Title : Say You Love Me

Author : Sherry Kim
Cast : Jung Yunho
Kim Jaejoong
Other

Genre : Romance, Drama, Family, Sad, HQ, etc...

Rate : M
WARNING
Yaoi. Tidak suka jangan baca.
Alur tidak jelas typo bertebaran.

.. * ..

Yjskpresent.

.

.

Jaejoong membuka mata ketika sinar mentari pagi menyusup masuk melalui jendela dengan korden yang terbuka. Silaunya membuat mata doe pemuda itu menyipit untuk melindungi kornea dari silau berlebih.

Jendela besar kamar terbuka lebar, hembusan angin dapat ia dengar menyusup melalui sela sela jendela dari luar sana. Setelah mampu membiasakan pandangan dengan cahaya pagi, kedua mata Jaejoong terbuka lebar, memperhatikan sekeliling ruangan asing itu.

Cahaya pagi membuatnya tak mampu melihat dengan jelas sekeliling, ia menggerakan kepala berpaling. Rasa sakit terasa di sekujur otot yang tegang. Berapa lama ia tertidur, apakah ia masih hidup dan di mana ia berada.

Gerakan dari atas ranjang membuat Yuri bangkit dari duduk nyamanya di sofa tengah ruangan. Wanita itu menghampiri ranjang yang berada di sisi kanan sofa untuk melihat Jaejoong sudah membuka mata. Dengan nada lembut agar tidak mengejutkan Jaejoong, bibi Yuri menyapa. "Selamat pagi."

Tatapan Jaejoong teralihkan, menatap wanita paruh baya yang berdiri di sisi ranjang. "Apa tidurmu nyenyak sayang?" Doe Jaejoong mengerjap ngerjap, pemuda itu seakan berniat membuka suara namun urung dan hanya mengangguk.

"Apa kau ingin bangun, mandi lalu makan. Kau sudah tidur sepanjang malam dan pagi."

Jam dinding menunjukan pukul sepuluh pagi. Waktu yang sangat siang untuk jam bangun tidur Jaejoong. "Pelayan akan membantumu membersihkan diri, sarapan akan di antar ke kamar." wanita itu meraih tangan Jaejoong. "aku menyesal atas apa yang terjadi kemarin malam. Jangan khawatir, kami akan menjagamu. Pria itu sudah pergi bersama istrinya, kau tahu, Yunho mengusir pria itu." wanita itu tertawa, sengaja tidak menyebut nama pria yang mereka maksud untuk membuat Jaejoong nyaman

Tatapan polos Jaejoong membuat bibi Yuri mengibaskan tangan. "Keponakanku akan menjaga dan melindungimu dengan sangat baik, percayalah. Dokter sudah memeriksamu dan memastikan semua akan baik baik saja. Syukurlah hanya luka ringan tanpa adanya kulit yang terkelupas."

Kata itu mengingatkan rasa sakit serta panas pada punggung Jaejoong. Ia mengeram lirih menahan sakit saat mencoba bergerak bagun untuk duduk. Ia menggeram lebih keras saat sengatan panas dari punggungnya. "Aku akan memanggil Yunho, pelayan serta dokter akan datang sebentar lagi." usai berkata bibi Yuri seakan berlari keluar dari kamar yang akhirnya Jaejoong kenali sebagai kamar Yunho.

Ya Tuhan. Ia tidur di atas ranjang pria itu. Jaejoong mencoba bangkit tepat saat Junsu menyerbu masuk ke kamar. "Jongie." sapa pemuda itu riang, berlari menghampirinya. "apa kau sudah lebih baik? Bibi Yuri memintaku membantumu berganti pakaian sebelum Tuan muda datang."

Meraih tangan Jaejoong, pemuda itu memperhatikan luka pada punggung tangan Jaejoong yang membilur karena luka cambuk. "Pasti sakit." pemuda itu menangis.

Perhatian ini terlalu berlebihan untuk Jaejoong. Ia tidak terbiasa dengan perhatian yang mereka semua berikan untuknya. "Kau bisa berjalan sendiri bukan? Atau kau ingin aku menggendongmu?" Jaejoong tidak yakin Junsu mampu melakukannya.

"Kau yakin bisa berjalan. Semalam Tuan muda menggendongmu kembali, kau tahu kami semua sangat khawatir terutama Yoochun Hyung. Kami semua menghawatirkanmu... "

Jaejoong tidak mendengar kata kata yang di ucapkan Junsu setelahnya. Ia terlalu terkejut mendengar Yunho menemukan dan membawanya kembali kerumah ini. Perasaan itu muncul lagi. Dentuman seperti kembang api meletup letup seperti perayaan tahun baru di dadanya. Kenyataan bahwa Yunho peduli padanya setelah apa yang pria itu dengar dan ketahui tentang keluarga dan masa lalunya. Dan bahwa Yunho tidak merasa membencinya membuat Jaejoong sangat bahagia lebih dari apa yang pernah ia rasakan.

Bibirnya tertarik keatas dengan begitu mudah membayangkan wajah pria itu. Rasa takut membuat senyumnya menghilang. Takut ini semua hanyalah mimpi belaka.

Jaejoong membiarkan Junsu menyeretnya masuk ke kamar mandi dan membiarkan pemuda itu membantunya mencuci wajah dengan menerima handuk basah dari pemuda itu.

Benarkah Yunho yang membawanya kembali, benarkah pria itu tidak membencinya?

Jaejoong membuka mulut untuk bertanya, tenggorokannya terasa sakit dan kering. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya dan ia menyerah untuk mencoba. Mungkin suaranya benar benar hilang, hanya keberuntungan kecil jika semalam ia kembali berkata setelah sekian tahun ia mengunci suara tanpa pernah mencoba.

.

。。*。。

.

Kepala Yunho berdentum seakan sepasukan penuh pria dengan drum bermain di kepalanya menghentak hentak sesuka hati mereka. Yunho terbangun dengan kepa pusing lelah serta pegal di seluruh bagian tubuhnya seakan kemarin malam ia bekerja mengangkat beban berat semalaman.

Mencoba duduk, ia kembali terjatuh ke bantal karena pusing membuatnya kehilangan keseimbangan. Yunho mengumpat, ia berjanji tidak akan pernah mabuk jika tahu keesokan harinya akan mengalami sakit kepala seperti ini. Untuk pertama dan terakhir kalinya inilah kali terakhir ia menyentuh minuman haram itu.

"Akhirnya kau sadar, apa kau tahu sekarang jam berapa?" Silau mentari membuat Yunho menyembunyikan wajahnya kembali ke bantal saat bibi Yuri membuka korden, membiarkan cahaya masuk ke dalam kamar yang bengap dan gelap. "Biarkan aku tidur lebih lama, Bibi."

"Tidak! Kau lupa bahwa tidak hanya kau sendiri di rumah ini, ada puluhan tamu yang menginap di sini jika kau lupa." Sial Yunho melupakan keberadaan mereka.

"Dan juga Jaejoong."

Nama itu membuat Yunho menarik diri dari bantal dan metap Bibinya seakan bibinya wanita tua bodoh yang menyedihkan. Ya Tuhan, ia hampir lupa alasan mengapa ia minum, Jaejoong, pemuda itu. Apakah dia baik baik saja. "Sesuatu terjadi padanya?" melempar selimut asal, pria itu melompat turun dari ranjang dan sudah berlari setengah ruangan saat mendengar bibi Yuri berkata. "Dia sedang membersihkan diri, dan Junsu membantunya. Jangan ganggu mereka."

Yunho berhenti di tengah ruangan, menatap bibinya dengan geryitan di kening. "Mandi?"

"Ya, dia baik baik saja. Syukurlah luka itu tidak membuatnya demam atau sebagainya. Sepertinya kita terlalu melebih lebihkan luka yang di alami Jaejoong."

"Melebih lebihkan." kata itu di ucapkan dengan nada tinggi oleh Yunho. "Seung Hyun mencambuk Jaejong seperti dia mencambuk kuda. Bibi, coba bayangkan jika itu... "

"Aku paham Yunho." bibi Yuri menyela. " Yang aku maksud... "

"Bibi tidak paham. Jika Seung Hyun berani melukai Jaejoong, tidak peduli luka sekecil apapun aku pasti akan memburunya. Jika perlu aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri." Yuri yakin itu. Yunho mengatakan itu dengan amarah yang nyata. Amarah yang belum pernah ia lihat di wajah kepinakannya yang pendiam.

"Kau menyukainya." itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan. "aku belum pernah melihatmu seperti ini Yunho, bahkan tidak ketika ayahmu meninggal atau ibumu kabur dengan laki laki lain." Sorot terluka muncul di mata musang Yunho, dan Yuri menyesali kata-kata yang telah ia ucapkan. "Aku minta maaf jika mengungkit hal ini lagi, tapi kau terlihat sangat melindungi. Apakah kau menyukainya?"

Apakah aku menyukainya?
Yunho sendiri tidak tahu. Ia tidak akan pernah berani menyukai Jaejoong dan menarik pemuda itu ke dalam kutukan keluarga Jung. "Tidak!"

"Benarkah?"

Tentu saja tidak! Yunho menyukai Jaejoong, sampai takut rasanya jika ia menyatakan perasaannya namun tak mampu membahagiakan Jaejoong sampai di hari tua. Penderitaan pemuda itu di masa lalu sudah cukup dan ia tidak berniat memberi harapan palsu tentang kebahagiaan yang akan ia berikan. "Aku tidak berani menyukainya."

"Kenapa?"

Musang Yunho seperti macan menatap mangsa saat mata pria itu menatap tajam bibinya. "Kutukan itu Bibi, jangan lupakan itu."

Bibi Yuri mendengus. "Tidak ada kutukan apapun di keluarga kita. Itu hanya pendapat anak kecil yang telah di cuci otaknya oleh ayahnya sendiri."

"Ayahku mengatakan yang sesungguhnya."

Wanita itu memberenggut. "Aku berharap ayahmu masih hidup saat ini agar aku dapat mencekiknya sampai mati." ujar Yuri tidak kalah keras dari suar Yunho.

Kamar itu kembali hening. Hanya terdengar napas kasar keduanya yang berlomba menghirup udar sebanyak mereka mampu untuk persediaan perdebatan selanjutnya.

"Ku mohon Bibi, jangan paksa aku untuk menikahi siapapun."

"Dan menyerahkan estat Jung kepada negara karena kau tidak memiliki keturunan, tidak. Jika kau harus mati berikan aku cucu dan kau boleh mati sesuka hatimu setelahnya." wanita itu berjalan melintasi ruang kamar luas itu setelah mengatakan kata kasar itu.

Yuri tak habis pikir. Ia kira masalah ini sudah terselesaikan sejak Yunho menerima pesta yang akan ia adakan di kastil. Pria bodoh. Sampai kapan keponakannya itu sadar jika tidak ada kutukan apapun di keluarga Jung.

Langkah kaki Yuri terhenti di depan kamar Yunho yang di tempati Jaejoong, lorong terlihat sepi meski hari sudah hampir menjelang makan siang mengingat pesta semalam berakhir hampir fajar. Terdengar tawa lembut dari dalam sana. Suara tawa Jaejoong. Serigai lebar muncul di bibir wanita itu, jika Yunho tidak ingin menikah, maka Yuri akan membujuk Jaejoong menikah. Tidak peduli siapapun nantinya yang akan pemuda itu nikahi. Dan Yuri ingin lihat bagaimana keponakannya itu akan menyelesaikan masalah ini.

.

。。* 。。

.

Yunho menunggu dengan sabar pintu kamarnya terbuka. Sungguh konyol, kamar itu adalah kamarnya dan kenapa ia harus mengetuk pintu untuk dapat masuk dan mengambil pakaian ganti. Dan ia lebih suka mengambilnya sendiri, sebagai alasan agar bisa bertemu dengan Jaejoong.

Ia sudah mandi dan minum obat entah apa yang di berikan pelayan atas permintaan bibi Yuri untuk mengurangi sakit kepala karena terlalu banyak minum.

Sakit kepalanya memang berkurang namun hal itu membuatnya teringat kembali dengan kejadian kemarin malam yang kembali membuatnya sadar mengapa ia mabuk dengan amarah menguasainya.

"Masuk." Terdengar suara acuh tak acuh dari dalam kamar membuat alis Yunho menggeryit. Itu suara Junsu, kenapa juga pemuda itu masih berada di kamarnya.

Pintu terayun terbuka. "Selamat pagi." sapanya kepada dua pemuda yang berdiri di sisi ranjang.

Kedua pemuda bermarga Kim itu menoleh kearah pintu. Keduanya terkejut mendapati Yunho bersandar di ambang pintu dengan kedua tangan di lipat di depan dada. "Apa kau sudah selesai berganti pakaian?"

Pandangan Yunho bertemu dengan mata bulat Jaejoong yang juga menatapnya. Senyum samar menghiasi bibir pemuda itu lalu mengangguk.

Jaejoong mengenakan celana kain hitam biasa dengan kaos berwarna putih yang di tutupi cardigan panjang berwarna abu abu. Yunho mengenali cardigan itu karena itu adalah miliknya, cardigan itu terlalu besar sampai menutupi sebagian jari jari ramping Jaejoong. Atau pemuda itu memakainya dengan sengaja untuk menutupi luka pada punggung tangannya.

"Bisa kau keluar." Yunho menatap Junsu. Pemuda itu menatap Jaejoong sejenak lalu mengangguk.

"Baik Tuan muda. Ibuku juga memintaku membantunya menyiapkan sesuatu untuk makan siang para tamu." ujar Junsu sambil lalu.

Yunho bergeser, memberi ruang bagi Junsu untuk melewatinya meski separuh pintu yang terbuka itu lebih dari muat untuk mereka berdua. Jaejoong mengekor di belakang pemuda itu. Jemari Yunho menangkap lengan Jaejoong, menahan pemuda itu agar tetap di sana. "Tidak. Kau akan tetap di sini."

Geryit kesakitan pada kening Jaejoong mengingatkan Yunho akan luka pada lengan Jaejoong. "Maaf." ia menelengkan kepala, memerintah tanpa kata agar Jaejoong mengikutinya kembali masuk ke dalam.

Pintu tertutup. Dengan sikap tenang yang Yunho kenal di milikki Jaejoong, pemuda itu mengikutinya sampai di sisi kanan kamar ganti. Tanpa menyadari rona merah muda samar menghiasi kedua sisi wajah Jaejoong, Yunho menanggalkan kemeja dan menunjukan punggung lebar pria itu yang membelakangi Jaejoong.

Pemuda itu menunduk dengan wajah merah merona saat Yunho berbalik. "Sudah sarapan?" Jaejoong mengangguk.

"Minum obat?" pemuda itu mengangguk.

"Apa sekarang sudah lebih baik?" lagi lagi Jaejoong hanya menjawab dengan anggukan cepat. Yunho menghela napas, ia bertanya tanya dalam hati kenapa Jaejoong kembali mengunci suaranya. "Bicara sesuatu Jaejoong. Kau tidak bisu, kemarin kau telah membuktikannya."

Melihat keterdiaman Jaejoong dengan kepala tetunduk sempurna, Yunho menyerah membujuk Jaejoong untuk kembali bersuara. "Aku menyukai suaramu. Tapi jika kau tidak ingin bicara tidak apa apa." Berbalik membelakangi Jaejoong, Yunho melewatkan keterkejutan di wajah Jaejoong saat mendengar kata pria itu yang menyukai suaranya.

"Terima kasih." bisik Jaejoong lirih namun kasar. "Untuk semuanya."

Jari Yunho terhenti di atas hanger kemeja yang akan ia ambil. Ia berputar, menatap Jaejoong dari balik bahunya dan tersenyum. "Kau lihat, suaramu lebih merdu dari yang dapat aku bayangkan. Aku menyukainya."

Tidak tahukah Yunho bahwa kata pujian yang pria itu ucapkan lebih dari apa yang ingin ia dengar. Yunho menyukai suaranya, dan kini Jaejoong tidak sendirian. Tidak ada salahnya ia kembali berbicara bukan, dengan begitu ia akan membuat Yunho bahagia dengan hanya bersuara dan menjawab pertanyaan pertanyaan yang pria itu ajukan. Jaejoong akan menjawab pertanyaan itu dengan kata kata, bukan hanya anggukan tanpa kata.

Mengankat pandangan kearah Yunho, Jaejoong merasa kecewa ketika punggung lebar Yunho sudah berbalut kemeja kotak kotak berwana hitam. Ia membuka mulut namun tenggorokannya terasa menyakitkan ketika ia mencoba berucap. Namun ia tetap mencoba. "Terima kasih sudah menolongku, terima kasih sudah membawaku kembali ke sini." kata itu ia ucapkan dengan susah payah. Terdengar kasar dan serak di telinga Jaejoong sendiri.

"Aku senang kau berada di sini." jawab Yunho sambil lalu. Yunho mengambil celana dan masuk ke dalam bilik ruang ganti, keluar memakai celana yang baru saja pria itu bawa dan berjalan kearah Jaejoong. "Aku akan meminta dokter untuk memeriksamu. Aku rasa kau terlalu lama menyimpan suaramu sampai suara itu terdengar sedikit mirip... " Yunho tidak melanjukan ucapannya.

Jaejoong mengangkat pandangan ke wajah pria itu yang terlihat geli. "Katak bernyanyi."

Jaejoong tersenyum sampai gigi gigi rapinya terlihat. Begitu indah sampai tanpa sadar Yunho mengangkat tangan untuk mengusap wajah Jaejoong. Jemarinya membelai sisi wajah pemuda itu yang terluka seringan kapas. "Sakit?"

Jaejoong menggeleng. Lalu ia sadar Yunho ingin mendengar ia menjawab pertanyaanya. "Tidak!"

"Nah. Lebih baik bukan jika kita ngobrol bersama. Aku seperti orang gila jika bicara seorang diri dengan kau yang menjawab anggukan atau gelengan seperti burung kakak tua."

Kehangatan itu merambat di dada Jaejoong. Melingkupi hatinya yang telah lama dingin karena Yunho mengajaknya bercanda demi membuatnya mereka nyaman. Fakta bahwa Yunho mengabaikan sisi gelap dari masa lalu Jaejoong menambah kekaguman Jaejoong kepada pria itu. Ia menyukai Yunho, semakin menyukai pria itu setiap kali melihat Yunho berusaha membuatnya nyaman dan bahagia di bawah perlindungannya, dengan memperlakukannya begitu baik dan lebih dari yang dapat Jaejoong terima.

"Maukah kau menemaniku sarapan," ragu ragu Yunho menambahkan. "makan siang aku rasa mengingat sekarang sudah lebih dari jam makan siang. Turunlah, kau tamu di rumah ini. Tamu istimewaku dan aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu." melihat kekhawatiran di wajah Jaejoong Yunho menambahkan. "Bergabunglah dengan yang lain dalam pesta malam ini. Aku akan sangat senang jika nanti malam kau akan bergabung dengan kami, ini puncak pesta dan aku harus berdiri di tempat yang lebih tinggi dan di pamerkan seperti kuda yang akan di jual kepada seluruh tamu sebagai Tuan tanah esta Jung berikutnya." imbuh dengan nada bercanda.

Bibir Jaejoong kembali tersenyum mendengar perumpamaan itu. Lalu senyum itu menghilang saat mengingat Seung Hyun. "Tapi Seung Hyun?"

"Jangan khawatirkan dia. Dia sudah pulang kerumahnya."

"Aku dengar kau mengusirnya. Kenapa?"

"Karena aku tidak akan membiarkan orang yang berani melukaimu berada di jarak mampu kembali melukaimu. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu Jaejoong. Aku berjanji."

Janji. Seperti Janji ibunya yang akan membawa Jaejoong pergi bersamanya tapi meninggalkan Jaejoong seorang diri dengan selembar surat yang memaksa Jaejoong tetap bertahan hidup dengan penantian. Apakah ia akan mempercayai Yunho dalam hal ini.

Terdengar suara perut berbunyi. Yunho meringis menunjukan giginya dan berkata. "Oh aku sangat lapar, apa kau tega membiarkanku kelaparan dan tidak mau menemaniku sarapan plus makan siang?"

Bagaimana Jaejoong bisa menolak ketika Yunho sudah menyelamatkan nyawa dan menampungnya. Di tambah wajah mengerikan itu karena Yunho mencoba memasang wajah lucu namun gagal. "Baiklah." akhirnya ia berkata.

"Bagus. Aku akan meminta Yoochun memanggil dokter, saat kita selesai makan siang dokter akan memeriksamu dan memastikan kau akan terus bersuara."

Berikutnya Jaejoong membiarkan dirinya di seret Yunho keluar kamar menuju ruang makan di lantai dasar. Ruang luas itu sudah di penuhi para tamu yang juga memiliki tujuan yang sama dengan mereka saat mereka berdua masuk keruang makan.

Mereka menyapa Yunho seperti teman lama meskipun mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Bibi Yuri duduk di ujung meja untuk kepala keluarga. Yunho mengangkat tangan mencegah bibinya bangkit saat menyadari kehadiran Yunho dan Jaejoong.

Mencium sisi wajah wanita itu ia berbisik. "tetaplah duduk, aku lebih suka duduk di sebelah dengan Jaejoong duduk di sampingku."

Wanita itu melirik Jaejoong yang berdiri di balik bahu Yunho. Pemuda itu berdiri begitu dekat dengan keponakannya seakan takut dengan para tamu. Tatapan Yuri menyusuri mereka berdua dan menemukan kedua tangan mereka saling bertautan.

Yunho tidak tahu jika mereka di perhatikan oleh sebagian tamu. Ia menarik kursi untuk Jaejoong dan duduk di sisinya tanpa melepaskan tautan tangan mereka. "Tenanglah." ia berbisik kepada Jaejoong.

Telapak tangan pemuda itu terasa dingin di bawah genggaman tangan besar Yunho. Keringat membasahi tautan tangan mereka dan Yunho berniat melepaskan Jaejoong namun pemuda itu mengeratkan genggamannya pada jemari Yunho seakan minta dukungan.

"Oh siapa pemuda manis ini " seseorang wanita cantik dengan riasan tebal berdiri di sisi meja lain, berdekatan dengan bibi Yuri. Yunho mengenali wanita itu sebagai teman bibinya, saat di perkenalkan kemarin malam.

Kepada Yunho wanita itu bertanya. "Apa kau baik baik saja Yunho? Yuri mengatakan kau sedikit tidak enak badan dan aku tidak melihatmu pagi ini." Wajah lesu Yunho akibat minum semalam meyakinkan penyakit tak nyata itu. Untung saja.

Wanita itu mendesah dramatis. "Sayang sekali kau mengakhiri pestamu terlalu dini. Tahukah kau, gadis gadis membicarakanmu, mereka semua memujamu dan berniat berdansa denganmu nanti malam."

Yuri memutar bola mata jengah. Ia paham gadis gadis siapa yang di maksud oleh temannya, siapa lagi kalau bukan ketiga putri gadis wanita itu yang belum menikah. Narsya juga secara terang terangan berniat menjodohkan salah satu putrinya dengan Yunho. Big No.
Langkahi dulu mayatku. Batin Yuri.

Ia tidak bisa membayangkan salah satu putri gadis Narsya menjadi menantunya. Bukan mereka kurang baik, hanya saja mereka terlalu bodoh untuk menjadi Mr. Jung selanjutnya, terlebih calon istri Yunho harus membantu keponakannya itu membangun dan menjaga kastil Jung tetap berdiri. Bukannya di abaikan dan berpesta pora di luar sana seperti kebiasaan putri putri Narsya yang bebas.

Demi kesopanan Yunho mengangguk sopan. "Terima kasih Bibi Narsya, aku akan dengan senang hati berdansa dengan semua gadis gadis malam ini, sepanjang malam jika perlu."

Mata bulat Yuri mengerjap mendengar kata ajaib itu. Benarkah Yunho yang mengatakan itu atau ia perlu memeriksakan telinganya sendiri ke dokter. Senyum Yunho bahkan terlalu lebar dan menyilaukan, tidak seperti keponakannya yang biasa. Astaga apa yang merasuki pikiran keponakannya itu. Yunho menatap ke samping dan Yuri tahu alasan kenapa Yunho terlihat sangat bahagia. Jaejoong. Siapa lagi.

"Makanlah sesuatu. Kau perlu mengembalikan kekuatanmu sebelum dansa nanti malam." Mengambil sumpit. Yunho menaruh beberapa potong daging ham di atas piring Jaejoong. Pemuda itu membuka mulut namun tak berkata apa apa.

Tangan Jaejoong terangkat ke leher. Tenggorokannya teras kering. "Aku baru saja makan."

"Tapi aku ingin kau makan, sedikit saja. Buah, puding atau pencuci mulut lainnya jika kau tidak mau daging?" Jaejoong menatap piring di hadapanya dengan ngeri. Yunho terlalu menghawatirkan kesehatannya sampai pria itu takut ia kelaparan.

"Yunho... "

"Diam. Dan makanlah." Senyum pria itu membuat Jaejoong melupakan segalanya. Yunho duduk begitu dekat dengannya saat pria itu mencondongkan diri untuk mengambilkan lauk ke piringnyanya sampai ia mampu menghirup aroma maskulin pria itu dengan jarak sangat dekat

Meskipun ia tidak lapar, Jaejoong tidak ingin membuat Yunho merasa dirinya tidak menyukai apa yang telah pria itu lakukan untuknya. Ia mengangkat sumpit dan melahap makanan itu dalam ketenangan biasa.

Di tepat duduknya, Yuri melongo hebat mendengar Jaejoong bersuara. Yunho memang sudah memberitahunya bahwa pemuda itu bisa bicara, ia meragukan itu sebelumnya ketika Yunho mengatakannya dalam kondisi mabuk. Tapi Yuri tidak menyangka bahwa Jaejoong bisa bicara, lalu kenapa Yoochun tidak memberitahunya. Apakah pria itu juga tidak tahu jika Jaejoong bisa bicara?

Dan kenapa suara pemuda itu terdengar sangat serak?

.
.

。。TBC 。。

.

Typo bertebaran EYD tidak beraturan.
Terimakasih untuk yang sudah meninggalkan jejak vote dan koment, bagi yang tidak saya doakan semoga cepat sadar dan ninggalin jejak.
Amin ^.^
Menerima kritik dan saran yang masih dalam tahap mengembangkan ff ini. No Bash.