaf seraya membungkukkan badannya.

"eh. iya ga apa-apa. Lagian, kok kelihatannya kahawatir gitu sih? Emang kenapa?" tanya Lui.

"i-itu… etto.. ada yang terkunci di dapur. Permisi, saya harus segera mencari kuncinya." Maid itupun pergi meninggalkan Lui.

"terkunci di dapur? Jangan-jangan…!" Lui pun segera berlalu dari tempat itu.


"itu benar Luka! Aku ga bohong!" ucap Gakupo yang baru saja menceritakan apa yang sudah didengarnya itu.

"Gakupo. Bukannya aku ga mempercayaimu. Tapi.."

"tapi apa?"

"tapi kamu itu emang ga bisa di percaya. Sulit di percaya." Ucap Luka.

"aah! Ayolah Luka! Percaya sama aku kali ini aja! Aku bener-bener denger! Si Kiyoteru dan seseorang yang meneleponnya itu mau mengalahkan kelompok G!"

"Gakupo. Sudahlah. Lebih baik kita siap-siap. Sesudah ini, kita harus memberi pengumuman pada para peserta. Cepat beritahu pada semua." Luka pun pergi berlalu.

"sigh. Luka tidak mempercayaiku." Gumam Gakupo.


Sementara itu,

"fuaa~ ngantuk.." Len menguap lalu menidurkan kepalanya di atas meja makan itu.

"e-eh! Len! jangan tidur dulu dong!" Rin mengguncang-guncangkan tubuh Len.

"aduh.. kenapa sih."

"gue kan takut kalo sendirian." Rin menggembungkan pipinya.

Sementara Len tiba-tiba saja langsung menidurkan kepalanya lagi di atas meja menghadap arah yang berlawan dengan keberadaan Rin.

'k-kenapa begini sih.. kok muka gue jadi panas..' pikir Len.

"e-eh! kok tidur lagi sih! Banguuunnnn!" Rin memukul-mukul Len.

"iya iya iya! aku bangun! Aku bangun!" Len pun bangun dan duduk bersandar pada kursinya.

"eh? 'aku'? tumben ngomongnya pake 'aku kamu'. Biasanya suka ngomong 'elu gue' tuh kalo sama gue."

"ya… ga apa-apa dong. Suka-suka gue." Len memalingkan wajahnya lagi ke arah lain.

"hellooo~? Gue di sini! Kalo ngomong sama gue, liat dong muka gue nya." Rin pun memegang kedua pipi Len dan menghadapkan wajah Len ke depan wajahnya.

"aduh! Apaan sih!" Len kaget spontan memegang kedua tangan Rin.

Mereka pun bertemu pandang dan keheningan pun terjadi.

'aduh.. sial. Kenapa begini jadinya sih.' Pikir Rin.

'ternyata dia itu emang manis. Kalo di lihat dari jarak sedekat ini sih. Rasanya gue pengen c— apa sih!' Len segera membuang jauh-jauh pikiran itu.

'kalo begini. Keliatannya kesannya kita kayak apa aja deh..' pikir Rin yang jantungnya udah mulai deg-deg-an.

'tapi ga ada salahnya kan kalo aku coba? Lagian di sini ga ada siapa-siapa tuh. Hanya tinggal sedikit lagi saja..' pikir Len yang mulai mempunyai niat buruk.

'e-eh? si Len mau ngapain! Kenapa dia maju-maju terus!' pikir Rin yang sudah mulai deg-deg-an karena jarak di antara mereka semakin sedikit.

Tepat saat Len hampir mencium Rin, ada seseorang yang mengetuk pintu dari luar.

Tok tok

"halo? Rin? Len? kalian ada di dalem gaaa?" teriak Rinto dari luar sambil mengetuk-ngetuk pintu nya.

"Rin! Tunggu di situ! Kita akan mengeluarkan mu!" teriak Lui dari luar juga.

"tolongin gueee!" teriak Kaito dari luar yang kesiksa karena dia di peluk Miku terus.

"KAITO-KUNN~"

"obat gue udah ada belom, Rin?" teriak Rinto lagi.

"ah! i-itu.. Rinto, Lui, Kaito-san, dan Miku!" seru Rin yang langsung melepaskan pegangannya dari pipi Len sambil tersenyum penuh semangat.

"ah.. iya.." ucap Len yang terlihat setengah senang dan setengah kecewa.

Rin langsung berlari menuju pintu dan menempelkan sebelah telinganya di pintu sambil mengetuk-ngetuk pintunya.

"Rinto? Lui? Kalian di situ? Tolong aku! aku kekunci disini!" teriak Rin dari dalem.

Sementara di luar, Lui kebingungan karena kunci yang di berikan maid itu sangat banyak.

"YANG MANA NIH KUNCINYAAAA!" Lui kebingungan.

"AAH! COBAIN AJA SATU-SATU! CEPETAAAN! GUE UDAH GA KUAT DI PELUK DIA TERUSS!" Kaito mulai kesal karena dia kena deathhug Miku.

Setelah beberapa kunci, dan kunci yang ke-sekian itu ternyata bisa membuka pintu dapur itu.

Klek

"eh.. b-bisa! BISA! YEEEI!" Lui sangat senang.

"p-pintunya ke buka! Kita bebas!" Rin sangat senang dan langsung membuka pintu itu.

Begitu Rin membuka pintunya, Lui langsung memeluk Rin dengan erat karena sangat senang.

"RIINNN!"

"eh? L-Lui.." Rin agak kaget karena Lui langsung memeluknya.

'um.. si Len kenapa begitu banget ya ekspresinya?' pikir Rinto yang bingung melihat Len.

'geez.. apaan sih gue. Rin kan bukan siapa-siapa gue. Ngapain gue cemburu ngeliat Rin di peluk Lui begitu.' Pikir Len sambil terus melihat Rin yang sedang di peluk Lui.

"LEEENN!" Kaito pun memeluk Len dengan harapan bahwa Miku akan melepaskan pelukkannya dari dirinya.

"e-eh! apaan sih!" Len merasa tidak nyaman karena dia peluk Kaito.

"iya nih! apaan sih ini si Miku." Kaito juga merasa tidak nyaman karena Miku masih saja memeluknya.

Sementara Miku enjoy meluk si Kaito terus. Sampai, terdengar suara tepuk tangan.

Plok plok plok

"wah wah wah.. ada yang abis kekunci ya?" ucap IA yang baru saja datang.

"kekunci? Atau.. emang sengaja di kunci?" Prima pun mulai akan mem-fitnah mereka.

"a-apa maksud lu." Tanya Rin dengan tatapan yang ga enak sama mereka.

"ckckck. Kalian itu udah SMA. Please deh ya. masa gatau sih apa maksud kita?"

"coba ya, kalo satu cewe dan satu cowo ke kunci di suatu ruangan. Apa yang akan terjadi kira-kira? Saat keadaan memungkinkan, apapun bisa saja terjadi kan? Siapa yang tau." Ucap Oliver.

"heh! Maksud lu gue ngelakuin 'itu' sama si Rin? Please deh! Gue bukan cowok kayak gitu ya!" Len mulai kesel.

"ah masa sih. Siapa yang tau? Jangan-jangan emang bener tuh. Kalo Defoko-san tau hal ini, kira-kira bagaimana jadinya ya?" Prima mulai mengancam.

Len kesal dan bersiap memukul Prima, tapi Kaito menahannya.

"ssh! Jangan main pukul-pukul sama cewek, Len." ucap Kaito.

Len hanya mencibir kesal.

"fufufu.. mau main pukul sama cewek ya?" Prima sengaja membuat suasana menjadi semakin panas.

"udah, mending kita aduin aja mereka ke Defoko-san." Ucap IA.

"apa yang mau kalian adukan tentang kita?" tanya Rin dengan nada dinginnya.

"eehellooow~ perlu di jelasin lagi ya emangnya? Kalian ngapain di dalem sono?" sindir Prima.

"udah udah. Kita langsung aja bilang ke Defoko-san."

Saat mereka bertiga baru saja akan pergi, tiba-tiba,

"berhenti!"

Semua orang yang di situ spontan terkejut dengan kehadiran orang ini yang tiba-tiba. Prima, IA, dan Oliver pun menoleh kebelakang untuk melihat siapa yang tadi berbicara.

"Teto dan Meiko.." gumam Oliver dengan kesalnya.

"mau apa kalian? Jadi pahlawan ke-siang-an?" ucap IA.

"sorry, tapi ini udah sore." Jawab Teto.

"kalian ga usah ikut campur urusan kita." Ucap Prima dengan nada dinginnya.

"kita perlu ikut campur karena ini menyangkut soal teman kami." jawab Meiko dengan dinginnya.

Semua berbicara dengan nada dingin, tapi suasana semakin panas. Semua saling melempar glare satu sama lain.

"kita di sini cuma mau ngaduin mereka berdua ke Defoko-san soal perbuatan mereka. Itu aja." Oliver pun angkat bicara.

"kita ga ngapa-ngapain!" Rin mulai kesel.

"maaf, tapi aku percaya sama mereka. Mereka itu ga mungkin ngelakuin hal-hal kayak begitu." Meiko membela mereka.

"aah! Persetan! Pokoknya kita bakal tetep aduin ke Defoko-san!" ucap IA yang sudah mulai terlihat kesal.

"mereka ga ngelakuin apa-apa! Kenapa kalian tetep mau ngaduin mereka ke Defoko-san?" tanya Kaito.

"kalian ini aneh. Emang kalian punya bukti?" tanya Rinto.

"mereka ga punya bukti kan. Mereka itu cuma omdo! Nato tau gak." Miku mulai bicara.

(OMDO = ngOMong DOang, NATO = No Action Talk Only)

"kalian itu kenapa sih nge-fitnah mereka? Mereka ga ada masalah sama kalian kan?" tanya Teto.

"EH! SIAPA YANG NGE-FITNAH YA!" Prima mulai kesel.

"lu ngomong ga usah nyolot dong!" Miku kesel karena Prima membentak Teto.

"LU DIEM! LU GA ADA URUSAN!" IA ngebela Prima.

"ngomong biasa dong! Ga usah pake nyolot bisa ga sih!" Rin kesal karena mereka udah ngebentak temen-temennya.

Prima yang kesal hampir saja menampar Miku tapi Kaito menahan tangan Prima.

"eh!"

'K-Kaito…' Miku terpesona.

'sialan!' pikir Prima sambil melepaskan tangannya dari pegangan Kaito.

"ada apa ini ribut-ribut?"

Spontan semua menoleh ke arah suara.

"Luka-nee.." gumam Lui.

"kebetulan! Luka-senpai! Kami ingin mengadu!" Prima mengangkat tangannya.

"ada apa?" tanya Luka.

"mereka! Mereka melakukan hal yang tidak baik di dapur ini!" Prima menunjuk Rin dan Len.

"um? Apa yang mereka lakukan? Memakan ikan tuna ku?" tanya Luka.

"bukan! Mereka sengaja mengunci pintu ini dan melakukan perbuatan yang tidak baik di dalam sana." Fitnah Prima dengan smirknya pada Rin dan Len.

"BOHONG! Luka-nee, percaya Rin! Rin ga ngelakuin hal itu! Rin juga ga tau kenapa bisa kekunci di dapur itu!" ucap Rin.

"Luka-nee, percaya sama Rin. Mereka itu cuma mau nge-fitnah Rin sama Len aja." Teto pun membongkar rancana IA, Prima, dan Oliver.

"apa?" Luka semakin bingung.

"BOHONG! KITA GA NGE-FITNAH! LAGIAN APA UNTUNGNYA BUAT KITA!" Prima kesal.

"tentu saja un—" Teto yang baru saja mau berbicara, di potong oleh Gakupo.

"Luka!" Gakupo berlari menghampiri Luka.

"ada apa?"

"semua sudah berkumpul. Kamu harus dateng, cepetan! Nanti Defoko marah." Ucap Gakupo sambil mengatur nafasnya.

"oh, baiklah. Kalian juga harus ikut. Ini pengumuman penting. Ayo." Luka yang baru saja mau pergi dihentikan oleh IA.

"jadi, masalah ini bagaimana Luka-nee?" tanya IA.

"masalah? Oh ya. soal masalah itu, aku tak bisa memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah, karena masing-masing dari kalian tak ada yang memiliki bukti kan?" ucap Luka.

Semua terdiam.

"nah, kalau begitu ya sudah. Aku sih, percayanya Rin dan Len itu ga ngelakuin apa-apa disana. Aku udah kenal dia. Sudahlah, ayo semua kita harus cepat pergi ke aula. Nanti Defoko bisa marah." Luka dan Gakupo pun pergi.


Mereka pun sampai di aula,

"semua sudah berkumpul? Baguslah kalau begitu. Sekarang, aku akan menjelaskan bagaimana pelaksanaan penyisihan grup musik yang pertama." Ucap Defoko.

"ah! itu penting! Harus di catat! Harus di catat! Lui catat, Lui! Catat!" paksa Teto yang mulai riweh sendiri.

"ah.. iya iya. kenapa ga kamu yang nulis?"

"aku males hehehe~" Teto cengengesan.

"kalo gitu, Miku aja." Lui menyodorkan buku dan pensil ke Miku.

"he, percuma kalo kamu nyuruh ke Miku. Ujung-ujungnya malah kau yang kena sabet rambutnya." Ucap Rin.

Sementara Lui hanya menghela nafas dan mulai bersiap mencatat dengan berat hati.

"heh, jangan dandan aja lu. Lu yang nyatet sekarang!" paksa Rinto sambil mentodorkan buku dan pensil pada Lenka yang sibuk ngaca.

"hah? Idih~ ga mau! males~ si Rui aja." Lenka kembali sibuk dandan.

"apa? Aku? Aku sibuk makan. Sorry~" Rui kembali memakan cemilannya.

"si Rei aja deh. Ayo Rei, kamu yang nyatet." Rinto menyodorkan buku dan pensil pada Rei.

"aduh, tangan gue keram! Aduh, ga bisa nulis aduh!" Rei berpura-pura agar dia ga nyatet.

'sigh. Sialan. Keram beneran baru tau rasa dah.' Pikir Rinto yang dengan berat hati bersiap mencatat.

"tanganku lagi pegel. Kamu aja yang catet, Iroha." Gumiya memberikan buku dan pensilnya pada Iroha.

"Iroha lagi males nulis. Aoki aja." Iroha mengoper buku dan pensil Gumiya pada Aoki.

"Aoki tulisannya jelek. Si Ryuuto aj— mana si Ryuuto? !" Aoki kaget saat mendapati Ryuuto ga ada di sebelahnya.

Iroha, dan Aoki celongak-celinguk nyari si Ryuuto. Tiba-tiba Gumiya nyeletuk.

"Ryuuto lagi pacaran sama si Yuki, tuuuh~" Gumiya menunjuk ke arah Ryuuto dan Yuki.

"sialan! Iroha, kamu aja yang nulis!" Aoki menyodorkan buku dan pensil Gumiya ke Iroha.

"NONONONONONONONONONO!" Iroha langsung menolaknya. Dan dengan berat hati Aoki bersiap menulis.

"jadi, setelah beberapa pertimbangan dari para juri dan Yamaha. Babak penyisihan grup yang pertama ini akan di langsungkan seperti babak-babak yang sebelumnya. Begitu saja. sekian dan terimakasih." Ucap Defoko.

Sementara semua cengo.

"UAAAPPAAAAA! KITA UDAH BERANTEM-BERANTEM SOAL SIAPA YANG NYATET, E TAUNYA GA ADA YANG PERLU DI CATET!" Lui mengunyah bukunya dengan kesalnya.

"E KAMPREEEEETTT! SIALAAANNNN!" Rinto menginjak-injak bukunya karena kesal.

"KUSSOOOOO! DASAR BAKAAA!" Aoki menggigit-gigit pensil Gumiya.

Sementara Gumiya menatap Aoki seolah berkata, 'aahh! Nooo! i-itu pensil gueee! Inget?'

Setelah pengumuman itu, semua peserta pun bersiap menuju kamarnya masing-masing.


"Mik, buruan! Gue ngantuk nih!" Lenka sedang berdiri menunggu Miku yang mencari-cari bolpoint nya yang hilang.

"bolpen gue ilaaaaang! Itu bolpen mahaaaaal!" rengek Miku sambil terus mencari bolpointnya.

"emang berapa sih harganya?" Lenka kesel.

"dua rebu!"

GUBRAK!

"sigh. Sini Teto bantu cari deh." Teto pun membantu Miku.

Sementara Lenka, Rin, dan Rui hanya diam berdiri ngeliatin Miku dan Teto yang ngerangkak-rangkak nyari bolpen Miku.

"HEY, YOU!" Miku tiba-tiba berdiri sambil menudingkan jarinya pada Rin dengan tatapan seriusnya.

"eh?" Rin kebingungan.

'gue salah apa ya?' Pikir Rin yang udah mulai ketakutan sama Miku.

"YOU JUGA!" Miku menudingkan jarinya pada Rui.

"he?" Rui kebingungan.

'Miku serem..' Rui mulai takut.

Hening~

Hening~

Hening~

"bantuin gue dong~" pinta Miku dengan wajah imutnya.

Dan Miku langsung mendapat doubleattack dari Rin dan Rui karena udah ngebikin mereka berdua ampir mati ketakutan liat mukanya yang tadi nyeremin.

"YOU!" Miku ga kapok, dia sekarang nudingin jarinya ke Lenka dengan wajah seriusnya lagi.

"APA!" bentak Lenka.

"PASTI YOU YANG NYEMBUNYIIN BOLPEN GUE! NGAKU LO!" tuduh Miku, dan langsung mendapat tabokan dari Lenka.

"aduh.. Miku kan bercanda.." ucap Miku sambil mengelus-elus pipinya yang bonyok.

"aku juga tadi bercanda kok mukulnya~" Ucap Rin dengan watadosnya. Dan di balas glare Miku.

'watados sekali kau nak. Bercanda ga mungkin sampe begini.' Pikir Miku.

(WATADOS = WAjah TAnpa DOSa)

"eh? itu kelompok E ya? kenapa masih di luar ya? kok belum ke kamar?" Teto kebingungan.

"kita juga masih di luar." Ucap Lenka.

"mungkin mereka juga nyari bolpennya yang ilang." Ucap Miku dengan tampang polosnya.

"um. Kita ke sana yuk~" Rin pun pergi menghampiri kelompok E.

"aku juga mau~" Teto menyusul.

"E-EH! BOLPEN GUE GIMANAAAA?" tanya Miku.


"hey~" Rin menepuk pundak Yuki yang sedang duduk di balkon.

Yuki tampak terkejut.

"ah.. Rin-neechan.."

"kalian ngapain di sini malem-malem? Bukannya tidur ke kamar." Tanya Teto pada mereka semua.

"Momo takut kalo grup kita ga lolos seleksi nanti." Ucap Momo.

"aku juga. Grup-grup lainnya terlihat hebat." Ucap Haku.

"sejujurnya, kita itu galau." Tambah Neru.

"galau? Gue benci kata-kata itu!" ucap Rui.

"kalau galau jangan risau~" ucap Lenka sambil mengibas rambutnya seperti iklan kartu as.

"siapa juga yang risau." Ucap Rin sambil membentuk muka (-.-)

"emang apa yang bikin kalian ga PD?" tanya Teto.

"kelompok lain terlihat jauh lebih jago dan hebat dari kita." Ucap Momo.

"terlihat? Terlihat? Berarti belum tentu kan? Jangan lihat orang dari luarnya." Ucap Rin.

"masa dari dalem nya?" tanya Rui dengan wajah horor mulai mikir yang engga-engga.

"ga gitu juga." Rin sweatdrop.

"dari hati nya laaaah~" ucap Miku yang baru datang dengan wajah bling-bling nya.

"nah! Itu!" ucap Rin dengan bangganya.

"ada yang liat bolpen ku~?" tanya Miku tiba-tiba. Dan langsung menghancurkan rasa bangga Rin padanya.

"kalian ga boleh ga PD. Kita yakin, kalian bisa! Kalian udah ngalahin banyak kelompok di luar sana, sampe bisa masuk ke sini. Berarti kalian juga hebat." Lenka menyemangati.

"Lenka bijak yaaa~" Rui bangga.

"iya dooong~ AW!" Lenka tiba-tiba teriak karena Miku mencubit pipinya.

"dasar! Itu hidung mu melayang tau!" ucap Miku.

"aku inget satu lagu. Yang ada aw aw nya gitu.. lagu…umm.. apa ya?" Teto mengingat-ingat.

"super gerlis?" tanya Miku.

"super girlies kali." Ucap Rui.

"OH YA! BETUL!"

"Kau teman yang selalu saja sejalan dan~" Teto mulai menyanyikannya.

"aw~ aw~!" Miku melanjutkan.

"Selalu ada bersama~" lanjut Lenka.

"aw~ aw~!" ucap Miku.

"Teman sejati takkan pisah selamanya~" lanjut Rui.

"IH! IYA IYA! AKU INGET LAGUNYA! AYO NYANYI~" teriak Teto histeris.

"Semua takkan bisa menjadi menjadi nyata~" lanjut Rin.

"aw~ aw~ aw~!" teriak Miku sambil menggoyangkan bokongnya ke kiri dan ke kanan.

"Jika kita tak bersama~" lanjut Lenka.

"aw~ aw~ aw~!" lagi-lagi Miku yang teriak.

"Selalu percaya dan yakinkan semuaa~" lanjut Teto.

Yang lain pun ikut terbawa.

"Semua takkan bisa menjadi menjadi nyata~" lanjut Neru.

"aw~ aw~ aw~!" teriak Momo.

"ih! Miku mau yang teriak!" Miku cemberut.

"Jika kita tak bersama~" lanjut Haku.

"aw~ aw~!" teriak Miku dan Momo bersamaan sambil mengadu bokongnya (?)

"Selalu percaya dan yakinkan semuaaaa~" lanjut Teto.

"ikut nyanyi dong!" ajak Rin sambil tersenyum pada Yuki.

"kau menghapuskan setiap luka~ Mengingatku tentang mimpi terpendam~ Agar semua kan menjadi nyata~" Neru, Haku, Momo, dan Yuki melanjutkan nyanyiannya sambil tersenyum menunjuk mereka semua. Seolah Teto, Miku, Rin, Rui, dan Lenka itu penghapus luka mereka. (Eaaa~)

"Satukan hati dan tersenyum~ Yang ada ceria genggam tanganku~ Yakin bisa mengalahkan dunia~" mereka pun bernyanyi bersama.

"Kau teman~" lanjut Rin sambil menunjuk Miku.

"ya!" teriak Miku dengan semangatnya.

"yang selalu saja sejalan dan~" lanjut Rin.

"pastikan!" teriak Momo.

"ih! itu ngomong ke Miku tau!" Miku cemberut lagi.

"selalu ada bersama~" lanjut Lenka.

"aku! kamu!" teriak Miku dan Momo sambil menunjuk satu sama lain.

"Teman sejati takkan pisah selamanya~" lanjut Lenka sambil hendak merangkul Rui.

"Semua takkan bisa menjadi menjadi nyata~" lanjut Rui sambil berjalan menjauh dari Lenka, membuat Lenka yang hendak merangkul Rui jadi terjatuh.

"awaw!" teriak Lenka.

"bagus Lenka!" ucap Miku sambil nyengir dan ngacungin jempolnya ke Lenka.

'bagus, bagus. bagus apanya. jidat lo bagus gue sakit nih.' pikir Lenka.

"Jika kita tak bersama~" lanjut Teto.

"aw~!" teriak Momo.

"Selalu percaya dan yakinkan semua~" semua menyanyikannya.

"kau menghapuskan setiap luka~ Mengingatku tentang mimpi terpendam~ Agar semua kan menjadi nyata~"

"Satukan hati dan tersenyum~ Yang ada ceria genggam tanganku~ Yakin bisa mengalahkan dunia~"

"Mengalahkan dunia~"

"mengalahkah dunia~"

"Hey girl~ kalahkan dunia!" mereka pun selesai bernyanyi sambil mengepalkan tangannya seolah memukul langit.

"kalian benar.. kita juga punya impian. Kita ga boleh nyerah di sini!" ucap Neru yang mulai bersemangat lagi.

"bagus! Itu baru semangat!" Rin nyengir sambil mengepalkan kedua tangannya dengan semangat.

"semangat kan? bagus deh. Ga sia-sia kita nyanyi-nyanyi sambil nari-nari di balkon gini malem-malem." Ucap Teto sambil tersenyum puas.

"okay, kelompok E? siaaaap!" teriak Neru, Haku, Momo, dan Yuki bersamaan dengan penuh semangat.

Sementara semua senang, terbawa suasana, tiba-tiba Miku nyeletuk.

"jadi, bolpen ku?" tanya Miku dengan nada ala iklan mie sedap.

"bodo ah. bolpen lu, derita lu~" Rin menjulurkan lidahnya pada Miku bercanda.

Sementara Miku mencibir.


TBC

Review please? :D