Title : Say You Love Me

Author : Sherry Kim
Cast : Jung Yunho
Kim Jaejoong
Other

Genre : Romance, Drama, Family, Sad, HQ, etc...

Rate : M
WARNING
Yaoi. Tidak suka jangan baca.
Alur tidak jelas typo bertebaran.

.. * ..

Yjskpresent.

.

.

"Kau bisa bicara?"

Hanya gelengan lemah jawaban dari Jaejoong, pemuda itu menunduk lalu berbalik untuk melangkah menjauh dari kedua pria yang masih terkejut di sana.

Yunho terlalu terlekut untuk menyadari kepergian Jaejoong atau mengejar pemuda itu. Ini terlalu banyak untuk ia dengar dalam waktu beberapa menit, kenyataan ini terlalu menyakitkan meski ia beryukur bahwa Jaejoong tidaklah bisu.

Setelah diam beberapa saat, ia menemukan kembali kesadarannya. "Kau pasti berbohong." tuduhya kepada Seung Hyun, "Aku bersumpah akan membunuhmu jika kau berani menyakitinya, tak peduli bahwa kita pernah menjadi sahabat."

Ya benar. Jaejoong tidak pantas diperlakukan buruk lagi setelah apa yang di alami pemuda itu selama ini. Yunho memang bukan orang yang mampu mengembalikan kebahagiaan Jaejoong yang telah di renggut paksa dari pemuda itu di masa lalu dengan tidak adil, tapi Yunho berjanji akan memberikan kebahagiaan lain untuk pemuda itu rasakan di masa depan.

Keinginan itu begitu menggebu dan menyenangkan, akhirnya ia memiliki tujuan serta kehidupan untuk membahagiakan orang lain selain bibinya setelah ia kehilangan keluarga yang telah ia sayangi.

Yunho tahu bagaimana rasanya di abaikan, ia juga telah di abaikan oleh ibu dan ayahnya sejak ia masih kecil dan hidup tanpa kasih sayang mereka. Jaejoong beruntung masih mendapatkan kasih sayang dari ibunya sebelum ibu dari pemuda itu meninggal dunia, meskipun pemuda itu harus kehilangan semuanya setelahnya.

Keadilah seakan tidak berpihak kepada Jaejoong jika kesalahan yang tidak pemuda itu lakukan di limpahkan kepadanya. "Pergi dari rumahku sekarang juga, pergi sebelum aku kehilangan kesabaran atau akan membunuhmu, aku tidak ingin melihatmu masih berada di rumahku setelah aku kembali."

Kata yang di ucapkan Yunho dengan nada dingin mengejutkan Seung Hyun. "Kau akan menyesal karena berpihak kepada anak haram itu... " Seung Hyun terkejut dengan gerakan Yunho yang cepat, yang ia tahu jemari Yunho sudah berada di lehernya dengan cengkraman pria itu yang cukup menyakitkan sampai ia susah bernapas detik berikutnya. "Jaga bicaramu teman lama, jika kau tidak ingin mati di tanganku."

Seung Hyun terbatuk setelah berhasil melepaskan diri dari cengkraman Yunho, "Kau lebih memilih dia daripada aku temanmu?"

"Aku tidak memiliki teman sepertimu, aku lebih suka kehilangan seratus teman sepertimu daripada kehilangan pemuda lugu seperti Jaejoong."

"Kagu gila."

Mengedikkan bahu acuh Yunho megakui hal itu dengan ketenangan alami. "Mungkin kau benar, aku gila karena lebih memilih Jaejoong daripada dirimu, tapi aku akan bertambah gila jika masih melihatmu ketika aku kembali bersama Jaejoong nanti, karena aku bersumpah akan membunuhmu." Yunho melayangkan tinjunya kearah Seung Hyun menggunakan kekuatan penuh sebelum berbalik ke arah kuda miliknya tanpa melihat seberapa parah tinju yang ia arahkan kepada pria itu.

Ia terlalu marah untuk menyadati Seung Hyun terpental dan terjerembab ke tanah, karena tercenggang serta pukulan maut yang Yunho layangkan, pria itu masih tak bergerak untuk beberapa saat atas apa yang di lakukan teman lamanya.

Seung Hyun tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Penyihir itu telah mempengaruhi Yunho dengan sikap polos palsunya. Seng Hyun berjanji tidak akan tinggal diam menerima penghinaan ini karena sungguh, ia akan kembali dan balas dendam.

.

。。* 。。

.

Jaejoong tidak tahu ke mana ia harus pergi, ia tidak yakin Yunho masih bersedia menampung dirinya setelah kenyataan yang baru saja pria itu ketahui. Sedikit rasa tak rela menghentikan langkah kaki yang ia paksa terus menampak di jalan bebtuan terjal. Ia lelah, ia tidak ingin hidup terus seperti ini dan menghindar.

Langit yang tadinya cerah berubah mendung, tidak ada lagi bintang yang terihat maupun bulan sabit di langit untuk menerangi jalan setapak yang akan Jaejoong lalui, ia tidak tahu harus pergi ke mana. Tidak ada rumah yang ia tuju dan tanpa tujuan yang jelas, pondok di hutan juga bukan tujuan yang bagus karena Yunho pasti akan memberitahu Seung Hyun di mana ia tinggal selama beberapa tahun terakhir ini.

Tangan Jaejoong terangkat ke leher, merasakan kulit lehernya yang kasar di sana. Ia mendesah, sepertinya ia menjatuhkan syal miliknya tadi dan ia tidak berniat kembali untuk mengambilnya jika harus berhadapan dengan Yunho atau pun Seung Hyun. Punggung Jaejoong berdenyut nyeri terasa mati rasa karena mendapat beberapa lecutan sebelumnya saat ia kembali mengambil langkah maju.

Yunho, orang pertama yang bersedia melindunginya, setidaknya sebelum pria itu tahu masa lalu Jaejoong dan keluarga Jaejoong. Mungkin sekarang pria itu menyesali diri karena membelanya setelah tahu siapa Jaejoong yang sebenarnya.

Anak haram, dan anak seorang pembunuh.

Langkah Jaejoong terhenti, jalan di depan sana seakan berputar, pohon pun ikut berputar. Kepalanya mulai berdenyut, pandangannya mulai memburam sebelum kegelapan menemuinya. Lalu ia jatuh tak sadarkan diri.

.

。。* 。。

.

Junsu bergerar gelisah di tempatnya berdiri. Yoochun masih saja betah mengomel tidak jelas tentang kecerobohannya dengan menceritakan kepergian Jaejoong kepada majikan mereka.

"Kau bodoh."

"Aku tahu." sahutnya. "kau sudah mengatakan kata itu puluhan kali sejak kita masuk ke sini."

Yoochun melempar delikan marah kepada pemuda itu. "Karena kau, aku harus menceritakan masa lalu Jaejoong kepada Tuan muda."

"Bagus. Karena aku juga ingin tahu." tangan Yoochun gatal ingin mencekik Junsu andai saja ia tidak takut dengan balas dendam dari ibu pemuda bersuara lumba lumba itu.

Menghela napas, tidak ada gunanya ia marah marah. Lambat laun kenyataan pasti akan terungkap dengan atau tanpa ia berbicara kepada majikan mereka. "Hyung." Junsu kembali merengek. Apakah Jongie akan baik baik saja, apakah dokter akan menyelamatkan Jaejoongie?"

"Jaejoong hanya pingsan bukannya sekarat." sahutnya.

"Tidak. Dia terluka," kedua tangan pemuda itu mengerat satu sama lain di depan tubuhnya. "Aku melihatnya. Luka panjang di wajah Jaejoong saat membantu Tuan muda membuka pintu kamar tadi." ungkapan itu membuat Yoochun berhenti mondar mandir. Pria itu menatap terkejut kearah Junsu menuntut penjelasan lebih. "Luka apa yang kau maksud?"

"Aku tidak tahu bagaimana Jaejoong mendapatkan luka seperti itu, hanya luka memanjang berwarna merah gelap di wajah kiri serta tangan Jaejoongie. Tuan muda menyuruhku mencari pakaian ganti untuknya tapi beliau melarang keras siapapun masuk ke kamar beliau selain dokter yang kau panggil untuk memeriksa Jaejoongie kita yang malang."

Rasa bersalah melingkupi Yoochun. Ia tidak tega membayangkan apa saja yang telah di alami Jaejoong di luar sana malam ini. Pria itu berjalan ke sisi jendela kaca yang terbuka. Angin mengibarkan korden di kedua sisi menimbulkan suara gemerisik samar yang anehnya menenangkan.

Di luar sana. Pesta berjalan tanpa hambatan, ratusan penduduk desa dan tamu lainnya berpesta pora tanpa tahu kejadian mengerikan di kastil ini. Yoochun sudah putus ada mencari Jaejoong di seluruh penjuru kastil, bahkan ia juga mencari Jaejoong ke taman luas serta manor Jung lain yang berada di tanah lapang seberang sungai untuk memastikan Jaejoong tidak tersesat di sana.

Mengabaikan tugasnya malam ini, ia harus menyerahkan tanggung jawabnya kepada kepala pelayan manor agar dapat memusatkan diri mencari Jaejoong. Ia sudah akan pergi menjari Jaejoong ke desa atau perlu ke hutan saat melihat kuda Tuan muda Yunho kembali dengan Choi Seung Hyun, bukannya Tuan muda Yunho sebagai penunggangnya.

Firasat buruk terbit layaknya mentari pagi di musim panas. Emosi menguasainya melihat pria itu kembali dengan keadaan murka dan mengumamkan umpatan yang entah mengapa ia tahu di tunjukan untuk siapa. Yoochun sudah menyuruh penjaga istal menyiapkan kuda ketika Tuan muda kembali dengan Jaejoong bersama beliau beberapa saat setelah Seung Hyun berjalan kearah kastil dengan marah.

Pemuda itu tak sadarkan diri di pangkuan Yunho di atas kuda. "Panggi dokter." teriak majikan mereka saat kuda itu berhenti di depan istal.

Pintu terbuka di susul suara pelayan muda masuk keruang kerja Yoochun, menyadarkan Yoochun tentang wajah khawatir majikan mereka saat berteriak menyuruhnya memanggilkan dokter sebelum membaya Jaejoong ke kastil melalui pintu pelayan. "Mr. Park, Tuan muda menunggu Anda di kamar beliau." pelayan itu berkata

Junsu menerjang maju sebelum pelayan muda itu keluar ruangan. "Apa yang terjadi? Apakah Jongie sudah sadar? Apa dia baik baik saja?"

"Aku tidak tahu, Tuan muda hanya memintaku memanggil Mr. Park untuk menemuinya sekarang juga, beliau terlihat marah." kepada Yoochun, pemuda itu berkata. "pelayan yang membersihkan kamar Tuan muda tadi bertanya kepadaku apa yang telah terjadi kepada Jaejoong, Tuan muda memintanya membuang pakaian yang Jaejoong kenakan tadi, saat ia membawa keranjang pakaian kotor tanpa sengaja ia tersandung dan pakaian itu jatuhpun ikut terjatuh."

Alis Yoochun megeryit heran dengan apa yang akan di katakan oleh pelayan muda itu. "Dia menemukan pakaian itu sobek di bebwrapa bagian seakan akan... " pemuda itu terhenti seakan tercekik oleh ludahnya sendiri, "seakan Jaejoong baru saja di cambuk."

Kedua tangan Junsu membekap mulutnya sendiri, jadi karena itukah asal mula luka memanjang yang di dapatkan Jaejoong. ya Tuhan, malangnya pemuda itu. Orang kejam mana yang akan melukai pemuda kurus yang begitu mungil seperti Jaejoong, pemuda itu begitu pendiam bahkan tidak suka bergaul meski Junsu memaksa pemuda itu untuk bergabung dengan pelayan lain kemarin.

Yoochun masih membisu, pria itu tidak mengatakan apapun atau memperlihatkan ketidak sukaannya barang sedikitpun. Andai Junsu tidak melihat rahang pria itu yang berubah mengeras, Junsu akan mengira Yoochun tidak merasa iba sedikitpun.

"Jangan beritahu siapapun tentang masalah ini, Tuan muda tidak akan suka jika para pelayan bergosip apa lagi tentang Jaejoong." pria itu berjalan menju pintu. "aku juga tidak akan diam saja jika kalian membicarakan Jaejoong atau membicarakan keburukan orang lain." lalu pria itu berjalan keluar ruangan dengan langkah lebar dan pasti. Kedua tangan Yoochun terkepal menahan amarah yang ia pendam. Sepertinya ia tahu siapa yang telah menyakiti Jaejoong, siapa lagi kalau bukan Choi Seung Hyun. pria itu satu satunya orang yang Yoochun kenal memiliki dendam begitu besar kepada Jaejoong, di tabah pria itu juga kembali ke kastil sebelum tuan muda Yunho kembali bersama Jaejoong menambah dugaan itu semakin kuat.

Cambuk! ya Tuhan, apakah cambuk kuda yang di gunakan pria itu untuk menyakiti Jaejoong, Jaejoong yang malang. Kenapa Tuhan memberinya cobaan sebesar itu, Jaejoong tidak pantas mendapatkan penghinaan seperti yang di lakukan Seung Hyun selama ini.

"Masuk." punggung tangan Yoochun belum mengetuk pintu kamar majikannya saat terdengar suara Yunho menyuruhnya masuk dari dalam.

Saat ia masuk, Yunho memang terlihat sudah menunggunya sedari tadi. Pria itu sudah berganti pakaian bersih dan duduk di sofa yang berada di kaki ranjang. "Tutup pintunya."

Yoochun menurut dan menutup pintu di belakang, lalu berjalan memasuki kamar luas majikannya yang hanya pernah ia masuki dua kali, itupun saat waktu waktu yang sangat mendesak karena hanya pada saat itulah yunho mengijikan pelayan atau bawahan lain masuk, kecuali pelayan yang di tugaskan membersihkan kamar.

Berhenti di tengah ruangan, Yoochun mencuri pandang kearah Jaejoong yang masih tak sadarkan diri berbaring di atas ranjang besar itu. Pemuda itu terlihat mungil di ranjang besar yang pemuda itu tiduri. Pandangan Yoochun menyuri tangan Jaejoong yang berada di atas kelimut dan menemukan goresan yang di maksud oleh Junsu. Kali ini warna itu sudah mulai buram karena sepertinya dokter sudah membalurkan sesuatu obat di atasnya dan menyamarkan.

"Bagaimana keadaannya?" Ia bertanya tanpa mengalihkan perhatianya dari Jaejoong.

"Tidak begitu baik, dokter mengatakan kondisinya lemah, selain kekurangan gizi dan tubuh kurusnya, luka itu kemungkinan dapat membuatnya demam. Jika itu terjadi, maka kondisi Jaejoong akan semakin memburuk." Dalam hati Yunho berdoa semoga Jaejoong tidak demam.

"Dokter sudah menyuntikan obat untuk mencegah infeksi, semoga saja dia tidak demam." mendengar itu Yoochun menghela napas.

Keheningan melanda kamar luas itu, tatapan keduanya memperhatikan Jaejoong tanpa berkedip sampai Yunho menarik selimut untuk menyembunyikan tangan Jaejoong yang terluka ke balik selimut seputih salju. "Sejak kapan kau mengenal Jaejoong Yoochun?"

Yoochun terkejut dengan pertanyaan yang tiba tiba di ajukan majikannya itu. "Sejak Mr. Choi Siwon membawa Jaejoong dan keluarganya ke tanah beliau, ibuku masih bekerja di tanah estat keluarga Choi waktu itu."

"Apa kau mengenal keluarganya. Ibu dan kakaknya?" seakan ragu, Yunho menambahkan. "Juga ayahnya?"

"Paman Heechul, aku mengenalnya, beliau pria yang sangat baik ramah dan suka membantu warga yang membutuhkan. Kau tahu, dia adalah tabib hebat yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit hanya dengan racikan tumbuh tumbuhan yang beliau dapat dari hutan." Yoochun mengela napas sebelum melanjutkan. "Kim Youngwoon, dia sangat mirip dengan Jaejoong, keduanya seperti pinang di belah dua, memiliki sifat yang hampir sama sampai aku sering salah mengenali mereka berdua jika hanya ada satu dari mereka. Dulu Jaejoong sangat suka tersenyum tidak pendiam seperti sekarang"

"Sejak kapan dia tak bisa bicara? Dan siapa yang membuat luka di lehernya?" Yunho berjalan ke sisi ranjang, duduk di sana, Jaejoong masih betah menutup mata. Jemari Yunho menyibak selimut di leher Jaejoong untuk melihat bekas sayatan kasar di sana.

Mungkin luka itu akan terlihat samar jika jahitan di lakukan oleh dokter dan di rumah sakit besar. Bekas jahitan itu terlihat kasar, seakan di lakukan oleh seseorang yang tidak berpengalaman dalam kedokteran yang menjahit luka memanjang disana.

Karena tidak mendengar jawaban dari Yoochun, Yunho berputar, menatap Yoochun yang menunduk seakan ingin menghindari pertanyaan yang Yunho ajukan. "Maafkan saya, saya tidak berani menjawab pertanyaan Anda tentang masalah pribadi ini."

Yunho ingin berteriak dan membantah, tapi tidak ada gunanya memaksa karena diam diam ia mengagumi ketulusan Yoochun dan bantuan pria itu selama ini. Seandainya tidak ada sekertaris pribadinya itu untuk mebantu dan menjaga Jaejong, Yunho tidak dapat membayangkan bagaimana Jaejoong akan menjalani hidupnya.

"Kau tahu, Yoochun. Aku ingin melindungi Jaejoong, aku ingin membuatnya bahagia dengan memberinya perlindungan yang ia butuhkan, aku masih ingin melihat senyumannya membahagiakan dia meskipun aku tahu sebagian masa lalu Jaejoong."

Keterkejutan Yoochun terlihat sangat lucu mendengar keterbukaan yang ia ucapkan . Andai Yunho berada dalam suasana hati yang baik, mungkin ia sudah tertawa terbahak bahak melihat sekertarisnya yang pendiam itu melongo hebat. "Anda sudah tahu?"

"Sebagian. Seung Hyun menceritakan padaku tadi."

Umpatan kasar keluar dari mulut sekertaris Yunho yang biasanya sopan itu, bahkan Yunho tidak tahu kalau Yoochun si kutu buku mengenal kata kata kasar seperti nelayan yang tak berpendidikan.

"Seharusnya aku sudah menduga saat Seung Hyun kembali dengan keadaan marah ketika mengembalikan Taepong ke istal, ya Tuhan apa saja yang sudah pria itu katakan?" Menyadari bahwa ia kehilangan kendali, Yoochun menunduk, rona samar merayap di wajahnya karena malu. "Saya minta maaf."

"Tidak apa apa." ada jeda. "aku tahu semuanya. Katakan padaku, apakah benar ibu Jaejoong seorang... laki laki, dan juga... " Yunho mencari kata yang halus untuk mengambarkan apa yang sudah di katakan Seung Hyun tadi.

"Pembunuh dan penyihir?" Yoochun menyelesaikan kata kata itu.

Anggukan Yunho membuat mata sayu Yoochun terlihat semakin sayu, dan ia tidak butuh jawaban lain lagi. "Jadi benar?" ujar Yunho tak percaya. "Ibu Jaejoong seorang pembunuh?" tadinya, Yunho menduga itu adalah fitnah yang di sebarkan Seung Hyun untuk menjelek jelekan nama ibu Jaejoong, ia tidak percaya bahwa ini adalah kenyataan.

"Keahliannya dalam obat obatan membuat warga desa senang, hanya saja tidak dengan istri Mr. Choi karena beliau mengira ibu Jaejoong berselingkuh dengan suaminya."

"Yang ternyata tidak."

Yoochun mengangguk. "Mrs, Choi Kibum hanya cemburu karena Mr. Choi begitu melindungi dan perhatian kepada keluarga paman Heechul. Bahkan kebencian itu juga di rasakan oleh Seng Hyun karena Mr. Choi begitu membanggakan Youngwoon dan Jaejoong karena keduanya selalu menjadi bintang kelas di sekolah, bahkan seluruh warga juga menyukai keduanya."

Semuanya semakin tidak dapat Yunho pahami, lalu kenapa warga diam saja saat Jaejoong dan keluarganya di usir. tanpa Yunho sangka ia mengatakan begitu keras dan Yoochun menjawab.

"Fitnah, tentu saja. Mrs Choi menyebarkan fitnah tentang suaminya yang berselingkuh dan juga tentang kedua putra paman Heechul adalah anak haram suaminya." yang dengan bodohnya di percayai sebagian warga yang hanya setengah menyukai dan iri kepada paman Heechul. "Selanjutnya aku tidak bisa menceritak hal lain lagi sebelum saya meminta ijin kepada Jaejoong."

Yunho tertegun mendengar kata kata sekertarisnya yang kembali sopan. ia lebih merasa nyaman jika sekertarinya itu tidak terlalu sopan saat berbincang dengannya. Keduanya memang sering berbicara tapi itu hanya sekedar obrolan pekerjaan tidak lebih. Yoochun adalah pria baik, seumuran dengan Yunho, ia berharap keduanya bisa berteman jika saja Yoochun menghilangkan kesopanan berlebihan itu jika tidak bekerja.

"Aku mengerti." ujar Yunho. "pertanyaan terakhir. Siapa yang menyayat leher Jaejoong?" pria itu terlihat ragu, wajahnya kembali berubah pucat dengan bibir bergerak terbuka dan tertutup. kedua kaki sekertarisnya itu terlihat menopang sesekali karena gugup, jadi Yunho berkata. "Aku sudah tahu sebagian Yoochun, dan aku akan tahu semuanya jika Jaejoong sadar nanti." Semoga pemuda itu sadarkan diri. doa Yunho dalam hati.

Yunho menunggu dengan sabar saat Yoochun mempertimbangkan antara mengatakan kenyataan itu atau tidak. Yunho sudah ckup bijak dan baik dalam menghadapi masalah yang di alami Jaejoong dengan tidak mengusirnya, hal itu mau tak mau membuat Yoochun tersentuh, tapi ia takut jika Yunho berubah pikiran dengan janji akan membuat Jaejoong bahagia jika pria itu tahu hal lainnya.

"Aku menunggu."

Yoochun membuka mulutnya. Kedua matanya tertutup rapat saat berucap. "Paman Heechul."

"Apa?" Yunho berpaling sepenuhnya kearah sekertarisnya itu, "Kau bilang siapa?"

"Yang mengores luka di leher Jaejoong adalah paman Heechul sendiri, ibu dari Jaejoong. Beliau berniat membunuh Jaejoong dan Youngwoon, setelah itu paman Heechul bunuh diri. Hanya saja Jaejoong masih hidup saat kami menemukan mereka di rumah pondok. Kejadian itu setelah Mr. Choi meninggal dan mereka di usir oleh Seung Hyun dari tanah keluarga Choi.

.

。。* 。。

.

Yunho menegug segelas penuh vodka untuk kesekian kalinya, ia tidak peduli bahwa dirinya tidak biasa minum dan sudah menghabiskan botol kedua karena pikirannya tidak bisa berpikir jernih hari ini.

Pesta sudah berakhir tanpa sang tuan rumah, Jaejoong juga belum sadarkan diri dan masih berbaring tak sadarkan diri di atas ranjangnya yang besar.

Pemuda itu terlihat kecil di tengah ranjang berukuran King yang di disain untuk Yunho sendiri, mengingat tinggi tubuhnya di atas rata rata pria pada umumnya.

Bunyi gelas berbenturan dengan meja terdengar kasar di ruangan sunyi kamarnya. Yunho minum tanpa henti sambil diam mengawasi Jaejoong, menunggu pemuda itu terbangun.

Berbagai pertanyaan yang ia ajukan untuk diri sendiri tidak satupun yang dapat ia jawab. Yang paling ia benci adalah alasan mengapa ia masih mempertahankan Jaejoong di rumahnya ketika masa lalu kelam pemuda itu membuat sebagian dirinya muak.

Sebagian hatinya merasa iba, mengasihani kisah hidup serta tanggungan dosa keluarga pemuda itu di masa lalu. Bukan, bukan iba atau kasihan. Perasaan lain tentang ingin melindungi Jaejoong dari orang orang yang melukainya begitu besar sampai Yunho berpikir ia gila karena entah mengapa ia menginginkan pemuda itu.

Sesuatu dalam diri Jaejoong membuatnya bangga. Sikap diam yang hukanlah bawaan lahir, senyum malu malu yang hanya sekali pernah ia lihat pada hati pertama kedatangan pemuda itu atau semburat merah muda saat ia menggodanya? Yunho tidak tahu mana yang membuatnya tertarik dengan Jaejoong.

"Apa dia belum sadar? Perlukah kita membawanya ke rumah sakit, Yunho?" Yunho tidak tahu kapan bibi Yuri masuk dan duduk di sofa di sebelah kirinya.

Kepala Yunho berdenyut nyeri saat ia bergerak untuk berdiri. Kamarnya seakan berputar sampai ia hatus terjatuh kembali ke sofa lalu tertawa. Menertawakan ketidK berdayaanya sendiri ketik ia tak mampu berdiri. "Jaejoong akan baik baik saja. Aku akan membawa rumah sakit ke sini jika perlu."

"Kau mabuk?" tanya Yuri khawatir. Selama ia mengenal keponakannya dua puluh delapan tahun, tidak sekalipun ia pernah melihat Yunho minum sampai mabuk minuman yang di sukai oleh ayah keponakannya itu.

Kastil Jung memang memiliki gudang penyimpanan anggur dengan banyak persediaan yang takkan habis meski di minum oleh ratusan tamu untuk pesta seminggu penuh. Hanya saja tidak akan pernah cocok untuk lambung keponakannya ini.

"Aku tidak mabuk." ujar Yunho lirih. "Hanya ini yang mampu membuatku bisa tidur setelah semua yang terjadi malam ini." suatu hal yang sangat tidak di inginkannya terjadi. Yunho menyalahkan diri sendiri karena luka yang di alami Jaejoong. Adai ia tidak mengadakan pesta, andai ia tidak mengundang teman lamanya itu, Jaejoong pasti akan baik baik saja dan besok pagi akan mengambug Yunho dengan senyum malu malu yang ia sukai dari Jaejoong.

"Yoochun sudah menceritakan semuanya." ujar Yuri lirih. "Dan kenapa kau terlihat menderita seperti ini?"

Mengedikan bahu atau itulah yang Yunho pikir telah ia lakukan sebelum menjawab. "Entahlah, hanya saja aku merasa sakit untuk Jaejoong dan jalan hidup yang di laluinya."

"Pemuda malang. Ibunya pasti menderita sampai putus asa dengan mengakhiri nyawanya sendiri dan kedua putranya," ada nada terluka dalam suara Yuri yang tidak di sadari Yunho. "Syukurlah Jaejoong selamat meski harus kehilangan suaranya." Yuri yang terlahir sebagai wanita yang tak mampu melahirkan keturunan mengayangkan tindakan Heechul, kenapa harus membunuh putra yang tak berdosa jika ada wanita lain seperti Yuri yang rela mengorbankan apapun untuk mendapatkan keturunan yang tak pernah di milikinya.

Kedua mata Yunho terasa berat. Ia menggoyang goyangkan gelas yang sudah kosong dan membalikan botol untuk memastikan bahwa isinya telah ia habiskan. "Dia tidak bisu." grutunya. "Jaejoongieku bisa bicara."

Nada kepemilikan itu mengejutkan Yuri. Sepertinya mabuk telah membuat keponakanya bodoh, tapi ia tidak yakin akal sehat keponakannya itu tidak bekerja sama sekali. "Apa kau pikir Jaejoong akan seperti ibunya?"

Kepala Yunho bersandar pada sandaran sofa. "Membunuh? Tidak! Jaejoong terlalu lembut untuk melakukan hal itu."

"Bukan! Tapi hamil. Yoochun berkata ibunya adalah seorang laki laki."

Yunho menguap, bersandar pada bahu bibinya lalu berkata. "Aku tidak tahu." ujarnya lirih.

"Apa kau menyukainya?"

"Jaejoong begitu manis, siapa yang tidak menyukainya."

Hening. Terdengar suara napas teratur Yunho. "Aku punya ide untuk menyelamatkan Jaejoong dan mengembalikan nama baik keluarganya." Yunho tidak menjawab. Yuri melanjutkan. "Jika dia bisa hamil, dan kau menyukainya. Bagaimana jika kalian menikah?"

Dengkuran samar terdengar dari sisi bahu Yuri. Wanita itu menghela napas menyadari keponakannya itu telah berlabuh ke alam mimpi. "Kau pikir kau akan lepas dari masalah ini, tidak! Yunho. Aku tahu kau menyukai Jaejoong sejak Jaejoong datang."

-TBC-

Typo bertebaran. EYD tak beraturan.
Terima kasih yang sudah vote dan koment serta meninggalkan jejak di chap sebelumnya. -BOW-

Menerima kritik dan saran yang membangun dan masih berhubungan dengan FF ini.