Title : Psychic Detective

.

Genre :

Mystery, Horror

.

Main Cast :

Jung Daehyun

Choi Junhong

Xi Luhan

Bang Yongguk

Kris

.

Rating : PG-15

.

Other Cast :

B.A.P and EXO Members

.

.

.

"Bisa kalian jelaskan dengan detail apa yang sebenarnya terjadi?" Yongguk menyimpan kedua lengannya pada kantung celananya, matanya mengedar, memperhatikan seluruh sudut kamar untuk memastikan tidak ada yang terlewat dari penglihatannya.

Youngjae menelpon nya tadi, dan menyuruhnya untuk segera datang ke apartemen Luhan. Dia bilang Luhan menghilang didalam kamarnya secara tiba-tiba.. bagaimana bisa?

Himchan terdiam pucat, dirinya masih terkejut dengan kejadian yang baru saja terjadi. Akal sehatnya terus saja berteriak jika kasus menghilangnya orang di dalam ruangan tidak mungkin bisa terjadi, tapi kenyataan yang ada dihadapannya membuat dia lagi-lagi harus menelan kenyataan itu bulat-bulat.

"Detektif Yongguk, biar aku yang menjelaskan" Kris yang sedari tadi diam akhirnya berbicara.

"Kau siapa?" Yongguk menatap Kris dengan pandangan dingin miliknya. "Dan dari mana kau tahu namaku?"

"Ah maaf" Kris mengeluarkan kartu nama dari dompetnya dan menyodorkannya kearah Yongguk yang menerimanya malas. "Aku Kris, paranormal yang Luhan panggil untuk mengusir arwah yang selama ini mengganggunya"

Yongguk menatap kartu nama itu lama. Orang ini mencurigakan. Yongguk melirik kearah Kris. "Bisa kau jelaskan kronologi kejadiannya?"

"Aku kemari karena Luhan menganggilku untuk mengusir arwah yang mengganggunya tadi" Kris mendongak, matanya mengedar kesegala ruangan. "Saat dipintu masuk aku bertemu dengan mereka berdua yang juga mendapat telepon dari Luhan, seingatku saat itu pukul 12.30, melalui interphone di pintu aku meminta Luhan untuk melepaskan autolock pintu supaya kami bisa masuk"

"Waktu itu Luhan masih ada didalam kamarnya?" Yongguk bertanya.

"Waktu kami naik elevator Luhan kembali meneleponku dan meminta kami untuk segera datang, sambungan telepon terputus sesaat setelah Luhan berteriak ketakutan" Youngjae menambahkan.

"Ya, aku juga mendengar teriakan itu" Kris memejamkan matanya, dan menghela nafas. "Ketika kami tiba di depan pintu apartemennya, pintu itu terkunci rapat, Himchan-ssi meminjam kunci cadangan dan dengan kunci itu kami masuk kedalam apartemennya. Tapi saat kami masuk kedalam Luhan sudah tidak ada"

Dahi Yongguk merengut. Dia menghilang? Bagaimana bisa?

Youngjae maju selangkah, lengannya terulur untuk memberikan ponsel milik Luhan yang ternodai darah. "Aku menemukan ponselnya tergeletak di lantai"

Yongguk menerimanya. "Bagaimana dengan kunci kamarnya?"

"Kunci itu ada di atas tempat tidur" Youngjae menunjuk tempat tidur Luhan. "Ini kunci tipe bin cylinder, tipe seperti ini sangat sulit unyuk di buat duplikatnya"

"Mungkin dia keluar melalui jendela" Yongguk masih mempertahankan sesuatu yang masuk akal baginya. Tidak ada orang yang bisa menghilang!

"Jendela ini dikunci dari dalam" Kris menyibak gorden yang menutupi Jendela. "Sekarang ini kita berada dilantai 9. Jika dia memang keluar melalui jendela, dia pasti sudah mengalami luka parah atau bisa juga terbunuh"

"Kalau begitu, ada orang yang membawa Luhan pergi saat kalian sedang berada di elevator" Yongguk bersidekap dada. "Bisa saja bukan?"

"Rentang waktu saat telepon Luhan terputus dengan saat kami tiba di depan pintu apartemennya paling lama hanya 30 detik. Waktu 30 detik tidak akan cukup untuk membawa orang yang berontak pergi dari tempat ini dan menghilang tanpa ketahuan oleh kami. Benar?"

Yongguk berdecih. Benar. Waktu 30 detik tidak akan cukup. Dia menatap tajam Kris. "Kau mencurigakan" desisnya.

"Kau mencurigaiku karena apa?"

"Kau berbohong bukan? Kau bukan paranormal?" Tuduh Yongguk.

"Aku paranormal. Tapi caraku untuk berhubungan dengan hal-hal seperti itu bukan seperti paranormal yang menggunakan mantra atau kertas-kertas. Aku.. mempunyai cara tersendiri"

"Kalau begitu cara seperti apa yang kau gunakan?"

"Aku.. bisa melihat arwah" bisik Kris. "Aku berbicara dengan arwah untuk mencari tahu apa yang menyebabkan mereka tertahan di dunia ini, lalu menghilangkan penyebab itu. Pendeknya, aku meyakinkan mereka untuk pergi"

DEG

Yongguk terkejut mendengarnya. Orang ini.. Logikanya barusan... sama persis dengan pemikiran Daehyun..

KLIK

Semuanya terkejut.

"M-Mati listrik?" Himchan mengerjab bingung. Dirinya sedikit merapatkan diri dengan tubuh Yongguk yang tepat berada disampingnya sejak tadi. Tapi saat matanya terpusat pada jendela..

"I-Itu.."

Youngjae memundurkan langkahnya sembari menutup mulutnya yang siap berteriak. Sedangkan Yongguk tampak terkejut dengan apa yang dia lihat.

sosok wanita berambut panjang dengan darah yang merembes dikepalanya tengah melayang dibalik jendela besar apartemen Luhan. "KALIAN.." Suara itu terdengar serak. "MATI SAJA!"

"HUWAAAAA" Teriakan Himchan bersatu dengan teriakan milik Youngjae. Mereka berdua jatuh terduduk karena ketakutan.

KLIK

Lampu kembali menyala, tapi sosok itu menghilang. Yongguk dengan cepat berlari menuju jendela dan membuka jendela yang terkunci itu. "Sial! Kemana dia pergi?!"

"Dia menghilang dan kau tidak bisa menemukannya. Ingat, arwah tidak punya tubuh kasar" Kris berdiri disamping Yongguk.

Yongguk menggeram. Brengsek!

…..

…..

"Hei Kucing jadi-jadian, cepat bangun"

Daehyun bergumam pelan, matanya sedikit terbuka namun detik kemudian tertutup kembali. Oh ayolah, dia masih sangat mengantuk.

"HOII!" Yongguk mulai kehabisan kesabaran, dengan kasar dia menguncang tubuh Daehyun. Tapi tubuh itu tetap tidak merespon, bergerak pun tidak. "Bocah tengik! Cepat bangun"

"Kau berisik pak tua, pergi sana" Daehyun bergumam malas.

Yongguk hampir melempar vas bunga ke arah Daehyun, namun dia urungkan saat dia sadar dirinya masih membutuhkan bocah tengik ini. "Tapi ini mendesak"

Daehyun membuka matanya. "Tidak bisakah kau sehari saja tidak mengusik ku? Hari ku menjadi buruk kalau kau muncul" Dia membalikan badannya memunggungi Yongguk dan kembali menutup matanya. "Kalau ada yang ingin kau beritahukan silahkan bicara, aku akan mendengarkan"

Yongguk menatap punggung Daehyun, dia menghela nafas. Bocah ini, jika dia tahu apa yang terjadi semalam pasti reaksinya akan berbeda. Seperti kucing yang diberi ikan asin, langsung menyambar mangsa yang ada di depannya ckck.

"Aku baru sadar bahwa di dunia ini banyak sekali kejadian aneh ya" Yongguk memulainya.

"kau sedang mengigau tentang apa lagi hyung?" Tanya Daehyun malas.

"Begini.. kemarin malam ada orang yang menghilang dari ruangan tertutup disebuah apartemen. Dan lagi, arwahlah yang dituding telah menghilangkannya"

DEG

Mata itu mendadak terbuka. Daehyun menatap lurus kedepan. Arwah yang menghilangkannya? Daehyun dengan segera bangun dari tidurnya dan duduk menghadap Yongguk.

Yongguk berdecih. Tuh kan, dia seperti kucing yang diberi ikan asin. "Bagaimana pendapatmu tentang kejadian itu?"

Daehyun diam sebentar. "Aku tidak pernah mendengar kejadian seperti itu sebelumnya" ucapnya. "Menurut logikaku, arwah tidak mungkin bisa membuat seseorang menghilang dalam sekejap"

"Tapi bagaimana jika itu benar-benar terjadi?"

"Kemungkinannya hanya 5 persen. Arwah itu kumpulan perasaan seseorang yang tidak punya kekuatan untuk mempengarusi fisik mereka yang hidup. Biarpun begitu, masih ada kemungkinan itu bisa terjadi. Belum ada bukti yang bisa membuktikan arwah bisa melukai seseorang"

"Tapi paranormal itu yang mengatakannya padaku" Yongguk bergumam.

"Maksudmu paranormal Kris?"

"Ya.. Paranormal kris yang –Eh.. BAGAIMANA BISA KAU TAHU NAMA PARANORMAL ITU?" Yongguk berteriak kaget, membuat Daehyun sontak menutup kupingnya.

"Ini masih pagi pak tua! Jangan berisik atau ku tendang kau keluar"

"Kapan kau bertemu dengannya?"

"Beberapa hari yang lalu, saat aku sedang menyelidiki apartemen yang menjadi lokasi butuh diri Han Minkyung"

"Apa menurutmu dia benar-benar bisa melihat arwah?" Yongguk menatap Daehyun dengan serius. "Aku agak mencurigainya"

"Entahlah" Daehyun bangkit berdiri. Berjalan pelan menuju lemari es untuk mengambil minuman dingin. "Aku tidak bisa membuktikannya. Tapi.. perkataannya tentang arwah yang ada di apartemen itu memang benar, aku juga bisa melihatnya"

"Hm.." Yongguk mulai berfikir keras. Bagaimana pun dia belum mempercayai sosok itu sepenuhnya.

"Faktanya, bukan hanya aku yang bisa melihat arwah. Ada banyak orang diluar sana yang juga memiliki kemampuan yang sama" Daehyun meminum minumannya.

Yongguk terdiam. Ya.. memang ada orang lain yang memiliki kemampuan yang sama seperti milik Daehyun.

Laki-laki itu salah satunya..

Ayah dari Jung Daehyun..

…..

…..

"Ada apa dengan wajahmu?"

Junhong mendongak, mendapati Daehyun yang kini berdiri dihadapannya. Dia menggeleng lemas, tidak ada semangat sedikitpun untuk hari ini. "Tidak ada yang salah dengan wajahku, tetap tampan dan mempesona" ucapnya.

Daehyun terkekeh mendengarnya, mendudukan dirinya disamping Junhong yang duduk sendirian di bangku taman seperti anak kucing yang tersesat. "Bukannya sudah ku bilang kalau kau ini tidak tampan tapi manis"

Pipi Junhong mendadak memerah. Astaga.. Daehyun mengatakan hal itu lagi. "B-Berhentilah bi-bicara yang aneh-aneh hyung!" ucap Junhong sembari memukul lengan Daehyun pelan.

"Aku berbicara kenyataan tadi" Ucap Daehyun membela diri. Dia tersenyum kecil saat melihat Junhong yang menunduk dan tidak berniat membalas ucapannya. "Lihat dirimu, kau seperti kucing betina yang sedang dalam masa perkawinan, malu-malu saat digoda kucing jantan"

Junhong melotot mendengarnya, menatap kesal kearah Daehyun. "Aku bukan betina!" ucapnya sebal.

"Oh ya? Kau terlihat seperti betina dimataku" ejek Daehyun.

"KAU!" Junhong mengangkat tangannya, melayangkannya tepat di pucuk kepala Daehyun. "Rasakan itu dasar menyebalkan!"

Daehyun mengaduh, menutupi kepalanya yang menjadi sasaran kekerasan. "Kau betina tapi pukulanmu sakit juga ya"

"APA?!" Tangan Junhong kembali terangkat untuk memukul kepala Daehyun, namun pukulan itu terhenti saat Daehyun menggenggam lengan Junhong erat. "Le-lepas!"

"Tidak akan" Daehyun menyeringai. "Benar-benar lemah"

Junhong menggeram kesal. Pria ini.. tidak bisakah sehari saja bersikap baik padanya? Astaga.. dia bisa darah tinggi kalau terus seperti itu. Melihat Daehyun yang lengah, Junhong segera memanfaatkannya, dengan gerakan kilat dia segera menggigit lengan Daehyun.

"Arghh sakit!" Daehyun melepaskan tangan Junhong, mengelus lengannya yang memerah. "Ini sakit kau tahu!"

Junhong menjulurkan lidahnya. "HA! Rasakan itu. Siapa suruh kau melawan–emph!"

Mata Junhong terbuka lebar. Tubuhnya membeku bahkan nafasnya pun terhenti. Mata tajam itu.. memandang lurus kedalam bola mata miliknya.. Junhong seperti terhipnotis, dan dia hanya pasrah saat bibir tebal itu sedikit melumat bibirnya.

Entah berapa lama dia menahan nafasnya, yang dia ingat, dirinya kini tengah meraup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-parunya yang kosong. Wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus.

"Kau manis"

"H-Hentikan!" Junhong menutup wajahnya. Wajahnya seperti akan meledak saat ini.

Daehyun tersenyum kecil. Dia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana saat ponsel itu bergetar. Dia melihat siapa yang meneleponnya di layar. Yongguk hyung? Untuk apa dia menelepon?

"Halo?"

"Kau dimana sekarang?"

"Di Taman. Ada apa?" Daehyun melirik kearah Junhong yang tengah menatapnya penasaran.

"Malam ini. Bisa kita selidiki apartemen milik Luhan? Aku sudah meminta izin Youngjae-ssi"

"Baiklah. Aku akan kesana sekitar jam 8 malam"

"Baik, aku tunggu"

Sambungan itu terputus. Daehyun kembali memasukan ponselnya kedalam saku.

"Ada apa?" Junhong bertanya takut-takut saat melihat ekspresi Daehyun yang begitu dingin. Perubahan mood yang begitu drastis.

"Ini tentang kasus hilangnya Luhan. Aku akan menyelidikinya nanti malam" Daehyun menghela nafas mengingat cerita yang Yongguk ceritakan padanya. Tentang kronologis hilangnya Luhan.

"D-Dia menghilang?" Junhong menutup mulutnya terkejut. "Bagaimana bisa?"

"Entahlah" Daehyun menatap Junhong. "Kau sendiri. Kenapa duduk ditaman sendirian?"

Wajah Junhong kembali terlihat murung. Dia menunduk, kembali mengingat setiap kata yang begitu menyentuh hatinya. "Semalam aku membaca seluruh buku harian milik Minkyung-ssi" Junhong menggigit bibir bawahnya. "Gadis itu menyimpan luka hati yang besar setelah kejadian itu.."

"Maksudmu?"

Junhong mendongak, menatap kearah Daehyun dengan mata yang berkaca-kaca. "Kekasihnya tidak mempercayai dirinya lagi.. kekasihnya meninggalkannya setelah kejadian itu.." Junhong akhirnya menangis. "Bagaimana bisa kekasihnya malah meninggalkan dia disaat-saat seperti itu? Daehyun hyung, bagaimana bisa? hiks"

"Kekasih?"

Junhong mengangguk.

Kekasih yang menjauh pergi setelah kasus pemerkosaan itu.. Tunggu..

"Hyung?" Junhong menyentuh lengan Daehyun yang mengepal kuat. "Ada apa?"

"Tidak ada.." Daehyun menghela nafas. "Jangan menangis" Ucapnya lembut sembari mengusap air mata Junhong.

Dia menemukannya..

Ya.. Dia menemukannya..

….

….

Youngjae menghela nafas, menatap kearah sebuah cermin yang menampakan wajah lelahnya. "Ya Tuhan.. kapan semuanya berakhir" ucapnya sembari menutup wajahnya.

Kejadian akhir-akhir ini membuat dirinya tertekan. Apalagi kasus hilangnya Luhan yang belum bisa dipecahkan. Kenapa semua ini harus terjadi kepada Luhan? Kepada sepupunya yang baru saja pulang berobat untuk melakukan terapi penyembuhan untuk penyakitnya.

Drrtt.. Drrtt..

Youngjae tersentak kaget saat tiba-tiba ponselnya bergetar, dia menatap layar ponselnya dan merengut. Tidak ada nama pemanggil. "Halo?.."

Tidak ada jawaban. Youngjae mengambil nafas gusar. "H-Halo? Ini sia–"

"MATI!"

"AAAAA" Youngjae melempar ponselnya kelantai kamarnya. Nafasnya memburu. Suara tadi begitu serak, menusuk.. Youngjae meringkuk ketakutan.

"T-Tolong aku.. hiks"

…..

…..

Kai menghela nafas, dia menatap dua pengunjung terakhir yang mendatangi bar miliknya, ini sudah malam tapi dua pemuda itu masih betah duduk di sana sembari mengobrol ringan.

"Maaf, tapi bar akan segera tutup" Ucap Kai malas. Secara tidak langsung mengusir kedua pemuda itu untuk segera pergi dari bar miliknya.

"Sehun-ah, kita harus pulang" Suho berusaha membujuk pria berkepala batu dihadapannya, astaga.. pria ini begitu keras kepala. "Ini sudah malam kau tahu?"

"Aku tahu. Sebentar lagi, aku masih ingin minum hyung" ucapnya acuh, mengabaikan Kai yang tengah memandang tak suka kearahnya.

Suho menghela nafas. "Hentikan! Sudah cukup kau berlarut dalam kesedihan karena Luhan menghilang. Ini tidak akan membantu menemukannya kau tahu?!"

Sehun menggerutu. "Kekasihku menghilang tanpa jejak, dia menghilang dibawa arwah. Bukankah itu konyol?" Sehun menjambak rambutnya gusar.

"A-Arwah?" Kai bergidik ngeri mendengarnya. Arwah? Oh tidak, itu kata yang begitu sensitive untuknya akhir-akhir ini.

"Ya arwah" Sehun mengangguk. "Itu konyol. Tapi benar-benar terjadi"

"Sudahlah Sehun" Suho kembali menyela. Dia akhirnya bangkit untuk menggotong Sehun yang sudah setengah sadar karena mabuk. "Uangnya sudah ku selipkan didalam bon, kami pergi"

Kai mengangguk, menatap kepergian kedua pemuda itu dalam diam. "Mereka membicarakan arwah?" Kai menyentuh tengkuknya yang tiba-tiba terasa dingin. "Astaga itu menyeramkan!" ucapnya sembari bergegas membersihkan bar dan menutupnya.

.

.

.

TBC

Haii saya kembali membawa cerita ini ^^

DaeLo kiss uyeee wkwk gak ada rencana buat masukin adegan romance DaeLo di ff ini, soalnya kan ff ini fokus ke kasus Luhan, tapi entah mengapa saya gregetan pengen masukin moment DaeLo yang manisss huahaha dan jadilah seperti itu wkwk

Ada banyak readers yang masih bingung xD aduh gimana ya.. saya juga bingung ini mau jelasinnya gimana biar kalian gak bingung. Gini aja deh, kalian bisa tanya apa yang kalian bingung di kotak review, next chapter akan saya jawab ya :)

Saya update ff Reincarnation loh ^^ yang belum baca silahkan baca dan review.

Akhir kata..

Review pleaseee?