Title : Psychic detective

.

Genre :

Mystery, Horror

.

Main Cast :

Jung Daehyun

Choi Junhong

Xi Luhan

Bang Yongguk

Kris

.

Rating : PG-15

.

Other Cast :

B.A.P and EXO Members

.

.

.

CHAPTER SEBELUMNYA…

Junhong ikut mendongak. "Kau melihat 'sesuatu' hyung?" Tanyanya. Mata sipitnya beralih menatap Daehyun yang tampak sedang fokus melihat keatas gedung. Apa yang sebenarnya mata itu lihat?

"Seseorang gadis berambut panjang" Gumam Daehyun pelan namun masih mampu didengar oleh Junhong.

"Yang kau lihat adalah arwah seorang gadis berumur dua puluh tahun. Dan dia terjun dari apartemen ini karena putus asa"

Daehyun dan Junhong segera menoleh keasal suara dan mereka terkejut saat mendapati ada seseorang yang berdiri tidak jauh dari mereka. "Anda siapa?" Daehyun bertanya dingin.

Pria itu tersenyum dan mengulurkan kartu namanya. "Maaf aku tiba-tiba menegur kalian, Nama ku Kris dan aku bekerja sebagai paranormal"

Daehyun terdiam. Sedangkan Junhong menerima kartu nama itu dan membacanya. "Paranormal Kris?" Tanyanya.

"Ya, itu aku. Kalian pasti menganggapku mencurigakan. Tapi.. Mataku ini bisa 'melihatnya'–" Kris menatap lurus kearah Daehyun. "–Mataku ini bisa melihat arwah mereka yang sudah meninggal"

DEG

Junhong langsung menatap kearah Daehyun yang masih betah berdiam diri. 'Kemampuan yang sama seperti Daehyun hyung?!'

.

~LIGHT AFTER DARK~

.

Kris tersenyum simpul saat tidak mendapatkan balasan dari kedua pemuda di depannya. Matanya beralih menatap ke atas, sedetik kemudian senyuman diwajahnya memudar, digantikan raut wajah penuh penyesalan.

"Terkadang bisa melihat itu kejam..karena kita jadi tahu hal-hal yang sebaiknya tidak kita ketahui" Berhenti sebentar untuk mengambil napas. Kris melirik ke arah sampingnya. "Aku harus segera pergi. Maaf sudah berbicara yang tidak-tidak"

"Tidak apa-apa" Junhong tersenyum kikuk dan balas membungkukkan badannya.

Kris berbalik dan mulai berjalan pelan, namun saat baru beberapa langkah dia menoleh ke belakang. "Aku punya firasat kalau kita akan kembali bertemu suatu saat nanti" setelahnya, dia kembali melihat kedepan. Meninggalkan dua sosok yang masih berdiri terpaku disana.

"Hey Jung.. apa benar yang dia bicarakan tadi?" Junhong menatap Daehyun penasaran.

Daehyun melangkah mendekati apartemen itu dan menyentuh tembok apartemen yang menjulang tinggi. "Memang benar..disini ada arwah seorang gadis yang sudah meninggal" ucapnya lirih. Tangannya yang tidak menyentuh tembok tengah merogoh kantung celananya, mengambil ponselnya dan segera menghubungi seseorang.

"Hey pak tua, bisa kau bantu aku?"

"SIAPA YANG KAU SEBUT PAK TUA?"

Daehyun terkekeh pelan mendengar teriakan disebrang sana. Selalu seperti ini jika dia memanggil Yongguk dengan sebutan pak tua, ck memang kenyataannya seperti itu. Sedangkan Junhong tengah menghela napas, dia sudah tahu pasti siapa yang Daehyun hubungi sekarang.

"Sudahlah. Aku sedang malas melayani mulut besarmu itu hyung"

"KAU!"

"Kau ingat kasus yang kau tawarkan padaku waktu itu? Sekarang aku sedang berada di depan apartemen yang kau ceritakan. Jadi, bisa kau cari tahu di apartemen ini pernah terjadi kasus bunuh diri atau tidak? Jika kau sudah menemukannya tolong beritahu aku"

"SEJAK KAPAN AKU JADI PEMBANTUMU? BERANI SEKALI KAU MENYURUH ORANG YANG LEBIH TUA!"

Daehyun memutar kedua bola matanya kesal. Beruntung tadi dia sudah menjauhkan ponselnya dari telinga, kalau tidak telinganya pasti akan berdengung sakit sekarang. "Kalau kau tidak mau ya sudah. Aku berhenti menangani kasus ini dan anggap kita tidak pernah kenal" Daehyun baru saja akan mengakhiri panggilannya tapi suara disebrang sana membuatnya mengurungkan niat.

"Aiss! Baiklah-baiklah! Aku akan mencarikan informasinya untukmu!"

PIP

Daehyun kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. "Aku akan pulang" Ucapnya dan berjalan meninggalkan Junhong.

Sedangkan Junhong langsung mengekor dibelakang Daehyun dengan bibir yang mengerucut."Kau tidak mengajakku pulang bersama?!"

"Tidak"

Junhong mendengus, memilih untuk tidak melanjutkan perdebatan mereka."Menyebalkan!"

…..

…..

Yongguk membuang puntung rokoknya yang sudah pendek. Dia mengerang sembari melirik ke arah jendela besar di ruangannya. Hujan. Yongguk kembali mengerang untuk yang ke dua kalinya. Dia benci dengan hujan. Sungguh membencinya karena hujan semua pekerjaannya akan menjadi lebih sulit dibanding sebelumnya.

Setelah puas memandangi hujan, pandangan Yongguk beralih pada asistennya yang masih sibuk berkutat dengan pekerjaannya."Hey Himchan. Apa kau sudah menemukan informasinya?"

Himchan mendongak dan mengangguk. "Di sana memang pernah menjadi lokasi bunuh diri seorang gadis bernama Han Minkyung. Dia masih berumur dua puluh tahun. Aku juga mendapat informasi kalau dia menempati apartement itu" Jeda sebentar. Himchan mengklik suatu link yang memuat berita bunuh diri yang terjadi beberapa tahun silam. "Sebelum dia bunuh diri, dia juga menjadi korban pemerkosaan"

Mendengar hal itu Yongguk buru-buru mengarahkan pandangannya pada laptop yang sedang Himchan gunakan. Matanya melebar saat melihat foto gadis yang sedang mereka bicarakan."I-Itu.."

"Kenapa?"Himchan mengerutkan kedua alisnya. "Apa kau mengenalnya?"

mengalihkan tatapannya pada jendela dan dia menggeram marah. "Aku pernah menangani kasus gadis itu dulu. Tapi entah kenapa kasus itu tiba-tiba saja di tutup tanpa keterangan lebih lanjut" Dia menghela napas. "Setelahnya aku di alihkan untuk menangani tugas lain dan sampai saat ini kasus itu tidak pernah di buka lagi"

"Apa pelaku pemerkosaannya belum tertangkap?"

"Belum. Sampai saat ini pihak kepolisian menganggap kasus ini sudah selesai" Yongguk menatap Himchan dengan pandangan sulit di artikan. "Dan alasan dia bunuh diri.. pihak kepolisian hanya menyimpulkan kalau gadis itu terkena serangan jiwa"

"Ba-bagaimana bisa begitu!" Himchan mencengkram kaus yang sedang dia kenakan.

Yongguk terkekeh dan mengambil puntung rokok dari dalam sakunya. "Asal kau tahu Himchan, hukum bisa di kendalikan oleh orang yang mempunyai uang" dan dia menyalakan rokoknya sembari berlalu meninggalkan Himchan yang tampak kesal.

…..

…..

"Luhan hyung harus makan setidaknya untuk satu suapan" Youngjae kembali memelas sembari menyodorkan satu sendok bubur yang baru saja dia buat. Tatapan matanya begitu khawatir saat melihat sepupunya tengah meringkuk di atas tempat tidur. "Hyung–"

"PERGI! Hiks! Kumohon pergi dan jangan ganggu aku.." Luhan menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya. Tubuh itu bergetar saat matanya melihat satu sosok yang mengerikan tengah berdiri di belakang Youngjae. "Pergi hiks pergi"

Youngjae menggigit bibir bawahnya dan meletakkan mangkuk bubur itu di atas meja nakas milik Luhan. "Baiklah aku akan pergi.. tapi hyung harus berjanji akan menghabiskan buburnya saat aku kembali" ucapnya kemudian meninggalkan Luhan sendirian didalam kamarnya.

Bunyi pintu yang tertutup membuat Youngjae kembali menghela napasnya lelah. Lama dia berdiam diri di depan pintu untuk mencari cara agar sepupunya bisa kembali beraktifitas secara normal.

"Luhan hyung…"

…..

…..

Junhong menempelkan sisi kanan wajahnya pada meja. Dia bergumam kecil dan kemudian mengerang kesal. Mata sipitnya memandang lurus ke arah seorang pria yang nampak asik berkutat dengan laptopnya.

Lama dia ada di posisi itu sampai akhirnya dia menegakkan tubuhnya. "Daehyun hyung!"

"Jangan ganggu aku Junhong" Daehyun berkata datar tanpa mengalihkan kedua matanya pada Junhong. jemarinya masih asik menari mengetikkan beberapa kata yang bisa membantunya menemukan sebuah petunjuk.

"Han Minkyung" Junhong kembali bergumam. "Aku sudah mendengar semua penjelasannya dari Yongguk. Ckck aku benar-benar merasa sangat kesal"

Tidak ada balasan dari Daehyun.

"Setelah di perkosa dia melaporkan kasusnya pada polisi. Gadis itu sungguh mempunyai keberanian yang besar, kalau aku pasti akan tutup mulut tanpa mau membongkar semuanya pada publik"

Mendengar kata-kata Junhong membuat Daehyun mendongak. Dia terdiam sebentar sebelum matanya menatap tepat ke dalam mata Junhong. "Kira-kira..apa yang membuatnya bunuh diri Junhong-ah?"

Junhong berfikir sebentar. "Mungkin karena rasa malu yang harus dia tanggung? Kau tahu bukan korban perkosaan selalu mendapat ejekan bukannya empati dari masyarakat" jawabnya. "Tapi hyung..kenapa arwahnya masih gentayangan sampai sekarang?"

Daehyun mematikan laptopnya dan menyenderkan tubuhnya pada sandaran sofa. Dia menatap lurus ke atas seakan tengah berfikir. "Setiap arwah yang gentayangan mempunyai alasannya masing-masing. Salah satunya adalah karena urusan mereka di dunia belum selesai"

"Apa dendam juga termasuk?"

"Hm.."

"Kalau dilihat dari kasusnya.. aku yakin arwah gadis itu gentayangan karena pelaku pemerkosaannya belum tertangkap" Junhong mengajukan pemikirannya. "Hyung.. apa kau bisa berbicara dengan arwah? Bukankah lebih baik kalau kita bertanya langsung siapa pelakunya?"

"Tidak bisa" Daehyun membuka sebuah kotak kecil berisikan air. Jari telunjuk tangannya mengarah pada mata kirinya dan melepas sebuah kontak lens berwarna hitam dari matanya. "Kita harus mempunyai bukti untuk menangkap pelakunya. Dan setelahnya arwah gadis itu pasti akan tenang"

Junhong mengiyakan dalam hati. Matanya menatap lurus pada kedua bola mata Daehyun yang berbeda warna. Sebelah mata itu..

berwarna merah pekat seperti darah..

"Aku pasti akan menemukan pelakunya" Daehyun berkata penuh keyakinan.

…..

…..

"Aku berencana untuk mendatangkan psikiater kenalan ku untuk mengobati Luhan"

Suho menoleh dan tersenyum kecut mendengar penuturan dari seorang pria yang masih setia memasang wajah datarnya. Dia mengangkat bahu, mencoba untuk tidak perduli pada rencana kekasih sahabatnya itu.

"Dia pasti sangat tertekan dan terkena gangguan mental" Sehun kembali panjangnya sibuk menuang bir pada gelas minumannya.

Suho pada akhirnya memutuskan duduk di hadapan Sehun dan menatap pria itu serius. "Kau menganggap kekasihmu sendiri sudah gila?" dia mendelik kesal. "Kalau Youngjae sampai tahu dia pasti akan sangat marah padamu Oh Sehun" ucapnya.

"Aku tidak perduli" Sehun meminum birnya perlahan. "Aku tidak percaya pada yang namanya hantu. Kau kira hal seperti itu ada? Cih. Memuakkan"

"Seandainya hantu itu menampakkan wajahnya di hadapanmu, apa kau masih akan beranggapan bahwa hantu itu tidak ada?" Tanya Suho.

"Tidak ada yang namanya hantu Kim Suho" Sehun berucap geram. "Kau seperti anak kecil saja"

"Ya ya..terserah mu sajalah tuan Oh Sehun. Aku tidak mau ikut campur dengan urusan kau dan Luhan" Suho menatap datar ke arah Sehun. "Aku pergi" Ucapnya sebelum melenggang keluar meninggalkan ruang kerja milik Sehun.

…..

…..

Yongguk mengetuk-ngetuk meja dihadapannya dengan bosan. Sudah hampir 30 menit dia menunggu, namun sosok Jung Daehyun belum juga muncul. Matanya kembali melirik ke arah jam tangan yang dia gunakan. "Hey Kim kau telepon bocah sialan itu untuk segera datang? Apa dia kira aku adalah pria pengangguran yang tidak punya pekerjaan?"

Himchan menoleh dan tersenyum kecil. Tangannya terulur untuk mengelus pundak kokoh milik Yongguk. "Aku baru saja menghubungi Jung Daehyun 5 menit yang lalu. Dia bilang sebentar lagi akan sampai, bersabarlah sedikit Bang Yongguk"

"Aku akan benar-benar menghajar bocah sialan itu kalau dia tidak segera datang"

"Siapa yang kau sebut bocah sialan pak tua?"

"TENTU SAJA KAU!" Yongguk berteriak marah. Jari telunjuknya mengarah pada sosok Jung Daehyun yang berdiri di depan pintu dengan wajah sok tidak bersalahnya. "DARI MANA SAJA KAU JUNG BODOH? KAU TAHU INI SUDAH JAM BERAPA?"

"Jam 5 sore?" Daehyun berkata dengan tenang tanpa ada rasa takut sedikitpun.

"KAU–"

"Sudahlah aku ke sini bukan untuk mendengarkan ocehan mu Yongguk hyung" Daehyun melangkahkan kakinya memasuki ruangan, dia duduk di hadapan Yongguk sembari memasang wajah datarnya. "Berikan aku alamat rumah orang tua korban"

Yongguk menggeram. "Berikan datanya Kim Himchan"

Himchan mengangguk sembari memberikan sebuah dokumen dengan map berwarna merah kepada Daehyun. "Aku menemukan beberapa informasi tentang korban, disana juga tertera alamat rumah orang tuanya"

Daehyun mengambil map berwarna merah itu dan membukanya. "Apa kau sudah tahu siapa pelaku yang memperkosanya dulu?"

Yongguk menggeleng. "Kepolisian menutup rapat akan kasus ini. Aku sudah mencari informasi tapi sepertinya kasus ini benar-benar di sembunyikan"

"Ku rasa kita harus bertanya kepada ketua kepolisian" Himchan memberikan pendapatnya namun Yongguk segera menggeleng tidak menyetujui. "Kenapa? Bukankah akan lebih mudah kalau kita bertanya langsung padanya? Yang aku tahu, beliau lah yang menangani masalah ini dulu"

"Jangan bertindak ceroboh Kim Himchan. Bagaimana pun kasus itu sudah di tutup dan kita tidak punya hak untuk mengungkitnya kembali, kecuali kita mempunyai bukti yang kuat untuk membuktikan siapa dalang di balik semua ini"

"Tapi–"

Daehyun membuka suaranya, berusaha menengahi kedua orang dewasa di hadapannya yang malah berdebat. "Aku akan menyuruh Junhong untuk mendatangi rumah orang tua korban"

Yongguk menatap Daehyun. "Kenapa bukan kau saja?"

"Aku ada urusan lain yang harus ku selesaikan" Daehyun berdiri dari duduknya. Dan bersiap melangkah pergi meninggalkan ruangan.

"Urusan apa? seharusnya kau lebih fokus untuk menuntaskan kasus ini bukannya malah mengurusi urusanmu yang lain Jung Daehyun!" Yongguk berteriak kesal.

"Urusan ku dengan arwah perempuan itu" Daehyun berjalan santai kearah pintu, namun sebelum dia benar-benar keluar Daehyun menoleh ke belakang. "Apa kau mau ikut aku? Siapa tahu hantu perempuan itu mau berkenalan dengan mu pak tua"

Himchan bergidik ngeri dan menatap Yongguk seolah mengatakan 'Tidak' dan 'Jangan ikuti dia'.

Yongguk berdehem."Aku akan mengurusi urusan lain, kau pergilah berurusan dengan hal-hal seperti itu, aku tidak mau ikut campur"

Daehyun menyeringai mendengarnya."Kau takut ya pak tua?"

"Tentu saja tidak!Aku memang ada urusan lain yang lebih penting"

"Yasudah kalau begitu.."Daehyun mengangkat bahunya tidak perduli. Dia menyeringai kecil sebelum melanjutkan kata-katanya. "Hey pak tua, ada hantu kecil yang sedang bergelayut di lehermu"

Himchan melotot dan dia buru-buru menjauhi Yongguk. Sedangkan Yongguk hanya diam tidak bergerak.

Daehyun semakin menyeringai dan dia melenggang pergi dengan tawa yang menggelegar.

"Sialan kau Jung!"

.

.

.

TBC

.

.

.

Awalnya saya berencana untuk tidak meneruskan ff ini karena komik spychic detective nya menghilang entah kemana. Jadi saya kehilangan semangat untuk melanjutkan ff ini.

Tapi semuanya tergantung di vote, ff ini layak lanjut atau tidak?

Kalau yang meminta lanjut 10 orang lebih saya akan melanjutnya.

Akhir kata..

Review Please?