Title : Say You Love Me

Author : Sherry Kim
Cast : Jung Yunho
Kim Jaejoong
Other

Genre : Romance, Drama, Family, Sad, HQ, etc...

Rate : M
WARNING
Yaoi. Tidak suka jangan baca.
Alur tidak jelas typo bertebaran.

.. * ..

Yjskpresent.

.

.

.

Hal yang paling menyebalkan adalah menunggu tanpa melakukan kegiatan apapun di kamar meski hanya untuk beberapa jam kedepan.

Seumur hidup, Jaejoong memang tidak memilii hak atas kehidupanya sendiri. Tapi ia punya hak untuk mendapatkan kebebasan ketika ia tinggal di pedalaman hutan milik orang lain tanpa sepengetahuan mereka.

Terkurung di kamar sejak sore, membuat kesabarannya benar benar di uji. Demi Tuhan, ia benci tidak melakukan apapun selama berjam jam. Ia lebih suka menyusuri hutan belantara sepanjang pesta yang di adakan di kastil Jung ini.

Ide itu muncul begitu saja saat Jaejoong mengetukkan kepala di jendela kaca di kamarnya. Menatap beberapa tamu yang sudah datang sejak sore tadi di luar sana, ia tersenyum senang membayangkan kebebasan yang sebentar lagi ia temui.

Ia bisa kabur ke hutan, tidur di rumah pondok dan kembali saat pesta usai bukan? Dua hari di hutan akan terasa lebih menyenangkan daripada di penjara di kamar sepanjang pesta. Tidak akan ada yang tahu ia bekeliaran di hutan sepanjang pesta selama dua hari ini. Seperti beberapa tahun ini ia hidup keluyuran sendirian di sana.

Baiklah. Jaejoong hanya perlu menyelinap keluar saat langit sudah gelap, ketika semua tamu mulai mengikuti pesta pembukaan dan menikmati hidangan makan malam nanti.

Ide bagus. Tidak akan ada yang memperhatikan seorang pemuda yang menyelinap melalui pintu belakang kastil dan menghilang di antara keributan pesta yang sedang berlangsung. Jika ada seseorang yang melihatnya, seseorang itu akan berpikir Jaejoong salah satu dari para tamu.

Dengan tekat serta perasaan menggebu akan bebas dari penjara singkat ini, Jaejoong beranjak dari ranjang. Tidak perlu pakaian hangat ataupun sebagainya karena dirinya sudah terbiasa dengan dinginnya hutan. Langkah Jaejoong terlihat normal meskipun jantungnya berdetak tak karuan dari tempatnya saat ia menyurusi lorong menuju pintu samping dapur.

Kesibukan di dapur membuat langkah Jaejoong terhenti, ia tersentak dan sudah akan berbalik namun ia urungkan. Toh mereka semua sibuk dengan pekerjaan mereka masing masing dan mengabaikannya. bukan. Ia kembali melirik kiri kanan sebelum berjalan cepat menuju pintu.

Semua orang di dapur itu memang terlalu sibuk untuk melihat sekeliling, kepala koki terlihat berdiri di ujung kompor super besar mendiskusikan sesuatu bersama kepala pelayan bagian dapur.

Hembusan angin senja terasa menyenangkan menerpa wajah Jaejoong saat ia berhasil melewati kesibukan di dapur. Sisa sinar senja menyinari pepohonan hutan dengan begitu menakjubkan, sisa sisa cahaya matahari tenggelam menyusup dari sela dahan menembus taman sebelah barat kastil. Menimbulkan terpaan cahaya yang begitu membuat Jaejoong terpana. Ujung bibir Jaejoong melengkung melihat karya Tuhan yang indah ini.

"Hai kau." Sebuah suara menyadarkan Jaejoong dari ketakjubannya tentang nyamannya berada di surga kastil.

Suara itu lagi.
Lamunan tentang keindahan taman buyar sepenuhnya saat terdengar suara pria yang tidak asing baginya namun juga ia ragukan. "Kau tahu di sebelah mana istal berada?"

Punggung Jaejoong menegak. Ia tidak berani menoleh ke belakang, di mana pria itu sudah pasti berdiri menghadap kearahnya. Jaejoong menggeleng lalu ia mendengar suara geraman marah yang membuat seluruh tubuhnya merinding.
"Pelayan tak berguna. Bagaimana bisa Yunho memperkejakan pelayan sepertimu."

Terdengar langkah pria itu menjauh. Dan Jaejoong memberanikan diri melirik ke belakang ketika suara langkah pria itu sudah cukup samar. Bibirnya mendesahkan napas lega. Doe miliknya menatap sendu kearah pria itu yang menghilang di ujung belakang kastil.

Choi Seung Hyun. Pria itulah alasan Jaejoong harus menghilang dari tempat ini secepatnya. Tapi tidak sekarang, ia akan menunggu hari sedikit lebih gelap agar tidak di kenali.

.

。。* 。。

.

Bersembunyi dari ratusan tamu yang menyebar di seluruh penjuru kastil terdengar cukup nyaman. Di mana hanya ada kesunyian yang mampu membuat perasaan damai yang Yunho cari tidak dapat ia dapatkan untuk beberapa hari ke depan.

Yunho menyesal menyanggupi pesta yang di adakan bibinya ini. Ia berpikir pesta yang di senggelarakan secara mendadak akan mengurangi kehadiran para tamu undangan, mereka tentunya sudah memiliki acara sendiri di akhir pekan seperti hari libur besar ini.

Ia salah. Salah besar malahan. Siapa yang menduga undangan pesta keluarga Jung membuat mereka membatalkan acara penting lainnya untuk dapat hadir ke pesta yang Bibi Yunho adakan. Mereka tentunya penasaran dengan pewaris tunggal Jung yang belum menunjukan diri di muka umum sebelum ink. Juga pesta pertama dari sekian tahun sejak pesta terakhir di adakan keluarga Jung, lebih dari lima belas tahun silam.

Ini terlihat memalukan.
Yunho bertingkah seperti pencuri di rumahnya sendiri dengan mengendap endap menuju ruang kerja pribadinya.

Rumah. Astaga. Tidak ada yang memanggil kastil ini sebagai rumah. Mereka menyebutnya istana yang indah ketika mereka melewati pintu utama dan melihat keajaiban warisan leluhur keluarga Jung yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Yunho tidak membutuhkan pujian untuk apapun. Bukan ia yang menjaga kastil selama ia berada di Inggris, melainkan bibinya lah yang bertanggung jawab atas semuanya, bahkan jauh hari sebelum ayahnya meninggal dan masih sakit sakitan. Dan jika ada orang yang pantas mendapatkan pujian, bibi Yuri lah orangnya.

Menghempaskan diri di kursi ruang kerja pribadi, Yunho memutar kursi memunggungi pintu untuk melihat taman bunga di sebelah timur melalui jendela setinggi dua lantai. Selama dua malam hanya tempat ini dan kamarnya lah yang masih menjadi miliknya seorang. Ruangan lain dan tempat tempat yang ia sukai akan di penuhi para tamu, dan bukan lagi milik pribadi, ia yakin akan hal itu. Yunho bersumpah ini adalah pesta pertama dan terakhir yang akan di adakan di kastil Jung.

Di luar sana gelap, hanya ada beberapa lampu taman sebagai penerang taman. Detak jam terdengar indah dalam ketenangan ruangan. Musang Yunho tertutup agar ia dapat menikmati momen indah ini untuk sejenak. Karena ia tahu ia tidak akan memiliki banyak waktu untuk mendapatkan ketenangan lain lagi ketika ia kembali ke taman di mana pesta pembukaan di adakan.

Terdengar suara langkah kaki teredam di lorong. Suara teriakan lirih memanggil nama seseorang dengan bunyi pintu terbuka lalu tertutup beberapa kali. Menajamkan telinga, Yunho mengenali suara itu sebagai suara putri kepala pelayan, Junsu. Pria muda yang menurut Yunho lucu.

Nama yang di lontarkn pemuda itu membuat musang Yunho terbuka lebat. Pintu ruang kerja miliknya terbuka. Suara Junsu terdengar memanggil nama itu lebih jelas. "Kim Jaejoong, apa kau berada di dalam?"

Kaki Yunho menampak ke lantai, kursi berputar tepat sebelum Junsu menutup pintu. Pemuda itu menghentikan gerakan dan menatap Yunho dengan mata bulatnya, terkejut. "Tuan muda. Aku minta maaf karena telah mengganggu Anda."

Tangan Yunho melambai tak peduli, menahan Junsu untuk pergi. "Tuan muda ingin berpicara kepadaku?"

Yunho tidak terkejut mendengar nada santai tanpa embel embel kesopanan berlebih di setiap kata pemuda itu. Bibinya tidak mewajibkan pelayan memanggil Bibi Yuri dengan kesopanan berlebih. Dan sepertinya itu juga berlaku baginnya. "Ya." jawab Yunho. "Masuklah."

Pemuda itu masuk dan menutup pintu di belakang. "Ada apa dengan Jaejoong?" Yunho bertanya.

Tubuh Junsu berubah tegang. "Tidak ada apa apa, hanya saja dia menghilang sejak... entah sejak kapan."

"Jelaskan." itu perintah yang tegas.

Junsu terlihat tidak nyaman di tempatnya berdiri saat menjelaskan. "Sore ini aku datang ke kamar Jongie untuk mengantar makan malam lebih cepat." pemuda itu menelan ludah gugup. "setengah jam lalu aku memeriksa kamarnya. Makanan itu tak tersentuh. Dan Jaejoong tidak terlihat di mana-mana."

"Dan kenapa kau harus mengantar makan malam Jaejoong ke kamar ketika pesta baru saja di mulai. Dia dipersilahkan bergabung jika dia ingin."

"Tapi Mr. Park bilang Jaejoong tidak boleh kelur kamar sampai pesta usai. Dan menyuruhku mengantar makanan rutin ke kamarnya selama pesta di adakan." Junsu menutup mulut dengan kedua tangan, seolah ia telah mengatakan sesuatu yang salah dengan kata itu.

"Panggil Yoochun kemari segera. Aku ingin tahu kenapa dia melarang Jaejoong keluar dari kamarnya." kata terakhir di ucapkan Yunho dengan suara yang lebih keras dan tegas.

Junsu melompat mundur dan mengangguk paham. Pemuda itu terliat ketakutan mendengar suara majikannya yang biasanya tenang itu

Yunho menghempaskan tubuhnya ke kursi setelah Junsu melesat kelua ruangan. Sialan Yoochun. Sekertarisnya itu tidak berhak mengurung Jaejoong di kamarnya ketika pesta di luar menjanjikan hiburan untuk pemuda itu. Berbagai pertanyaan memenuhi kepala Yunho. Ia belum sempat mengenal dan menanyai Jaejoong karena kesibukan serta tanggung jawab yang bibinya limpahkan kepadanya akhir akhir ini.

Pintu berayun terbuka. Yoochun melangkah masuk dengan langkah gamang, kedua bibirnya merapat dengan pandangan yang tidak berani menatap langsung kearah Yunho. "Anda memanggil saya Tuan muda."

Yunho tidak ingin berbasa basi dan langsung ke inti masalahnya. "Kenapa kau menurung Jaejoong di kamar. Aku tidak meminta kau melakukan itu. Dan di mana dia sekarang?"

Yoochun terlihat semakin gelisah. Kedua tangan pria itu mengatup rapat di depan tubuhnya dan terlihat gugup. "Saya tidak tahu di mana Jaejoong saat ini Tuan muda."

"Katakan padaku apa yang kau sembunyikan dariku Yoochun. Siapa sebenarnya Jaejoong dan kenapa kau melarang Jaejoong bergabung dengan yang lain." suara Yunho terdengar lirih namun tajam. Pria itu menunjukan dengan baik kemarahannya karena Yoochun telah bertindak tanpa seijinnya.

"Saya harap Anda tidak mengusirnya setelah Amda tahu siapa dia."

"Demi Tuhan. Bagaimana aku bisa berjanji jika aku tidak tahu apa yang aku janjikan. Jelaskan atau aku akan meminta seseorang mecari Jaejoong dan menyeretnya kemari." wajah terkejut sekertarisnya itu membuat Yunho puas. Ia tahu ia akan mendapatkan jawabanya setelah ini.

"Saya tidak bisa menceritannya tanpa seijin Jaejoong, saya berjanji akan menceritakan semuanya jika Jaejoong sudah di temukan."

Sebelah alis Yunho bergerak tak suka. Yoochun berkata. "Ini adalah rahasia besar, saya tidak bisa bercerita tanya seijinnya." sialan. Mau tak mau Yunho hatus bersabar sampai Jaejoong di temukan.

"Baiklah, aku juga akan mencarinya."

.

。。* 。。

.

Hutan seakan menyambut kehadiran Jaejoong dengan nyanyian mereka. Dedaunan menari, suara hembusan angin malam serta hewan hewan malam terasa nyaman di telinga.

Baru kemarin malam ia tidak tidur tanpa alunan musik hutan, nyanyian hewan malam serta tarian pohon di terpa angin, rasanya cukup lama karena ternyata ia merindukan hutan beserta kedamaian yang di janjikan.

Jaejoong hampir tergelincir saat mendaki bukit di sisi hutan saat ia berjalan melewati perkebunan teh. Bulan sabit memang tak menampakkan diri sepenuhnya, namun tidak menghalangi Jaejoong untuk mampu melihat dengan cukup jelas jalanan setapak. Ia sudah terbiasa dengan kegelapan, di sini ia merasa kembali kerumah meskipun hutan ini bukanlah rumahnya.

Derap langkah kaki kuda membuat langkah Jaejoong terhenti tubuh Jaejoong membeku. Siapa gerangan menunggang kuda di malam gelap seperti ini. Jaejoong masih berdiri tak bergerak di tengah jalan setapak yang lebih luas di antara perkebunan teh sisi hutan. Posisi yang buruk untuk siapapun di tengah malam seperti ini.

Ringikan kuda terdengar semakin keras dari ujung jalan yang akan ia tuju. Kuda itu berlari cepat dan berhenti tepat di hadapan Jaejoong yang masih membeku karena terkejut. Sosok pria di atas pelana tidak Jaejoong kenali sampai ia mendengar suara pria itu.

"Lihatlah siapa Yang aku temukan di sini." tubuh Jaejoong menegang mendengar nada dalam pria itu. "Aku sudah sangat beruntung dengan mengusirmu dari tanahku, dan ternyata kau bersembunyi di tanah sahabatku."

Choi Seung Hyun menatap murka sosok Jaejoong yang masih tak bergerak di tengah jalan setapak. Pemuda itu terlihat rapi meski kurus kering seperti yang terakhir kali ia lihat. Jaejoong tidak banyak berubah selain tinggi pemuda itu tentunya. "Apa yang kau lakukan di sini anak haram?"

Jaejoong mundur selangkah karena terkejut, panggilan itu, ia sangat membenci panggilan itu.

Seung Hyun menekan tumit dan kuda yang ia tunggangi maju selangkah. "Beraninya kau menampakkan wajahmu lagi di hadapanku."

Meskipun gerakan tubuh Jaejoong gesit. Ia tidak yakin dapat menyelamatkan diri kali ini. Tanpa mengindahkan atau melirik ke belakang, langkah kakinya berlari secepat yang mampu yang ia bisa menjauh dari sana.

Tawa Seung Hyun menggelegar di belakang. Langkah kuda terdengar pelan mengikuti. Jaejoong terus berlari, ia harus kembali atau bersembunyi sebelum pria itu menangkapnya. Pada tikungan jalan selanjutnya ia memutar jalan masuk ke dalam celah pohon teh yang hanya setinggi pinggang. Ia tidak boleh berhenti atau pria itu akan menangkapnya.

Jika ia bersembunyi pria itu pasti akan menemukannya. Jaejoong harus kembali ke kastil sebelum tertangkap. Yunho pasti bersedia menyembunyikan dirinya di suatu sudut kastil agar ia bisa bersembunyi.

Oh Tuhan, jangan lagi. Ia menyesal menyelinap keluar dan berujung bertemu dengan pria yang paling ia hindari selama ini. Kaki Jaejoong tersandung dan terpeleset, ia bangkit dan terpeleset beberapa kali. Ia terjatuh lalu berdiri, ia tidak boleh menyerah. Utunglah ia belum pergi terlalu jauh dari kastil sehingga ia jisa menvari pertolongan. Siapapun, tolong.

Sura cambuk mengagetkan Jaejoong. Choi Seung Hyun sudah menunggu bersama kudanya di jalan setapak sisi lain di bawah sana. Jaejoong tersuruk ke depan, mencoba menghentikan langkahnya sendiri namun gagal.

"Mencoba kabur, bisu." Nada menghina begitu kentara di sana, membuat hati Jaejoong nyeri sampai ia mengabaikan luka pada tubuhnya karena terjatuh serta kotor di tanah yang lembab. "Kau tidak bisa kabur lagi. Aku sudah memperingatkanmu untuk pergi jauh jauh dari sini. Jika aku melihatmu lagi, aku akan mengirimmu ke penjara."

Mencoba bangkit. Jaejoong mendongak lalu menggeleng. Ia tidak tahu kenapa Seung Hyun begitu membenci keluarganya. Seingat Jaejoong, paman Siwon begitu baik dan memberikan sebidang tanah untuk ibunya Kim Heechul untuk mereka tempati ketika ia masih kecil. Sepanjang ingatan Jaejoong, Seung Hyun memang tidak menyukainya sejak pertama kali mereka di perkenalkan.

Jaejoong ingin berteriak, mulutnya terbuka namun tidak ada suara yang keluar. Tenggorokanya sakit karena otot leher menegang ketika ia mencoba berteriak. Teriakan serak putus asa terdengar mengerikan di telinganya sendiri.

Semangat serta putus asa dari teriakan Jaejoong hanya mengundang tawa Seung Hyun. Pria itu mengibaskan cambuk dari atas pelana sampai mengeluarkan bunyi yang mengerika, sambil tertawa mengejek. "Si bisu mencoba berteriak." tawanya penuh kemenangan. "Bodoh. Seharusnya kau ikut mati bersama ibu dan kakakmu, dengan begitu kau tidak perlu menanggung dosa yang ibumu lakukan, penyihir dan pelacur." nada kebencian dalam suara Seung Hyun membuat amarah Jaejoon berkobar.

Kelurganya tidak melakukan kesalahan apapun. Ibunya bukan pelacur, juga bukan penyihir. Perlahan ia mulai bangkit. Ia sadar dari pengalaman, ia hanya akan membuat pria itu bangga jika ia menunjukan ketakutannya, jika Jaejoong harus mati ia harus mati dengan terhormat dan mempertahankan kehormatan nama ibu dan kakaknya.

Tawa Seung Hyun menghilang melihat Jaejoong bangkit. Sekali lagi, pria itu mengibaskan jambuk sampai menimbulkan suara menggema yang mengerikan dalam keheningan malam. Kuda hitam yang pria itu tunggangi bergerak tak tenang. "Mencoba melawanku, kau akan kalah."

Detik berikutnya Seung Hyun mengumpat melihat Jaejoong melemparkan diri kearah kuda miliknya. Cambuk itu melayang kearah Jaejoong sebelum pemuda itu berhasil menyerang Seung Hyun.

.

。。* 。。

.

Seiring berjalannya waktu tanpa ada tanda tanda keberadaan di mana Jaejoong berada membuat Yunho gelisah. Tidak mungkin pemuda itu menghilang begitu saja bukan, pasti ada alasannya mengapa.

Apakah Jaejoong tidak betah tingkal di kastil ini, atau pemuda itu tidak menyukai kehadiran ratusan tamu yang sudah berdatangan untuk menghadiri pesta di malam inj.

Yoochun dan Junsu memberitahu bahwa seluruh penjuru kastil telah mereka periksa dan Jaejoong tidak berada di mana mana. Mungkin saja pemuda itu tersesat di suatu ruangan atau di taman.

"Dia tidak berada di kastil atau di sekitar sini." entah mengapa ucapan penuh rahasia Yoochun tadi membuatnya takut.

Meskipun sekertaris pribadinya itu menjelaskan tidak demikian kenyataannya, Yunho ragu. Masih ada rahasia yang di sembunyikan mereka darinya, dan ia akan memaksa sekertaris pribadinya itu bercerita jika sudah menemukan Jaejoong.

"Tuan muda." Itu suara Junsu.

Yunho berhenti di remang remang taman belakang kastil. Junsu berlari dari arah istal bersama pria lain yang mengikutinya di belakang.

"Kau menemukan Jaejoong?"

Langkah Junsu terhenti. Pemuda yang seumuran Jaejoong itu menggeleng dan menunjuk pria tua yang Yunho kenali sebagai penjaga istal. "Paman Im melihat pemuda yang memiliki ciri ciri seperti Jaejoong berjalan menuju pintu gerbang belakang."

Tatapan tajam Yunho membuat penjaga istal tua itu menunduk ketakutan. "Benarkah itu?"

"Saya tidak yakin Tuan muda, saya hanya melihat dari jauh seorang pemuda dengan pakaian biasa yang saya pikir pelayan berjalan keluar dari gerbang belakanh. Karena tidak mungkin tamu tamu Anda memakai pakaian biasa seperti mereka, jadi saya menagaikannya dan kembali sibuk dengan pekerjaan saya."

"Ke arah mana dia pergi?"

Pria tua itu sedikit tidak yakin saat menjawab. "Perkebunan teh."

Hutan. Kemungkinan besar tempat itulah tujuan Jaejoong. Pemuda itu, sialan. Yunho bersumpah akan mencekik Jaejoong karena kabur dari pengawasannya dan membuatnya gelisah.

"Siapkan kuda, aku akan mencarinya." berkacak pinggang, Yunho berteriak marah melihat pria tua itu tak bergerak untuk menjalankan perintahnya. "Apa lagi?"

"Maafkan saya Tuan muda, kuda Anda telah di tunggangi Mr. Choi sore ini dan beliau belum kembali sampai sekarang."

"Dan kau membiarkannya?" geramnya marah. Taepong adalah kuda kesayangan Yunho, "Aku sudah memperingatkanmu..."

"Tuan muda." suara Junsu menarik perhatian Yunho. "Kita tidak punya waktu untuk berdebat. Kita harus menemukan Jaejoong segera, hutan sangat berbahaya, banyak hewan buas serta ular dan... dan." tangan Yunho yang terangkat untuk membuat pemuda itu terdiam.

Kepada penjaga istal Yunho berkata. "Siapkan kuda lain segera." lalu berbalik kepada Junsu. "Beritahu Yoochun aku akan menjemput Jaejoong, beritahu Bibi jika aku tidak enak badan dan tidak dapat turun untuk mengikuti pesta." melihat Junsu yang masih tak bergerak, Yunho membentak tak sabar. "Sekarang!"

Junsu melompat terkejut. "Baik Tuan muda."

Tak lama setelah itu Yunho berjalan menuju istal, mengabaikan pakaian resmi yang ia kenakan ia meraih tali kekang kuda yang suda siap sebelum melompa naik ke atas pelana. Tumitnya menekan perut kuda tersebut dan kuda pun berderap menuju pintu gerbang belakang yang berjarak dua ratus meter dari sana dengan langkah cepat.

Langit terlihat cerah malam ini. Sinar bulan sabit membantu pandangan Yunho meski hanya sedikit melihat jalan setapak melewati perkebutan teh. Kuda berlari cepat dan semakin cepat ketika ia menggoyangkan kekang dan tumit memaksa kuda malang itu melaju lebih cepat.

Terkutuklah Jaejoong karena kabur dari pengawasannya. Apakah pemuda itu tidak menyukai pengaturan yang telah ia buat. Seharusnya ia mengabaikan pemuda tak tahu terima kasih itu dan menikmati pesta, bukannya berkuda seperti orang gila menembus kegelapan malam untuk mencari dan membawa pemuda itu kembali.

Pikiran pikiran buruk terlintas di benak Yunho. Berbagai kemungkinan buruk tentang apa yang Junsu katakan kembali menggema di telinganya. Astaga, bagaimana jika benar ada srigala dan hewan buas lain di hutan sana. Sebagian pikiran Yunho berkata Jaejoong akan baik baik saja, bukankah selama ini pemuda itu tinggal di hutan seorang diri.

Yunho sudah berada di tepi hutan ketika ia mendengar suara dari kejauhan. Menarik tali kekang, ia menoleh ke sekeliling. Tidak terdengar suara apapun, ia menekan tumit dan kuda kembali maju lalu mendengar suara yang ia kenali sebagai cambuk dan pekikan tertahan.

Ya Tuhan, apa yang terjadi?

Memutar arah, Yunho mengarahkan kuda menuruni jalan berbatu di antara pohon pohon teh dengan langkah lambat. Ia menajamkan telinga untuk mencari dari mana arah itu berasal. Di bawah sana, berjarak sekitar seratus meter di antara rimbunan pohon teh ia melihat bayangan bergerak gerak ke sana kemari sebelum terdengar suara cambuk serta rintihan kuda yang sangat ia kenali.

Amarah mengusai Yunho. Itu adalah suara Taepong, kuda miliknya itu terdengar gelisah dan ketakutan. Apapun yang di lakukan Seng Hyun pasti bukan sesuatu yang baik. Yunho mengenal teman masa kecilnya itu sebagai pemuda berhati dingin yang tega menyakiti anjing yang tanpa sengaja mengotori sepatu barunya. Berani beraninya Seung Hyun mencambuk kuda kesayangan yang Yunho pelihara sejak kecil.

Menghempaskan tali kekang, Yunho menendang perut kuda yang ia tunggangi sedikit lebih keras sampai kuda itu meringik dan berlari cepat menerobos pohon rindan teh yang berjajar. Yunho berjanji tidak akan memaafkan sahabat masa kecilnya itu jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap Taepong.

Pemandangan yang di lihat Yunho setelah ia berada dalam jarak pandang jauh lebih mengerikan dari apa yang ia bayangkan, Yunho berpikir Seung Hyun menyakiti Taepong, pria itu melompat turun dari kuda untuk menendang sosok bertubuh mungil tak berdaya yang bergelung di jalan berbatu yang lembab.

Seung Hyun mengayunkan cambuk miliknya, mengarahkan cambukan itu ke arah tubuh mungil yang akhirnya Yunho kenali. Kuda yang Yunho tunggangi belum sepenuhnya berhenti saat pria itu melompat turun dan melingkupi tubuh Jaejoong dengan tubuhnya sendiri. Yunho memejamkan mata merasakan panas membakar kulit punggungnya padahal ia juga mengenakan mantel kulit. Terdengar suara mengumpat kasar Seung Hyun di belakang Yunho.

"Menyingkir darinya siapapun kau, atau aku juga akan mencambukmu karena melindungi anak haram itu."

Anak haram.

Tubuh Jaejoong menegang di bawah dekapan tubuh Yunho. Pemuda itu tidak terdengar menangis atau merintih kesakitan meski Yunho berani bersumpah, Jaejoong sudah mendapkan beberapa cambukan sebelum ia datang. Amarah yang belum pernah Yunho rasakan bangkit. Yunho sendiri tidak mempercayai dirinya memiliki amarah sebesar ini sampai ia ingin mencekik Seng Hyun karena telah melukai Jaejoong.

Ya Tuhan, Jaejoong begitu mungil kurus dan tak berdaya. Kesalahan apa yang telah pemuda itu perbuat sampai harus menerima perlakuan tidak manusiawi dari sahabatnya itu.

Tidak, mulai saat ini ia tidak mempunyai sahabat seperti Choi Seung Hyun yang berdarah dingin. Terdengar suara angin berdesir ketika cambuk itu kembali di ayunkan, Yunho berbalik untuk menangkap cambuk itu tepat sebelum kembali melukai salah satu dari ia dan Jaejoong.

"Jika kau berani melukainya lagi, Seung Hyun. Aku bersumpah akan membunuhmu de gan tanganku sendiri." Nada kebencian dalam suara Yunho membuat Seung Hyun terkejut.

"Yunho."

"Kenapa, terkejut melihatku di sini?" Menarik cambuk yang ia genggam, Yunho hampir membuat Seung Hyun terjatuh ke arahnya karena hal itu. "Jaejoong berada di bawah perlindunganku, jika ada seseorang yang berani melukainya," Yunho berhenti berujar, ia maju untuk menatap tajam ke arah mata Seung Hyun dan menambahkan. "Maka akan berhadapan denganku."

Keheningan terasa menusuk. Tidak ada yang bersuara dari kedua sahabat masa kecil itu untuk waktu yang lama. Seung Hyun mendapatkan kesadarannya kembali dan tertawa. "Kau tahu siapa dia?" Ia menunjuk Jaejoong yang masih diam tak bergerak.

Yunho mengamati tubuh Jaejoong yang tak bergerak dengan iba. "Dia anak haram seorang penyihir yang di bawa pulang ayahku, ibunya seorang laki laki. Laki laki kau paham?"

Musang Yunho mendelik karena terkejut, ia menatap sahabatnya itu tak percaya dan menatap Jaejoong yang masih diam tak bergerak, "Ayahku membawanya kembali lima belas tahun silam, memberikan rumah dan menghidupi mereka semua sampai ayahku meninggal. Aku bersyukur ayahku meninggal muda karena aku benar benar tak tahan melihat ayahku berselingkuh dengan orang lain tanpa menyembunyikan hal tersebut dari warga ataupun ibuku."

Cerita itu mengalir begitu saja, Yunho tidak bergerak dan terus menatap Jaejoong yang kini mulai duduk dan mencoba bangkit.

Dengan susah payah, Jaejoong berhasil berdiri. Tangan Yunho terkepal di kedua sisi tubuhnya melihat pemuda yang terluka itu berdiri limbung. Luka memanjang terlihat di sisi wajahnya saat Jaejoong berbalik, menyadarkan Yunho dengan cambukan yang telah pria di hadapannya itu lakukan.

"Lalu," amarah lain menguasai Yunho. Suaranya terdengar mengerikan saat ia berkata dengan lantang. "Karena itukah kau merasa berhak mencambuk pemuda tak berdosa atas kesalahan ibunya dan ayahmu, pemuda yang telah kau renggut dan kau usir dari tanahmu." Bayangan di hari ia menemukan Jaejoong di hutan menohok Yunho. Karena Seung Hyun lah yang mengusir dan membuat Jaejoong terdapar di tengah hutan selama lima tahun lamanya.

"Kau membelanya." Seung Hyun balas berteriak. "Tahukah kau bahwa ibunya juga seorang pembunuh?" satu kenyataan lagi yang membuat Yunho bertanya tanya, penderitaan apalagi yang sudah di alami Jaejoong selama ini. Sendirian, kesepian dan tanpa perlindungan menanggung dosa yang tidak Jaejoong lakukan.

"Ibuku bukan pembunuh." Kedua pria itu terkejut menatap Jaejoong. Suara itu begitu lirih dan serak sampai Yunho tidak yakin ia mendengar Jaejoong mengatakan sesuatu.

Suara berikutnya terdengar lebih mengerikan karena kasar dan kering. "Paman Siwon bukan ayahku." Suara itu, benarkah itu suara Jaejoong?

-TBC-

Typo bertebaran. Etd tidak jelas dan amburadul.

Menerima kritik dan saran yang membangun. Yrima kasih sudah vote dan memberi tahu typo dan sebagainya.
-BOW-