–DROWNED OUT–


"Kim Mingyu?"

Sosok yang dipanggil Kim Mingyu tersebut kini tengah terbaring tak berdaya tepat diatas tempat tidur raksasa milik kekasihnya, badannya penuh peluh, yeah, dia memang baru saja selesai bertempur, kali ini entah dengan wanita atau pria mana.

Lelaki bernama Mingyu itu masih setengah sadar, ia sadar dimana ia berada saat ini, di kediamannya, tepatnya didalam kamar sang kekasih. Tapi yang tak ia sadari adalah, ia sedang mabuk berat dan lepas kontrol dengan orang-orang diluar sana. Ditambah lagi sekarang, Wonwoo, kekasihnya, tengah memandangnya dengan tatapan datar, seolah muak dan bertanya-tanya, apakah memang seperti ini siklus kehidupan yang lazim terjadi pada seseorang yang menyandang predikat penguasa tersebut.

Perlahan Wonwoo turun dari atas tempat tidurnya, kemudian beranjak ke sisi Mingyu. Dengan sabar ia melepas sepatu dan kaos kaki yang Mingyu kenakan. Setelahnya ia pun melepas jas dan dasi Mingyu, dan tak lupa membersihkan wajah Mingyu dari keringat yang tersisa. Mingyu masih belum terpejam penuh, indera penglihatannya masih bisa menangkap sosok manis Wonwoo dengan jelas. Mingyu tersenyum tipis, senyum yang bahkan tak bisa dilihat siapapun, senyum yang hanya ia rasakan sendiri.

Selalu seperti ini, Wonwoo-nya, kekasihnya, akan selalu melakukan hal yang sama ketika ia pulang dalam keadaan mabuk dan kacau, tak pernah sedikitpun Wonwoo protes atau mengeluh pada Mingyu. Meskipun Mingyu tahu, apa yang ada didalam hati dan pikiran Wonwoo tanpa ia harus mengatakannya secara terang-terangan.

Mata Mingyu perlahan mulai terpejam. Ia mulai tertidur tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Wonwoo, pun dengan Wonwoo yang langsung melemparkan pakaian kotor Mingyu begitu saja ke salah satu sudut ruangan. Ia kemudian beranjak naik keatas tempat tidur, memakaikan selimut pada Mingyu, dan menyusul Mingyu menelusuri alam mimpinya.


–DROWNED OUT–


Wonwoo menggeliat pelan, menyesuaikan penglihatannya yang terusik sinar mentari yang menerobos masuk ke dalam jendela kamarnya pagi ini. Matanya bergerak ke sisi kirinya, mencari sosok Mingyu, namun tak mendapatinya.

"Apakah dia sudah pergi lagi?" batin Wonwoo.

Wonwoo kembali menyamankan dirinya dalam gulungan selimut tebal yang membungkus penuh tubuhnya, rasa malas menghampirinya ketika menyadari jika Mingyu tak ada disampingnya. Maka tidur adalah pilihan terbaik baginya untuk melewati hari ini.

"Hyung, kau sudah bangun?"

Sebuah suara berat menginterupsi niatan Wonwoo untuk kembali terlelap di alam mimpinya, itu dia, Kim Mingyu. Wonwoo sedikit menurunkan selimutnya hingga memperlihatkan sedikit wajahnya, terlihat jelas sosok Mingyu yang baru saja selesai mandi dan masih dalam keadaan topless itu berjalan menghampiri dirinya. Wonwoo tersenyum tipis dibalik selimutnya.

"Kenapa kau tersenyum seperti itu, hyung?"

Sial, batin Wonwoo. Padahal bibirnya sama sekali tak terlihat karena tertutup selimut, tapi masih saja Mingyu tahu kalau dirinya tengah tersenyum, pasalnya, seorang Jeon Wonwoo itu minim ekspresi, bahkan sekeras apapun kau berusaha menjelajah sorot matanya, kau tak akan mendapatkan apapun. Hanya Kim Mingyu yang tau segalanya tentang Jeon Wonwoo, bahkan sampai ke titik terlemahnya sekalipun.

Wonwoo diam, tak menjawab, ia bangkit dan bersandar pada ranjangnya, menatap Mingyu dengan tatapan lembut. Wonwoo menggerakkan tangannya sebagai isyarat agar Mingyu mendekatinya. Mingyu yang masih berusaha mengeringkan rambutnya pun beranjak mendatangi Wonwoo, ia duduk dilantai dan bersandar pada pinggir tempat tidur, dengan kaki Wonwoo disamping kanan dan kirinya, sementara Wonwoo mengambil handuk yang dipegang Mingyu tadi dan mulai mengeringkan rambut kekasihnya.

"Penampilanmu yang seperti ini adalah penampilan yang paling aku suka, Kim."

Mingyu mengangkat alisnya, berusaha memahami arah pembicaraan Wonwoo. "Penampilan yang bagaimana maksudmu?" tanya Mingyu.

"Ketika rambutmu basah, tanpa atasan, dan hanya menggunakan celana jeans hitam panjang."

Entah karena apa, Mingyu tergelak mendengar penuturan Wonwoo, yang mengakibatkan kegiatan Wonwoo untuk mengeringkan rambutnya jadi terhenti. Mingyu berusaha menghentikan tawanya sebelum ia dengan percaya diri mengatakan, "Jeon Wonwoo, aku tidak mengerti, mengapa seseorang yang tergolong irit bicara sepertimu bisa mengucapkan kalimat berbelit-belit seperti itu."

"Berbelit-belit apanya?" balas Wonwoo singkat. Mingyu menyeringai tipis, ia memegang tangan Wonwoo, dan melemparkan handuk yang dipegang Wonwoo ke sembarang tempat. Ia kemudian berbalik menghadap Wonwoo, "Hyung, kau hanya perlu bilang kalau aku terlihat seksi. Kenapa harus berputar-putar seperti itu, hm?" Mingyu menyamakan tinggi badannya dengan Wonwoo seraya berlutut, kedua tangannya ia gunakan untuk memeluk pinggang ramping Wonwoo.

Wonwoo menahan nafasnya, selalu seperti ini, ketika Mingyu berada didekatnya, jantungnya serasa berhenti berdetak. Tapi jangan panggil ia Wonwoo, kalau tidak pintar menyembunyikan raut wajahnya yang sebenarnya. "Aku tidak bilang begitu, Kim." mata sayu Wonwoo beradu pandang dengan mata tajam Mingyu.

Perlahan, tatapan Mingyu melembut, ia tersenyum dan makin mendekatkan wajahnya ke wajah Wonwoo, hanya terpaut jarak beberapa senti saja. "Andaikan ada banyak orang yang berani menatapku seperti kau menatapku, pasti akan sangat menyenangkan." ucap Mingyu pelan. "Tapi nyatanya, hanya kau satu-satunya orang yang mampu melakukan hal tersebut, Hyung." lanjut Mingyu.

Wonwoo juga makin memajukan wajahnya kedepan, sampai ia dapat menghirup aroma mint pada tubuh Mingyu, kemudian berkata pelan, "Itu karena mereka menganggapmu seperti seorang dewa, Kim." Mingyu tertawa pelan mendengarnya.

"Kalau mereka menganggapku seperti itu, lantas apa artinya aku bagimu, Hyung?"

"Kau, bocah idiot, yang selalu membuatku ingin mati– " ucapan Wonwoo terhenti oleh bibir dingin Mingyu yang menyentuh bibirnya. Tangannya bergerak ke leher Wonwoo dan menjambak rambut Wonwoo. Mingyu mencium Wonwoo tanpa menutup matanya, ia malah menatap Wonwoo tajam, dan bibirnya meminta jalan masuk ke dalam bibir Wonwoo lebih dalam lagi. Wonwoo mendorong Mingyu perlahan, ia merasa tak nyaman dengan perlakuan Mingyu, Wonwoo memundurkan kepalanya, namun tangannya ia letakkan melingkar di bahu Mingyu. Wonwoo memandang Mingyu intens, seolah meminta penjelasan, ia tahu, ada yang salah.

"Jangan pernah mengeluarkan kata-kata berbau kematian dari bibirmu, Hyung. Aku sudah katakan itu berulang kali."

Wonwoo diam sejenak, kemudian mengangguk pelan, menyadari kesalahan kecilnya.

"Kaulah yang selalu bermain-main dengan maut, Kim." balas Wonwoo. Ia memainkan rambut Mingyu yang setengah basah. "Setiap nafas yang aku hembuskan, itu hanya untuk mengkhawatirkan dirimu, kau tahu?"

Mingyu bergerak maju, ia memeluk Wonwoo, memeluknya dengan sangat erat. "I know it, babe. I'm sorry." ucap Mingyu pelan, ia mengelus punggung Wonwoo. Mingyu kemudian melepaskan pelukan tersebut, dan mencium kening Wonwoo singkat. "Mandilah, Hyung. Setelah ini kau ikut aku, kita harus menemui seseorang."

Wonwoo mengangguk patuh, ia kemudian berjalan ke arah kamar mandi, meninggalkan Mingyu yang kini duduk sendiri diatas tempat tidur Wonwoo.

Ddrt, ddrt.

Mingyu melirik nakas disampingnya, ada pesan masuk, tapi di ponsel Wonwoo, bukan di ponselnya. Ia lalu mengambil ponsel Wonwoo, memasukkan beberapa digit angka hingga ponsel tersebut akhirnya terbuka. Mingyu itu super protektif, jadi ia akan selalu mengecek semua hal yang berkaitan dengan Wonwoo, jika ada waktu.

Sebuah pesan tertera di layar ponsel tersebut,

'Lusa aku akan datang, aku mendarat di Incheon, aku akan segera menemuimu di kampusmu.'

Mingyu terus menggeser layar ponsel tersebut sampai ia membaca sebuah nama yang tertera sebagai pengirim pesan. Sebuah nama yang membuat Mingyu menguras semua memori dan ingatan dalam otaknya, nama yang ia rasa sering ia dengar, tapi dimana, dan kapan?

Ia terpaku menatap layar ponsel Wonwoo. Memperhatikan nama si pengirim pesan.

Wen Junhui?


–TBC