Title : Say You Love Me

Author : Sherry Kim
Cast : Jung Yunho
Kim Jaejoong
Other

Genre : Romance, Drama, Family, Sad, HQ, etc...

Rate : M
WARNING
Yaoi. Tidak suka jangan baca.
Alur tidak jelas typo bertebaran.

.. * ..

Yjskpresent.

.

.

Pagi ini Jaejoong terbangun mendengar suara keras pintu terbanting dari luar kamar. Kamar yang ia tempati berada di sayap kiri bagian belakang tidak jauh dari dapur membuatnya mampu mendengar kegiatan apapun yang mereka lakukan pada jam sepagi ini.

Jendela masih tertutup namun tidak menghalangi Jaejoong untuk melihat langit di luar sana yang masih gelap. Ia tidur nyenyak semalam, sangat nyenyak sampai ia tidak ingat bermimpi tentang apapun.

Bukankah seharusnya ia tidak dapat tidur di tempat baru yang tidak ia kenal. Anehnya ia merasa tenang karena tidak perlu takut jika tengah malam akan mendengar suara langkah kaki seseorang yang mungkin saja akan menemukan keberadaanya di reruntuhan pondok lalu mengusirnya.

Semalam Jaejoong makan terlalu banyak, untuk pertama kali selama seumur hidup, Jaejoong makan hidangan seenak itu. Daging dan ikanya lembut dengan bumbu yang ia tidak tahu apa, melumer di mulutnya tanpa perlu susah payah ia gigit. Biasanya Jaejoong hanya makan daging bakar atau ikan bakar tanpa rasa. Ia sangat bersyukur karena ia di beri kesempatan untuk makan makanan seenak tadi malam. Berterima kasihlah kepada Jung Yunho. Entah kenapa menhingat pria bersajah tampan itu membuat jantung Jaejoomg berdebar aneh.

Sekali lagi suara itu terdengar dari arah dapur. Benda berbenturan atau semacamnya. Kali ini lebih keras dari sebelumnya yang memaksa Jaejoong bangkit dari ranjang terlembut yang pernah ia tiduri.

Usai mencuci muka dan berganti pakaian ia berjalan menuju dapur. Ia mengerjapkan matanya sesampainya di dapur super luas itu. Perabotan tergantung dan tertata rapi di lemari dan di ding di sisi meja luas di tengah ruangan. Kompor kompor besar dengan koki yang mulai sibuk di sana.

Para pelayan hilir mudik di dapur membawa banyak barang dari sayur daging sampai bumbu serta banyak lagi kotak kardus serta karung goni.

"Kau sudah bangun, manis." Jaejoong mengenali wanita tua itu sebagai salah satu pelayan yang memberinya pakaian kemarin, kepala pelayan. "Maaf membangunkanmu pada jam sepagi ini, kami sibuk, bisakah kau pergi ketempat lain." Wanita itu berteriak kepada salah seorang pelayan muda yang menempatkan sayuran di tempat yang salah. "Kami sibuk, sangat sibuk karena besok malam akan ada pesta besar di sini. Jadi hari ini kami semua sibuk untuk memperispkan segala sesuatunya, demi Tuhan. Aku benci acara dadakan terlebih pesta dadakan."

Wanita itu berlalu dari hadapan Jaejoong, menghampiri beberapa pelayan wanita baru yang sepertinya di datangkan karena pesta dadakan ini.

Tidak ingin mengganggu kesibukan mereka Jaejoong keluar dari dapur, ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan dan ke mana ia akan pergi. Semua orang terlalu sibuk untuk menyadari kehadiranya apalagi mencarikan suatu pekerjaan di kastil itu untuk ia kerjakan.

"Ssst," Langkah Jaejoong terhenti. Ia menoleh ke sekeliling dan tidak melihat apapun ataupun siapapun di sepanjang lorong kecuali pintu pintu kamar yang tertutup.

"Jaejoong." Suara itu berasal dari belakang, tepat di sebuah pintu yang terbuka hanya beberapa senti. "Aku Junsu. Kau ingat. Kemarin ibuku memberikan pakaianku untukmu," Pemuda itu akhirnya menampakkan diri, memperhatikan sekeliling sebelum menarik Jaejoong masuk ke dalam sebuah ruangan.

"Aku senang akhirnya aku mendapatkan teman sebaya, kau tahu di sini jarang ada orang baru karena semua pelayan berumur di atas tiga sampai empat puluh tahun. Tidak termasuk pelayan luar ruangn dan penjaga istal."

Jaejoong membiarkan pemuda itu menyeretnya ke sebuah kursi besar, ruangan itu sebuah ruang duduk besar dengan meja besar dan beberapa buku. "Ini ruang kerja ibuku, di sinilah ibu mencacat semua kebutuhan kastil setiap harinya." Junsu menjelaskan.

Pemuda itu berjalan ke arah jendela lebar dengan korden terbuka. Memperhatikan kesibukan di luar ruangan yang sedikit menarik perhatian Jaejoong.

Banyak mobil, bahkan truk dan sebagainya di sana. "Mereka mengangkut persediaan untuk pesta, semalam ibuku tidak tidur mencatat semua keperluan pesta bersama Bibi Yuri. Pagi buta ibu menyuruh semua orang ke pasar super market bahkan ke ladang untuk mencari persediaan makanan untuk tamu tamu besok malam." Junsu terus berceloteh tentang kebutuhan pesta dan sebagainya, menceritakan para tamu yang kemungkinan akan menginap di kastil selama satu atau dua hari.

Jaejoong tidak lagi mendengarkan apa yang di katakan pemuda itu karena perahatianya teralihkan pada sosok tinggi di luar sana. Sinar mentari pagi menyinari taman bagian juga menyinari pria itu, Jung Yunho.

Tubuh tegap Yunho terlihat menjulang tinggi di antara laki laki tinggi lainnya. Cahaya pagi menyinari laki laki itu dengan sedikit istimewa karena Jaejoong merasa pria itu terlihat semakin tampan dengan cahaya keemasan melingkupi tubuhnya. Rambut pria itu berkilau indah di setiap bergerakan kecil yang Yunho lakukan.

Yunho tampan juga mempesona, ia tahu itu. Tapi ada sesuatu tentang pria itu yang membuat jantung Jaejoong berdebar aneh untuk pertama kali dalam hidupnya. Yunho memiliki aura kekuasaan yang tak terbantahkan sampai ia merasa tubuhnya telah di kuasai oleh pria itu. Tapi Jaejoong yakin ini bukanlah ketakutan. Hanya saja ia tidak tahu apa.

Seakan tahu dirinya di perhatikan Yunho berputar. Jaejoong merosot di sofa padahal jendela tertutup memastikan pria itu tidak melihat dirinya di dalam sini.

"Kau kenapa?" Junsu memperhatikan Jaejoong dengan geryitan di kening. "Apak bokongmu sakit sampai tidak bisa duduk? Ah lupakan," Pemuda itu berkacak pinggang lalu menggeram. "Betapa bodohnya aku bertanya karena kau tidak akan menjawabku."

Pemuda itu berlalu menuju pintu sambil bergumam. "Tidak apa apa, kita tetap berteman meski hanya aku yang berbicara di antara kita. Kau mau melihat lihat kasti karena aku pikir kau tidak akan di cari selama beberapa hari kedepan mengingat pesta akan membuat Tuan muda melupakanmu untuk sementara. Aku ingin menunjukan banyak tempat kepadamu."

Kekecewaan melanda Jaejoong, ia benci perasaan bergantung kepada siapapun karena ia tidak pernah bergantung kepada siapapun sebelumnya. Dan ia membenci perasaan aneh ini mengingat Yunho akan melupakan keberadaanya untuk beberapa hari kedepan.

"Kau ikut?"

Jaejoong mengangguk. Menarik kerah bajunya lebih tinggi untuk menyembunyikan luka di lehernya.

.

。。* 。。

.

"Kalian di sini, Mr. Park mencarimu Jaejoong?"

Suara itu memotong ocehan Junsu tentang taman dan ratusan bunga berbagai jenis yang ada di taman belakang kastil. "Aku?"

Pelayan itu menggeleng cepat. "Bukan kau, tapi Jaejoong."

"Mr. Park menunggumu di ruang kerjan beliau Jaejoong." Pelayan pria itu berlalu begitu saja tanpa memberitahu Jaejoong di mana ruang kerja Yoochun berada.

Junsu melambai pada pelayan itu dan mengedikan bahu. "Kita lanjutkan kapan kapan, ibuku juga pasti mencariku karena pagi ini aku tidak menyapanya sama sekali. Kau tahu pekerjaanku untuk membantu beliau."

Jaejoong mengerjap. Ia di tinggalkan begitu saja seorang diri di taman itu tanpa ada orang yang memberitahunya ke mana ia harus mencari ruang kerja sekertaris pribadi majikan mereka, Yoochun. Menghela napas, ia harus mencarinya sendiri jika tidak ada orang yang bisa ia tanyai. Tidak ada pilihan lain, semua orang terlalu sibuk untuk ia tanyai saat ia memasuki pintu belakang kastil.

Satu jam kemudian Jaejoong tersesat di rumah besar itu tanpa tahu di mana ia berada. Lantai dasar sudah ia susuri, namun tidak juga menemukan di mana ruang kerja Yoochun berada. Deretan pintu tertutup berjajar rapi di sepanjang lorong lantai dua, semuanya adalah kamar luas dengan perabotan indah derta ranjang yang tiga kali lipat besarnya dari ranjang yang ia tiduri semalam. Mengintimindasi Jaejoong bahwa ini adalah kehidupan berbeda, kehidupan yang bertolak belakang dari apa yang pernah ia jalani sebelumnya.

Berdiri di pintu besar terakhir, Jaejoong menarik napas lelah. Ini adalah ruangan terakhir yang belum ia periksa dan apakah itu ruang kerja Yoochun atau bukan?

Handel pintu berputar. Pintu tidak terkunci, bibir Jaejoong melengkung ke atas dan mendorong pintu dengan perlahan.

Di depan sana berdiri seseorang yang sedang menanggalkan kemeja yang masih menggantung di kedua bahu saat Jaejoong membuka pintu.

Musang Yunho menatap terkejut siapa gerangan yang membuka pintu kamarnya tak sopan. Ia melihat Jaejoong berdiri di ambang pintu dengan wajah terkejut yang lucu. "Selamat siang, apa kau datang untuk memberi tahuku waktu makan siang telah tiba?"

Kepala dengan rambut hitam pemuda itu menggeleng lalu mengangguk.
Alis Yunho menggeryit, pria itu tidak dapat menahan senyum melihat rona merah muda menjalar di kedua pipi tirus Jaejoong. "Masuklah sebelum pelayan melihatku tanpa pakaian."

Seharusnya Jaejoong menutup pintu dan angkat kaki dari tempat itu, kabur menjauh dari Yunho adalah pilihan yang tepat, alih alih ia menutup pintu di belakang dan melangkah masuk menuruti perintah Yunho.

"Tunggu sebentar, kita pergi keruang makan bersama. Duduklah." Yunho menunjuk sofa di tengah kamar dengan dagu.

Jika Jaejoong merasa ranjang baru di kamarnya adalah ranjang terindah yang pernah ia lihat, maka ranjang besar dengan empat tiang peyangga di tengah kamar itu jauh lebih indah. Selimut seputih salju menutupi ranjang itu dengan sempurna dan Jaejoong membayangkan betapa nyamannya tidur di sana. Mungkin ia tidak akan pernah bangun untuk beberapa tahun kedepan.

Parfum bercampur aroma khas Yunho menggelitik hidung Jaejoong saat ia berada di dalam kamar itu. Ia menyukai aroma ini, entah kenapa terasa begitu menenangkan.

"Kau suka kamarku?" Pria itu keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. Jaejoong mendesah kecewa karena kehilangan pemandangan indah tubuh telanjang Yunho.

"Aku tidak melihatmu sepanjang pagi ini, apa kau pergi berkeliling kastil?" Jaejoong mengangguk. "Kau suka?" Ia mengangguk lagi.

"Bagus. Aku dan Bibi sibuk menyiapkan pesta besok. Bibi memaksa mengadakan pesta untuk mengenalkan aku kepada penyewa tanah dan warga setempat. Aku befharap kau tidak terganggu dengan banyaknya tamu yang mungkin mulai berdatangan sore ini." Kali ini anggukan Jaejoong terlihat ragu-ragu.

"Kau bisa tetap tinggal di kamarmu, dan apa kau menyukai kamar itu? Aku harap Yoochun menempatkanmu di kamar yang pantas. Aku belum ada waktu melihat kamar barumu, tapi setelah pesta usai aku akan melihat dan memastikan sendiri kamar itu layak untuk kau tempati."

Selama ini Yunho tidak suka banyak bicara tentang hal yang tidak terlalu penting. Ia juga tidak percaya begitu saja dengan orang orang baru di sekitarnya. Tapi ada sesuatu yang membuatnya nyaman berbicara panjang lebar kepada Jaejoong. Ia ingin membuat pemuda itu betah di sini dengan alasan yang tidak ia ketahui apa. Yang jelas ini bukanlah perasaan iba.

Musang Yunho memperhatikan Jaejoong. Pemuda itu sibuk mengamati sekeliling, namun entah mengapa Yunho menganggap hal itu hanya agar Jaejoong tidak menatapnya. Entah apa yang ia sukai dari Jaejoong, mata polos yang berbinar saat menatapnya atau rambut sehitam malam yang ikut bergerak lincah saat tubuh Jaejoong bergerak atau karena Jaejoong tidak berbicara.

Bibir Jaejoong mengerucut tidak jelas dan Yunho gemas untuk mencubit bibir itu. "Berhenti memasang wajah seperti itu atau aku akan mengigitmu."

Jaejoong mendongak, menatap Yunho dengan mata bulatnya terkejut. Apakah wajahnya bisa lebih merah lagi? Jaejoong merasa wajahnya panas sampai ia takut kepalanya mengeluarkan asap. Ia memberenggut tidak suka yang hanya membuat Yunho tertawa.

"Ayo, kita makan siang. Aku rasa Bibi sudah menunggu." Meraih tangan Jaejoong ia membimbing pemuda itu keluar ruangan.

Jarak antara kamar Yunho menuju ruang makan sangat jauh, biasanya Yunho akan mengeluhkan jarak karena kastil yang begitu besar. Tapi saat ini ia tidak merasa jarak itu mengganggu karena sepanjang jalan ia menggoda Jaejoong dan wajah pemuda itu yang merona saat ia goda.

Benar saja. Bibi Yuri sudah duduk dan menikmati makan siang saat mereka sampai. "Selamat siang Bibi." Menghampiri Yuri, Yunho memberi ciuman di kedua pipi bibinya. "Aku tidak melihatmu sepanjang pagi."

"Aku sibuk mengarahkan pelayan menata aula utama dan juga mengatur pelayan baru yang kita datangkan dari kota untuk pesta. Maaf tidak menunggumu, asebentar lagi para pekerja untuk merias aula akan daang. Dan aku tidam suka menyerahkan tanggung jawab besar ini kepada siappaun." kepada Jaejoong Yuri menyap. "Selamat siang Jaejoong, aku rasa Yoochun mencarimu?"

Astaga, Jaejoong melupakan ia juga mencari Yoochun.

Menunduk untuk berpamitan dengan terburu buru, ia berlari keluar ruang makan mencari Yoochun. Mengabaikan teriakan bibi Yuri beserta makan siang mereka.

Yunho tertawa begitu keras melihat tingkah ajaib Jaejoong. "Dia sangat lucu, bukan."

Alis bibi Yuri bergerak aneh melihat keponakannya tertawa cukup keras. "Kau menyukainya?"

"Ya." jawab Yunho tanpa berpikir.

"Aneh sekali. Kau jarang menyukai siapapun." Suasana hati Yunho cukup bagus untuk merasakan sindiran dari kata kata yang di lontarkan bibinya penuh arti.

.

。。* 。。

.

Tepat saat di belokan lorong, Yoochun menabrak Jaejoong yang berlari berlawanan dengannya. Kedunya berbenturan cukup keras, andai Yoochun tidak segera menangkap tubuh kurus Jaejoong, dapat di pastikan pemuda itu akan terpental ke lantai marmer yang keras.

"Jongie. Akhirnya aku menemukanmu."

Mundur selangkah, Jaejoong menghela napas dan tersenyum lebar. "Kau juga mencariku?" Jaejoong mengangguk.

"Ikut denganku, kita bisa makan siang bersama dan kau harus mendengarkan apa yang akan aku katakan. Hanya kita berdua."

Keduanya berjalan kearah dapur, di mana semua pelayan biasa makan. Biasanya Yoochun lebih suka makan bersama mereka ketimbang makan sendirian di kantornya yang bersebelahan dengan ruang kerja utama milik majikan mereka.

Tapi tidak kali ini karena ia ingin mengatakan sesuatu hal penting yang hanya mereka berdua yang tahu. Usai meminta salah seorang pelayan mengantar makan siang mereka ke ruang kerjan, Yoochun menuntun Jaejoong ketempat yang pemuda itu cari sepanjang pagi.

Sayap kanan lantai dasar bagian belakang. Bersebelahan dengan ruang kerja dan perpustaan besar yang telah mereka lewati sepanjang lorong. Semua pintu di biarkan terbuka, membiarkan udara berhembus kesegala arah.

"Kau bisa meminjam buku perputakaan untuk kau baca jika kau mau. Apa kau bisa membaca?"
Jaejoong mengangguk.

"Bagus. Banyak macam buku di sana yang takkan habis untuk kau baca. Dari buku novel milik Mrs. Jung sampai buku pelajaran bisnis dan sebagainya."

Ruang kerja Yoochun tidak seluas ruang ruang lain yang baru saja mereka lewati. Tapi tempat itu nyaman dan terawat dengan baik. "Duduklah di manapun kau suka, buat dirimu senyaman mungkin."

Sofa tunggah di dekat jendela terlihat nyaman untuk Jaejoong. Terdapat meja kaca kecil bundar di sisi sofa dengan bunga mawar dalam fas bening yang indah. Korden tinggi yang menutupi jendela terbuka lebar, membiarkan cahaya luar menerangi ruangan.

Yoochun berjalan mondar mandir di tengah ruangan, dengan gerakan tangan Jaejoong meminta agar pria yang seumuran dengan Yunho itu duduk. "Tidak tidak, aku tidak butuh duduk."

Kedua tangan Jaejoong terlipat di depan pangkuan, pemuda itu telihat tenang. Ia menunggu Yoochun mengatakan sesuatu tapi tidak juga mengucapkan sepatah kata bahkan sampai pelayan membawakan makan siang mereka dan berlalu pergi.

Diam diam Yoochun melirik Jaejoong. Pemuda itu duduk tak bergerak sampai orang bisa berpikir dia adalah patung andai saja bola mata besar yang mengawasinya itu tidak bergerak ke sana kemari. Menguatkan diri ia harus mengatakannya sebelum pesta di mulai. "Kau tahu akan ada pesta bukan?"

Anggukan Jaejoong membuat poni pemuda itu meluncur menutupi sebagian alisnya. "Banyak kerabat jauh Mr. Jung yang akan datang dan kemungkinan akan menginap di sini. Kau juga tahu?"

Yoochun melihat Jaejoong memutar bola mata jengah seakan berkata. 'Semua orang juga tahu' Menghela napas, ia harus mengatakan apa yang ia takuti dari semua tamu tamu itu.

"Mungkin Mr. Choi Seung Hyun juga akan datang, jika beliau menerima undangan Tuan muda, berarti sore ini dia sudah akan di sini."

Mata Doe Jaejoong mendelik lebar mendengar nama itu di sebut. Punggung pemuda itu setegak baja duduk di sofa tunggal dan terlihat mulai tidak nyaman. "Aku memberitahumu untuk berhati hati, tetaplah di kamarmu selama dua hari ini. Aku akan menyuruh pelayan mengantar makananamu setiap hari. Hanya untuk dua hari."

Bola mata Jaejoong bergerak gelisah, keringat dingin mulai membasahi kening pemuda itu. Bibirnya terbuka untuk mengatakan sesuatu. Tidak ada suara yang keluar. Tenggorokannya seperti di tusuk oleh jarum jarum kecil. Iapun kembali menutup bibirnya yang gemetar.

"Kau aman di sini, pria itu tidak akan berani menyakitimu selama kau berada di bawah tanggung jawab Tuan muda Yunho."

Tidak. Jaejoong tidak akan pernah merasa aman di dekat pria itu. Bayangan akan apa yang sudah pria itu lakukan kepada saudara dan ibunya membuat tubuhnya bergetar hebat. Teriakan dan makian itu kembali terniang sampai Jaejoong merasa pening. Kedua tangannya terangkat untuk menutupi telinganya sendiri. Helaan napas Jaejoong terdengar kasar. Ia mencoba berdiri tapi kakinya gemetar dan terjatuh kembali ke sofa.

"Jongie." Yoochun seakan meloncat dari tengah ruangan, "Aku minta maaf, aku merasa harus memberitahumu karena akulah yang menulis undangan tersebut kemarin malam atas permintaan Bibi Yuri."

Butuh waktu bagi Jaejoong untuk menenangkan diri. Selama ini ia hidup menjauh dari pria itu untuk mengindari masalah dan sakit hati yang pasti ada pada setiap kali pertemuan tak sengaja mereka di masa lalu.

Lima tahun. Apakah pria itu masih membencinya karena masalah kedua orang tua mereka. "Aku rasa kau butuh istirahat, usai makan siang kembalilah ke kamarmu dan tetaplah di sana sampai pesta usai. Hanya dua hari, setelah itu semua akan baik baik saja."

Bibir Jaejoong terbuka untuk berkata. Tidak ada suara yang keluar dari sana meskipun ia berusaha mengatakan sesuatu. Akhirnya ia menyerah dan mengikuti apa yang di sarankan oleh Yoochun. Ia percaya Yunho akan menjaganya, entah mengapa memikirkan Yunho membuatnya sedikit lebih tenang.

Membayangkan senyuman pria itu membuat tekat Jaejoong untuk tidak menunjukan diri selama dua hari semakin kuat. Hanya dua hari, setelah itu ia akan dapat melihat Yunho tersenyum lagi untuknya.

.

。。* 。。

.

Mobil mewah berhenti di jalan utama di teras kastil. Mobil pertama yang membawa tamu pertama sore ini. Seorang pria turun dari balik kemudi di ikuti seorang wanita cantik keluar dari pintu lainnya.

Sekertaris pribadi Yunho melongok dari jendela ruang kerja majikannya untuk melihat siapa pemilik mobil mahal itu. Mata sekertaris itu menyipit waspada. Tidak ada orang lain yang memiliki mobil semewah itu di sekitar sini kecuali...

"Mr. Choi bersama istrinya sudah tiba Tuan muda."

Yunho mengangkat pandangan dari berkas untuk menatap sekertarisnya dengan alis mengeryit. "Secepat itukah? Aku berpikir mungkin kerabat jauh lain yang akan tiba lebih dulu, bukannya tetangga kita yang sibuk dengan kekayaan mereka jika apa yang kau katakan tentang mereka benar. Aku berpikir mereka tidak akan ada waktu untuk datang."

Yoochun membuka pintu ruang kerja untuk majikannya, tapi tidak berniat mengikuti beliau untuk menyambut teman lama Tuan muda Yunho itu. Ia harus memperingatkan Jaejoong akan kedatangan mereka. Semoga, apa yang ia khawatirkan tidak akan terjadi.

Di aula depan bibi Yuri tersenyum lebat menyambut tamu tamu pertama mereka. "Selamat datang di rumahku. Maafkan kami karena rumah ini masih sedikit berantakan. Karena pesta utama besok malam baru akan di mulai."

Bibi Yuri sudah menyambut tamu mereka saat Yunho sampai di ruang tamu. Choi Seung Hyun berdiri dengan tangan terulur untuk menyambut Yunho dengan pelukan teman lama. "Ya Tuhan, kau semakin tampan saja Yunho."

"Kau tinggi besar, jauh berbeda dengan Seung Hyun yang aku kenal saat kita masih kecil."

"Astaga, itu lebih dari lima belas tahun lalu. Sejak saat itu kita tidak pernah saling berhubungan atau dekedar memberi kabar." Itu benar. Yunho maupun Seung Hyun tidak ada yang mencoba mencari tau kabar satu sama lain.

"Aku senang kau kembali untuk mengambil alih estat Jung, teman lama."

"Senang bisa kembali." Melongok ke belakang Seung Hyun, ia tersenyum kepada dua orang wanita muda lain. "Siapa mereka?"

"Istriku Kwon BoA dan adik ipaku Kwon Ahra."

Kedua wanita itu tersenyum lebar menatap Yunho penuh arti. "Senang berkenal dengan Anda Mr. Jung." BoA mengangguk memberi salam begitu juga dengan adiknya, Ahra.

Bibi Yuri tertawa sedikit jail, Yunho melirik bibinya penuh curiga. "Panggil saja Yunho, keponakanku beberapa tahun lebih tua darimu, Ahra." Benar bukan! Bibi ingin menjodohkan dirinya dengan adik dari BoA. Begitu terburu burukah bibinya itu ingin mendapatkan cucu sampai harus mendorong Yunho kepada gadis pertama yang datang pada pesta mereka.

"Apa kalian akan bermalam di sini?"

Bibi menepuk lengan Yunho keras. "Pertanyaan apa itu, pestanya besok tentu saja mereka akan menginap."

Yunho memutar bola mata jengah. "Mereka tinggal tidak jauh dari sini."

"Luas tanahmu. Ratusan hektar Yunho, mereka harus menempuh perjalanan dengan mobil untuk sampai ke kastil ini. Kau tidak akan mengusir tamu kita, bukan?"

"Tentu saja tidak!" jawab Yunho. Tidak mungkin ia mengatakan keberatan di depan tamu mereka bukan.

"Baiklah." Bibi Yuri menepuk tangan penuh semangat. "Yunho akan menunjukan kamarmu Ahra," dengan dorongan sedikit lebih keras bibi mendorong keponakannya ke arah gadis cantik itu.

"Kalian ikut denganku, aku sendiri yang akan menunjukan di mana kamar kalian." Ketiga orang lain dalam ruangan itu saling melempar tatapan penuh arti. Ketiganya tersenyum mengerti sebelum berjalan menaiki tangga menuju lantai dua kamar para tamu.

"Aku rasa bibimu dan kakak iparku berusaha menjodohkan kita." Ahra berkata terus terang.

Yunho membenarkan hal itu. "Maaf atas kelancangan Bibiku, dia begitu semangat untuk mengadakan pesta ini berharap aku akan menemukan gadis yang mampu memikatku dan mendorongku segera menikah." ujar Yunho, ia menunjukan jalan menuju kamar Ahra.

Keduanya berjalan menaiki tangga sambil mengobrol. Yunho mencoba menjadi tuan rumah yang ramah untuk saat ini menggantikan bibinya meskipun itu sulit karena sungguh, ia lebih suka sendirian.

"Kastil ini sangat indah. Aku membayankan kastil tua reyot sebelumnya, bukannya bagunan yang terawat rapi seperti inj. Dan bangunan di dalamnya luar biasa indah dengan nilai seni yang menakjubkan." Gadis itu mendongak memperhatikan struktur bangunan bewarna terang di langit langit. Kubah di atas aula utama tadi membentuk lingkaran besar dengan ukiran rumit berwarna emas di setiap sisinya.

"Dewa Yunani." Gadis itu mengerti tentang sejarah, mengagumi apapun yang dilihatnya dan sedikit terbuka dalam setiap kata. Yunho merasa nyaman berbicara dengan Ahra, sayangnya ia tidak akan tega menjerumuskan gadis itu ke dalam kutukan keluarga Jung.

Ahra pantas mendapatkan suami yang mencintainya sepenuh hati, bukan suami yang hanya memerlukannya untuk sebagai menghasil keturunan.

Keduanya menyusuri lorong lantai dua dalam keterdiaman. Sampai Ahra memecahkan kesunyian. "Kenapa kau belum menikah?" Pelayan penunjukan kamar Ahra. Keduanya berdiri di pintu kamar gadis itu, tidak jauh dari kamar Yunho.

Bibi sialan. Pasti bibi sengaja menepatkan Ahra di antara dua pintu dari kamarnya. Tidak terlalu dekat untuk menimbulkan scandal tidak juga terlalu jauh untuk keduanya bisa bertemu setiap hari. "Karena aku tidak ingin menikah." jawab Yunho ketus.

Ahra merasa tidak enak hati mendengar jawaban setengah hati pria itu. "Maaf jika aku tidak sopan."

Menutup mata erat. Yunho baru menyadari apa yang sudah ia lakukan. "Tidak, aku baru saja memikirkan sesuatu dan tidak berniat berkata kasar kepadamu. Aku minta maaf."

"Maafkan aku."

Yunho mengangguk undur diri. Ia merasa tak enak hati terhadap gadis ini. "Istirahatlah sebelum kita makan malam." Yunho undur diri. Meninggalkan Ahra tercenggang dengan apa yang baru saja di ucapkan Yunho.

Istirahat? Demi Tuhan, perjalanan dari rumah keluarga Choi ke sini tidak memerlukan waktu lebih dari lima belas menit. Tapi Ahra menutup mulutnya sendiri karena sadar keduanya akan terdampar di sebuah suasana tanpa kata jika memaksakan diri untuk bersama.

Persetan. Yunho hanya ingin jauh dari gadis itu untuk mencari bibinya. Tangannya sudah gatal untuk mencekik bibi Yuri dan mengguncang bibinya itu sampai beliau sadar.

"Sampai jumpa saat makan malam." ujarnya sambil lalu. Tanpa menunggu jawaban Ahra, Yunho segera berputar dan kabur.

~TBC~

Menerima kritik dan saran yang membangun. Terima kasih untuk kalian yang sudah meninggalkan jejak dan memberi vote.