–DROWNED OUT–
Wonwoo menyesap coffe lattenya sambil menunggu Jun kembali dari toilet. Jihoon dan Soonyoung sudah pergi duluan setelah mengobrol sebentar dengan Jun, sekarang hanya tersisa Wonwoo dan Jun disini, duduk berhadapan di meja kafetaria.
"Bagaimana Beijing? Kau terlihat kurusan. Apakah pekerjaanmu lancar?"
Jun tersenyum tipis, tangannya mengaduk-aduk kopi hitam didepannya sembarangan, asap masih mengepul dari kopi tersebut.
"Baik, semua baik-baik saja."
"Lalu apa yang membawamu kemari?"
"Hanya ingin liburan, dan mengunjungi kawan-kawan lamaku."
Wonwoo tertawa mendengarnya, ia melihat sosok Jun sudah sedikit berubah, terlihat jadi lebih tegas dan makin tertutup.
"Begitukah? Apakah kau akan lama disini?"
"Mungkin, 3 atau 4 bulan. Ada hal lain yang harus kuurus disini."
Wonwoo mengangguk mendengar ucapan Jun. Bagus–batin Wonwoo, berarti ia bisa mengenalkan Jun pada kekasihnya nanti.
–DROWNED OUT–
Kim Mingyu, berjalan menuruni tangga rumahnya yang megah, melewati beberapa pelayan dan anggotanya yang membungkukkan badan, tunduk padanya. Ia berjalan santai menuju ruang tamu, disana sudah ada tiga orang wanita paruh baya yang tengah menunggu kehadiran Mingyu. Begitu mereka melihat Mingyu mereka langsung berdiri dan membungkuk sopan.
Mingyu yang melihatnya berjalan tergesa dan mencegah mereka, "Tidak, Bibi, jangan lakukan itu." cegah Mingyu yang membuat ketiganya tersenyum hangat dan memandang Mingyu dengan penuh perasaan sayang dan lega. Setelahnya, Mingyu mempersilahkan mereka untuk duduk sampai pelayan menghidangkan minuman untuk mereka.
"Begini maksud kedatangan kami, tuan muda Kim–"
"Mingyu, Bi, cukup panggil namaku."
"Ah maaf, baiklah, Min..gyu. Maksud kedatangan kami kemari adalah ingin memberikan proposal ini kepada Geondal."
Mingyu menerima sebuah proposal dari salah satu wanita tersebut, kemudian membacanya sebentar, membolak-balikkan beberapa halaman didepan sebelum memberikan proposal tersebut ke ajudannya.
"Bi, terima kasih karena sudah repot-repot mampir kemari untuk mengantarkan proposal ini. Mulai tahun depan, orangku yang akan mengambilnya langsung ke panti, sehingga Bibi tidak perlu kerepotan seperti ini."
"Kau sungguh murah hati, mendiang ayahmu juga telah banyak berjasa untuk panti sosial kami."
"Bibi jangan khawatir, kami yang akan mengurus semuanya."
Mingyu tersenyum setelahnya, ketiga wanita tersebut telah berpamitan pergi. Mingyu sudah mengenal mereka sejak ia masih kecil, mereka adalah pengurus panti sosial dimana ayah Mingyu adalah donatur tetap untuk panti tersebut. Mingyu pun mengikuti jejak sang ayah untuk menjadi donatur tetap bagi panti sosial tersebut. Namun jangan salah, uang yang Mingyu berikan pada panti tersebut bukanlah uang dari Geondal, melainkan uang dari bisnis pribadinya, sebuah café yang terletak di salah satu kawasan elit di Gangnam.
Sebenarnya Mingyu adalah pribadi yang ceria, ia cenderung terbuka pada siapapun, orang-orang terdekatnya bisa merasakan rasa nyaman dan santai yang ada pada Mingyu. Hanya saja, posisinya sebagai pemimpin Geondal membuatnya terasa seperti dihalangi sebuah dinding tak kasat mata oleh orang-orang di sekitarnya. Mereka yang ingin mendekat pastilah tahu siapa Mingyu, hingga berpikir lebih dari sekali untuk sekedar berbicara pada pewaris tunggal keluarga Kim tersebut. Dan sejauh ini, hanya Wonwoo dan Jong In yang bisa menembus dinding itu.
Dengan tinggi 186 sentimeter, fisik yang sempurna, kecerdasan, dan segala kekuasaan yang ada ditangannya, Mingyu dengan mudah dapat menarik perhatian siapapun, dan mendapatkan apapun yang ia inginkan. Hanya satu kekurangan Mingyu, usianya yang masih relatif muda sering membuatnya lepas kendali ketika sedang bersenang-senang diluar sana.
Orang-orang begitu memujanya, mereka berkata bahwa para pemimpin Geondal tidak seperti malaikat maut –pemimpin kelompok mafia– pada umumnya. Dibalik dunia gelap mereka, Geondal memiliki sisi kemanusiaan tinggi. Itulah aturan wajib bagi setiap anggota Geondal, rasa kemanusiaan.
Tapi mungkin pengecualian bagi seorang yang serakah, seperti Kim Sungsoo.
Mingyu berjengit ketika ponselnya berdering dan tertera nama Wonwoo disana. Ia tersenyum sekilas dan menggeser layar ponselnya, menjawab si pemanggil.
"Ya sayang?"
"…"
"Hyung?"
"Kau sedang senang, Kim?"
"Apakah aku terdengar sedang senang? Tentu saja senang, kekasihku menelepon."
"Hentikan gombalanmu. Bisakah kau suruh supir untuk menjemputku dikampus?"
"Kau sudah selesai Hyung? Baiklah, aku sendiri yang akan menjemputmu, kau tunggulah disana."
"Kau mau menjemputku? Tidak sibuk?"
"Aku selalu punya waktu untukmu, hyung."
"Ya tuhan, Kim. Baiklah, aku akan menunggumu, sekaligus mengenalkanmu pada seseorang. Hati-hati dijalan."
"Benarkah? Baiklah, aku akan segera datang hyung."
Mingyu segera bangkit dari duduknya dan kemudian berjalan ke halaman depan, baru saja akan membuka pintu mobilnya, Jong In keluar dari dalam mobil yang baru saja diparkirkannya tepat disamping mobil Mingyu.
"Biar kutebak, pasti akan menjemput Wonwoo." seloroh Jong In dengan wajah mengejek. Mingyu menatap wajahnya, terheran. "Darimana kau tahu?"
"Tertulis di jidatmu." jawab Jong In asal, yang kemudian dibalas dengan sebuah tendangan di bokongnya oleh Mingyu. "Aish, bajingan ini." Jong In mengelus bokongnya yang ditendang Mingyu, berjengit menahan sakitnya. "Kau yang bajingan, merusak aset berhargaku."
"Kau bisa asuransikan bokongmu kalau kau mau, hyung."
Jong In tak menanggapi, ia lantas mengibas-ngibaskan tangannya dan beranjak masuk ke dalam rumah, diiringi Mingyu yang langsung melesat ke kampus Wonwoo.
–DROWNED OUT–
"Bukankah akan lebih mudah jika aku yang mengantarmu pulang?"
Wonwoo menutup ponselnya, panggilannya dengan Mingyu baru saja berakhir. Ia baru saja menelepon Mingyu untuk memintanya mengirimkan supir, tapi Mingyu bersikeras ingin menjemputnya sendiri.
"Tidak, asal kau tahu itu justru akan jadi lebih sulit. Kebetulan kekasihku yang akan menjemputku, kau harus berkenalan dengannya, Wen."
Jun hanya menanggapinya dengan mengangkat bahunya. Bicara soal kekasih, ia jadi teringat pada Minghao. Pasalnya, Jun belum menghubungi Minghao sama sekali semenjak ia tiba di Korea, padahal ia berjanji akan memberi kabar ketika ia sudah tiba.
Tak butuh waktu lama, Mingyu mengabari Wonwoo kalau ia sudah berada di depan gerbang kampus Wonwoo. Wonwoo pun mengajak Jun untuk pergi ke depan kampus.
Sesampainya disana, terlihat Mingyu yang bersandar di depan mobilnya, kacamata hitam yang bertengger di wajahnya menambah kadar ketampanannya. Wonwoo tersenyum, menggandeng tangan Jun dan setengah berlari menghampiri Mingyu. Membawa Jun pada Mingyu.
Mingyu memandang Jun dari atas ke bawah, kalau ini sainganku, lumayan juga–batin Mingyu, asal.
Saingan? Dalam hal apa?
"Hei, ayo berkenalan." ucap Wonwoo.
Wonwoo tidak mengetahui perihal Jun memiliki pekerjaan yang sama dengan Mingyu. Wonwoo juga tidak mengetahui bahwa kenyataannya kedua lelaki didepannya ini sudah saling menyelidiki perihal informasi lawan masing-masing. Yang satu atas dasar tidak terima karena daerahnya telah diusik, dan yang satu lagi perihal penasaran tentang orang yang dekat dengan kekasihnya.
Dan mereka yang saling menyelidiki pun tidak tahu menahu bahwa identitas mereka kini sudah diketahui lawan masing-masing, yang ada di benak mereka justru adalah;
'Jadi ini pemimpin Geondal yang benar-benar kurang kerjaan itu, masih bocah.' –Jun.
'Aku semakin yakin kalau Wonwoo benar-benar dalam bahaya.' –Mingyu.
Wonwoo menatap keduanya bergantian, "Hei, sebegitu terpesonanya kalian satu sama lain?"
Keduanya menoleh ke arah Wonwoo bersamaan, Wonwoo yang menyadari situasi aneh ini langsung meraih tangan keduanya, membuat mereka berjabat tangan, mau tidak mau.
"Kim Mingyu. Senang berkenalan denganmu."
"Wen Junhui. Salam kenal."
Singkat, padat, dan jelas. Tanpa basa-basi dan bertele-tele. Aura yang menguar diantara keduanya benar-benar membuat Wonwoo merasa tidak nyaman. Tentu saja, hei, kau berada di tengah-tengah pemimpin mafia kelas kakap, asal kau tahu, Jeon Wonwoo.
Wonwoo beranjak pindah ke sisi Mingyu, kemudian menyenggol lengannya. "Ayo pulang." Mingyu mengangguk dan kemudian langsung berbalik, tanpa berpamitan pada Jun. Wonwoo menggeleng heran melihat tingkah Mingyu.
"Jun, lain kali kita bertemu lagi, aku pergi dulu."
Jun hanya mengangguk, memperhatikan Wonwoo yang berjalan masuk ke dalam mobil Mingyu, mobil tersebut bergerak maju perlahan setelahnya, diiringi seringai tipis dari Jun.
Setelah mobil Mingyu menghilang dari jarak pandangnya, Jun kembali ke kafetaria dimana ia bertemu dengan Wonwoo tadi. Ia menghampiri meja tempat mereka mengobrol, dan mengambil jaket hitam yang tersampir di salah satu kursi tersebut, kursi milik Wonwoo, dan itu jaket milik Wonwoo yang tertinggal. Jun membawa jaket itu bersamanya, tanpa berniat untuk mengembalikannya pada sang pemilik.
Wonwoo tidak sengaja meninggalkan jaket tersebut, dan Jun sengaja tidak memberitahu Wonwoo bahwa jaketnya tertinggal.
Jun berjalan meninggalkan tempat tersebut, namun belum sampai ke halaman depan kampus seseorang menghentikan langkahnya.
"Selamat sore, tuan muda Wen."
Jun menoleh, ia melepas kacamata hitamnya, dan memperhatikan seseorang yang menyapanya tersebut dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ia merasa tak mengenal orang tersebut, lalu mengapa orang tersebut bisa mengenalnya? Pasti bukan orang sembarangan–batin Jun.
"Aku tahu kau bertanya-tanya tentang diriku. Tapi langsung saja, aku punya beberapa hal yang pasti membuatmu tertarik. Ikutlah denganku sebentar, kalau kau tidak keberatan."
Jun menaikkan sebelah alisnya, dugaannya benar, lelaki tua di hadapannya ini bukanlah orang sembarangan. "Aku tidak punya banyak waktu, sampaikan dengan jelas." sahut Jun pendek.
Lelaki tua itu terkekeh pelan mendengar sahutan Jun, ia kemudian berjalan ke arah lapangan basket yang tak jauh dari kafetaria, diikuti oleh Jun yang waspada mengawasi gerak-geriknya.
"Ternyata benar, pemimpin generasi ke-7 Black Circle adalah orang yang tidak suka bertele-tele. Berbeda dengan pemimpin Geondal yang masih ingusan dan masih suka bermain-main."
"Kau anggota Geondal? Pesuruh Kim Mingyu?" Jun menebak tanpa basa-basi.
"Aku memang anggota Geondal, tapi aku berdiri di barisan yang berbeda dengan bocah itu."
"Katakanlah apa yang ingin kau katakan."
Kim Sungsoo menyulut rokoknya, kemudian menghisapnya kuat, "Orang yang telah membunuh orang-orangmu adalah Kim Mingyu."
Rahang Jun mengeras, ia terlihat menahan emosinya. "Aku tidak pernah tertarik dengan hal-hal yang terjadi diluar daerah kekuasaanku. Lalu apa yang membuat Geondal merusak pekerjaan orang lain?"
"Geondal tengah dipimpin seorang bocah ingusan saat ini. Dan itu membuat kami jadi lemah, itu semua karena Kim Mingyu. Kau sudah melihatnya sendiri, ia bahkan tak berpikir dua kali untuk merepotkan diri sendiri demi sebuah kata bodoh bernama cinta."
Jun tenggelam dalam pikirannya, mengukur kadar kelicikan lelaki tua dihadapannya. Jun berusaha memahami apa yang Sungsoo sampaikan padanya. "Kalau kau punya penawaran bagus, aku akan mempertimbangkan untuk mengamankanmu. Tapi kalau kau datang kemari untuk membuang-buang waktuku, kau juga akan jadi mayat sama seperti Geondal yang lain."
"Jangan terburu-buru. Aku memang menentang Kim Mingyu, tapi aku kemari bukan untuk meletakkan Geondal begitu saja dibawah kakimu." jawab Sungsoo sembari menghisap rokok miliknya. "Apa yang menimpa anak buahmu tempo hari, semua adalah ulah Kim Mingyu. Kalau kau ingin balas dendam, aku akan menyiapkan jalan untuk itu." sambungnya.
"Kau akan menjadikanku pijakan untuk merebut posisi Kim Mingyu? Tua bangka, ku harap kau ingat dengan siapa kau berbicara sekarang."
"Ini penawaran langka. Kita bisa bekerja sama, jika kau setuju, aku akan memberikan salah satu kartu emas milik Geondal. Dan posisimu akan mengakar bahkan sampai di negeriku."
Jun terlihat mempertimbangkan tawaran Sungsoo. Jun bukanlah tipikal orang gegabah, ia amat teliti dan penuh perhitungan. Setiap langkah yang dipilihnya pasti telah melalui pemikiran yang amat matang.
Menuju Geondal, Jun punya dua pintu, pertama Wonwoo, dan yang kedua adalah Sungsoo. Wonwoo adalah pintu utama dimana ia sudah pasti akan langsung berhadapan langsung dengan Mingyu sendiri. Sementara jalan tikus yang ditawarkan Sungsoo juga bukan pilihan yang buruk, menurutnya.
"Aku terima, dengan syarat, aku yang mengatur permainan ini seutuhnya. Dan kau cukup sediakan jalan untukku. Tidak ada penawaran lain." Jun menjawab penuh ketegasan yang langsung disambut senyuman khas milik Sungsoo. Sungsoo lalu mendekat ke arah Jun dan mengulurkan tangannya, hendak berjabat tangan, yang kemudian disambut oleh Jun.
"Kau bebas mengatur segalanya, kau dengan rencanamu, aku dengan rencanaku. Tujuan kita sama, melenyapkan Kim Mingyu."
Jun mengangguk singkat, ia memakai kacamatanya kembali, kemudian berjalan meninggalkan Sungsoo yang tengah menginjak puntung rokoknya.
–DROWNED OUT–
"Gege!"
"Hao, sedang dimana?"
"Aku sedang di kamarmu. Kenapa baru menelepon? Aku menunggumu 'tau. Dan aku masih marah padamu, tampan sialan."
"Tetaplah di rumah, dan jangan kemana-mana sampai aku kembali."
"Memangnya kapan kau akan kembali? Besok? Lusa? Atau minggu depan? Jangan lupa belikan aku –"
"Xu Minghao, dengarkan aku."
"Ya.. maaf Ge. Ada yang penting?"
"Aku akan menetap disini dalam jangka waktu yang lama, sampai urusanku selesai."
–TBC–
Cuap-cuap sedikit;
Terima kasih banyak untuk kawan-kawan yang sudah review, kasih kritik, dan kasih saran, makasih juga buat yang udah mampir tapi ngak review, review dong, ayolah, biar aku semangat nih ehe ehe ehe. Maaf blm bisa balas reviewnya satu satu ya, lagi stress dijepit tugas nih ugh : mohon maaf kalau ceritanya agak susah dimengerti, ada typo, tak menarik, dan segala macam kekurangan lainnya, ini pertama kalinya aku bikin ff, jadi masih butuh bimbingan banyak banget dari kalian semua,
Semoga kalian semua sehat dan semangat selalu ya, salam sayang, Acchan.
