–DROWNED OUT–
Beijing begitu cerah pagi ini, sinar hangat yang menembus jendela kamar Jun membuat Minghao menggeliat perlahan, terbangun dari tidurnya. Ia mengucek matanya beberapa kali sebelum meneguk air putih yang tersedia di atas nakas.
Minghao berjuang sekuat tenaga mengumpulkan kesadarannya, entah mengapa ia merasakan pagi ini berbeda, jadi mengantuk sepuluh kali lipat dari pagi-pagi yang biasanya. Ia mendudukkan dirinya diatas tempat tidur sebelum sebuah sapaan menyapa pendengarannya.
"Selamat pagi, tuan muda Xu."
Minghao tak menjawab, ia menatap sekilas 3 orang pelayan perempuan yang berdiri berbaris di sudut kamar.
"Apakah Gege sudah pergi?" tanya Minghao. Salah satu pelayan tersebut kemudian menjawab, "Sudah, tuan. Tuan muda Wen berkata bahwa ia akan menghubungi tuan muda Xu ketika ia sampai di tempat."
"Hm, baiklah."
"Apa tuan muda butuh sesuatu?"
Minghao berpikir sejenak, ia merasakan lapar mulai menggerogoti perutnya. Salah sendiri, siapa suruh tidak makan sejak kemarin siang. Ia merajuk pada si tuan muda Wen, lantaran sudah harus ditinggal pergi lagi, padahal baru sehari bertemu.
"Bawakan sarapanku kemari, bawakan yang banyak, bawakan semua makanan terbaik yang ada di kediaman Wen ke kamarku."
Para pelayan tersebut mengangguk siap, perlahan mereka membungkuk dan berjalan mundur, keluar dari kamar Jun.
Begitulah Xu Minghao, sifatnya sangat kekanak-kanakan, gampang merajuk dan suka memerintah siapapun seenak jidat yang tertutup rambut pelanginya. Kalau kau bertanya siapa sebenarnya penguasa kediaman Wen, maka Xu Minghao adalah jawabannya, bahkan Wen Junhui pun akan patuh padanya ketika ia menginjakkan kakinya di kediamannya sendiri.
Minghao tipikal orang yang suka berterus terang, ia tak pernah takut pada apapun, pola pikirnya kadang membuat orang lain akan geleng-geleng kepala dan berpikir bahwa ia sudah gila. Nyatanya ia adalah orang gila kesayangan seorang Wen Junhui.
Tersadar sudah terlalu lama melamun, Minghao pun melanjutkan aktifitasnya, yaitu mandi pagi, masih dengan suasana hati yang kurang baik, merajuk pada kekasihnya.
–DROWNED OUT–
"Tidak baik melamun terus, Wonwoo."
Wonwoo merasakan bahunya ditepuk, ia lantas mendapati Jihoon tengah menggeser bangku disampingnya, duduk sambil meletakkan dua kaleng minuman dingin di atas meja.
Wonwoo tak terlalu menggubris kehadiran Jihoon, ia memilih untuk melanjutkan kegiatannya; membaca novel kesayangannya. Suasana ramai kafetaria kampus perlahan berkurang, mengingat jam makan siang sudah berakhir, dan mahasiswa yang memiliki kelas siang mulai kembali ke area gedung perkuliahan.
"Masih belum datang juga? Apakah Beijing sudah bergeser sampai ke Eropa?"
Kwon Soonyoung datang dengan segala kebisingannya, langsung duduk di atas meja kantin karena terlalu enggan menarik keluar bangku yang tertata rapi di seberang Wonwoo dan Jihoon.
Jihoon mendelik malas, ingin rasanya ia menyumpalkan minuman kaleng ini ke bibir Soonyoung –jika memungkinkan– tapi apa daya, walaupun Jihoon galak, tetap saja ia selalu kalah dan didominasi Soonyoung. Sementara Soonyoung tetap melanjutkan kegiatannya, duduk bersila diatas meja dan memakan keripik kentang yang tinggal setengah. Sesekali ia melempar senyum –tebar pesona– dengan adik tingkat yang melewati mereka.
"Soonyoung, bisakah kau tidak terus-terusan tebar pesona? Aku ingin muntah di bajumu."
Ucapan singkat Wonwoo sukses membuat Jihoon menjentikkan jarinya, setuju dengan ucapan Wonwoo barusan. Jihoon bahkan memandang Soonyoung dengan pandangan setengah muak.
"Hei hei hei, kalian tadi pagi sarapan apa, hah? Mengapa seakan-akan ingin membu– ah!"
Ucapan Soonyoung terhenti dan ia meringis kesakitan ketika Jihoon berdiri dan memukul kepalanya dengan kaleng minuman yang ia pegang. "Diamlah, Kwon. Atau Junhui akan membuat kepalamu terbelah dua."
–DROWNED OUT–
"Jeon, aku sudah di halaman depan kampusmu."
"Benarkah? Tunggulah disana, aku masih ada urusan sebentar, setelahnya aku akan menjemputmu."
"Oke."
Wen Junhui, menjadi pusat perhatian mahasiswa dan mahasiswi Universitas Yonsei dalam waktu singkat. Bagaimana tidak? Pemuda kelahiran China tersebut datang dengan penampilan yang sangat memanjakan mata bagi siapapun yang melihatnya. Tubuh tegapnya dibalut kemeja hitam dengan luaran jaket berwarna putih, dan celana jeans hitam membungkus kaki jenjangnya. Beruntung mata elangnya masih ditutupi sebuah kacamata hitam, jika tidak, entah kegaduhan macam apa yang akan terjadi di halaman parkir Universitas Yonsei.
–DROWNED OUT–
"Kau sudah mendapatkannya?"
"Sudah, tuan muda. Orang yang tuan muda maksud adalah Wen Junhui, ia adalah pemimpin generasi ke 7 grup mafia Big Circle. Salah satu grup mafia terbesar di daratan China, mereka juga tergabung dan menjadi bagian dari kelompok Triad, tuan muda."
"Lalu, apalagi?"
"Wen Junhui seumuran dengan tuan muda Wonwoo, ia menghabiskan masa sekolah menengah tingkat atas di Seoul, satu sekolah dan satu angkatan dengan tuan muda Wonwoo. Ia menjadi pemimpin Big Circle di usia yang relatif muda. Sama seperti tuan muda Kim."
Mingyu menopang dagunya diatas kedua tangannya, sejenak. Tak lama ia pun bangkit dari kursinya dan berjalan kearah jendela, memandang pemandangan sekitar.
"Baiklah paman, kau bisa keluar sekarang."
Orang yang dipanggil paman tersebut membungkuk hormat pada Mingyu, kemudian berjalan mundur keluar ruangan.
Selepasnya, Mingyu bermonolog dengan dirinya sendiri. Dunianya sama sepertiku rupanya–batin Mingyu. Mingyu berusaha mencari jawaban mengapa Junhui bisa sampai menempuh pendidikan di Seoul, dan lagi, Wonwoo mengenalnya.
Mingyu paham benar bahwa apa yang tengah diselidikinya sekarang bisa saja menjadi perkara yang rumit apabila ia tidak menghitung langkah cermat kedepannya. Dunianya –dan dunia Junhui– tidak bisa dihitung dengan asal-asalan. Selalu ada alasan dibalik gerakan atau tindakan, sekecil apapun itu.
Mengabaikan perasaan cemburunya yang timbul sedikit demi sedikit, Mingyu menyadari bahwa Wonwoo sudah terlibat dalam permainan yang dibuat Jun, entah apapun itu. Bahaya seminim apapun bisa saja mengincar Wonwoo. Meskipun Wonwoo menjadi salah satu orang yang paling dekat dengan Mingyu, tapi Mingyu tak pernah membiarkan Wonwoo ikut campur dengan dunianya, sedikitpun.
Karena sedikit saja kau menyentuh lingkaran setan ini, rantainya akan tetap menjeratmu sampai ke neraka.
–DROWNED OUT–
"Kerjakan saja pekerjaan yang aku berikan padamu dan jangan banyak bertanya."
"Ayah, mengapa kita harus berbuat sekeji ini pada Mingyu? Aku bahkan sudah menganggapnya seperti adik kandungku sendiri."
"Kim Jongin, berhentilah menggunakan perasaanmu dan ikuti saja perintahku."
Jong In mengusap wajahnya kasar, menatap muak sang ayah yang kini tengah menyulut sebatang rokok. Ia dan Mingyu adalah saudara sepupu. Mereka begitu dekat layaknya kakak dan adik kandung, berbagi seperti sepasang sahabat karib, sehidup semati.
"Lalu apa yang akan kita lakukan dengan orang yang bernama Wen Junhui ini?"
Kim Sungsoo –ayah Jong In– menghisap rokoknya penuh, menghembuskan asapnya yang mengepul tepat kedepan wajah putranya. Ia tersenyum sinis sebelum menyeringai pelan. Jongin membalasnya dengan decihan pelan, nyaris tak terdengar.
"Kita akan gunakan dia untuk menghancurkan Mingyu." Jong In menautkan kedua alisnya, mencoba memahami lawan bicaranya ditengah emosinya yang tengah memuncak.
"Ayah, tidakkah kau berpikir kalau kita menghancurkan Mingyu sama saja dengan meruntuhkan Geondal? Aku tidak mengerti, mengapa kau begitu membencinya. Dia keponakanmu, anak dari mendiang kakakmu. Bukankah seharusnya kita memperkuat posisinya di Geondal? Dan sekarang kau malah akan mengkhianatinya?"
Jong In mengeluarkan omelan frustasinya, muak dengan kepicikan sang ayah. Sementara sang ayah justru malah mentertawakannya.
"Kau, perasaanmu terlalu lembut, dan si bocah bodoh itu, dia masih terlalu kecil dan polos untuk menjadi pemimpin Geondal. Ini menyedihkan, mengapa Geondal memiliki pewaris yang lemah seperti kalian? Aku tidak mengerti mengapa kakak menyerahkan posisi paling penting pada putra bodohnya itu. Padahal jelas-jelas aku yang adik kandungnya masih hidup. Dia malah mati begitu saja dan menjadikanku budak dari seorang bocah 21 tahun."
Jong In mulai termenung, menghitung langkah yang akan ia tempuh. Tiba-tiba seulas senyuman terukir di bibirnya.
"Baiklah, aku akan berusaha mengikuti keinginan ayah. Tapi sebelumnya, aku ingin mengajukan satu pertanyaan."
Sungsoo tersenyum mendengar jawaban putra semata wayangnya, ia lantas berdiri dari kursinya dan menepuk bahu Jong In. "Tanyakanlah nak, apapun itu."
"Aku mendapat laporan bahwa anggota Geondal membuat masalah dengan Black Circle, membuat kegaduhan dengan membantai habis anggota Black Circle yang sedang beroperasi di daerah mereka. Apakah Mingyu tahu mengenai hal ini?"
Sungsoo tertawa pelan, kemudian menggeleng menanggapi pertanyaan Jong In.
"Lalu siapa yang menurunkan perintah untuk melakukan penyerangan?"
Sungsoo membuang rokoknya ke lantai, menginjaknya sampai rokok tersebut padam. "Aku."
Jong In menahan perubahan raut wajahnya sebisa mungkin. "Wow, kau bermain dengan sangat bagus, aku benar-benar bangga terlahir sebagai putramu."
Jong In berdiri dari kursinya, ia membungkuk singkat menghadap sang ayah.
"Jangan lupakan fakta bahwa keluarga kita sudah dijadikan anjing peliharaan Geondal, dan itu akan terus berlanjut selama bocah laknat bernama Kim Mingyu itu masih hidup."
Jong In menghentikan langkahnya, tangannya terhenti ketika akan menarik knop pintu. "Aku berada di pihak ayah, tenanglah."
Bangga apanya? Aku bahkan mengutuk diriku sendiri saat kau memintaku untuk menyakiti satu-satunya saudara yang ku punya. Aku bersumpah demi mendiang Ibu dan Paman, petir bisa menyambarku kapan saja jika aku mengikuti langkahmu untuk menjadi pengkhianat, Kim Sungsoo.
–TBC–
