Title : Say You Love Me
Author : Sherry Kim
Cast : Jung Yunho
Kim Jaejoong
Other
Genre : Romance, Drama, Family, Sad, HQ, etc...
Rate : M
WARNING
Yaoi. Tidak suka jangan baca.
Alur tidak jelas typo bertebaran.
.. * ..
Yjskpresent.
.
.
Jaejoong mengatakan pada diri sendiri bahwa ia harus tetap tegar, tidak boleh takut. Atau kau akan di tindas jika menunjukan ketakutanmu pada pria itu.
Tetapi pada akhirnya ia ketakutan sampai tubuhnya gemetar tak karuan ketika pria yang jauh lebih tinggi dan besar itu melontarkan sumpah serapah saat menemukn penghuni lain tanah miliknya. Bagaimanapun juga Jung Yunho berhak mengusirnya dari tanah lelaki itu kapan saja pria itu menghendaki. Dan ke mana ia harus pergi setelahnya, tanpa uang dan tujuan?
Hal yang sudah terbiasa ia alami selama tahun tahun setelah kehilangan ibu dan saudaranya. Di usir dari satu tempat ke tempat lain karena tidak ada satupun orang yang bersedia memperkejakannya bahkan pelayan sekalipun. Siapa yang bersedia menampung anak haram seperti Jaejoong
Jaejoong menutup mata, mencoba menelan gumpalan sesak di tengorokan mengingat hinaan dan cacian semua orang yang pernah ia temui di tanah kelahirannya. Ia tidak tahu siapa ayah kandungnya, yang ia tahu ia ibunya sangat mencintai pria itu sampai rela membesarkan kedua putranya seorang diri tanpa berniat menikah. Sampai laki laki penyebab ibunya datang bersama kesialan yang di bawanya.
Diam Jaejoong memperhatikan sosok pewaris tunggal keluarga Jung, lelaki itu begitu besar tinggi dan memenuhi ruangan saat ia kembali dari hutan. Pulang dari kegiaatannya setiap hari untuk mencari obat obatan untuk ia jual dan memenuhi kebutuhannya sendiri. Memang tidak seberapa tapi setidaknya ia tidak akan kelaparan jika tidak menemukan sesuatu yang dapat ia makan dari hutan.
Sekuat tenaga Jaejoong menahan diri untuk tidak lari karena tubuhnya gemetar saat Yoochun mulai menceritakan tentang dirinya kepada pemilik tanah ini.
Mata setajam hesan liar pria
itu mengamatinya dengan ketajaman panah yang menembus sampai ke jantung Jaejoong. Debaran di dadanya mulai menggila. Bagaimana Tuhan menciptakan lelaki itu begitu sempurna dengan ketampanan yang tidak perlu di pertanyakan dan lihatlah dirinya. Begitu kurus, kecil dengan pakaian kumuh yang bahkan tidak pantas untuk di nadika pelayan pria itu.
Memikirkan tentang apa yang sudah Yoochun katakan tentang majikannya yang baik, entah mengapa perasaan Jaejoong mulai menghangat.
Setidaknya majikan Yoochun tidak sejahat tuan tanah di mana tempat ia dan ibunya tinggal dulu. Dan jika ia beruntung, pria itu memperbolehkan dirinya untuk tetap tinggal di sini asal ia tidak menggangu.
"Dia yatim piatu, dan tidak memiliki tempat tinggal maupun keluarga."
Buru buru Jaejoong mencengkeram lengan Yoochun, ia tidak ingin Yoochun di pecat hanya karena membela dirinya yang bukan siapa siapa. Ia merasakan tepukan tangan ringan Yoochun di lenganya. "Tenang Jae," bahkan, disaat seperti ini pun Yoochun masih menenangkan dirinya.
"Dulu Jaejoong tinggal di tanah Mr. Choi Siwon bersama ibu dan saudaranya saat beliau masih hidup. Tapi sejak Tuan muda Seung Hyun mewarisi kekayaan, Jaejoong di usir dari tanah beliau. Saat itu saya tidak tega melihat Jaejoong yang masih berusia lima belas tahun pergi tanpa tujuan tidak memiliki apapun atau kerabat yang di tuju."
"Jadi kau membawanya ke tanahku?" Yunho menyahut. Kata itu di ucapkan dengan tegas namun tidak mengandung dendam yang entah mengapa menumbuhkan harapan untuk mereka berdua.
"Berapa lama kau tinggal di sini? Dan di mana ibu dan saudaramu?" kata itu di lontarkan untuk Jaejoong.
"Lima tahun." Yoochun lah yang menjawab. "Ibu serta saudara kembarnya sudah meninggal."
Musang Yunho menatap Jaejoong lekat lekat. "Kembar?" Yunho membayangkan seseorang lain yang mirip dengan pemuda itu. "Lima tahun?"
"Sejak hari di mana Mr. Choi senior meninggal." imbuh Yoochun, menjawab pertanyaan tak terlontarkan majikannya.
"Berapa umurmu sekarang Jaejoong?"
"Dua puluh tahun, Tuan muda."
Yunho menyesal telah bertanya "Ya Tuhan. Tidak bisa bicara, sebantang kara, di usir dari rumahnya sendiri dan apalagi kemalangan yang menimpanya?"
Di luar petir menyambar dwngan suara gemuruh keras memekakan telinha, suara gemuruh langit seakan menegur Yunho bahwa ia sudah berkata kasar dan cukup keras. "Aku minta maaf." Ia kembali duduk di kursi reot itu.
Yoochun merasakan tubuh Jaejoong bergetar di punggungnya, meskipun tidak sehebat tadi. "Tidak apa apa, Tuan muda tidak akan mengusirmu dari sini, rumah ini akan selalu menjadi rumahmu. Aku akan membayar tanah ini jika perlu."
"Ini bukanlah rumah, ini adalah runtuhan bangunan yang tidak lebih dari tumpukan batu. "Yunho membentak. "Kau akan tinggal di rumahku. Yoochun carikan pakaian dan tempat untuk dia istirahat sampai aku menemukan pekerjaan apa yang cocok untuknya besok."
Pelayan pribadinya itu mengerjapkan kedua mata tak percaya. Keduanya saling menatap satu sama lain. "Maksud Anda, Tuan muda?"
Menghela napas lelah, dengan nada yang lebih rendah Yunho berkata. "Kau mendengar apa yang aku katakan tadi dengan baik Yoochun," ada jeda. "Apa kau lebih suka membiarkan Jaejoong tinggal di sini?"
"Tidak! Tentu saja tidak! Hanya saja... Anda... sungguh baik." Dalam gelapnya ruangan, Yunho melihat mata sekertari pribadinya itu berkaca kaca. "Terima kasih Tuan muda, saya rela menyisihkan gaji saya untuk... "
"Carikan pekerjaan di kastil untuknya, pelayan atau apapun itu terserah padamu. Jika tidak ada tempat yang cocok atau Jaejoong tidak bisa bekerja, aku akan mencari jalan lain agar dia berguna dan tidak kembali lagi ketempat ini. Hodup sebatang kara di hutan." Perintah Yunho tak terelakan.
Sialan. Bagaimana mungkin mendiang ayahnya membiarkan seseorang kelaparan dan tinggal sebatang kara di tanahnya yang subur. Tanpa listrik dan penghangat ruangan di musim dingin juga tanpa makanan yang layak.
"Kemasi barang barangmu Jae, kau akan tinggal bersama kami." Jaejoong tetap diam, pemuda itu masih bersembunyi di belakang punggung Yoochun ketakutan.
Dengan nada lebih rendah Yoochun menambahkan. "Kau tidak ingin membuat Tuan muda marah bukan? Kalau tidak tunuruti keinginannya, kalau tidak beliau akan mengusirmu."
Pemuda itu menggeleng cepat. Dengan gerakan gesit ia berlari kearah ranjang, di mana terdapat kotak untuk menyimpan barang barang berharga miliknya. Ia berhenti untuk menatap tuan tanah yang baik hati itu dan membungkuk dengan rasa terima kasih yang sangat besar.
Hanya ada beberapa lembar pakaian kumal yang ia milikki. Jaejoong mengeluarkan satu satunya kenangan dari ibunya, sebuah cincin indah dan menyimpanya di antara pakaian pakaiannya yang lain.
"Tinggalkan pakaianmu, dan mintalah beberapa pakaian kepada pelayan muda kita Yoochun. Pakaian itu tidak layak untuk dia kenakan."
Dengan suara bernada bahagia, sekertaris pribadinya menjawab dengan antusias yang berlebihan. "Baik Tuan muda, akan saya laksanakan."
.
。。* 。。
.
Bibi Yuri duduk di sofa besar ruang duduk menikmati secangkir teh dan biskuit saat Yunho memasuki ruang baca. "Senang melihat kau baik-baik saja." sapa Yuri saat melihat keponakannya berjalan menghampirinya.
"Aku juga bibi, baru sebulan tidak melihatmu kau sudah menghawatirkanku seakan aku menghilang, aku hanya berkeliling perkebunan dan tepi hutan untuk melihat apakah ada yang memerlukan perbaikan."
"Dan kau menemukanya?"
"Di beberapa tempat, seperti yang di katakan mandor kita sebelumnya," Yunho mencium pipi Bibi Yuri sebelum duduk di sofa seberang meja. "Apa yang membawa bibi datang ke kastil ini?" Setahu Yunho, bibinya tidak menyukai kastil tua ini.
"Memastikan bahwa kau baik-baik saja tanpa bantuanku."
Senyum hangat Yunho menyakinkan bibi Yuri. Bibi yang telah ia anggap sebagai ibu kandungnya sendiri, ketika ibu kandungnya tidak menginginkan dirinya. "Aku baik-baik saja seperti yang bibi lihat, aku senang jika bibi mau tinggal beberapa waktu di sini."
"Aku akan menolak jika kau tidak sendirian di rumah tua ini, putraku yang malang." Bibinya selalu saja masih menganggapnya anak kecil.
Kwon Yuri adalah adik dari pihak sang ibu, Kwon Yoona. Yuri menikah dan tidak memiliki anak, suaminya meninggal beberapa tahun lalu karena penyakit. "Aku akan lebih senang jika bibi menetap di sini." Meninggalkan rumah pria yang di cintai wanita itu? Sepertinya itu tidak mungkin.
"Tidak. Kau akan menikah suatu hari nanti Yunho, dan istrimu yang akan membantumu mengurus semua kebutuhanmu dan kastil tua ini." Sepertinya bibi Yuri sudah berkeliling terlebih dahulu sebelum Yunho kembali, karena wanita itu tahu benar bahwa di beberapa bagian, kastil ini memerlukan bayak perbaikan.
"Banyak yang harus di bereskan di sini, di ganti dan di tata ulang supaya rumah ini tidak terlihat seperti sarang laba laba." Yunho tertawa mendengar nada sinis di dalam kata kata bibi Yuri.
"Kau tahu aku tidak akan menikah, bukan?"
"Omong kosong, kau lebih suka memberikan tanah warisan keluarga Jung untuk saudara jauh yang tidak memiliki ikatan darah dengan kita? Kau harus menikah dan melahirkan keturunan!" Dengan nada enggan wanita itu menambahkan. "Baiklah, aku akui kastil ini memang indah dengan gaya dan bangunan kokoh abat dulu. Sangat di sayangkan jika kau tidak memiliki putra atau putri untuk mewarisinya."
"Bibi tahu tentang kutukan itu, itulah alasan kenapa aku tidak akan menikah."
Dengan marah Kwon Yuri duduk tegak di sofa. Punggung wanita itu sekaku baja, suaranya sekeras dengusan kereta api saat menampik kata kata keponakannya. "Tidak ada kutukan di sini, ayahmu meninggal karena penyakit, adikmu... " Yuri berhenti untuk menarik napas. "dia meninggal karena demam. Tidak ada alasan bagimu untuk tidak menikah dan membiarkan dirimu sendiri hidup kesepian."
Itulah masalahnya. Sewaktu Yunho masih bersama ayahnya, pria itu sering menceritakan hal hal aneh yang tidak di mengerti Yunho kecil. Ayah selalu menceritakan adanya penyihir yang mengutuk tanah mereka dan mengawasi seluruh kekayaan Jung dan memastikan keturunan mereka tidak akan hidup panjang. Dan Yunho mempercayai itu.
"Kakek meninggal di usia yang masih terbilang muda, Ayah dan juga Paman... ."
"Persetan. Kau tetap akan menikah! Umur seseorang hanya Tuhan yang menentukan, kau hanya perlu menjalani hidupmu dengan tenang. Kau butuh pewaris, kau juga tidak muda lagi Yunho, carilah gadis yang bisa menjaga dan menyayangimu terlebih yang kau cintai, tak peduli berapa tahun lagi kau akan hidup."
Yunho tersenyum, ia paham apa yang di takutkan bibinya saat ini. Karena sesungguhnya ia juga menghawatirkan masalah yang sama. "Aku baru berusia dua puluh delapan tahun, Bibi."
Ini tidak berhasil, Yuri harus menemukan cara lain untuk membujuk keponakanya agar segera menikah dan berhenti hidup melankolis tentang kutukan yang tidak pernah ada.
Ayahn Yunho benar benar telah mencuci otak putranya sejak kecil. Jung Il Woo telah meracuni pikiran putranya dengan omong kosong yang tidak masuk akal sampai Yunho lebih memilih hidup menyepi di saat seharusnya anak itu mendapatkan banyak kasih sayang dari teman dan orang yang peduli padanya.
Bahkan sampai keponakan tampannya itu selalu menghindar dari keramaian, termasuk jika di tempat itu terdapat para wanita muda. "Sudah waktunya kau bergaul dengan penduduk setempat, siapa tahu di antara putri mereka ada yang menarik perhatianmu."
"Aku tidak ingin membuat mereka menderita dengan memiliki suami yang tidak akan berumur panjang."
Kwon Yuri menahan umpatan yang sudah akan keluar, lagi. Betapa keras kepalanya keponakanya ini. Oh, ia tidak akan begitu saja menyerah untuk mendorong keponakanya untuk segera menikah dan memiliki keturunan. Anak-anak yang akan memenuhi kastil dengan tawa mereka, semakin banyak anak anak semakin bagus.
Yunho membutuhnkan seorang gadis yang mencintai dan menyadarkan Yunho bahwa kutukan itu tidak pernah ada. Tidak ada alasan untuk menyia-nyiakan hidup, bukan. Tidak peduli beberapa lama lagi Tuhan memberimu waktu di dunia ini.
"Baiklah." kening Yunho berkerut samar, apakah bibinya itu sudah menyerah, Semudah itu? Sungguh bukan ciri khas bibinya.
"Jika kau tidak ingin menikah karena cinta, setidaknya menikah lah untuk mendapatkan keturunan demi kekayaanmu. Bukankah kau mempercayai kutukan itu, kau akan mati muda dan putramu akan mewarisinya. Semakin cepat kau menikah semakin baik, kesempatanmu untuk bersamanya serta mengajarinya banyak hal semakin banyak."
Melihat keponakanya itu masih berpikir Yuri menambahkan untuk memberi sedikit bumbu. "Keluarga Jung memerlukan banyak pewaris untuk meramaikan tempat ini, hanya kau satu satunya harapan keluarga Jung. Dan jika kau meninggal Yunho, aku tidak mau hidup tua seorang diri. Berikan aku cucu untuk menemaniku di hari tua, bukan demi dirimu sendiri tapi demi aku."
Jika pria itu tidak berani maju karena keinginanya sendiri, maka Yuri akan membebankan keinginan terbesarnya kepada Yunho. Persetan jika ia di katakan kejam karena sungguh, ia tidak suka melihat Yunho menjalani hidupnya kesepian tanpa arah tujuan. Beban tanggung jawab ini yang akan mendorong Yunho untuk maju. Taktik yang bagus untuk di mainkan.
Melihat keponakanya kalah telak, Yuri besorak dalam hati. Taktik yang bagus. "Baiklah." akhirnya Yunho berkata.
Akhirnya. Mendesah lega, sengum wanita itu mengembang. Ingin rasanya Yuri melompat seperti ketika ia masih sangat kecil dan memenangkan lomba.
"Aku akan menikah demi mendapatkan keturunan yang Bibi inginkan, tidak butuh cinta. Aku tidak menginginkan cinta jika itu hanya akan membuatku dan siapapun yang akan aku nikahi menderita setelah kematianku."
Jemari bibi Yuri terkepal erat, wanita itu terlihat ingin mengguncang tubuh keponakanya untuk menyadarkan Yunho dari halusinasi yang di tanamkan ayah Yunho di otak anak itu sewaktu masih kecil.
Beruntung ia segera mengambil alih hak asuh Yunho ketika ibunya -adiknya Yoona- memilih kabur dengan pria lain yang lebih tampan tapi miskin, meninggalkan putranya dalam asuhan Il Woo, yang salah.
Terkutuklah adiknya itu. Wanita macam apa yang tega meninggalkan putranya sendiri bersama suami tak bertanggung jawab seperti Jung Il Woo.
Memejamkan mata, Yuri kembali menenukan akal sehatnya. Itu adalah masa lalu, saatnya untuk mengubur kenangan buruk itu.
"Mungkin kita harus mengadakan pesta, mengundang semua warga beserta putri mereka agar kau bisa melihat gadis mana yang akan kau nikahi. "
Jika beruntung Yunho akan jatuh cinta kepada salah satu dari mereka, atau seseorang akan tertarik kepada keponakan tampannya. Yuri tidak mengatakan bagian terakhir itu. Ia tidak akan memaksa Yunho untuk menyukai mereka, karena pria manapun akan tertarik kepada gadis cantik, begitu juga dengan Yunho.
"Aku akan menyuruh Yoochun untuk membuat undangan terbuka untuk semua warga, dua hari dari sekarang pesta itu harus sempurna."
"Lusa." pekik Yunho. "secepat itulah."
Bibi Yuri sudah bangkit dan berjalan menuju pintu. Memanggil sekertaris pribadi Yunho. "Yoochun." beralih kepada keponakan Yuri berkata. "Ya, lusa. Semakin cepat semakin baik. Oh, kita juga perlu mengundang warga sebelah, bukan." Bibi keluar dari ruang duduk, berteriak memanggil sekertaris sekaligus pelayan pribadi Yunho.
Ya Tuhan. Apa apaan bibinya itu. Tubuh Yunho bersandar lelah di punggung sofa. Ia memang menyayangi bibinya, tetapi jika bibinya yang penuh tuntutan seperti ini ia tidak menyukainya. Sungguh!
.
。。* 。。
.
Jaejoong memperhatikan kamar barunya di kastil keluarga Jung dengan perasaan campur aduk . Senang, khawatir juga sedih. Senang karena dirinya tidak akan kedinginan di musim dingin, ataupun kepanasan di musim panas.
Khawatir kalau mereka -pelayan lain- tidak akan menyukai kehadiran seorang anak haram di rumah majikan mereka yang baik hati.
Sedih karena ia harus meninggalkan kesunyian serta kedamaian yang ia milikki. Tidak akan ada suara kicau burung di pagi hari, tidak ada bintang bintang menjadi atap kamar tidurnya dan tidak ada petualangan yang menakutkan.
Tetapi ia bersyukur, lebih dari bersyukur karena Mr. Jung tidak seperti yang ia takutkan. Jaejoong ketakutan setengah mati saat mendengar putra Jung Il Woo akan kembali dan mengelola tanah perkebunan dan pabrik, itu berarti hutan tempat ia bersembunyi juga terancam. Ia takut Jung muda itu akan mengusirnya sama seperti Choi Seung Hyun yang mengusirnya dari tanah keluarga Choi, di hari kedua ayah pria itu meninggal.
Kasur di bawah tangannya terasa nyaman. Seumur hidup, Jaejoong belum pernah tidur di kasur seempuk ini. Ranjang itu mungkin kecil untuk satu orang tapi tetap saja sedikit labih besar dari ranjang Jaejoong di rumah kecilnya yang ia tinggalkan.
Ia berjalan kearah meja yang terdapat lampu meja di atasnya. Mengeluarkan barang barang miliknya yang tidak seberapa ia memasukan pakaian ke dalam lemari kecil di sisi ranjang. Pakaian yang di berikan Yoochun kepadanya beberapa saat lalu.
Kamar itu memang kamar pelayan tetapi lebih nyaman dari kamar lamanya di hutan dan ia tidak akan di hantui ketakutan setiap harinya akan pengusiran sang pemilik tanah .
Terdengar ketukan di pintu dan suara seorang pria dari luar kamarnya. "Tuan muda meminta saya untuk memangkas rambut Anda Mr. Kim."
Jemari Jaejoong menyentuh rambut panjangnya. Tidak ada yang salah dengan rambutnya bukan? Tidak juga bau karena pagi ini ia baru saja mencuci rambutnya di sungai.
Pintu terbuka dan ia menggeleng untuk menolak. "Tapi Tuan muda menginginkan Anda merapikan rambut anda yang berantakan."
Dengan wajah memelas dan kedua tangan menangkup di depan dada Jaejoong memohon. "Tidak! Saya tidak berani membantah perintah Tuan muda. Maaf jika saya harus menggunakan kekerasan jika Anda menolak." Pria itu berkata.
Kekerasan. Kata itu membuat tubuh Jaejoong menegang. Mengingatkan akan dirinya dan saudaranya yang di usir dari rumahnya sendiri.
"Kami terpaksa menggunakan kekerasan karena kalian tidak bersedia untuk pindah" kata itu terngiang di telinganya.
Jaejoong meronta saat beberapa pria menerobos masuk ke dalam rumahnya untuk melempar barang barang milik ibu dan kakaknya. Para lelaki itu memukuli ibu yang mencoba mempertahankan perabotan rumahnya yang di hancurkan oleh anak buah Choi Seung Hyun.
"Maaf." ujar pria itu lagi.
Jaejoong menjerit saat pria itu mencoba mendekatinya. Jeritan itu semakin keras sampai pria itu tercenggang karena ia hanya berniat memotong rambut pemuda itu, bukan memotong tubuh pemuda itu. Ya Tuhan, dirinya hanya tidak ingin mengecewaakan pelanggan terbaiknya, tidak lebih.
"Jaejoong."
"Mr. Park, untunglah Anda datang. Aku tidak tahu kenapa dia berteriak saat saya berniat memangkas rambutnya."
Dengan nada kesal Yoochun berkata kepada tukang pangkas desa itu. "Keluarlah, tunggu kami di teras belakang. Sebentar lagi aku akan membawanya ke sana."
Tidak membutuhkan perintah kedua, pria yang berumur lebih dari lima puluh tahun itu segera melesat pergi.
"Tenanglah Jae. Tenang, tidak ada yang akan memaksamu untuk melakukan apapun di sini. Tenanglah." Yoochun membisikan kata itu di telinga Jaejoong. Mencoba menenangkan pemuda yang saat ini ketakutan setengah mati.
.
。。* 。。
.
Kau terlihat tampan setelah membersihkan diri dan potong rambut."
Bibir Jaejoong mencebil tidak suka. Rasanya aneh, kepalanya terasa ringan dan pakaian yang ia kenakan sedikit kebesaran karena tidak satupun pelayan memiliki tubuh seukuran denganya.
"Aku pikir pakaian Junsu akan pas denganmu, kalin seumuran hanya saja kau lebih tinggi darinya dan Junsu lebih gembal darimu." Yoochun membisikan kata itu dengan lirih.
Kim Junsu. Putra kepala pelayan yang baik hati, menurut Jaejoong. Pemuda itu begitu manis dan memperlakukan Jaejoong yang tidak di kenal dengan sangat ramah.
Yoochun tertawa bangga.
Sekali lagi memperhatikan Jaejoong yang berubah sembilan puluh derajat menjadi pemuda tampan. "Tuan muda pasti akan sangat senang melihatmu."
Punggung Jaejoong berubah tegak. Ia tidak suka keramaian. Ia tidak terbiasa, dan apakah ia harus menemui Mr. Jung malam ini. Ia menggeleng.
"Tidak! Kau harus menemui beliau. Tuan muda sudah sangat baik dengan mengijinkanmu tinggal di sini. Besok kau akan tahu apa yang akan kau kerjakan, untuk malam ini beristirahatlah."
Terdengar ketukan pintu sebelum pintu terbuka. Salah seorang pelayan membungkuk hormat dan berkata. "Tuan muda dan Bibi Yuri mengundang Jaejoong makan malam." Salah satu pelayan mengintip dari kamar Jaejoong yang kecil.
"Makan malam?"
"Ya. Bibi Yuri ingin melihat Jaejoong, Tuan muda sudah menceritakan siapa Jaejoong dan beliau ingin melihatnya." Pelayan pria itu tersenyum kepada Jaejoong, dan berkata. "Kau jauh lebih manis Jaejoong."
Wajah Jaejoong merona mendengar pujian yang tak biasa ia dengar. Ia hanya membungkuk untuk mengucapkan terima kasih.
Yoochun membimbing pemuda itu menuju ruang makan yang begitu luas. Doe Jaejoong menatap takjub segala sesuatu yang ia lihat untuk pertama kali. Demi almarhum ibu dan saudara kembarnya yang ia cintai. Ia tidak mempercayai ini, bahwa ia memiliki kesempatan untuk melihat dunia luar dan kebebasan, terlebih istana besar yang sering ia lihat dari kejauhan.
"Jaejoong sudah datang Bib Yuri." Pelayan ruang makan mengumumkan kedatangan Jaejoong. Yoochun berdiri di sisi pintu masuk, memastikan bahwa Jaejoong akan baik baik saja.
Tidak hanya Yunho seorang di ruang makan. Ada wanita paruh baya cantik yang duduk di sisi kanan pria itu yang menatapnya dengan mata lebar wanita itu yang membuat langkah Jaejoong terhenti.
"Siapa ini, kau manis sekali nak?" Wanita itu mencoba beramah tamah. Hal itu membuat Jaejoong merasa lega.
Melihat bahu Jaejoong yang turun, Yunho merasa pemuda itu tidak terlalu tegang seperti saat pertama kali Jaejoong masuk. "Duduklah Jaejoong." Yunho berdiri, menarik kursi secara langsung untuk Jaejoong di sisi kiri kursinya.
Jaejoong masih tidak bergerak. "Kemarilah, Bibi tidak akan mengigitmu." Yunho berkata.
"Apa kau pikir aku bertaring."
"Siapa tahu Bibi memiliki taring yang tersembunyi."
"Tidak lucu!" Bentak bibi, bercanda. Beralih ke arah Jaejoong yang masih berdiri, bibi Yuri berkata. "Duduklah Jaejoong. Maaf membuatmu terkejut, abaikan keponakan nakalku ini."
Untuk pertama kalinya Jaejoong tersenyum. Senyum yangembuat Yunho menahan napas. Pemuda itu berubah menjadi pemuda cantik dengan mata besar dan kulit bersih nyaris pucat. Berbeda dengan Jaejoong yang siang tadi ia temukan di reruntuhan pondok tua.
Bibi Yuri berdeham. "Kau boleh duduk Yunho."
Bagaimana Yunho tidak menyadari bawah Jaejoong sudah duduk. Ia berdeham meskipun tenggorokanga tidak sakit. Lalu duduk.
"Makanlah yang banyak, kau terlihat kurus. Anak malang, lima tahun di hutan seorang diri, pastilah tidak udah."
Perasaan Jaejoong menghangat. Sudah sangat lama tidak ada seorangpun yang peduli kepadanya, kecuali Yoochun tentu saja. Tanpa sadar ia merasa ujung matanya basah, mengusap ujung mata dengan punggung tangan ia menpati Bibi Yuri serta Yunho memperhtikan diriny.
"Tidak apa apa. Kau aman di sini, tidak ada yang akan menguair atau menyakitimu." Yuri merasa ujung matanya ikut basah. Ia yang tidak dapat melahirkan seorang putra sangat sedih mendengar apa yang di ceritakan Yunho padanya tentang Jaejoong.
Tangan Yunho melingkupi tangan Jaejoong di atas meja. Dengan gerakan cepat Jaejoong menarik diri. Ia menggeleng, dan berkata pada diri sendiri.
'jangan perlakukan aku dengan baik. Karena akan sangat menyakitkan jika ia akan kehilangan perhatian itu lagi.'
Yuri meminta pelayan menyajikan hidangan. Dari seberang meja wanita itu berkata. "Kau bisa memnggilku Bibi, semua orang di sini memanggilku begitu."
Yunho berdeham. Dan Yuri menyadari seseuatu. "Maaf, aku lupa kau tak ingin mengeluarkan suaramu yang merdu itu." ujarnya dengan nada yang lebih lembut. "Tapi kau tetap harus menganggapku Bibimu, karena aku menyukainya."
Satu yang tidak Jaejoong ketahui. Ia begitu lemah akan kasih sayang, ia tidak mengira dirinya membutuhkan sebuah cinta seseorang seperti ibunya sampai detik ini letika air matanya mengalir tanpa permisi.
"Ya Tuhan, aku minta maaf." Bangkit dari kursi, Yuri memutari meja dan berdiri di sisi Jaejoong. "Aku tidak bermaksud membuatmu menangis." Dengan gerakan anggun dan pwnuh kasih sayang wanita itu meletakkan tangan di punggung Jaejoong , menepuk ringan punggung kurusnya yang hanya membuat sang empu menangis tersedu.
Menekan pelipis lelah, Yunho duduk tegag di kursinya melihat bibi kalang kabut menghadapi seorang pemuda dan tangisannya. Ia merasakan kebahagiaan Jaejoong, kebahagiaan saat seseorang menganggap keberadaanmu di dunia tidaklah di anggap sebagai benalu.
Yunho paham. Itulah yang Jaejoong rasakan saat ini.
~TBC~
Typo bertebaran.
Menerima kritik dan saran yang membangun. Terima kasih sudah menyempatkan diri membaca tulisan abal ini.
Terima kasih juga bagi kalian yang menyempatkan vote dan meninggalkan komentar.
FF ini di WATTPAD sudah nyampai chap dua belas. Berkenan silahkan kunjungi suliskim Sherry Kim. Akun wattpad sherry.
