Battle Music!

.

Disclaimer : all characters in this story aren't mine. Vocaloid, © Yamaha and crypton future media inc. ^^ but this story is originaly MINE! Don't you dare to copy this, okay? :) . . . HEY, I'M SERIOUS

.

Warning : OOC(maybe), some typo, bahasa sehari-hari, GJ, ini bakal panjang sepertinya?, dll~

.

A/N : maaf lama update.. :( banyak gangguan ..zz. okelah no BA no COT, langsung saja. sekian deh :)

.

Don't like? Don't read :)

.

Like? Review~ ;D

.

.

Chapter 16

.

.


Luka memandang kelompok Miku, Rin, Lui, dan Teto sebentar dengan tatapan sendu.

Deg

'a-apa maksud tatapan Luka-senpai barusan?' pikir Teto cemas.

"hah.. langsung bacakan saja, Gakupo. tak perlu seperti itu." ucap Luka pada Gakupo.

Gakupo pun menghela nafas dan,

"yang tereleminasi hari ini adalah kelompok.."

Hening~

Hening~

Hening~

Suara Gakupo tiba-tiba menghilang. Dia pun mengetuk-ngetuk mikrofonnya.

Semua yang disitu pun mulai kebingungan.

"mur mur mur.." semua yang disitu mulai bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.

"sigh. Dia mau membuat ku semakin tegang yah?!" omel Miku.

"uugh! Dia mau membuatku ngompol yaaah?" omel Lenka yang udah kebelet itu.

"d-dia kenapa sihh?" gumam Rei.

"si Gakupo kenapa?" Defoko kebingungan.

Gakupo pun berbisik pada Luka.

"psst.. Luka, Mikrofonnya." Bisik Gakupo sambil menunjuk-nunjuk mikrofonnya.

"hah?" Luka kebingungan.

"mikrofonnya!" ulang Gakupo.

"apa? Mikrofon? Kenapa?" tanya Luka.

"MIKROFONNYA MATI!" teriak Gakupo.

GUBRAK!

Semua pun facepalm menanggapi kebodohan ini.

"aaa… mati? Kok bisa?" Sweet Ann cengo.

"urgh. Baka." Luka pun langsung naik ke atas panggung tempat Gakupo berada dan langsung menggantikan Gakupo membacakan hasil penilaian dengan mikrofon yang lain.

"Maaf ada kesalahan. Saya langsung akan membacakan hasil penilaiannya dari yang paling tinggi." Ucap Luka sambil melihat-lihat lagi pada kertas yang dipegangnya itu.

Semua mulai tegang dan berdoa.

"kelompok pertama yang lolos ke tahap selanjutnya dengan perolehan nilai 100 adalah.. selamat kepada kelompok C. SeeU, Ring, Mayu, Zatsune, dan Piko." ucap Luka, dan semua pun langsung bertepuk tangan.

"haaa? Ki-ki-kita lolos? Huwaaaa~" Piko langsung menangis dengan lebaynya.

"hah. Sudah tidak aneh kalau kita lolos. Aku yakin dari awal, kalo kita pasti lolos." Ucap Zatsune dengan sombongnya.

"percaya diri sekali." gumam SeeU.

"yah, daripada lebay kayak dia." Zatsune melirik Piko.

"apaan sih. Picchi ga lebay tau. Ya kan?" Mayu ngebela Piko.

'mudah-mudahan Lui juga lolos!' pikir Ring.

"kelompok berikutnya, perolehan nilai 90. Kelompok B. Miki, IA, Oliver, Prima. selamaaat~" semua pun bertepuk tangan lagi.

"waah~ terimakasih banyak, Kami-sama!" ucap Miki dengan senangnya.

Sementara IA, Oliver, dan Prima hanya saling tersenyum licik.

"yang ke tiga, perolehan nilai 80, kelompok H. Rinto, Lenka, Rei, dan Rui. selamat~" jumlah orang yang bertepuk tangan semakin sedikit karena mulai merasa tegang.

"yosh! Terbukti kelomok kolaborasi BH emang kereeen! Buktinya dua-duanya lolos tuh! Yohooo~" Rei berteriak dengan senangnya.

Lenka pun langsung menjitak Rei.

"aduh! Apaan sih!" Rei ngambek.

"sigh." Rui hanya memutar kedua bola matanya menanggapi sikap Rei yang baka.

"heh. Kita lihat saja, apa kelompok si Rinnot masih bisa lolos?" gumam Rinto.

"kelompok ke empat yang lolos berikutnya dengan nilai 70. Kelompok A, Meiko, Kaito, Len, dan Gumi. Selamat~" kini yang bertepuk tangan cuma para juri saja.

Krik.

"Yeeei~ makasih banget, Tuhaaaan!" ucap Gumi dengan senangnya.

"syukurlah!" Meiko terlihat lega setelah mendengarnya.

"yohooo~" Kaito jingkrak-jingkrak kesenengan.

'hebat, padahal di babak pertama kelompok AG kan dapet nilai terkecil. Untunglah masih bisa lolos. Semoga kelompok G juga..' pikir Len.

"sisa dua kelompok yang belum di bacakan hasilnya. Luka-nee minta, siapapun yang kalah, harus menerima dengan lapang dada. Mengerti?" ucap Luka sambil menatap kelompok G dan D.

"lapang dada? Bisa main sepak bola di dada dong?" gumam Rei.

"ish, dasar lu! Lagi tegang woi!" Rinto menyikut Rei.

Teto dan Miku berpelukkan, Lui berharap bisa pelukkan bareng Rin, Rin cuma diem sambil nundukkin kepala, Gumi galau antara temannya atau pacarnya yang harus pulang, Gumiya cuma diem dan mulai pasrah, Iroha dan Aoki berpelukkan juga, dan Ryuuto nampaknya tak peduli dengan semua ini.

Luka pun menghela nafas dan,

"sebenarnya kedua kelompok ini berbeda tipis sekali nilainya. Yang harus tereleminasi adalah.. kelompok… maaf, kelompok D, perolehan nilai terkecil dengan angka 55."

"YEEY! UYEEE~ UYEEE~ MENANG! YUHUUU~ YUHUUU~" Miku langsung teriak dan nari-nari gaje, tapi segera Teto menghentikkan Miku.

"hmmp-!"

Semua langsung hening. Bingung antara senang dan sedih.

Sampai saat Luka akan turun dari panggung, Gumi berdiri dari tempat duduknya.

"Luka nee! Kalau Gumiya harus pulang sekarang, kalau begitu.. kalau begitu Gumi juga!" teriak Gumi.

Ucapan Gumi barusan membuat semua yang di situ pun terkejut.

"Gumi! Apa-apaan sih kamu! Jangan bercanda begitu!" ucap Meiko.

"Gumi ga bercanda, Meiko! Gumi mau pulang! Gumi mau pulang bareng Gumiya!" tegas Gumi sekali lagi.

"kenapa kau ini? Kau seharusnya bersyukur masih bisa di tempat ini. Kenapa kau ingin pulang denganku?" tanya Gumiya.

"karena.. karena aku dan kamu bukan lagi dua, melainkan satu.. kita satu, Gumiya! Kau susah, aku sedih. Kau senang, aku bahagia. Kau pulang, aku pun akan ikut! Aku akan ikut kau kemana pun! Bahkan bila harus menembus 7 langit dan kematian sekalipun!" ucap Gumi.

Semua yang mendengar itu menangis terharu kecuali Iroha dan Aoki yang memang menangis karena sedih harus pulang.

Gumiya hanya terdiam sambil membelakangi Gumi. Sepertinya tak kuat menatap Gumi yang sedang dramatis itu.

"Oleh karena itu, kepada semua juri, hari ini, Gumi Megpoid, mengundurkan diri!" ucap Gumi dengan pasti.

Semua yang disitu kembali tercengang.

"Gumi.. kau apa-apaan!" gumam Len dengan kesalnya.

"bagaimana ini Defoko-san? Keputusan ada di tanganmu selaku ketua dari penyeleksian ini." Tanya Sweet Ann pada Defoko yang sedari tadi hanya diam dengan wajah datarnya.

Defoko pun berdiri dari tempat duduknya,

"hah.. yah, kalau dia maunya begitu, silahkan saja. Mulai hari ini, Gumi Megpoid resmi di keluarkan dari kelompok A. silahkan untuk segera membereskan barang-barang kalian." Defoko pun langsung berjalan meninggalkan aula dengan semua orang yang masih tercengang di dalamnya.

"sepertinya, Defoko-san marah." Gumam Kiyoteru.

"Yah.. siapa sih yang tidak marah, kalau ada yang menyia-nyiakan kesempatan seperti ini? Hanya dengan alasan gaje begitu?" ucap Sweet Ann.

"ckckck cinta itu emang kekuatan terbesar sepertinya.." gumam Gakupo.

"dan pengaruh buruk di saat tertentu.." tambah Luka.

"kalau begitu, kau pengaruh buruk ku dong, Luka-chan?" tanya Gakupo, sementara Luka cuma ngacangin dia.

.

"AKU TAK MENGERTI APA YANG ADA DI OTAKNYA ITU!" ucap Meiko dengan kesalnya.

"ya sudahlah, toh bertiga juga masih bisa kan?" Kaito berusaha menenangkan Meiko.

"hm.. cinta ya. kalau Rin mau tidak ya melakukan hal yang sama dengan Gumi kalau aku nanti pergi?" gumam Len.

"hah? Rin?" tanya Meiko.

"E-EH! engga! Engga!" elak Len.

'kenapa jadi mikirnya Rin sih! duh, otak gue lagi eror nih!' pikir Len.

"kalau Meiko mau melakukan hal yang sama begitu tidak?" tanya Kaito dengan jahilnya.

"g-ga penting nanya begitu!" jawab Meiko dengan mukanya yang memerah.

"wah ada kembarannya tomat nih~" Kaito mulai jahil.

"Diam!"

"um, bukannya lebih baik kalau kita susul Gumi? Siapa tau dia berubah pikiran?" usul Len.

"uh?"

.

'fufufu~ kupikir setelah Gumi keluar, kelompok A akan gugur. Rupanya tidak..' ucap Prima pada Oliver dan IA melalui telepati.

'sungguh di sayangkan.. hahaa.' Balas IA.

'sudah sudah! Diam! Kepalaku pusing denger ocehan kalian terus!' balas Oliver.

.

"nostalgia ya, Pik?" Ring mulai jahil.

"berisik lah. Sebel gue inget itu!" ucap Piko dengan kesalnya.

.

"Luka-nee! tunggu!"

Luka pun berhenti dan membalikkan tubuhnya kebelakang untuk mengetahui siapa yang barusaja memanggilnya.

"ah, Teto. Ada apa?" tanya Luka.

"apa maksud nee-chan saat sebelum Gakupo-senpai membacakan nilai itu? tatapan itu." tanya Teto.

"tatapan itu.. mm. aku hanya kecewa pada Lui, Rin, dan Miku."

"eh? kenapa?" tanya Teto.

"nilai kalian beda tipis sekali. nilai kalian 60. Hanya menang 5 poin dari kelompok D." ucap Luka dengan sedihnya.

"Eh?" Teto tampak terkejut mendengarnya.

"a-ada apa?" tanya Rin yang baru saja datang dengan Miku dan Lui.

"jujur, Miku, Rin, Lui. Luka-nee agak kecewa sama kalian. Seharusnya kalian bisa lebih baik dari ini kan?" tanya Luka.

Sementara Rin, Miku, dan Lui hanya menundukkan kepalanya.

"nilai kalian cuma beda tipis sama kelompok D. kalian cuma menang 5 poin. Jangan bangga dengan hasil seperti itu!" Luka pun pergi meninggalkan aula.


"Gumi!"

"eh?" Gumi pun menoleh ke arah pintu.

"Kaito, Meiko, Len? ada apa kalian ke sini?" tanya Gumi dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.

Kelihatannya Gumi serius. Dia sedang mengemasi barang-barangnya di kamar.

"G-Gumi, kamu serius akan pergi?" tanya Kaito.

"tentu saja. Mana mungkin Gumi bercanda!" ucap Gumi.

"bukan begitu. Masa' kau mau pergi begitu saja meninggalkan kami? Kita sudah bersusah payah untuk mencapai ini kan? Kita sudah lalui banyak hal bersama!" ucap Meiko.

"maaf, Meiko. Gumi sayang Gumiya. Gumi harus ikut kemanapun Gumiya pergi. tanpa Gumiya.. Gumi merasa seperti butiran debu." Gumi menundukkan kepalanya. Dia mengepalkan tangannya dengan erat. Apa dia menahan emosi? kok masih bisa bercanda pake 'butiran debu'?

"untuk apa Gumi?" tanya Len.

"ini untuk perasaan cinta, Len! apa Len tidak mengerti? Bukannya Len sendiri juga sudah merasakannya?" tanya Gumi.

"merasakan? Apa?" Len bingung.

"cinta. Len suka sama Rin 'kan? Len selalu mengalah akhir-akhir ini pada Rin, sepertinya Len mulai mencintai Rin. Hanya saja Len belum menyadarinya! Mengertilah. Perasaan cinta akan membuat seseorang jadi rela berkorban!" Gumi berusaha menahan air matanya yang sudah di ujung mata itu.

Deg.

'aku.. suka sama Rin? Itu.. ga mungkin.' Pikir Len.

"kurasa Meiko dan Kaito juga akan melakukan hal yang sama denganku kan?" ucap Gumi sambil menutup kopernya yang sudah penuh dengan barang-barangnya itu.

Sementara Meiko dan Kaito terdiam.

"jadi.. kalian tak perlu mencegah ku 'kan?" Gumi pun berjalan keluar kamar membawa kopernya.

.

Sementara itu di kamar nomer 6,

"HUWAAAAA! Kita harus pulang.. hiksss!" Aoki menangis tersedu-sedu sambil memeluk kaki meja.

"menyedihkan.. kita kalah. Hiks.." Iroha juga menangis sambil mengemasi barang-barangnya.

"hey, sudahlah. Tak perlu seperti itu. toh, di tangisi juga tak akan merubah keadaan 'kan?" ucap Gumiya yang sedari tadi menunggu Aoki dan Iroha yang sedang mengemasi barang mereka.

"pokoknya gue ga akan pulang!" Aoki mempererat pelukkannya pada kaki meja itu.

"eeeeh bukannya cepet-cepet malah pelukkan sama kaki meja mulu!" tegur Gumiya.

"birain!" Aoki tetap memeluk kaki meja itu dan menjulurkan lidahnya pada Gumiya.

"Lepas! cepetan beres-beresnya!" Gumiya menarik Aoki.

"TIDAAAAKKK!"

"LEPAAAASSS!"

"TIDAAAAAKKKK!"

"LEPAS GA!"

"NGGGAAA!"

"s-sudahlah, jangan seperti itu.." Iroha berusaha menengahi.

"lagipula sudah tak ada yang menarik lagi di tempat ini." Ucap Ryuuto yang tadi duduk di dekat Gumiya.

"bukannya waktu itu lu janji sama si Yuki buat menangin kontes ini ya?" tanya Gumiya pada Ryuuto.

"uh.. oh iya ya? aku lupa." Ryuuto yang baru teringat janjinya itu langsung menangis juga.

"eh? kok jadi nangis juga sih! Aaah! Pusing gue! Gua ke bawah duluan yah!" Gumiya pun pergi.

Dan tanpa di duga-duga, saat Gumiya keluar, dia pun bertabrakkan dengan Rin yang sedang membawa bedak.

Brak!

Pooof~

"AAAAH? m-maaf Gumiya!" ucap Rin sambil membersihkan muka Gumiya yang kini putih semua mukanya.

"e-eh. udah ga apa-apa."

"M-maaf! Gara-gara Rin, muka Miya jadi putih semua! Maaaaf!" Rin masih terus menepuk-nepuk pipi Gumiya.

"udah Rin. Ga apa-apa." Ucap Gumiya dengan santainya.

"udah Rin. Ntar Len liat gimana loh~ hayo~" Miku mulai jahil.

"e-eh. apaan sih, Mik!" Rin memukul Miku pelan.

"loh? Rin? Ada apa?" tanya Iroha yang sudah keluar kamar.

"ah, Iroha! Ini, punya lu ketingglan. Waktu itu kan Lenka pinjem." Ucap Rin sambil mengembalikkan bedaknya dengan senyum manisnya.

"oh iya.. makasih ya, Rin!" Iroha balas senyum.

Tak lama, Ryuuto pun keluar sambil menyeret Aoki dan beberapa tas koper besar.

Melihat itu, Rin dan Miku mulai sedih.

"kalian harus pulang sekarang ya?" tanya Rin dengan lemasnya.

Mereka pun mengangguk lemas.

Hening~

Hening~

Hening~

Hening~

"HUEEEEEEWW! HUWAAAAAAA~~"

Dan tangisan pun langsung meledak diantara mereka semua, kecuali Gumiya yang langsung menutup telinganya.

"kalian ini bisa tidak sih kalau tidak mendramatisir?" tanya Gumiya.

.

dan di halaman depan karantina Yamaha itu, sudah di sediakan mobil untuk mengantar mereka pulang.

"Gumi.." Rin memegang tangan Gumi.

"Maaf ya, Rin. Gumi harus pergi. Gumi janji, kita akan tetep temenan kok." Gumi tersenyum kepada mereka semua sambil menahan tangis.

"unghh.. Gumi..." Rin langsung memeluk Gumi dan menangis. begitu juga Miku, Lenka, Meiko, Kaito dan Len.

mereka pasti akan merasa sangat kehilangan Gumi sebagai teman sekamar dan sekelompok.

"duh.. ga ada Aoki dan Iroha.. ga rame lagi dong.. biasanya setiap malem kita semua kan kumpul-kumpul bareng." Teto sedih.

"sudahlah. jangan begitu.. masih ada yang lain kan. kalian kan masih bisa ngumpul bareng tanpa kita." Aoki berusaha tersenyum tegar.
sementara Iroha di sebelahnya menangis tersedu-sedu.

"Aoki-chan.. Iroha-nyan.." gumam Miki.

"kok aku ga pernah di ajak ngumpul sama kalian sih?" tanya Rei.

sementara yang di tanya cuma nangis tersedu-sedu melepas kepergian teman-temannya itu.

"hoi?" panggil Rei sekali lagi.

"...hiks.. hiks.."

"oi? Tet?" Rei pun noel-noel pundak Teto.

"BUAT CEWEK DOANG! LU CEWEK?" bentak Teto yang sepertinya sudah kesal karena Rei mengganggu tangis nya itu.

sementara Rei cuma kicep.

"well, mungkin udah waktu nya kita pulang. kami... pamit dulu yah." ucap Gumi yang berusaha tersenyum tegar.

"G-Gumi..." Rin masih memegang sebelah tangan Gumi.

"m-maaf Rin.. Gumi harus pergi. kita akan tetep temenan kok. Gumi janji akan sms Rin setiap hari, telpon Rin seminggu lima kali, mention Rin setiap hari juga. jadi.. jangan... jangan..." Gumi berusaha menahan tangisnya.

"...jangan menangis..." lanjut Gumi dengan air matanya yang kembali turun membasahi pipinya.

"gue engga nih..?" gumam Miku.

Gumiya pun menghapus air mata Gumi.

"ini keputusan mu. jangan kau sesali keputusanmu. ingatlah itu." ucap Gumiya.

"hiks... i-iya.." Gumi pun melepaskan pegangan tangan Rin.

"G-Gumi.."

"sampai nanti..." Gumi pun berjalan menuju mobil dengan berat hati.

"GUMI!" teriak Rin yang sepertinya masih belum bisa merelakan Gumi pergi.

"selamat tinggal... hiks." Gumi pun menangis.

"HUAAAAA AKU GA MAU PULANG! NGGGGAAAAA! HUWAAA!" Aoki menangis sambil memeluk Teto. sementara Teto sepertinya mulai kehabisan oksigen.

"A-Aoki... ayo..." Iroha pun menyeret Aoki, sementara tangan Aoki meninggalkan jejak goresan di aspal. untunglah Teto selamat dari pelukan maut Aoki.

"sayonara..." Gumiya dan Ryuuto pun ikut masuk ke dalam mobil bersama yang lainnya.

"jangan lupakkan kami yaaaah!" teriak Aoki dan Iroha pada mereka semua seiring mobil mereka berjalan menjauh dari mereka hingga akhirnya menghilang dari pandangan.

hening pun melanda mereka semua yang masih berdiri di halaman depan karantina Yamaha. sampai akhirnya Miku menghapus air matanya mengingat janji Rin padanya waktu itu.

"Rin! inget kan!" tanya Miku dengan wajah gembiranya.

"a-apa..?" tanya Rin dengan wajahnya yang masih sedih karena kehilangan sahabatnya.

"itu loh itu~" Miku menyenggol-nyenggol Rin dengan tangannya.

"apa sih!" Rin mulai risih.

"ih jahat! masa' lupa? katanya mau traktir ice cream!" Miku pun menggembungkan pipinya dan melipat kedua tangannya.

"o-oh iya.. Rin ga lupa kok! emangnya pikunan kayak lo."

"HAH? ICE CREAAAAM? MAUUUUU!" teriak Kaito si maniak aisu itu dengan mata bling-blingnya.

"iya~ Rinny hari ini mau traktir Miku ice cream loh~" ucap Miku dengan bangganya.

"MAAAAUUUUUUU!" teriak semua yang ada di situ.

sementara Rin langsung cengo.

'Miku no baka! apa-apaan sih dia! kalo gini 'kan dompet gue dalam bahaya!' pikir Rin.

"eng-engga ah! apaan sih! ga! ga ada! ga ada traktir-traktiran! ga ada!" ucap Rin dengan kesalnya.

"yaaaaahhh~" mereka semuapun kecewa.

"aaah~ Rinny kok gitu sih~ 'kan udah janji sama Miku!" ucap Miku.

"ya sama lu doang. yang laen ngga! apaan sih." Rin pun pergi.

"E-EH? Rin tunggu!" Miku pun pergi menyusul Rin.

hening kembali melanda~

hening~

hening~

"eh, 'kan Rin ga jadi traktir kita ice cream nih, gimana kalo kita minta traktirnya sama pacarnya aja? setuju gak, guys?" teriak Kaito.

"SETUJUUUUU~" teriak semuanya ditambah Len yang juga teriak semangat tapi kemudian Len nyadar sesuatu.

"eh? emang pacarnya Rin siapa?" Len kebingungan.

krik

krik

krik

krik

"ELOOOOO!" teriak semua nya dengan kompaknya.

"A-APAAA? NGGAAAA! NGGA! GUE GAMAU TRAKTIR KALIAN SEMUA! OGAH! kalo jadi pacarnya Rin mau sih.." ucap Len dengan memelankan suaranya di kalimat akhir.

krik

krik

krik

"iiiCIEEEEEEEE~ Len suka sama Rin!" teriak Kaito.

"NGGA!" elak Len.

"BOHONG! pokoknya kalau Len ga traktir kita, kita bilangin loh sama Rin~" ancam Piko.

"a-apa sih kalian.." muka Len pun memerah.

"yaudah ayo traktir! buruan!" Kaito pun menarik Len ke toko ice cream.

"heeee~" Len pun pasrah saja.

.

di toko ice cream~

"makasih ya Rinny~" ucap Miku dengan senangnya sambil duduk di salah satu meja setelah Rin memesankan ice cream untuknya.

"iya iya. lain kali lu jangan teriak-teriak gitu dong kalo ngomongin traktiran. kan repot kalo gue harus traktir mereka semua." ucap Rin dengan kesalnya sambil duduk berhadapan dengan Miku.

"iya iya maaaf~" Miku menggembungkan pipinya.

"hmm." jawab Rin seperlunya.

"oh iya, Miku mau nanya dong. selagi kita cuma berdua nih."

"nanya apaan? kayak orang mau nyatain cinta aja lu bicaranya."

"ngga kok tenang aja. Miku udah move on dari Rin sejak kita lulus SMP kemaren."

"HAAAH? J-JADI LO PERNAH SUKA SAMA GUE? I-ITU GOSIP BENERAN?" teriak Rin histeris.

"iya. memang kenapa? habis Rin jutek-jutek imut sih~" jawab Miku dengan mukanya yang memerah.

"IIIH! JIJIK TAU! LUPAIN AJA!" Rin emang anti banget sama yuri dan sejenisnya.

"iya iya Miku tau.. Miku kan sekarang udah suka sama pangeran Kaito~~" ucap Miku dengan bling-bling di matanya.

"dasar lebay. terus lu lupain Mikuo gitu aja?" tanya Rin.

"yah.. ga gitu juga sih. Miku galau nih."

"ckckck. kau ini. Mikuo kan terakhir ketemu udah nunjukkin tanda-tanda gitu kan?" tanya Rin dengan menggerak-gerakkan kedua jari-jarinya seperti membentuk tanda petik saat mengucapkan 'tanda-'tanda'.

"ya. emang... sampai sekarang juga masih terus sms Miku.." ucap Miku dengan mukanya yang memerah.

"tuh kan. lu harusnya bersyukur dong. lu sama Lenka udah berantem merebutin Mikuo dan akhirnya Mikuo milih lu. lu harusnya seneng perasaan lu kebales. jangan jadi suka sama yang lain dan malah mensia-siakan dia."

"iya sih. tapi Miku ngebet banget sama Kaito? gimana dong? Miku suka dua-duanya."

"dasar serakah. Rin sih dukung aja Miku suka sama siapa juga. tapi masalahnya disini, Kaito udah punya orang lain, dan Mikuo masih menunggu kamu dengan setia loh disana. Rin yakin itu. jangan sia-siakan orang yang menyayangi mu."

"iya.. Miku ngerti."

krik

krik

krik

"ohya, lu mau nanya apa tadi?" tanya Rin.

"ah, iya, itu-"

baru saja Miku mau menanyakan sesuatu pada Rin, tiba-tiba,

"K-KAITO-KUNNNN~" Miku langsung melesat pada Kaito yang sedang sembunyi di belakang Len karena takut pada Miku.

"udah ketahuan eh. ga usah ngumpet lagi, Kai." ucap Len.

"K-Kuso.."

"ckckck.. katanya ngerti, tapi masih aja deketin Kaito." gumam Rin.

"Kaito-kun~ sedang apa disini?" Miku pun memeluk Kaito erat.

"e-etto.. mau beli ice cream.." jawab Kaito.

'Rin mana ya?' pikir Len sambil mencari Rin. 'ah, itu dia.' pikir Len sambil melihat Rin.

pandangan mereka pun bertemu, tapi Rin buru-buru memalingkan wajahnya.

Len pun menghampiri Rin.

"m-mau apa lu?" tanya Rin.

"kamu marah?" Len bertanya balik.

"...menurut lu?"

"...marah ya?"

"..."

"maaf deh.."

"..."

"maaf ya?"

"..."

"maaf?"

"emang kenapa?"

"lu marah gara-gara omongan Gumi yang dikantin kan?"

"ngga. biasa aja sih."

"H-Ha? kok biasa aja? ng-ngga marah? b-bener?" Len kaget dengan jawaban Rin.

"emang Gumi ngomong apa?"

GUBRAKKK!

'duh.. dikirain Rin terima terima aja omongan Gumi itu. ternyata.. dia kaga tau Gumi ngomong apaan. hhh..' pikir Len.

"ng-ngga. Gumi ga ngomong apa-apa kok." jawab Len.

"bohong. emang ngomong apaan si Gumi?" tanya Rin lagi.

"eh? ng-ngga! beneran!"

"jangan bohong! ngomong apaan?"

"Rin kepo deh.."

"emang gue kepo-an! udah, ngomong apaan si Gumi?"

"ya... err.. um..."

'huh. curiga tingkat kelas 2smp.' pikir Rin dengan mengutip kalimat dari sebuah novel terkenal.

"Rinny~ ice creamnya udah dateng belom?" tanya Miku sambil menghampiri mereka berdua.

"kita pergi aja." Rin langsung berdiri dan menarik Miku keluar dari situ.

"E-EHH? ICE CREAMNYA GIMANAAA?" rengek Miku.

sementara Len dan Kaito cuma cengo.

"kenapa tuh?" tanya Kaito.

"...ga tau. udahlah. ga usah di bahas."


meanwhile~ di koridor Karantina Yamaha yang sepi~

"ya ada apa?" ucap Kiyoteru setelah menjawab panggilan di hp nya itu.

"kau belum mengalahkannya 'kan?" ucap Ted dari seberang sana dengan kesalnya.

"m-maaf. aku tak bisa apa-apa pada saat keputusan akhir."

"baka.. pokoknya, aku mau Teto cepat pulang. bagaimana pun caranya. kau mengerti?" Ted pun langsung memutuskan panggilannya.

tut

tut

"dasar kere pulsa. pasti dia buru-buru putusin panggilannya gara-gara takut pulsanya abis. huh." gerutu Kiyoteru.


"hiksu.. hiksu.. hiksu... srooottttt."

"iiih! jijik tau, Teto! kalau nangis ya nangis aja. itu ingus ga usah bersuara!" protes Lenka.

"y-ya.. habisnya.. Teto akan kesepian tanpa Aoki dan Iroha... hiks..." Teto masih menangis sambil memeluk bantal yang kini sudah basah dengan.. err.. ya itu deh.

"Teto jangan nangis. 'kan masih ada Rui-chan dan aku." Miki tersenyum manis pada Teto.

"m-makasih Miki-chan~"

pada saat itu, Rin pun masuk ke kamarnya sambil menarik Miku.

"loh? Miku kenapa?" tanya Rui.

"ice creaaam~ Miku udah ngidam ice cream negi~ hueeeee~" Miku pun pura-pura nangis supaya Rin kasihan padanya dan membelikkannya ice cream.

sementara Rin hanya diam.

"kok gue di kacangin..." gumam Miku.

"lu bakal gue kasih ice cream negi kok. tenang aja. kalo gue udah janji ya janji." ucap Rin.

"kapaaaaan?" tanya Miku dengan senangnya.

"kalau kelompok kita bisa lebih baik lagi hasilnya. atau setidaknya mengalahkan peringkat kelompok A." ucap Rin dengan smirknya.

krik

krik

krik

"hoi hoi hoi~ waro dong~" Rin menggembungkan pipinya dengan sebal.

"hehehe~ iya iya~ semangaaat~" ucap Miku.

"semangaaaat~" lanjut Teto.

"udahlah, urusin dulu tuh ingus. jangan sampe basahin bantalnya... bantalnya siapa ya itu?" Lenka kebingungan.

"itu kan bantal lu?" ucap Miku.

hening

hening

hening

"NOOOOOOOOO! BANTAL GUEEEEE AAAAAAHHHH!" Lenka pun langsung mengejar Teto yang tadi langsung melesat keluar kamar.

sementara Miku, Rin, Rui, dan Miki cuma cengo.

"Rin pasti bakal kangen Gumi..." Rin pun memeluk bantal Gumi.

"udahlah Rin.. lagipula dia sendiri yang memutuskan untuk pergi kan?" ucap Lenka.

"tapi selama ini kita udah temenan baik. curhat-curhatan, tidur sekasur, main bareng, dan lain-lain.." Rin hampir menangis lagi.

sampai akhirnya,

"loh? Ollie-kun?" Miki kebingungan saat Oliver berada di depan pintu kamar nomer2, tempat mereka berada saat ini.

"hai Miki. gue ke sini mau bilang kalo, lu di cariin sama IA dan Prima tuh." ucap Oliver dengan modusnya.

"oh oke. aku pergi dulu ya. cheer up, Rin-chan~" pamit Miki pada mereka semua dan langsung pergi.

Oliver pun berjalan menuju Rin.

"jangan menangis, Rin-chan. kau masih mempunyai banyak teman disini yang selalu mendukungmu." Oliver menghapus air mata Rin dan mencium pipi kanannya.

"eh?" muka Rin mulai memerah.

"haaaa?" semua yang melihat itu cuma kebingungan.

"live must go on!" Oliver pun pergi meninggalkan mereka semua.

"O-Oliver... O-Oliver cium Rinnnn?" Miku kaget.

"biasa aja sih. tapi aneh..." Lenka masih bengong.

sementara Lui yang tidak sengaja melihat itu di luar kamar, hanya bisa mengepalkan tangannya dengan kesalnya.

'kenapa sih. selalu saja ada yang mengganggu.' pikir Lui jealous.

dan di sisi lain, Ring pun melihat Lui yang cemburu itu.

'kenapa sih Lui selalu saja mengamati Rin? pokoknya aku harus memisahkan mereka! akan kubuat kelompok mereka kalah, lalu aku akan mengambil Lui menjadi anggota kelompok ku. dengan begitu mereka akan terpisah. hahahaa.' pikir Ring dengan smirknya.

.

.

TBC

.

.


(a/n: maaf ya minna~ telat update~ telat banget malah.. tapi jangan marah ya.. aku sendiri juga sibuk sama urusan sekolah. dan mungkin aku akan UAS dulu minggu depan, jadi harus fokusin dulu UAS. eaaaaa~ serius dong~. okelah, inget ya, yang gugur di cerita ini bukan berarti kualitasnya lebih jelek atau apa. semua vocaloid itu bagus dan unik kok. okelah jadi bingung mau ngomong apa. review please? thankyou :))